Perkelahian (?)

“Ara kemana sih? Akhir-akhir ini setiap jam istirahat pasti ngilang,” gerutu April panjang pendek.

“Iya tu anak. Kambuh lagi penyakitnya,” sahut Yoora, teringat kebiasaan Ara diawal-awal semester, saat sering mengunjungi Menara Air.

Sementara itu, yang dibicarakan justru sedang asyik duduk menjuntai di atas Menara Air, sendirian, membaca novel sembari mengulum lollipop.

“DASAR ORANG MISKIN!”

Sebuah bentakan keras mengalihkan perhatian Ara. Gadis itu menengok kebawah, ingin tahu. Tak jauh dari pohon Tenggaring sekelompok anak kelas X terlihat sedang mengggerombol.

“Loe nggak pantes sekolah di sini,” sergah seorang cowok tinggi besar sembari mendorong kasar bahu cowok didepannya. Cowok bertubuh kurus itu hanya diam saja, menundukkan kepala dalam-dalam.

Ara menyipitkan mata, menajamkan pandangan, “Aria? Anaknya Pak Dadang kan?”

“Kenapa loe? Nantang? Nggak terima?”

“Hahaha…Sana! Ngadu ama bokap loe yang satpam itu! Anak satpam aja belagu!”

Cowok-cowok bertampang rapi dan keren itu terus mendesak Aria, sengaja benar mencari-cari masalah.

Ara membelalakkan mata saat melihat salah satu diantara mereka meninju Aria, membuat Aria jatuh terjajar, darah menetes dari sudut bibirnya.

Ara bergegas turun, menghampiri geromolan adik kelasnya itu. Saat dia sampai, si cowok tinggi besar tengah mencengkeram kerah leher Aria.

“Lepas!” Desis Ara kasar, penuh ancaman.

Si cowok tinggi besar menoleh kearah Ara, menatap sinis. Ara balik menatapnya tajam, merasa pernah melihat cowok itu, entah dimanalah.

“Jangan ikut campur. Heh, dibelain? Memalukan,” celanya pada Aria.

Salah seorang dari mereka tiba-tiba mendekat, membisikkan sesuatu di telinga si cowok tinggi besar.

Si cowok tinggi besar mengurai tatapan sinisnya, berganti dengan pandangan waspada. Dia melepas kasar kerah leher Aria, lagi-lagi membuat Aria mundur terjajar, “Urusan kita blom selesai. Gue tunggu loe di sini, pulang sekolah!” Tantangnya pada Aria.

Yang ditantang justru meneguk ludah, kembali menunduk dalam-dalam. Membuat Ara kesal setengah mati.

“Kenapa nggak sekarang aja? Hah?” Ara balik membentak. Suasana hatinya belakangan ini sedang tidak baik. Penyebabnya, sudah pasti perkara Jung Gi dan Ryū, apalagi.

“Udah gue bilang, jangan ikut campur. Sekalipun loe anak yang punya pabrik, gue nggak takut,” desis si cowok tinggi besar sinis.

Ara menautkan kedua alisnya, “Oh! Kamu suka banget bawa-bawa orang tua ya? Nggak ada yang bisa dibanggain dari diri sendiri?”

“Ara…” panggil Aria lirih, berusaha menarik lengan Ara menjauh. Ara bergeming.

Si cowok tinggi besar menggertakkan gigi, tangannya mengepal kuat, “Untung aja loe cewek, klo co-”

“Nggak usah pake alasan gender klo emang dasarnya pengecut!” Potong Ara kasar.

“Ara…” Aria kembali menarik lengan Ara. Ara menoleh, menatap kesal wajah Aria yang biru lebam. Aria menggeleng pelan, seolah bilang ‘Jangan, cukup.’ pada Ara.

“Cewek murahan! Banci aja dibelain!”

Aria mendelik gusar mendengar kalimat yang baru saja dikeluarkan salah satu penyerangnya, rahangnya tampak mengeras.

Giliran Ara yang kali ini menarik lengan Aria, menggeleng pelan. Ara tahu persis, Aria bukannya tidak bisa berkelahi, dia hanya enggan. Tapi jangan sekali-kali membuatnya marah, mengerikan!

“OH! Bisa tersinggung juga ternyata!”

Ara menyeret Aria menjauh, “Kalaupun disini ada banci, itu kamu! Bukan Aria!” Seru Ara sembari terus menarik Aria pergi.

Ara refleks menghindar saat merasa sebuah pukulan mengarah padanya. Si cowok tinggi besar itu menyerangnya dari belakang.

BUKKK

Tanpa sadar Ara sudah berbalik cepat, mengangkat kaki kirinya, tendangan ekor naga.

Tidak sia-sia Ara rajin berlatih silat dan memegang sabuk coklat, refleknya sangat bagus. Terkadang justru berlebihan, seperti saat ini.

Ara memandang penuh penyesalan pada si cowok tinggi besar yang terhuyung memegangi perutnya.

“Maaf, aku nggak sengaja!” Seru Ara panik sembari mengulurkan tangan hendak menolong.

Si cowok tinggi besar dan gerombolannya justru gelap mata, mengepung Ara dan Aria.

Mau-tak mau, Ara dan Aria memasang kuda-kuda, kedua tangan mengepal, bersilang di depan dada.

“ARA!”

Ara melirik kearah datangnya suara yang sangat dia kenal itu, Ryū, diikuti guru BK dan seorang anak berseragam SMP. Ara mengurai kuda-kudanya, melengos malas.

“Kalian semua! Ke ruangan saya! SEKARANG!”

***

“Berkelahi? Dilaporin ama anak SMP ke guru BK?” Tanya Ken tak percaya, pandangannya tertancap kearah Ara yang sedang sibuk mengoleskan salep ke pipi Aria.

Ara melirik sekilas kearah Ken, mendengus malas.

“Maaf ya Ra. Gara-gara aku, kamu jadi di skors,” ucap Aria, berjengit sakit karena Ara sengaja menekan lukanya.

“Kenapa kamu diem aja? Klo dipukulin tu ngelawan, hajar balik!” Sembur Ara kesal. Bukan masalah baginya di skors 3 hari, anggap saja liburan. Juga bukan soal kalau Ayah sekarang dipanggil guru BK dan Kepala Sekolah. Sudah biasa, dulu waktu SD, bukan sekali dua Ayah dipanggil Kepala Sekolah. Perkelahian ini, itu, ulah ini, itu, sudah biasa. Yang membuatnya sebal adalah orang yang ditindas tapi tidak melawan. Sangat menyebalkan.

“Ouch! Sakit,” jerit Aria saat Ara mengoleskan salep ke sudut bibirnya.

Ara menyeringai sinis, “Diobatin teriak sakit. Tadi dipukulin diem aja!”

Ryū yang berdiri bertelekan bingkai pintu tak berkedip melihat pemandangan didepannya.

“Kekerasan nggak bisa nyelesein masalah,” celutuk Ryū. Ken dan Aria menoleh kearahnya, mengangguk setuju. Ara bergeming, seolah tidak mendengar.

“Lagipula, kamu tu anak perempuan. Nggak pantes berantem kayak gitu,” kali ini Ken yang angkat suara.

“OH! Jadi klo cowok boleh berantem? Cewek nggak boleh? Gender banget!”  Protes Ara, berkacak pinggang, menatap galak Ken.

“Maksud Ken bukan gitu Ra. Berkelahi nggak akan menyelesaikan masalah, justru memperumit,” Sahut Ryū kalem, meraih lengan Ara yang masih berkacak pinggang. Ara menepis kasar tangan Ryū, tanpa merasa perlu untuk sekadar melirik. Gadis itu berjalan keluar dari ruang kesehatan dengan muka masam.

Ryū menghela nafas panjang, Ara benar-benar menganggapnya serupa angin. Sejak kejadian Jung Gi dibawa ke rumah sakit, 3 minggu yang lalu, gadis itu menjadi sangat dingin padanya. Jangankan bicara, melihat saja sepertinya tidak mau.

“Ayah!” Panggil Ara pada Ayahnya yang nampak berjalan menuju tempat parkir.

Ayah hanya menoleh, tersenyum tipis pada anak gadisnya.

“Ayah mau pulang? Ikut…. ” Rajuk Ara manja, bergelayut dilengan Ayahnya.

“Ayah harus balik ke pabrik, lembur. Gara-gara kamu bikin ulah, kerjaan Ayah jadi tertunda. Cinta pulang sendiri,”  jawab Ayah ringan.

Ara membelalakkan matanya yang memang sudah bundar, “Lembur?? Aduh…. Cinta kan nggak bawa sepeda, tadi pagi kan nebeng Ayah. Trus… berarti… Cinta harus ngadepin Bunda sendirian?”

Ayah tersenyum geli melihat ekspresi Ara yang mengenaskan, “Berani berbuat, harus berani bertanggungjawab,” ucap Ayah tegas.

Ara menggembungkan pipi, menghembuskan nafas melalui mulut, ber-puh panjang.

Ayah tidak mempedulikan ekspresi Ara yang semakin mengenaskan, dia justru tersenyum lebar, mengangguk, menjawab sapaan Pak Dadang dan Aria yang berjalan pulang beriringan.

“Sore Om,” sapa Ken dan Ryū pada Ayah, bersamaan.

“Sore,” sahut Ayah ramah,  “Nah, Cinta bareng mereka aja. BolehkanRyū?” Tanya Ayah, tersenyum pada Ryū.

Ryū mengangguk pasti, ikut tersenyum. Ara menyeringai malas.

“Ayah duluan,” pamit Ayah. Tersenyum pada Ken dan Ryū, menepuk pelan bahu Ara.

Ara hanya bisa mendesah berat melihat mobil Ayahnya yang tancap gas begitu saja. Bagaimanalah jadinya urusan Bunda?

“Cinta…. Yuk, pulang bareng,” goda Ken, menggamit lengan Ara.

Ara justru mendelik ke arah Ryū, “Makasih. Aku jalan aja,” jawabnya ketus.

Ryū menatap Ara tajam, “Aku bawa mobil, kita pulang bareng.”

Ara tidak merespon, gadis itu berlalu meninggalkan Ken dan Ryū tanpa berkata apa-apa lagi. Ryū sigap menahan lengannya. Ara mengibaskan tangan Ryū, kembali mengambil langkah lebar.

“Ra, udah sore. Jangan keras kepala gitu!” Panggil Ken.

Ara berbalik, melambai pada Ken, “Thanks Kak. Ara bisa pulang sendiri kok!”

“Sebenernya apa masalah kamu? Udah tiga minggu ini marah-marah nggak jelas ke aku?” Tanya Ryū, berjalan cepat, menjajari langkah Ara.

Ara menyeringai sinis, membuang muka.

Ryū tiba-tiba berdiri menghadang Ara, memegang kedua bahu gadis itu, “Kita perlu bicara.”

Ara melengos, berusaha melepas tangan Ryū dibahunya.

“Jangan kekanak-kanakan. Kalau kamu ngerasa ada masalah, omongin baik-baik. Masalah nggak akan selesai klo kamu terus diem kayak gini.” Ucap Ryū dengan nada terkontrol.

“Aku emang kekanak-kanakan, tapi itu bukan urusan kamu. Dan, aku nggak ngerasa ada masalah apapun sama kamu,” sahut Ara dengan nada dingin, dua kali lebih dingin dibanding tatapannya pada Ryū.

Ryū meneguk ludah. Cowok itu balik memandang Ara dengan dingin. Walau dia benci dan kesal setengah mati melihat sorot dingin di mata Ara, emosi Ryū tetap terkontrol sempurna.

“OK. Terserah kamu,” sahut Ryū tak kalah dingin, meninggalkan Ara yang membelalak tak percaya dengan reaksi Ryū. Bagaimanapun, Ara berharap Ryū akan bicara lebih banyak. Mengemukakan alasan atas apa yang dia lalukan pada Jung Gi, menjelaskan apa yang terjadi pada Jung Gi setelah peristiwa itu, kenapa Jung Gi tak lagi nampak batang hidungnya, tak ada kabar beritanya. Apa Jung Gi sudah membusuk di penjara, atau… apalah. Apa saja. Ara paham, kedua sahabatnya itu, Ken dan Ryū, bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Mereka tipe orang yang, bahkan jika ditanya sekalipun, tidak akan cerita jika tidak ada kepentingannya. Dan kadar kecuekan Ryū, jelas berkali lipat dibanding Ken. Tapi, setidaknya, Ryū harus menjelaskan sesuatu tentang Jung Gi. Kecuali,yah, kecuali Ryū memang merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang dia lalukan.

Ara ber-puh panjang, menatap punggung Ryū yang terus berjalan lurus meninggalkannya, tanpa menoleh sedikitpun.

“Duh, beneran pulang sendirian nih? Jalan?” Keluh Ara diam-diam.

***

Ken mengerling tak percaya pada Ryū, “Yakin nih, loe nggak mau balik njemput Ara? Nggak khawatir ntar dia kenapa-napa? Emosinya lagi labil tuh.”

Ryū mendesah berat, menatap tikungan jalan, menunggu kemunculan Ara, “Kita pantau dari jauh aja. Lagian, gue yakin, gadis semrawut keras kepala itu, lebih dari sekadar mampu buat njaga dirinya sendiri.”

“Dia belum terima loe ngaduin Jung Gi ke Kepsek. Loe sadar kan?” Tanya Ken, melirik Ryū yang menatap ke luar jendela. Semburat kelegaan muncul di wajah Ryū, Ara terlihat berjalan serampangan sambil menendang-nendang kerikil.

“Kenapa loe nggak jelasin aja ke Ara? Jadi dia nggak akan berburuk sangka lagi sama loe. Emang loe seneng ya dicuekin Ara? Gila! Tatapannya ke elo tadi, sumpah, dingin banget. Gue aja merinding. Yah, sebelas-duabelas lah ama tatapan loe klo lagi marah,” lanjut Ken, terkekeh geli melihat Ara yang meringis kesakitan. Saking kesalnya, gadis itu bukan hanya menendang kerikil, tapi juga batu yang ada ditepi jalan.

“Jelas-jelas diajak ngomong aja nggak mau. Ditanya nggak ngejawab. Gue bisa ngejelasin apa?” Sahut Ryū dingin.

“Astaga…. Loe klo kesel ama Ara, jangan bawa-bawa gue dong. Intonasi loe dingin banget,” protes Ken. “Emang dasar sama-sama keras kepala. Blum jadian aja dah berantem, ntar klo dah nikah gimana?” tambah Ken sembari menggeleng pelan, sok serius.

“Blom tentu juga gue nikah ama Ara,” celutuk Ryū, tetap dengan nada dingin dan datar. Mobilnya mulai melaju pelan. Ara sudah memasuki halaman rumah.

“Gyah, siapa juga yang ngomongin elu ama Ara,” sahut Ken tergelak, “Eh, serius loe nggak mau nikah ama Ara? Yakin? Nggak nyesel?” Tambah Ken, menyeringai jahil.

Ryū hanya melirik sekilas ke arah Ken, kembali fokus pada jalan didepannya. Ryū menambah kecepatan mobilnya, berakselerasi, menuju rumah Ken.

“Ya udah klo loe nggak mau, gue aja. Lumayan lah.” Sahut Ken saat melihat Ryū tidak berkomentar apapun.

Hening sejenak, sebelum tiba-tiba Ryū mengeryitkan alis, menatap Ken tidak mengerti, “Apa tadi? Loe apa?”

Giliran Ken yang menatap Ryū tak mengerti, melipat dahi. “Apa?? Oh… itu. Maksud gue, gue nggak keberatan nikah ama Ara,” sahut Ken kalem, tanpa tendensi apapun.

Mendadak, Ryū menginjak pedal rem, Rang Rover putihnya berhenti seketika,  membuat Ken terjerembab menghantam dashboard.

“Hoi! Anjrit loe! Sengaja mo ngebunuh gue ya?” Seru Ken kesal, mengusap-usap jidatnya yang benjol.

***

“Kamu itu bukan anak kecil lagi Cinta! Sudah gadis! Nggak pantes berkelahi. Sebagai orang dewasa, kamu harus bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, pakai nalar, logika. Sudah lewat masa kekanak-kanakan, bertengkar, berkelahi. Cinta, dengar apa Bunda bilang?”

Benar saja, sesampainya di rumah, Ara disambut dengan omelan panjang lebar dari Bunda. Gadis itu hanya tertunduk lesu, separuh mendengarkan, separuh menahan pengaruh asam laktat di kakinya, pegal. Dia benar-benar harus jalan kaki dari sekolah ke rumah, Ryū dan Ken meninggalkannya begitu saja.

“Ayah dan Bunda ngijinin kamu ikut latihan silat bukan buat gagah-gagahan, apalagi berantem. Bukannya pelatih silat kamu juga udah bilang, silat itu seni olahraga, untuk kesehatan dan perlindungan diri. Sebagai orang yang punya ilmu belka diri, seharusnya Cinta juga punya kontrol diri yang baik. Lebih bisa mengontrol emosi. Kekerasan itu nggak akan menyelesaikan masalah Cinta. Justru terkadang membuat masalah itu semakin besar, rumit, rungsing,” tambah Bunda panjang lebar. Ara menggembungkan pipinya diam-diam, memekuri piring makan malam-nya, menunduk dalam agar Bunda tidak melihat apa yang dia lakukan. Gadis  sibuk membenak. Kenapa Bunda jadi mirip Ryū? Atau, sebenarnya, Ryū yang mirip Bunda? ARGH!! Ayah mana sih? Kok belum pulang juga? Ayah… tolong….