Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 5 – BIG BANG

 

Author: yen

Main Cast : Kinsei, Jinki , Jiyong

Support Cast: BIG BANG

Length : Sequel

Rating : General

Genre :  Friendship, Romance

Jinki POV

FLASHBACK –seminggu yang lalu-

 “ Gomawo Kin, sudah mengajariku tentang gestikulasi dan gesture. Penampilanku jauh lebih baik sekarang” ucapku pada Kinsei yang seperti biasa, sedang menikmati wafelnya dengan serius.

Kin hanya tersenyum sambil menggerakkan tangannya –no problem

“ Sekarang aku tau kenapa kau lebih memilih Jonghyun daripada aku.”

Kin menautkan alisnya, sepertinya aku salah memilih kata-kata.

“ Maksudku, memang aku yang mendapatkan peran utama. Awalnya aku tidak mengerti, kenapa kau lebih memilihku. Aku yakin, Jonghyun akan memerankan tokoh Chaebol itu dengan lebih baik daripada aku. Lagipula kenapa sutradara Lee memintamu memilih aku atau Jonghyun sebagai pemeran Chaebol atau Badguy. Jelas sekali bahwa yang satu adalah peran utama dan yang satunya peran pendukung. Seandainya waktu itu kau memilih Jonghyun jadi peran utama, berarti aku jadi Badguy kan? Itu berarti, sebenarnya kedua peran itu sama pentingnya” aku berusaha menjelaskan.

“ A so desu ka. Lalu?” sahut Kin yang tampak mulai tertarik, dia bahkan mengabaikan wafelnya.

“ Aku membaca skrip-mu berulang-ulang. Terutama adegan Chaebol dan Badguy. Pasti ada sesuatu yang lain. Kemudian aku sadar, walaupun scene The Badguy lebih sedikit daripada scene The Chaebol, tapi kau menggarapnya dengan sangat detil. Karakternya juga sangat kuat, paling kuat diantara tokoh-tokoh yang lain. Bahkan dibanding dengan tokoh The Dancer  yang scene-nya paling banyak. Sepertinya, karakter Badguy yang diperankan Jonghyun itu lah yang merupakan karakter utama, jiwa dari drama yang kau buat ini. Benarkah?” tanyaku pada Kin.

Selama beberapa detik dia hanya menatapku, diam tanpa ekspresi.

“ SUGOI! Keren sekali, kau menyadarinya?” teriaknya penuh semangat.

“ Jadi, aku benar?” tegasku.

“ Definitely! Kau benar sekali Jinki. Tapi bagaimana kau bisa menyadarinya? Ku pikir hanya Lee Han-ssi yang bisa memahaminya. Itu memang ide gilaku. Aku bosan, selalu saja orang menganggap bahwa suatu karakter itu sebagai tokoh utama hanya karena scene-nya paling banyak. Menurutku, sesedikit apapun scene suatu tokoh, asal karakternya ditampilkan dengan baik, dia bisa menjadi jiwa bagi sebuah pertunjukkan” jelas Kin antusias.

“ Pantas saja kau lebih memilih Jonghyun yang memerankannya, bukan aku”  ucapku mengerti, sedikit rendah hati terselip.

“ Oh…bukan. Bukan begitu. Kalau saja ini adalah drama tv atau film, tanpa ragu aku kan memilihmu Jinki. Kau punya ekspresi yang bagus, mata yang bicara banyak hal. Sangat keren. Tapi sayangnya sulit mengeksplore kelebihanmu itu dalam sebuah live drama musical. Jadi, aku memlilih Jonghyun untuk memerankannya, karena kelihatannya dia lebih terbiasa untuk mengungkapkan emosi dan perasaannya melalui nada suara, gesture dan movement. Sementara kau tidak, emosi-mu hanya jelas terlihat dari ekspresi dan sorot matamu saja” jelas Kin buru-buru.

“ Benarkah?” sekali lagi aku menegaskan.

“ Absolutely Jinki, i mean it. Kau memang keren. Matamu itu seperti jendela. Apa yang sedang kau rasakan dan pikirkan tergambar jelas dimatamu. Aku belum pernah bertemu orang yang matanya menjelaskan begitu banyak hal seperti milikmu” jawab Kin yakin, membuat pipiku menghangat.

“ Hehehe… Jinki , kau grogi ya ku bilang keren?” Kin terkekeh geli.

“ Kau ini. Lagipula, sejak kapan kau memanggilku Jinki, biasanya Onew” tanyaku menggoda balik Kin.

“ Eh, iya ya. Aku tidak sadar memanggilmu Jinki. Berarti sejak saat ini aku resmi jadi temanmu, bukan sekedar rekan kerja lagi. Aku tidak akan memanggil temanku dengan nama panggungnya, karena aku berteman dengannya sebagai pribadi, apa adanya dia, bukan karena dia terkenal, selebritis atau apapun. Tidak keberatan kan kalau ku panggil Jinki?” jawabannya membuatku terpaku, kagum akan filsafat hidupnya. Berteman sebagai pribadi, apa adanya dia.

“ Tentu saja tidak, aku senang kau panggil Jinki. Apalagi kalau Jinki oppa” pintaku setengah bercanda. Kin menatapku lurus-lurus, aku kembali merasa dia sedang menilaiku.

“ Oppa? Kau mau ku panggil Oppa?” tanyanya dengan wajah serius.

“ Ah, tidak. Aku hanya bercan…” jawabku buru-buru, tapi Kin memotong lebih cepat

“ Baiklah, aku tidak keberatan memanggilmu dengan sebutan Oppa. Kau layak untuk itu. Hemmm… senangnya, sekarang aku punya 2 orang Oppa, Jae Hyun oppa dan Jinki oppa. Yang satu jahil luar biasa, yang satunya keren luar biasa” seru Kin, lagi-lagi, sukses membuat pipiku menghangat.

“ Kau hanya memanggil dengan sebutan Oppa pada Jae Hyun Hyung?” tanyaku menutupi salah tingkahku.

“ Iya. Dan sekarang kau” jawabnya tampa menatapku, kembali sibuk dengan wafel yang sempat terabaikan beberapa saat.

“ Begitulah. Aku tidak memanggil seseorang dengan sebutan Oppa hanya karena dia lebih tua dariku. Dia harus menjadi cukup pantas menjadi kakakku sebelum aku memanggilnya Oppa”

END OF FLASHBACK

 Kinsei POV

Argghhh… kenapa juga mobil ini macet saat situasi begini. Percuma juga ku utak-utik, kalau didengar dari suaranya, sepertinya tidak ada bensin yang mengalir, mungkin fuel pump-nya macet.

Tenang Kinsei, cool, calm down, jangan panik. Duh, bagaimana ini. Tengah malam begini,  sudah sepuluh menit, belum satupun taxi melintas. Telpon, yah, telpon. Aku bisa minta dijemput atau memangil taxi.

Aku segera meraih LG Lollipop warna hitam yang sedari tadi ku letakkan di dashboard.

“Bloody Hell! ”  umpatku sendirian, ternyata ponsel-ku mati, lowbatt.

Hmmm…baik, tenang…

Ahhh…ku rasa aku masih bisa melakukan satu panggilan singkat kalau ponsel ini kuhidupkan lagi. Hanya sebuah panggilan, aku harus memilih dengan cerdas.

Taxi? Tidak,  aku tidak hapal nomer layanan mereka.

Rumah harabeoji? Ahhh…terlalu lama kalau aku harus mencari nomor-nya di phonebook, bisa-bisa baterainya benar-benar habis sebelum aku membuat panggilan.

Yah…tombol cepat! Aku bisa menghemat banyak waktu kalau aku membuat panggilan melalui tombol cepat.

Hmmm…ahhh…payah! Aku baru ingat kalau aku hanya punya 2 tombol cepat, Jae Hyun oppa dan Shun-kun. Sialnya, keduanya tidak mungkin menjemputku sekarang. Shun-kun di Jepang, Jae Hyun oppa lebih tidak mungkin lagi, dia sedang perjalanan bisnis ke Macau. Repot kalau begini urusannya. Tempat ini terlalu jauh dari stasiun ataupun halte bus, lagipula aku tidak yakin apakah masih ada angkutan umum yang beroperasi sampai tengah malam begini. Terbiasa menggunakan kendaraan pribadi membuatku buta tentang angkutan umum, baik jalur maupun jam operasional mereka.

Bermalam dan tidur di mobil? Bukan ide yang menyenangkan!

Kinsei! Thinking!

Sebentar, bukankah Jiyong pernah iseng memainkan ponselku. Waktu itu dia bilang, J for Jiyong. Dia men-setting tombol 5 sebagai tombol cepat ke nomornya.

Yah…bagaimanalah ini, sepertinya itu pilihan terbaik.

Aku segera menghidupkan handphone, terburu-buru menekan tombol 5, berharap Jiyong belum tidur dan segera mengangkat panggilan SOS ini. Semoga saja dia sedang tidak menggunakan silent mode, jadi bisa langsung tau kalau aku menelponnya.

Ayo…. Jiyong, cepat angkat!

“ Ada apa Kin?” suara Jiyong terdengar dari seberang.

Thanks God, berarti dia belum tidur, karena kalau dia sudah tidur, pasti dia hanya menjawab telpon-ku dengan gumaman tidak jelas.

“Jiyong! SOS! Aku di Gwacheon-Uiwang Toll Highway Mobilku mogok Bisa kau jemput aku atau kirim mobil ke…”

Plepp!

Kyaaaa…! Aku menggeleng lemas putus asa, baterainya benar-benar sudah habis.

Mudah-mudahan Jiyong bisa mengerti dengan kata-kata yang ku ucapkan dalam satu tarikan nafas tadi.

Hmmm…sekarang aku hanya bisa menunggu saja, semoga ada yang menjemputku.

Ahhh…daripada aku bengong di sini, tidak ada salahnya aku jalan kaki. Memang tidak akan efektif, karena Seoul masih jauh sekali, yah…setidaknya aku berusaha.

Jiyong POV

Call me Venus

Brightest planet in solar system

Vesper, an evening star

Luficer,bearer of light,

Bearer of dawn

 

Aku tengah meng-aransement lagu untuk album comeback BIGBANG saat ringtone itu terdengar dari ponsel-ku. Konsentrasiku pecah, buyar berantakan mendengarnya. Itu ringtone Kin, ada apa dia menelponku jam segini? Dia menelpon saja sudah merupakan kejadian langka, apalagi saat tengah malam.

“ Ada apa Kin?” jawabku tanpa basa basi.

“Jiyong! SOS! Aku di Gwacheon-Uiwang Toll Highway Mobilku mogok Bisa kau jemput aku atau kirim mobil ke…”

Tuuuttt…

Apa??? Tengah malam begini di Gwacheon-Uiwang Toll Highway, mobilnya mogok?

Aku segera berlari masuk ke dalam kamar, serabutan mencari kunci mobil.

“Kau mau kemana Hyung? Ini sudah tengah malam” Seungri bertanya sambil mengucek matanya, mengantuk.

“ Aku keluar sebentar, emergency ” sahutku sambil menyambar jaket dan melangkah lebar ke luar dorm.

“ Hah??? Emergency??? Hyung!!! ”

Aku tidak memperdulikan lagi teriak Seungri.

***

Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini dia malah dengan tenangnya berjalan sendirian sambil mendongak, memperhatikan gerimis yang turun. Hah! Tapi memang mustahil, tidak mungkin aku akan mendapatinya sedang menangis panik di tepi jalan kan? Sejak aku mengenalnya, aku belum sekalipun melihatnya menangis.

“ He…. Jiyong…!!! Wah padahal aku mulai berpikir bahwa aku harus jalan kaki sampai Seoul…”  Yeoja unik itu langsung saja memperlihatkan cengiran lebarnya begitu melihatku. Membuat jantungku mencelos lega, she’s fine.

“ Apa yang kau lakukan tengah malam di tempat seperti ini? ” sergahku pelan, menutupi kelegaan hatiku.

“Jalan-jalan di tengah gerimis. Memangnya apalagi? Romantis kan?” sempat-sempatnya dia bercanda, padahal bahunya sudah bergidik kedinginan. Aku segera melepas jaketku, memakaikannya di bahu Kin, yang lagi-lagi mencengir lebar.

***

“Kau ke Songam lagi?” tanyaku memulai pembicaraan.

“ Hmmm… pengen ngeliat bintang dulu sebelum besok berangkat ke Jerman” jawabnya singkat. Dia memang senang sekali melihat bintang, bahkan dia punya teropong di balkon kamarnya.

“Kau jadi mengambil jurusan astrofisika di Albert-Ludwigs Universität?” tanyaku memastikan sambil menoleh menatapnya. Kin mengangguk pasti.

Korea-Jepang saja sudah terasa jauh buatku, Jerman…

“Bagaimana kalau aku memintamu untuk jangan pergi?” aku bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu dan sedetik setelahnya aku merasa sangat bodoh.

Kin menatapku lamat-lamat.

“Aku yakin, kau tidak akan pernah mengajukan permintaan konyol seperti itu” jawabnya sambil tersenyum, senyum terbaik yang pernah kulihat darinya.

Dan hal ini membuatku tercenung, dia menjawab pertanyaanku dengan menggunakan kalimat yang sama persis dengan yang kuucapkan waktu itu.

-Bagaimana kalau aku memintamu berhenti menjadi G-Dragon? Yah, itulah pertanyaan yang dia ucapkan padaku saat aku menyatakan perasaanku padanya. Bukannya membalas pernyataanku, dia malah mengajukan pertanyaan itu.

Dan jawabanku sama persis dengan jawaban yang dia berikan barusan.

***

Mobilku melaju dengan kecepatan sedang kearah Seoul, Kin masih menatap nanar ke luar, kearah butiran-butiran air yang turun dengan lebatnya.

Aku menekan pedal gas, menambah kecepatan, berusaha menarik perhatian Kin.

“ Jangan ngebut, aku belum menemukan planet baru, belum ketemu mahkluk planet lain” akhirnya Kin menoleh padaku, aku tersenyum melihatnya, senang bisa mendapat perhatiannya kembali.

“ Bukannya kau yang biasanya suka ngebut?” jawabku geli, teringat bahwa Kin beberapa kali mengalami kecelakaan ringan karena hobi-nya itu.

“ Tidak dalam kondisi hujan deras ditengah malam begini” sahutnya memberengut.

“ Menurutku ini malah jauh lebih asyik, menegangkan” aku semakin menggodanya, menginjak pedal gas semakin dalam.

Kin melotot galak kearahku, membuatku tak tahan untuk tidak tertawa.

Tiba-tiba dari arah berlawanan datang truk container, lampu sorotnya yang besar menyilaukan. Kin reflek menoleh, menatapnya nanar, ekspresinya begitu ganjil.

Aku segera membanting stir, menginjak pedal rem sekuat-kuatnya, menghindari kecelakaan konyol yang bisa terjadi dalam hitungan sepersekian detik.

BRRAAKK!!!