(BUKAN) Sinetron Jalanan


dipersembahkan untuk seluruh anak jalanan, terutama Mas Ferdy, dimanapun dia berada

 

Januari, awal bulan

Beberapa hari ini, Yogya selalu diguyur hujan.

“Klo hujan terus kayak begini, pendapatan kita jadi berkurang ya Fer,” sambil bersungut-sungut Tito menghitung recehannya.

Bogel ikut-ikutan menggerutu, “Orang kaya memang pelit! Pas puasa aja mereka ngasih makan enak ke kita. Ceramah ini itu, giliran bulan puasa abis, kebaikannya juga udahan.”

“Udah, nggak usah kebanyakan omong. Orang macem kita harus bisa berjuang sendiri. Orang kaya nggak usah diurusin. Ayo kerja! Masih mau makan nggak??” Mendengar kata-kataku, semua bubar, kembali ke jalan raya mencari receh dengan mengamen.

Ya, kami memang anak jalanan. Walaupun hujan turun deras, kami harus tetap bekerja. Sebuah mobil yang aku kenali berhenti di lampu merah.

Bernyanyi di jalanan kehidupan

Sepi ditengah keramaian dunia

 

Jendela SX-4 itu terbuka sedikit, dari dalamnya terulur uang kertas 5000-an. Aku tersenyum sekilas,  menerimanya dan segera pindah ke sisi mobil yang lain.

Akhir Januari, tahun yang sama

SX-4 itu belum juga terlihat. Padahal setiap hari ia selalu lewat jalan ini, mungkin berangkat sekolah.

“Ferdy! Iuran dong,” Bogel menadahkan tangan.

“Siapa yang sakit?” Aku langsung bisa menerka.

“Joko,” jawab Bogel singkat.

Kami terbiasa iuran kalau ada teman yang sakit dan perlu beli obat. Aku menyodorkan selembar uang sepuluhribuan pada Bogel.

“Nggak kebanyakan nih Fer?”

“Udah, ambil aja. Sama temen nggak boleh pelit.”

Nanti aku dapat lima ribu dari gadis kaya pemilik SX-4 itu. Tapi, sampai siang dia belum juga lewat. Padahal, hari ini bukan hari libur.

Awal Februari

Hari ini, seperti biasa aku mangkal di lampu merah dekat terminal Umbulharjo. Dan seperti biasanya juga, aku  selalu berharap SX-4 itu lewat dan aku tidak keduluan teman yang lain.

Tapi hari ini SX-4 itu tampak sedikit aneh, dia berhenti agak jauh sebelum lampu merah. Pemiliknya keluar dengan ekspresi bingung bercampur cemas. Dia, gadis itu, manis.

Aku memberanikan diri untuk menyapa, “Kenapa?”

“Mogok,” sahutnya, nyaris ketus. Gadis itu menatapku dengan pandangan curiga dan waspada.

Ya, orang sepertiku memang sudah terbiasa dicurigai.

“Coba dibuka kap-nya, siapa tau aku bisa bantu,” sekali lagi aku berniat baik.

Dengan ragu-ragu dia masuk ke dalam mobil,  membuka kap mobil.

Untung saja aku suka main ke bengkel Mas Pri, sedikit banyak aku paham soal mesin mobil.

“Sudah, coba dihidupkan.”

Suara mesin menderum halus.

Gadis itu turun dari mobilnya dengan wajah lega.

“Terima kasih,” ucapnya singkat sembari menyodorkan uang seratusribuan.

“Udah, nggak usah,” Aku mencoba menolak.

“Ambil. Kamu perlu ini.”

Segera setelah aku menerima uang tersebut, SX-4 itu pergi dan menghilang di tikungan jalan.

Keesokan harinya, seperti biasa SX-4 itu lewat dan mengulurkan selembar limaribuan dari celah jendela.  Orang kaya.

Pertengahan Februari

Semua berjalan seperti biasa, tapi karena kebetulan ini adalah hari minggu, maka Yogyakarta terasa lebih sepi. Jika pada hari biasa jalanan akan ramai pada jam berangkat dan pulang kerja atau sekolah, maka pada hari libur seperti ini jalanan relatif sama dari pagi hingga sore.

Tapi ada yang tidak biasa, SX-4 itu hari ini berhenti di depan rumah singgah kami.

“Maaf, numpang nanya. Bisa nggak aku ketemu sama pengurus rumah ini?” Gadis itu bertanya, ragu-ragu.

“Maksudmu Mas Bagus?” Aku balik bertanya.

“Ehm, iya. Siapa saja, pokoknya pengurus.”

“Klo hari minggu gini, biasanya Mas Bagus nggak ke sini.”

Mendengar jawabanku, gadis itu memasang tampang kecewa, mengeluh pelan, “Oh… gitu ya.”

“Besok mungkin datang. Ada perlu apa? Atau mau nitip pesan?” Aku mencoba menawarkan bantuan.

“Enggak deh, nggak usah. Permisi,” pamitnya, berlalu.

Baru 5 langkah gadis itu berjalan, tiba-tiba dia berbalik, “Ehm, kamu tinggal di sini?” Tanyanya kemudian.

Aku mengangguk, “Ya.”

“Klo gitu, boleh nggak aku nanya-nanya ke kamu?”

“Boleh. Ayo duduk,” sahutku sembari menunjuk bangku panjang yang terletak di teras depan rumah singgah kami.

Gadis itu terlihat ragu-ragu dan sedikit takut. Aku tersenyum maklum. Saat akkhirnya gadis itu duduk, dia mengambil jarak yang cukup jauh dariku.

Mau tak mau aku tersenyum kecut, berusaha tidak terdengar ketus saat berkata, “Mau nanya apa?”

Gadis itu hanya terdiam, berpikir. Sejurus kemudian dia mulai buka suara, “Kamu tinggal di sini udah lama?”

“Lumayan, sekitar 3 tahun.”

“Tiga tahun? Memangnya kamu dari mana?” Tanyanya lagi.

“Jawa Timur,” sahutku singkat.

“Trus, kamu langsung tinggal di sini?”

“Nggak. Aku sempet ngegelandang sekitar setengah tahun.”

“Ada syaratnya gak klo mau tinggal di sini?”

“Ada. Harus ngisi biodata dan beberapa syarat lain.”

Gadis itu terdiam sejenak. Sepertinya berpikir hendak bertanya apa.

“Temen kamu tinggal di sini banyak?” Dia mulai bertanya.

“Dua puluh lima orang,” lagi-lagi, aku hanya menjawab singkat.

“Sebentar,” potongku cepat saat melihatnya hendak membuka suara. Gadis itu menaikkan alisnya, menatapku heran.

Aku buru-buru menambahkan, “Kenapa kamu nanya-nanya soal itu?”

“Ehm… buat tugas sekolah,” Gadis itu terlihat tidak yakin.

Aku tidak berkomentar apapun, alasan tugas sekolah selalu bisa dijadikan jaminan bantuan. Yogyakarta adalah kota pendidikan. Begitu banyak siswa dan mahasiswa di kota ini, jutaan mungkin. Dan satu kata ‘tugas sekolah’ sudah cukup untuk membuat orang yang dimintai bantuan luluh, ikhlas menolong. Dan, sepertinya anak jalanan seperti kami memang merupakan obyek menarik untuk diteliti, macam barang aneh apalah.

“Bisa dilanjutin?” Tanya gadis itu, membuyarkan pikiran-pikirannku.

“Ya. Terusin aja,” sahutku singkat.

Kami berbincang tentang seluk beluk rumah singgah dan penghuninya, hingga akhirnya aku permisi untuk berangkat kerja. Menyusul teman-temanku yang sudah berangkat sejak pagi-pagi tadi. Gadis itu nampaknya belum puas, dia berkata akan datang lagi ke rumah singgah untuk bertemu langsung dengan Mas Bagus. Aku tidak tertarik, bukan urusanku. Gadis itu berlalu pergi setelah sebelumnya meminta nomor ponsel Mas Bagus.

Beberapa hari kemudian

Gadis SX-4 itu datang lagi. Tidak seperti biasanya, kali ini dia datang diantar oleh seorang supir. Cukup lama juga dia berbincang dengan Mas Bagus dan beberapa pengurus lain yang -entah kebetulan atau memang disengaja- sedang berkumpul di rumah singgah.

Setelah merasa cukup, gadis itu beralih pada Bogel, Joko dan teman-teman lainnya. Kali ini dia bahkan membawa recorder dan sebuah notes kecil, sibuk mencatat apa saja yang teman-temanku katakan.

Tidak satupun penghuni rumah ini yang keberatan dengan apa yang dilakukan gadis itu, mereka bahkan antusias. Mungkin, perut yang kenyang –setelah makan nasi kotak pemberiannya- membuat mood mereka menjadi lebih baik.

“Mas Ferdy kok nggak ikut ngobrol bareng Mbak Prita?” Celutuk Agung, anak terkecil di rumah singgah. Umurnya baru 6 tahun, terpaut 12 tahun denganku.

Aku menanggapinya dengan senyuman, “Nasinya enak Gung?”

Agung menyeringai lebar, “Enak banget Mas. Lauknya banyak banget, ayam, daging, telor, udang. Wah… coba setiap hari kayak gini, Agung bisa gemuk ya Mas,” serunya polos.

Agung adalah satu-satunya penghuni rumah singgah yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’. Aku juga sudah menganggapnya sebagai adik kandung sendiri.

“Mas, Mbak Prita itu pinter ya,” ucap Agung berbisik-bisik.

Aku mengangguk, “Dia sekolah, jadi pinter.”

Agung menatapku antusias, “Agung juga mau sekolah! Supaya bisa pinter kayak Mbak Prita.”

Kali ini aku benar-benar hanya mengangguk. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama. Berusaha memindahkan Agung ke panti asuhan, tempat yang lebih layak untuknya. Walaupun belum berhasil, setidaknya sudah ada kemajuan. Berkat bantuan Mas Bagus dan penegurus lainnya, usahaku mulai menemui titik terang.

Obrolanku dan Agung terputus, Prita berpamitan pulang. Tentu, dengan janji akan sering-sering datang lagi. Hmmm… entahlah, mungkin masih ada data dan informasi yang dia perlukan.

Akhir Februari

Prita menepati janjinya. Dia semakin sering datang ke rumah singgah, tak lupa membawa oleh-oleh, apalah bentuknya. Akhir-akhir ini, entah kenapa dia seperti sangat tertarik padaku. Menanyakan segala macam, membuatku kesal. Aku hanya tidak suka masa lalu dan urusan pribadiku diusik.

“Kenapa kamu sampe memilih jadi anak jalanan?”

Untuk kesekian kalinya, aku merasa pertanyaannya sungguh-sungguh mengesalkan.

Aku menyeringai masam, menjawab ketus, “Menurutmu ada orang yang sengaja memilih keadaan seperti ini?”

Wajah Prita tampak memucat. Dia menggigit bibir bawahnya, menatapku gugup.

Aku menghela nafas, “Maaf. Jawabanku kasar. Tapi sungguh, keadaan ini bukan suatu pilihan. Setidaknya untukku.”

“Enggak, seharusnya aku yang minta maaf,” suara Prita terdengar sedikit bergetar.

Hening mengambang di langit-langit ruang tamu rumah singgah selama beberapa saat.

“Orang tuaku pisah saat aku masih 3 tahun. Setelahnya, aku tinggal bersama nenek. Beliau meninggal 6 tahun lalu,” ucapku, memecah kesunyian yang kaku.

Prita menganggguk-angguk mendengarnya, seperti dia belum menemukan lagi keberanian dan kepercayaan dirinya.

Prita tampak meneguk ludah, seolah memantapkan hati, bertanya, “Kamu pernah sekolah? Ehm, maaf. Tapi kamu terlihat lebih cerdas dari teman-temanmu yang lain.”

“Iya, sampai 2 SMP,” jawabku singkat.

Prita mulai terlihat rileks, kembali bertanya, “Lalu, kenapa kamu sampai ke Yogya?”

“Setelah nenek meninggal, aku pergi ke Surabaya. Selain karena tidak punya uang untuk meneruskan sekolah, aku malas harus tinggal se-desa dengan ibu yang tidak peduli pada anaknya sendiri. Aku yakin, aku bisa kerja dan dapat uang lebih di kota,” kali ini aku menjelaskan cukup panjang.

Gadis itu mengernyitkan dahinya, seolah tidak percaya dengan telinganya sendiri. Mungkin baginya, kisahku soal ibu ini sangat tidak masuk akal. Bagi orang sepertinya, sosok ibu itu bagaikan bidadari lembut yang penyayang dan kasih tak terhingga. Itu teori, sebatas doktrin-doktrin yang dari mana asalnya. Nyatanya, banyak ibu yang bahkan tega membunuh atau menjual darah dagingnya sendiri.

Aku tidak peduli.  Sama tidak pedulinya seperti saat bapak pergi entah kemana, ibu menikah lagi dan tidak peduli padaku. Dan maaf, aku juga tidak peduli pada mereka.

“Lalu?” Prita menunggu kelanjutan ceritaku.

“Di Surabaya aku kerja serabutan, sedapatnya. Ternyata tidak semudah yang ku bayangkan. Lalu aku bertemu seorang teman, dia mengajakku ke Yogya. Katanya biaya hidup di sini lebih murah.”

Prita lagi-lagi hanya mengangguk. Dia memang tidak pernah merekam ataupun mencatat saat berbincang denganku. Mungkin karena aku selalu menatap tidak suka ke arah recorder dan notes-nya.

“Oh… gitu. Eh-ya, kata Mas Bagus setelah kalian berumur 20 tahun, kalian harus segera pergi, keluar dari rumah singgah ini ya?”

Aku tersenyum masam mendengar kata-kata ‘segera pergi, keluar’. Kasar sekali. Tapi itulah kenyataannya.

“Ya, betul,” tandasku.

Prita menatapku antusias, “Lalu, rencana kamu apa?”

“Aku sudah belajar di bengkel Mas Pri. Katanya, bulan depan aku sudah boleh jadi tenaga tetap.”

“Jadi, kamu mau segera keluar?”

“Mudah-mudahan, secepatnya,” jawabku mantap.

“Apa semua anak jalanan di sini, bisa berhasil seperti kamu?”

“Enggak,” aku menjawab singkat retorisnya. Dia pasti sudah tahu dari Mas bagus, bahwa lebih banyak yang memilih bertahan sebagai pengamen atau bahkan menjadi preman. Hidup tidak semudah yang kita khayalkan.

“Kasihan,” ucap Prita pelan, lebih mirip desahan.

KASIHAN??

Aku menaikkan sebelah alisku. Kali ini aku benar-benar tersinggung. Kami tidak perlu dikasihani. Apa dia pikir, kami ini orang yang tidak berguna? Tidak punya kemauan dan kemampuan untuk  berusaha sendiri? Kenapa orang-orang selalu memndang rendah pada kami, anak jalanan?

KASIHAN??

“Kami tidak perlu belas kasihan dari orang-orang macam kalian!”

Aku tidak peduli lagi apakah gadis itu menjadi pucat atau apalah. Aku meninggalkannya tanpa merasa perlu melirik sedikitpun. Tidak peduli, bahkan jika dia tersinggung sekalipun. Aku tidak peduli!

Pertengahan Maret, tidak lagi di rumah singgah

Saat ini, aku sudah resmi bekerja dan tinggal di bengkel Mas Pri. Usahaku memindahkan Agung ke panti asuhan juga sudah berhasil.

Kabar gadis itu? Prita?

Aku tidak peduli.

Ini bukan sinetron atau reality show maupun novel drama percintaan yang akhir ceritanya selalu indah dan terkadang tidak masuk akal.

Ini adalah kehidupan, realitas. Bukan impian atau dongeng.

Terakhir kali aku bertemu dengannya, saat gadis itu mampir ke bengkel untuk ganti oli. Dia menyodoriku beberapa lembar uang bergambar Bapak Proklamator Indonesia, sekadar ucapan terima kasih karena essay-nya menang di tingkat nasional. Ternyata dia melakukan semua tetek-bengek wawancara itu bukan demi tugas sekolah, tapi demi sebuah gengsi piala dan piagam penghargaan dari Presiden.

Aku menolaknya halus pemberiannya, bukan karena aku tidak tersinggung. Tapi karena aku tidak diperbolehkan bersikap kasar pada seorang pelanggan.

Saat aku berkunjung ke rumah singgah, Bogel bercerita bahwa ‘Mbak Prita-nya’ tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di rumah singgah. Dan tidak pernah membuka penuh kaca mobil saat mengulurkan selembar uang 5ribuan.

Semua kembali normal, seperti awalnya.

Orang kaya, tetap pada gaya hidupnya. Kami, tetap menjadi obyek menarik untuk penelitian apalah.

Aku tidak peduli.

Yang aku peduli, kami akan terus berjuang demi hidup, demi kehidupan.

Ya, karena ini memang bukan sinetron jalanan.

yen, arsip lama.