Pengkhianat 2

Yoora menunduk dalam, “Lalu… kenapa Oppa menyayat lengannya sendiri?”

Ara kembali meneguk ludah, ‘Kak Jung Gi? Menyayat lengannya sendiri?’

“Darah,” desah Ara lirih, ‘Kak Jung Gi meminum darahnya sendiri. Astaga… Kak Jung Gi separah itu?”  Jantung Ara mencelos, jatuh ke dasar perut.

“Ryū!! Kak Ken!! Gawat!” Ara berlari pontang-panting, serabutan menerobos pintu. Menabrak tubuh Ken yang tepat ada di depan pintu, membuat cowok itu mundur terjajar, menabrak pot bunga.

“Kau ini! Benar kata Ryū, kau gadis semrawut!” Sembur Ken kesal.

Ara tidak mempedulikan makian Ken, “Kak Jung Gi gimana? Ryū mana?”

Ken tidak menghiraukan pertanyaan Ara, justru balik bertanya “Yoora dah baikan?”

Ara meneguk ludah, “Udah gapapa. Kak Jung Gi?”

Ken menatap Yoora yang masih asyik meniup-niup tehnya, “Udah diurusin Ryū. Tenang aja.”

Ara tidak peduli dengan ucapan Ken, dia sudah mengambil langkah seribu menuju ruang musik, jika saja tangan Ken tidak menahannya.

“Biar Ryū yang urus,” ucap Ken tegas.

Ara memutar-mutar bola matanya, “Tapi Kak Jung-”

“Aku bilang, biar Ryū yang ngurus Jung Gi,“ potong Ken cepat, tidak melepas tangan Ara. Cowok itu justru menyeret Ara, menjauh dari jarak dengar Yoora.

Ara menatap Ken lurus-lurus, berpikir cemas, ‘Jangan-jangan Kak Ken udah tau soal Kak Jung Gi.’

Ken balik menatap Ara, “Kenapa?”

Ara gelagapan, merasa bahwa pandangan Ken padanya seperti orang yang menuduh.

“Apanya?” Tanya Ara pada Ken.

Ken menatap tajam mata Ara, penuh selidik, “Mau ngomong, ehm, salah. Mau ngasih tau sesuatu?”

Ara menggigit bibir bawahnya, mulai panik, “Maksud Kak Ken?”

Ken menyeringai malas, “Udah tau soal Jung Gi?”

Ara meneguk ludah, membuang pandangan, menatap Menara Air di kejauhan.

“Sejak kapan?” Tanya Ken lagi, berusaha membuat kontak mata dengan Ara.

Ara bergeming, matanya tetap terfokus pada Menara Air, seolah-olah menara itu adalah obyek yang sangat menarik.

“Kamu udah cerita ama siapa?” Desak Ken, mengguncang lengan Ara.

Ara menoleh, memasang wajah tersinggung, “Aku bukan pengkhianat.”

Ara mengibas tangan Ken dari lengannya, kembali ke ruang kesehatan.

Ken menatap punggung gadis itu, menghela nafas panjang, “Nggak ada bedanya dengan Ryū.”

***

“Ara! Tolong ambilkan Sampe di ruang musik,” perintah Pak Pangdira pada Ara.

Ara dengan semangat 45 melangkah keluar kelas, menuju ruang musik. Urusan alat musik khas suku Dayak, serahkan pada Ara. Dia hapal diluar kepala, mana yang namanya Sampe, mana  yang Kangkanung, Gandang, Kadire, Klentangan dan sebagainya. Ara bahkan bisa membedakan Gandang Tatau, Gandang Manca dan Gandang Bontang dengan sekali lirik.

Ara meraih Sampe dengan sangat hati-hati, memeluk alat musik petik itu dengan lembut. Sampai sekarang, Ara masih saja terkagum-kagum dengan ukiran Sampe yang satu ini.

“Hihihi….” Suara kekehan samar menghentikan langkah Ara. Gadis itu refleks menoleh ke arah set Gandang Garantung di pojok ruangan, menghela nafas lega setelah melihat sesosok manusia yang duduk meringkuk di sana.

“Kak Jung Gi  ngapain? Tidur lagi? Mbolos mulu sih?” Cecar Ara saat mengenali sosok manusia tersebut.

Jung Gi menyeringai lebar, matanya terlihat tidak fokus, berputar-putar tidak karuan.

“Ara… Hihihihi….” Kekeh Jung Gi pelan.

Ara meletakkan Sampe ditangannya, beringsut mendekati Jung Gi, “Kakak kenapa?” Gadis itu menatap lekat-lekat mata Jung Gi yang terlihat memerah. Satu tangan Ara di dahi Jung Gi, satu tangan yang lain menggenggam telapak tangan Jung Gi ynag basah berkeringat. Dingin.

Ara pernah, bahkan sering melihat teman sekelasnya saat SMP mengalami hal yang sama dengan yang dialami Jung Gi saat ini. Bukan hanya tau, Ara bahkan merahasiakannya dari semua orang. Mengancam seluruh isi kelas untuk tidak bicara pada siapapun. Memastikan tidak ada diantara mereka yang berkhianat. Walaupun pada akhirnya, tetap saja semua itu terbongkar juga.

“Kak! Kakak lagi fly?” Keluh Ara tidak percaya.

Jung Gi mengeleng-gelengkan kepalanya, “Hihihi… Ara….”

“Kakak di sini aja, jangan kema-”

“Jangan Ra, hihihi… jangan…” Jung Gi menggenggam erat tangan Ara.

Ara menggeleng kuat, “Nggak Kak. Ara nggak bakal cerita sama siapapun.”

Jung Gi menyeringai lebar, “Hihihi… bukan. Bukan itu. Hihihi… Ara… jangan pernah nyoba barang laknat itu. Jangan pernah.”

Ara menatap Jung Gi tak percaya, bagaimana bisa Jung Gi mengucapkan kalimat yang sama persis dengan teman SMP-nya dulu?

“Sakit… Kakak capek Ra. Capek, rasanya pengen mati aja” keluh Jung Gi pelan, menyandarkan kepalanya ke dinding.

Ara mendesah berat, “Kakak istirahat dulu. Ntar Ara kesini lagi. Jangan kemana-mana.”

***

“Loe sudah bosan hidup ya? Berapa kali gue bilang, BERHENTI!” Bentak Ryū, tangannya mencengkeram erat kedua lengan Jung Gi yang penuh bekas suntikan dan carut-carut panjang luka sayatan. Bekas luka itulah alasan kenapa selama ini Jung Gi selalu memakai kemeja lengan panjang, atau paling tidak, lengan ¾.

Jung Gi tidak beraksi apapun mendengar bentakan tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil itu. Dia terus bergetar hebat, keringat dingin membanjir, membasahi seluruh pakaiannya. Seluruh badannya terasa sakit, bagai ditusuk ribuan jarum.

Ryū menatap tak tega wajah Jung Gi yang sangat pucat, matanya bahkan hanya menyisakan bagian putihnya yang tampak.

“ARGH!!” Jung Gi berteriak kencang, meronta hebat, membuat Ryū jatuh terjajar. Ryū buru-buru bangkit dan memeluk Jung Gi erat-erat, mengunci kedua tangan sahabatnya. Sekuat tenaga dia menyeret Jung Gi, menjauh dari tembok, karena cowok itu hendak membenturkan kepalanya lagi.

Cukup lama kedua cowok itu berkutat, sengit. Jung Gi terus saja memberontak, tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sementara Ryū juga terus berusaha menahan semua gerakan sahabatnya, tidak membiarkannya melakukan hal-hal bodoh yang bisa membuatnya celaka lebih parah lagi.

Saat akhirnya Jung Gi menyerah, Ryū juga sudah kehabisan tenaga. Dia menatap kasihan campur sebal pada Jung Gi yang menelungkup di lantai, pingsan. Ryū  berpikir bagaimana caranya membawa sahabatnya itu pulang, tidak mungkin dibonceng dengan Ducati putihnya kan?

Ryū merogoh kantong celana Jung Gi, menghembuskan nafas lega saat berhasil menemukan kunci Wrangler.

“Ken, loe pulang pake motor gue ya. Eh, Yoora ama Ara gimana?” Tanya Ryū lewat ponselnya.

“Yoora dah pulang, dijemput supirnya. Ara nih yang masih ngotot belum mau pulang,” sahut Ken kesal. Dari seberang, Ryū bisa mendengar lamat-lamat suara Ara yang heboh bertanya pada Ken.

“Ryū!! Kak Jung Gi gimana? Kalian di mana?” Suara Ara, sepertinya dia berhasil merebut ponsel Ken.

“Jung Gi baik-baik aja. Kamu pulang bareng Ken,” jawab Ryū datar.

Ara ber-puh panjang, “Yakin? Kak Jung Gi gapapa?” Karena Ryū tidak menjawab, akhirnya Ara berkata, “Ya udah. Ara percaya Ryū. Eh, tapi aku pulang sendiri aja deh. Aku bawa sepeda kok.”

“Pulang bareng Ken. Udah malem, jangan pulang sendirian! Balikin ponselnya ke Ken, aku mo ngomong,” kali ini nada suara Ryū lebih mirip perintah.

Ara hanya memberengut, menyerahkan ponsel ditangannya pada Ken.

“Gimana?” Tanya Ken singkat.

“Jung Gi gue bawa pulang ke rumah. Kebetulan rumah gue lagi nggak ada orang. Loe bisa nganter Ara pulang kan?,” sahut Ryū.

“Ya udah, ntar gue ke rumah loe, sekalian nganterin motor,” jawab Ken sebelum memutus sambungan.

***

“Ara udah tau soal Jung Gi,” lapor Ken sembari menghempaskan diri di sofa milik Ryū. Rumah Ryū memang lebih sering sepi, jabatan sebagai Marketing Manager menyebabkan Ayah Ryū lebih sering berada di luar rumah, bertemu rekanan, customer atau apalah.

Ryū menautkan kedua alisnya, menatap Ken tidak percaya, “Ara?”

Ken mengangguk pasti, “Ara kan lumayan akrab ama Jung Gi.”

“Ara cerita ke elu?” Tanya Ryū dengan nada tidak percaya dan sedikit tidak suka. Ara tidak mengatakan apa-apa padanya.

Ken menyeringai malas, “Enggak. Ara nggak ada bedanya ama loe Ryū. Setia kawan nggak pake nalar.”

Ekspresi Ryū berubah datar, “Bukannya nggak pake nalar. Belum saatnya. Klo masih bisa gue usahain sendiri, kenapa harus ngambil resiko.”

“Sampe kapan? Nunggu Jung Gi mati over dosis?” Sergah Ken sinis.

“Enggak Ken. Itu nggak bakal terjadi, gue yang pastiin. Lagipula, rasanya gue lebih rela ngeliat dia mati OD, daripada mati membusuk di penjara,” bantah Ryū, masih tanpa ekspresi dan intonasi.

“Psyco,” sahut Ken ketus.

Ryū hanya menyeringai, menatap Ken geli.

“Gue nggak serius kali…. Emang belum waktunya aja. Gue masih belum bisa percaya ama regulasi hukum di negara ini. Jung Gi itu korban, bukan pelaku kriminal. Gue nggak bakal rela ngeliat dia masuk penjara,” jelas Ryū kemudian.

“Gue juga nunggu waktu yang tepat buat ngomong ama Appa dan Ummanya, biar dia bisa masuk tempat rehab yang bener. Sementara ini, gue pengen, paling enggak dia bisa lulus dulu. Tanggung kan Ken, tinggal sebulan lagi UAN. Gue tahu klo sekolah kita nggak sekeras dan sekolot sekolah negeri dalam ngadepin kasus kayak gini. Yah, tetep aja nggak ada yang bisa ngejamin Jung Gi nggak bakal dikeluarin dari sekolah klo mereka tau Jung Gi make putaw. Tapi… gue sebenernya juga khawatir, kayaknya kondisi Jung Gi tambah parah. Hmmm… menurut loe, gimana?” Akhirnya Ryū meminta pendapat Ken.

Ken menatap Ryū, bingung, “Percuma juga kita mati-matian ngebantuin Jung Gi, klo yang dibantu ngerasa nggak perlu. Klo dia nggak punya niat buat berhenti make, nggak ada gunanya kita maksa-maksa,” jawabnya kemudian, menggaruk dahi, “Tapi, yang harus cepet kita lakuin sekarang, ngasih tau Appa dan Umma-nya. Menyelesaikan sumber masalahnya Jung Gi, sekaligus ngasih dia pendukung terbaik.”

“Ngomongnya sih gampang. Respon mereka? Itu yang gue blum yakin. Syukur banget klo mereka langsung sadar Jung Gi jadi begini gara-gara mereka juga, trus mau ngedukung anaknya biar sembuh. Klo mereka justru nyalahin Jung Gi, gimana? Tadi aja, waktu gue nelpon bilang Jung Gi nginep di rumah, Umma-nya cuek banget. Nggak nanya kenapa ato gimana. Bener-bener nggak ada perhatian ama anak.” Sanggah Ryū penuh perhitungan.

Ken mengacak rambutnya, “Ah… loe dari tadi gimana-gimana mulu. Stress gue!”

Ryū terkekeh pelan, “Loe mau tidur di mana? Bareng Jung Gi di kamar tamu, apa bareng gue?”

“Gyah, ogah banget gue tidur ama orang sakaw. Bareng elu aja deh. Tapi jangan macem-macem!” Ancam Ken sok serius.

“Yang ada, loe macem-macemin gue!” Sahut Ryū, tertawa keras.

Ken menyeringai, “HA! Klo gue ntar melakukan sesuatu ke elu, berarti gue lagi mimpiin Ara.”

Wajah Ryū sontak memerah, campuran jengah dan kesal, “Awas loe berani mimpiin Ara yang enggak-enggak. Coba aja, gue pastiin, loe nggak bakal pernah bisa ngeliat matahari lagi.”

Ken tertawa tidak karuan melihat reaksi sahabatnya itu. Selalu saja sensitif kalau sudah menyangkut Ara.

“Ara, lagi apa nih cantik? Oh, dah mau tidur ya? Ketemuan di mimpi yuk!” Seru Ken pura-pura menelpon Ara dengan ponselnya.

Ryū terperangah, mengira Ken benar-benar menelpon Ara. Saat dia sadar Ken hanya menggodanya, Ryū  langsung mendelik sebal, melempar Ken dengan bantal sofa, “YOU! PERVERT!”

***

“KAK JUNG GI!!” Panggil Ara histeris. Jung Gi tergeletak di lantai ruang musik, tempat bersembunyi favoritnya, bersimbah darah.

Jung Gi tersenyum jerih, “Ara… sakit.” Cowok itu menyesap pergelangan tangannya yang menyemburkan darah.

“ARGHHH!!” Kali ini Jung Gi yang berteriak kencang, membenturkan kepalanya ke tembok. Bahkan meminum darahnya sendiripun tidak lagi mampu menolongnya mengatasi rasa sakit disekujur tubuhnya.

Ara sontak memeluk erat tubuh Jung Gi yang bergerat hebat, “Jangan Kak, jangan.”

Jung Gi memberontak, membuat Ara terhempas ke lantai.

“Pergi Ra, pergi. Jangan dekat-dekat,” perintah  Jung Gi, berusaha mengontrol kesadarannya.

Ara dengan keras kepala kembali memeluk Jung Gi, menahan cowok itu agar tidak mendekati tembok. Darah terus mengalir dari lengan Jung Gi, menyiprat mengenai kemeja Ara. Sepertinya, saking frustasi dan putus asa dalam menahan sakit, Jung Gi terlalu dalam menyayat lengannya.

“Lepas Ra. Lepas,” keluh Jung Gi pelan, sekuat tenaga menahan agar dia tidak lagi kelepasan dan membuat Ara terbanting.

“Kakak bilang, dimana aku bisa dapet putaw. Aku cariin buat Kakak!” Seru Ara putus asa, tidak tahan melihat penderitaan Jung Gi.

Jung Gi menggeleng keras.

“Bukan gini caranya sembuh Kak!” Raung Ara frustasi.

“Harus gini Ra, harus dipaksa.” Sahut Jung Gi keras kepala. Dia memang sudah memutuskan untuk berhenti, jadi sesakit apapun saat sakaw, Jung Gi tidak mau lagi menyentuh barang laknat itu.

“ARGHH!!” Lagi-lagi Jung Gi tidak bisa menahan rasa sakitnya, mengibas tubuh Ara kasar, membuat tubuh mungil Ara terjajar menghantam tembok.

“Ara…” panggil Jung Gi menyesal.

Ara meneguk ludah, dia tidak akan mampu menangani ini sendirian.

“Kak Ken! Kak Jung Gi….” Ucap Ara melalui ponsel. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menghubungi Ken.

Tanpa basa-basi, Ken bertanya tegas, “Dimana?”

“Ruang musik,” sahut Ara jerih.

Tak lama kemudian, Ken datang bersama Ryū. Ken segera berlari menghampiri Ara yang masih terus ngotot memeluk Jung Gi, walaupun dilengannya sudah mulai tampak ada lebam akibat terbanting. Ryū menatap Jung Gi tanpa ekspresi, menghela nafas berat saat bersitatap dengan Ara.

Ken mengambil alih Jung Gi dari Ara. Mencengkeram kuat-kuat kedua lengan Jung Gi, menyeretnya menjauh dari tembok. Ryū mengepalkan tangan, meneguhkan hati sebelum akhirnya mengambil langkah lebar menuju ruang kepala sekolah.

Tak lama kemudian, Ryū kembali, diikuti guru BK dan Kepala Sekolah yang langsung menggotong Jung Gi yang pingsan.

“Ryū, kau ikut kami ke rumah sakit. Ken, tolong hubungi orang tua Jung Gi, suruh langsung ke rumah sakit. Jangan bilang apa-apa dulu, biar saya yang menjelaskan pada mereka,” perintah Pak Kepsek tegas.

Ara menatap gamang, tak percaya, “Ryū….” Panggilnya lirih.

Ryū tidak memperhatikan Ara, dia sigap ikut menggotong Jung Gi. Ken segera menyusul rombongan, sibuk dengan ponselnya.

Tak seorangpun mempedulikan Ara yang jatuh terduduk, mendesis penuh dendam, “Ryū… pengkhianat….”