Sekolah Baru 2

“Jung Gi Oppa!! Hwaiting!!” Teriak Yoora tiba-tiba, membuat Ara kaget setengah hidup sampai keselek lidah sendiri. Yoora yang cantik, yang pakai baju seragam dengan model sailormoon, eh, maksudnya seperti yang di pakai ama tokoh-tokoh di manga Sailormoon itu, tersipu salah tingkah saat cowok rambut bulu landak melambaikan tangan kearahnya, tersenyum ganjen. Ryū ikut-ikutan menoleh, menatap Ara dengan pandangan garang. Memang Ara salah apa? Dasar cowok rambut aneh.

“Kayak lagi nonton Asia Timur vs Indonesia  ya Kak. Kakak pasti pegang Asia kan? Aku pegang Indonesia deh,” kata Ara, tidak  peduli dengan  Yoora yang masih tersipu-sipu nggak jelas. Bertepuk tangan sekeras-kerasnya sampai tangannya merah waktu melihat Galang berhasil masukin three point. Penuh semangat nge-lempar balik bola basket yang kebetulan nyasar ke luar lapangan ke arah Taufik, walaupun sebenarnya saat itu giliran tim Ryū yang ofensif. Sukses membuat Ryū kembali melempar tatapan garangnya ke arahnya.

“Ara! Gantiin bentar dong Dek. Kebelet nih!” Perintah Wawan sambil berlari ke arah kamar kecil.

Gantiin? Wuahhhh… jelas Ara mau banget. Dengan semangat 45 gadis itu lari sprint masuk lapangan. Inilah kenapa dia lebih memilih pakai celana panjang daripada rok, siap sedia setiap saat untuk bergerak bebas. Kalau soal kemeja, Ara nggak pernah ribut. Walaupun Bunda selalu ngasih aplikasi manis di kemejanya, entah pita, bunga, kancing, rimpel-rimpel, belt atau apalah, dia nggak akan protes, toh nggak mengganggu gerakan. Dan inilah alasan terbesar Ara bersedia pindah ke SMA ini, walaupun bahan dan motif seragam ditentukan, tapi modelnya terserah keinginan masing-masing.

‘Aihhh… nggak salah ni?’ Ara menatap takjub cowok kelas XI IPA 1 didepannya. Bukan karena cakepnya, itu nggak ada pengaruhnya ke skill basket. Tingginya itu loh, tinggi bener, setidaknya buat ukuran Ara yang imut pendek ini. Dan sekarang Ara harus man to man dengan cowok itu. Bagaimanalah ini….

Ara men-dribble setenang mungkin, sementara cowok itu merentangkan tangannya didepannya. Ara bergerak kekiri-kekanan, melakukan crossover, percuma saja, rentangan tangannya terlalu lebar.

Akhirnya Ara memutuskan untuk bergerak cepat memanfaatkan kemungilan badannya, melakukan spin move sembari menyusup di bawah lengannya, siap melakukan shooting langsung. Tapi tiba-tiba Jung Gi -si rambut bulu landak- hendak melakukan steal, lengkap dengan cengiran yang dibarengi dengan menggigit bibir bawah dan kedipan mata ke arah Ara. Ganjen. Bukan waktunya buat ganjen-ganjenan! Ara berniat melakukan passing ke Taufik, tapi dia ditempel ketat oleh Ryū. Ara mengerling Galang yang siap melompat. Refleks, Ara memberi assist padanya. Ara menyerinagi lebar, girang bukan main. Galang sukses melakukan ally-ops! Galang dan Taufik langsung saja ber-high five. Sementara Ara, dengan senangnya lompat-lompatan sambil meninju udara.

Bukkk…

“Ya! Hati-hati dong! Cewek kok semrawut banget!” Protes Ryū sambil mengusap-usap kepalanya.

Uppss…

Ara buru-buru menangkupkan telapak tangan, membungkuk ke arah Ryū, minta maaf. Ternyata tinjunya nyasar ke kepala Ryū, yang langsung berseru marah.

Teeetttt….

Mereka berenam serempak berhenti, mendengus sebal, sudah bel masuk.

“Jung Gi-sunbae, kami balik ke kelas duluan ya,” pamit Galang pada Jung Gi, sambil merangkul Ryū. Karena Galang memanggil Jung Gi dengan sebutan sunbae, pasti dia sudah kelas XII. Iya kan?

Ara dan cowok kelas XI IPA 1 berjalan berdampingan, mengikuti Galang yang sudah jalan duluan, berangkulan dengan Ryū yang masih bersungut-sungut. Taufik menyusul Wawan ke kamar kecil. Yoora masih sibuk nyodorin softdrink dingin pada Jung Gi di lapangan basket.

“Kamu murid baru yang waktu itu salah masuk ke kelasku kan?” Tebak cowok XI IPA 1, tersenyum pada Ara. Yang ditanya justru mencengir malu, mengangguk kecil.

“Jago basket ternyata,” tambahnya lagi. Lagi-lagi Ara mencengir malu, merasa enggak jago-jago amat kok. Belum pernah berhasil slamdunk, memang sudah nasib orang semampai, semeter tak sampai.

“Gak bisu-kan?” Tuduhnya sembari menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Ara.

Wajah Ara memerah, ‘Eggghhh… Kyaaa…!!’ Teriak gadis itu, dalam hati.

“Oh, gagu ya?” Gumam si cowok sambil kembali menegakkan punggung, menautkan kedua tangannya dibelakang kepala. Berjalan begitu aja ninggalin Ara yang berdiri terpaku, bengong.

“Ara! Cepetan, malah bengong. Ken! Kamu apain si Ara?” Panggil Galang yang sudah sampai di pintu kelas. Cowok XI IPA 1 itu mengendikkan bahunya, menoleh sekilas kearah Ara, kemudian menghilang di balik tembok kelasnya. Ken? Oh… jadi cowok XI IPA 1 itu namanya Ken?

“Ara!” Seruan Kak Galang kali ini sukses membuat Ara bergegas lari masuk ke kelas. Menghempaskan diri di kursinya, -lagi-lagi- sukses membuat Ryū mendesis marah.

***

“Hari ini kita ulangan harian!” Seru Pak Syarif begitu sampai di meja guru, meletakkan map coklat tebal.

Ara membelalak, kaget, ‘Haaa…? Ulangan dadakan? Matematika? Lho, eh, kok nggak ada yang protes sih?’

Kalau di SMA Ara yang dulu, pasti udah terjadi kekacauan, protes, interupsi, demo besar-besaran dan berakhir dengan pemboikotan. Berlebihan, nggak segitunya juga sih. Tapi ini benar-benar menakjubkan. Nggak ada yang protes, biasa-biasa saja, tidak bereaksi -April malah terlihat bersemangat- hanya Ara yang melongo menatap Pak Syarif.

‘Yah…. Bagaimanalah…. Untung saja bukan ulangan bahasa inggris atau biologi, bisa mati berdiri aku.’ Keluh Ara dalam hatinya.

“Waktu kalian 3 jam pelajaran, 3 x 45 menit. Selesaikan soal yang saya berikan seteliti mungkin,” kata Pak Syarif seraya berkeliling membagikan soal dan lembar jawaban.

“Mulai!” Seiring aba-aba dari pak Syarif, serentak ke-12 penghuni XI IPA 2 mulai membalik kertas soal yang sudah beberapa menit tertelungkup pasrah di meja. Ara membacanya sekilas, 5 soal essay, turunan, integral, turunan parsial, integral parsial, intergral parsial lagi. Lumayan juga.

Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Sekali lagi takjub, tidak ada seorangpun yang terlihat panik ataupun menghela nafas berat setelah membaca soal. Tidak seorangpun melirik apalagi menoleh pada yang lain.

“Ehm!” Deheman Pak Syarif membuatnya refleks menengok kearah Pak Syarif.  Beliau menatap Ara tajam, penuh peringatan. Gadis itu langsung saja mencengir salah tingkah.

Ara kembali fokus pada lembar soalnya, membaca dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kemudian mulai menderas angka-angka dan lambang-lambang di lembar jawaban, 50 menit, nyaris tanpa jeda.

‘Whuahhhh…. SELESAI!’ Ara menggeliat pegal, merentangkan tangan. Buru-buru kembali meluruskan badan saat menyadari Pak Syarif sekali lagi melempar tatapan memperingatkan. Tanpa merasa perlu mencengir malas, Ara kembali menekuri lembar jawabannya, meneliti lagi, 5 menit berlalu. Tersenyum puas, semua jawaban sudah meyakinkan.

Ara meletakkan lembar jawabannya tepat diatas lembar soal, menghela napas panjang. Meluruskan kaki, duduk sedikit melorot ke bawah, menyandarkan punggung dan mendongakkan kepala keatas, pegal. Lagi-lagi, Ryū, mendesis marah di belakang tengkuk Ara. Gadis itu tidak menggubrisnya,  kembali melakukan aktifitas favoritnya saat di dalam kelas, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, memperhatikan gerak-gerik semua penghuninya.

“ Ehm!” Kali ini Pak Syarif bukan sekadar melempar pandangan memperingatkan. Beliau sudah ada di samping meja  Ara, meraih lembar jawaban yang tergeletak di meja. Menelitinya sekilas. Saat kemudian beliau menatap Ara, gadis itu tersenyum jumawa,  yakin benar bahwa gurunya sedang menahan senyuman kagum sekaligus bangga. Pertanda baik.

Lima menit berlalu, membosankan. Ara mulai gelisah, bergerak-gerak di kursinya. Goyang kanan-kiri, depan-belakang. Ryū lagi-lagi mendesis marah. Kali ini Ara menyempatkan diri untuk menengok kebelakang, memandang Ryū lurus-lurus. Ryū balas menatap Ara garang, seperti biasa. Ara dengan iseng menjulurkan lidah padanya.

Benar-benar membosankan. Ryū sekarang sepenuhnya tak mengacuhkan Ara. Tidak bereaksi apapun, bahkan saat gadis itu iseng mengetuk-ngetuk kaki meja Ryū dengan ujung jari-jarinya.

“Pak Syarif, kalau saya sudah selesai mengerjakan soal-soal ini, apa saya boleh keluar kelas?” Tanya Ara sembari mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Pak Syarif tersenyum mengangguk.

“Silahkan tinggalkan kertas soal dan jawabanmu di meja. Kamu boleh keluar sampai jam pelajaran saya selesai,”  jawab Beliau.

Tanpa ba-bi-bu Ara segera melangkah lebar keluar kelas, mengangguk hormat saat melewati meja Pak Syarif.

Sejurus kemudian berseru keras, “Yuuuhuuuu…. I’m free….”

Ara berjalan ke arah perpustakaan, melewati kelas Ken, melonggok ke dalam. Ken menatapnya dengan alis bertaut, mungkin bingung, kenapa gadis itu berkeliaran saat jam pelajaran seperti ini.  Ara tidak peduli, dia kembali berjalan, melongok ke dalam saat melewati deretan kelas XII. Membatin, ‘Aneh, di semua kelas, rambut landaknya tidak nampak. Apa Kak Jung Gi masih kelas X? Ah, nggak mungkin.’

“Kau tidak sedang membolos kan?” Tanya petugas bagian peminjaman saat Ara menyodorkan salah satu novel karya Tere-Liye. Gadis itu segera menggeleng tegas, malas menjelaskan. Petugas itu hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.

Ara membawa novelnya keluar perpustakaan, mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Dan pilihannya jatuh pada pohon Tenggaring di dekat menara air. Menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada orang melintas, menyelipkan novel di punggung, sigap memanjat ke cabang besar yang datar menjulur ke arah tangga menara air.

Membaca novel, sudah seperempat bagian, Ara mulai menggeliat, pegal.  Gadis itu memutar lehernya. Menatap buah tenggaring dengan penuh nafsu.  Menjulurkan tangan, memetik beberapa buahnya yang sudah merah, memasukkannya kedalam mulut dan serampangan melempar kulitnya.

 “Ya! Lihat-lihat dong!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Ara sibuk menengok kanan-kiri mencari sumber suara, tidak ada orang di pohon ini. Menengok ke bawah, sepi. Mendongak ke atas, kembali melihat buah tenggaring yang sudah matang.

“Kamu nyari apa? Kulit tenggaring-mu?” Seru suara itu lagi. Sepertinya tidak jauh, mungkin beberapa meter diatas Ara. Membuatnya kembali sibuk menoleh sana sini mencarinya.

“Disini!” Seru suara itu.

 Ara menajamkan mata, ‘Ah… itu dia.’

Cowok dengan rambut di highlight coklat. Sedang berjuntai di menara air, tepat di sebelah gentong raksasa berwarna kuning menyala. Mengusap kepalanya dengan tampang kesal. Ara  mencengir, sepertinya kulit tenggaring yang  dilemparnya asal-asalan tadi nyasar ke kepala cowok itu.

‘Ehmmm… kayaknya duduk berjuntai di menara air asyik juga ya?’ Ara mulai berpikir bagaimana caranya bergabung dengannya. Turun dari pohon kemudian memanjat tangga menara? Tidak efisien, kan menara itu 3 meter di atas tempatnya sekarang. Kalau Ara harus turun-naik, jaraknya akan 17 meter, 7 meter turun pohon, 10 meter naik tangga. Ara memutuskan merayap di cabang tempatnya sekarang, sigap melompat ke anak tangga terdekat dan mulai menaikinya.

“Maaf Kak, kirain nggak ada orang,” cengirnya sembari ikut duduk menjuntai disebelahnya. Kakak itu menatapnya curiga, persis seperti petugas perpustakaan tadi.

“Aku nggak sedang mbolos lho Kak, tadi ulangan matematika, yang udah selesai boleh keluar kelas. Aku udah selesai duluan Kak, bosen di kelas, jadi aku pinjem novel diperpustakaan, trus aku mbacanya di sini.” Kali ini Ara dengan ikhlas repot-repot menjelaskan, menunjukkan novel ditangannya.

“Suka mbaca novel?” Tebak si Kakak basa-basi, setelah mengangguk tidak antusias mendengar penjelasan Ara.

“Yap. Suka banget! Aku suka novel-novel sastra melayu, sebangsa Siti Nurbaya, Katak Hendak Jadi Lembu, Salah Asuhan, Layar  Terkembang, gitu-gitu deh,” sahut Ara penuh semangat. Si Kakak tersenyum, matanya bulan menyabit. Ara mulai mengamati cowok di sebelahnya. Korea, pasti. Cakep. Senyumnya manis, banget bahkan. Apalah….

Teeettt…

 “Sudah bel, kamu nggak balik?” Si Kakak bertanya, membuat Ara berhenti dari kegiatannya, mengamati si Kakak cakep.

“Eh, iya. Jam makan siang nih. Turun yuk Kak!” Ajak gadis itu sembari berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celananya. Si Kakak juga ikut beranjak dari duduknya. Menyusul Ara yang sudah berjalan menuruni tangga.

“Eh, Kakak ke kantinnya duluan aja deh. Aku mo ke kamar kecil dulu, nanti aku nyusul,” pinta Ara sambil menoleh kebelakang.

Ara berjengit kecil, ‘Lho… kok ga ada? Bukannya dia tadi jalan di belakangku ya? Wah… pergi kok  nggak bilang-bilang. Bodo ah, laper.’

Ara bergegas menuju kantin, tentu setelah menyelesaikan urusannya di kamar kecil. Tersenyum pada udang goreng yang menggunung, eh, pada Acil Gayah, petugas kantin. Mengisi seperempat piring dengan nasi kemudian memenuhi sisanya dengan udang, sedikitpun tidak melirik ke arah menu yang lainnya. Kali ini, Acil Gayah yang tersenyum melihat komposisi piring Ara.

Ara mulai mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong. Ada 2 pilihan, Ara berjalan menghampiri alternatif pertama, di pojok barat. Yoora dan Jung Gi hanya berdua, menyisakan 2 kursi kosong di sebelah mereka. Baru 5 langkah berjalan, tiba-tiab Ara berbelok. Jengah melihat Yoora yang tengah menyodorkan sepotong udang goreng dengan sumpitnya ke arah mulut Jung Gi yang terbuka lebar. Dengan malas gadis itu mulai berjalan ke tempat kedua. Di ujung timur, di bawah pohon ceremai, Ryū dan Ken juga hanya duduk berdua.

Meminta ijin dengan ekspresi dan tatapan mata, lebih ke arah Ken. Ken tersenyum, menepuk kursi di sebelahnya, mempersilahkan. Ryū? Tentu saja melempar tatapan tidak suka kearah Ara. Siapa yang perduli?

“Makan udang lauk nasi?” Tanya Ken dengan intonasi datar. Ara menjawabnya dengan cengiran lebar. Menyodorkan piringnya ke arah Ken, menawarinya. Yang ditawati justru menggeleng malas. Ara tidak menyerah, menyodorkan piringnya lebih dekat lagi. Ken sekali lagi menggeleng malas. Ara menatapnya heran, ‘Ada ya di dunia ini orang yang nggak doyan makanan begini enak?’

“ Ken alergi udang.” Celutuk Ryū tiba-tiba, membuat Ara menoleh kearahnya.

Ara menatap Ken lurus-lurus, “Alergi? Wah, sayang banget. Padahal udang tu enak lho Kak. Manis-manis gurih empuk gitu. Bergizi tinggi pula. Kaya protein, kalsium dan rendah lemak. Kandungan asam amino-nya lengkap. Mengandung mineral Selenium yang penting buat kekebalan tubuh terutama bagi produksi kelenjar tiroid, juga mencegah penyakit kanker. Trus, ada vitamin D dan B12-nya juga,” celotehnya panjang lebar.

“Kolestrol tinggi,” sahut Ryū lagi, membuat Ara kembali menatapnya.

“Tapi kolestrol baik, bukan kolestrol jahat yang bikin penyakit,” sembur Ara pada Ryū.

“Ternyata Ara kalau sudah ngomong panjang banget ya? Kirain nggak bisa ngomong,” kata Ken tiba-tiba, membuat Ara dan Ryū yang sedang saling melotot menoleh ke arahnya. Ryū menyeringai, menaikkan sebelah ujung bibirnya.

“Dia ni yang klo ngomong ngirit banget,” tunjuk Ara pada Ryū menggunakan garpu ditangannya. Ryū justru dengan sigap mencaplok udang goreng yang ternyata masih tertusuk manis di ujung garpu itu.

“Enak,” ucap Ryū tanpa dosa, mulai menyumpit udang goreng dari dalam piring ara, dua ekor sekaligus. Makan siang hari ini berakhir dengan perang garpu melawan sumpit, antara Ara dan Ryū, perebutan udang goreng tepung yang sengit.

Footnote :

Man to man : strategi bertahan 1 lawan 1

Crossover : istilah basket untuk gerakan mendribble bola-basket dimana pemain yang mendribble bola merubah dribblenya bola dari satu tangan ke tangan lainnya dan diikuti berubahnya pergerakan menuju ke arah yang diinginkan, bertujuan untuk membingungkan lawan.

Spin move : istilah basket untuk gerakan memutar badan untuk mengubah arah dan meletakkan badan di antara bola dan pemain bertahan

Steal : istilah basket dimana seorang pemain bertahan berhasil merebut bola yang sedang dipegang, dioper atau didribble pihak lawan, tetapi tidak menyentuh tangan lawan

Passing: mengoper bola ke rekan satu tim

Assist: istilah dalam permainan bola basket dimana seorang pemain mengoper bola kepada temannya, dan pemain yang mendapat bola operan dari temannya itu tanpa mendribble (memantulkan bola ke tanah) langsung melempar atau memasukkan bola kedalam jaring basket

Ally-ops : suatu jenis slamdunk dimana teman satu tim mengoper bola kepada seorang pemain yang sedang melompat. Disaat melompat, pemain itu menangkap bola operan temannya dan langsung melakukan slamdunk.

Acil (melayu) : panggilan. Indonesianya bibi atau tante. Untuk paman disebut pakacil atau acil laki.