Karena Aku Adalah…

Author             : yen

Main Cast        : Kim Jonghyun, Kim Ki Bum, Ryu Ji Hye

Support Cast  : Kim Ara, Jung  Joo Ri

Cameo             : Kwon Ji Yong – GD (BIGBANG)

Length             : Oneshot

Rating              : General

Genre              : Friendship, Romance (?)

Summary         : Orang bijak adalah orang yang tahu kapan dia harus berhenti.

Pagi biasa di hari yang biasa, para mahasiswa dan mahasiswi itu terlihat penuh semangat melintasi halaman, melewati pilar-pilar tinggi, menyapa satu sama lain kemudian menghilang dalam bangunan megah bergaya arsitektur Eropa. Angin berhembus perlahan. Tahukah kalian? Sejatinya, tidak ada hari yang biasa, karena setiap hari adalah istimewa.

Perhatianku saat ini tertuju pada 2 orang yeoja yang berdiri tak jauh dari tempatku. Mereka  sibuk berdebat dan saling membantah dengan suara bising menyebalkan.

“Please…” pinta salah satunya pada yang lain.

Hah! Kali ini apalagi masalah mereka? Belum genap 1 tahun berkuliah, sudah tak terhitung aku melihat keduanya saling memberengut satu sama lain.

“Ogah!” Ji Hye, mahasiswi department of postmodern music itu berseru ketus. Temannya -yang kalau tidak salah bernama Kim Ara- langsung menggembungkan pipinya.

Ara terus memohon, “Ayolah, kamu kan sekelas dengan Ji Yong. Dia gak bakalan nolak deh….”

Ji Hye mendengus sebal, “Justru itu, temen sekelas kok minta tanda tangan! Bisa kegeeran dia. Mau ditaruh di mana muka aku?”

“Taruh aja di situ, emang mo dikemanain lagi?” Sahut Ara tanpa tendensi, nyaris membuatku tergelak.

Ji Hye melotot galak, melangkah lebar meninggalkan Ara yang masih belum sadar apa salah dan dosanya.

Ji Hye, yeoja tahun pertama di Kyung Hee University, salah satu dari sekian banyak yeoja yang ada dikampus ini. Salah satu dari beberapa yeoja yang berhasil menarik perhatianku, membuatku selalu mengamatinya setiap hari. Yeoja yang bisa begitu cool di satu kesempatan, kemudian menjadi sangat… kekanak-kanakan di saat yang lain. Misalnya, seperti saat ini, saat dia bertemu….

“KiBum Oppa!!” Ji Hye menyeringai lebar, berteriak riang memanggil sesosok namja bernama Kim Ki Bum, namja dengan reputasi sebagai playboy terkeren abad ini. Namja yang bisa membuat Ji Hye tergila-gila, menempelnya di setiap kesempatan.

“Apaan lagi? Pagi-pagi udah bikin kuping gue sakit. Bisa ga, sehari… aja lo berenti ngerecokin gue? Hah?” Sahut KiBum kesal. Siapa yang tidak kesal, jika setiap hari selalu diganggu. Walaupun pengganggunya adalah makhluk manis seperti Ji Hye, kalau dia selalu menempel seperti bayangan, aku juga tidak akan tahan.

“Ini,” Ji Hye menyodorkan sebuak kotak bento bergambar bunga sakura “Buat sarapan. Aku bikin khusus buat KiBum Oppa, dengan penuh rasa cinta dari hati yang terdalam.”

KiBum melengos, “Gue masih kenyang,” berjalan meninggalkan Ji Hye. Tentu saja Ji Hye langsung berlari menyusul, berusaha mengimbangi langkah lebar KiBum sembari terus menyodorkan kotaknya.

“Klo gitu buat makan siang aja deh,” bukan Ji Hye kalau dia mudah patah arang. Sudah hampir setahun dia melakukan ritual menyodorkan kotak bento pada KiBum, sudah hampir setahun pula KiBum selalu menolak.

KiBum mendelik sebal, “Sudah berapa ribu kali gue bilang, gue ga doyan masakan lo! Elo tu muka badak ato debil hah?”

Yeah, itulah KiBum. Jangan kaget mendengarnya bicara sekasar itu pada yeoja. Bukan, bukan karena dia jahat, tapi lebih karena yeoja itu adalah seorang Ryu Ji Hye. KiBum tidak pernah kasar pada orang lain, dia bahkan sangat lemah lembut pada Jung Joo Ri, pacarnya yang sekarang. Pacar?? Iya, apalagi? Bukankah aku sudah bilang, KiBum adalah playboy terkeren abad ini. Dua tahun dia kuliah di Kyung Hee, tidak terhitung berapa kali dia berganti pacar.

Yang terbaru, KiBum 1 bulan ini resmi berpacaran dengan Jung Joo Ri. Ini salah saru alasan kenapa dia sebal sekali pada Ji Hye, menurutmu, yeoja seperti apa yang masih saja terus mengejar seorang namja yang sudah punya pacar? Secara terang-terangan pula, bahkan hampir seluruh penghuni Universitas Kyung Hee mengetahuinya.

“Eh? Udah ribuan kali ya? Hehehe… Oppa segitunya deh, ampe dihitung segala,” Ji Hye cengar-cengir sok malu. Tapi dilihat dari sudut pandangku, ini sungguh malu-maluin.

“Sinting lo,” sembur KiBum sembari mempercepat langkahnya, menuju Kim Jonghyun. Sahabatnya itu hanya bisa tersenyum prihatin, sejak tadi Jonghyun memperhatikan mereka dari kejauhan. Walaupun dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia bisa menebak, pasti tidak jauh-jauh dari topik biasanya, soal memberi-menolak kotak bento.

***

“Just take it, or leave it!” Tegas Ara, melambai-lambaikan sekeping piringan hitam  di tangan kiri, menyodorkan album bergambar tengkorak hijau ber-headset dengan tangan kanannya.

Ji Hye menatap kedua benda itu dengan penuh dilema, memiringkan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ji Hye hendak meraih kedua benda ditangannya, Ara buru-buru menjauhkan piringan hitam dari jangkauan Ji Hye, “Kewajiban dulu, baru hak.” Sergahnya.

“Nope! Dua-duanya atau tidak sama sekali,” sahut Ji Hye, menyeringai licik. Ara menatap Ji Hye lamat-lamat, menilai, kemudian dengan berat hati menyerahkan kedua benda itu pada Ji Hye.

“Cepet balikin kalau sudah ditandatangani,” seru Ara pada Ji Hye yang sudah melangkah pergi.

Jangan lupa, tulis namaku!” Seru Ara menambahkan, Ji Hye mendengus sebal.

***

“Nih, tanda-tangan” Ji Hye mengangsurkan album bergambar tengkorak ke depan hidung Kwon Ji Yong tanpa basa basi.

Ji Yong melihat ke arah album-nya itu, beralih menatap Ji Hye, terus berulang-ulang.

“Jangan ke-geer-an dulu. Kim Ara, bersedia ngasih ini,” menggoyang kepingan hitam, “kalo kamu mau nandatanganin tu album.”

“Piringan hitam buat tugas kita?” Tanya Ji Yong menegaskan, heran, tidak ada angin tidak ada hujan, rival beratnya -kalau tidak mau disebut musuh bebuyutan- tiba-tiba bertransformasi menjadi VIP yang meminta tanda tangan.

“Ya iya lah, apalagi? Buat apa aku menistakan diri minta tanda tangan kamu kalau bukan demi tugas kuliah?” Sembur Ji Hye mengkal. Wajar dia mengkal setengah mati. Ara, pemilik piringan hitam langka yang menjadi kunci utama tugas mereka, berulah. Bukannya meminjamkan cuma-cuma, dia memberi syarat ‘Aku pinjemin, tapi mintain tanda tangan Ji Yong.’

Ji Yong mengangguk singkat, “Siapa tadi namanya? Ara? Kim Ara?” Menandatangani album tersebut.

“Kenapa sih orang-orang suka banget minta tanda tangan artis? Emangnya kalo ditandatanganin tu album jadi tambah bagus kah? Suaranya jadi lebih keren? Atau aransement lagunya jadi lebih canggih? Enggak kan? Bener-bener pekerjaan sia-sia! Kenapa juga kalian, para artis, suka banget nandatanganin segala benda? Aneh!” Ji Hye menggerutu panjang pendek.

Di sudut lain, di bangku taman universitas, KiBum dan Jonghyun mengamati keduanya dengan tatapan tertarik, ingin tahu.

“Dasar cewek ganjen,” umpat KiBum kesal.

Jonghyun menatap sahabatnya, “Kenapa? Kau cemburu?” Tuduhnya.

KiBum tersedak, “Gue? Cemburu ama cewek ganjen itu? Gila lo! Cewek gue aja ga ada yang pernah gue cemburuin.”

“Setahu ku, Ji Hye sama sekali gak ganjen. Dia hanya… sedikit berlebihan kalau menyangkut kau,” Jonghyun mencoba menganalisa.

KiBum mendengus kesal, “Sedikit? Mata lo kemana Jjong? Setiap hari dia nguntit gue, udah dinolak terangan-terangan, berkali-kali, tu cewek kagak ada bosen-bosennya, muka badak. Itu dah ga bisa dibilang sedikit.”

“Mungkin, kau yang kurang tegas pada Ji Hye,” sahut Jonghyun datar.

“Kuping lo soak ya? Gue udah nolak dia terang-terangan, berkali-kali! BERKALI-KALI!” Seru KiBum berapi-api.

“Ga usah teriak-teriak juga Ki…. Kau memang sudah menolaknya, tapi belum pernah bicara baik-baik dengannya kan?” Jonghyun menatap KiBum, “Ji Hye itu mirip kau, penakhluk, semakin ditolak, semakin dia penasaran. Semakin dicuekin, semakin dia menempel.”

KiBum melipat dahi mendengar perkataan Jonghyun, dari ekspresinya, aku tahu pasti, KiBum sedang membenak ‘Mirip? Mirip apanya? Gue mirip cewek ganjen itu? Anjrit lo Jjong! Bisa-bisanya nyamain gue ama dia!’

“Tahan mulut kau! Jangan protes dulu,” cegah Jonghyun cepat saat melihat KiBum hendak membuka mulut, membantah. Sukses membuat KiBum mengunci rapat bibirnya. Bagaimana lagi, kalau Jonghyun sudah mengeluarkan kharismanya, bahkan anginpun berhenti berhembus. Upsss… maaf, aku terlalu berlebihan.

“Kalau kau benar-benar tidak suka padanya, seharusnya kau bicara baik-baik. Kemukakan alasan kau, kenapa menolaknya. Bukannya berteriak-teriak mempermalukan diri sendiri. Seorang KiBum, bahkan tidak mengatasi yeoja sekelas Ji Hye. Membuatmu terlihat seperti namja tanpa perasaan, berdarah dingin. Padahal nyatanya kau hanya malu menerimanya, karena itu membuat kau merasa ditahlukkan.” Jonghyun memulai kuliah umumnya, “Jangan menggunakan alasan tidak cinta Ki… Ji Hye mengira kau juga tidak pernah mencintai satupun yeoja yang kau pacari, jadi apa bedanya? Beri alasan yang logis, pasti Ji Hye mengerti. Dia yeoja terlogis yang pernah ku kenal.”

KiBum kembali hendak membuka mulut, tetapi urung karena Jonghyun mengangkat tangan, berkata “Kecuali, kau sebenarnya kau suka dengan perhatian yang Ji Hye berikan selama ini. Suka bisa datang dari terbiasa Ki…. Belum pernah ada yeoja yang memperlakukanmu seperti apa yang Ji Hye lakukan. Banyak yeoja yang ingin menjadi pacarmu, terlepas dari apa alasan mereka, tidak ada yang segigih Ji Hye. Mereka hanya berani berbisik-bisik dibelakangmu, menatap malu-malu dari kejauhan. Mundur teratur atau mengurai air mata saat kau tolak. Benar-benar tidak ada yang seperti Ji Hye.”

Suasana hening, hanya hembusan angin yang melintasi kuncup bunga, meninggalkan jejak dingin, penghujung musim. Sebentar lagi musim semi tiba.

KiBum menerawang jauh, seperti berusaha mencerna apa yang barusan dia dengar.

“Gue cabut,” seru KiBum tiba-tiba, melihat Ji Hye yang tengah berjalan menuju mereka. Entah mengapa, tapi aku merasa ada yang lain dengan KiBum. Kalau dia biasanya menghindari Ji Hye karena sebal, kali ini sepertinya lebih karena dia merasa tidak siap untuk mengakui sesuatu.

“KiBum Oppa!! Yah!! Kok pergi sih??” Panggil Ji Hye sebal, tidak peduli kalau teriakan didengar semua orang. Membuat mereka berpikir kalau Ji Hye adalah yeoja tak tahu malu. Bagi Ji Hye, perkara ini sederhana saja. Dia menginginkan sesuatu, dan dia berjuang untuk meraihnya.

“Dia ada urusan mendadak,” Jonghyun mengarang alasan.

“Oh… padahal aku udah bikinin bento buat dia. Oppa mau? Kita makan bareng ya, aku bawa banyak kok, cukup buat 2 orang,” Ji Hye tanpa merasa perlu meminta ijin sudah duduk di sebelah Jonghyun, mulai membuka kotak bentonya. Jonghyun tersenyum tipis, sudah biasa, setiap KiBum berhasil melarikan diri, dia selalu menjadi tempat sampah Ji Hye. Mendengarkan celoteh dan curhat, sembari ikut menghabiskan bento yang dibawa yeoja itu.

“Belum nyerah juga dengan KiBum?” Tanya Jonghyun

Ji Hye buru-buru menelan ebi furai-nya, “Nyerah? Nggak lah Oppa, gak ada istilah nyerah di kamus aku.”

“Tapi, orang bijak adalah orang yang tahu kapan dia harus berhenti.” Ucap Jonghyun pelan.

Ji Hye melipat dahi, menggaruk kepala “Maksud Oppa?” Tanyanya, menyeringai tidak paham.

“Ada saatnya kau harus berhenti, jika apa yang kau kejar tidak lagi mungkin kau raih. Berhenti, mungkin untuk melihat ulang, seberapa berarti hal yang kau kejar itu. Bisa jadi, sebenarnya hal kau kejar itu tidak cukup pantas untuk kau perjuangkan sekeras itu,” Jonghyun melanjutkan ceramah umumnya, karena KiBum sudah kabur, maka Ji Hye yang jadi sasaran.

Ji Hye menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ampun deh Oppa. Kumat lagi ya penyakit filsuf-nya? Klo ngomong ama aku tuh gak usah pake bahasa dewa gitu,” menyeringai lebar, “Bilang aja –ngapain kau ngejar KiBum, playboy berdarah dingin gitu aja kok disenengin. Banyak namja lain, aku misalnya-.” Ji Hye menirukan suara dan mimik Jonghyun, membuat Jonghyun ikut-ikutan menyeringai lebar, membenak ‘yeoja ini memang unik, sangat terus terang dan apa adanya’.

Ji Hye menghela nafas, “Klo dipikir-pikir, Oppa bener. Banyak namja yang jauh lebih keren dari KiBum. Ji Yong misalnya, atau Oppa. Oppa tentu jauh lebih keren dari KiBum. Tapi… masalahnya, aku sukanya sama KiBum. Aku juga gak tau kenapa. Oppa pahamkan? Kadang-kadang, rasa itu gak perlu alasan, gak perlu motif, apalagi modus operandi. Hehehe….”

“Seperti kau yang sebal pada Ji Yong? Tanpa alasan?” Tanya Jonghyun meledek.

Lagi-lagi Ji Hye menyeringai, “Tu Oppa paham. Oppa emang pinter deh.”

***

Beberapa minggu kemudian.

“Jonghyun Oppa!!” Seru Ji Hye riang sembari menyodorkan kotak bento ke arah Jonghyun.

Jonghyun melihat kotak bento dengan sedikit heran, “KiBum pergi dengan Joo Ri,” dia mengira Ji Hye tengah mencari KiBum.

Ji Hye menggeleng, “Ini buat Jonghyun Oppa kok,” meletakkan kotaknya di tangan Jonghyun.

“Untukku?” Tanya Jonghyun, menatap Ji Hye lamat-lamat.

Ji Hye mengangguk dan tersenyum manis, “Ku buatkan khusus untuk Oppa, dengan penuh rasa cinta dari hati yang terdalam.”

Jonghyun tersedak mendengarnya, “Apa maksud kau?”

“Mulai hari ini aku memutuskan untuk putar haluan, bukan KiBum lagi, tapi Oppa. Jonghyun Oppa!” Seru Ji Hye penuh semangat.

“Bukannya kau menyukai Ki Bum?” Tanya Jonghyun heran. Dia ingat benar, terhitung beberapa hari yang lalu, Ji Hye masih setia dengan ritualnya, menyodorkan kotak bento bergambar sakura pada KiBum. Kenapa sekarang Ji Hye justru memberikan kotak itu padanya?

“Iya,” Ji Hye mengangguk tegas, “tapi, bukan berarti aku tidak boleh menyukai Oppa kan?”

“Kau? Menyukai 2 orang namja sekaligus?” Jonghyun menatap Ji Hye lamat-lamat “kedengarannya seperti….”

“Seperti playboy, eh, playgirl ya?” Ji Hye tertawa pelan “Tidak juga, aku tidak perlu membenci orang untuk mencintai orang lain kan? Aku berhenti Oppa.”

Jonghyun melipat dahi, “Berhenti?”

“Bukannya Oppa yang bilang, kalau orang bijak adalah orang yang tahu kapan dia harus berhenti? Aku mau jadi orang bijak, jadi aku berhenti. Bukan karena orang memintaku berhenti, bukan karena keadaan memaksaku, juga bukan karena aku tidak punya pilihan lain. Tapi lebih karena aku memang merasa, inilah saatnya aku berhenti.” Ji Hye menarik napas, memejamkan mata, terlihat benar menikmati udara segar musim semi. Seakan ingin menghirup semua energi positif yang ada.

“Kau… ada masalah dengan KiBum?” Jonghyun masih belum bisa menerima logika Ji Hye.

Ji Hye tertawa renyah, “Oppa terlalu banyak berpikir. Selama ini aku juga sudah bermasalah dengan KiBum. Aku hanya ingin bijak. Seperti pohon ini, Oppa lihat?” Menunjuk kearahku, “Dia juga bijak, dia selalu tahu kapan saatnya berhenti. Musim semi seperti ini, dia berbunga, banyak sekali. Tapi jika saatnya tiba, dia rela melepas semua keindahan itu, berhenti. Bukan untuk menyerah, tapi untuk bertahan, suatu saat nanti dia akan berbunga lagi. Lebih indah, lebih mempesona.”

“Kau mulai pintar berfilsafat,” Jonghyun menatap Ji Hye geli.

Ji Hye mengangguk, “Ketularan Oppa,” sahutnya ringan, “Eh, tapi bukan maksud aku pengen kayak pohon ini lho. Aku bukannya berhenti, kemudian memulai lagi dengan KiBum. Aku berhenti, dan ingin memulai lagi dengan Oppa. Jonghyun Oppa!” Tambahnya tegas.

Jonghyun menatap  Ji Hye lamat-lamat, “Kenapa aku?”

Ji Hye balik menatap Jonghyun, mengangkat bahu, “Entahlah, bukannya aku pernah bilang, kadang-kadang, rasa itu gak perlu alasan, gak perlu motif, apalagi modus operandi. Aku rasa, aku cinta pada Oppa. Ya sudah, aku tidak perlu alasan lagi kan?”

“Kau sudah tidak mencintai KiBum lagi?” Jonghyun menegaskan.

“Setiap orang punya tempatnya masing-masing di dalam hati. Cinta tidak akan berkurang apalagi habis hanya karena kita memberikannya pada orang lain, ” jawab Ji Hye diplomatis.

Jonghyun menghela nafas, “Apa yang kau harapkan? Pacaran denganku?”

“Kalau Oppa tidak keberatan, dengan senang hati.” Sahut Ji Hye ringan.

Jonghyun tercenung, sementara aku hanya bisa menatap Ji Hye… takjup? Entahlah, berpuluh tahun aku menjadi pengamat setia, belum pernah bertemu dengan orang dengan karakter seperti Ji Hye ini.

“Kalau aku keberatan?” Tanya Jonghyun ragu-ragu.

Ji Hye menyeringai lebar, “Tak akan berhenti, sampai Oppa tidak keberatan.” Jonghyun meneguk ludah.

Ji Hye tersenyum manis, bersenandung riang, beranjak pergi meninggalkan Jonghyun yang masih terus membenak, menimbang-nimbang.

“Ji Hye, berhentilah!” Seru Jonghyun, saat Ji Hye telah berjarak sepelemparan batu darinya. Ji Hye refleks berbalik, memasang wajah tak mengerti.

Jonghyun tersenyum lebar, berseru lagi, “Berhentilah! Dan… ayo kita pacaran!”

Ji Hye menatap bingung, tapi sejurus kemudian dia juga ikut tersenyum lebar.

Baik Jonghyun maupun Ji Hye tidak ada yang tahu, bahwa dari sudut lain, KiBum memandang keduanya dengan ekspresi… tak terkatakan. Terkadang, kau baru menyadari bahwa sesuatu itu ternyata berharga, tepat saat kau kehilangannya. Walaupun Jonghyun dan Ji Hye tidak menyadari kehadiran KiBum dan apa yang dia rasakan, tapi aku tahu.

Mungkin, bagi kalian aku hanyalah saksi bisu dari semua peristiwa ini. Saksi bisu dari sekeping kisah hidup anak manusia. Karena aku adalah Prunus japonica, atau lebih dikenal sebagai korean cherry….

 

FIN