Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 7- An Ordinary Real Life

 

Author: yen

Main Cast : Kinsei, Jinki, Jiyong

Support Cast: SHINee, Jae Hyun, Shun Oguri

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Friendship, Family, Romance

 Kinsei POV

Lagi-lagi aku terbangun, tapi kali ini rasanya jauh lebih ringan dan hangat.

“Sepertinya sleeping ugly sudah bangun,” suara Shun-kun mengalihkan perhatianku dari wajah Jiyong yang tertidur di samping tempat tidurku.

“Jangan diganggu Kin, kasihan. Semalaman dia tidak tidur, menjagamu,” tambah Shun-kun lagi, membuatku mengurungkan niat menjahili Jiyong.

“Aku mau keluar sarapan, nanti kalau Jiyong bangun, suruh dia menyusulku ke kantin. Kau, habiskan buburmu!” Perintah Shun-kun beruntun, menunjuk mangkuk bubur di meja sebelahku sambil berlalu keluar kamar, taktis sekali.

Aku melirik tidak berminat pada mangkuk bubur itu,  yakss… kenapa orang sakit selalu diberi makan bubur, menyebalkan.

Aku memilih kembali memperhatikan Jiyong yang sedang tidur, kelihatan menyenangkan. Tidak jahil dan menyebalkan seperti biasanya.

“ Kenapa? Belum pernah ngeliat cowok cakep tidur ya? Gitu amat ngeliatnya?” Tiba-tiba Jiyong membuka matanya, tersenyum jahil. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela, sedikit salah tingkah. Ok, Ok, aku mengaku, bukan sedikit, tapi memang salah tingkah beneran.

“Makasih ya, semalam, udah dipinjemin bahu,” ucapku pada Jiyong yang baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat lebih segar dengan rambut semi basahnya.

“Bahu apanya, kau menangis semalaman di dadaku, sampai kaosku basah. Kalau diperas, pasti dapat seember penuh. Dasar keran bocor!” Sahut Jiyong, kembali duduk di kursi sebelah tempat tidurku.

“Salahmu sendiri, kan kau yang bikin aku celaka,” celutukku tanpa berpikir, kemudian menyesal karena wajah Jiyong berubah menjadi suram.

“Maaf Kin, aku tidak tahu kalau kau… Ehmmm… maksudku, aku tidak sengaja membuatmu ingat…” desah Jiyong berat.

“Gapapa, sudah gapapa kok. Sakit sih memang, tapi nangis semalaman ternyata bikin lega juga. Malah sekarang rasanya lebih ringan,” potongku cepat, menatap Jiyong –gak usah dibahas lagi dong, please

Yah selama ini aku selalu merasa ada yang mengganjal, apalagi saat aku melihat bintang sendirian. Seperi ada sesuatu yang menekan ulu hatiku, sesak. Tapi ingatan ini telah menjelaskan semuanya, memang terasa sakit dan menyedihkan, tapi sekaligus ada rasa lega di sana. Ternyata Appa dan Umma menepati janji mereka, mengajakku melihat hujan meteor. Janji… memang perkara besar buatku. Karena ternyata, janji itulah yang telah membuat Appa dan Umma pergi. Janji yang membuatku ditinggalkan.

“Oh ya, sekarang jam berapa?” Aku berusaha menghindari topik yang tidak menyenangkan ini.

“ Hmmm… jam 9” jawab Jiyong setelah melirik jam tangannya.

WHAT!!! Tanpa berpikir panjang aku melompat turun dari tempat tidur, sedikit terhuyung karena kepalaku tiba-tiba sakit.

“Kau ini kenapa??” Bentak Jiyong sembari cepat menyambar pinggangku.

“Pesawat, aku bisa ketinggalan pesawat,” jawabku sambil berusaha melepaskan pegangannya yang justru terasa semakin kuat.

“Pesawatmu sudah berangkat kemarin Kin!” Sergahnya lagi, tetap tidak melepaskanku.

Kemarin? Aku memutar kepala, mendongak mencari mata Jiyong –memangnya sekarang hari apa? Aku pingsan berapa lama?

Jiyong POV

“ Oh ya, sekarang jam berapa?” Sepertinya dia ingin mengganti topik pembicaraan.

“ Hmmm…jam 9” jawabku singkat.

“Kau ini kenapa??” Bentakku sembari cepat meraih pinggangnya, telat sedikit saja, dia bisa terjerembab ke lantai.

“Pesawat, aku bisa ketinggalan pesawat.” Dia berusaha melepaskan diri dari peganganku, ehmmm…lebih tepatnya pelukanku.

“Pesawatmu sudah berangkat kemarin Kin!” Sahutku, mulai menyadari apa yang dia maksud.

Dia menatapku dengan ekspresi bingung. Aku tidak melepaskan tanganku dari pinggangnya, justru menariknya lebih kuat. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat, menyadari wajahnya hanya terpaut 10 cm dari wajahku.

“Gadis bodoh, kemarin kau pingsan seharian,” ucapku, berusaha mengontrol agar suaraku terdengar normal.

“Oooo….” Sahutnya lirih dengan ekspresi kecewa, membulatkan bibirnya. Bibir… ya tuhan, kenapa aku jadi memperhatikan bibirnya, tidak bisa mengalihkan pandanganku dari sana.

“ Kin!!! Lihat siapa yang datang bersamaku. Ta-da…!! Your backstreet boyfriend!!!” tiba-tiba pintu kamar Kin terbuka lebar. Aku dan Kin serempak menoleh ke arah pintu.

Kinsei POV

“Gadis bodoh, kemarin kau pingsan seharian,” ujarnya pelan dengan intonasi sedikit aneh.

“Oooo…” sahutku paham, membulatkan bibir. Jadi aku ketinggalan pesawat. Ah… bagaimanalah ini, ga jadi ke Jerman dong. Eiittt.. .bukannya ga jadi, cuma tertunda aja. Besok aku harus pesen tiket pesawat lagi nih! ASAP!

“Kin!!! Lihat siapa yang datang bersamaku. Ta-da..!! Your backstreet boyfriend!!!” suara Jae Hyun oppa. Bukannya dia di Macau? Aku menoleh ke arah suara cempreng itu berasal.

Kyaa… refleks aku kembali mendongak ke arah Jiyong, sadar kalau pose kami cukup menghebohkan untuk dilihat orang sebanyak ini. Jiyong melepaskan tangganya dari pinggangku, bersamaan dengan aku mundur satu langkah, mengambil jarak darinya. Oppa datang bersama anggota SHINee… olala… tapi masih untung, bukan bersama anggota SuJu, bisa lebih repot urusannya.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Maaf Jinki kau harus melihat pemandangan menyebalkan ini. Yah… bagaimana lagi, aku kan sudah mengingatkanmu, Kin itu heartbreaker,” seperti biasa Jae Hyun oppa menggoda tidak tau tempat dan situasi.

“Dia mau kabur ngejar pesawat ke Jerman Hyung, makanya aku tangkap,” sahut Jiyong setelah mengangguk memberi salam pada mereka semua.

Aku kembali naik ke tempat tidur, berusaha sok ga peduli, padahal malu sangat….

“Segitu semangatnya yang mo ke Jerman, baru sadar aja udah mau langsung kabur,” gerutu Jae Hyun oppa sambil membantuku menyusun bantal dan menaikkan sandaran tempat tidur.

“Noona beneran mau kuliah di Jerman ya? Kenapa ga di sini aja sih?” Tanya Taemin yang langsung menghampiriku.

“ Di sini ga ada Miroslav Klose ataupun Thomas Muller sih,” jawabku ngaco.

“ Kok jawabannya berubah Kin? Bukan Mezut Oziel lagi? Tanya Jae Hyun oppa, ga up-to date.

“Soalnya dia udah pindah ke Real Madrid, ga di Jerman lagi deh…” sahutku sok kecewa. Jiyong mendelik sebal dari pojokan kamar. Apaan sih tu orang?

“ Kinsei abis kecelakaan malah jadi lebih ceria ya?” Celutuk Jonghyun geli.

“ Bisa becanda lagi,” kali ini Key yang memberi komentar.

“Biasanya dia galak ya?” Jae Hyun oppa langsung nyamber seneng, ada yang ngomongin dongsaeng-nya.

“ Enggak galak sih, cuma dingin banget,” jawab Minho kalem.

“ Oya? Padahal klo lagi di kantor galak banget, mirip Hyena,” ucap Je Hyun oppa ga penting.

“Tapi wajar aja sih, dia kan punya beberapa alter. Iya kan Kin?” Tanya  Jae Hyun oppa. Aku langsung ngelempar tatapan garang ke arahnya  –oppa ga penting banget, sumpah

“Shun-kun mana Kin? Katanya dia udah di sini kan?” Tanya Jae Hyun oppa, akhirnya mengalihkan pembicaraan.

“Sarapan. Tu orangnya…” tunjukku pada Shun-kun yang barusan datang.

“Udah rame nih. Jiyong, kamu kok nggak nyusul ke kantin?” tanya Shun-kun pada Jiyong.

“Upsss… Kin lupa bilang Onii-chan. Maaf ya…” aku bener-bener lupa kalo tadi Shun-kun pesen supaya Jiyong nyusulin dia ke kantin.

“Ya udah. Kami pulang aja. Jiyong ga bakal bisa istirahat klo tetep di sini” sahut Shun-kun sambil nengadahin tangannya ke Jae Hyun oppa.

“Apaan?” tanya Jae Hyun oppa ga ngerti.

“Kunci mobil oppa, mereka kan ga bawa mobil” sahutku maklum.

Jae Hyun oppa langsung merogoh kantong celananya, ngasih kunci mobil ke Shun-kun.

“Onii-chan aja yang nyetir ya, jangan Jiyong, kasihan…” ujarku pada Shun-kun yang mengecup keningku sekilas, pamitan.

“Ehemmm…. segitu pedulinya ama Jiyong…” Jae Hyun oppa mulai nge-godain lagi.

“Kasihan airbag-nya kalau diseruduk ama dia,” sahutku sambil sembunyi di belakang punggung Shun-kun, Jiyong udah ngangkat tangannya, siap-siap mau ngejitak.

“Udah, udah. Becanda mulu,” sahut Shun-kun sambil mendorong Jiyong keluar, Jiyong cuma bisa pasrah aja. Aku melambai pada Shun-kun, mengangguk pada Jiyong yang sebelum keluar sempet ngasih isyarat –nanti ku telpon-

“Maaf ya, dicuekin” sambutku pada anggota SHINee yang sekarang berdiri di sekitar tempat tidurku,  Jae Hyun oppa udah lari nyusulin Shun-kun, lupa bilang mobilnya di parkir di mana.

“Gapapa kok, santai aja” jawab Jonghyun sambil duduk ditepi tempat tidurku.

“Buku-mu” kata Jinki datar sambil mengulurkan Handbook of Space Astronomy and Astrophysics by Martin V. Zombeck milikku. Perasaanku aja atau memang dia agak aneh ya? Dari datang tadi dia juga diam aja. Sama sekali ga ikutan senyum waktu kami heboh bercanda.

“Kalian kok tahu aku di sini?” tanyaku pada mereka.

“Beritanya sudah heboh Kin! –LEADER BIGBANG MENGALAMI KECELAKAAN SAAT BERSAMA SEORANG GADIS KOREA-JEPANG YANG DIDUGA KUAT SEBAGAI PACARNYA-” sahut Key dengan gaya dramatis.

“A so desu ka? Tapi mereka tidak menyebut nama atau memperlihatkan fotoku kan? Darimana kalian tau kalau gadis yang dimaksud adalah aku?” Mustahil harabeoji membiarkanku terlibat skandal seperti ini. Bisa-bisa harga saham perusahaan haraboeji ikut terganggu kalau sampai berita bahwa salah satu pewarisnya tertangkap basah bersama seorang leader boyband ditengah malam, tersebar. Yah, nasib pewaris perusahaan terbesar di Korea Selatan, bagaimana lagi. Hidupmu bukan hanya milikmu Kin, itu kata haraboeji, selalu.

“Kalau itu, tanyakan saja pada Jinki,” jawab Jonghyun yang diamini oleh anggukan Key dan Minho. Aku langsung mengalihkan pandangan pada Jinki oppa yang justru buru-buru memalingkan wajahnya. Terlihat benar tidak ingin bertemu pandang denganku.

“Malam itu, kalian terlihat sangat dekat dan akrab” jawab Jinki oppa, tetap tidak mau melihat kearahku. Intonasi suaranya juga janggal.

Malam itu? Ah, pasti yang dimaksud Jinki oppa adalah malam saat kami rehearsal. Iya sih, aku bahkan memilih diantar Jiyong daripada pulang bersama Jinki oppa dan Yoona.

“Jadi benar, noona pacaran dengan Jiyong hyung?”

Ehhh…??

“Bukankah waktu itu noona bilang kalau noona juga suka padaku? Kenapa malah pacaran dengannya?”

Haaa…??

Aku mencengir malas pada Taemin yang menatapku kesal. Tersenyum tanggung pada Minho yang mengacak rambut Taemin. Melirik jengah pada Key dan Jonghyun yang tersenyum geli melihat ekspresiku. Dan… apa itu? Kenapa Jinki oppa menatapku seperti itu? Tunggu…. bukannya itu sorot mata orang patah hati? Aku salah lihat? Salah membaca sorot matanya? Atau…? Duh! Apa ini? Kenapa hatiku ikut-ikutan sakit melihatnya seperti itu?

***

EuroAirport Basel-Mulhouse-Freiburg.

Sebenarnya surat apa sih? Dari siapa? Kenapa juga Jae Hyun Oppa ngotot memintaku berjanji untuk tidak membacanya kalau aku belum sampai di Jerman. Oppa yang aneh, dan lebih aneh lagi pengirim surat ini, membuatku penasaran selama 12 jam di pesawat tadi. Siapa sih?

Dear Kinsei (atau aku harus memanggilmu Venus?)

Maaf membuatmu penasaran (mengaku saja Kin, kau penasaran kan? Hehehehe…

Aku bingung mau mulai dari mana, jadi ku mulai dari minta maaf saja ya.

Aku minta maaf, sudah bersikap ganjil saat pertemuan kita yang terakhir, di rumah sakit. Maaf, aku tidak bermaksud bersikap dingin seperti itu.

Hmmm… sepertinya aku belum cukup dewasa ya?

Langsung saja, jujur, aku senang kau panggil Oppa. Walaupun pada kenyataannya aku berharap bisa lebih dari sekadar Oppa.

Terlalu dini memang untuk disebut cinta. Tapi nyatanya, aku merasa bahwa aku menyayangimu, lebih dari rasa sayang Oppa pada Dongsaeng-nya.

Apa aku terlalu impulsif Kin?

Aku hanya ingin kau tahu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tahu.

Karena yang aku tahu, sekarang ini yang kau perlukan adalah seorang Oppa, dan aku janji akan selalu menjadi Oppa-mu. Oppa yang akan selalu ada untukmu, selamanya. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku masih bisa berharap untuk menjadi “Oppa” kan?

But, all i want is to set your heart free.1

Karena kau adalah Kinsei, Venus yang mengelilingi matahari sendirian, tanpa ditemani oleh bulan ataupun cincin seperti planet lainnya.

Tapi, bagaimanapun, aku ini adalah Oppa-mu! Sebagai dongsaeng yang baik, seharusnya kau pamitan padaku secara pribadi. Sudahlah, tidak apa-apa, sebagai gantinya,  kau harus menelponku begitu kau selesai membaca surat ini. Mengerti??

 

With lots (or lost?) of love

Your’s one and only Oppa

Jinki.

Jinki oppa….

Benarkah oppa berjanji akan selalu ada untukku? Selamanya? Hmmmm….

Ada satu orang lagi yang juga berjanji seperti itu padaku. Tak peduli siapapun yang ku cintai, dia janji akan selalu ada untukku, mencintaiku, menyayangiku, sebagai teman, sahabat, kakak atau apapun yang aku perlukan. Dia hanya minta agar aku tidak menjauhinya, tidak akan membencinya. Dia sering ingkar janji, ya, sangat menyebalkan memang, hehehe….

Tapi entah kenapa, dia selalu saja berhasil membuatku yakin, kalau dia tidak akan pernah meninggalkanku. Dia, sangat realistis. Dia, sering mengingatkanku untuk tidak terlalu banyak berpikir atau terlalu khawatir pada sesuatu. Dia paham benar posisiku, bahwa hidupku, bukan hanya milikku. Bahwa suatu saat nanti, hidupku hanyalah tentang merger atau akuisisi. Cinta? Entahlah….

Kami sering tertawa bersama kalau sedang mendiskusikan apa itu cinta. Dan kesimpulan dari setiap diskusi kami tidak pernah jauh dari kata ‘Entahlah’. Kacau memang.

Upppsss, kenapa aku justru memikirkan dia?

Bagaimanapun… yah, aku tidak akan menjilat ludahku sendiri. Tentu saja kau adalah satu-satunya Oppa-ku, selain Jae Hyun Oppa tentunya, mau dibuang kemana dia? Hehehe….

Tapi maaf, aku sudah terlanjur janji untuk menjadikan Jiyong sebagai orang pertama yang ku telpon begitu aku menginjakkan kaki di Jerman. Dia memaksaku berjanji begitu, menyebalkan, seperti biasanya.

Dan, buatku, janji adalah perkara besar.

Tenang saja, walaupun kau adalah orang kedua yang ku telpon, tapi kau orang pertama yang ku kirimi email sepanjang 5 halaman word, email terpanjang seumur hidupku, hehehe…. Banyak yang harus aku jelaskan padamu Oppa.

Author POV

Sabtu, 15 Januari 2011

Kinsei

Heidelberg, 08:00 am

Breakfast bareng Dr Johny Setiawan, mau nanya-nanya soal HIP 13044 b, planet baru yang dia temuin.

(Ga sopan ni anak, ngangguin orang lagi weekend aja. Tour 90 menit di Max Planck Institute for Astronomy belum cukup ya? BTW, titip salam dong dek!!)

Me, Myself and I

Griya Alit, 02:00 pm

Editing Venus : Vesper and Lucifer.

(Aduh… kapan kelarnya ni FF?)

Onew

MBC Ilsan Dream Center – South Gate, 04:10 pm

Jadi MC di MBC-TV show! Music Core (LIVE)

G-Dragon

MBC Ilsan Dream Center – South Gate, 04:10 pm

Perform High-High di MBC-TV show! Music Core (LIVE)

Eh, kok jadi nulis jadwal mereka segala sih? Gak penting banget deh.

Hmmm…bosen!! Ngapain ya?

yenSagara Yen Sagara

Tenggorokannya gatel ya dek @kinsei makanya, jangan mentang-mentang lagi musim dingin trus  sarapan salju

3 seconds ago

kinsei kinsei

Ehemm… Ehemm…@shunOguri @yenSagara

10 seconds ago

yenSagara Yen Sagara

miss you too…😉 RT @shunOguri :  miss you…@yenSagara

20 seconds ago

shunOguri Shun Oguri

miss you…@yenSagara

30 seconds ago

yenSagara Yen Sagara

@kinsei Ehmmm… gimana ya???

3 minutes ago

kinsei kinsei

Nanti Kin kirimin teropong bintang deh buat Kak @yenSagara  Novelnya jadi ya!!!

4 minutes ago

yenSagara Yen Sagara

Ga ngaruh tu @kinsei

5 minutes ago

kinsei kinsei

Ya! Kak @yenSagara jangan ngambek dong…Kakak cantik deh…

6 minutes ago

yenSagara Yen Sagara

Oh, GITU!!! @kinsei  Novelnya ga jadi!!!

7 minutes ago

kinsei kinsei

@yenSagara In english please!

8 minutes ago

yenSagara Yen Sagara

@kinsei InsyaAllah, lain kali, klo ada waktu dan ada ide, kakak bikinin novel deh. Ga janji lho!!!

9 minute ago

yenSagara Yen Sagara

@kinsei Venus : Vesper and Lucifer-nya lagi diedit, dek. Tapi, kayaknya ini bakal jadi FF pertama dan terakhirku deh (cont.)

9 minutes ago

FIN

 

 

Footnote :

1 diambil dari lagu Taeyang-Wedding Dress (English Version) by Tommy C. And J. Reyez