Ehmmm… akhir-akhir ini kok jadi suka curhat di tempat umum yah? EH, biarin aja, toh ini WP pribadiku, bukan tempat umum.

To the point aja. Apa setiap penulis itu punya alter (kepribadian lain)?

Mungkin iya, mungkin tidak. Aku punya temen, penulis, bisa dibilang dah profesional, karena novelnya dah diterbitkan. Dia selalu nulis status FB dengan pendahuluan:

“…temanku berkata,—” atau “—kata temenku”

Padahal, kayaknya yang dia maksud dengan “temen” itu ya dirinya sendiri.Waktu aku tanya “temen apa alter?” Dia njawab “mmm… aku menyebutnya teman saja…”

Yeah, gapapa. Dia nggak jujur, tapi nggak bohong. Masih dalam batas toleransi. Well, aku nggak masalah sama orang yang nggak jujur, selama dia nggak bohong!

Tapi… mungkin aja sih, yang namanya penulis, sadar-nggak sadar, suka nyisipin karakternya sendiri dalam setiap tulisannya. Aku juga kadang-kadang gitu… Bikin karakter yang ku ambil dari diriku sendiri, dimodifikasi sana-sini, jadilah dia sebuah karakter baru. Bolehkan karakter itu ku sebut sebagai alter-ku? Aku yang lain, aku yang fiksi, aku yang ada dalam sebuah cerita.

Selama aku nggak bilang klo alter-ku itu sebagai aku yang sebenarnya, gapapa kan? Nggak jujur memang, tapi nggak bohong juga. Klo aku bilang alter-ku adalah aku, itu benar. Tapi klo aku bilang alter-ku adalah aku yang sebenarnya, nah itu baru bohong.

Eh, lagipula, fiksi itu memang ‘kebohongan’ kan? Kebohongan yang tidak dosa, karena pembacanya sejak awal sudah tahu, kalau dia sedang dibohongi. Hehehe…

Nah, peringatan nih, sejak awal aku dah bilang, semua yang ada di blog ini adalah Sozo-ku, nggak ada yang 100% bener. Jadi, bahkan sekalipun aku bilang ‘namaku adalah yen, panggilanku yenni’, jangan pernah percaya 100%. Bisa saja, itu hanya Sozo, imajinasi. Kekeke….

Aishhh… tulisan apa ini? Nggak ketauan ujung pangkalnya…