Klotok dan Sungai Sekonyer

“HUAAA…. DINGIN!!!” Teriak Ara kaget.

“Ngapain bengong di kamarku? Kangen ya?” Goda  Tae Jong sembari melepas pelukannya.

“Kak Tae Jong! Udah dibilang berapa kali, jangan suka ngagetin, ntar Ara mati jantungan ni. Dasar hantu!” sembur Ara setelah sadar bahwa Tae Jong memeluknya dari belakang. Tae Jong hanya tersenyum. Cakep…. Apalah….

“Kok Kakak…?” Ara bingung bagaimana cara menanyakannya. Kenapa Tae Jong masih berwujud seperti ini? Kenapa dia balik lagi ke sini?

“Iya. Aku sudah coba masuk ke badan aku, tapi nggak berhasil. Padahal setiap aku tidur, rasanya aku masuk ke dalam badan aku. Sayangnya pas bangun, badannya ketinggalan, nggak nempel.” Tae Jong menjelaskan dengan ringan.

“Oh… gitu. Jadi sekarang nggak kebangun di kamar ini lagi ya?” Tanya Ara memastikan. Tae Jong tersenyum, mengiyakan.

“Trus, kok bisa ke sini? Jauh banget kan? Teleportasi?” Ara terus bertanya, antusias. Tae Jong menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.

“Kakak kok pucet sih?” Ujar gadis itu khawatir. Teringat kata-kata Tae Sung tentang kondisi Tae Jong.

“Capek mungkin. Teleportasi nyebrang lautan lumayan juga, nguras energi,” jawab Tae Jong lemah.

“Ya ampun, Kakak! Kalau gitu ngapain maksa ke sini? Nanti kondisi Kakak malah memburuk. Kapan sembuhnya kalau gitu?” Sembur Ara kesal.

“Kangen kamu. Eh, kata Tae Sung, lagi ujian akhir semester ya?” Tanya Tae Jong, bersandar di balkon, menghadap kearah Ara yang sedari tadi berdiri di pinggir balkon kamarnya -yang sudah disulap menjadi perpustakaan mini- menatap bintang utara.

“Hmmm…. Besok pagi hari terakhir, Biologi,” jawab Ara singkat, menunjukkan buku yang sedang dipegangnya. Berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sudah bersemu merah mendengar kata ‘kangen’ dari Tae Jong.

“Buku kok ditenteng-tenteng doang, bukannya dibaca,” protes Tae Jong dengan gaya marah yang kelihatan sekali dibuat-buat.

“Hehehe…. Soalnya waktu belajar soal protonema yang diinget malah Kak Tae Jong sih. Kangen. Sekarang Ara nggak ada temen belajar. Bosen banget.” Ara mencengir lebar. Tae Jong lagi-lagi tersenyum.

Ara histeris, ‘Huaaaaa…. Cakep! Apalah….’ Untung saja, hanya dalam hati. Tetap saja, wajah Ara merona merah.

“Ya udah. Sini aku temenin belajarnya. Maaf ya Dek, kmaren-kmaren nggak nemenin kamu. Padahal selama ini, Ara udah banyak mbantu dan nemenin Kakak,” sahut Tae Jong manis. Lagi-lagi, wajah Ara memanas.

“Mana yang belum ngerti?” Tanya Tae Jong sembari melirik ke buku biologi ditangan Ara.

“Glikolisis, siklus kreb, transfer elektron. Ribet!” Seru Ara frustasi. Bukan karena pelajarannya, tapi karena jantungnya yang berdebar kencang, efek senyuman Tae Jong.

“Sini!” Tae Jong berusaha menarik tangan Ara, maksudnya agar Ara lebih mendekat, tapi….

“DINGIN!” Ara justru berseru marah.

“Hehehe…. Maaf, lupa! Galak banget adek manis yang satu ini,” sahut Tae Jong, iseng menjawil pipi Ara. Nyaris membuat jantung gadis itu melompat dari rongganya.

“KAK! Dingin tau! Ntar kalo Ara masuk angin gimana?” Sembur Ara menutupi kegugupannya. Tae Jong justru menyeringai dan merentangkan tangan, seolah-olah mau memeluk Ara. Ara menatapnya waspada.

“Jadi ngajarin nggak nih? Kalau nggak jadi, pulang aja sana!” Usir Ara sadis, memberengut, merasa dipermainkan.

“ Iya…iya…. Jangan galak-galak dong. Tapi bayarannya apa?” Tanya Tae Jong jahil.

“ Hmmmm… jalan-jalan ke Tanjung Puting. Lusa,” sahut Ara mantap. Beberapa hari ini Ara ingin seklai ngajak Tae Jong ke Tanjung Puting, nggak nyangka dia malah muncul tiba-tiba seperti tadi.

“Tanjung Puting? Berdua? Ngajak kencan nih ye….”

Ampun deh ni orang, kalau lagi kumat, suka usil dan ke-pede-an nggak jelas.

“Yap. Berdua. Berdua puluh sekian, hehehe…. Bareng temen-temen sekelas, Ryū dan Kak Ken juga ikut,” jawab Ara, mencengir.

“Eh, bukannya lusa hari ulang tahun aku ya?” Ujar Tae Jong ragu-ragu. Ara mengernyit, mengingat-ingat, sejurus kemudian tersenyum, mengangguk.

 “Lho? Kakak inget kalau lusa ulang tahun?” Ara ingat, lusa memang hari ulang tahun Tae Jong, setidaknya begitulah menurut data hasil penyusupan.

“Enggak. Kemarin denger waktu Umma ngomong sama Tae Sung. Wah….tu bocah kecil, manja banget. Masih aja suka ngiri sama hyung-nya sendiri. Padahal hyung-nya aja nggak bisa ngapa-ngapain. Mendingan juga kamu kemana-mana, walaupun suka semrawut, tapi kadang-kadang bijak juga. Inget waktu aku protes? Kenapa aku harus ngalami hal kayak gini, hidup tanpa jasad, hilang ingatan pula. Waktu itu kamu yang bikin aku sadar, bahwa hidup itu adalah sebab-akibat. Segala yang terjadi dalam kehidupan bukanlah hal yang sia-sia. Pasti ada hikmah yang bisa diambil. Hmmm… kamu tahu nggak? Setiap ngobrol sama kamu, aku selalu ngerasa kalau segala urusan itu sebenarnya sederhana asalkan kita mau melihatnya dari sudut yang paling sederhana juga,” curhat Tae Jong panjang lebar.

Ara tersenyum geli, ‘Emang bener aku kayak gitu? Kok aku bijaksana banget ya? Ah, paling-paling itu perasaan Kak Tae Jong aja. Dia yang bijak, bukan aku.’

“Oh, jadi sekarang malah curhat nih? Kapan belajarnya?” sahut Ara, pura-pura ngambek.

Tae Jong tersenyum lebar. Kemudian mulai menjelaskan soal glikolisis dengan perlahan. Ara justru merasa, kalau Tae Jong-lah yang selalu berhasil membuat pelajaran serumit apapun, menjadi sederhana. Kali ini, Ara menatapnya dengan perasaan… kagum, mungkin. Entahlah, apa ya kata yang tepat?

***

Hari ini Ara dan teman sekeasnyai akan ke Tanjung Puting, melepas stress setelah seminggu berkutat dengan ujian akhir semester. Perjalanan pembuka, sebelum seluruh sekolah bubar, berlibur ke entah dimana sesuai keinginan masing-masing. Sepertinya sebagian besar ke Korea, Jepang, Amerika, Eropa atau negara antah berantah lainnya.

Ara? Tentu saja, ke Yogyakarta. Aku sudah menyusun jadwal perjalanan. Cukup padat, mulai dari Kraton, Sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan, Jazz Mben Senen di pelataran Bentara Budaya, berkunjung ke Institut Seni Indonesia di Sewon, Bantul (sekalian menengok penyu di Pantai Samas). Dan… masih banyak lagi.

“Ken! Ryū mana?” Seru April dari pintu bis.

“ Itu!” Tunjuk Ken ke arah kamar kecil, Ryū terlihat baru keluar.

“Buruan Ryū! Kita sudah mau berangkat!” Panggil April pada Ryū yang langsung berlari menghampiri bis.

Ryū celingak celinguk begitu masuk ke dalam bis. Semua kursi terisi, entah oleh manusia, gitar, backpack, setumpuk cemilan atau apapun itu. Kecuali….

Bruk!

Ryū menghempaskan diri di samping Ara. Ara terbelalak menatapnya, sedikit berjengit. Yah… bagaimanapun, tetap aneh rasanya melihat Tae Jong ditimpa begitu saja oleh Ryū, walaupun, tentu saja, tembus.

“Kenapa?” Tanya Ryū, balik menatap Ara, heran.

“Eh… a-anu… itu… ehmmmm…,” Ara bingung bagaimana harus menjelaskannya.

“Deket-deket kamu auranya emang nggak enak,” ucap Ryū sembari menarik zipper hoodie-nya.

“Eh… soalnya kamu….” Ara semakin bingung. Ryū menatapnya curiga.

“Ehmmm…. Kamu nimpa Kak Tae Jong,” bisik Ara pelan, melihat ke sekitar, memastikan tidak ada yang sedang memperhatikan.

“HA??” Ryū terlonjak dari tempat duduknya, memandang gamang kursi yang tadi dia tempati. Menatap Ara lurus-lurus, mendesah berat. Ara balik menatap Ryū, bingung melihat reaksinya. Ryū tidak mengatakan apapun, berlalu begitu saja, bergabung dengan gerombolan Galang and The Gank di bagian tengah bis. Hemmm… akhirnya Ara bisa tenang, ngobrol berbisik-bisik dengan Tae Jong, di kursi paling belakang ini. Membicarakan segala hal. Kebun kelapa sawit, sarang burung walet, pencemaran sungai, penebangan hutan, banjir, longsor dan segala yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran mereka.

***

“Ara, ayo!” Jung Gi menarik tangan Ara. Gadis itu refleks memeluk lengan Ryū yang kebetulan berdiri disampingnya.

“Nggak mau! Aku mau ikut Kak Ken aja,” serunya menolak. Kakak kelas yang satu ini memang nggak pernah mau ketinggalan kalau ada acara jalan-jalan. Dia dan beberapa temannya dari kelas XII menyusul rombongan Ara di dermaga, tanpa basa basi ikut naik ke klotok yang disewa. Dan sekarang memaksa Ara ikut rombongan mereka. Mereka sudah sampai di Camp Laekey, Tanjung Puting dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil, hendak menjelajah hutan.

“Ikut aku tapi malah gandeng Ryū,” sahut Ken memberengut.

“Kalian pasti barengan kan?” Ara menatap Ryū dan Ken bergantian. Memohon melalui sorot matanya. Urusan Tae Jong akan lebih mudah kalau Ara satu kelompok dengan Ken dan Ryū, kan mereka sudah tahu perkara Tae Jong.

“Nggak, hari ini lagi musuhan,” jawab Ryū ketus.

Ara membelalak tak percaya, ‘WHAT?? Musuhan? Nggak mungkin!’

“Nggak peduli lagi musuhan, marahan atau udah cerai sekalipun. Aku bareng kalian!” Seru Ara ngotot, menarik lengan Ryū, meraih lengan Ken dengan tangannya yang satunya lagi.

Tentu saja Ara akhirnya berhasil membajak kedua orang itu. Urusannya dengan Ken dan Ryū memang selalu berhasil kan? Tentu saja, karena Ryū memang tidak pernah bisa menolak permintaan gadis itu, bahkan jika permintaan itu sejatinya membuat Ryū sebal setengah mati.

***

Mereka berkumpul lagi saat jam makan siang. Semua kembali dengan membawa tanda mata hasil melanglang buana-nya.

“Sayang nggak boleh di petik. Cantik banget!” Seru April bangga sembari memperlihatkan foto-foto anggrek hutan di DSLR-nya.

Galang and The Gank yang membawa asam jayau dan kantung semar. Yun Jae dan Dong Yoon dengan foto segala macam binatang keren. Mulai dari kancil, uwa-uwa, burung sindang lawe sampai buaya sinyong supit. Kelompokku membawa hasil interview dengan Ibu Birute – Profesor Birute Mary Galdikas, buah petiti, dan khusus Ryū, dia membawa carut panjang di lengan kirinya, bekas dicakar Orang Utan. Tentu saja, luka itu ada hubungannya dengan keusilan Ara.

Tapi yang paling keren adalah kelompok Jung Gi, mereka tidak membawa benda apapun. Tapi ceritanya luar biasa seru, tentang mengejar dan dikejar babi hutan. Wuahhhhh… sungguh hari yang luar biasa.

Selesai makan siang, mereka kembali menyusuri sungai dengan klotok, menuju Rimba Logde, Tanjung Harapan. Tempat itu tadi sengaja mereka lewati. Kata  April ‘Nanti saat perjalanan pulang, baru kita mampir kesini’, dia bertukar pandang dengan beberapa teman sekelasnya dengan ekspresi sedikit ganjil, ada bau-bau mencurigakan. Ara sempat curiga, tapi dia memilih untuk tidak ambil pusing.

 “Ini enak Kak. Manis” Ara menyodorkan buah petiti pada Jung Gi yang duduk menjuntai di atap Klotok. Tentu saja Jung Gi menatapnya curiga, teringat insiden buah rambai.

Akhirnya Jung Gi menerima buah petiti dengan ragu-ragu, sangat ragu-ragu memasukkannya ke dalam mulut, luar biasa ragu-ragu mengunyahnya.

“Hmmmm… lumayan,” ucapnya sembari memasukkan buah petiti yang kedua kedalam mulutnya. Ara tersenyum lebar. Mengulurkan asam jayau yang sudah dikupas setengah. Jung Gi menatapnya ragu. Ara mengangguk mantap sembari tersenyum, meyakinkan. Jongyun meraih asam jayau dari tangan Ara, memakannya.

“ARA!!” Teriakkan Jung Gi bahkan membuat seekor uwa-uwa yang sedang berayun di cabang pohon terkejut, semoga uwa-uwa itu tidak sampai jatuh berdebam ke tanah, kasihan. Ara segera mengambil langkah seribu, berlindung di balik punggung Yoora, menghindari Jung Gi yang melemparinya dengan asam jayau, buah yang berkali lipat lebih masam dari rambai.

***

“Saengil chukhahae Ken-kun!” Seru teman-teman Korea Ara, mendorong Ken kedalam kolam yang terletak di depan Rimba Lodge. Bukan kolam sih, lebih tepatnya sungai yang dipagari dengan papan kayu, supaya aman dari buaya. Sukses! Ken dengan sebal berenang di air sungai yang bening berwarna coklat teh itu. Ara hanya menatapnya prihatin, tidak ikut-ikutan menceburkannya, tentu juga tidak mencegah teman-teman yang lain. Gadis itu justru memikirkan hal yang tidak penting, ‘Kak Ken itu orang Jepang kan? Kenapa pula mereka ngucapin met ultahnya pake bahasa Korea?’

“Ulang tahunku sudah seminggu yang lalu,” protes Ken dari tengah kolam.

Ara melirik Ryū yang mengendap-endap, mendekatinya  dari belakang. Ryū tiba-tiba tersenyum jahat, ujung bibirnya naik sebelah. Tanda bahaya….

“WAAA…!” Teriak Ara panik, terlambat untuk menghindar. Ryū sudah menangkap pinggangnya, mengangkat dan….

Byurrrr….

Sukses menceburkan Ara ke dalam kolam, bergabung dengan Ken yang tergelak puas melihat gadis itu ikut basah kuyup.

“Selamat ulang tahun Ara!” Seru teman-temannya yang lain.

Ara mengutuk dalam hati, ‘RYŪ!! Awas kau ya! Ulang tahunku masih 3 minggu lagi. Lihat saja, kau pasti menyesali perbuatanmu ini!’

Ara memukul-mukul panik air disekitarnya, mulai menenggelamkan diri sedikit demi sedikit. Menghirup nafas panjang, menyelam jauh ke dalam sungai. Ken bergegas menyusul, tapi Ara justru mendorongnya naik. Memberi isyarat kedipan mata dan cengiran lebar, menyuruh Ken kembali ke atas. Ken ikut-ikutan mencengir, sepertinya dia paham maksud Ara. Secepat kilat berenang ke atas.

Entah apa yang diteriakkan Ken di atas sana, tapi beberapa suara orang terjun ke air terdengar beruntun. Beberapa sosok manusia terlihat, menoleh ke sana kemari, panik mencari Ara. Yang dicari malah menajamkan penglihatan, memastikan salah calon penolongnya adalah Ryū. Saat mata Ara menangkap sosok yang disasarnya, Ara segera membuat gerakan untuk menarik perhatian Ryū.

 ‘Gotcha!’ Sorak gadis itu dalam hati.

Ryū melaju kearah Ara, yang langsung pura-pura pingsan. Tanpa ba-bi-bu Ryū menghela Ara naik ke permukaan air. Mengangkat tubuh mungilnya ke tepi kolam. Suara-suara panik langsung menyambut mereka.

“Dia nggak pa-pa kan?”

“Ada luka?”

“Berdarah nggak?”

“Kau yakin melihatnya diseret buaya?”

“Tentu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri” Itu suara Ken.

‘Buaya? Bagus sekali Kak! Sekalian saja bilang aku dimakan ikan hiu!’ Rutuk Ara dalam hati.

Ryū  menepuk pipi Ara pelan, “Ara…Ara…. Jangan bercanda, bangun!” Suara Ryū terdengar jerih.

“Nafas buatan Ryū!”

‘WHAT??’ Ara sedikit panik mendengar usul itu.

“Kau yakin ada buaya di sini?”

“Yakin!” Suara Ken lagi, ngotot.

“Buruan Ryū! Nafas buatan”

 “AWAS RA! ADA BUAYA DARAT MAU NYIUM KAMU!” Kali ini Ken berteriak keras.

Ara buru-buru membuka mata, terkejut melihat wajah Ryū yang memerah, hanya terpaut 15 cm dari wajahnya. Kedua tangan Ryū bertumpu pada lantai papan kayu, di sebelah kanan dan kiri kepala Ara.

“Tapi aku baru tahu kalau wajah buaya darat bisa merah seperti itu,” seru Ken sembari tergelak tak karuan.

“KEN!!” Teriak semua orang, termasuk Ryū.

“KABUR!!” Seru Ken, berlari terbungkuk-bungkuk memegang perutnya, tawanya semakin keras.

Ryū menatap Ara garang, marah karena gadis itu telah sukses membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak saking khawatirnya. Ara hanya bisa mencengir lebar, mustahil kabur kalau posisinya seperti ini. Meronta keras saat Ryū mengangkatnya, berusaha menceburkan Ara ke kolam. Dan hasilnya, mereka berdua jatuh berdebam ke kolam, bersamaan. Tae Jong sempurna terabaikan.

***

Klotok menghilir mengikuti aliran sungai Sekonyer, pulang ke Kumai. Seluruh peserta perjalanan kali ini menghabiskan senja dengan gayanya masing-masing. Ada yang tiduran di dalam kabin klotok, memainkan gitar di buritan seperti Galang and The Gank atau duduk-duduk di dek atas seperti Ken, Jung Gi, Yoora dan April.

Ara? Dia sedang berdiri di haluan, melipat kedua tangannya di depan dada. Ryū duduk menjuntai ditepi ujung haluan, terbilang 2 meter didepan Ara. Tapi, kalau kalian punya indera keenam dan bisa melihat makhluk halus, kalian bisa melihat Tae Jong. Dia berdiri, tepat disebelah Ara.

“Selamat ulang tahun Kak Tae Jong” bisik Ara lirih, tapi cukup jelas untuk Tae Jong dengar.

Ara merasa sepasang tangan mencengkeram lengannya. Tae Jong memutar badan gadis itu 90°hingga mereka saling berhadapan, wajah Tae Jong terlihat lesi. Tiba-tiba saja Tae Jong sudah menarik Ara kedalam pelukannya. Ara merasa jantungnya mencelos, jatuh kedasar perut. Sejurus kemudian gadis iyu sadar, ‘Hangat?? Bukankah ini berarti Kak Tae Jong sedang mengerahkan seluruh energinya? Memegang gelas saja sudah membuatnya kepayahan, kalau terus seperti ini, bisa-bisa….’

“Ara… terima kasih atas semuanya. Ara adalah hal yang paling aku syukuri dari semua hal yang terjadi selama aku hidup tanpa badan. Ara… Farzana… Izzati…,” bisik Tae Jong lirih, mirip desahan.

Belum sempat Ara menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tubuh Tae Jong sudah menghilang perlahan, ditengah cahaya baskara yang merona jingga. Sepuluh menit Ara lalui dalam kebingungan, tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya, Ara memutuskan untuk bergabung dengan Ryū, menikmati jingga sembari duduk menjuntai di pinggir haluan.

***

 “ARA!” Lagi-lagi suara April.

“Bentar Kak!” Sahut Ara tanpa menoleh, menutup pintu kamar kecil dari dalam.

Gara-gara urusan kamar mandi, kali ini, Ara yang terakhir masuk ke dalam bis. Masih perlu beberapa jam perjalanan lagi untuk sampai ke rumah, menemukan tempat duduk yang nyaman menjadi hal yang sangat penting, apalagi dengan rasa capek dan kantuk yang tak tertahankan lagi.

Tinggal tersisa 2 kursi kosong. Ken mengisi salah satunya dengan kaki panjangnya, bersandar di jendela, tidur memenuhi 2 kursi sekaligus.

Ara tidak punya pilihan lain, menghempaskan diri disebelah Ryū, yang, jelas, langsung melempar tatapan garang. Siapa juga yang peduli?

Ryū melihat sesekeliling Ara gamang, mencari sesuatu yang tidak akan bisa dia temukan, Tae Jong.

“Dia udah nggak ada di sini kok. Udah pergi,” ucap Ara maklum sekaligus geli, teringat kejadian tadi pagi. Ryū mendengus malas, memakai earphones ipodnya, sepuluh menit berlalu dalam diam.

“Ryū,” panggil Ara sembari menatapnya. Ryū menoleh, balik menatap Ara, melepas earphones dari telinganya.

‘Cinta itu apa sih Ryū?’ Pertanyaan itu tersangkut dikerongkongan Ara, tidak terucapkan.

‘Apa benar apa yang aku rasakan pada Kak Tae Jong bisa disebut cinta? Aku bahkan belum genap 15 tahun. Tapi… bukankah cinta tidak mengenal umur? Dan bukankah umur tidak berbanding lurus dengan kedewasaan? Ah… mungkin ini hanya perasaan aneh yang timbul sesaat karena tadi Kak Tae Jong memelukku. Dia bahkan tidak lebih dari sebuah bayangan, jiwa yang sedang tersesat. Walaupun aku masih bisa merasakan hangat pelukannya, tetap saja semuanya terasa tidak nyata, lebih seperti sebuah mimpi.’

“Kamu sakit ya?” Tuduh Ryū sambil memegang dahi Ara, membuat gadis itu kembali ke alam nyata, tersadar. Entah sudah berapa lama dia memandangi Ryū sambil membenak. Ara menyeringai malas. Ryū mengendikkan bahu dan memasang kembali earphonesnya.

Ara menatap kegelapan di luar bis. Bosan. Melirik kearah Ryū yang sedang memejamkan mata. Ara mencabut salah satu earphones di telinga Ryū, memasangnya ditelinganya sendiri, ikut memejamkan mata.

Tidak terlintas sama sekali dalam pikiran Ara, bahwa hari ini adalah kali terakhir dia bertemu Kakak Hantu Menara Air. Ara benar-benar telah kehilangan dia, selamanya.

Footnote :

Klotok : perahu bermotor tradisional, biasanya digunakan di sungai terutama di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah