Ini bukan review atau resensi. Ini tak lebih dari sebuah komen dan pikiran yang terbersit di benak seorang Yen saat membaca sebuah novel.

Huffhhh…. Ternyata mengomentari novel yang penulisnya aku ‘kenal’ itu agak-agak bikin nervous.

Lirik kanan-kiri. Berdoa semoga Kak Ida nggak tiba-tiba nyasar ke sini dan baca komenku. Amin.

Walkin’ To The Day merupakan novel fanfiction pertama yang aku baca. Untungnya… aku udah kenal yang namanya fanfiction sebelum menemukan novel ini beredar di toko buku. Bayangin aja seandainya aku nggak tahu apa-apa tentang FF dan tiba-tiba nemu novel jenis ini di toko buku. Kayaknya aku bakalan bengong di tempat deh. Ah… udahlah, abaikan saja.

Novel ini-

Bentar-bentar, sebaiknya aku tegasin dulu klo FF-nya Kak Ida itu AU (Alternate Universe) se-‘AU-AU’-nya. Maksudku, setting -bahkan, mungkin karakter tokohnya- sangatlah beda ama kenyataan aslinya.

Jadi, novel ini bercerita tentang sepenggal kehidupan cowok bernama Cho Kyuhyun (16 tahun) dan segala permasalahannya. Dimulai dari kepindahannya dari Seoul ke New Jersey dengan membawa setumpuk masalah (black list?) dan trauma. Di tempat barunya ini, dia harus tinggal dengan kakak tirinya, Heechul, yang luar biasa galak! Upss… tegas. (Lirik kanan-kiri, siap-siap kabur klo tetiba ada Petals lewat).

Berlanjut dengan ketemunya Kyu dengan teman-teman barunya, Kibum, Will, Sophie, dll. Berbekal(?) kecerdasan, sikap spontan nyaris nekat, dimulailah petualangan Kyu bersama temannya dalam dunia illegal-race. Dunia yang sebenarnya sudah ia geluti sejak di Seoul. Dunia penuh adrenalin yang ternyata juga terjalin dengan dunia milik keluarga(?) kecil kakaknya. Terjalin? Yeah, terjalin dengan sesuatu yang kita sebut sebagai “masalah”. Masalah yang mengancam nyawa (?) keluarga tidak-sah(?) milik Heechul. Masalah yang akhirnya membuat Kyu dan Kibum harus babak belur. Masalah yang akhirnya menghadapkan Kyu dengan kematian secara langsung. (Huakakakakkkk… bahasa gue!!)

Haisshh… berkali-kali berusaha bikin review novel, kenapa nggak ada perkembangan? Tetep rancu dan nggak jelas.

Udahlah, intinya, novel ini mengemas sebuah cerita friendship dan family dengan apik. Alur yang rapi, menegangkan sekaligus manis dan kocak. Di bagian tertentu, aku bisa tiba-tiba berkaca-kaca namun tertawa geli sekaligus. Dengan detail yang jelas tapi nggak berlebihan (tetap relevan dan seperlunya), banyak hal-hal baru yang menarik. Mulai dari cara membedah katak yang baik dan benar (eh?), cara menginstal NOS di mobil, bialy (roti Polandia), cara ngitung tarif taksi di New Jersey dan hal-hal kecil lainnya. Keliatan banget klo Kak Ida ini nggak males untuk riset tentang segala macem saat nulis cerita.

Kasih sayang antar teman dan keluarga yang digambarkan dengan manis, mengharukan tapi nggak mehek-mehek dan lebay.

ARGH!! Oke. Aku mulai frustasi berlagak macam review-er yang baik dan profesional kayak gini.

Komen-ku atas novel ini:

1. ASTAGA!! (nepok jidat). Ini buku jelek amat? Bajakan ya? Cetakannya ada yang berbayang (numpuk-numpuk gitu). Halamannya ada yang nggak urut, berantakan dan bikin aku harus bolak-balik nggak karuan. Dan apa itu di background-nya? Watermark motif sulur-sulur? Aneh dan enggak banget buat ukuran sebuah novel!

2. ASTAGANAGA! (nepok jidat lagi). Ini penerbit nggak punya editor apa ya? Berantakan amat itu tulisan? Bertabur kesalahan tanda baca (titik, koma, elipsis). Juga soal kalimat ambigu. Misal : ‘Kyuhyun melepas earphone dari telinganya, menyimpannya ke dalam kantung ransel depannya.” Nah, lho! Apanya yang di depan? Kantung-nya? Apa ransel-nya?

Harusnya, “Kyuhyun melepas earphone dari telinganya, menyimpannya ke dalam kantung depan ranselnya.”

Well, kurasa ini merupakan kekurangan Kak Ida juga. Kurang teliti dalam tata tulis. Dan… berhubung novel ini udah naik cetak. Ke mana aja itu editor? Huh? Mana? Mana? Mana?

3. Ada hal kecil yang buat aku terasa mengganggu. Di dalam novel ini ada pernyataan : “Nitrous Oxide System merupakan senyawa kimia yang digunakan dalam mobil balap … agar lebih kencang di track.”

Well, aku sempet protes ke Kak Ida soal ini. Tapi beliau hanya nyuruh aku googling buat keterangan lebih lanjut. Huffhh… aku bukannya nggak tau apa itu NOS. Tapi… seumur-umur aku bergelut ama bahan kimia, aku nggak pernah tu nemu ‘senyawa kimia’ yang judulnya Nitrous Oxide System!

Bukan berarti penyataan Kak Ida dalam novelnya itu salah. NOS emang salah satu nama dagang (merk) untuk Nitrogen Oxide. Nah… Nitrogen Oxide inilah senyawa kimia itu….

Ini sama aja kayak aku bilang, “Betadine adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai pengobatan pertama dan mencegah timbulnya infeksi pada luka.”

Betadine itu bukan nama senyawa kimia. Melainkan nama dagang untuk povidone-iodine. Dan memang, povidone-iodine itu, senyawa kimia.

Nggak salah. Tapi nggak tepat dan terasa mengganggu buat orang teknis macam aku.

4. Ada bagian yang agak bikin ‘gemes’, yaitu scene flashback saat Kyu mengendarai mobil barunya dan berakhir dengan insiden yang membuat dia trauma. Di scene ini, Kyu, yang notabene adalah seorang racer, ‘hanya’ melajukan mobilnya pada kecepatan 90 km/jam di jalan bebas hambatan. Dan dia cukup puas dengan itu! Nepok jidat lagilah saya.

KYU!! Gue yang bukan racer, cuma pake motor jadul tiga turunan, cewek pula, setiap hari terbiasa ‘melahap’ jalanan dengan kecepatan 80 km/jam. Dan masih merasa itu belum sampai limit gue! Kecepatan segitu itu cuma kecepatan wajar! ASTAGA!! Macam tante-tante cantik naik mobil mewah aja dirimu, Kyu! Takut gores ya??

Dan, dengan kecepatan 75 km/jam, klo tiba-tiba ada manusia muncul ngehalangin jalur lo, harusnya yang lo lakuin itu bukan nge-rem, Kyu! Banting setir! Bahkan amatiran yang blom punya SIM A macam gue aja tau aturan dasar macam gitu! Daripada ‘nge-bunuh’ orang, mending mobil aja yang ringsek.

Dan taukah dirimu, Kyu? Naik mobil dengan kecepatan 50 km/jam itu… diketawain tukang becak? Huh?

5. Foto-foto cast yang tiba-tiba muncul di antara tulisan itu… rasanya… bikin geli. Untuk format FF, wajar. Tapi novel? Hmm….

6. Waktu baca di blog Kak Ida, Sophie itu nyebelin. Tapi… begitu baca versi novelnya… she’s totally damn cute!

Baiklah, cukup sekian komentar makhluk menyebalkan bermulut tajam berjudul YEN ini. Maaf atas betapa menyebalkannya saya. *deep bow*

Ah-ya. Sekadar peringatan. Mbaca novel ini sambil ndengerin lagu-lagu Linkin Park, Green Day, Eminem, Simple Plan dan sebangsanya itu… YUMMY! Sambil muter lagu BIGBANG… yeah, not bad!

Tapi, tetiba playlist muter lagu solonya Kyu itu… merusak imajinasi! Gambaran Kyu yang babak belur di hajar 2 orang negro bisa tiba-tiba buyar gegara denger suara dia yang mendayu. #gubrakk

Satu lagi (hampir lupa), buat yang pengen belajar gimana caranya memaki dengan keren, novel ini recommended BANGET!! Huakakakakaburrrrr….

Hmm… setelah selesai mbaca novel ini, mana lagi ya yang mau aku baca duluan? A Short Journey? Sons of the Suns? #pamer #PLAK!!