Memento of Ours – Lee Jinki’s Pendant

Author : yen

Main Cast : Kinsei, Lee Jinki (SHINee), Kwon Ji Yong (BIG BANG)

Support Cast : SHINee, Super Junior, Shun Oguri

Length : Oneshot

Rating : General

Genre : Friendship, Family, Romance

Inspired by : Storm’s Letter.

P.S : Buat yang pernah baca Venus:Vesper and Lucifer, FF ini juga bisa dianggap sebagai Epilog-nya

Seorang gadis berhoodie hitam dengan celana jeans dan sneaker berjalan menuju backstage SM Town Live Concert in Paris, wajahnya yang separuh tertutup hood tampak menoleh ke berbagai arah, mencari seseorang.

“Kin. Kinsei kan?” Sapa Yesung pada gadis itu, menunduk, mengintip wajah si gadis.

Gadis yang ditanya hanya mengangguk kecil, membuka hood-nya, tersenyum lebar.

“Aishhh, saeng Oppa yang paling galak, tambah cantik aja,” seru Yesung tertahan, karena saat dia berusaha memeluk Kin, gadis itu justru melangkah mundur, menghindar.

“Masih nggak suka dipeluk?” Protes Yesung sembari memberengut.

Kin menyeringai lebar, tersenyum tanggung. Kin tiba-tiba memeluk Yesung, sukses membuat namja itu tergagap sejenak, kaget dengan tindakan Kin yang diluar kebiasaan itu.

“Hmmm… mencurigakan nih. Seorang Kinsei, jauh-jauh dari Jerman ke Paris. Hayo… mau nemuin siapa?” Ledek Yesung sembari menarik lengan Kin menjauh dari anggota SuJu yang lain, ingin memonopoli gadis itu.

Kin lagi-lagi hanya menyeringai lebar, tapi dari arah matanya yang terus menatap ke suatu titik, Yesung langsung tahu.

“Onew ya? Hmmm… ku kalian selama ini tetap saling berhubungan. Aku sering melihatnya tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel. Pasti SMS darimu. Iya?” Tuduh Yesung, menggeser sedikit badannya, menghalangi pandangan Kin ke arah Onew yang tengah bersiap-siap, menunggu giliran tampil bersama anggota SHINee lainnya.

“Bukan. Aku jarang ber-SMS dengan Jinki Oppa. Kalau email, iya sih, sering,” elak Kin sembari tersenyum tanggung, teringat perkenalan pertamanya dengan member SM. Saat itu dia mendapat tugas dari Lee harabeoji untuk menjadi penulis naskah drama musikal untuk managemen artis terbesar di Korea. Sebulan penuh bekerja bersama mereka, membuat Kin cukup akrab dengan semua member SM. Sejak saat itu pula, hubungannya dengan Jinki mulai berkembang. Dan justru semakin dekat saat Kin melanjutkan program masternya di Freiburg, Jerman. Jauh secara jarak, dekat secara hati.

“Nah… benar gosip itu. Kau memanggil Onew dengan sebutan Jinki Oppa. Wah-wah-wah, kau ini. Pilih kasih. Kalau Onew saja kau panggil Oppa, seharusnya semua anggota SuJu juga kau panggil Oppa,” seru Yesung, menjitak Kin pelan.

“Iya, maaf Yesung-ssi,” jawab Kin terkekeh pelan.

Yesung memberengut, “Ya! Siapa yang menyuruhmu memanggilku Yesung-ssi. Yesung Oppa, itu yang benar.”

“Ya! Hyung, kau bicara dengan siapa?” Teriak Donghae pada Yesung.

Yesung buru-buru menaikkan hood Kin, berbalik, menyembunyikan gadis itu dari pandangan Donghae.

“Bukan siapa-siapa. Aku sedang bicara sendiri. Ah… dimana ya tadi jaketku,” elak Yesung, pura-pura mencari sesuatu.

Kin hanya tertawa pelan, paham maksud Yesung, jadi dia juga segera menunduk, bersembunyi di balik punggung Yesung.

Donghae hanya menatap Yesung dengan pandangan heran. Tumben sekali Hyung-nya yang satu itu bersikap aneh. Tapi ekspresinya mendadak berubah kesal saat melihat sesosok namja berkaos kuning berlari serabutan kearah Yesung sambil berteriak girang, “Kin Noona… Bogoshipo-yo!!”

Kin lupa kalau dia sedang bersembunyi, gadis itu sudah tersenyum lebar, berlari menghampiri orang yang memanggilnya. Keduanya berpelukan sambil berputar-putar.

“Ya! Ya! Ya! Kin, kau ini! Kalau sudah bertemu Taemin, kami semua dilupakan,” seru Yesung, menarik Kin dari pelukan Taemin.

“Ya! Hyung, kenapa kau berbohong? Kau tadi sedang ngobrol dengan Kin, iya kan? Sudah berapa lama? Kenapa tidak memberitahu yang lain?” Seru Donghae pada Yesung. “Kalian!! Sampai kapan mau bergandengan seperti itu?” Bentak Donghae, melirik ganas pada tangan Kin dan Taemin yang masih saling bertaut. Sukses membuat Kin dan Taemin terlonjak, serempak melepas pegangan mereka.

“Hyung, ada Kin Noona!” Teriak Taemin kearah keempat anggota SHINee lainnya. Hal yang sebenarnya tidak perlu, karena Key, Minho dan Jonghyun melambai riang pada Kinsei. Menyisakan seorang namja berjaket putih yang masih terpaku ditempatnya, menatap tak percaya Kin yang sedang tersenyum lebar padanya.

“Ya! Kenapa kau malah kesini? Sana, sebentar lagi giliran kalian tampil. Sana! Sana!” Usir Yesung dan Donghae bersamaan. Kedua berdiri di depan Kin, dengan tangan yang sibuk mengibas-ibas, mengusir Taemin. Donghae bahkan mendorong pelan bahu Taemin karena namja itu masih ngotot hendak memeluk Kin lagi.

“Hyung…!” Seru Taemin kesal.

Yesung melotot galak, “Sebentar lagi giliran kalian tampil, jangan mengacaukan konser. Sana! Pergi jauh-jauh.”

“Katanya, kalian pake sling segala ya? Asyik dong terbang-terbang.” Kin justru berjalan meninggalkan kerumunan yang semakin kacau, berdiri di samping Jinki, mengabaikan orang-orang yang sedang ribut tidak karuan.

Jinki tersenyum, mengangguk.

“KINSEI!!” Teriak Yesung dan Donghae, lagi-lagi bersamaan.

Yesung mendesah pasrah, “Ya udahlah. Klo Taemin sih masih bisa di lawan. Onew? Nyerah deh. Klo udah sama dia, Kin nggak bakal mo ngelirik kita-kita. Yuk,” ucapnya sembari menggamit lengan Donghae.

Donghae mengacak rambutnya, kesal, “Yang tua ngalah,” ucapnya lemas.

“Kapan sampai Kin?” Tanya Jonghyun.

Kin tersenyum, “Dari awal konser. Aku melihat penampilan kalian dari tempat penonton. Kebetulan dikenali oleh Manager SuJu, dia menarikku ke backstage,” jawabnya sembari mengangguk pada Key dan Minho, melingkarkan tangannya di pinggang Taemin yang sudah kembali merangkul bahunya.

“Oh, jadi sebenarnya kau tidak berniat menemui kami ya?” Tuduh Minho pada Kin, tapi justru melirik kearah Jinki.

Kin menyeringai lebar, “Bukan begitu. Dari awal aku memang ingin menemui kalian kok, tapi nanti kalau konser sudah selesai.”

“Kau terlihat pucat,” celutuk Key. Belum sempat Kin menyangkal, koordinator konser sudah memanggil SHINee, giliran mereka untuk perform. Kin mengepalkan kedua tangan, “Hwaiting!!” Serunya sembari tersenyum lebar menyemangati kelima namja itu.

Key masih menatap Kin lurus-lurus, sampai Jonghyun merasa perlu menarik tangannya untuk segera naik ke stage.

***

“Manager Hyung, kau lihat Kin Noona?” Tanya Taemin pada Manager SuJu.

“Hei! Ada yang lihat Kin tidak?” Seru Donghae pada semua orang.

“Sudah pulang Oppa!” Lagi-lagi, Yoona yang menjawab.

Sama seperti saat hari terakhir pertunjukan drama musikal, Kin lagi-lagi menghilang. Menyisakan keributan antara SHINee dan Super Junior.

Jinki mengecek ponselnya yang selama konser hanya dia letakkan begitu saja di atas meja rias.

1 Message Received

Read now?

Yes

From : Kinsei

Oppa, besok pagi kalian tidak ada jadwal kan? Ehm, aku ingin mengajakmu jalan-jalan keliling Paris. Berdua saja. Bisa? Jangan tersenyum begitu, aku tahu ini mirip ajakan kencan. Tapi… Oppa tidak keberatan kan? Aku tunggu di pintu masuk Musee du Louvre, jam 9 pagi.

***

Jinki akhirnya bisa mendapat ijin untuk jalan sendiri, berpisah dari rombongan SHINee. Bukan hal yang sulit menjelaskannya pada Jonghyun, Key dan Minho. Ketiga dongsaengnya itu terus saja tersenyum meledek dan menggodanya. Hanya Taemin yang sedikit terlalu polos, ngotot ingin ikut. Key sampai harus membujuknya dengan kartu kredit, janji shopping gratis di butik terkenal dan makan sepuasnya di restoran mewah.

Hanya saja, Key dengan wajah serius sempat berpesan pada Jinki, “Jaga Kin baik-baik ya Hyung. Sepertinya dia tidak dalam kondisi baik. Yang jelas terlihat, dia lebih kurus dan pucat. Tapi, aku justru lebih cemas pada sikapnya. Kin berubah. Keramahannya kemarin sedikit… aneh. Maksudku, dia dulu sikapnya sangat dingin, tapi matanya selalu hangat dan ramah. Sekarang justru sebaliknya, sikapnya luar biasa ramah, sering tersenyum dan tertawa, bahkan memeluk. Tapi… matanya sangat dingin.”

Awalnya Jinki sempat terpengaruh omongan Key, merasa perlu memperhatikan Kin lebih ekstra. Tapi setelah melalui 2 jam yang riang bersama Kin yang terus saja berceloteh, mengomentari banyak hal di Basilique du Sacré-Cœur. Menertawakan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Menarik tangannya kesana-kemari di Jardin des Tuileries, berjalan sambil bergandengan tangan disepanjang tepian sungai Seine, Jinki justru merasa, Kin yang sekarang jauh lebih menyenangkan.

Keceriaan Kin masih terus berlanjut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam sembari menatap Menara Eiffel yang bermandikan cahaya senja.

Drttt… drttt… drttt…

Kin melirik kearah ponselnya.

Dragon Calling

“Angkat aja Kin,” ucap Jinki, melihat Kin yang kembali melirik layar ponselnya, “Gapapa. Angkat aja,” tambah Jinki, meyakinkan Kin yang tampak menatap ragu kearahnya.

“Ngapain nelpon?” Sapa Kin pada orang diseberang.

“Ngapain?? Heh, seharian ini kau sudah nge-reject telponku 3 kali. Lagi sama siapa? Pembimbing? Sampe malem gini blum selesai?” Sembur Ji Yong. Kin terbiasa me-reject panggilan masuk saat bersama orang lain, misalnya dosen atau thesis advisor-nya.

“Jinki Oppa,” sahut Kin singkat.

Di seberang lautan sana, Ji Yong tersedak, “Oppa?? Oppa siapa?? Jinki??”

Kin menggangguk, tidak sadar kalau Ji Yong tidak bisa melihat anggukannya.

“Ngapain Jinki di Freiburg?” Tanya Ji Yong setengah tidak percaya.

“Bukan Freiburg. Paris. SM lagi konser di Paris, jadi aku sengaja ke sini,” jawab Kin ringan.

“Sengaja? Kau ratusan mil ke Paris buat nonton konser SM atau ketemu Jinki?” Tanya Ji Yong mengkal.

“Menurutmu?” Kin balik bertanya.

“KIN! Jangan buat aku marah. Mood-ku malem ini lagi nggak bagus. Aku nelpon kamu buat ngomongin masalah kita, bukan buat bertengkar. Juga bukan buat denger cerita klo kamu seharian ini jalan-jalan ngelilingin Paris bareng Jinki, berduaan doang. Jadi, jangan bilang klo kamu sekarang lagi kencan, makan ma-”

Kin memotong omelan Ji Yong, “Iya. Sekarang aku lagi dinner romantis ama Jinki Oppa. Di bawah menara Eiffel. Kenapa?”

Ji Yong mendesis kasar, “Aku nggak suka.”

“Apa hak kamu?” Sahut Kin dingin, “Bukan urusan aku, kamu mau suka atau nggak suka.”

“Venus!!” Seru Ji Yong frustasi, dia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Dia paling tidak tahan jika Kinsei sudah mulai bicara dengan nada dingin meremehkan.

Kin menyeringai sinis, “Pardon? You called me what? Venus? Listen to me, i’m not your Venus.

You are my unchanged Venus. In other word, you are mine. Remember it!” Sentak Ji Yong kesal, menutup sambungan telponnya.

Kin ber-puh panjang, meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.

Jinki tersenyum tipis, “Bertengkar dengan Ji Yong hyung?”

Kin menatap Jinki lamat-lamat, “Iya. Kami udah bertengkar seminggu ini. Akhir-akhir ini Ji Yong jadi over perhatian. Telpon setiap hari, SMS hampir setiap jam, bahkan email. Dia bilang perasaannya lagi nggak enak. Dia bilang, entah kenapa dia ngerasa klo aku menjauh dari dia. Ada yang aku sembunyiin dari dia. Aku sebel banget Oppa. Dia bukan siapa-siapa aku, well, dia sahabat aku. Tapi, bukan berarti aku harus cerita segala macem ama dia kan? Maaf Oppa, aku jadi curhat yang enggak-enggak.”

Jinki balik menatap Kinsei, “Gapapa. Aku suka klo kamu mau cerita. Setidaknya, aku ngerasa jadi Oppa sungguhan.”

Kinsei tersenyum geli, “Jinki oppa emang Oppa sungguhan kok. Aku bahkan bisa curhat soal segala macem ke Oppa. Hal-hal yang bahkan nggak aku bisa omongin ke Jae Hyun oppa ataupun Anii-chan, ternyata bisa aku omongin ama Oppa.”

“Wajar kalau Ji Yong hyung yang khawatir. Ngeliat kamu kurusan dan pucet kayak gini, senua orang juga bakal khawatir. Ji Yong hyung peka, bahkan tanpa ngeliat wajah kamu, dia bisa nebak kalau kamu lagi dalam kondisi nggak baik,” ucap Jinki lirih.

Kin menyeringai lebar, “Aku baik-baik aja kok Oppa. Yah, sedikit capek karena ngurus tesis. Aku pengen lulus semester ini. Pengen cepet selesai. Tapi aku baik-baik aja kok.”

Drttt… drttt… drttt…

1 Message Received

Read now?

Yes

From : Dragon

My Venus, I’ve prayed to God to try to hate you

But I love you, even if I don’t say it

***

Keceriaan Kin jauh berkurang setelah makan malam mereka selesai. Gadis itu lebih banyak diam.

Kin mulai kembali mengangkat suara saat Jinki mengajaknya duduk di tepi sungai Seine, menikmati udara malam yang mulai terasa dingin.

“Oppa…” panggil Kin pelan.

“Ne?” Sahut Jinki, melirik gadis disebelahnya.

Kin menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu bertanya, “Buat Jinki Oppa, aku ini apa, ehm, siapa?”

Jinki mengalihkan perhatiannya dari aliran sungai, menatap lurus-lurus mata Kinsei, “Orang yang penting,” sahutnya tegas.

“Orang yang penting.” Tegas Kin, menunduk dalam.

Jinki mendesah berat, kembali menatap aliran sungai Seine.

“Buat Kin, Jinki Oppa ini apa, siapa?” Tanyanya pada Kin, tanpa mengalihkan pandangan.

Kali ini, Kinsei yang menatap wajah Jinki lamat-lamat, “Orang terbaik yang pernah Kin kenal.”

Keduanya saling berpandangan, lama sekali. Sampai Kin akhirnya memutuskan untuk kembali bertanya, “Oppa, apa mungkin, seseorang mencintai dua orang sekaligus, di waktu yang bersamaan?”

Pertanyaan Kin membuat jantung Jinki mencelos. Tapi namja itu tetap tersenyum bijak, menjawab lirih, “Bisa. Tapi kadarnya pasti tidak akan sama.”

“Pasti?” Tanya Kin menegaskan.

Jinki mengangguk, mengiyakan.

Kinsei kembali bertanya, “Kalau seseorang itu mencintai dua orang sekaligus, apa dia harus memilih salah satu? Apa dia harus memilih orang yang lebih dia cintai? Bagaimana kalau dia nggak tau, siapa yang sebenernya lebih dia cintai?”

Perlu waktu cukup lama hingga akhirnya Jinki menjawab, “Suatu saat nanti, seiring berjalannya waktu, hatinya akan tahu, siapa yang lebih berharga untuknya. Setelah itu, adalah hak dia untuk memilih salah satu, atau tidak memilih sama sekali.”

“Waktu? Berapa lama?” Tanya Kin lirih, lebih mirip keluhan.

“Tidak ada yang tahu Kin. Tapi, untuk cinta, menunggu adalah hal yang biasa,” sahut Jinki tegas.

“Pada akhirnya tetap ada yang tersakiti?” Lagi-lagi, pertanyaan Kin mirip keluhan.

Jinki tersenyum tipis, “Cinta dan patah hati itu bagai dua sisi mata uang Kin. Tampaknya saja yang bertolak belakang, sejatinya mereka sangat dekat, bahkan tak bisa dipisahkan.”

Kin menatap lamat-lamat wajah Jinki yang masih terus menyunggingkan senyum sembari mengamati aliran sungai Seine. Tiba-tiba saja Jinki menoleh, menatap intens mata Kin, menarik nafas panjang, sebelum akhirnya bertanya serak, “Kau, sedang membicarakan aku dan JiYong hyung. Iya?” Pertanyaannya lebih mirip tuduhan.

Kin terbelalak, meneguk ludah, tidak bisa mengatakan apa-apa. Kin sungguh tak tahu harus menjawab apa, gadis itu hanya tertunduk dalam, menatap ujung sneakernya.

“Kinsei, saranghae. Jeongmal saranghaeyo,” bisik Jinki lirih, menarik tubuh mungil Kin kedalam pelukannya.

Kin tersentak. Gadis itu merasa matanya memanas, tenggorokannya sakit. Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk sekadar membalas pelukan Jinki. Kin hanya berdiri kaku, berusaha mengendalikan perasaannya.

“Maaf. Jinki Oppa, Kin sungguh minta maaf. Terima kasih.” bisik Kin lirih, nyaris tak terdengar.

Jinki melepas pelukannya, menatap Kin bingung, “Maaf untuk apa? Terima kasih untuk apa?”

Kin mendesah berat, “Maaf untuk semua yang telah Kin lakukan. Terima kasih untuk semua yang telah Oppa lakukan.”

Jinki tersenyun tulus, “Tidak perlu Kin. Tidak usah meminta maaf ataupun terima kasih. Aku yang berterima kasih, diberi kesempatan untuk bertemu dan mengenalmu di dunia ini.”

Kin menatap Jinki sayu, “Oppa. I love you as my best Oppa.”

Jinki mengangguk, tersenyum, “Well, its more than enough for me. But, i do believe, one day, you’ll realize that you love me as a man.”

***

Jinki kembali memikirkan perkataan Key saat kabar buruk itu datang bagaikan petir. Kinsei meninggal. Ya, Kin meninggal. Hanya itu yang dikatakan para news anchors sepanjang hari ini. Kabar burung dari para reporter, pewaris perusahaan terbesar di Korea itu meninggal akibat kanker stadium 4.

Keluarga besar Lee menolak wawancara, semuanya menutup mulut rapat-rapat. Pemakaman dilakukan secara tertutup dengan pengamanan luar biasa ketat, hanya keluarga dekat saja yang dapat mengikuti upacara.

***

“Malam hyung,” sapa Jinki pada Shun.

Shun hanya menjawabnya dengan anggukan kecil, “Ji Yong belum datang?”

Jinki menggeleng, “Belum. Mungkin sebentar lagi.”

“Hyung, wajahmu kenapa? Kau habis berkelahi?” Tanya Jinki saat menyadari wajah Shun biru lebam.

Shun menyeringai malas, menyeka ujung bibirnya yang berdarah, “Jae Hyun sepertinya belum terima Kin tidak bercerita apapun padanya. Dia menyalahkanku.”

Jinki mengangguk maklum.

“Nah, itu dia datang,” ucap Shun sembari melihat kearah sesosok namja yang berjalan menghampiri mereka. Setelah membungkuk, mengucap salam, namja itu duduk di kursi yang terletak diseberang Jinki. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap kosong jalanan yang sepi.

“Baiklah, karena kalian sudah datang, aku akan langsung mulai saja,” ucap Shun memecah keheningan.

“Selain keluarga besar kami, aku rasa, kalian berdua adalah orang yang paling berhak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kin,” lanjut Shun setelah menghela nafas panjang, menghembuskannya dengan berat.

Setelah terdiam beberapa saat, Shun kembali berkata, “Aku bingung harus mulai dari mana. Hmmm… apa ada yang kalian ingin tanyakan?”

Jiyong bergeming, tetap menatap jalanan didepannya.

“Apa benar Kin selama ini menderita kanker?” Tanya Jinki tak sabar.

Shun mengangguk berat, “Ya.”

“Sejak kapan Kin….” Jinki tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya.

Shun tersenyum maklum, “Tepatnya aku tidak tau. Kin juga baru tahu saat dia lulus senior high school. Saat itu, seluruh keluarga menjadi bingung gara-gara Kin berulah. Dia mulai memberontak, tidak lagi menuruti perkataan Harabeoji-nya. Awalnya dia sudah setuju untuk masuk Universitas Waseda dan mengambil jurusan manajemen bisnis. Waktu itu aku bingung kenapa dia tiba-tiba justru memilih masuk Kyoto Daigaku dan mengambil jurusan Fisika. Kin baru mau menceritakan semuanya seminggu yang lalu. Dia ingin menjalani sisa hidupnya sebagai seorang Kinsei, bukan sebagai Oguri atapun Lee.”

“Selain kau, siapa saja yang dia beri tau?” Kali ini Ji Yong yang bertanya dengan nada dingin dan datar.

Shun menggeleng, “Tidak seorang pun. Kin sebenarnya juga tidak pernah mengatakan soal penyakitnya padaku, Dokter Jun yang memberitahuku. Kin bahkan sempat menyangkal. Kau yang paling tahu, gadis seperti apa Kin itu. Kin banyak bercerita tentang kau.”

“Dia pergi ke Jerman dengan alasan yang sama? Menjadi seorang Kinsei?” Tanya Ji Yong, kali ini nada suaranya lebih mirip pernyataan.

“Ya dan tidak. Ya, karena dia ingin segera menunaikan obsesinya soal menemukan planet baru. Sejak awal dia sudah merasa, kalau dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Itulah kenapa dia selalu terlihat terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Perfeksionis dan tidak bisa mentolerir kesalahan, karena dia selalu merasa waktunya sangatlah terbatas. Tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang dia lakuan. Selalu kesal pada orang yang tidak menghargai waktu, terlambat saat berjanji. Tidak, karena dia pada akhirnya justru seperti menemukan semangat baru. Kin dengan penuh energi bilang kalau dia ingin menjadi seorang Kin, sekaligus Lee dan Oguri. Dia bersedia menjalani kemoterapi, hal yang selama ini dia tolak mati-matian karena tidak mau terlihat menyedihkan, dikasihani, menderita tapi tetap berakhir sia-sia. Dia tidak bilang kenapa dia tiba-tiba ingin sembuh, tapi aku merasa ini ada hubungannya dengan kalian berdua,” jelas Shun panjang lebar.

Shun menatap kedua namja didepannya bergantian, “Di antara kalian, siapa yang pernah mengatakan atau membicarakan tentang waktu dengan Kin?”

Ji Yong hanya menatap Shun kosong.

Jinki berjengit, teringat obrolan di tepi sungai Seine.

Shun tersenyum bijak, dari ekspresi keduanya, dia tahu pasti orang yang dimaksud oleh Kin adalah Jinki.

“Kin pernah bilang, yang dia perlukan adalah waktu. Dia harus hidup lebih lama lagi agar pertanyaan terbesar dalam hidupnya bisa terjawab,” tambah Shun, menatap Jinki penuh arti.

“Apa Kin sudah menemukan jawabannya?” Jinki ragu-ragu bertanya. Ji Yong menatapnya tidak mengerti.

“Entahlah, yang jelas, Jinki, Kin menitipkan ini untukmu,” Shun meletakkan kalung milik Kin dihadapan Jinki.

Ji Yong terbelalak melihat kalung itu, “Itu….”

Ji Yong ingat betul bahwa kalung itu adalah kalung yang dia rancang dan dibuat khusus untuk Kin. Kalung dengan pendant berupa bola biru cerah. Planet Venus yang terbuat dari blue sapphire dengan sebentuk ukiran seekor naga dari platina yang melingkar memeluknya.

“Ini kalung yang kau berikan pada Kin,” sahut Shun datar.

Ji Yong menatap tak percaya kearah Jinki. Emosinya mulai terlihat kacau, bagaimana mungkin Kin memberikan kalung pemberiannya pada orang lain.

“Kin bilang, kalung itu dia peroleh dari orang yang penting. Dan dia berikan pada orang yang telah menganggapnya sebagai orang yang penting, Oppa terbaiknya. Kin juga menitip terima kasih dan maaf yang sebesar-besarnya untukmu Jinki. Dia bahkan sampai merasa perlu membuatku bersumpah akan menyampaikan permintaan maaf-nya padamu,” jelas Shun, tidak mempedulikan kedua namja didepannya yang saling menatap dingin.

Wajah Jinki langsung memucat saat mendengar kata maaf. Jinki sadar betul apa arti permintaan maaf itu. Kin sudah menemukan jawaban atas pertanyaanya. Kin sudah memilih, siapa orang yang paling berharga bagi dirinya. Pilihan yang pada akhirnya tetap menyakitkan kedua pihak, yang dipilih dan yang tidak dipilih. Karena Kin memilih, sekaligus meninggalkan orang yang telah ia pilih.

Ji Yong memutar pandangannya ke arah Shun, meminta penjelasan.

“Dan untukmu, Kin menitipkan ini,” ucap Shun, menjejalkan secarik kecil kertas ke dalam genggaman Ji Yong.

Ji Yong membuka kertas itu pelan-pelan, membaca tulisan Kin yang terlihat tidak rapi, seperti ditulis dalam keadaan terburu-buru, atau dalam keadaan menahan sakit yang amat sangat.

Dragon, I’ve prayed to God to try to hate you

But I love you, even if I don’t say it

From: your unchanged Venus.


FIN

yen, 18:45 – 11/07/2011

Catatan penulis :

Aku bikin FF ini sambil ndengerin But I Love You-nya Abang Ji Yong (GD). Jadilah, liriknya aku ambil dikit-dikit, hehehe…. Dan karena main cast-nya ada GD-nya, wajar klo FF ini jadi melow nggak jelas, mirip telenovela. Abang GD emang paling pas buat maen telenovela, kekeke…. #Peace Bang, becanda kok!

Sapphire (Safir) merupakan kristal tunggal aluminium oksiada (Al2O3) yang sering dijadiin simbol kesungguhan dan komitmen. Ada juga yang bilang Safir itu bisa diasosiasikan dengan persahabatan, kesetiaan, saling mengerti, kepercayaan yang kuat, konstan dan bisa diandalkan.

Kedengarannya gombal banget ya. Tapi gapapa deh, Bang GD kan emang playboy tergombal abad ini #PLAK!

Hmmm… sayangnya aku nggak dapet gambar yang pas buat nunjukin imajinasi-ku soal Dragon-Venus Pendant ini. Tapi, kira-kira bentuknya kayak gini :

Sebenernya, nggak ada yang persis sama dengan yang aku bayangin, tapi lumayanlah buat gambaran aja.

Jadi, desainnya kira-kira begitu. Tapi bahannya dari safir dan platina.

Spesial buat Storm,

Hemmm… gapapa ya, aku ngutip sedikit kata-kata dari suratmu. Boleh ya?? *narik-narik lengan baju Strom, ngedip-ngedip memohon

Storm baik deh, tidak sombong, hemat cermat bersahaja, rajin berani dan setia… *rayuan maut ala Ara

Tengkyu Storm…