Obrolan Tengah Malam

Jarum pendek weker bola basket di kamar Venus sudah menunjuk angka 12, tapi gadis itu masih gelisah, membolak-balik badan. Merapal mantra-mantra, upsss… maksudnya doa-doa, ayat kursi dan surat-surat pendek dari Juz Amma. Tetap saja, otaknya menolak untuk berhenti bekerja. Justru melayang kemana-mana, membenak yang tidak-tidak.

Gadis itu ber-puh panjang, mencoba jurus ala barat, menghitung domba. Bersenandung pelan, “Satu… dua… tiga… empat…,” dan seterusnya. Sampai pada hitungan ke 50, tiba-tiba gadis itu mengerucutkan bibir, mendengus sebal, “Woi! Dasar domba! Kenapa malah loe yang tidur? Aishhh…”

Venus menyibak kasar bedcover bergambar lebah yang membungkus rapat tubuhnya, melemparnya ke lantai. Menyambar gelas plastik di meja belajar, megegak habis air putih didalamnya. Menghela nafas, berjalan keluar, menatap lamat-lamat kamar sebelah, lampunya masih hidup, pintunya juga sedikit terbuka.

“Kak Rei…” panggilnya luar biasa pelan, nyaris berbisik. Suaranya mirip desauan angin, ehm… atau mungkin, mirip rintihan hantu Thailand.

“Masuk Ve, ga usah mendesah-desah,” sahut sebuah suara berat dari dalam kamar.

Ve mendorong daun pintu kamar kakaknya dengan sangat perlahan, berharap mendengar suara besi bergesek. Kecewa berat, walaupun kamar ini jarang ada penghuninya, pintunya jarang dibuka-tutup, ternyata engselnya masih bagus, sama sekali tidak karatan.

Rei menyambut adik semata wayangnya dengan senyuman tipis, sekilas, karena cowok jangkung berambut gondrong yang 6 tahun lebih tua dari Ve itu segera kembali autis. Sibuk dengan notebooknya.

“Kak Rei terlalu,” sembur Ve tanpa ujung pangkal. Menghempaskan diri di tempat tidur kakaknya, tidur menelungkup memeluk guling.

Rei melirik sekilas, tidak peduli.

“Udahlah jarang pulang, sekalinya di rumah, tetep… ngurusin kerjaan,” seru Venus, menatap galak kearah layar notebook kakaknya. Rei memang sedang membuat laporan penelitian, dia memang seorang peneliti muda di LIPI Bandung.

“Profesional Ve,” sahut Rei kalem, “Dikejar deadline. Malem ini harus kelar, jadi besok bisa langsung cabut ke Krakatau,” tambahnya.

Venus memberengut, “Tuh kan! Udah mo naik gunung lagi. Pasti deh, rumah cuma buat tempat mampir doang.”

“Ikutan naik yuk Ve. Rangga juga ikut. Tadi sore dia berangkat naek kereta dari Yogya, paling-paling besok subuh dah nyampe Senen.” Rei berusaha mengalihkan pembicaraan.

Venus memutar-mutar matanya, tertarik. Apalagi mendengar nama Rangga disebut-sebut. Ve memang nge-fans berat pada teman kakaknya -sewaktu kuliah di UGM- yang satu itu.

“Eh, bukannya mereka tinggal di Jakarta ya Kak? Pada ngelanjutin S2 di UI kan?” Tanya Ve sembari memiringkan wajahnya.

Rei hanya mengangguk, “Biasalah, hari-hari awal liburan mudik dulu. Sekadar absen ama keluarga, trus cabut lagi.”

Ve mengerucutkan bibir, sebel dengan kebiasaan Rei dan teman-temannya yang sebelas-duabelas itu.

“Kak Rei curang! Kak Rei kan tau aku blum punya hak cuti. Ve udah kebanyakan mbolos nih, ntar abis gaji Ve dipotong,” sahut Ve bersungut-sungut, teringat wajah bos-nya yang cakep tapi pelitnya minta ampun.

Rei terkekeh geli, “Lagian kamu juga, kecil-kecil udah kerja di pabrik, bukannya ngikutin saran mami buat ngelanjutin S2 dulu. Orang asyik liburan, kamu malah lembur terus.”

“Anak kecil apanya? Ve udah bukan anak belasan taun Kak!” Protes Ve sembari memberengut.

Yeah, selulusnya dari program sarjana di Departemen Kimia UI, Ve ngotot nggak mau kuliah lagi, gampang katanya, besok-besok juga bisa. Dia justru bekerja di sebuah pabrik Chemical Automotive di Kawasan Industri Manis. Walaupun papi dan mami nyaranin dia buat kuliah lagi, dengan alasan Ve masih terlalu kecil buat masuk dunia kerja -Ve bahkan belum genap 20 tahun saat dia diwisuda-, tetap saja Ve ngotot buat kerja. Alasannya, sayang nolak tawaran kerjaan bagus, deket rumah pula -naek sepeda juga nyampe-, sementara banyak sarjana cumlaude lainnya yang nganggur, justru sibuk cari kerja.

“Ve, klo mau tidur jangan di sini. Sana, ke kamar kamu sendiri,” perintah Rei saat melihat Venus sudah mulai tidur-tidur ayam.

Ve menggeliat malas, “Pelit amat sih. Tidur berdua kan gapapa,” gerutu gadis itu.

“Eh, udah balig nggak boleh cowok cewek tidur sekamar, walopun sodara kandung,” sahut Rei serius.

Ve memberengut, “Ngerti Kak. Kan dari umur 7 tahun juga udah disuruh pisah kamar. Ada hadist-nya kan?”

Rei tersenyum, “Tuh paham.”

Ve kembali membenamkan wajahnya ke bantal Rei, bau segar khas cowok.

“Ve jadi kangen….” Desah Ve tak jelas, terhalang bantal.

Rei mengalihkan perhatiannya dari layar notebook, memandang lamat-lamat adiknya dengan alis terangkat.

“Kangen? Siapa? Kakak? Tumben ngomong. Biasanya dipaksa aja nggak mau ngaku,” tanya Rei setengah tidak percaya.

Ve mengangkat wajahnya dari bantal, tersenyum sinis, “Kangen Kakak? Jelas dong! Jelas bukan! Ge-er banget deh!”

Rei menimpuk adiknya dengan gumpalan kertas, tentu saja Ve sigap menghindar, terkekeh geli.

“Kangen Rasulullah,” ucap Ve lirih.

Lagi-lagi Rei mengangkat alisnya, tapi kemudian tersenyum tipis. Sudah biasa, setiap kali suntuk, futur iman, Ve selalu mengungkapkannya dengan bilang ‘Kangen Rasulullah. Coba Rasulullah masih hidup, Ve bisa nanya ini, itu, bla-bla-bla-‘

Benar saja, Ve sudah merepet tidak jelas, “Coba Rasulullah masih hidup, Ve bisa nanya. Klo cewek jalan-jalan sendiri tanpa mahram kan nggak boleh. Trus, klo Ve ajak temen cewek lain, bisa dianggep mahram nggak? Klo bisa, berarti Ve boleh dong backpacker ama temen-temen, nggak usah nunggu Kak Rei bisa nemenin. Trus Ve juga bisa nanya soal banyaknya organisasi Islam yang kadang-kadang gimana… gitu. Ve juga mo na-”

“Kenapa nggak nanya ke Kakak?” Potong Rei cepat, “Temen cewek itu bukan mahram-mu Ve. Kamu udah tau kan siapa aja mahram buat perempuan? Dan, yang bisa jadi mahram buat perempuan itu ya muslim, laki-laki, balig dan berakal. Biarpun sodara kandung, klo blom balig nggak boleh. Sepupu juga bukan mahram,” jelas Rei panjang lebar.

“Tapi kan, mahram itu siapa aja yang nggak boleh dinikahi selamanya. Berarti aku boleh dong bermahram ke temen cewek, kan aku nggak bakal nikah ama dia?” Tanya Ve ngotot.

Rei memasang wajah serius, “Nggak gitu Ve. Mahram seorang perempuan itu, laki-laki dewasa yang haram menikah dengannya selamanya. Gitu definisinya.”

Ve memberengut, “Klo gitu, gimana ama temen kuliah ato temen kerja kakak yang kost sendirian itu? Apa karena mereka mukim, bukan bepergian trus boleh tanpa mahram? Trus,  para TKW kita yang kerja diluar negeri?”

Rei memutar otak, melipat dahi, “Setau Kakak, klo tujuannya belajar dan dia tinggal bareng perempuan-perempuan lain yang bisa dipercaya, ehm… misalnya asrama putri atau kost khusus putri, hukumnya boleh.”

“Klo kerja?” Sahut Ve cepat.

Rei kali ini benar-benar melipat dahi, ekstra hati-hati sebelum memberikan jawaban, “ lo udah terlanjur ya udah, selesaikan kontrak kerjanya. Tapi klo belum, ya jangan.”

Hening.

Rei mendesah berat, menatap adiknya yang sekarang duduk tegal memeluk bantal. Gadis itu tengah sibuk menggigit bibir bawahnya, kebiasannya sejak kecil jika sedang serius berpikir atau sangat fokus pada suatu hal.

“Kakak jadi ikut kangen Rasulullah ,” ucap Rei memecah keheningan.

Venus tersenyum manis, tertawa ringan. Rei membalas senyuman adiknya, kemudian kembali sibuk dengan notebooknya.

“Kak Rei,” panggil Ve, “Setan tu kasihan ya? Allah menciptakan mereka buat menyesatkan manusia. Setan udah ngelakuin tugasnya dengan baik, eh tapi ujung-ujungnya setan tetep masuk neraka. Kecuali klo mereka sebenernya seneng di neraka.”

Lagi-lagi, pertanyaan Ve sukses membuat kakaknya merasa perlu melipat dahi. Bukan karena Rei bingung apa jawabannya, tapi, heran kenapa tiba-tiba Venus menanyakannya.

“Lho, siapa bilang Allah menciptakan setan buat menyesatkan manusia? Allah kan udah tegas berfirman klo jin dan manusia itu diciptakan untuk menyembah-Nya. Wajar dong kalau mereka durhaka trus masuk neraka.” Tanya Rei pada adiknya.

Ve berjengit kaget, “Eh, emangnya setan termasuk golongan Jin ya Kak?”

Rei menghela nafas, “Setan itu golongan jin yang durhaka. Kamu tau kan klo jin itu ada yang durhaka tapi ada juga yang beriman?”

Ve mengangguk, “Oh, setan itu masuk golongan jin ya? Kirain Ve, makhluk tersendiri gitu. Ehm… klo Iblis, siapa Kak? Katanya Iblis itu malaikat yang durhaka ya?”

“Ada yang bilang begitu.Tapi klo menurut Hasan Al-Bashri dan Ibnu Katsir, Iblis itu termasuk golongan jin, bukan malaikat. Dasarnya surat Al-Kahfi ayat 50. Ehm, Hasan Al-Bashri juga bilang klo iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Nabi Adam merupakan asal-usul manusia.”

Venus mengangguk-angguk, sok paham, walaupun sebenarnya dia masih bingung soal hubungan setan, jin dan iblis ini.

“Udah ngerti?” Tanya Rei, curiga dengan ekspresi adiknya.

Ve justru hanya menyeringai lebar, “Sedikit. Tapi ya udahlah, daripada Ve bingung, mending Ve balik ke keyakinan yang utama. Allah tu Maha Adil, nggak akan berbuat curang sama hamba-Nya. Klo Allah menghukum, itu pasti karena emang yang dihukum pantas mendapatkan hukuman. Gitu aja deh Kak, Ve pusing.”

Rei tersenyum tipis menanggapi pernyataan adiknya, “Ada benernya juga omongan kamu. Mikirin soal Allah terlalu dalem, justru bikin kita bingung sendiri. Soalnya, akal pikiran kita emang nggak bakalan sampe.”

Ve kembali manggut-manggut setuju.

“Kamu kenapa, tengah malem tiba-tiba ngajak ngobrol soal beginian? Tadi pagi di pabrik trial produk baru ya? Keracunan solvent? ” Tuduh Rei tak berperasaan.

Ve hanya menyeringai, menguap, “Gara-gara nggak bisa tidur, pikiran Ve jadi ngelantur kemana-mana.”

“Nggak bisa tidur tapi nguap mulu,” tuduh Rei.

“Nggak tau nih, ngobrol ama Kakak bikin ngantuk,” sahut Ve asal, mulai beranjak menuju pintu, hendak keluar dari kamar kakaknya.

“Ya udah, sana cuci tangan, cuci kaki. Wudhu, sholat tahajjud. Trus tidur!” Ucap Rei dengan nada memerintah.

“Ve belum tidur sama sekali Kak, mana boleh sholat tahajjud?” Elak Ve, kembali menoleh ke arah Rei.

Rei bangkit dari kursinya, mendorong pelan punggung Ve, “Sholat Lail aja, trus sholat Witir. Tidur!”

Ve melenggang pelan menuju kamar mandi, menuruti saran kakaknya, berwudhu. Dia bahkan menyempatkan sholat hajat, minta agar Allah tidak membiarkan pikiran-pikiran liarnya membuat dia tersesat. Setelah menutup semua sholat sunat-nya dengan sholat witir, Ve akhirnya jatuh tertidur dengan mudah. Dia bahkan tidak sempat menggenapkan bacaan ayat kursinya, kalau biasanya 3 kali, kali ini hanya 2 setengah. Gadis itu keburu berpindah ke alam lain. Tidur nyenyak tanpa mimpi, salah satu anugrah yang patut disyukuri.