Penelusuran Jejak 1

“Kak Ken!” Panggil Ara. Ken bergeming, tidak memberikan reaksi apapun. Sibuk dnegan komputernya, di ruang OSIS.

“Kak!!” Ara menaikkan nada suaranya.

Ara memberengut sebal, berteriak keras, “MATSUMOTO KEN!!”

Ken menghentikan kegiatannya, entah apa yang sedang dia kerjakan.

“Tsk!! Berisik. Apa?” Tanyanya singkat.

“Ehmmm… mau minta tolong. Kakak kan ketua OSIS, punya data murid yang pernah sekolah di sini nggak?” Tanya Ara penuh harap.

“Buat apa?” Ken balik bertanya.

“Hmmm… aku nyari alamat salah seorang kakak angkatan kita. Ehmmm…. 3 tahun di atas kita. Penting!” Jawab Ara mencari alasan.

“Namanya?” Tanyanya lagi.

“ Jong,” Ara menyahut ragu.

“Nama lengkap, asli, bukan panggilan,” tuntut Ken.

“Nggak tau,” jawab Ara mencengir. Ken menatapnya curiga.

“Coba cari aja di album kelulusan. Tu disebelah sana,” tunjuk Ken kearah deretan buku di atas rak. Kembali berkonsentrasi pada komputernya.

“Nggak ada. Aku udah coba kmaren, di perpustakaan,” jawab Ara singkat.

“Dia belum sempat lulus,” lanjutnya karena melihat Ken tidak merespon.

“Kak!” Panggilnya sebal, Ken kembali tidak mengacuhkan Ara.

“Minta di Tata Usaha, bagian Kesiswaan,” sahut Ken singkat.

“Udah. Nggak di kasih, soalnya aku nggak tau nama aslinya. Aku juga nggak boleh minta data lengkap seluruh murid tahun itu. Nggak sesuai prosedur atau apalah gitu,” jelas Ara, menghiba.

“Ngapain kamu nyari alamat orang yang nama aslinya aja kamu nggak tau? Jangan-jangan ketemu aja belum pernah? Gimana cara nyarinya kalau begitu?” Ken mulai mengacuhkan Ara. Dia memutar badannya, duduk menghadap pada sandaran kursi.

“Sembarangan, aku sering kok ketemu dia,” sembur Ara mengkal.

“Nah, kenapa nggak nanya aja sama dia. Siapa nama lengkapnya, di mana alamatnya. Repot banget,” sahut Ken tak kalah mengkal.

“Dia hilang ingatan, lupa namanya siapa, rumahnya di mana,” jelas Ara ragu-ragu, merasa kalau alasannya kali ini terdengar aneh bin ajaib kuadrat.

“Kakak angkatan kita ada yang hilang ingatan dan nggak tahu rumahnya di mana? Jangan mengada-ada.”  Ken menatap gadis didepannya, tajam.

Ara balik melempar tatapan serius, ‘Aku nggak becanda Kak!’ pada Ken.

“Di mana dia sekarang? Aku mau ketemu!”  Ajak Kak Ken tegas, beranjak dari duduknya.

Ara menggeleng lemah, ‘Nggak mungkin Kak Ken aku ajak ke atas menara air kan? Lagipula, apa Kak Ken bisa ngeliat hantu?’

Ken menatap Ara tajam. Yang ditatap hanya bisa balik memandangnya, bingung bagaimana menjelaskan perkara ini.

“Kau menyembunyikan sesuatu,” tuduh Ken, telak. Ara gelagapan, tidak bisa mengelak ataupun berkomentar apapun.

“Maaf Kak, tapi aku nggak bisa cerita,” sahutnya pasrah.

Hening.

“Tolong bantu Ara mencari data tentang Kak Jong, tapi jangan bertanya kenapa. Bisa kan Kak? Tolong…. Ara mohon….” Ara mengeluarkan jurus pamungkasnya, menghiba sembari menangkupkan tangan di depan dada. Ken menghela nafas panjang.

“Percuma. Aku nggak punya akses komputer kesiswaan,” jawab Ken setelah beberapa saat.

“Bisa diretas lewat jaringan internet kan?” Tanya Ara antusias, merasa Ken mau membantunya.

“Komputer kesiswaan nggak dihubungkan ke internet,” sanggah Ken.

Ara membenak sendiri, ‘Kabar buruk! Berarti satu-satunya jalan adalah menyusup masuk ke ruang kesiswaan. Bagaimana caranya? Kalaupun berhasil masuk, pasti komputernya di password. Ah… kalau masalah password, Kak Ken bisa diandalkan. Satu-satunya masalah adalah bagaimana caranya masuk ke sana tanpa ketahuan dan tanpa meninggalkan jejak. Aku tidak punya keahlian membuka kunci. Menjebolnya dengan linggis? Heh? Memangnya aku pencuri amatiran, meninggalkan jejak sedemikian jelas. Kunci duplikat? Mungkin Pak Udin punya, tapi bagaimana cara mendapatkannya? Lagipula, kalau sampai terjadi sesuatu, Pak Udin bisa dianggap ikut terlibat. Tidak boleh!’

“Jangan bilang kau mau menyusup masuk ke sana!” Tuduh Ken memutus pikiran-pikiran Ara.

Ara mencengir lebar, mengangguk.

“ARA! Kau…!” Ken seperti kehabisan kata-kata.

“Sepenting itu? Sampai kau mau melakukan hal gila seperti ini?” tanya Ken menegaskan. Wajahnya serius sekali, seperti orang tengah menghadap calon mertua. Hahaha… perumpamaan apa ini.

“Penting sekali! Makanya, aku mohon dengan sangat Kak Ken mau menolongku,” jawab Ara tegas. Lagi-lagi, Ken menghela nafas panjang.

***

“Wah….untung saja ada Ryū. Hidupku terselamatkan!” Seru April girang.

Ini memang hari terakhir pengumpulan tugas TIK dari Pak Alfiansyah. Celakanya, DVD yang berisi  program aplikasi karya April justru terkunci di dalam lokernya, lengkap dengan laptopnya. Celaka dua belas-nya, kunci lokernya hilang entah ke mana. Celaka tiga belas-nya, kunci duplikatnya juga hilang entah ke mana. Celaka secelakanya, Pak Alfiansyah tidak mau tahu, apapun alasan April.

Untungnya, Ryū bisa membuka loker April. Kabar gembira buat April, kabar menjanjikan untuk Ara dan Jong. Apalagi saat Yoora dengan bangganya bilang bahwa Ryū pernah berhasil menghidupkan Jeep Wrangler Jung Gi. Biasa saja? Tentu tidak, karena Ryū menghidupkannya tanpa kunci! Ara merasa menemukan oase di tengah gurun, karena sudah seminggu ini rencana penyusupannya menemui jalan buntu.

Tapi harapan itu memudar dengan cepat, secepat dia datang. Ryū tidak mau membantu! Padahal Ara sudah memohon, menghiba, menyembah…. Ah, tidak sampai segitunya juga sih! Tapi gadis itu benar-benar sudah mengeluarkan semua jurusnya. Gagal.

Satu minggu berlalu dalam kebuntuan, lagi. Ryū tetap tidak berubah pikiran “Jelaskan semua detailnya, kenapa kau sampai harus melakukan ini. Nanti aku pertimbangkan lagi, mungkin aku mau membantumu!” Benar-benar keras hati.

“Ryū. Ayolah, ini penting sekali. Masalah hidup mati!” Ara masih mencoba membujuk Ryū lagi. Bukan Ara namanya kalau dia mudah menyerah. Ganbatte!

“Kalau tidak penting, aku nggak akan memohon-mohon kayak gini,” lanjutnya.

“Cerita dulu. Titik,”  tuntut Ryū.

“Nggak bisa. Tanda seru,” jawab Ara ngaco. Ryū melotot garang.

“Nanti kalau sudah waktunya, aku janji bakal cerita semuanya. Tapi nanti, nggak sekarang,” rayunya lagi. Ryū bergeming, mengabaikan Ara.

“Ryū. Ayolah…. Kak Ken aja nggak banyak nanya kok,” pinta Ara menghiba.

“Aku bukan Ken,” sahut Ryū ketus, tidak suka dibanding-bandingkan dengan cowok lain.

“Iya deh…. Ryū emang lebih baik hati dan lebih keren di banding Kak Ken,” rayu Ara sembari celingak-celinguk, memastikan Ken nggak ada disekitar sini dan mendengar apa yang barusan aku katakan. Ryū malah menatapnya dingin.

***

“Maaf Kak, tapi Ryū keras kepala, nggak mau mbantuin. Ara juga nggak ada ide lain lagi,” lapor Ara pada Jong, ditengah-tengah pelajaran tenses di atas menara air.

“Kamu ceritakan aja semuanya pada mereka,” sahut Jong.

“WHAT??” Seru Ara kaget, sok keinggris-inggrisan.

“Katanya mereka sahabatmu, jadi ku rasa nggak pa-pa kalaupun kamu jujur. Mereka pasti ngerti,” jawab Jong kalem.

“Ini masalah hantu Kak! Siapa yang bakal ngerti? Siapa yang bisa percaya?” Ara menyembur, kesal. “Bisa-bisa KakKen dan Ryū ngira aku gila sungguhan. No way!”

“Tapi sepertinya memang ini satu-satunya cara. Tolonglah! Aku nggak tahu mesti minta tolong siapa lagi. Cuma kamu satu-satunya orang yang bisa aku ajak komunikasi. Satu-satunya yang bisa ku mintai tolong,” ujar Jong, kali ini dia yang memohon. Ara menatapnya iba. Pasti nggak enak hidup sendirian begitu, tanpa badan, tanpa ingatan. Benar-benar sendirian.

“Iya deh. Nanti Ara coba lagi,” janjinya, ragu-ragu.

***

Ganbatte!! Semangat!!

Ara berusaha meneguhkan hati, berjalan menghampiri meja Ken dan Ryū di pojok timur kantin, bawah pohon ceremai. Bagaimanapun, masalah ini harus selesai siang ini juga.

“Kalau aku cerita, kalian janji mau mbantuin kan?” Tanyanya tanpa basa-basi. Mulai menceritakan semuanya, lengkap dari awal hingga akhir, semua info yang dia ketahui tentang Jong.

“Kau bercanda,” tuduh Ryū setelah penjelasannya selesai. Ken menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang dia dengar, menatap Ara tajam.

“Aku serius,” sentak Ara setegas mungkin, memasang wajah serius.

“ Itu hanya khayalanmu, halusinasi,” ucap Ryū ketus.

“Aku masih waras, bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang imajinasi,” Ara membantah mengkal.

“Tidak ada orang mati yang bisa kembali lagi!  Kebanyakan nonton film horor,” seru Ryū.

“Justru itu, dia belum mati. Jadi kita harus membantunya,” sahut Ara ngotot.

“Mungkin dia bukan manusia. Hantu, jin atau apalah. Kenapa kamu ngotot sekali mencari badannya?” Tanya Ken, membuat Ryū melotot padanya, seolah-olah berkata ‘Kau sama gilanya dengan Ara!’.

“Dia manusia, bukan hantu. Aku yakin. Baunya beda,” bantah Ara tanpa berpikir panjang, membuat Ken dan Ryū berjengit ngeri.

“Eh, maksudku auranya berbeda dari hantu atau mahkluk halus lainnya,” tambah gadis itu, namun justru menambah parah reaksi Ken dan Ryū.

“ARA!” Seru mereka serempak, membuat beberapa pasang mata menoleh.

“Baiklah. Setidaknya ajari aku caranya memecahkan password dan membuka kunci. Kalian tidak perlu ikut. Akan ku selesaikan sendiri,” pinta Ara setelah semua orang kembali sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ryū dan Ken bergeming. Ara menghela nafas panjang, frustasi.

“Ok. Buktikan kalau aku salah. Buktikan kalau Kak Jong itu tidak nyata. Buktikan kalau dia tidak pernah terdaftar di sekolah ini!” Seru Ara menantang, berusaha menggunakan logika terbalik. Tidak mempan, Ken tidak acuh. Ryū justru menyeringai sinis.

“Maaf Kak, aku sudah berusaha. Sekarang terserah Kakak, mau bagaimana,” ucap Ara pada kursi kosong didepannya. Tidak, tidak kosong. Sejak tadi Jong duduk di sana, melihat usaha Ara membujuk Ken dan Ryū. Lagi-lagi Ken dan Ryū berjengit ngeri.

Jong memandang Ara lurus-lurus, sepertinya dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Tiba-tiba Jong meraih gelas. Mengangkatnya. Ara menatap kejadian itu, bingung, bukankah Jong tidak bisa memegang apapun? Perlahan-lahan gelas itu melayang di atas meja. Ara, Kak Ken dan Ryū terpaku menatapnya.

“KAK!” Panggil Ara panik, bertepatan dengan gelas yang terhempas ke atas meja, menumpahkan isinya yang tinggal separuh. Jong terlihat sangat lemah, kelelahan, pucat pasi. Dia sempat tersenyum pada Ara sebelum akhirnya menghilang.

Ara, Ken dan Ryū bergeming. Shock, walaupun dengan alasan yang berbeda.

“Jadi? Mau membantuku?” Tanya Ara memecah keheningan yang mengambang selama hampir 10 menit.

“Aku ikut,” jawab Ken singkat.

Ara mengalihkan pandanganya pada Ryū.

“Baik. Tapi jangan pernah melakukan hal-hal seperti tadi didepanku,” sahut Ryū, memandang gamang kursi kosong disebelahnya.

***

“Cepat masuk! Aku berjaga disini,” perintah Ryū pada Ara dan Kak Ken. Luar biasa! Ryū bisa membuka pintu ruang kesiswaan hanya dalam waktu 10 detik. Ryū memang Naga! Keren dan bisa diandalkan. Ken buru-buru mendorong bahu Ara, masuk ke dalam. Sigap menghidupkan komputer, menderas tuts keyboard. Entah apa yang dia ketikkan.

“Wah, minta password ya? Duh….kira-kira apa ya? Tanggal lahir, nama suami, nama anak, bunga kesayangan…. Waduh… banyak banget Kak Ken. Kalau salah 3 kali, nanti kekunci lho!” Seru Ara panik saat melihat kolom permintaan password di layar komputer.

“Korban film,” ucap Ken datar. Dia malah memasukkan kepingan CD kedalam CD-ROM. Kembali menderas tuts keyboard. Layar menjadi hitam total, hanya ada kursor kecil berkedip-kedip di pojok kiri atas. Ken kembali menderas tuts keyboard, sekarang layar dipenuhi angka 1 dan 0 yang tidak berpola. Kode biner, bahasa pemrogaman komputer. Ah…. sudahlah, serahkan saja urusan ini pada ahlinya.

“Kak Jong-mu itu laki-laki kan?” Tegas Ken kemudian. Ara mengangguk mantap.

“Nih! Data semua murid cowok, 3 tahun di atas kita,” kata Ken, menunjuk layar komputer.

“Banyak banget Kak. Bisa dilihat satu-satukan? Ada fotonya?” Tanya Ara antusias. Ken mengetikkan sesuatu. Layar komputer menampilkan data seseorang, lengkap dengan fotonya. Berganti setiap Ken menekan tuts enter.

“Nggak ada?” Tanya Ken saat layar komputer kembali menampilkan foto yang pertama terlihat.

“Heeee…. Ulangi deh Kak. Pelan-pelan aja. Aku kan bingung,” sahut Ara sembari berusaha lebih konsentrasi menatap foto-foto itu.

“Stop! Balik Kak! Yang tadi!” Serunya tertahan. Ken menekan salah satu tuts. Ara meneliti foto yang sekarang terpampang di layar. Tidak persis sama, Jong yang di foto ini berkacamata dengan rambut sedikit panjang, poni belah tengah. Lebih keren dari hantunya. Apalah….

“Iya Kak. Ini dia. Kim Tae Jong.” Ara membaca nama yang tertera di layar. Menyodorkan flashdisk pada Ken.

“Memang kamu punya software yang bisa mbaca program ini?” Tanya Ken geli. Ara mencengir.

“Nggak bisa di convert? Ke word, pdf atau jpeg gitu?” Tanyanya. Berusaha menutupi kebegoannya sendiri. Ken menggeleng pelan.

“Di print aja ya?” Usul Ken, kalem.

***

“ARGH!!!” Lagi-lagi Ara berteriak frustasi. Untung saja ini di pinggir lapangan basket, bukan laboratorium.

Data hasil penyusupan tidak seperti yang dia harapkan. Hanya biodata umum dan semua nomor kontak yang tercantum sudah tidak aktif. Ada juga daftar panjang prestasi Tae Jong, sayangnya info ini sama sekali tidak membantu. Yah, setidaknya sekarang Ara tahu nama asli Jong.

“Kenapa?” Tanya Jung Gi, menghampiri Ara. Ara malah mencengir malu pada Ken dan Ryū yang mendelik kesal kearahnya.

“Hehehe…nggak pa-pa kok Kak,” sahut Ara pada Jung Gi yang sekarang duduk disebelahnya.

“Bosan tingkat akut lagi? Main paintball yuk,” ajak Jung Gi. Menggiurkan, tapi….

“Enggak ah, masih trauma diomelin Kak April,” jawab Ara, mencengir.

“Eh, Kak Jung Gi. Kakak kenal nggak dengan Kak Tae Jong?” Tanya Ara sembari menyodorkan foto yang berhasil didapat dari misi penyusupan kemarin.

“Oh, ini Tae Jong-sunbae kan? Dari mana kamu kenal dia?” Sahut Jung Gi setelah mengamati foto itu beberapa saat.

“Kak Jung Gi tahu alamatnya sekarang?” Tanya Ara langsung kesasaran.

“Hmmmm…?” Jung Gi bergumam sembari menatap Ara lekat-lekat.

“Tahu?” Desak Ara, tidak sabaran.

“Kabar terakhir yang ku dengar, dia kecelakaan dan dibawa kerumah sakit di Singapura. Tapi beberapa bulan kemudian dokter menyatakan menyerah dan mencabut semua alat yang mendukung hidupnya,” jelas Jung Gi.

“Tapi dia belum meninggal kan?” Seru Ara cemas.

“Aku tidak tahu pasti. Yang ku tahu keluarganya pindah ke Seoul,” jawab Jung Gi.

Seoul? Pantas saja semua nomor yang ada tidak aktif, kan semuanya nomor Indonesia.

“Kakak tahu alamatnya di Seoul?” Desak Ara antusias.

“Enggak.” Jung Gi menatap Ara penasaran.

“Ngapain kamu nanya-nanya soal Tae Jong-sunbae? Naksir ya? Wah…. Aku masih ada kesempatan nggak nih? Ara, daripada naksir dengan orang yang alamatnya aja kamu nggak tahu, mendingan dengan aku. Bagaimana?” Lagi-lagi Jung Gi mengedipkan matanya, lengkap dengan ekspresi jahil dan menggigit bibir bawahnya. Ganjen.

Bukkk…

“ARGH!!” Kali ini Jung Gi yang berteriak, passing Ryū nyasar ke kepalanya. Tapi… tunggu dulu. Sepertinya Ryū sengaja, karena saat melihat bolanya mendarat di kepala Jung Gi, Ryū justru menyeringai lebar.

***

“Pulang sekolah Neng?” Sapa Pak Dadang, satpam komplek, saat BMX Ara melintas kencang di depan pos penjagaan. Ara tersenyum lebar, mengangguk, tanpa mengurangi kecepatan.

Tiba-tiba Ara nge-rem mendadak, mbalik mendadak, istilah kerennya U-Turn. Iya nggak sih? Enggak penting deh.

“Kenapa Neng? Kok balik?” Tanya Pak Dadang heran.

“Hehehe… enggak Pak. Iseng aja, pengen maen catur dulu ama Pak Dadang,” jawab Ara mencari-cari alasan.

“Hayuk atuh, kebetulan si Tonar lagi patroli keliling kompleks, Bapak sendirian. Tapi nanti di cari ibu nggak Neng? Pan baru pulang sekolah,” sambut Pak Dadang ramah. Ara menggeleng.

“Nggak apa-apa Pak. Bentar doang kok,” jawabnya, mencengir.

“Aduh, bentar ya Neng. Ada yang mau lewat tu,” pamit Pak Dadang di tengah-tengah permainan catur. Buru-buru memencet tombol pembuka portal. Mengangguk ramah pada jeep wrangler yang lewat. Kak Jung Gi. Ara gemas ingin  menimpuk mobil Jung Gi dengan pion ditangannya, menggerutu sebal, “nggak sopan banget, mbuka kaca pun enggak.”

“Sombong,” umpatnya gondok.

“Nggak pa-pa Neng. Udah biasa. Anak sini yang mau ngobrol ama Bapak kan ya emang cuman neng Ara,” sahut Pak Dadang geli.

“Eh, Bapak kenal anak kompleks sini yang namanya Kak Jong?” Tanya Ara, akhirnya sampai pada tujuan utama.

“Jong? Enggak tu neng,” jawab Pak Dadang setelah kelihatan mengingat-ingat sejenak.

“Kalau Kak Tae Jong? Kim Tae Jong?” Tanyanya lagi, mungkin Tae Jong pakai nama aslinya.

“Enggak. Aduh neng, Bapak mah enggak kenal ama anak-anak kompleks sini,” jawab Pak Dadang.

“Nah, kalau nama tuan-tuannya Bapak hapal. Kalau nggak hapal mah berabe, bisa nyasar nanti tamu yang kemari,” lanjut Pak Dadang. Betul juga ya…. Hehehe…. Ara telmi nih.

“Berarti Pak Dadang tau dong rumahnya Pak Kim Chun Bae?” Tebak Ara, menyebut nama Ayah-nya Kak Tae Jong.

“Pak Kim Chun Bae ya? Hmmm…. Lho bukannya Pak Kim udah pindah ya Neng? Pan rumahnya sekarang sudah ditempati Neng Ara?” Pak Dadang justru balik bertanya.

“Hahhh…?”

“Aduh, bentar ya Neng. Ada yang mau lewat lagi,” seru Pak Dadang, tidak memperdulikan wajah bego Ara. Kali ini sebuah Ducati putih, Ryū dan Ken. Keduanya membalas senyuman dan anggukan Pak Dadang, menatap heran pada Ara yang masih terbengong-bengong kaget.