Venus – Intro

Call me Venus

Brightest planet in solar system

Vesper, an evening star

Luficer,bearer of light,

Bearer of dawn

 

Namanya Ve, Venus, memang bukan nama yang umum dipakai oleh seorang gadis Indonesia. Hal ini menyebabkan beberapa orang bertanya, apakah itu nama aslinya. Gadis itu selalu menjawabnya dengan senyuman lebar. Senyuman yang membuat pipinya naik sedemikian rupa sehingga matanya menyipit. Ekspresi yang sama juga selalu ditunjukkannya saat ada orang yang bertanya berapa umurnya. Dulu Ve selalu dengan senang hati menjawab pertanyaan yang satu ini. Tapi lama-kelamaan Ve bosan, karena orang yang bertanya padanya akan menunjukkan ekspresi tidak percaya, mengira bahwa Ve lebih muda beberapa tahun dari angka yang Ve sebutkan.

Ve adalah orang Indonesia asli. Lahir dan tinggal di Indonesia, tinggal di atas bumi, di bawah langit Indonesia. Tepatnya? Di mana-mana, nomaden, yah, bahasa kerennya adalah nomaden. Bukan karena Ve seorang gadis dengan jiwa petualang. Tapi lebih karena memang begitulah arus kehidupan membawanya, terlepas dari kenyataan bahwa Ve terlahir sebagai seorang pembosan.

Ve sekolah atau kuliah di mana? Bagi Ve, itu bukan topik yang menarik untuk dibicarakan. Omong kosong dengan sekolah, kuliah dan tetek bengek lainnya. Ve mengaku tidak pernah makan bangku sekolahan, karena dia bukan rayap. Tentu, Ve hanya bercanda. Bagi Ve, tempat belajarnya adalah gerbong-gerbong kereta ekonomi. Ve menimba ilmu di peron-peron stasiun kecil, berteman dengan para pencopet, pengamen, eksekutif muda yang terburu-buru, mahasiswa dan mahasiswi cantik berbau wangi, ibu-ibu pedagang sayur, bocah penyapu lantai kereta dan semua orang yang ditemui dalam setiap perjalanannya.

Ve selalu bilang kalau dia mengambil jurusan KEHIDUPAN. Materinya tentang ekonomi bisnis -para penjual tahu sumedang di gerbong kereta ekonomi Jakarta – Bogor, para penjaja nasi bungkus di stasiun Purworejo, pedagang bawang merah dan telur asin di stasiun Brebes-, strategi penjualan -pengamen ewer-ewer di stasiun Wates-, teori difusi osmosis –para pemancing minyak di stasiun Prupuk-, ilmu filsafat -seorang bapak tua yang duduk di sebelahku-, teori relativitas –seorang anak kecil yang melempari kereta eksekutif dengan batu seukuran kepalan tangan-.

Identitas Ve adalah jilbab, hoodie, celana kargo, tas ransel dan sendal gunung yang kesemuanya kusut dan lusuh. Yap, lusuh dari ujung kaki hingga ujung kepala, sampai-sampai Mami –panggilan kesayangan Ve pada ibunya- bilang kalau penampilan Ve mirip buruh bangunan shif 2 yang pulang tengah malam. Yeah, Ve memang buruh, buruh pabrik bukan bangunan. Dan pabriknya tidak mengenal sistem shif.

Nah, kalau kalian bertemu dengan gadis dengan ciri-ciri seperti itu, entah dimanalah –stasiun Djuanda, Lempuyangan, terminal Baranangsiang, Kalideres, pelabuhan Tanjung Perak, Tanjung Emas- panggil saja namanya keras-keras “Ve!! Venus!”. Kalau gadis itu menoleh kemudian tersenyum tanggung padamu, berarti kau telah berjumpa dengannya, seorang VENUS.

Sejak saat itu dan seterusnya, maka kalian cukup memanggilnya Ve saja, atau Venus. Tanpa perlu embel-embel Kak, Mbak, Teteh, Eonni, Nuna, Dek, Tante, Bu atau apalah itu. Toh, Ve juga tidak pernah peduli. Ve juga tidak keberatan dipanggil Kinsei, Bineoseu, Jinxing, Venera, Veneris, Vesper, Lucifer, Véineas, Vinasa atau apapun itu, asal artinya tetap Venus. Karena Ve adalah Venus.

yen, 19:54 – 21.06.11