Memento of Ours

Kim Jong Hyun’s Vocal Cord

Author             : yen

Main Cast        : Kim Jonghyun

Support Cast : SHINee, Ryu Ji Hye, KimNamGil, Reporter

Length            : Oneshot

Rating             : General

Genre             : Friendship, Life

Soundtrack  : A Boy (G-Dragon); Only Human (K); Oh Mom (T.O.P); Dalam Duka (Letto); Lotus (Arashi)

Cover              :  Taken from many sources, photoshoped by yen

Don’t cry, you stand vacantly alone
Don’t worry, it may be lonely but you’re not the only one
Look beside you, you’re not alone

(Oh Mom)

Agustus 2011, Titik Nadir.

Hari ini, berita itu tersebar ke seluruh penjuru Korea Selatan. Bahkan menyebrangi samudra, benua, tersebar ke seluruh dunia. Kim Jonghyun, lead vocal SHINee mengalami kecelakaan sepeda motor.

“Hyung, aku cemas sekali. Jonghyun hyung akan baik-baik saja kan, dia pasti sembuh kan?” Taemin mengguncang bahu Jinki, keduanya tidak bisa menahan air mata.

Minho menatap nanar pintu ruang operasi. Key duduk menjeplak di lantai lorong, mendongak menatap langit-langit, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.

Saat ini, Jonghyun ada di dalam ruang operasi. Tulang belakangnya patah, ada beberapa syaraf yang rusak. Kemungkinan besar, dia tidak akan bisa berjalan lagi, lumpuh. Bukan hanya itu, tulang rusuknya yang patah menembus salah satu ginjalnya. Ginjalnya hancur, tidak bisa diselamatkan lagi.

September 2011, Persimpangan jalan.

Jinki mendesah berat, “Maaf Jjong, kami tidak punya pilihan lain.”

Hening. Jinki tertunduk, meremas jari-jarinya, sibuk menyusun kata-kata selanjutnya. Sementara itu, Minho menatap keduanya dengan hati kebas. Taemin yang duduk di ujung tempat tidur Jonghyun, tidak henti-hentinya mengusap air mata dengan ujung lengan hoodienya. Key bersandar pada tembok, menatap langit-langit kamar. Ketiganya merasa tidak sanggup untuk sekadar ikut berbicara.

“Kami sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkan kau, tapi… posisi kami juga sulit Jjong. Saat ini SHINee sedang di puncak karir. Manajemen menuntut kami untuk terus bekerja keras, mereka bilang ini momen yang tepat untuk SHINee go international. Sementara… keadaanmu tidak memungkinkan. Kami sudah memohon langsung pada Presiden Lee agar tidak mengeluarkanmu dari SHINee, kami akan menunggumu sampai pulih kembali. Sementara kau terapi, bagianmu akan dicover Taemin, dia sudah bersedia berlatih ekstra. Jjong, sungguh, kami sudah berusaha mempertahankanmu. Kami tidak rela kau dikeluarkan. Tapi… kenyataannya, kami tidak bisa berbuat banyak Jjong. Bagaimanapun, kami terikat kontrak kerja.” Jinki memegang kedua bahu Jonghyun, memaksa Jonghyun menghadap kearahnya, “Maaf Jjong. Sungguh maafkan kami. Maafkan Hyung-mu ini. Maaf….”

Jonghyun tidak memberikan reaksi apapun atas perkataan Jinki. Wajahnya memang menghadap pada wajah Jinki, tapi matanya terus saja menatap kosong keluar jendela. Hatinya buncah oleh segala rasa, sedih, kecewa, kesal, marah, putus asa.

Jinki mengguncang bahu Jonghyun, “Kim Jong Hyun! Ku mohon tatap mataku!”

Jonghyun menatap nanar ke arah Jinki, tenggorokannya terasa sangat sakit, ulu hatinya serasa hendak pecah. Tapi Jonghyun sudah tidak sanggup lagi menangis, hatinya benar-benar telah kebas. Jonghyun sudah paham, manager SHINee sudah menerangkannya panjang lebar. Tapi, mendengarnya langsung dari Lee Jinki -orang yang sudah dianggapnya sebagai hyung, bukan sekadar leader atau rekan kerja- ternyata rasanya jauh lebih menyakitkan.

Dia, Kim Jonghyun, lead vocal SHINee, sudah secara resmi dikeluarkan dari SMEnt dan SHINee. SHINee berasa di puncak kejayaan, mereka tidak mungkin berhenti hanya karena lead vocal-nya kehilangan suara. Kecelakaan itu tidak hanya melukai badannya, tapi juga pita suaranya. Lebih diatas segalanya, merusak masa depannya. Jangankan untuk nge-dance, berjalan pun Jonghyun tak sanggup. Jangankan bernyanyi, bersuara saja, Jonghyun tak bisa.

Jinki tidak mampu lagi menahan perasaannya, dia mendekap Jonghyun dan menangis di bahu adiknya itu. Taemin dan Minho segera mendekat, melakukan hal yang sama, memeluk Jonghyun dan Jinki, menangis dalam diam. Key menatap Jonghyun yang hanya membeku kaku ditengah-tengah pelukan sahabatnya. Key menggigit bibirnya kuat-kuat, hingga dia bisa merasakan asin darahnya sendiri, tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya, keras dan erat. Entah apa yang terlintas dalam pikiran Key.

Oktober-Desember 2011, Agony.

“Baiklah tuan selebritis, silahkan saja kau sesali terus keadaanmu. Tidak ada yang akan peduli padamu,” Dokter Kim menyeringai sebal, meninggalkan Jonghyun yang duduk menjeplak di lantai ruang rehabilitasi.

Jonghyun menolak mengikuti sesi rehabilitasi, mengamuk histeris, merasa semua itu hanya sia-sia, tidak berguna, hidupnya sudah hancur, tamat. Jonghyun bahkan tidak segan-segan menepis kasar tangan perawat yang berusaha membantunya berdiri.

“Oppa… kau tidak apa-apa kan?” Seorang gadis melorot turun dari sebuah kursi roda, ikut duduk bersimpuh di lantai bersama Jonghyun, tersenyum lembut pada Jonghyun.

Jonghyun hanya meliriknya sekilas, kemudian memalingkan muka, dia tidak sanggup menahan air matanya. Jonghyun kembali menangis untuk kesekian kalinya.

“Ah… aku sangat bodoh ya. Tentu saja Oppa sedang tidak baik-baik saja,” tambah gadis itu sembari memukul pelan kepalanya sendiri, menyeringai.

Jonghyun mulai terisak pelan. Gadis itu menatapnya prihatin, perlahan, dia memeluk lembut Jonghyun.

“Hidup itu tidak adil. Iya kan Oppa?” Keluh gadis itu lirih.

***

“Oppa, bangun! Sudah siang,” seru gadis itu sembari menarik selimut Jonghyun.

Jonghyun menatapnya kesal, melipat dahi, dia merasa tidak mengenali gadis yang sekarang tersenyum lebar sembari lincah mengendalikan kursi roda elektriknya, mengelilingi kamar Jonghyun.

“Kenapa Oppa melihatku seperti itu? Tidak ingat padaku? Keterlaluan sekali, padahal baru kemarin kau menangis dipelukanku Oppa!” serunya ketus.

“Ji Hye, namaku Ryu Ji Hye. Sama seperti Oppa, aku juga pasien Dokter Kim Nam Gil. Sakit… tau dah penyakit apaan, namanya ribet. Kata Nam Gil Oppa sih, ada hubungannya dengan syaraf dan otak” Ji Hye mendekatkan kursi rodanya ke tempat tidur Jonghyun. Pelan-pelan dia pindah dari kursi rodanya, ingin duduk ditepi tempat tidur. Nyaris terjerembab jika saja Jonghyun tidak sigap menahan lengannya.

“Upsss…” seru Ji Hye tertahan, “Makasih Oppa, nyaris jatuh lagi deh.”

Jonghyun hanya mengangguk tipis, membantu gadis itu agar bisa duduk lebih nyaman.

“Kata Nam Gil Oppa, kau tidak mau mengikuti sesi rehabilitasi ya? Hmmm… Dokter galak itu memang sadis sih omongannya, tapi… sebenarnya dia baik loh. Dia memotivasi pasiennya untuk pantang menyerah. Nam Gil Oppa selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk para pasiennya. Tentu, dia juga berharap pasiennya mau melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Karena sekeras apapun usaha orang lain, jika kita sebagai pasien tidak memiliki semangat untuk bertahan, untuk sembuh, maka semuanya tidak akan ada artinya.” Ji Hye menatap mata Jonghyun lurus-lurus.

Jonghyun memalingkan muka, malas mendengar omongan orang sok tau yang bahkan tidak dia kenal.

Ji Hye tersenyum maklum, “Maaf aku terlalu ikut campur urusan Oppa. Kita memang tidak saling kenal. Aku hanya tidak mau Oppa merasa sendirian. Yeah, sejatinya orang-orang seperti kita ini memang sendirian Oppa. Kita sendiri yang merasakan sakitnya, tapi, kita bukan satu-satunya. Banyak orang yang senasib seperti kita, bahkan lebih banyak lagi yang lebih memprihatinkan dibanding kita.”

“Maaf kalau aku terlalu terus terang dan terkesan buru-buru. Mungkin Oppa berpikir, seharusnya bukan begini cara memotivasi orang lain. Seharusnya aku berteman dulu denganmu, baru perlahan-lahan berbincang dari hati ke hati. Oppa, kau juga akan melakukan seperti apa yang ku lakukan sekarang, andai kau tahu waktumu tak banyak lagi.” Ji Hye mendesah berat.

“Nam Gil Oppa dengan sadisnya bilang padaku, kalau aku bisa mati kapan saja. Hmmm… tapi, dia juga bilang, bahwa kematian itu bukan urusan manusia. Urusan manusia adalah bagaimana kita bisa berbuat sebaik mungkin selama kita masih hidup. Aku berusaha berbuat sebaik mungkin Oppa. Untuk hidup, untuk kehidupan, untuk bertahan hidup. Entah sampai kapan,” Ji Hye menatap jauh keluar jendela.

Ryu Ji Hye tersenyum tipis, “Setidaknya, aku bisa pergi dengan tenang karena sudah berusaha semampuku. Aku tidak ingin, dalam hati orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku ada setitik saja penyesalan. Aku ingin membuat mereka bisa melepaskanku dengan lega, karena aku pergi dengan bahagia.”

Jonhyun tertegun, gadis yang lebih muda darinya bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Benarlah kata orang, masalah selalu membuatmu lebih dewasa. Ji Hye masih sangat muda, tapi sudah sedewasa ini, bisa dibayangkan masalah seberat apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Ah-ya, sebenarnya kita bukannya tidak saling kenal. Oppa saja yang tidak kenal padaku. Walaupun aku bukan shawol, aku tahu kalau kau adalah Kim Jonghyun, lead vocal SHINee. Aku juga sudah dengar tentang apa yang terjadi padamu. Lebih dari yang para shawol ketahui tentang kau. Nam Gil Oppa sering curhat padaku, katanya kau pasien yang keras kepala dan menyebalkan,” Ji Hye menyeringai lebar.

Jonghyun tersenyum tipis mendengar pendapat Dokter Kim tentangnya itu.

“Oppa bicaralah. Aku hanya ingin mendengar suara Jonghyun Oppa, bukan suara seorang lead vocal SHINee. Sekali saja…”

Jonghyun menelan ludah, mendesah berat, “T-trrimmaa… kashh…” Saat akhirnya Jonghyun mengeluarkan suara, hanya sengau yang terdengar.

Juni 2012, Akhir dan Awal.

Oppa, saat kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi selamanya. Tersenyumlah Oppa, karena aku pergi dengan tersenyum.

Oppa, setiap akhir adalah awal. Akhir aku di dunia, berarti adalah awal perjalanan ku di surga (Jangan tertawa! Aku pasti masuk surga, jangan meremehkanku Oppa!)

Mau-tidak mau, Jonghyun tersenyum membaca surat Ji Hye. Bahkan disaat-saat terakhirnya, Ji Hye masih bisa bergurau.

Nah, ini juga harus menjadi awal bagi Oppa. Sebenarnya, aku ragu-ragu saat memutuskan hal ini. Tapi, Nam Gil Oppa (Jangan bilang kalau aku memanggilnya Oppa, dokter sadis itu akan memarahiku habis-habisan. Bisa-bisa dia mengejarku ke surga hanya untuk menjitakku) bilang, jenis suara tergantung dari bentuk tenggorokan, mulut, hidung dan sinus, bukan dari pita suara. Jadi, sekalipun Oppa memakai pita suara-ku, tenang saja, yang akan terdengar tetap suara Oppa sendiri. Wah, padahal aku sudah takut kalau nanti Oppa bicara, justru suaraku yang terdengar, hehehe….

Jonghyun melipat dahi, bingung, apa maksud Ji Hye sebenarnya. Memakai pita suara-nya? Jonghyun kembali menekuri kertas yang dipegangnya.

Eh-ya, jadi, aku ingin memberikan pita suaraku untuk Oppa. Jadi Oppa bisa bicara normal lagi. Kabar buruknya, sekalipun Oppa bisa bicara normal kembali, Nam Gil Oppa tidak bisa menjamin kalau 3 oktaf-mu itu masih ada. Sepertinya kau harus latihan dari awal.

Aku harap ini bisa menjadi awal bagi Oppa. Bersyukurlah Oppa, kau masih diberi kesempatan. Jangan pernah menyia-nyiakan apa yang Tuhan berikan. Aku tidak bermaksud untuk meminta Oppa kembali ke dunia Oppa yang sebelumnya. Aku ingin Oppa memulai sesuatu yang baru, yang lebih bermanfaat, lebih bermakna.

Oppa….

Hidup itu sebab-akibat. Lagu Only Human-lah yang menjadi sebabku bertahan, lagu Oh Mom yang membuatku terus berjuang. Aku harap, aku bisa menjadi sebab untuk Oppa bangkit. Kemudian Oppa bisa menjadi sebab bagi orang-orang lain. Terus seperti itu. Jadilah sebab Oppa, sebab yang baik, entah dengan cara seperti apa.

Ryu Ji Hye.

 

Jonghyun menatap nanar fotonya bersama Ji Hye. Dia masih tidak bisa percaya, gadis tangguh itu sudah pergi selamanya. Hanya selembar foto dan surat ini yang menjadi memento bagi mereka, dan tentu saja pita suara itu, nanti. Jonghyun bahkan tidak akan bisa sekadar berkunjung ke makam Ji Hye, karena Ji Hye memang tidak akan mempunyai makam. Ji Hye menyumbangkan seluruh bagian tubuhnya bagi siapapun yang memerlukan. Bukan hanya organ tubuh, tapi semuanya, apa saja yang masih bisa digunakan untuk penelitian dan kemajuan ilmu pengetahuan.

2012 – 2020, Perjuangan – Perjalanan Panjang.

“Bagaimana terapi hari ini Tuan Selebritis?” Goda Dokter Kim saat melihat Jonghyun patah-patah melangkah sambil berpegangan pada palang logam.

Jonghyun menyeringai sebal, “Aku bukan selebritis lagi.”

Dokter Kim ikut menyeringai, “Kemajuanmu lebih dari yang aku harapkan Jjong. Tapi, jangan terlalu dipaksakan, kau harus mempertimbangkan kondisi ginjalmu.”

“Kalau tidak dipaksakan, kapan aku bisa berjalan lagi? Seseorang terkadang harus memaksa dirinya sendiri, sampai pada batas kemampuannya, baru dia akan berhasil,” sahut Jonghyun sembari terus berjalan bolak-balik di ruang rehabilitasi.

“Kau ini,” Dokter Kim mengetuk pelan kepala Jonghyun dengan buku-buku jarinya, “terkadang aku merasa kalau Jjong yang tidak bisa bicara lebih menyenangkan daripada Jjong yang suka membantah. Sekarang kau mirip Ji Hye, cerewet.”

“Sebenarnya, menurut Ji Hye, justru kau yang cerewet Hyung,” celutuk Jonghyun, menyeringai lebar, teringat bagaimana Ji Hye dengan kesal bercerita bahwa Dokter Kim mengomelinya panjang lebar hanya karena dia lupa minum obat.

Kim Nam Gil mendelik kesal, “YA! Sejak kapan kau berani kurang ajar memanggilku Hyung? Aku bukan Hyung-mu.”

“Tentu saja kau itu Hyung-ku, Dokter Kim. Sejak kau jadi Oppa-nya Ji Hye, otomatis kau menjadi Hyung-ku,” celutuk Jonghyun sembari menyeringai lebar.

PLETAK!

“YA! Hyung, kau memang sadis!” Jonghyun menggerutu sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.

Dokter Kim memasang wajah garang, “Sekali lagi kau lancang memanggilku Hyung, ku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi, SELAMANYA!”

***

Jonghyun tercenung mendengar kabar itu, SHINee resmi bubar. Logikanya tidak bisa menerima berita itu. Apa yang terjadi? Yah, dia belum bisa melupakan pedih hatinya saat teman-temannya di SHINee memutuskan untuk meninggalkannya, melanjutkan SHINee tanpa dirinya. Tapi… melihat mereka berpisah dengan cara seperti ini, hatinya tetap terasa sakit.

Lee Jinki, sang leader memilih untuk bersolo karir. Minho memutuskan untuk fokus pada proyek drama dan film-nya. Taemin melanjutkan sekolah ke London, di kampus yang sama dengan para pangeran dan bangsawan Inggris memuntut ilmu. Key, entah apa yang dia lakukan, dia menghilang begitu saja. Tidak satupun reporter yang berhasil mengendus jejaknya. Hilang, bagai raib ditelan bumi.

Seperti inikah akhir bagi SHINee? Beginikah cerita mereka berakhir?

Jonghyun sebenarnya sangat ingin menemui keempat sahabatnya itu, sekadar berbicara dan menanyakan kabar masing-masing. Tapi, sisi hatinya yang lain merasa belum siap, belum saatnya. Dia tidak ingin menemui sahabat-sahabatnya itu dalam kondisi yang seperti ini. Ini hanya akan membuat hati mereka berlima terasa sakit. Melihat kondisi orang yang kau sayangi dalam keadaan terluka, akan membuatmu ikut terluka.

Baik Jonghyun maupun keempat mantan anggota SHINee lainnya tengah dalam keadaan terberat dalam hidupnya. Memilih berpisah, terlepas dari teman seperjuangan, melanjutkan hidup masing-masing, seorang diri. Apa yang lebih berat dari itu? Ketika kau harus melewati segalanya seorang diri. Tapi, sekali lagi, ingatlah selalu, bahwa kau bukan satu-satunya yang mengalami hal itu.

2021, It’s Time To Shine.

“Jonghyun-ssi, setelah sepuluh tahun, bagaimana rasanya bertemu dan bekerjasama dengan SHINee lagi?” Tanya reporter membuka wawancara eksklusif mereka.

“Tentu sangat menyenangkan. Sudah sepuluh tahun saya tidak menyanyi di depan publik, rasanya grogi sekali,” Jonghyun tertawa renyah, terkendali.

“Ada rencana untuk kembali ke dunia tarik suara? Selama ini anda selalu aktif menciptakan lagu, ah, anda memang penulis lirik dan komposer terhebat saat ini.” Reporter ikut tertawa renyah, buru-buru menambahkan, “Juga seorang novelis handal.”

Jonghyun tersenyum tipis, menggeleng, “Nampaknya tidak. Saya rasa, orang yang memberikan pita suaranya pada saya tidak menginginkan itu. Dia memberikan pita suaranya pada saya bukan agar saya kembali ke masa lalu, tapi untuk menjalani masa depan.”

“Sepertinya orang yang anda maksud ini sangat berarti bagi Anda,” sahut sang Reporter.

Jonghyun lagi-lagi tersenyum, “Dia yang mengispirasi saya, hingga saya bisa mencapai semua ini.”

Reporter memasang wajah antusias, “Dan sekarang, Anda yang banyak menginspirasi orang melalui lagu dan novel Anda. Apa ini memang tujuan Anda dalam berkarya?”

“Saya senang jika masyarakat bisa mengambil nilai-nilai positif yang saya sampaikan melalui lagu dan novel itu. Saya akan selalu berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain.”

***

Enam bulan sebelumnya.

“KEY HYUNG!!” Teriak Taemin saat melihat sesosok namja berjalan masuk ke dalam cafe-nya.

Hari ini, mantan anggota SHINee memang ada janji berkumpul di kantor arsitek merangkap cafe dan toko furniture milik Taemin.

Jinki tersenyum lebar, memukul pelan bahu Key, “Kau ini, masih saja seperti dulu, selalu datang paling akhir.”

Key terkekeh ringan, “Orang paling penting selalu datang paling akhir Hyung.”

“Baiklah Mr. Producer, kau memang orang terpenting dalam proyek film ini. Kau yang punya uang! Apalah arti sutradara sepertiku dibandingkan kau,” sahut Minho sembari menepuk kursi di sebelahnya, mempersilahkan Key duduk.

“Hei! Hei! Kalian ini bodoh atau idiot sih? Film ini kan berdasarkan novelku, dan aku sendiri yang menulis skenarionya. Tentu aku orang terpenting dalam proyek ini,” Jonghyun memberengut, pura-pura marah.

Taemin baru saja hendak membuka mulut, tapi Jinki sudah memotong cepat, “Yah, yah! Bagi kalian, penata musik merangkap casting producer sepertiku memang tidak masuk hitungan orang penting. Dongsaeng durhaka!”

“AISH! Hyung, kalian ini childish sekali. Aku yang pemeran utama saja tidak protes kok,” celutuk Taemin dengan gaya sok cool.

Jonghyun mengacak rambut Taemin, “Mr. Architect, kehormatan besar bagiku, seorang arsitek muda berbakat seperti mu berkenan bermain di film perdanaku.”

Taemin memberengut sebal, “Ya! Hyung! Aku ini bukan anak kecil lagi. Kau merusak image-ku!”

Image apa Taeminie? Kau itu tetap magnae kami, sampai kapanpun,” ucap Key sembari ikut-ikutan mengacak rambut Taemin.

“Nih,” Jinki tanpa basi-basi telah menyodorkan selembar partitur pada semua temannya.

“APA??” Key protes keras, setengah menolak kertas partiturnya, “Aku belum menyatakan kesediaanku untuk ikut menyanyikan OST ini Hyung!”

Minho menjawab santai, “Kami berempat sudah setuju Key. Empat lawan satu, kau kalah suara. Kita akan menyanyikan lagu ciptaan Jinki Hyung dan Jonghyun Hyung ini.”

Key hanya mendengus sebal, mengeluarkan suara puh panjang.

“Tenang Key, image-mu sebagai pialang saham, tukang akuisisi perusahaan orang, yang menyeramkan itu tidak akan luntur hanya karena kembali bernyanyi bersama kami,” timpal Jonghyun sembari menepuk-nepuk punggung Ki Bum.

“Ngomong-ngomong soal akuisisi, Hyung, aku mendengar sebuah rumor aneh tentangmu,” celutuk Taemin sambil menatap Key lamat-lamat, “Kabarnya, kau yang menyebabkan anjlok-nya harga saham SMEnt. Bahkan, aku dengar, kau juga yang kemudian mengakuisisi-nya. Benar Hyung?”

Key hanya mengangkat bahu, menyeringai lebar, pura-pura asyik menekuri partiturnya.

FIN

yen, 20:15 – 08/06/11