Boy’s Bawdy Time

Author             : yen

Main Cast        : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Ki Bum, Choi Minho, Lee Taemin, Kim Ara

Support Cast : –

Length             : Oneshot

Rating              : PG – NC (?)

Genre              : Life, Friendship

Inspired by      : True stories

“Kita nonton di ruangnya Ara aja,” ucap Jonghyun sembari mendorong ketiga sahabatnya ke arah ruang kerja Ara. Ehm, sebenarnya lebih tepat disebut ruang perpustakaan. Baik Papi, Jonghyun maupun Ara memang memiliki ruang privat masing-masing. Papi, tentu saja ruangannya penuh dengan dokumen perusahaan, ruang Jonghyun berisi maket-maket dan cetak blue print gedung rancangannya. Sementara, ruang Ara, berisi novel, manga dan DVD film dari berbagai negara -film festival-.

Knock, knock, knock.

Jonghyun mengetuk pintu yang bertuliskan Ara’s Sanctuary, menerobos masuk tanpa menunggu jawaban dari adiknya. Ara yang sedang sibuk di depan notebook-nya mengernyitkan dahi, terutama saat melihat 3 orang namja yang ada di belakang Oppanya.

“Ra, Oppa pinjem proyektor kamu ya. Mau nonton film,” ucap Jonghyun sembari menyodorkan sebuah flashdisk dan setumpuk DVD . Sementara itu, Key langsung menghempaskan diri di atas sofa besar yang ada di ruangan itu. Taemin memilih untuk tidur-tiduran sambil memeluk boneka panda milik Ara di atas permadani Turki yang terhampar di depan sofa. Jinki, seperti biasanya, langsung mengamati koleksi novel Ara.

“Memangnya home teather Oppa kenapa?” Tanya Ara sembari masih menatap ke-3 teman Oppanya dengan pandangan menyelidik.

Jonghyun menyeringai, “Gak kenapa-napa sih. Tapi Oppa khawatir mereka bakal ngancurin maket-maket Oppa. Terutama si Key, tau kan dia pernah sengaja numpahin kopi di atas gambar rancang bangun-ku?”

Ara memberengut, menatap garang flashdisk di tangan Jonghyun , “Tapi bawa notebook sendiri. Ara gak mau barang-barang Ara terinfeksi virus yadong.”

“Jjong, lama amat sih minta ijinnya,” seru Key tidak sabar. Ara langsung melempar Key dengan boneka kerokeropi seukuran kepalan tangan.

“Taem, ambil notebook di kamar gue gih,” perintah Jonghyun, menendang pelan kaki Taemin kemudian duduk di samping dengan Key. Tanpa ba-bi-bu Taemin segera bangun dan menuruti perintah Jonghyun.

Jinki menghampiri Ara yang sudah kembali sibuk dengan notebook dan beberapa buku bertema psikologi yang terserak di mejanya.

“Adek kecil lagi bikin apa?” Sapa Jinki, memegang ke-2 bahu Ara dari belakang.

Ara mendongak, menemukan dagu Jinki tepat berada di atas kepalanya, “Artikel buat klub jurnalistik.”

“Soal psikologi?” Tanya Jinki sembari meraih salah satu buku dari meja Ara.

Ara mengangguk mantap, “Fenomena seks bebas di kalangan remaja.”

Jinki meletakkan kembali buku yang dipegangnya, pandangannya sekarang terfokus pada layar notebook Ara.

“Ehmmm… lumayan. Contoh kasusnya fokus ke murid Senior High School ya?” Tanya Jinki setelah selesai membaca draf artikel Ara.

Kali ini Ara menggeleng, “Enggak juga sih Oppa, cuma kebetulan Ara dapetnya yang seumuran Ara.”

“Ah-ya! Oppa kan lagi penelitian di Junior High School! Gimana Oppa, ada kasus yang keren gak?” Ara buru-buru menambahkan. Bertanya setengah pesimis, teringat kalau sekolah yang dijadikan objek penelitian Jinki –seorang mahasiswa jurusan psikologi tingkat akhir- adalah sebuah sekolah yang dikelilingi sawah dan kebun melon. Ara pikir, mana ada kasus seks bebas di daerah ‘sepolos’ itu.

“Banyak,” sahut Jinki singkat, tapi sukses membuat Ara mengangkat kedua alisnya.

Sementara itu, Key, Jonghyun dan Taemin sedang sibuk menghubungkan notebook dengan LCD proyektor yang ada di ruang Ara. Ara memang lebih senang menonton film menggunakan proyektor. Alasannya, lebih enak di mata, ga bikin capek, karena yang dia lihat hanya pantulannya. Beda jika harus melihat layar LCD TV selama 3 jam, mata bisa pedih karena paparan radiasinya.

Ara mengalihkan pandangannya dari kesibukan Key, Jonghyun dan Taemin. Dia menatap lekat Jinki yang sekarang sudah duduk di pinggir mejanya.

“Kmaren ada namja cilik yang tiba-tiba nanya ‘Hyung, klo lagi pengen gimana’?” Ucap Jinki ringan.

Ara memutar bola mata, bingung dengan pernyataan Jinki barusan.

“Ya tancep aja. Mo diapain lagi?” Celutuk Key dari tempat duduknya. Layar besar di depan mereka tengah memperlihatkan beberapa gadis Jepang yang sedang digiring ke suatu tempat –yang bagi Ara lebih mirip hutan- dengan mata ditutup.

“Klo loe yang nanya, pasti gue jawab gitu Key. Tapi ini kan anak umur 13 tahun. Tancep, tancep! Mo di tancepin dimana?” Seru Jinki mengkal.

“Sabun batangan kan bisa,” sahut Taemin sembari berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Nyaris menabrak sudut rak buku, karena Taemin berjalan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar besar.

Layar besar di depan mereka itu sekarang memperlihatkan para gadis jepang telah terikat pada sebuah tiang tinggi, kali ini dalam keadaan telanjang bulat, masih dengan mata ditutup.

Jonghyun menyeringai, “Kayaknya kamu abis ini perlu nge-ganti sabun yang ada di kamar mandi deh Ra.”

Ara menatap Oppa-nya dengan pandangan tidak mengerti.

“Trus, belum lama ini, aku juga dapet kasus. Murid-murid kelas junior ngadu klo mereka dapet sms dari salah seorang sunbae-nya, sebut aja si A. Namja keren yang jadi kapten tim basket sekolah ini dituduh ngirim sms nggak senonoh pada hobae-hobaenya.” Lanjut Jinki sembari ikut menatap layar lebar. Para gadis jepang itu sekarang dibaringkan miring di sebuah panggung kayu kecil.

“SMS? Emang isinya apaan?” Perhatian Ara kembali terarah pada Jinki. Ara tidak memperhatikan layar lebar, tidak tertarik.

“Ajakan making love, lengkap dengan kata-kata vulgar soal hubungan intim. Juga soal penis, vagina, buah dada, ehm, payudara dan sebangsanya,” sahut Jinki ringan.

Ara tersedak, menatap Jinki tidak percaya.

“Payah loe Taem, mahasiswa kedokteran, tapi ngeliat beginian aja junior lo dah bangun,” goda Jonghyun pada Taemin yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Taemin menyeringai, “Penis hyung, pake istilah junior segala. Enggak lah, ga ada bangun. Masih flat-flat aja.”

Layar lebar memperlihatkan beberapa lelaki tengah menyembelih para gadis jepang itu dengan sebilah pisau besar. Darah segar menyembur dari leher jenjang sang gadis, menyiprat kesegala penjuru. Meninggalkan noktah-noktah merah besar di seluruh badannya yang putih mulus. Ara mulai merasa perutnya sedikit mual.

“Lalu, si namja A itu gimana Oppa,” tanya Ara, berusaha fokus pada kasus yang diceritakan Jinki.

Jinki melirik sekilas ke arah Ara, “Nggak ngaku. Dia mati-matian sumpah klo sms itu bukan dari dia.” Jinki kembali mengarahkan pandangannya ke layar lebar. Para lelaki itu sedang memotong-motong tubuh si gadis. Memisahkan kaki dari paha, tangan dari lengan, kepala dari badan. Tubuh mulus nan seksi itu sudah terpotong-potong tidak berbentuk.

“Lalu?” Kejar Ara, berusaha mati-matian tidak melihat ke layar besar, mualnya semakin menjadi-jadi.

“Aku nelpon nomer si pengirim, ga pernah aktif. Tapi… minggu kemarin aku iseng coba nelpon lagi. Diangkat,” jawab Jinki.

“Suara ajumma-ajumma, ku pikir, pasti Umma si pelaku. Aku ngarang aja, bilang ini pengecekan rutin dari sekolah, cuma mau nanya apa anaknya punya keluhan tentang pelajaran di sekolah. Tu Umma dengan polosnya bilang, si Tae Jung ga pernah ngeluh apapun,” lanjut Jinki tanpa merasa perlu menoleh ataupun melirik ke arah Ara. Pandangannya terpaku pada layar lebar. Tubuh para gadis itu sudah tidak bisa dikenali lagi, seluruh daging dan tulangnya sudah terpisah sempurna. Bersih, tak ada bedanya dengan daging sapi yang dijual di toko daging dan supermarket.

“Tae Jung?? Bukannya klo ga salah, Oppa pernah cerita klo yang namanya Tae Jung itu anak manis, pendiem, pinter. Ehm, selalu juara umum. Iya kan? Tae Jung yang itu Oppa? Yakin??” Seru Ara setengah tidak percaya.

Jinki mengangguk kecil, “Iya. Tae Jung yang itu.”

Ara meneguk ludah, “Motifnya?”

“Iseng,” sahut Jinki datar.

Layar besar memperlihatkan para lelaki yang tengah memasukkan potongan-potongan daging gadis jepang ke dalam sebuah panci besar, mengiris wortel, lobak dan memasukkan berbagai macam rempah kedalamnya.

Ara tidak berani sedikitpun melirik ke arah layar besar, pandangannya dia tancapkan lurus-lurus ke wajah Jinki. Mencoba bertanya, “Si kapten basket itu tahu, klo ternyata pelakunya si Tae Jung?”

Jinki menggeleng, “Nope. Absolutely not. Kapten tim basket itu pernah bersumpah akan membunuh si pengirim sms kalo dia sudah tertanggap. Dewan guru tentu tidak akan membiarkan adanya kejadian pembunuhan di sekolah kan?”

Kali ini Ara benar-benar tidak tahan, mualnya sudah mencapai tenggorokan, “Oppa! Udah ah nonton film aneh begini. Ara mau muntah!” Serunya sembari menatap nanar layar lebar, sup gadis jepang itu sudah tersaji rapi di atas mangkuk, lengkap dengan sumpitnya.

Jonghyun menoleh sekilas kearah adiknya, tanpa banyak protes segera menghentikan film, tepat saat suapan pertama siap masuk kedalam mulut. Menyisakan suara puh keras dari Key dan Taemin.

Jinki mengucak lembut rambut Ara, “Jjong, kita nonton film yang lain aja.”

Saat layar lebar mulai menampilkan pembukaan film 13 Assassins – Jusannin no Shikaku, Ara memutuskan untuk bergabung, duduk diantara Jonghyun dan Key. Jinki memilih untuk bersila di samping Taemin yang tiduran di permadani.

“Kalau cuma sms sih hyung, ga ada asyiknya,” celutuk Taemin, ternyata Taemin ikut mendengarkan obrolan Ara dan Jinki.

“Itu kan baru satu kasus Taem, ada banyak kasus lainnya. Ada namja yang setiap hari ngasih uang sekian ratus ribu won buat yeojachingu-nya,” ujar Jinki menanggapi.

Ara menyeringai, itu sih kasus biasa, cewek matre yang suka morotin pacarnya. Pasaran. Ara tidak begitu antusias untuk ikut dalam pembicaraan. Ara justru sibuk menggigit dan mengulum bibir bawahnya yang terasa panas dan gatal. Ara menjilati bibirnya sendiri, merasakan adanya benjolan kecil di sana, bekas di gigit binatang apalah, nyamuk atau semut. Pantas saja terasa panas dan gatal, begitu pikir Ara.

“Tu namja dapet apa Hyung?” Key mulai ikutan nimbrung.

Jinki tersenyum tipis, “Ga banyak, cuma bibir dan dada.”

“Payah. Apa enaknya?” Jonghyun ikut-ikutan bicara.

Ara melipat dahi, tidak paham dengan arah pembicaraan mereka. Pandangannya beralih kesana-kemari, melihat ekspresi keempat namja didepannya. Ara menaikkan alisnya, melempar tatapan bertanya pada Key yang tengah memandanginya.

“Jangan suka mainin bibir kayak gitu! Apalagi di depan cowok!” Desis Key pada Ara.

Ara hanya melempar tatapan bingung ke arah Key, tetap mengulum bibir bawahnya.

Key memasang wajah kesal, “Dasar bocah! Klo tu cowok jadi mikir yang enggak-enggak dan berbuat yang iya-iya ke kamu, gimana?” Rutuknya pelan.

“Namanya juga anak Junior High School Hyung, paling banter juga petting,” kali ini, Taemin yang angkat bicara, tidak mempedulikan perkataan Key pada Ara yang jelas-jelas keluar dari konteks pembicaraan.

“Ga tuntas, nanggung banget,” sahut Jonghyun, menyeringai. Benar-benar tidak ada yang memperhatikan Key yang masih mengomeli Ara panjang lebar.

“Masih ada polosnya Jjong, ga kayak kamu, maen tancep. Anak seumuran mereka masih takut sama sakitnya. Yang yeoja bahkan lebih takut lagi sama darahnya.” Ucapan Jinki kali ini sukses membuat Jonghyun dan Taemin terkekeh geli. Hanya Ara yang tetap memandang bingung. Bingung dengan omelan Key, bingung dengan apa yang sedang dibahas oleh Jinki, Jonghyun dan Taemin.

“Oppa, pada ngomongin apa sih?” Seru Ara mengkal.

Key memberengut kesal, merasa tidak didengarkan.

Jonghyun menjawil pipi Ara, “Anak kecil ga usah tahu dulu deh.”

Ara menggembungkan pipinya. Jonghyun tersenyum geli, merangkul pundak adiknya. Membenamkan kepala Ara didadanya, membuat Ara meronta keras.

“Eh, tapi hati-hati lho Ra. Biasanya pelecehan seksual itu justru dilakukan oleh orang terdekat. Pacar atau bahkan… Appa dan Oppa kandung sendiri,” goda Taemin dengan nada sangat-sangat serius.

Ara terlonjak kaget, mulai bisa meraba-raba arah pembicaraan keempat namja itu. Ara sigap melepas rangkulan Jonghyun di bahunya, berpindah tempat duduk, merebut boneka Panda dari pelukan Taemin, beringsut mendekati Jinki.

“Yeah, klo lagi tinggi, laki-laki kadang suka ga pandang bulu. Tengah malam, hujan, badai salju, dingin, istri pergi keluar kota, anak gadis cantik. Lupa daratan deh,” tambah Taemin lagi. Ara semakin merapat ke arah Jinki.

“Klo gue, mending cari pelacur, daripada makan darah daging sendiri,” ucap Jonghyun dengan ekspresi jijik.

Key menyahut datar, tanpa ekspresi, “Jepitin aja ke pintu, habis perkara.”

Kali ini, bukan hanya Jonghyun dan Taemin yang tergelak, bahkan Jinki pun ikut-ikutan. Malah, suara tawa Jinki terdengar paling keras.

Ara tiba-tiba bangkit berdiri, “Aishhh… yadong,” gumamnya tak jelas.

“Kemana Ra?” Teriak Key yang melihat Ara sudah membuka pintu, hendak keluar ruangan.

Ara menjawab singkat, “Ambil minum.”

“Sekalian ya, buat kita-kita,” seru Key. Ara hanya mengangguk, berlalu menuju lantai bawah, ruang privat Mami, dapur.

“Tapi emang benar ya Hyung, anak jaman sekarang, parah!” Gerutu Taemin, entah pada hyungnya yang mana.

Jonghyun mengangguk setuju, “Pengaruh pergaulan, globalisasi dan lingkungan. Ehm, kayaknya salah masyarakat juga, yang lebih permisif sama gaya pacaran mereka. Cuma karena itu banyak terjadi, trus dianggap umum, lumrah dan biasa.”

“Kemajuan perbaikan gizi juga ngaruh lho Hyung. Gara-gara asupan gizinya cukup, bahkan cenderung berlebih, hormonnya juga ikutan cepet matang. Jadi hasrat seksualnya juga muncul lebih dini,” sahut Taemin dengan gaya seorang dokter.

“Sebenernya solusinya simpel, asal mereka dapet perhatian dan cinta yang sesuai porsinya dari keluarga, mereka ga bakal nyari-nyari cinta yang salah dan menyesatkan,” timpal Jinki.

“Harusnya, pendidikan seks usia dini tuh dimasukin ke kurikulum pendidikan. Sejak Elementary School klo perlu. Parahnya, orang-orang tua sekarang masih kuno, kolot. Bilang klo pedidikan seks malah bikin anak tambah penasaran, terangsang pengen praktikum, eh, praktik langsung. Padahal, mereka aja yang payah, ga bisa nyampein dengan bener, ga punya pengetahuan yang cukup. Seenak perutnya aja berlindung dibalik kata TABU!” Kali ini Key yang bersungut-sungut tak jelas.

Taemin mengangguk-angguk, “Ehm, mungkin judulnya jangan pendidikan seks Hyung. Pake istilah pendidikan kesehatan reproduksi remaja gitu, biar lebih… baguslah kesannya.”

Key terkekeh geli, “Astaga Taem, bukannya loe yang  biasanya paling males klo disuruh memperhalus kata. Tadi aja loe nyebut-nyebut alat kelamin ga pake malu-malu.”

“Aku kan dokter Hyung, eh, calon dokter. Masak nyebut bagian tubuh aja malu-malu. Bilang aja penis, vagina, payudara, apa susahnya sih? Masih termasuk anggota tubuh manusia juga kan? Apa bedanya sama telinga, hidung, pipi, tangan atau kaki?” Kilah Taemin tidak terima.

“HAYOH!! Lagi pada ngapain??” Sebuah suara berat terdengar, bersamaan dengan munculnya sebuah kepala dari balik daun pintu. Pemilik kepala itu menyeringai lebar, masuk dalam ruangannya dan mendorong pintu hingga kembali menutup dengan kaki panjangnya.

Taemin buru-buru bangun dari posisinya, antusias memeluk namja yang baru saja datang, “Minho Hyung! Kapan pulang dari Jepang?”

“Udah dari kmaren. Nah ini, film-film yang kita tonton kan oleh-oleh si Minho dari Jepang,” sahut Jonghyun saat melihat Minho hanya diam saja.

Key tersentak, mendengar kata-kata Jepang membuatnya ingat sesuatu, “Ya ampun, gue lupa. Lusa kan Ito-san mau ke perusahaan Appa, gue kan harus nyediain spesial servis buat tu orang.”

“Loe sendiri yang nyervis Key?,” sahut Minho, menyeringai.

Key memasang ekspresi jijik, “Gila lo! Ya enggak lah. Mana sudi gue maen meriam-meriaman ama Ito-san.”

Temin melirik sekilas ke arah selangkangan Key, mencibir, “Klo ngeliat ukuran punya Hyung sih, ga bakal ada meriam-meriaman. Paling banter cuma anggar.”

Key yang sudah sibuk dengan ponselnya -ber‘moshi-moshi’ dengan orang diseberang- tidak menanggapi celaan Taemin.

Minho melepas pelukan Taemin, melangkah menuju Jinki sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Ara mana Hyung?” Tanyanya sembari menoleh ke arah Jonghyun.

“Lho blum ketemu?” Tanya Jinki, “Dia lagi ke bawah, ngambil minum,” tambahnya saat Minho hanya menggeleng.

“OPPA! Bukain pintu! Tangan Ara penuh….” Suara Ara dari balik pintu membuat Minho tersenyum lebar.

“Sttt… jangan bilang klo aku dah nyampe ya,” bisik Minho pelan, kemudian buru-buru bersembunyi di balik rak buku.

Melihat para Hyungnya hanya diam saja, Taemin dengan bersungut-sungut membukakan pintu untuk Ara dan mengambil alih baki berisi 4 gelas besar jus jeruk, 1 botol yoghurt rasa pisang, 2 cup besar popcorn manis dan sekantung besar kacang kulit dari tangan gadis itu.

“Taem Oppa, susunya abis, yoghurt aja ya,” ucap Ara dengan nada manja. Taemin langsung tersenyum manis, mengedip genit ke arah Ara.

“Hey, hey! Manis banget manggil Taem pake Oppa! Gue yang jelas-jelas lebih tua ga pernah loe panggil Oppa,” protes Key, memberengut.

Ara menyulurkan lidahnya ke arah Key, menutup pintu, kemudian menggamit lengan Taemin. Sengaja benar memanas-manasi Key. Tapi, tiba-tiba saja tubuh Ara menegang kaku, seseorang memeluknya dari belakang. Sebelah tangan orang itu merangkul bahu Ara, tangan sebelahnya lagi menutup rapat kedua mata Ara. Ara bahkan bisa merasakan hangat nafas orang tersebut menyapu lehernya.

Ara mengingat-ingat, jelas-jelas hanya ada 5 orang di ruangan ini, dirinya sendiri dan keempat namja yadong itu. Ara ingat betul keempat namja itu ada didepannya, tidak mungkin salah satu dari mereka tiba-tiba berpindah tempat dan memeluknya dari belakang. Ara juga ingat betul bahwa baru saja dia menutup pintu, dan dia juga tidak mendengar ada suara pintu yang terbuka.

Ara menghirup nafas, panjang, berusaha berpikir jernih. Ini pasti ulah para Oppanya, buktinya, mereka semua sekarang diam tak bersuara. Ara berusaha tetap tenang, tidak mau terjebak permainan para Oppanya. Perlahan-lahan, Ara mengenali aroma harum segar yang khas, Minho. Tapi kemudian Ara berpikir cepat, ‘Gak mungkin. Minho kan di Jepang. Aishhh… apa jangan-jangan, aku udah ketularan keyadongan para Oppa? Sampe-sampe berhalusiansi dipeluk Minho? Tapi… ini siapa?? Siapa yang meluk aku?? Maniak?? Psikopat?? Kenapa para Oppa hanya diam saja??’ Pikiran-pikiran itu membuat Ara semakin takut, keringat dingin mulai mengalir.

Suara Key memecah keheningan, “Minho! Udah! Lepasin adek gue, liat tu, ampe pucet gitu. Loe apain sih?”

Minho melepaskan pelukannya, tersenyum lebar, memutar badan Ara hingga gadis itu tepat menghadapnya. Ara masih shock, dia tidak memberi reaksi apapun. Minho menatap wajah Ara lekat-lekat, menarik dagu gadis itu, membuat wajah Ara tepat menghadap wajah Minho. Minho perlahan-lahan memperkecil jarak wajah mereka, menatap intens ke arah bibir Ara. Hal yang berakibat fatal, karena Ara menjadi semakin pucat. Omelan Key tentang bibir melintas kembali diotaknya.

Minho mendekatkan ibu jarinya kearah bibir Ara, “Bibir ka-”

“KYA…!! MAMI…!!” Belum sempat ibu jari Minho menyentuh bibir Ara, belum sempat Minho menyelesaikan pertanyaannya, Ara sudah berteriak histeris. Menepis kasar tangan Minho dan lari serabutan keluar ruangan. Meninggalkan lima orang namja yang sekarang terperangah kaget menatap pintu yang terbanting keras akibat ulah Ara.

“Astaga. Kenapa si Ara? Loe apain Ho?” Tanya Jinki tegas.

Key, Taemin dan Jonghyun menatap Minho, tajam. Minho hanya menggeleng bingung, “Aku juga ga ngerti hyung. Kenapa reaksi Ara bisa sehisteris itu,” jawabnya pelan.

“Jelas aja histeris, loe kan ngeliatin bibir Ara segitunya,” sahut Key.

Minho mengucak kasar rambutnya sendiri, “Gue kan cuma mau tanya, kenapa bibirnya merah dan ada benjolannya.”

“Jangan-jangan, ke-makan omongan gue ya Hyung?” Celutuk Taemin.

Minho mengernyitkan alisnya, “Omongan apa?”

Sexual harassment,” jawab Taemin polos.

Minho membelalakkan matanya, tak sengaja melihat flashdisk-nya yang masih tertancap di port USB notebook Jonghyun, “Kalian dah nonton film apa aja?”

“Sup gadis perawan jepang,” lagi-lagi, Taemin menyahut polos.

“APA?? Kalian nonton film itu di sini? Dan Ara juga ikutan nonton? Aishhh… kalian ini benar-benar… merusak kejiwaan calon istriku,” gerutu Minho kesal.

Taemin menyeringai, “Tapi Hyung, Ara kan udah biasa ngadepin keyadongan Jonghyun Hyung.”

“Tapi belum biasa ngadepin keyadongan 5 orang namja sekaligus,” sahut Jinki. Jonghyun, Key dan Taemin hanya menyeringai lebar, saling melempar pandangan.

“Lima orang?? Kalian?? ARGH!! Parah! Kacau! Pantesan aja Ara histeris gitu. Aishhh… kalau dia ngadu yang enggak-enggak ke Mami, jabatan gue sebagai calon mantu bisa dicopot,” sembur Minho sembari buru-buru meraih handle pintu, menyusul Ara.

“Minho!,” Panggil Key saat Minho sudah melangkahkan satu kakinya keluar ruangan, “Klo loe dipecat, buruan bilang ke gue ya. Gue ga keberatan ngantiin posisi loe sebagai calon mantu-nya Mami,” lanjut Key.

Minho hanya mengacungkan tinjunya ke arah Key, melangkah lebar menuruni tangga, mencari Ara dan Mami.

Jonghyun menatap tajam Key, penuh ancaman, seolah-olah bilang kalau dia tidak sudi punya adik ipar macam Key.

“Sante aja kali Jjong, seenggaknya, Ara kan ga perlu repot-repot ganti marga klo nikah ama gue,” ucap Key kalem.

FIN

 

yen, 13:15 – 21.06.2011

Bawdy