Memento of Ours – Choi Minho’s Journal

Author             : yen

Main Cast       : Choi Minho

Support Cast : Choi Seung Hyun (BIGBANG), Kim Ara

Length             : Oneshot

Rating              : General

Genre              : Life, Family, Romance, Sad

Soundtrack   : That’s When I Love You (Aslyn); Tragedy (Jinki and Jonghyun on SUKIRA); The Name I Loved (Onew and Kim Yun Woo); Tell Me Goodbye (BIGBANG)

Even if I die, leave you like this

You will be able to find another love

But there would still be sadness in that love

Through my lips, I can’t tell

That I will love you forever

I have no idea why

Sadness and tears are part of farewell

(Tragedy)

Empat hari yang lalu, 16 Januari 2017

“Eomma-mu memberikan ini padaku. Tapi, ku rasa kau lebih berhak memilikinya,”  ucap Kim Ara sembari menyodorkan sebuah jurnal tebal bersampul hitam dengan motif timbul salur-salur akar ke tangan Seung Hyun.

“Aku tidak tertarik”  sahut Seung Hyun dingin.

“Kau akan tertarik Oppa. Ini adalah jawabanku atas permintaanmu kemarin,”  desak Ara.

Seung Hyun menatap Ara lamat-lamat, “Kau akan memutuskan menikah denganku atau tidak berdasarkan jurnal DIA?”

Ara menahan tangis, menjawab serak, “Panggil dia Minho. Setelah semua yang  Minho lakukan, teganya kau hanya menyebutnya ‘Dia’?”

Seung Hyun hanya bisa termangu melihat Ara yang sudah berlari menjauh sembari menahan tangis. Mendesah berat, kemudian mulai membuka jurnal di tangannya. Deretan huruf berjajar rapi yang amat dia kenal menyapa matanya. Tulisan Minho, namdongsaeng-nya.

09 Desember 2001

Ini hari yang istimewa, tentu saja. Bukan hanya karena ini hari dimana 10 tahun yang lalu aku hadir di dunia. Tetapi juga karena hari ini adalah pertama kalinya aku memiliki keluarga yang lengkap. Abeoji, Eomeoni dan seorang Hyeong. Rumah besar ini, bagaimanapun, terasa dingin. Aboeji yang sangat pragmatis, Eomeoni yang hangat tetapi memendam begitu banyak kepedihan di matanya dan… Seung Hyun Hyeong yang menatapku dengan matanya yang tajam, pandangan yang menyelidik dan penuh antisipasi.

Eomma, 7 tahun bersamamu adalah masa-masa penuh keajaiban.  Waktu berlalu dengan penuh cerita seru dan lucu selama 3 tahun di panti asuhan. Akan seperti apa hidupku di rumah ini Eomma? Kisah apa yang akan terjadi di sini?

Eomma… sedang apa kau di surga sana? Hanya kau satu-satunya Eomma bagiku. Sehangat apapun Eomeoni, aku tetap tidak bisa memanggilnya dengan ‘Eomma’, selamanya tak bisa.

Seung Hyun kembali mengingat peristiwa itu, saat ia pertama kali bertemu Minho, anak dari kekasih Appa-nya. Tentu saja dia tidak suka pada Minho. Tidak, dia tidak membenci Minho, anak itu tidak bersalah. Minho berhak tinggal di rumah ini, dia bagian dari keluarga Choi. Tidak sepantasnya dia tinggal di panti asuhan.

Tapi, Minho adalah bukti nyata pengkhianatan Appa pada Eomma-nya. Seung Hyun tahu pasti, pernikahan Appa dan Eommanya tanpa dilandasi cinta, pernikahan bisnis. Tetap saja, memiliki anak dari wanita lain, bukanlah hal yang bisa diterima. Seung Hyun begitu marah, betapa teganya Appa membawa anak itu pulang, tidak memperhitungkan bagaimana pedihnya hati Eomma.

Seung Hyun lagi-lagi menghela nafas panjang, kembali membaca lembar demi lembar jurnal Minho.

Seung Hyun tertegun saat sampai di halaman yang dibagian atasnya bertuliskan 18 April 2009.

18 April 2009

Eomma, hari ini Hyeong pertama kali dalam hidupnya memukul orang. Dan Eomma tahu, kenapa Hyeong melakukan itu? Dia melakukannya untukku. Untukku, Eomma.

Dia memang tidak pernah mengijinkanku memanggilnya dengan sebutan ‘Hyeong’. Katanya, itu membuatnya ingin muntah. Tapi, aku tahu, jauh di dalam hatinya, dia menerimaku sebagai namdongsaengnya. Hyeong memang jarang bicara denganku, terkesan dingin dan tidak peduli. Tapi, dia selalu menjadi kakak yang baik.

Seung Hyun ingat kejadian itu. Orang brengsek yang mengatai Minho dengan sebutan ‘anak haram keluarga Choi’. Tidak, tidak seorangpun boleh menghina anggota keluarga Choi, atau dia akan berurusan dengan dirinya, Choi Seung Hyun. Dia tidak peduli apa pendapat Minho tentangnya, karena dia lebih suka menganggap anak itu tidak ada.

Lembar-lembar berikutnya penuh berisi catatan Minho tentang betapa beratnya hidup dengan predikat ‘anak haram keluarga Choi’. Tidak hanya di lingkungan keluarga besar Choi, atau di sekolah, tapi juga di perusahaan Appa. Banyak orang memandang sebelah mata pada Minho. Dan bagaimana Minho begitu berterima kasih, karena Seung Hyun selalu menjadi orang pertama yang membelanya.

16 Januari 2011

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya Eomma. Mendonorkan separuh hatiku pada Hyeong. Eomma tidak perlu khawatir, hatiku akan segera pulih. Kata Dokter, dalam waktu 2 minggu, hatiku akan kembali tumbuh 60 persen, 1 bulan sebesar 80 persen, dan dalam waktu 6 sampai 8 bulan bisa kembali normal seperti biasa. Hatiku akan segera tumbuh kembali Eomma. Wow, bukankah itu menakjubkan? Pantas saja kalau cinta tidak akan pernah habis walaupun kita berikan pada banyak orang, karena hati juga bisa tumbuh sendiri walaupun sudah diambil sebagian. Hahaha… Eomma, logika-ku aneh ya?

Awalnya, Eomeoni dan Abeoji tidak setuju atas keputusanku ini. Tapi, kondisi Hyeong sungguh mengkhawatirkan, mereka akhirnya setuju.

Hyeong terlalu memaksa dirinya untuk bekerja keras, membantu Abeoji di perusahaan. Ah, aku sepertinya tidak terlalu berbakat soal bisnis, jadi Hyeong-lah yang harus mengurus masalah perusahaan. Ditambah lagi gaya hidup dan pola makannya yang tidak baik, Hyeong terlalu cuek pada dirinya sendiri.

Eomma tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Memang, hal ini membuatku kehilangan jabatan sebagai kapten tim basket kampus. Tapi, itu harga yang pantas untuk kesehatan Hyeong. Keluarga, harus  saling menjaga. Begitukan Eomma bilang dulu?

Seung Hyun seperti melihat kembali dirinya dan Minho di ruang operasi, transplantasi hati. Liver-nya sudah terlalu rusak, mengerut dan tidak berfungsi lagi. Liver-nya diangkat dan digantikan dengan separuh liver Minho. Tahun itu adalah tahun yang berat untuk mereka berdua. Setahun penuh tim dokter keluarga memantau kesehatan mereka. Semuanya berakhir baik, liver Seung Hyun dan  Minho tumbuh normal.

20 Februari 2013

Eomma…!!

Aku sudah menemukan separuh ‘hati’-ku. Bukan, bukan soal transplantasi hati 2 tahun lalu. Hatiku sudah normal Eomma, utuh, sehat, tak kurang apapun juga.

Ini tentang ‘hati’-ku Eomma. Sseorang gadis, ah… Eomma aku sudah dewasa sekarang. Kau tidak keberatan aku berpacaran kan? Aku jatuh cinta Eomma!! Benar-benar jatuh cinta.

Kim Ara, gadis itu, separuh ‘hati’-ku.

Seung Hyun merasa sedikit tidak enak membaca bagian ini. Minho membicarakan Ara, gadis yang… juga dia sukai. Suka? Tidak. Ini bukan sekadar suka, ini CINTA.

Halaman selanjutnya hampir semuanya tentang Ara. Seung Hyun membacanya setengah hati.

09 Desember 2014

Eomma, rasanya, ini akan menjadi hari ulang tahun terbaik sepanjang hidupku. Hari ini memang tidak ada pesta meriah atau hadiah-hadiah spektakuler seperti tahun-tahun lalu. Kami –aku dan Eomeoni- justru sedang berada di rumah sakit, jantung Seung Hyun Hyeong bermasalah.

Hari ini sangat istimewa, alasan pertama, apalagi jika bukan karena Ara. Tadi, dia mengantarkan sup rumput laut, cukup banyak untukku dan Eomeoni. Alasan kedua, Eomeoni. Dia bicara banyak malam ini. Dia bilang, dia sangat bahagia memiliki Hyeong dan aku. Aku? Ya, Eomma. Dia bahagia memilikku sebagai anaknya. Saat aku bertanya apakah dia tidak membenciku, bukankah aku adalah anak dari wanita yang dicintai suaminya? Eomeoni justru berkata, dia berterima kasih padamu Eomma. Terima kasih karena kau telah mengirim anak sebaik aku padanya. Katanya, keberadaanku membuatnya tidak kesepian. Ah, Abeoji dan Hyeong memang terlalu sibuk dengan bisnis, pekerjaan dan perusahaan. Mereka terkadang lupa, tidak peduli, bahwa ada seseorang, yaitu Eomeoni, yang menganggap kebersamaan yang sederhana justru lebih berharga dibanding seluruh harta di dunia.

Kali ini Seung Hyun menelan ludah. Tersadar, selama ini dia kurang memperhatikan Eomma-nya. Eomma yang selalu tersenyum lembut menyambutnya. Bahkan saat dia uring-uringan karena harga saham yang jatuh, rekanan yang cerewet atau rival yang bermain kotor. Eomma yang selalu menyediakan susu coklat hangat, teh hijau yang wangi atau jus jeruk segar. Selalu tahu apa minuman yang cocok dengan suasana hatinya, hanya dengan melihat mimik mukanya.

20 Februari 2016

Eomma, gadis ini sangat menyebalkan. Hari ini tepat 3 tahun kami resmi pacaran. Jangankan membuat kejutan spesial atau sekadar kencan yang lebih romantis dari biasanya, Ara malah sibuk dengan deadline-nya.

ARGH!! Tiga tahun Eomma! Kami belum pernah benar-benar berciuman. Selalu aku yang menciumnya, itupun selalu dengan mengorbankan tulang keringku. Ara masih saja menendang tulang keringku saat aku mencuri-curi menciumnya.

Gadis ini…!!

Eomma, aku mencintainya. Mencintai caranya membuatku menunggu. Dia membuatku menunggu 2 jam dalam hujan.

Eomma, aku mencintainya. Mencintai caranya melampiaskan kekesalan saat kalah bermain game melawanku. Dia tidak pernah mau kalah.

Eomma, aku mencintainya. Mencintai caranya menyembunyikan air mata saat dia menangis karena menonton film yang mengharukan. Dia selalu berusaha tampak tegar.

Eomma, aku mencintainya. Mencintai caranya menyebut namaku. Dia tidak mau memanggilku dengan sebutan Yeobo, apalagi Jagi. ‘Aku belum menjadi istrimu’, begitu kilahnya. Dia juga tidak mau memanggilku dengan sebutan Oppa. Alasannya kali ini,  ‘Memangnya kau mau selamanya hanya menjadi Oppa-ku?’

Eomma, aku mencintainya….

Seung Hyun memutuskan untuk melewati lembar-lembar berikutnya. Dia merasa jantungnya bisa meledak kapan saja. Darahnya mulai mendidih. Cemburu.

07 Juli 2016

Eomma… bagiku, bukan masalah yang besar untuk memberinya sebagian dari hatiku. Bahkan jika perlu, aku akan memberikan seluruh hatiku padanya. Tapi… kali ini sungguh berat. Dia menginginkan belahan jiwaku, separuh  ’hati’-ku. Bagaimana bisa?

Eomeoni memang tidak mengatakannya secara langsung. Tapi dari tatapan matanya, dari nada bicaranya, aku merasa dia tengah memintaku untuk melepaskan Ara untuk Hyeong.

Eomeoni memang hanya berkata ‘Eomeoni tau kau juga sangat mencintai Ara. Tidak Minho, aku tidak akan memintamu melepaskannya. Aku mencintai kalian, kau dan Hyeong-mu, sama besarnya. Tapi, sebagai seorang ibu, aku sungguh bahagia melihat Seung Hyun seperti ini. Ini pertama kalinya dia terlihat begitu antusias dan bersemangat. Kau lihat? Akhir-akhir ini Hyeong-mu begitu ceria dan hangat. Kau tahu sendiri, biasanya dia seperti apa. Sangat dingin dan terlalu serius. Ya Tuhan, bahkan dia bisa bergurau sekarang. Dan… romantis. Aku hampir tidak percaya kalau ada gadis yang bisa membuat Hyeong-mu menjadi seperti ini. Ara memang sangat berarti bagi keluarga kita. Iya kan Minho?’ Eomeoni mengucapkannya dengan senyum penuh dan mata yang bersinar.

Eomma… aku harus bagaimana? Entah kenapa, aku jadi berpikir Eomma. Jangan-jangan, Hyeong jatuh cinta pada Ara karena andil-ku juga. Bukankah hati yang di ada dalam diri Hyeong adalah hatiku? Jika hati-ku (yang ada dalam diriku) mencintai Ara, bisa jadi, hati-ku (yang ada dalam diri Hyeong) juga mencintai Ara? Ah, Eomma… lagi-lagi, logika-ku aneh ya?

Seung Hyun mau-tak mau tersenyum geli membaca tulisan Minho yang ini. Logika Minho terkadang memang aneh. Imajinasi anak itu terlalu liar.

Seung Hyun memang mencintai Ara. Bukan karena hatinya adalah hati Minho. Tapi karena gadis itu adalah Ara. Seung Hyun rela berbagi apa saja dengan Minho. Perusahaan, Appa, bahkan Eomma. Tapi untuk yang satu ini, Ara, rasanya sulit sekali untuk mengalah.

03 November 2016

Eomma, semuanya berakhir. Aku memutuskan hubungan kami.

Aku lebih suka saat dia memendang tulang keringku. Aku lebih suka Ara yang berteriak marah saat aku memintanya mencintai Hyeong. Saat itu dia berteriak, ‘Kau pikir aku benda yang bisa kau berikan pada orang lain sesuka hatimu?’ Rasanya, aku bahkan lebih lega jika dia membunuhku dengan tangannya sendiri. Aku, yang mengaku mencintainya, tapi justru melukai hatinya. Memintanya untuk  bersama Hyeong.

Aku benci melihatnya hanya menatapku dingin, membuat hatiku membeku seketika.

Kali ini Seung Hyun tertegun cukup lama. Tanggal itu, 03 November 2016, adalah satu hari sebelum dia melamar Ara. Minho memutuskan Ara? Apa karena dia tahu rencananya yang akan melamar Ara di depan banyak orang, saat perayaan ulang tahunnya, saat umurnya genap 30 tahun? Bukankah, Minho sempat melihat cincin yang Seung Hyun siapkan untuk Ara?

09 Desember 2016

Ini hari yang istimewa, tentu saja. Bukan hanya karena ini adalah hari dimana 25 tahun yang lalu aku hadir di dunia. Tapi juga karena hari ini adalah hari dimana segalanya berakhir.

 Eomma, aku merasa sangat rindu padamu.

Ara, saat kau membaca ini, aku telah pergi. Sekalipun aku pergi, meninggalkanmu seperti ini, kau akan menemukan cinta lain.

Ku mohon jangan menangis, cukup aku saja yang merasakan sakitnya. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai aku menyakitimu.

Kau tahu, Seung Hyun Hyeong sangat mencintaimu. Aku tak lagi sanggup untuk memintamu untuk mencintai Hyeong. Aku hanya bisa berkata, kau berhak mendapatkan cinta yang lain, kau berhak mencintai orang lain. Aku sangat berharap orang itu adalah Seung Hyun Hyeong. Maafkan aku. Tapi aku tak sanggup membayangkanmu bersama orang lain selain Seung Hyun Hyeong.

Ara, aku telah memberikan hatiku padanya, sebagaimana aku juga sudah memberikan ‘hati’-ku padamu.

Ara, aku berjanji, di kehidupan yang akan datang, aku tak akan melepaskanmu, apapun yang terjadi. Sampai saat itu tiba, ku mohon, hiduplah dengan bahagia.

Itu adalah tulisan terakhir yang dapat ditemui Seung Hyun dari jurnal namdongsaeng-nya. Lembar-lembar selanjutnya sempurna kosong. Karena hari itu memang hari terakhir Minho bisa menulis.

Sekarang, setelah membaca semuanya, Seung Hyun tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pengorbanan apa saja yang telah Minho lakukan untuknya. Apa yang sebenarnya ada dalam benak Minho selama ini. Dan, apa arti keluarga bagi Minho. Yang terpenting, apa arti Seung Hyun bagi Minho.

Tidak, sejatinya, Seung Hyun tidak tahu semuanya. Seung Hyun tidak tahu apa yang terjadi setelah Minho menulis pesan terakhir di jurnalnya.

Malam itu, setelah menulis pesan terakhir di jurnal –dan meninggalkan jurnal itu di  kamar- Minho memutuskan pergi dari rumah. Dua hari setelahnya, Minho memutuskan untuk pergi lebih jauh, pergi dari Korea Selatan. Meninggalkan keluarganya, melepaskan cintanya, separuh hatinya, Kim Ara.

Minho sudah ada di bandara Incheon saat ponselnya berdering. Tuan Choi, Abeoji-nya, memohon dengan suara teramat jerih agar Minho segera pulang. Kondisi jantung Seung Hyun kembali memburuk, dia bisa meninggal kapan saja. Eomeoni pingsan berkali-kali.

Tanpa pikir panjang, Minho memacu sepeda motornya menuju Seoul National University Hospital.

Satu lagi yang Seung Hyun tidak tahu, saat kecelakaan itu terjadi, Minho bertahan. Bertahan semampunya, untuk memastikan bahwa dia bisa mengatakan langsung pada dokter, bahwa dia menyerahkan jantungnya untuk Choi Seung Hyun, Hyeong-nya.

Malam itu semua hati menjadi kebas. Ara menangis histeris di lorong rumah sakit, berteriak bahwa Minho belum meninggal, dia bisa sadar kapan saja, betapa teganya dokter hendak mengambil jantungnya. Eomeoni tak sanggup berkata apa-apa, dia hanya memeluk Ara erat-erat. Bagaimanapun, dia sayang pada kedua putranya, tidak bisa memilih salah satu. Hanya Abeoji yang berpikir cepat, lebih baik kehilangan satu, daripada dua sekaligus. Pragmatis.

Malam itu, Minho memberikan hidupnya pada Seung Hyun, Hyeong-nya.

Saat ini, 20 Januari 2017

“Oppa sudah selesai membacanya?” Ara nenatap nanar jurnal di depannya.

Seung Hyun mengangguk, “Ya,” desahnya lirih.

“Lalu?”

“Seharusnya aku yang bertanya”, Seung Hyun meraih dan menggenggam lembut tangan gadis itu, menatap matanya yang berkaca-kaca, “Lalu bagaimana jawabanmu?”

Ara menatap Seung Hyun lamat-lamat. Dia sudah mempersiapkan jawabannya sejak lama, tapi ketika melihat sorot mata Seung Hyun yang begitu hangat, dia kembali ragu-ragu. Di dalam hatinya, hanya ada  Minho, selamanya hanya  Minho. Tapi, Seung Hyun, orang yang saat ini ada didepannya adalah orang yang paling dicintai Minho. Seung Hyun, yang untuknya lah,  Minho rela menyerahkan segalanya. Termasuk hidupnya sendiri.

Saat Ara tidak lagi sanggup membendung air matanya yang turun deras, Seung Hyun meraih Ara ke dalam pelukannya. Berbisik pelan, “Aku tahu, dalam hatimu hanya ada Minho. Selamanya hanya dia. Aku tidak memintamu untuk melupakannya. Aku bahkan tidak berani berharap kau akan mencintaiku. Aku hanya minta, biarkan aku mencintaimu.”

Ara terisak tak terkendali, saat ini, orang yang memeluknya adalah Seung Hyun. Hyeong dari orang yang sangat ia cintai. Tapi, detak jantung yang dia dengar dan dia rasakan adalah detak jantung Minho. Detak jantung yang sangat dia rindukan.

FIN

Catatan :

Abeoji – Eomeoni : Father – Mother (formal)

Appa – Eomma : Dad – Mom (informal)