HANTU??

“Hari ini ada ulangan apa?” Tanya Kakak itu, kali ini dia yang menghampiri Ara di atas menara air, tengah membaca manga One Piece. Sejak insiden kulit buah tenggaring waktu itu, Ara menjadikan menara air sebagai tempat favoritnya. Membawa novel atau manga, terkadang malah tidak membawa apapun, sekadar berharap bisa bertemu dengan Kakak Menara Air.

“Fisika,” jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Fisika, Matematika dan Kimia,”  tegas si Kakak . Ara menatapnya bingung.

“Kenapa kalau ulangan yang lain kamu nggak ke sini?” Tanyanya sambil tersenyum.

“Nggak punya sisa waktu ya? Atau malah, kekurangan waktu buat ngerjain soalnya?” Tambahnya lagi, tersenyum semakin lebar. Ara mencengir, paham apa yang dia maksud.

“Iya Kak. Cuma di 3 pelajaran itu aja. Pelajaran yang lain susah banget, apalagi Biologi. Kebanyakan bahasa latinnya tuh. Mana hapalannya seabreg-abreg. Bayangain Kak! Buku setebel itu, harus dihapalkan. Ada diplopoda, DNA, asetil CoA, bilirubin, zygomatikum, oryza saliva. Huh!” Sembur Ara bersungut-sungut penuh dendam.

“Oryza Sativa, itu nama latinnya Padi. Kalau saliva itu air liur,” sahut si Kakak dengan nada geli, membuat Ara menyeringai malu.

“Lebih kacau lagi kalau pelajaran Bahasa Inggris Kak. Seribu kali lebih ribet. Yang namanya tenses tu susah banget. Kapan harus pake have, kapan pake has, kapan had, kapan have been, kapan had been, kapan lagi has been. Pusing! Konpius deh!” Sembur Ara lagi, dengan dendam yang lebih berlipat-lipat dibanding waktu ngomongin Biologi.

“Confuse?” Tanyanya, dengan ekspresi yang juga berkali-kali lipat lebih geli dibanding tadi.

“Yap, itu. Konpius. Maaf nggak bisa ngomong EF , bisanya PE!” Jawab Ara, manyun.

Kakak Menara Air tertawa lepas. Suaranya merdu banget, apalah….

Ara menatapnya takjub, senyumnya aja udah manis banget, apalagi tawanya. Untung saja Ara orang Indonesia asli, kalau dia keturunan Jepang, pasti udah mimisan dari tadi.

Teeettt…

Suara sumbang bel memang nggak tahu situasi dan kondisi, selalu saja mengganggu kesenangan orang.

“Makan siang?” Tebak Kakak Menara Air saat melihat Ara beranjak dari pinggir menara air, menepuk-nepuk bagian belakang celana panjangnya. Ara mengangguk, menunggunya berdiri. Kakak menara air akhirnya sadar kalau Ara menunggunya, dia juga berdiri dan mulai menuruni anak tangga terlebih dahulu, Ara menyusul dibelakangnya.

Ahhhh…!!

Kakak Menara Air baru saja menjejakkan kaki di tanah,  saat Ara kehilangan keseimbangan gara-gara menginjak tali sneakernya sendiri. Ara hanya bisa pasrah, sedikit berharap si Kakak akan menangkapnya, atau paling tidak, tidak perlu terjerembab ke atas tanah karena tertahan punggung si Kakak.

Sedetik kemudian Ara telah berdebam, jatuh di tanah keras. Siku-nya berdarah ,tapi tidak terasa sakit sedikitpun, karena rasa terkejutnya jauh lebih besar.

Ara menembus Kakak Menara Air. Menembus. Menembus dalam arti kata sebenarnya. Seperti melewati kolom udara dingin, menembus tubuhnya. Wajah Ara terlihat sangat pias.

ORANG BUNIAN?? HANTU??

***

“ARGH!!” Teriak Ara frustasi, tidak sadar kalau saat ini dia sedang ada di dalam laboratorium biologi, mengamati irisan tipis bawang merah. Tentu saja, saat ini, semua mata tertuju padanya. Apalah….

“ARA!” Panggil Bu Norsinah, guru biologi Ara yang pintarnya minta ampun.

“Eh? Iya Bu? Maaf?” Sahut Ara bingung, nggak nyambung.

“Kenapa kamu berteriak seperti itu? Ada yang salah dengan preparat-mu?” Kali ini Bu Norsinah menghampiri Ara, ikut mengintip preparat melalui mikroskop.

“Oh, tidak Bu. Tidak masalah, preparatnya aman terkendali” Otak gadis benar-benar konslet. Bagaimanalah….

“Apa kamu sedang tidak enak badan? Sakit?” tanya Bu Norsinah setelah memandangnya cermat beberapa saat.

Yah, wajah Ara memang terlihat seperti orang sakit, sakit jiwa. Beberapa malam ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Ayolah, walaupun masalah makhluk halus bukanlah masalah baru baginya, tetap saja bertemu dan berinteraksi langsung dengan salah satu dari mereka akan membuat bingung. Bingung, ya, bingung, tidak ada kata lain yang lebih tepat. Akra terbiasa dengan fenomena makhluk halus, sejak SD sampai SMA, di SMA-nya yang lama tentunya, berkali-kali dia melihat sendiri temannya yang kerasukan. Menceracau dengan suara-suara aneh, meminta hal-hal aneh, melakukan hal-hal aneh dan memakan hal-hal yang lebih aneh lagi. Hidup bersama orang-orang Madura, Melayu dan terutama Dayak, membuatnya terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Salah satu sahabat dekat Ara di SMP adalah cucu seorang Dukun Suku Dayak. Jangan membayangkan Kakeknya itu seperti dukun yang menggunakan cincin akik sebesar telur angsa, atau dukun yang identik dengan kembang setaman dan kemenyan, apalagi dukun santet atau dukun beranak. Dukun yang maksud adalah tokoh tetua Suku Dayak. Percaya tidak percaya, temannya itu pernah membuat Ara bisa melihat makhluk halus, orang bunian. Dia bahkan bisa tahu kalau Ara sedang diikuti oleh sesuatu hanya dari baunya saja. Dia bilang, bau Ara seharian itu berbeda. Dan dia menebak dengan tepat, bahwa sehari sebelumnya Ara bermain di sebuah lahan berpasir yang ada ditengah-tengah kebun. Ya, dia bilang, jika seseorang menemukan sebidang pasir di tengah-tengah kebun luas atau hutan yang lebat, maka di sana ada semacam kerajaan mahkluk halus.

“ Ara, sebaiknya kamu istirahat di ruang kesehatan. Kamu kelihatan pucat sekali. Atau kamu ingin pulang saja? Nanti Ibu akan minta tolong pada perawat untuk mengantarmu pulang,” kata Bu Norsinah dengan intonasi cemas.

“Ehmm…, ya Bu. Terima kasih. Tidak, saya tidak ingin pulang. Boleh saya ijin untuk istirahat di ruang kesehatan?” Jawab Ara menceracau, untung saja Bu Norsinah paham. Beliau mengangguk bijaksana. Ara balas mengangguk, berlalu begitu saja dari ruang laboratorium, bahkan tanpa melepaskan jas lab dan sarung tangan nitrile-nya, tertunduk lesu menuju ruang kesehatan. Melewati Ryū yang menatapnya heran bercampur khawatir.

***

“Ara! Kamu sakit? Pucat banget. Sini tiduran di sini,” sambut Kak Susi, perawat sekolah. Ara melepas sarung tangan nitrile dan jas lab-nya. Kak Susi melakukan pemeriksaan standar.

“Nggak pa-pa kok Ara, suhu dan tensi-mu normal. Kecapekan ya? Minum susu coklat ya,” ujar Kak Susi lembut, menyodorkan segelas besar susu coklat panas.

“Kamu istirahat aja di sini, tidur. Kakak ada keperluan, nggak pa-pa kan ditinggal sebentar?” Tanyanya sambil mengamati Ara yang asyik menyeruput susu coklatnya. Ara tersenyum, mengangguk.

Susu coklat itu sudah tandas tak bersisa. Kak Susi belum kembali. Tidur? Kalau Ara bisa tidur, pasti sudah dia lakukan dari semalam. Bosan. Ara mulai mengelilingi ruang kesehatan, meneliti satu persatu persediaan obat Kak Susi. Iseng memainkan stetoskop. Bosan. Iseng memainkan tensimeter. Bosan. Melangkah ke pintu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Kak Susi. Bosan. Bersandar di bingkai pintu. Bosan. Jalan-jalan aja deh.

Ara kembali mengelilingi kompleks sekolahnya. Berhenti di depan ruang musik, pintunya sedikit terbuka, mengintip ke dalam, sepi. Gadis itu melangkah masuk, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Berkeliling, melihat-lihat alat musik yang ada. Iseng meraih gitar.

A E F#m C#m D A Bm E

A           E
Hei pujaan hati apa kabarmu
F#m               C#m
Ku harap kau baik-baik saja
D              A
Pujaan hati andai kau tau
Bm              E
Ku sangat mencintai dirimu

Aihhh… fales banget. Beralih ke piano. Bingung mau mainin lagu apa. Membolak balik partitur di atas piano. Busyet dah, klasik semua. Mendengus sebal. Mulai menekan tuts-tuts piano, lagu Ibu Kita Kartini mengalun, satu-satunya lagu yang Ara hapal notasi-nya. Selesai. Bosan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wah… ada alat musik bangsawan nih, Biola. Gadis itu nekat meraihnya, menjepitnya di antara dagu dan pundak kiri, rasanya nggak pas deh. Kelihatan nggak pantes, nggak pas. Nekat menggesekkan busur ke senar dengan serampangan, suara yang keluar persis suara angsa tercekik. Parah….

“ARA! BERISIK!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, menghentikan permainan biola yang berantakan. Tidak, tidak hantu-hantuan lagi. CUKUP.

Puuufffhhh…

Ara langsung menghembuskan nafas lega saat melihat Jung Gi muncul sembari menguap lebar dari balik set Gandang, Garantung dan Kangkanung di pojok ruangan.

“Kak Jung Gi, ngagetin aja. Ngapain Kakak di sini? Mbolos ya…?” Tuduh Ara jahil.

“Tidur. Kamu Ara kan? Temen sekelas Yoora dan Ryū? Ngapain di sini?” Jawab Jung Gi sambil menggeliat.

“Iseng-iseng aja, bosen tingkat akut,” sahut Ara sambil meletakkan kembali biola ke dalam casing-nya.

“Bosen?” Tegas Jung Gi.

“He-eh, banget!” Seru Ara.

“Jalan-jalan yuk. Suka mancing nggak? Aku tau tempat mancing yang asyik banget lho,” tawar Jung Gi. Ara membenak antusias, ‘Mancing? Menggiurkan. Eh, tapi berarti aku mbolos dong. Bodo ah, sekali-sekali, toh setelah praktikum ini pelajaran Bahasa Inggris bareng Miss Reni. Uaahhh… males banget.’

“Di mana Kak? Sungai apa teluk? Lewat padang Karamunting nggak?” Sambutnya antusias.

“Teluk. Kalau kamu mau ikut, ntar aku lewatin padang Karamunting. Gimana, ikut?” Tawar Jung Gi lagi. Tanpa ba-bi-bu, Ara langsung mengangguk mantap.

***

Ara melompat turun dari Jeep Wrangler Jung Gi, berlari menuju padang Karamunting. Takjub memandang hamparan semak Karamunting yang penuhi bunga  berwarna ungu muda dengan lima kelopak.  Ara mulai memenuhi kantong plastik yang tadi sengaja dai minta pada Acil Gayah dengan buah yang berwarna ungu tua kemerahan itu. Buah Karamunting besarnya seperti anggur hijau, kulitnya seperti beludru, tak licin mengilat, kecuali jika baru tersiram hujan. Aku memasukkan sebutir buah karamunting ke dalam mulut, mengunyahnya, rasanya manis berserat, tidak terlalu berair dengan biji bulat kecil-kecil.

“Heh, hati-hati. Nanti keracunan lho,” celutuk Jung Gi yang sedang asyik menjepretkan kamera DSLR-nya.

“Ini nggak beracun Kak. Emang belum pernah nyicipin ya? Enak!” Seru Ara sambil mengulurkan segenggam Karamunting matang kearah Jung Gi.

Jung Gi memakannya dengan ragu-ragu, tapi kemudian justru dia yang lebih semangat berburu buah Karamunting.

“Ara! Lanjut yuk, ntar malah nggak jadi mancing!” Seru Kak Jung Gi, memanggil Ara yang sedang asyik mencoba kamera.

***

Ara memasang umpan berupa udang kecil di mata kail. Melemparnya ke air, mereka sudah sampai di salah satu dermaga kecil di Teluk Kumai, memancing.

“Yiiipiii…” Seru Ara senang saat melihat ikan Tenggiri tergantung di ujung pancingnya.

“Kak, nggak usah maksa deh. Ikan di sini nggak doyan ama umpan sintetis begitu. Pake ini aja,” ujar Ara menyodorkan udang-udang kecil berwarna abu-abu kehitaman yang tadi ditangkapnya di cekungan air di pinggir teluk. Di Kumai, setiap genangan air, pasti ada ikannya, minimal udang deh.

Jung Gi memberengut sebal, membuang muka. Ara tergelak geli saat melihat mata kail Jung Gi justru hilang. Pasti di makan ikan buntal. Sesaat kemudian tertawa sampai mengeluarkan air mata melihat di ujung pancing Jung Gi tergantung pasrah seekor ikan buntal kecil. Menggembung memamerkan duri-durinya, matanya melotot. Ehm, tentu saja mata ikan buntalnya, bukan mata Jung Gi. Jung Gi akhirnya menerima udang kecil Ara.

Jung Gi duduk menjuntai di pinggir dermaga, masih belum menyerah. Ara sudah mulai bosan, berjalan-jalan disekitar dermaga. Melihat sebatang pohon rambai yang sedang berbuah. Meraih salah satu buahnya yang besar, kelihatannya sudah masak. Melepas pangkalnya yang berbentuk bintang enam sudut. Membelahnya menjadi dua, benar sudah empuk. Ara kembali menghampiri Jung Gi, duduk mencangkung disebelahnya. Mengulurkan buah rambai.

“Bisa dimakan?” Tanya Jung Gi ragu-ragu.

Ara mengangguk pasti. Sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jung Gi yang…. tidak terkatakan.

“ARA! MASAM BANGET!” Protes Jung Gi.

“ Kak Jung Gi kan tadi nanya-nya bisa dimakan enggak. Bukan nanya rasanya!” Sahut Ara, berlari menghindari tangan Jung Gi yang hendak menjitaknya.

***

“ARA! DARI MANA AJA KAMU?”

Ara baru saja menjejakkan kaki di lapangan parkir sekolah, turun dari Jeep, saat suara April menggelegar. Heran, hari ini banyak sekali orang yang memanggilnya dengan nada tinggi. April berjalan kearah Ara, meletakkan kedua tangannya dipinggang. Marah besar tampaknya. Dibelakangnya, beberapa teman sekelas Ara mengikuti. Beberapa tampak menghela nafas lega kemudian bubar jalan.  Ryū  menyorongkan ransel Ara ke dada gadis itu, menatap dingin kearah Jung Gi. Padahal, Jung Gi sudah ditarik oleh Yoora yang mengomel panjang pendek.

“Kau kemana saja? Seharian nggak keliatan. Di ruang kesehatan nggak ada. Nggak ikut makan siang. Mbolos jam pelajaran Miss Reni. Kami khawatir tau! Baru saja aku dan Ryū hendak mengecek apa kau sudah pulang ke rumah, sekalian mengantarkan tas-mu,” sembur Kak April dalam satu tarikan nafas. Hebat!

Tentu saja Ara hanya mencengir lebar.

***

“Aku bawa bekal kok Kak” Tolak ara saat Nadia mengajaknya ke kantin.

“Nggak pa-pa, makan bekalnya di kantin aja. Ayo!” Bujuknya lagi. Ara menggeleng sembari tersenyum. Akhirnya Nadia menyerah, pergi ke kantin sendiriran.

Ara menghela nafas panjang. Bagaimanapun, masalah itu harus jelas hari ini. Ara melihat ke atas menara air, Kakak itu tidak ada disana. Ara memutuskan untuk menunggunya, sembari memakan bingka kentang bikinan Bunda.

“Masalah nggak akan selesai hanya karena kamu lari dari masalah itu” Seperti biasa, tiba-tiba saja Kakak Hantu Menara Air sudah duduk menjuntai disebelah Ara.

“Kakak! Ngagetin aja!  Hantu ya hantu, tapi jangan gitu-gitu amat dong. Ara bisa mati jantungan nih!” Sembur Ara kesal, masih sedikit bingung, berinteraksi dengan makhluk halus. Tapikan dia sendiri yang memutuskan untuk memperjelas masalah ini. Kakak itu hantu, baiklah, ya sudah, itu kenyataan. Sederhana saja.

“Kalau nggak bisa dalam pelajaran tertentu, seharusnya kamu belajar. Bukannya malah mbolos begitu!” Lanjut Kakak Hantu Menara Air, seperti tidak mendengar protes Ara barusan.

“Biologi dan bahasa Inggris, iya kan?” Tambahnya lagi.

“Heh? Kakak ngomongin apa sih?” Tanya Ara bingung.

“Masalahmu!” Serunya jengkel.

Ara mambenak heran, ‘Masalahku? Masalahku kan dia, hantu menara air. Apa hubungannya dengan Biologi dan Bahasa Inggris?’ Menatap Kakak Hantu Menara Air, bingung.

“Kalau kamu sampai membolos seharian gara-gara nggak suka dengan satu pelajaran, berarti masalahmu sudah parah!” Semburnya.

‘Oh… itu maksudnya. Pelajaran-pelajaran menyebalkan itu,’ Ara mengangguk-angguk paham.

Kenali dirimu dan kenali musuhmu maka dalam seratus pertempuran engkau tidak akan kalah,” ucap Kakak Hantu Menara Air sembari menatap Ara serius.

“Kak, aku kan nggak lagi perang,” sahut Ara setelah beberapa saat menatapnya, bengong. Ara tahu itu ucapan Tsun Zhu dalam Art of  War, tapi apa hubungannya dengan dia?

“Maksudku, pertama-tama kau harus mengenali diri sendiri. Kau termasuk orang yang lebih mudah belajar secara visual, auditorik atau kinestetik. Kemudian kau juga harus tahu karakteristik pelajaranmu. Materi itu bukan untuk dihapal, tapi dimengerti dan dipahami” Kakak Hantu Menara Air benar-benar terlihat serius.

Jam makan siang hari itu terlewati dengan penjelasannya yang panjang lebar. Bukan hanya siang itu, tapi juga siang-siang setelahnya. Ara justru sibuk belajar bagaimana cara belajar yang efektif  dan efisien darinya, Kakak Hantu Menara Air.

***

“Ovum, sporofit, sporogonium, spora, protonema, gametofit.“ rapal Ara cepat, menghapalkan siklus hidup lumut di depan Kakak Menara Air, di atas menara air.

Teeettt…

“Aku duluan!” Cegah Ara saat melihat Kakak Hantu Menara Air hendak mendahului turun. Sampai sekarang Ara hanya bisa menyebutnya sebagai Kakak Hantu Menara Air. Bagaimana lagi, saat Ara bertanya siapa namanya, cowok itu hanya tersenyum bingung lalu berkata ‘Aku lupa’ . Bagus! Ara berteman dengan hantu hilang ingatan, tidak ada yang lebih aneh dari ini.

“ Aku kan lebih dekat ke tangga,” protesnya, heran.

“Nggak enak tau rasanya nembus hantu. Dingin!” Sembur Ara mengkal, mulai menuruni tangga.

“Hantu? Mana?” Tanyanya dengan tampang polos setelah mereka sampai di bawah.

Ara menunjuk batang hidungnya.

“A-aku…? Aku manusia, bukan hantu. Enak saja!” Serunya kesal.

Wehhh… hantu kok ngaku-ngaku manusia. Eh, tapi benar juga. Selama ini Ara juga merasa auranya biasa-biasa saja. Tidak terasa seperti mahkluk halus lainnya. Tapi… bagaimana mungkin?

“Mana ada manusia yang bisa ditembus. Nih, lihat,” kata Ara sambil meraih lengannya, berguman pelan,  “Tu… kan, tembus. Wiiii… dingin.” Ara segera menarik kembali tangannya.

“Eh, ya. Tapi aku manusia, MANUSIA!” Seru Kakak Hantu Menara Air sebal.

Manusia? Tapi bagaimana mungkin? Omong kosong soal arwah gentayangan, orang yang sudah mati tidak bisa kembali ke dunia dengan cara apapun. Mereka ada di alamnya sendiri, tidak bisa kemana-mana, sampai hari kiamat nanti. Lalu kenapa Kakak Menara Air ada di sini? Apa dia masih hidup? Kalau hidup, kenapa hanya jiwanya saja? Jasadnya kemana?

“Kak Jong…!” Tiba-tiba sebuah suara mungil terdengar, seorang bocah cilik berlari-lari ke arah Ara. Tersenyum lebar kepada Kakak Hantu Menara Air.

‘Hehhhh…? Dia bisa ngeliat hantu? Juga?’ Bisik Ara dalam hari.

“Kakak kok lama banget nggak maen sama Majid. Majid kan kangen,” rengek bocah itu manja.

“Majid…!” Suara Pak Udin terdengar memanggil.

“Nak Ara. Maaf, cucu saya mengganggu ya?” Tanya pak Udin ramah.

“Oh, ini cucu Pak Udin ya? Imutnya,” sahut Ara mencubit lembut pipi bocah itu.

“ Iya,” jawab bocah cilik itu. Pak Udin mengucak rambut cucunya.

“Majid, ayo pulang. Dicari Umak tu,” perintah Pak Udin.

“Indah ma! Majid handak maen dua Kak Jong,”1) tolak bocah itu, menepis tangan Pak Udin yang berusaha menggandengnya.

“Kak Jong siapa? Ini Kak Ara. Kak Jong sudah nggak ada. Maaf ya Nak Ara,” ucap Pak Udin dengan ekspresi sungkan.

“Ayo!” Kali ini Pak Udin menarik Majid yang berjalan malas-malasan, masih terus memandang kearah Kakak Hantu Menara Air.

Oh, jadi… Kakak menara air itu namanya Jong. Majid dan Pak Udin kenal padanya.

Ara segera mengejar Pak Udin, berjalan menjajarinya.

“Pak Udin. Kak Jong itu siapa?” Tanyanya tanpa basa-basi, membuat Pak Udin menatap Ara dengan alis bertaut.

“Nak Ara kenal?” Pak Udin justru balik bertanya.

“Eh, pernah dengar namanya. Kakak angkatan saya kan Pak?” tanya Ara, nekat. Ara nggak bohong kan? Dia memang barusan mendengar namanya dari Majid .

“Iya. Tapi bukannya Nak Ara baru masuk tahun ini, kok bisa kenal. Bahkan kalau Nak Ara sekolah di sini sejak kelas X, Nak Ara juga nggak akan ketemu Nak Jong, karena dia seharusnya sudah lulus saat Nak Ara masuk” jawab Pak Udin  panjang lebar.

Ara hanya mencengir, bingung mau bilang apa.

“Kak Jong itu orangnya baik Kak! Dia suka ngasih coklat. Malah pernah nganterin Majid ke rumah sakit,” celutuk Majid.

“Oya? Wah Kak Jong baik ya! Majid tahu sekarang Kak Jong tinggal dimana?” Tanya Ara sembari membungkuk, menyamakan tinggi dengan bocah cilik itu. Majid hanya menggeleng pelan.

“Nak Jong sudah tidak ada Nak Ara,” sahut Pak Udin.

“Maksud Bapak?” Ara menatap Pak Udin heran, ‘Apa Kak Jong sudah meninggal?’

“Dia kecelakaan beberapa minggu sebelum ujian akhir,” jelas Pak Udin.

***

“Aku masih hidup! Aku cuma nggak inget apa-apa kecuali tempat ini dan kamarku” gumam Kakak Hantu Menara Air, kesal. Siang ini, Ara sengaja nggak makan siang di kantin, walaupun Bunda juga nggak bawain bekal. Melaporkan hasil investigasnya. Kemarin gadis itu nanya-nanya lebih lanjut pada Pak Udin. Nihil, jangankan alamat, nama asli Kak Jong saja beliau tidak tahu. Waktu Ara tanya pada Jung Gi, dia juga nggak kenal yang namanya Jong. Ahh… coba dia ingat nama aslinya. Lebih gampang perkaranya. Ara bahkan sudah mengaduk-aduk foto-foto di album kelulusan, percuma, Jong memang belum lulus dari SMA ini kan?

“Kalem dong Kak. Aku percaya kok kalau Kak Jong memang masih hidup. Makanya aku mau mbantuin Kakak. Masalahnya, kenapa jiwa Kakak nyasar di sini, badannya ditinggal entah di mana,” sahut Ara sadis, nggak sensitif dengan perasaan Jong yang nggak punya jasad itu.  Jong hanya menunduk, memegangi kepalanya dengan kedua tangan, frustasi.

“Eh, Kakak barusan bilang apa?” Tanya Ara. Jong menatapnya bingung.

“Itu… tadi kalau Ara nggak salah denger, Kakak bilang, Kakak inget kamar Kakak. Iya kan?” Lanjut Ara lagi. Jong mengangguk bingung.

“Kakak bisa kesana?” Tanya gadis itu antusias, teringat kalau Jong pernah bilang dia bisa teleportasi ketempat-tempat yang dia ingat dengan jelas.

“Setiap malam aku tidur di sana. Kalau aku nggak sengaja ketiduran di sini, bangun-bangun aku juga udah di kamar,”  jawabnya lirih.

“Badan Kakak nggak ada di kamar?” Ara mengeluh kecewa. Jong menggeleng.

“Hmmmm… mungkin badan Kakak ada di rumah sakit. Tapi, rumah sakit mana?”

Jong bergeming  mendengar teori yang Ara kemukakan.

Footnote :

Gandang : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) alat musik perkusi sejenis gendang dengan ukuran setengah sampai tiga per empat meter. Bentuk silinder yang terbuat dari kayu dan pada ujung permukaan di tutup kulit rusa yang telah dikeringkan. Kemudian di ikat rotan agar kencang dan lebih kencang lagi diberi pasak.

Garantung : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) gong yang terdiri dari 5 atau 7 buah, terbuat dari tembaga

Kangkanung : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) sejenis gong dengan ukuran lebih kecil berjumlah lima biji, terbuat dari tembaga

Rambai : Pidada merah atau Perepat merah (Sonneratia caseolaris) adalah sejenis pohon penghuni rawa-rawa tepi sungai dan hutan bakau.

Umak (melayu banjar) : Ibu.

1)  : Nggak mau! Majid mau main dengan Kak Jong