Sekolah Baru 1

 

“Kualitasnya lebih bagus daripada di SMA negeri,” Bunda mencoba membujuk.

“Sekolah di Yogya juga bagus Bun,” sahut Ara manja sembari memeluk pinggang Bundanya.

“Trus, kamu mau tinggal dimana kalau sekolah di Yogya?” Kali ini, Ayah yang bertanya dan memasang ekspresi geli.

“Kost dong Yah!” Kilah Ara percaya diri, tapi justru disambut tawa Ayah dan Bundanya.

“Cinta…. Cinta…. Kamu tu baju aja masih Bunda yang cuci kok! Mana bisa kost sendirian di Yogya,” ucap Bunda disela-sela tertawa merdunya.

“Fasilitasnya juga lengkap. Lebih lengkap daripada SMA kamu yang sekarang.” Ayah mulai membujuk lagi.

 “Bener Yah?” Sahut Ara ragu.

Ayah mengangguk.

 “Tapi… bener lebih bagus dari sekolah negeri? Kalau gitu, kenapa Ayah nggak nyekolahin aku di sekolah perusahaan dari kelas X atau dari SD dulu, kenapa baru sekarang?” Tanyanya setengah menuntut.

“Kan Ayah dapet promosi jadi Manager QA-nya baru sekarang. Lagipula, Ayah dan Bunda ingin kamu melihat dunia. Punya teman-teman yang banyak, beragam, bukan hanya anak-anak karyawan perusahaan. Kamu sekarang punya teman dari suku Dayak, Melayu Bugis, Melayu Banjar, Jawa, Sunda, Madura bahkan China kan? Kalau sejak SD kamu sudah Ayah masukin ke sekolah perusahaan, teman kamu ya bakalan itu-itu aja,” jelas Ayah panjang lebar. Ara manggut-manggut, mengakui kebenaran pendapat Ayahnya.

“Ayolah Cinta. Nanti Ayah dapat fasilitas rumah di kompleks, jadi kita bisa tinggal dekat perusahaan. Kalau kamu ngotot sekolah di sini, berarti kita nggak pindah ke sana. Masa nggak kasihan liat Ayah tiap hari bolak-balik 80 km dari rumah ke pabrik?” Bujuk Bunda lagi dan lagi.

Jarak rumah dan pabrik Ayah 40 km, bolak balik jadi 80 km. Memang jarak yang cukup jauh.

“Rumahnya gede lho. Kamar kamu bakal lebih luas dari yang sekarang.  Dan… di sekolah perusahaan Ayah itu, kamu bisa pake celana panjang, masuknya jam 8, trus hari sabtu libur,” rayuan Ayah kali ini benar-benar membuat telingak Ara berdiri, matanya berbinar-binar.

Ara mulai antusias. ‘Boleh pakai celana panjang? Masuk jam 8? Bukan jam setengah 7 seperti di SMA negeri? Wuahhh… keren banget tu. Dimana lagi bisa nyari sekolah kayak gitu?’

“Beneran? Serius boleh pake celana panjang? Enggak harus pake rok? Ayah bercanda. Ngeramput!” serunya tidak percaya.

“Eh, kok Ayah-nya dibilang ngeramput sih? Ayah serius,” jawab Ayah sok merajuk.

Ara kembali berpikir, ‘Wah… menggiurkan. Bukannya aku nggak bisa pakai rok, tapi nggak suka. Ribet, nggak bebas buat manjat pohon, hehehe….’

“Iya deh, mau sekolah disana. Tapi… beliin BMX ya Yah!” Pintanya mengambil kesempatan.

“Kok jadi bersyarat?” Tanya Bunda.

“Pokoknya BMX!” Rajuk Ara.

“Ya udah, anggep aja hadiah kenaikan kelas plus syukuran promosi Ayah jadi manager,” sahut Ayah kalem.

“Makasih Yah.” Ara sigap memeluk Ayahnya dari belakang.

“Yiipii!” Gadis cilik itu mulai berteriak heboh sambil loncat-loncatan.

 “Anak gadis, udah SMA, kok masih loncat-loncatan gitu?” Tegur Bunda.

“Baru 14 tahun 6 bulan Bun, blum gadis. Masih imut-imut!” Jawabnya sembari berlari keluar rumah, memanjat pohon jambu biji di samping rumah. Besok-besok, mungkin saja, Ara tidak punya kesempatan untuk sekadar memanjat pohon itu lagi.

***

Ayah tidak berbohong, rumah dinas manager QA perusahaan crude palm oil terbesar di Indonesia memang keren, dengan taman dan kolam renang yang luas. Kamar milik Ara juga luas, ada kamar mandi dalam, lengkap dengan shower, bathup dan water heater. Selain itu masih ada jaringan internet, juga saluran tv berbayar.

Ara mulai sibuk menata barang-barang di kamarnya yang terletak di lantai atas.

“Bun, kamar sebelah kok nggak dibuka? Kan bisa buat nyimpen barang-barang yang enggak dipake,” tanya Ara pada Bunda yang sedang sibuk menata baju di lemari. Urusan baju, Ara memang tidak bisa diandalkan, mana yang harus dilipat, mana yang digantung, dia sama sekali tidak tahu.

“Kuncinya nggak ada. Di bawa Pak Kim,” sahut Bunda.

“Kok nggak diminta Bun, kuncinya?” Ara bertanya heran.

Pak Kim yang dimaksud Bunda adalah Pak Kim manager QA sebelum Ayah, yang dulu tinggal di rumah ini. Beliau sudah pindah ke perusahaan pusat yag terletak di Korea Selatan.

“Katanya, di kamar itu masih ada beberapa barang keluarga Pak Kim. Titip dulu,” jawab Bunda, kali ini sibuk dengan bedcover.

“Barang apa Bun? Benda berharga ya? Harta karun?” Ara bertanya, penasaran.

“Bunda juga nggak tau. Janji ya nggak bakal jahil! Itu privasi orang, kamu nggak boleh nyuri-nyuri masuk ke kamar sebelah.” Bunda menatap anak gadisnya dengan pandangan mengancam.

“Yeee… Bunda,” protes Ara sebal. Biasanya, semakin dilarang, Ara akan jadi semakin penasaran.

“Pokoknya janji. Enggak bakal masuk kamar sebelah!” Desak Bunda serius.

“Iya,” sahut Ara malas, memandang hamparan ladang kelapa sawit dari balkon kamar.

“Iya apa?” Desak Bunda duarius, eh maksudnya serius banget gitu….

“Iya. Janji!” jawab Ara luar biasa malas.

Senakal-nakalnya Ara, sejahil-jahilnya Ara, Ara nggak akan ingkar janji. Apalagi janjinya pada sang Bunda.

***

“Cinta… bangun. Udah jam setengah delapan sayang!” Suara Bunda terdengar sayup-sayup.

“Cinta…!” Suara Bunda terdengar semakin keras.

Ara menggeliat malas, menggerutu sendiri, “Jam berapa sih memangnya?” Ara meraih weker di atas meja, di samping tempat tidur.

“Kya… setengah delapan! Aduh… masak hari pertama masuk sekolah baru udah telat? Gawat! Gawat! Gawat! ” Ara berteriak-teriak panik. Berlari ke kamar mandi, mengaduh keras karena menabrak ujung meja balajarnya sendiri.

Byar Byur Byar Byur

Gedubrak Gedabruk

 

Serabutan memakai baju, sambil terus membenak, ‘Kemeja, celana panjang, sneaker… eh kaos kaki dulu, sneaker, bedak -ah… nggak usah deh, nggak penting-, nyisir rambut, backpack, jam tangan. Lupa! Lupa! Belum gosok gigi. Jorok! Kamar mandi….’

Jeduarrr….

 

“Cinta! Pintu kamarnya jangan dibanting-banting dong,” sambut Bunda begitu Ara meluncur turun ke ruang makan.

Gadis itu sigap menyambar roti bakar coklat di piring, buru-buru memasukkannya ke mulut dalam sekali suap, berlari ke garasi mengambil si BMX. Lupa belum mencium tangan Ayah Bunda, berlari lagi ke ruang makan, menabrak pot bunga krisan Bunda, untung saja tidak sampai pecah.

“Berangkat, Yah! Bun!” Pamitnya sembari berlari lagi ke garasi.

“Enggak mau bareng Ayah?” Teriak Ayah dari ruang makan.

“Enggak. Makasih.”

Sepanjang perjalanan, Ara sibuk membenak sendiri.

‘Kya! 15 menit lagi. Ngebut! Ngebut!’

‘Duh… parkir di mana ya? Ah sebodo teing, di sini aja, tinggal 3 menit.’

‘Kelas XI IPA 2, mana… mana… kmaren waktu bareng Ayah, kayaknya lewat sini deh, bener kan? Nyasar nggak ya?’

‘Ah… itu kelas XI. Masuk!’ Namun sedetik kemudian Ara ngerem mendadak, mundur, mengerling papan nama kelas.

‘Kyaaa… salah! Ini XI IPA 1. Hiiiyaa… malu….’

‘Eih! Ada cowok cakep…. Tinggi! Apalah….’

Ara mengalihkan matanya dari si cowok jangkung, berbalik, kembali mencari kelasnya.

‘Mana ya? Ini? Salah lagi nggak? Papan nama, XI IPA 2, bener kok. Bener! Kyaaa… bener!’

‘Eitsss… kok udah ada gurunya? Memangnya sudah bel? perasaan belum dengar tu? Masih 1 menit lagi kan? Enggak upacara ya?’

“Ehmmm… maaf. Apa saya terlambat, Pak?” Tanyanya pada seseorang yang nampaknya adalah guru. Lagi-lagi membenak ‘Bwahhhhh, gurunya sekeren ini? Apalah….’

“Belum. Saya yang masuk lebih awal. Kamu Ara?” Jawab Bapak guru keren itu.

“Eh, iya Pak. Bapak kok tau nama saya?”

‘Jangan-jangan guru meramal nih. Emang ada ya pelajaran meramal di SMA?’

Teeetttt….

Ara menyeringai senang mendengar suara itu, ‘Heee…bener nggak telat, itu bunyi bel-nya.’

“Selamat pagi. Selamat datang di tahun ajaran baru, di kelas XI IPA 2. Tahun ini kita mendapat anggota baru. Ara, silahkan kamu memperkenalkan diri,” ujar Bapak Guru keren sambil tersenyum kearah Ara. Nyaris membuat gadis itu berteriak, ‘Kyaa… kakooi… Apalah…’

“Eh… ya… Ehm, ehm, perkenalkan, nama saya Ara. Ara Farzana Izzati. Umur 14 tahun 6 bulan. Saya pindahan dari SMA Negeri Kumai, SMA Negeri terbaik di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah, Negara Republik Indonesia. Walaupun kata Ayah saya, SMA ini lebih bagus. Eh…Ehmm… Hobby membaca. Lalu….” Ara mencengir bingung, melirik Pak Guru.

“Baik. Perkenalannya cukup. Silahkan kamu duduk di belakang Ryū. Kita mulai pelajaran Fisika hari ini.” Pak guru tersenyum bijak, mempersilakan Ara untuk duduk.

“Maaf Pak. Ryū, yang mana ya?”

“Ah, ya. Maaf. Itu, silahkan duduk di sana,” sahut Pak Guru menunjuk ke suatu arah.

Ara mengangguk mantap, mulai menyeberangi ruangan kelas yang cukup luas. Penghuni kelas ini relatif sedikit, tidak sampai sepertiga dari penghuni kelas Ara  saat di SMA Kumai. Setelah meletakkan tas di meja, Ara langsung duduk di kursinya. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tersenyum, cengar-cengir ke semua teman-teman barunya. Menghitung, 12 orang, sudah termasuk dirinya sendiri. Ara duduk di bangku belakang bagian tengah, cukup strategis untuk melihat ke seluruh ruangan. Tapi….

“Maaf Pak Guru. Apakah saya boleh minta tukar tempat? Saya tidak bisa melihat ke arah whiteboard dengan jelas, dia terlalu tinggi. Lagipula model rambutnya membuat saya tidak bisa konsentrasi,” celutuk Ara dengan suara ragu campur menghiba.

Cowok tinggi yang duduk di depannya langsung menoleh. Terkejut melihat Ara yang menunjuk kearahnya sambil bengong menatap rambut semi gondrongnya yang awut-awutan seperti habis dilanda puting beliung, gaya rambut yang luar biasa aneh.

Ara memandangi si cowok sembari membenak, ‘Mana ada orang seperti ini di sekolahku yang dulu? Eihhh… tapi cantik juga. Ehh… bukannya dia cowok ya?’ Ara melongok ke bawah meja, memastikan, dia pakai rok atau pake celana. ‘Tuh, kan, pakai celana panjang. Tapi, aku juga pake celana panjang. Aku cewek 100%. Dia apa ya?’

“Tukar tempat? Boleh saja, asal temanmu tidak keberatan,” jawab Pak Guru singkat.

“Kak, tukar tempat ya! Kakak kan tinggi, jadi nggak masalah duduk di belakang. Ya… ya… ya… Kakak cantik deh, eh, cakep. Duh…cantik sekaligus cakep lah. Ya Kak…!” Ara mulai melancarkan jurus-jurus rayuan mautnya.

Cowok itu masih tetap menatap Ara, kali ini dengan tatapan garang.

“Mau ya Kak! Kakak yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, hemat cemat bersahaja, rajin berani dan setia,” rayu Ara lagi.

Tok…tok…tok…

Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian seluruh pengghuni kelas XI IPA 2.

“Maaf Pak Rampilu. Bisa mengganggu sebentar?” Ucap sesosok bapak yang terlihat sudah berumur di bawah bingkai pintu.

“Ada apa Pak Udin?” Sambut Pak Guru ramah, menghampiri bapak itu. Ternyata Bapak Guru Fisika ini namanya Rampilu. Pantas saja keren banget, tinggi, kuning langsat. Turunan suku dayak asli.

“Apa salah satu murid di kelas Bapak ada yang berangkat menggunakan sepeda? Saya menemukan sebuah sepeda BMX diletakkan sembarangan di dekat menara penampungan air, di bawah pohon tenggaring. Apa boleh saya pindahkan ke tempat parkir?” Jelas Pak Udin.

Pak Rampilu mengedarkan pandangan bertanya pada kami semua. Ara menghentikan aktivitasnya, menusuk-nusuk bahu cowok didepannya dengan telunjuk. Berpikir, ‘BMX ya? Sama dengan sepedaku tuh. Pohon tenggaring? Menara air? Lho…??’

“Maaf Pak! Itu sepeda saya!” Serunya sambil menghambur keluar kelas, ngerem mendadak, berbalik ke arah Pak Udin.

“Ehhh… Pak. Maaf, tempat parkir sepedanya dimana ya?” Tanya Ara, menyeringai lebar.

***

“Jiyong oppa keren ya! Jawabannya dewasa banget.”

“Yap. Baca nih pernyataannya, ‘We are transforming from idols into musicians.’ Kesannya dia mengkal banget karena selama ini dipandang sebagai idola yang sekadar cakep, pake baju bagus,trus nyanyi dan nge-dance doang.”

“He-eh. Padahalkan selama ini,dia nulis lirik lagu, ngubah komposisi melodi bahkan jadi produser buat album mereka sendiri.”

“Kayaknya bener deh, nih keliatan banget dari komentar dia, ‘As an artis, there are so many things we need to pay attention to.Japanhas a great system that allows us to focus entirely on our without outside distractions, butKoreaisn’t the same. Since we’re idols, we have to go on variety program. With a fatigued body and mind, the quality of our album inevitably drops, which disappoints our fans as weel.’   Keliatan banget kalau dia sebenernya nggak suka tampil di reality show, ngelakuin hal-hal aneh yang nggak penting. Nggak ada hubungannya sama musik, cuma buat lucu-lucuan nggak jelas. Ridiculous!”

“Tapi dia tetep sadar kalau itu udah resiko dari pilihannya untuk jadi boyband. Iya nggak sih? Tapi kalau aku sih emang lebih seneng buat mengapresiasi karya musik mereka. Nggak perlulah bikin-bikin fans service begitu.Kan kita seneng ama lagunya, musiknya. Iya kan?“

Ara menatap teman-temannya bingung, ‘Hedeuwww… ngomongin apa ini? Kok kanyaknya serius banget. Jiyong? Nama orang ya? Kok aneh. Sama anehnya dengan nama teman-teman baruku yang berwajah asia timur ini.’

Setelah perjuangan berat berhari-hari, konsentrasi mengerahkan segenap neuron di otaknya, akhirnya Ara bisa  menghapal nama-nama teman berwajah asia timur-nya. Gadis yang duduk di depannya adalah Yoora, yang di samping kanannya Ayumi, lalu cowok rambut aneh dibelakangnya bernama Ryū, ketua kelas namanya Yun Jae. Trus cowok yang dipojokan namanya Dong Yoon, matanya sipit banget, Ara sampai tidak tahu kapan dia bangun kapan tertidur. Beberapa penghuni kelas ini memang berwajah asia timur, Korea atau Jepang, anak para ekspatriat perusahaan.

“Pada ngomongin apa sih Kak?” Tanya Ara pada gerombolan teman-temannya yang kelihatannya mengelilingi sebuah majalah, jam istirahat.

“Ara, sini gih. Gabung!” Panggil gadis yang tadi duduk di depan Ara. Akhirnya si rambut aneh, Ryū, mau juga pindah ke belakang. Ara menghampiri mereka, penasaran.

“Mereka siapa sih Kak?” Tanya Ara sambil ikut-ikutan ngeliatin gambar-gambar cowok di majalah yang ada di tangan Yoora.

“Kamu nggak kenal Big Bang?” April balik bertanya. April tentu saja bukan orang Korea atau Jepang.

“Big Bang? Ledakan besar asal muasal alam semesta? Pelajaran fisika ya?” Tegas Ara bingung.

“Ya ampun, Ara! Bukan Big Bang yang itu. Mereka ini boyband dari Korea Selatan. Terkenal banget lho. Masak nggak kenal sih? Jangan-jangan kamu juga nggak kenal sama Super Junior atau DBSK ya?” Tanya Nadia dengan tampang heran tak percaya.

Ara menggeleng pelan, membenak, ‘Siapa lagi tuh? Super Junior? DBSK? Boyband Korea? Ah, aku sih sukanya dengerin karungut atau lagu-lagunya Kak Andika Kangen Band. Bodo ah, mending jalan-jalan aja, liat-liat suasana sekolah baru.’

“Mo kemana Ra? Kok malah keluar sih?” Teriak April.

“Jalan-jalan Kak,” sahut Ara ringan sambil melambaikan tangan kirinya tanpa menoleh.

Sekolah ini memang keren banget. Fasilitasnya lengkap. Kemarin waktu survei lapangan, eh survei sekolah bareng Ayahnya, Ara sempet lihat ada perpustakaan, ruang multimedia, laboratorium, green house, kolam renang, lapangan sepakbola, futsal indoor, basket indoor juga outdoor, tenis, bulutangkis, lapangan atletik, teater, ruang musik, studio, ruang kesehatannya cozy banget, siapapun bakal betah tiduran di sana. Bahkan ada menara astronomi segala. Keren deh pokoknya.

Tak lama kemudian Ara sudah ada di tepi lapangan basket outdoor, bersandar santai ke batang pohon cempedak. Galang, Taufik, Wawan dan Ryū, sedang three on three dengan 2 anak kelas lain. Ara belum mengenal mereka.

Ara menatap salah satunya tanpa berkedip, berpikir keras, ‘Bukannya itu cowok cakep, tinggi yang tadi di kelas XI IPA 1 ya?’

Cowok kelas sebelah itu, Ryū dan seorang cowok berambut bulu landak yang baru pertama kali ini Ara lihat, bergabung dalam satu tim.

“Ya! Ara. Aku cari kemana-mana ternyata di sini.” Yoora tiba-tiba saja sudah ada disebelah Ara, berteriak mengagetkannya. Ara menyeringai lebar.

“ Oh… pantesan, lagi ngeliatin mereka ya?” Tebak Yoora, ikut mengamati yang lagi main basket. Lagi-lagi Ara cuma menyeringai.

“ Jung Gi Oppa!! Hwaiting!!”

Footnote:

QA : Quality Assurance

Ngeramput (Melayu) : Bohong/ berbohong.

Tenggaring  : Nephelium ramboutan-ake (Labill.) P.W. Kimnhouts . Pohon yang masih 1 marga dengan rambutan dan tingginya bisa mencapai 36 m. Merupakan flora identitas Propinsi Kalimantan Tengah

Karungut : salah satu jenis puisi tradisional Dayak Ngaju yang dituturkan dengan cara melantunkannya atau mendendangkannya secara lisan (oral poetry)