Pengkhianat 1

“Waktu kalian 3 jam pelajaran, 3 x 45 menit. Selesaikan soal yang saya berikan seteliti mungkin,” kata Pak Syarif seraya berkeliling membagikan soal dan lembar jawaban.

“Mulai!” Seiring aba-aba dari pak Syarif, serentak ke-12 penghuni XI IPA 2 mulai membalik kertas soal yang sudah beberapa menit tertelungkup pasrah di meja. Suasana kelas seketika hening, hanya suara gesekan pulpen dan kertas yang terdengar samar.

Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin mereka jalan-jalan ke Tanjung Puting, tiba-tiba saja, splash, 3 bulan berlalu. Sekarang para penghuni XI IPA 2 sudah kembali asyik berkutat dengan ujian tengah semester bersama Pak Syarif dan matematikanya.

 ***

Ara bersenandung pelan, berjalan riang menuju tempat BMX-nya terparkir rapi. Tentu saja gadis itu senang, apalagi yang lebih menyenangkan bagi anak sekolah daripada hari terakhir ujian? Hehehe….

Namun nyanyian Ara tiba-tiba berhenti, wajah gadis itu mendadak kaku, kehilangan ekspresi. Sesosok  cowok manis berkacamata melambai riang kearahnya, setengah berlari menghampiri Ara.

Ara mendesah kesal, “Kak Seta?”

“Lama banget nggak ketemu. Adeknya Kakak yang satu ini makin cantik aja,” seru cowok itu sembari berusaha memeluk Ara. Ara menepis kasar tangan yang merangkulnya, menatap cowok didepannya dengan pandangan penuh ancaman.

Seta tersenyum maklum, “Ara masih marah sama Kakak?”

“Kenapa Ara mesti marah? Kak Seta merasa punya salah?” Sahut Ara ketus.

Seta mengucak lembut rambut Ara, membuat gadis itu kembali menepis kasar tangannya. Mundur mengambil jarak dari Seta, kali ini Ara melempar tatapan garang ke arah kakak kelasnya, ehm, mantan kakak kelasnya sewaktu di SMA Kumai itu.

“Kakak kangen Ara,” desah Seta berat. Ara menaikkan sebelah bibirnya, sinis.

“Kakak tau, Ara marah karena Kakak ninggalin kamu buat kuliah ke Jakarta kan?” Tambahnya, melangkah mendekati Ara.

Ara kembali melangkah mundur, menjaga jarak, menjawab datar, “Itu hak Kakak. Urusan Kakak. Nggak ada hubungannya dengan aku.”

“Kakak memang bukan pacar yang baik, jarang nelpon kamu. Tapi sumpah, Kakak cinta sama Ara, Kakak kangen,” sahut Seta tidak peduli, kali ini dia nekat meraih tangan Ara, menarik gadis itu kedalam pelukannya.

Ara memberontak hebat, mendorong dada Seta kuat-kuat, membuat cowok itu mundur terjajar.

“Kakak bukan pacar aku! Dan nggak usah bawa-bawa sumpah segala. Pengkhianat macam Kakak nggak berhak mengucapkan kata sumpah!” Ara membentak keras, membuat Ryū yang baru saja sampai di tempat parkir menoleh kearah mereka.

“Ara bener-bener masih marah sama Kakak? Kakak pikir beberapa bulan cukup buat Ara berpikir jernih dan menyadari kalau Ara juga cinta sama Kakak,” ucapan Seta kali ini membuat Ara memasang ekspresi jijik.

Seta mendesah berat, “Kayaknya kita perlu bicara serius,” ucapnya sembari meraih tangan Ara.

“Lepas Kak! Ara nggak mau bicara sama Kakak lagi,” sentak Ara kasar. Namun kali ini Seta tidak main-main, dia memegang tangan Ara kuat-kuat.

Ara meringis kesakitan, “Lepas Kak!” Teriak gadis itu kencang-kencang.

“Lepas,” kali ini bukan Ara yang bicara, tapi Ryū. Sahabat Ara itu sudah menggenggam kuat pergelangan tangan Seta, menyentakkannya kasar dari tangan Ara.

Ara menoleh ke arah Ryū, meminta pertolongan lewat sorot mata.

“Jangan ikut campur. Ini urusan kami berdua,” sahut Seta datar tanpa merasa perlu melirik ke arah Ryū, kembali berusaha meraih lengan Ara.

Ryū menggenggam erat pergelangan tangan Ara, menarik gadis itu kebelakang tubuhnya. Sembari menatap Seta tanpa ekspresi, Ryū berkata datar, “Jadi urusanku kalau kau memaksanya.”

Seta menatap mata Ryū dengan pandangan kesal dan tersinggung, “Kamu siapa? Ikut campur urusan kami?” Seta memberikan penekanan pada kata ‘kami’, berusaha menegaskan situasi.

“Sahabat aku!” Seru Ara lantang dari balik punggung Ryū, memunculkan kepalanya dari balik lengan Ryū.

Seta menyeringai sinis ke arah Ara, “Sahabat? Kamu masih saja naif dan mengira kalau cowok dan cewek bisa hanya sekadar bersahabat?”

“Nggak semua orang seperti Kakak! Pengkhianat!” Sembur Ara.  Gadis itu keluar dari balik punggung Ryū, menatap Seta penuh amarah.

“Kakak bukan pengkhianat! Kita saling mencintai Ra. Hanya saja kamu belum menyadarinya. Kita hanya perlu bicara dari hati ke hati. Berdua,” ucap Seta tegas, memegang kedua bahu Ara.

Ara segera menggerakkan bahunya, enggan disentuh, menjawab tak kalah tegas, “Nggak ada yang perlu dibicarain lagi.”

Ryū menarik lengan Ara lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Seta, “Sebaiknya kau pergi. Ara tidak mau bicara denganmu.”

Seta menoleh ke arah Ryū, menatapnya lurus-lurus, “Kau tidak punya hak berbicara atas nama Ara.”

“Punya. Ryū punya hak. Dia sahabat aku. SAHABAT,” Ara menyalak marah.

“Berhenti menyebutnya sahabat. Dia juga tidak lebih dari cowok lainnya. Tidak ada bedanya dengan aku. Aku sayang kamu Ra! Sangat sayang,” seru Seta mulai frustasi, terlebih saat melihat tangan Ara yang sekarang melingkar di lengan Ryū.

Ryū menghela nafas panjang, “Mungkin ada baiknya kalian bicara baik-baik,” ucapnya sembari menatap mata Ara lekat-lekat. Ara menggeleng kuat-kuat, mempererat pegangannya ke lengan Ryū, menatap balik mata Ryū, “Pulang Ryū. Anterin aku pulang.”

Ryū meneguk ludah, mengalihkan pandangannya ke arah Seta, “Maaf, sudah sore, kami pulang duluan,” pamitnya pada Seta. Sedikit terhuyung karena Ara sudah menariknya ke arah parkiran, tempat Ducati putihnya berada.

“Kita perlu bicara Ra! Besok aku datang lagi,” seru Seta pantang menyerah. Ara bahkan tidak merasa perlu untuk sekadar melirik ke arah cowok yang sekarang berdiri lesu itu.

***

“Aku benci banget cowok impulsif macam dia. Nyebelin banget. Dulu ngaku-ngaku sahabat, kakak. Tiba-tiba bilang cinta, sayang, bla-bla-bla. Sinting. Kirain tulus sahabatan, tulus nolong, tulus mbantuin, ternyata palsu, ada maunya,” sembur Ara bersungut-sungut.

Sepanjang perjalanan pulang, di atas motor Ryū , gadis itu masih saja mengomel panjang lebar, “Tau nggak Ryū? Aku dah nolak dia terang-terangan. I’m just not in to him. Bukannya ikhlas, nerima, dia malah kebanyakan nanya. Kenapa? Kok bisa? Bukannya kamu juga suka aku? Selama ini kamu juga suka ama aku kan? Kepedean banget, kegeeran abis. Nggak mau ya nggak mau, ngapain dia mesti nanya ‘kenapa’ segala? Enggak ya enggak. Susah banget sih dibilangain.”

Ryū menghela nafas berat, membelokkan Ducatinya.

“Eh, Ryū. Kita nyasar ya?” Tanya Ara bingung, “Ini bukan jalan pulang kan?”

Ryū tidak menjawab, dia justru menambah kecepatan. Membuat Ara panik mencari pegangan, buru-buru meraih pinggiran pinggang jaket Ryū, mencengkeramnya kuat-kuat. Diam-diam Ryū tersenyum senang. Ternyata, aksi ngebut Ryū berhasil membungkam mulut Ara. Gadis itu sekarang justru asyik mengikuti liukan motor dan kencangnya angin yang menerpa wajahnya. Sesekali menjulurkan leher melewati bahu Ryū, mengintip ke depan.

***

Ternyata Ryū membawa Ara ke sebuah dermaga kecil di hulu Teluk Kumai, dermaga yang sama dengan dermaga tempat Ara memancing ikan buntal bersama Jung Gi.

Ara menatap bingung dermaga itu, “Ryū, ngapain sih kita ke sini?”

“Sini, duduk,” ucap Ryū, menepuk lantai papan kayu dermaga disebelahnya, tidak mengacuhkan pertanyaan Ara.

Ara menggembungkan pipi, merasa tidak ditanggapi. Ryū benar-benar mengabaikan Ara, cowok itu justru asyik mengamati riak-riak air teluk yang berwarna kecoklatan. Ara akhirnya menyerah, ikut duduk menjuntai disebelah Ryū. Mengamati wajah cowok itu dari samping. Wajah dengan garis muka yang tegas, tapi tetap memancarkan keramahan dan kelembutan, membuat Ara betah memandangnya berlama-lama. Merasa nyaman dan… terlindungi.

“Ehm,” Ryū berdehem, “Segitunya ngeliatin aku. Jatuh cinta baru tau rasa,” tambahnya, menyeringai jahil pada Ara.

Ara gelagapan dibuatnya, membuang muka jauh-jauh, menghindari tatapan Ryū.

“Aku nggak mau jatuh cinta ama sahabat sendiri,” sahut Ara pelan, lebih mirip keluhan.

Ryū menatap gadis disebelahnya lurus-lurus, berbagai pikiran melintas dibenaknya. Saat Ara tiba-tiba menoleh dan mata mereka bersirombak, spontan keduanya memalingkan muka. Ryū mengeluh dalam hati, menghela nafas panjang, mendongakkan wajahnya ke langit dengan mata tertutup.

Ara terkekeh pelan, “Ekspresi, eh, pose kamu keren banget. Kayak yang di manga-manga.”

Ryū tetap mempertahankan posenya selama beberapa saat, menghirup dan menghembuskan nafas berlahan-lahan, berusaha mengontrol emosi dan perasaannya sendiri.

Lama-lama Ara bosan dengan aksi autis sahabatnya. Dia menusuk–nusuk lengan Ryū dengan telunjuknya, kesal setengah mati karena Ryū tetap bergeming.

“Ryū…. Ryū…. Ryū….” Panggil Ara berkali-kali, semakin lama semakin keras dan dekat ke telinga cowok disebelahnya.

“Ryū!! Tidur apa mati sih??” Teriak Ara keras-keras, tepat di depan telinga Ryū.

Yang dipanggil tetap diam saja, membuka mata pelan-pelan, menoleh tiba-tiba, membuat wajahnya dan wajah Ara hanya berjarak beberapa centi, “Berisik!” Desisnya pelan. Ara justru terlonjak kaget, wajahnya seketika merona merah.

Ryū menjauhkan wajahnya dari wajah Ara, menyeringai menang, “Merah ni ye….” celutuknya, menunjuk muka Ara.

Ara bersungut-sungut tidak jelas. Memukul bahu Ryū keras-keras, tapi tidak bisa, karena Ryū sigap menangkap tangannya.

“Udah baikan nih? Nggak ngomel-ngomel lagi?” Tanya Ryū kalem, memainkan jari-jari tangan Ara.

Ara menghela nafas panjang, menarik tangannya dari genggaman Ryū, sebal karena teringat masalahnya dengan Seta.

“Kenapa sih cowok tu susah banget dingertiin?” Keluh Ara pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Ryū tersenyum bijak, “Cewek juga susah dingertiin.”

“Aku nggak benci sama Kak Seta. Aku justru ngerasa nggak enak karena udah nolak dia buat jadi pacar aku. Tapi aku nggak suka sama cara dia nge-hina persahabatan antara cowok dan cewek. Dia dengan arogannya bilang klo cowok dan cewek tu nggak bisa sekadar sahabatan. Pasti ada rasa yang lebih dari salah satu pihak. Seolah-olah, nggak ada cewek ato cowok yang bener-bener tulus sahabatan, tanpa berharap klo suatu saat sahabatnya bakal jadi pacar dia,” Ara menarik nafas, kemudian menambahkan, “Aku juga nggak suka ama sikap impulsif Kak Seta. Liat sendiri kan gimana sikap dia tadi? Malu-maluin banget. Untung cuma Ryū yang liat, klo yang lain, klo Kak Jung Gi, mau ditaro dimana muka aku? Habis deh diledekin setaun penuh. Belum lagi sikap Kak Seta yang sok dewasa, padahal menurutku justru kekanak-kanakan. Iya sih, kata orang, biarpun udah ditolak, tapi harus pantang menyerah. Tapi kan, kita juga harus tau kapan sebaiknya kita berhenti. Iya kan Ryū?”

Yang ditanya justru asyik mengamati burung-burung walet yang pulang ke sarangnya, gedung-gedung kotak yang tersebar di sepanjang Teluk Kumai.

“Ryū…. Ndengerin nggak sih?” Rajuk Ara manja.

Ryū  tetap asyik mengamati walet, “Apa nggak sebaiknya diomongin dulu baik-baik? Mungkin, cuma mungkin lho ya, dia bersikap seperti itu karena saking sayangnya sama kamu,” ucapnya berat.

“Klo gitu, cara dia nunjukin rasa sayangnya aneh banget,” sahut Ara malas.

Ryū mengalihkan pandangannya, menatap Ara dalam-dalam, tepat di manik-manik mata gadis itu, “Cara orang ngungkapin perasaan itu beda-beda Ra, macem-macem, beragam.”

Ara mengedipkan mata berkali-kali, jengah ditatap seperti itu. Ryū justru mengejarnya, tidak mau melepas kontak mata, “Coba kamu bayangin, gimana sakitnya perasaan dia, dibenci sama orang yang dia sayang. Dia bahkan nggak tau dimana letak kesalahannya, karena kamu nggak mau ngomong.”

“Aku sudah ngomong, panjang lebar. Dianya aja yang ngotot, nggak mau ngerti. Aku nganggep dia sebagai kakak, nggak kurang dan nggak lebih. Dan aku nggak suka dia menyepelekan dan mengganggap klo persahabatan cowok dan cewek itu mustahil dan omong kosong,” jawab Ara tidak terima, berusaha menghindari tatapan Ryū.

Ryū tetap mengunci pandangannya pada manik mata Ara, “Seenggaknya, kamu bisa ngomong baik-baik. Sekali lagi, coba kamu bayangin gimana perasaan dia.”

Ara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, “Nggak usah dibayangin aku juga udah tau gimana rasanya. Aku tau banget gimana rasanya sayang sama orang yang cuma nganggep aku sebagai adik. Adik manis katanya,” ada kilatan pedih di mata Ara saat dia kembali menambahkan, “Tapi aku cukup tau diri, nggak impulsif berteriak klo aku suka sama dia. Nggak bikin dia nggak enak hati dan terjebak situasi aneh yang bikin nyesek karena udah matahin hati aku. Aku tetep jadi adik yang baik buat dia. Tetep…” Ara kehabisan kata-kata, tertunduk dalam.

Ryū menatap Ara dengan perasaan yang tercampur aduk. Kaget, tidak percaya, bingung, prihatin, nelangsa dan… patah hati. Dia tahu bahwa Ara, gadis yang menarik perhatiannya sejak pertama kali bertemu itu, menyukai Tae Jong. Lebih dari rasa suka seorang adik pada kakaknya. Tapi, ternyata, mendengarnya langsung dari mulut Ara, melihat langsung ekspresi terluka Ara saat mengatakannya, jauh lebih menyakitkan dari yang bisa dia bayangkan.

“Aku tau sikap aku ke Kak Seta itu salah, nggak adil. Tapi, aku udah dapet hukumannya kok. Lunas. Karma, emang mengerikan ya?” Keluh Ara lirih, tanpa mengangkat wajah.

Tangan Ryū spontan hendak meraih bahu Ara, menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya, sekadar menyalurkan sedikit perhatian. Tapi kedua tangannya memberontak, berhenti beberapa centi dari bahu Ara, jatuh terkulai di atas pangkuannya sendiri.

Burung-burung walet terus saja terbang, riuh rendah, pulang ke sarangnya masing-masing. Keheningan mengambang memenuhi dermaga kecil di tepi Teluk Kumai. Merembes dalam airnya yang coklat, berkilap-kilap keemasan tertimpa jingga matahari sore.

“Ryū, pulang.” Pinta Ara singkat, berdiri dari duduknya, menepuk-nepuk bagian belakang celana panjangnya, berjalan meninggalkan dermaga.

Ryū bergeming, masih berusaha menata hatinya.

“Ryū….!! Pangeran ber-Ducati putih!! Buruan. Tuan Putri mau pulang nih. Ntar kamu lho yang dimarahin Yang Mulia Bunda klo kita kemaleman,” teriak Ara tidak sabar.

Ryū sekali lagi mengulang pose kerennya, menghela nafas panjang, mendongak menghadap langit jingga dengan mata tertutup. Ara benar-benar sebal melihatnya, “TAKIZAWA RYŪ!!”

Ryū berjalan pelan-pelan menghampiri Ara, memencet gemas hidung gadis itu, “Nggak sopan!”

“Ehm, Ra. Apa menurut kamu,  sahabat nggak boleh jatuh cinta sama sahabatnya sendiri?” Tanya Ryū pelan, tersamarkan derum Ducatinya.

Ara mengernyit heran, “Eh? Apa?” Dia menjulurkan leher melewati bahu Ryū, berusaha mencari mata cowok itu. Usaha Ara sia-sia, karena Ryū tidak menoleh, dia tetap fokus pada jalan didepannya.

Ryū menghela nafas berat, “Aku nggak janji, bisa jadi sahabat kamu selamanya.”

Ara kembali melipat dahi, “Ngomong apain sih Ryū?” Teriaknya kencang, berusaha mengalahkan deru mesin dan desau angin yang menerpa kencang.

***

“Ara! Sini, gabung!” Panggil Ken dari tengah lapangan basket. Dia dan Ryū sedang man to man, hanya berdua saja. Hari sudah sangat sore, sekolah sudah sepi, hanya segelintir siswa yang tersisa.

Ara hanya menggeleng, mengangkat tinggi-tinggi Max Havelaar-nya Multatuli di tangan kanannya.

Ryū mendribble bolanya serampangan, mata cowok itu justru terfokus pada Ara yang duduk menjeplak di bawah pohon cempedak. Gadis itu sedang menekuri manga Chibi Maruko-chan ditangannya, asyik tersenyum-senyum sendiri.

“Tsk! Dia itu umur berapa? Lima, lima belas atau dua puluh lima?” Gerutu Ryū tidak jelas. Menatap tumpukan manga dan novel disebelah Ara.

Ken tertawa keras, “Tapi loe suka kan?”

Ryū menyeringai malas.

“Udah?” Tanya Ken sembari merebut bola basket dari tangan Ryū, langsung melemparnya ke ring, masuk.

Ryū menangkap bola, mendribblenya kalem, melakukan cross over, “Apa?”

“Nembak Ara,” jawab Ken, merentangkan tangannya lebar-lebar, mengimbangi gerakan lincah Ryū.

Ryū tersenyum kecut, “Dan berakhir seperti Seta? No way!”

“Coba aja dulu, belum tentu loe bakal bernasib sama dengan cowok itu,” Ken menatap pasrah Ryū yang berhasil melewatinya, melakukan slamdunk.

“Gue belom siap dibenci Ara,” sahut Ryū, melempar bola pada Ken, siap-siap defense.

“KEN!!”

Kedua cowok yang sedang asyik main basket itu serempak menoleh ke arah asal suara. Yoora berlari menghampiri mereka.

“Ada apa?” Ken dan  Ryū serempak bertanya, Ara berlari-lari kecil menghampiri mereka.

“Hiks, hiks, Oppa, Jung Gi oppa…” jawab Yoora sambil sesenggukan menahan tangis. Ara langsung merangkul bahu temannya itu, berusaha menenangkan.

“Tenang. Bicara pelan-pelan, Jung Gi kenapa?” Tanya Ken, memegang bahu Yoora.

“Hiks, Oppa… hiks, oppa… lengannya… hiks, ” Yoora masih belum bisa mengendalikan isakannya.

“Dimana?” Ryū bertanya dengan nada datar, menatap Yoora lurus-lurus.

Yoora meneguk ludah, “Eh, ruang musik.”

Tanpa berkata apa-apa, Ryū sudah berlari kencang ke arah ruang musik.

“Ryū!!”

Ara menatap heran kearah Ryū yang terus saja berlari tanpa menghiraukan panggilan Ken.

“Kau temani Yoora. Ajak dia ke ruang kesehatan,” perintah Ken pada Ara. Cowok itu segera berlari menyusul Ryū.

Ara membimbing Yoora ke ruang kesehatan, tak berhenti memeluk dan mgusap-usap lembut punggung gadis cantik yang masih terus terisak itu. Perlu waktu cukup lama sampai akhirnya Yoora sedikit lebih tenang. Ara melepas pelukannya, beranjak menuju meja Kak Susi, membuat teh.

“Memangnya Kak Jung Gi kenapa sih Kak?” Tanya Ara sembari menyodorkan mug berisi teh pada Yoora.

Yoora menyesap tehnya berlahan-lahan, mendesah panjang, “Aku nggak tau Ra. Aku… nggak ngerti. Jung Gi oppa… dia marah-marah ga jelas. Teriak-teriak seperti orang kesakitan, mbenturin kepalanya ke tembok. Bahkan… Jung Gi oppa… dia sepertinya ingin bunuh diri.”

Ara meneguk ludah, “Enggak Kak. Nggak mungkin Kak Jung Gi mau bunuh diri.”

Yoora menunduk dalam, “Lalu… kenapa Oppa menyayat lengannya sendiri?”

Ara kembali meneguk ludah, ‘Kak Jung Gi? Menyayat lengannya sendiri?’