Huffffff….

Bernafas lega setelah nyelesein novel ini.

Awal-awalnya kayak mbaca kisah Romeo and Juliet. Sedikit tersenyum sinis, “Lebay lah… cinta mulu, kayak nggak ada hal menarik lain di dunia ini,” pikirku underestimated.

Tapi, begitu selesai mbaca, pandanganku berubah. Apa salahnya menghargai perasaan orang lain. Klo untuk sebagian orang, cinta itu memang hal yang hebat, luar biasa besar, dahsyat, mengharu-biru, ya udah, emangnya kenapa? Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, berhak memilih cara pandangnya sendiri, tapi… juga harus berani menanggung semua resiko dari pilihannya itu.

Kisah Sang Penandai sukses menohokku. Jujur, selama ini aku nggak begitu suka ama dongeng-dongeng pangeran dan putri, sok manis romantis bgt! Hehehe…

Tapi, klo dipandang dari sudut lain, sebenernya, dongeng-dongeng itu ada sisi realistisnya juga. Misalnya pakem dongeng barat, pangeran itu ya pasangannya putri. Realistis kan? Bahkan, Cinderella itu aslinya anak bangsawan kaya-raya, bukan orang miskin antah berantah. Atau The Beast, aslinya pangaeran cakep, bukan monster beneran. Sama realistisnya ama orang kaya itu ya bakal nikah ama orang kaya. Cowok cakep ya dapetnya cewek cantik. Materialistis memang.

Eh, tapi setelah di baca dan di pikir, kayaknya ni novel emang ‘Another Romeo and Juliet Story’. Bedanya, Romeo-nya takut mati, pengecut, hehehe…

Tapi, pilihannya untuk tidak ikut meminum racun Juliet-nya itu justru berbuah manis. Berani menghadapi kenyataan, meneruskan hidup, dengan dibayangi kenangan akan kekasih yang memilih bunuh diri karena ketidakmampuannya melindungi, getir memang, perih… Tapi, tetap saja bunuh diri adalah pilihan paling bodoh.

Bener mungkin kata bang Darwis “Pecinta Sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”

Satu lagi yang aku yakin sekarang, Romeo itu pasti nyesel abis. Karena ternyata Juliet-nya tidak bunuh diri, Juliet-nya bertahan, berjuang. Justru Romeo yang menyerah, kalah… Yeah, terlepas akhirnya Juliet juga ikut bunuh diri.

Diakhir-akhir bagian, novel ini mengajari untuk berdamai dengan masa lalu. Bukan melupakan, tapi menerima apa adanya, tidak menyesalinya, tidak menjadikannya sebagai beban.

Klo ini bisa dilakuin, nggak ada cerita bakal canggung atau nggak enak ketemu mantan, kekeke… Ehm, klo aja bang Ji Yong mbaca novel ini, dia bakalan nggak punya ide buat bikin lirik lagu. Secara! Lagunya dia kan isinya soal mantannya, kekeke… #abaikan!