-iubirea mea- 

Author             : yen

Main Cast        : Kim Ki Bum, Kim Jonghyun, Kim Ara

Support Cast  : Ryu Ji Hye, Choi Minho

Length              : Oneshot

Rating               : General

Genre               : Friendship, Life, Romance

Soundtrack    : Dragostea Din Tei by Haiducii (also perform by O-Zone)

Cover               : Taken from billcasselman.com, photoshoped by yen

Prolog

Kalian pernah jatuh cinta? Kalian tahu kenapa disebut sebagai “jatuh” cinta?

Seorang teman bilang, karena kita tidak pernah tahu kapan kita “jatuh”. Begitulah seseorang yang sedang jatuh cinta; dia tidak pernah tahu kapan akan terperosok masuk dalam perangkap itu, tidak pernah bisa menduga sudah jatuh sajalah ia, tanpa penjelasan, tanpa aba-aba, tanpa kesempatan bersiap diri.

Seorang teman yang lain bilang, disebut “jatuh”, karena rasanya pasti sakit.

Jangan balik bertanya padaku. Aku bahkan tidak yakin, apa aku pernah benar-benar jatuh cinta. Jangankan jatuh cinta, mendefinisikan arti cinta saja aku tidak bisa. Walaupun begitu, aku ingin menceritakan sebuah kisah pada kalian. Semoga setelah membaca kisah ini, kalian bisa membantuku, mendefinisikan arti cinta itu sendiri.

Kisahku

“Ara! Buruan! Ntar kita telat nih,” seru Ki Bum memanggil adik sahabatnya itu.

“Cerewet,” sembur Ara sembari melewati Ki Bum, sengaja benar menyenggol bahu Ki Bum dengan kasar.

“Ara, sarapannya gak dimakan dulu?” Tanya Mami saat melihat Ara langsung keluar rumah, mobil Jonghyun sudah terparkir rapi, lengkap dengan Jonghyun didalamnya.

“Enggak deh Mi, ntar ada yang keburu keluar tanduk ama ekor,” sahut Ara sembari mendelik pada Ki Bum. Yang diomongin nggak nyadar, justru asyik dengan PSP-nya.

Jonghyun melambai, “Jjong berangkat dulu ya Mi.”

Mami tersenyum, “Hati-hati di jalan.”

Hari-hari mereka bertiga selalu berawal seperti itu. Pagi-pagi benar, Ki Bum sudah menggedor kamar Jonghyun, menerobos masuk, memastikan Jonghyun segera mandi. Setelah Jonghyun siap, keduanya turun, sarapan. Yang terakhir, Ki Bum menggedor kamar Ara, adik Jonghyun. Membuat Ara selalu meratapi nasibnya, bertanya-tanya, dosa apa yang telah dia lakukan di kehidupan yang lampau, sehingga harus bertetangga dengan orang macam Ki Bum. Dan yang lebih disesalkan Ara adalah, kenapa Oppa-nya, Jonghyun, bisa bersahabat dengan orang macam Ki Bum.

***

“Oppa, ntar pulangnya, aku gak usah di jemput.” Ucap Ara saat Jeep Jonghyun telah mencapai gerbang sekolah Ara, Seoul Science High School, SSHS. Ara segera keluar dari mobil, diikuti oleh Jonghyun dan Ki Bum.

Jonghyun menatap Ara penuh selidik, “Dijemput Minho?”

Ara menggeleng, “Maunya, tapi  Minho kan di Jepang. Aku mau ke Kyobo bareng temen, nyari bahan buat klub jurnalistik.”

“Temen? Siapa? Ji Hye bukan? Kalo Ji Hye, gue ikutan. Eh, Jjong, kita anterin aja mereka. Sekalian, melancarkan misi gue ngedapetin Ji Hye,” celutuk Ki Bum antusias.

“Bukan. Bukan Ji Hye sunbae. Lagian, aku males jalan ama kamu!” Sembur Ara ke arah Ki Bum.

“Bukan Ji Hye?” Ki Bum memasang muka kecewa, “Kenapa lo ga ngajak dia aja? Ji Hye juga anak jurnalistik kan? Anggep aja lo ngebantuin Oppa lo ini buat ngedeketin dia,” tambah Ki Bum, kembali antusias.

“Ogah. Lagian sejak kapan kamu jadi Oppa aku?” Seru Ara sembari melempar panjangan jijik ke arah Ki Bum.

Ki Bum menyeringai, “Sejak lo jadi adek-nya Jjong. Adek sahabat gue, adek gue juga. Iya kan Jjong?” Ki Bum menyikut lengan Jonghyun, meminta dukungan.

Jonghyun yang ditanya hanya menjawab santai, “Udah Ra. Turutin aja. Sekalian, Oppa juga mau nyari buku.” Membuat Ara mengeluarkan suara puh panjang.

Jonghyun tersenyum, mengucak gemas rambut adiknya, “Ya udah, buat gantinya, biar Ki Bum yang bayarin semua buku yang kau beli.”

Ki Bum mendelik ke arah Jonghyun, tidak terima dengan keputusannya. Bisa jebol dompet Ki Bum kalau menuruti nafsu Ara terhadap buku.

Ara sebaliknya, tersenyum licik, “Ok. Aku ajak Ji Hye sunbae. Jam 3 sore ya, jangan telat.”

“Anything for you, honey,” jawab Jonghyun jahil sembari mencium kening Ara, membuat adiknya langsung menggembungkan pipi. Ki Bum tergelak melihat tingkah laku kakak beradik yang aneh ini.

Gara-gara kelakuan Jonghyun itulah, seluruh isi sekolah Ara mengira kalau Jonghyun adalah pacar Ara. Sebenarnya ada untungnya juga, karena dengan begitu kerepotan Ara tidak terlalu besar. Seandainya para gadis di sekolah ini tahu kalau sebenarnya Ara adalah adik Jonghyun, bisa jadi mereka semua akan sibuk menitip salam, hadiah atau apalah untuk Jonghyun, sang mantan student council president SSHS yang sekarang telah menjadi mahasiswa tingkat II di Department of Architecture Seoul National University. Sekarang saja, setiap hari valentine, tas Ara akan penuh dengan coklat titipan untuk Ki Bum, sang mantan kapten basket SSHS yang telah menjadi mahasiswa tingkat I di Department of Business Administration Seoul National University.

***

Kyobo Centre Book, Gangnam.

“Oppa! Ambilin yang itu, Ara ga sampe nih!” Seru Ara sembari menunjuk novel The Day the Voices Stopped: A Schizophrenic’s Journey from Madness to Hope karya Ken Steele dan Claire Berman yang terletak di rak paling atas. Jonghyun segera mengambilkannya, “Yang ini?”

Ara tidak menjawab, segera meraih novel itu dari tangan Jonghyun, antusias membaca back cover-nya.

“Novel apaan sih?” Tanya Jonghyun sembari merangkul pinggang Ara, ikut mengamati novel tersebut. Tak jauh dari sana, sepasang mata mengamati kelakuan kakak beradik itu, Ji Hye.

“Sudah dapet bukunya?” Tanya Ki Bum pada Ji Hye, membuat gadis itu sedikit tersentak.

“Eh, belum Oppa,” sahut Ji Hye gugup, cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari kakak beradik Kim.

Ki Bum tertawa geli, “Gimana mo dapet klo kamu malah sibuk ngeliatin mereka?”

“Eh,enggak kok, aku gak ngeliatin mereka,” elak Ji Hye salah tingkah.

Di seberang sana, Jonghyun sedang mencubit kedua pipi Ara, entah gemas karena apa. Ji Hye melihatnya dengan perasaan tidak suka, memberengut sebal. Ji Hye memang termasuk salah satu dari sekian banyak pengagum berat Jonghyun. Dan dia juga salah satu dari sekian banyak orang yang mengira kalau Ara adalah pacar Jonghyun. Bagaimana tidak, Jonghyun yang terkenal dingin pada semua gadis, bisa terlihat begitu mesra dengan Ara, pantas saja semua orang mengira mereka sepasang kekasih. Apalagi, Ara memang tidak pernah mengenalkan pacarnya, Minho,  pada siapapun di sekolah.

Sayangnya, Ki Bum tidak memperhatikan perubahan raut muka Ji Hye, karena dia justru sedang sibuk tertawa geli melihat kelakuan sahabatnya.

“Udah deh, sini, gue aja yang bantuin nyari bukunya.Tu orang dua ga usah dipeduliin. Mereka urat malunya emang sudah putus, mesra-mesraan di tempat umum begini,” ucap Ki Bum sembari menarik tangan Ji Hye ke arah rak yang penuh berisi buku-buku jurnalistik.

Sore itu, Ki Bum benar-benar harus menguras kartu kreditnya, Ara tanpa sungkan-sungkan memborong setumpuk novel.

***

“Jjong mana Mi?” Tanya Ki Bum saat tidak melihat Jonghyun. Biasanya, saat makan malam, terutama weekend begini, keluarga Kim akan berkumpul di meja makan. Dan Ki Bum, yang Eomma dan Appa-nya jarang di rumah karena sibuk bekerja, dengan senang hati ikut bergabung bersama mereka. Saking akrabnya Ki Bum dengan keluarga Kim, Papi dan Mami sudah menganggapnya sebagai anak mereka sendiri. Ki Bum bahkan memanggil mereka dengan sebutan Papi-Mami, sama seperti Jonghyun dan Ara.

“Di kamarnya. Akhir-akhir ini dia sibuk banget, sampe lupa makan.” Sahut Mami prihatin.

“Iya tu si Oppa, lagi nyebelin, sibuk ama maket gedung mulu, ga ada habis-habisnya.” Ara ikut-ikutan nyelutuk.

Papi tersenyum bijak, mirip cara Jonghyun tersenyum, “Berarti Oppa-mu itu profesional dan pekerja keras.”

“Dan ngebosenin,” seru Ara manyun.

Ki Bum mengucak rambut Ara, membuat gadis itu mencak-mencak tidak karuan. Ki Bum segera menghindari kaki Ara yang mau menendangnya, kemudian berlari menuju kamar Jonghyun di lantai atas. Tanpa merasa perlu mengetuk pintu atau mengucap salam, Ki Bum langsung membuka pintu kamar Jonghyun yang tertutup.

“Jjong, makan dulu. Ditungguin tuh!” Seru Ki Bum.

Jonghyun hanya menoleh sekilas, kembali asyik dengan maketnya.

Ki Bum kesal melihat tingkah sahabatnya itu. Akhir-akhir ini Jonghyun memang sedang sibuk sekali dengan proyeknya. Dia bahkan tidak ikut makan malam bersama, tidak mengantar jemput Ara ke sekolah, tidak mau diajak hang out bersama sahabat-sahabatnya dan masih banyak tidak-tidak yang lain.

“Jjong, gue ngomong sama lo. Anjrit lo, berani banget nyuekin gue!” Umpat Ki Bum saat melihat Jonghyun tetap saja mengabaikannya.

“Jjong, lo berhak ngelakuin apa yang lo suka, berhak ngejar mimpi lo, ngeraih apa yang lo mau. Tapi, keluarga lo juga punya hak buat diperhatiin, adek lo berhak manja ama kakaknya, temen lo berhak berbagi seneng dan susah sama lo. Mereka semua berhak atas diri lo Jjong. Dan lo wajib ngasih apa yang jadi hak mereka itu. Lo ga boleh egois kayak gini, karena tanpa mereka semua, lo tu bukan apa-apa, bukan siapa-siapa!” seru Ki Bum mengkal.

Jonghyun menatap sahabatnya lamat-lamat. Bahasanya memang kasar, nada suaranya tinggi dan tidak enak didengar. Tapi… apa yang Ki Bum katakan ada benarnya juga.

Memang hanya kawan sejati yang berani melemparkan kebenaran, tepat di muka sahabatnya.

Jonghyun menghela nafas panjang, menyeringai, “Gak usah marah-marah juga Ki…. Ayo, makan. Kau kalo lagi laper memang cerewet.”

Yah, begitu saja. Urusan hak dan kewajiban itu hanya sekian. Urusan omel mengomel dan marah-marah juga cukup sampai di situ. Kedua sahabat itu beriringan menuruni tangga, menuju meja makan. Benar saja,  Mami dan Papi masih menunggu mereka. Ara yang sudah selesai makan, memulai rutinitas malam minggunya, mengobrol dengan Minho melalui ponsel, resiko pacaran jarak jauh.

Usai makan malam, Ki Bum langsung menghampiri Ara.

“Double date yuk! Gue tadi dah ngajakin Ji Hye nge-date. Dia mau, asalkan lu ama Jjong juga ikutan,” pinta Ki Bum tanpa basa basi. Jonghyun duduk di sebelah Ara, menempelkan telinganya di ponsel adiknya, ikut mencuri-curi dengar pembicaraan Ara dan Minho.

Ara yang masih sibuk dengan Minho hanya melirik tidak peduli ke arah Ki Bum.

Ki Bum merebut ponsel dari tangan Ara, “Ho, pacar lo malem ini gue pinjem dulu ya!” Serunya pada Minho.

“KI BUM!” Teriak Ara marah sembari menendang tulang kering Ki Bum, membuat Ki Bum meringis kesakitan. Ara tidak peduli, dia menarik kasar ponselnya dari genggaman Ki Bum.

“Yang barusan itu Ki Bum ya?” Minho terkekeh geli.

Ara memberengut, “Iya. Udah gila tu orang, ngajakin double date. Stress kali. Ngejar-ngejar Ji Hye sunbae, tapi ga dapet-dapet.”

Minho kembali tertawa, dia mengerti urusan Ji Hye – Ki Bum ini, Ara selalu cerita padanya. Minho juga mengenal Ki Bum, cukup akrab, sebelum Minho melanjutkan kuliah di Tokyo Daigaku, Jepang.

“Ya udah, sana gih, jalan aja. Bareng Jonghyun hyung kan? Asal ada hyung, boleh,” lanjut Minho kalem.

Ara kembali memberengut, “Ga mau. Maunya sama Minho…” rajuknya manja.  Jonghyun yang masih terus mencuri dengar langsung mengucak rambut Ara.

“Bulan depan aku libur kuliah. Ntar aku anterin kemanapun kamu mau,” sahut Minho bijaksana. Itulah resiko pacaran jarak jauh, dengan anak SMA pula, masih manja dan kekanak-kanakan.

Ara tersenyum-senyum sendiri, mengangguk, “Iya deh. Janji ya!”

Minho tertawa pelan, “Janji. Ya udah, sana siap-siap berangkat double date. Kasian Ki Bum, ntar bisa gila beneran dia. Besok pagi, ku telpon lagi.”

“Ukay. Da Minho… cup muah-muah,” seru Ara mencium ponselnya.

Terdengar suara puh panjang dari seberang, Minho mengomel “Kamu tu, klo lewat telpon nyium-nyium. Giliran ketemu langsung, ku cium beneran, malah marah-marah.”

“Husss… Minho! Jangan keras-keras ngomongnya. Jonghyun oppa nguping nih,” seru Ara sembari melirik takut-takut ke arah Oppa-nya.

Jonghyun menatap Ara galak, “Oh… jadi adek Oppa yang satu ini udah berani cium-ciuman ya?” serunya sembari menjewer telinga Ara. Ki Bum kembali merebut ponsel dari tangan Ara.

Kalau sudah begini, berarti akan ada sidang dadakan. Ki Bum sebagai penuntut, Jonghyun hakim, dan tentu saja, Minho yang jadi tertuduh, terdakwa dan terpidana, tanpa ada pembela. Ara hanya bisa pasrah mendengar Minho diomeli Ki Bum dan diceramahi panjang lebar oleh Jonghyun. Ara memilih segera naik ke kamarnya, ganti baju, siap-siap pergi double date. Sambil bersiap-siap, Ara cengar-cengir sendiri, membenak, ‘Kebetulan, I Am The Walrus, band indie-nya Kim Jae Wook oppa  malam ini perform di Hongdae. Kapan lagi punya kesempatan ngecengin cowok cakep tanpa dimarahi Minho? Hehehe….’

***

Drttt… drttt… drtttt….

Ara buru-buru meraih ponsel di meja belajarnya, berpikir, ‘siapa yang menelpon sepagi ini, baru jam 5 pagi kan?’

Minho calling.

“Mwo?” Sahut Ara seperti biasanya. Khusus untuk Minho, dia tidak pernah mengangkat telpon dengan sapaan ‘yeoboseyo’, cukup dengan ‘mwo’.

Alo, salut, sunt eu, un haiduc, (Hello [on a cellphone], greetings, it’s me, an outlaw,)
Si te rog, iubirea mea, primeste fericirea. (I ask you, my love, to accept happiness.)
Alo, alo, sunt eu Picasso, (Hello, hello, it’s me, Picasso,)
Ti-am dat beep, si sunt voinic, (I sent you a beep [cellphone signal], and I’m brave [or strong],)
Dar sa stii nu-ti cer nimic. (But you should know that I’m not asking for anything from you.)

Vrei sa pleci dar nu ma, nu ma iei, (You want to leave but you don’t want don’t want to take me,)
Nu ma, nu ma iei, nu ma, nu ma, nu ma iei. (don’t want don’t want to take me, don’t want don’t want don’t want to take me.)
Chipul tau si dragostea din tei, (Your face and the love from the linden trees,)
Mi-amintesc de ochii tai. (And I remember your eyes.)

Te sun, sa-ti spun, ce simt acum, (I call you [over the phone], to tell you what I feel right now,)
Alo, iubirea mea, sunt eu, fericirea. (Hello, my love, it’s me, your happiness.)
Alo, alo, sunt iarasi eu, Picasso, (Hello, hello, it’s me again, Picasso,)
Ti-am dat beep, si sunt voinic, (I sent you a beep [cellphone signal] and I’m brave [or strong],)
Dar sa stii nu-ti cer nimic. (But you should know that I’m not asking for anything from you.)

Tutttt… tuttt… tutttt….

Tepat saat lagu itu selesai, Minho langsung memutus sambungan telpon. Mau tak mau Ara tersenyum-senyum sendiri mendengar suara Minho yang menyanyikan lagu Dragostea Din Tei dengan iringan gitar akustik itu.

Dulu, waktu Ara belum terbiasa, dia akan menelpon balik Minho, bertanya. Dan Minho akan menjawab datar, ‘Kangen. Dan aku rasa, cuma lagu itu yang pas buat ngungkapin perasaan aku ke kamu.’ Namun, setelah terbiasa dengan kelakuan unik Minho, Ara tidak pernah bertanya lagi.

***

Seminggu kemudian.

Seperti malam-malam weekend yang sudah-sudah, Ki Bum setia mengikuti acara makan malam di rumah sahabatnya. Tentu saja, seperti seminggu sebelumnya, Ki Bum juga membawa misi mengajak Ara dan Jonghyun untuk pergi double date. Urusan Ji Hye ternyata belum mencapai kepastian.

“Lagi?” Keluh Ara saat Ki Bum mengajukan permintaanya.

Ki Bum menyeringai, “Sekali ini doang Ra. Terakhir. Rencananya besok gue mo nembak Ji Hye. Jadi, besok-besoknya lagi klo gue nge-date ama Ji Hye, gue ga bakalan ngajak kalian.” Ujar Ki Bum memohon. Kalau Ara berhasil dibujuk dan setuju, Jonghyun juga nggak akan nolak.

Ara menyeringai, “Nge-date? Pede amat bakal diterima.”

“Pede lah! Ga ada cewek yang sanggup nolak pesona seorang Kim Ki Bum,” seru Ki Bum lantang. Ara membuat gerakan seolah-olah ingin muntah.

Ki Bum tidak peduli dengan tingkah Ara, dia mengacungkan credit card-nya di depan hidung Ara, “Nih pake sesuka lo buat beli novel. Klo perlu, ntar gue yang nganter lo ke Kyobo.”

Tentu saja, Ara tidak perlu berpikir dua kali, sigap meraih kartu kredit Ki Bum.

“Ok. Besok jam 9 pagi. Lotte World.” Seru Ara riang.

Ki Bum menyeringai penuh kemenangan, taktiknya berhasil. Sebenarnya, kartu kreditnya itu isinya tinggal sedikit. Hampir semuanya sudah Ki Bum habiskan untuk menyewa limo, membeli tiket drama musikal dan booking restoran. Kejutan spesial yang dia siapkan untuk kencan pertamanya bersama Ji Hye.

“Eh, mau ke mana Ki? Buru-buru banget. Biasanya ngobrol dulu bareng Jjong,” tanya Mami saat melihat Ki Bum terburu-buru pulang.

Ki Bum hanya menyeringai malu. Jonghyun yang menjawab, “Siap-siap tuh Mi. Besok mo nembak cewek.”

Mami dan Papi tersenyum maklum, urusan anak muda.

“Ki Bum tu kenapa sih Oppa? Kok segitu hebohnya ngejar Ji Hye sunbae?” Tanya Ara pada Oppa-nya, setelah punggung Ki Bum hilang dari pandangan.

Jonghyun, menatap adiknya lurus-lurus,  balik bertanya, “Memangnya kenapa? Ada yang salah?”

Ara menggeleng, “Kan banyak cewek lain yang lebih dari Ji Hye.”

“Kau sepertinya kurang suka dengan Ji Hye. Bahkan kau memanggilnya dengan sebutan Sunbae, bukan Eonni,” tebak Jonghyun telak, membuat Ara sedikit salah tingkah.

Ara menyeringai, “Hmmm…. Iya sih Oppa. Aku emang nggak gitu suka ama Ji Hye sunbae.”

Jonghyun menatap Ara, bertanya lewat ekspresi ‘kenapa?’ Tapi Ara hanya menyeringai lebar.

“Padahal, aku perhatiin, Ji Hye itu anaknya baik, ramah, mudah bergaul dan nggak sombong. Dia itu student council president SSHS kan? Sepertinya dia juga pintar. Dan lumayan manis,” tutur Jonghyun datar.

Ara tersedak kaget dibuatnya, “Hah? Apa? Oppa merhatiin dia? Manis?? Jangan-jangan, Oppa suka ya sama Ji Hye sunbae? Oppa mau saingan ama Ki-”

“That’s not the point Ara! Kita nggak lagi mbahas soal Oppa suka siapa, tapi kenapa kau tidak suka pada Ji Hye,” potong Jonghyun cepat dan tegas. Dia menatap tajam mata adiknya.

Ara menelan ludah. Selama ini, Jonghyun jarang berkomentar tentang seorang gadis. Apalagi memujinya habis-habisan seperti ini. Dan cara Jonghyun memotong pertanyaannya barusan, sangat-sangat bukan Jonghyun. Jonghyun yang Ara kenal adalah orang yang sangat menghormati lawan bicaranya, siapapun itu. Jonghyun tidak akan memotong perkataan orang lain. Kecuali… saat Jonghyun merasa jengah dan benar-benar sangat tidak nyaman dengan perkataan lawan bicaranya.

Hening.

“She’s just like you Oppa. Extremely perfect, too bored,” jawab Ara singkat. Dia memilih mengalah, tidak membahas soal perasaan Jonghyun pada Ji Hye, kembali ke topik semula.

Jonghyun melipat dahi, “Sempurna? Membosankan?” Tanyanya bingung.

“Yeah. Oppa dan Ji Hye sunbae itu mirip banget. Sama-sama sempurna. Multitalenta, pintar, terkenal, baik, keren, cakep, bla bla bla…. Sekaligus, sama-sama membosankan juga,” sahut Ara, menyeringai lagi. Entah kenapa, tapi di benak Ara, semua student council president itu memang membosankan.

Jonghyun tersenyum tipis, “Nggak ada orang yang sempurna. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.”

“Emangnya Oppa merasa punya kekurangan?” Tanya Ara tanpa pikir panjang.

Jonghyun tertawa ringan, “Ya punya dong. Oppa nggak punya pacar, itu salah satunya. Trus, Oppa juga membosankan. Iya kan?” Jawabnya sembari mengucak lembut rambut adiknya.

***

Lotte World.

“Udah ah, capek, haus,” tolak Ara saat Ki Bum kembali mengajak mereka naik gyro drop untuk ketiga kalinya.

Jonghyun tersenyum tipis, “Ki, kita beli minum buat mereka?” Mengucak lembut rambut adiknya. Membuat Ji Hye membuang pandangan ke arah lain, kesal. Lagi-lagi, sayang Ki Bum tidak melihat perubahan raut wajah Ji Hye. Ki Bum justru sibuk ikut-ikutan mengucak rambut Ara. Membuat Ara mencak-mencak tidak karuan, berusaha menendang tulang kering Ki Bum.

“Katanya haus, kok malah berantem sih?” Jonghyun tersenyum geli melihat tingkah Ara dan Ki Bum.

Akhirnya Ara menyerah, kali ini Ki Bum jauh lebih lincah darinya, lagipula, Ara benar-benar sudah capek.

“Jadi bli minumnya?” Tanya Ki Bum. Jonghyun mengangguk. Keduanya berjalan meninggalkan Ara dan Ji Hye yang duduk di tepi kolam.

“Capek?” Tanya Ji Hye pada Ara. Yang ditanya hanya menyeringai lebar, sibuk menyeka keringatnya yang mengalir, gara-gara kejar-kejaran dengan Ki Bum barusan.

Ji Hye menatap Ara lamat-lamat, “Kalian mesra banget ya,” ucapnya pelan. Ara melipat dahi, tidak mengerti apa yang Ji Hye bicarakan.

“Ehm, maksudku, kamu dan Jonghyun Oppa. Kalian pasangan yang serasi. Bahkan wajah kalian juga mirip,” tambah Ji Hye sedikit salah tingkah.

Ara menatap Ji Hye lurus-lurus, dia merasa mendengar nada cemburu dalam ucapan Ji Hye barusan. Mungkinkah…??

“Ya mirip dong sunbae, kami kan kakak adik,” Ara sengaja memberi tekanan pada kata kakak-adik, ingin melihat reaksi Ji Hye. Benar saja, Ji Hye terlihat terkejut, tidak percaya, senang dan ada sekilas harapan di matanya.

Ji Hye menelan ludah, “Kakak adik?”  Tanyanya memastikan.

“Hmmm…. Iya. Jonghyun Oppa itu kakak aku. Bukan pacar. Oppa blum punya pacar kok. Klo aku sih udah punya, namanya Minho.” Kali ini Ara benar-benar mendapat kepastian itu. Wajah Ji Hye terlihat jelas sangat senang, lega sekaligus bersemangat.

Ara menghela napas panjang, membenak ‘Aduh, bagaimanalah ini? Jonghyun Oppa, Ki Bum, Ji Hye sunbae. Cinta segitiga kah? Rumit benar!’

***

That’s the point!

Ki Bum menelan ludah, gugup, “Ji Hye, kamu mau kan jadi pacar aku?” Menatap penuh harap pada Ji Hye, dia bahkan menggunakan bahasa formal.

Hening.

Ji Hye juga terlihat gugup, seakan ingin mengatakan sesuatu yang tak terkatakan.

Akhirnya, Ji Hye menghela nafas panjang, “Sebelumnya aku minta maaf atas keterusterangan ini Oppa. Aku seneng banget bisa jalan bareng kalian. Tapi Ki Bum Oppa, aku nggak bisa. Maaf, aku dah nolak Oppa. Tapi…” Ji Hye menatap Jonghyun lamat-lamat, mendesah, kemudian kembali berkata,  “Kalo Jonghyun Oppa yang minta, aku bersedia.”

Ara tersedak, menyemburkan jus jeruk yang sedang diminumnya.

Jonghyun buru-buru menelan ludah, menatap Ji Hye lurus-lurus.

Ki Bum tertegun, melihat ke arah Jonghyun dan Ji Hye, berganti-ganti, ekspresinya tak terkatakan. Campuran malu, sedih, kecewa, tak percaya dan aneka ragam perasaan lainnya membuncah menjadi satu.

Tapi, tak lama kemudian, Ki Bum tersenyum tanggung.

“Ya ampun Jjong! Lo ditembak! Nyadar oi, jangan bengong aja!” Seru Ki Bum sembari memukul bahu Jonghyun yang masih saja menatap Ji Hye tidak percaya.

Lagi-lagi, Ara yang tersedak kaget, terbatuk hebat.

Pandangan Jonghyun beralih pada Ki Bum, yang sekarang tersenyum tulus. Seakan-akan Ki Bum sedang bilang ‘Jjong, gue rela. Udah deh, ga usah kebanyakan mikir. Kesempatan ga dateng dua kali.’

Jonghyun kembali menelan ludah, menatap Ji Hye, “Maksudmu, kau mau jadi pacarku?”

Ji Hye mengangguk, pipinya merona merah.

“Udah, ga usah sok malu-malu kayak gitu. Nih tiket drama musikal-nya, buat kalian aja. Limo-nya juga bentar lagi dateng. Trus jangan lupa ya Jjong, gue udah booking Buonasera jam 8 malem. Tapi bayar sendiri ya tagihannya, hehehe…” Ki Bum menjejalkan 2 buah tiket ke tangan Jonghyun.

***

Ara tidak bisa bereaksi apapun melihat semua peristiwa yang terjadi di depan matanya, bahkan tersedak pun tidak. Ini benar-benar di luar logikanya. Semuanya terlalu cepat dan membingungkan untuk Ara. Bagaimana bisa??

Ara hanya bisa menatap punggung Jonghyun dan Ji Hye yang beranjak menjauh. Membenak, ‘Apa tadi? Kencan pertama? Tuhan…. Jadi begini akhirnya? Jonghyun oppa dan Ji Hye resmi pacaran? Lalu Ki Bum?’

Ara buru-buru menoleh ke arah Ki Bum.

Cowok itu terlihat menatap nanar ke arah Jonghyun pergi bersama Ji Hye, padahal kedua orang itu sudah tidak tampak lagi.

***

“Aku ngajak Ki Bum ya? Boleh ya Ho?” Bujuk Ara pada Minho. Inilah waktu yang dijanjikan Minho lewat telpon. Libur kuliah, Minho datang dari Jepang.

Minho memberengut, “Lagi?”

“Ayolah Ho… kasian tau tu orang. Pasti masih sedih banget,” rayu Ara.

Minho menggeleng, “Aku pengen kencan berduaan ama kamu. Lagian, darimana kamu tau klo Ki Bum masih sedih?”

“Ya ampun Ho… klo kamu jadi dia, kamu juga bakal sedih banget kali! Cewek yang dia kejar-kejar bukannya nerima dia, eh malah nembak sahabatnya sendiri. Di depan mata dia pula! Ampun, aku masih ga abis pikir, kenapa Jonghyun oppa segitu teganya ama sahabat sendiri,” keluh Ara bingung.

“Klo aku jadi Ki Bum, aku juga bakal ngelakuin yang sama,” sahut Minho datar, membuat Ara terbelalak.

“Dan klo aku jadi Jonghyun hyung, aku juga bakal ngelakuin hal sama,” tambah Minho buru-buru.

Mata Ara bukan hanya membelalak, tapi nyaris keluar dari rongganya.

“Bukannya kamu sendiri yang cerita, klo sebenernya, Ki Bum dan Jonghyun hyung sama-sama suka ama Ji Hye. Jadi, siapapun yang menang, gak masalah kan? Yang kalah harus rela dong, kan mereka berdua emang belum punya hak apapun atas Ji Hye. Siapapun yang dipilih Ji Hye, itu hak Ji Hye sendiri. Cinta gak harus memiliki. Lagipula, aku yakin, buat Ki Bum ataupun Jonghyun hyung, persahabatan mereka lebih berharga dibanding cewek manapun.”

Ara masih menatap Minho tidak percaya. Bagi Ara, urusan ini benar-benar tidak masuk akal.

“Kamu inget lagu yang sering aku nyanyiin buat kamu?” Minho menatap mata Ara dalam-dalam.

Yang ditanya justru melipat dahi. Bingung, apa hubungan urusan cinta segitiga ini dengan lagu Dragostea Din Tei.

Minho tersenyum bijak, “Cinta itu memberi, tanpa meminta.”

Tetap saja, bagi Ara, urusan ini di luar logikanya.

Epilog

Bagaimana? Menurut kalian, cinta itu apa? Jangan, jangan balik bertanya padaku. Aku sudah membaca kisah ini berkali-kali, tapi tetap belum bisa mendefinisikan arti cinta. Mungkin, bagiku, cinta itu memang tidak bisa didefinisikan.

Atau, aku terlanjur setuju pada pendapat Pak Tua, bahwa sejatinya, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, hanya itu. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta itu. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar.

Kisah yang aku ceritakan ini terispirasi dari 2 kisah nyata yang serupa tapi tak sama.

Kisah pertama adalah kisah cinta Salman Al-Farisi dan Abu Darda’, sahabatnya. Sejatinya, kisah pertama ini lebih lurus, sederhana dan murni dibanding kisahku. Tentunya, kisah pertama juga lebih mengharukan, mengispirasi dan mengandung kebenaran dibanding kisahku. Bahkan, bisa saja kisahku ini hanya menodai kesucian kisah pertama. Cobalah baca kisah pertama, dan temukan arti cinta sejati didalamnya.

Kisah kedua adalah kisah cinta remaja tanggung, umur belasan tahun. Kisah cinta biasa, yang boleh jadi, kalian juga pernah mengalaminya. Tapi, kisah kedua inilah, yang membuatku harus berkata:

Kawan, maaf telah meragukan kalian.

Bagaimanalah, urusan ini tidak masuk ranah logika-ku.

Mungkin ini akan terasa lebay atau alay,

Atau nggak aku banget, tapi….

Aku cuma pengen bilang,

Aku bangga menjadi kita.

Sahabat selamanya, iya kan?

FIN

yen, 20:42 26/05/11

Sumber :

Jalan Cinta Para Pejuang (kisah.web.id)

Kau, Aku dan Kota Kita (MP : darwisdarwis)

Katakanlah Dengan Indah (FB : Darwis Tere Liye)

catteacorner.com/dragosteadintei.htm