Selesai mbaca ‘Atas Nama Malam’-nya Seno Gumira Ajidarma (SGA).


Wow! Aku suka. Yeah, ceritannya soal bartender, penyanyi bar, pelacur. Gitu-gitu deh!

Tapi, kerennya, SGA bisa memandang pelacur dari berbagai sudut. Dari si pelacur itu sendiri, dari si bartender atau dari anak si pelacur.

Hmmm… hidup, memang penuh sudut pandang. Ga ada nilai yang mutlak, tergantung sudut pandangnya.

But, kebenaran harus ada patokannya kan? Buatku?? Jelas Al-Qur’an dan Hadist. Ga mudah, berat malah, untuk menggenggamnya erat. Tapi aku bakal berusaha mati-matian. Amin.

Ukay, balik ke buku-nya SGA.

Bab I. Suatu Malam, Aku Jatuh Cinta

Bagian 6. Pelacur

Ada kata-kata yang aku suka:

“Tapi, aku bosan mendengar cerita-cerita pelacuran yang selalu sama. Selalu mirip. Melacur karena terpaksa. Untuk menolong orang tua dan adik-adik di kampung. Mempertahankan hidup daripada mengemis. Membosankan.”

Dan…

“Memang. Susah menemukan orang jujur. Setiap orang mencari pembenaran hidupnya sendiri-sendiri.”

Yeah, kebanyakan orang memang suka berlindung di balik pembenaran atas segala hal yang dia lakukan. Termasuk aku?? Hehehe… mungkin!

Ada 1 lagi cerpen yang aku suka di buku ini. Judulnya, “Pelajaran Mengarang.” Dalem banget!

Ceritanya tentang Sandra, anak umur 10 tahun yang bingung setengah mati (bahasaku lebay) waktu disuruh ibu gurunya bikin karangan. Ada tiga pilihan judul yang dikasih ama Bu Guru, yaitu:

  1. Keluarga Kami yang Berbahagia
  2. Liburan ke Rumah Nenek
  3. Ibu

Sementara temen-temen sekelasnya pada asyik nulis, Sandra malah inget ama kejadian-kejadian dirumahnya.

Temen-temen sekelas Sandra cuma perlu nulis ulang kejadian yang terjadi (?). Tapi buat Sandra, dia perlu meres otak. Buat dia, ketiga judul itu berarti dia harus bener-bener ‘ngarang’.

Sampe waktu habis, Sandra cuma bisa nulis :

IBU

Ibuku seorang pelacur….

Damn! Ni cerpen sukses bikin aku berkaca-kaca.

Sandra yang polos, yang bingung ama kekasaran ibunya. Tapi juga tersentuh sama kasih sayang ibunya yang ‘menatap Sandra penuh cinta, nge-lap mulut Sandra yang belepotan es krim, mbacain buku cerita, meminta Sandra menjadi anak baik-baik.

Bener-bener sederhana dan menyentuh.

“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”

“Seperti Mama?”

“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”

Hmmm… buat sebagian orang, hidup itu kayaknya susah banget. Sangat-sangat berat. Tapi, bukankah segala sesuatu itu sejatinya sederhana (kata Bang Darwis)? Kita aja yang membuatnya jadi ribet, karena kita memandangnya dari sudut pandang yang ribet.

Lagipula, hidup itu pilihan kan?

Asal kita mau berusaha, berjuang, Allah swt. pasti ngasih jalan.

Man Jadda wa Jadda.

Semua makhluk Allah swt. sudah diatur rejekinya. Kenapa mesti takut mati kelaparan?

Lagian, buat aku, mending mati kelaparan daripada hidup bergelimang dosa (sok idealis). Iya kan?

Ah-ya, di buku ini juga ada puisinya T.S. Elliot yang judulnya ‘The Hollow Man’. KEREN!! Aku paling suka bagian V.

Yang paling WOW dari buku ini adalah DAFTAR PUSTAKA-nya.

Tuh… kan! Walopun ini buku fiksi, SGA tetep punya daftar pustaka, ga sekadar mengkhayal ngawang-ngawang. Patut diteladani!