Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 2 – Everybody is special

 

Author: yen

Main Cast : Kinsei, Jinki, Jiyong

Support Cast: SHINee, Jae Hyun

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Friendship, Family

Kinsei POV

“Jagi-ya…”

Kok sepertinya aku kenal suara ini ya?

Jinki melihat kearah belakangku dengan tatapan heran.

“Pantas saja kau tidak pernah menemuiku, padahal sudah 2 minggu kau di Seoul. Kau bahkan tidak menelponku. Ternyata kau punya namjachingu lain.”

Eh, itukan suara menyebalkan Jae Hyun oppa. Aku langsung menoleh kebelakang. Tidak memperdulikan tatapan Jinki yang meminta penjelasan.

“Oppa! Sedang apa kau di sini? ” ternyata benar, itu Jae Hyun oppa.

“Jagi-ya…teganya kau berkata seperti itu padaku” ucap Jae hyun opa dengan wajah memelasnya yang sangat jahil. Cari masalah oppa-ku yang satu ini.

“Jagi-ya, jagi-ya! In your dream oppa! Jangan mabuk laut di darat!” jawabku cuek, kembali mencuil-cuil wafel dihadapanku.

“Kau…teganya…”

Benar-benar cari mati oppa-ku ini. Aku menatapnya penuh ancaman –sama sekali tidak lucu, coba saja, ucapkan sekali lagi, aku akan membunuhmu!

“Oh…hahaha…manisnya, my little sweety dongsaeng” seru oppa sambil menepuk-nepuk kedua pipiku.

Jinki masih menatap binggung kami berdua, sekali lagi meminta penjelasan padaku melalui matanya.

Oppa duduk disampingku, sebelah tangannya merangkul bahuku, sementara tangan yang satunya ikut-ikutan mencuil wafelku. Sama denganku, oppa juga penggila wafel. Dan kalau Jinki berkata benar bahwa kafe ini terkenal dengan wafelnya yang enak, berarti oppa pasti sering ke sini.

“Kin, kau tidak mau mengenalkan namjachingu-mu yang baru ini pada oppa ya?” tanya oppa setelah kami terdiam beberapa saat. Dia melihat Jinki dari ujung rambut sampai ujung kaki (ujung sepatu, karena Jinki kan pakai sepatu, hehehe…) dengan tatapan menyelidik. Aku mengendikkan bahu tidak perduli.

“Ya sudah, aku kenalan sendiri saja. Aku Lee Jae Hyun. Oppa kesayangan Kin yang paling keren” ucap oppa sambil mengulurkan tangannya pada Jinki.

Aku langsung menatap Jinki –akan lebih baik untukmu kalau tidak mengenal orang gila yang satu ini– kataku lewat mata, sayang, Jinki tidak paham. Dia malah membungkukkan badan dan menyambut tangan oppa.

“Tenang saja, jangan cemburu. Aku ini seratus persen oppa-nya, sepupu. Aku tidak keberatan kau dekat dengan dongsaeng-ku. Pacaran juga boleh. Kinsei boleh berpacaran dengan siapapun dan berapapun dia mau. Tapi kusarankan, hati-hati! She’s a heartbreaker. Aku juga yang repot dibuatnya. Satu lagi, jangan sampai kau ketahuan oleh Shun-kun,  anii-nya, sepupunya yang di Jepang itu sister complex. Aku tidak bisa mambayangkan apa yang akan terjadi padamu kalau dia sampai tau kau telah lancang memacari imooto tercintanya ini”

 Oppa berbicara panjang lebar (untung saja tidak tinggi) dengan raut sok serius, bahkan sebelum Jinki sempat memperkenalkan diri.

“Mwo? Eh…ne…” jawab Jinki terperangah

Ya tuhan…aku hanya bisa tersenyum kecut melihat ekspresi bingung Jinki akibat ulah oppa.

***

“Sudah waktunya pulang” ucapku pada Jinki sambil berdiri.

“Ne. Benar juga, sudah terlalu siang. Aku ada jadwal latihan bersama Jonghyun jam 9 nanti” sahut jinki setuju, ikut berdiri dari kursinya.

“Ayo, ku antar ” oppa segera keluar mengambil mobilnya.

Aku langsung membuka pintu dan duduk di jok belakang, begitu juga Jinki.

“Ya! Kalian pikir aku supir? Salah satu temani aku di depan” sembur oppa melihat tingkah kami berdua. Jinki hanya menatapku.

“Kau saja…” ucapku sambil mendorong pelan bahu Jinki, membuatnya keluar dan pindah ke jok depan, di samping oppa.

Mobil oppa sudah dekat dengan dorm ketika tiba-tiba Jinki dengan ragu-ragu berkata, “Mianhae Hyung, sebenarnya aku dan Kinsei noona hanya berteman, kami tidak pacaran”

Aku sedikit terkejut, menatapnya dengan heran, tidak mengira Jinki menganggap serius lelucon konyol oppa.

“Hahahaha…aku tau, aku hanya bercanda…eh, siapa namamu?” sahut oppa tertawa lepas.

“Jinki. Lee Jinki, tapi aku biasa dipanggil Onew”  jawab Jinki. Oppa hanya mengangguk-angguk tidak antusias.

“Memangnya umurmu berapa Jinki?” tanya oppa.

“22 tahun hyung, sebentar lagi aku genap 22 tahun”

Aku mulai merasa ada yang tidak benar dengan pembicaraan umur ini. Segera ku majukan posisi dudukku. Menopang kepala diatas tangan, siku bertumpu pada lutut dan meletakkannya tepat diantara kedua bahu namja itu. Menatap mereka bergantian.

“Mwo??? Lalu kenapa kau memanggil Kin dengan sebutan noona? Dia yang seharusnya memanggilmu oppa! Dia bahkan belum genap 20 tahun. Kin, kebiasaan burukmu belum sembuh juga? Berapa kali aku bilang, panggil orang yang lebih tua dengan sebutan oppa atau unni. Aish… kau ini!” sembur oppa pada ku.

Apa perlunya juga sih dia mengatakan berapa umurku pada orang-orang. Merepotkan saja.

“Mwo? Benarkah?” Jinki menoleh padaku.

“Ehmmm…begitulah.” Aku hanya bisa tersenyum kecut menjawab pertanyaan Jinki.

“Onew, kau tidak perlu mengatakan pada siapapun soal berapa umurku” cepat-cepat aku menambahkan.

“Hahaha…kau terdengar seperti orang tertangkap basah pacaran backstreet Kin. Jangan bilang pada siapa-siapa! Hahahaha…” celutuk oppa, tertawa tidak karuan.

Pletak! Aku menjitak kepala oppa, cukup keras kalau didengar dari suaranya, hehehe…

“Ya! Sakit Kin. Kapan oppa mengajarimu melakukan kekerasan dalam rumah tangga begini? ” sembur oppa sambil mengelus-elus kepalanya.

“Ehmm…Ne. Tidak masalah, aku tidak akan cerita pada siapapun” timpal Jinki, masih menatapku sedari tadi.

“Tenang saja Jinki. Kin akan memanggilmu oppa, kalau kalian hanya sedang berduaan. Iya kan Kin? ” goda oppa sambil menoel pipiku dengan tangannya yang tidak memegang stir.

“Diamlah oppa! Kau cerewet sekali ” balasku sambil membekap mulutnya dari belakang.

Siang harinya, di tempat latihan.

“Noona…” suara Taemin mengganggu konsentrasiku.

“Kinsei noona…” panggilnya lagi setelah beberapa saat ku abaikan.

“Hmmm… ” aku hanya bergumam, menoleh sekilas padanya, kembali menekuri buku yang sedang ku baca.

“Noona…” kali ini dia berteriak kencang, karena lagi-lagi aku abaikan.

Baiklah, aku menutup pelan buku Relativitas : The Special and General Theory yang ada dipangkuanku, menatap Taemin –ada apa– bersiap memasang wajah kesal, tapi…

Ya tuhan, anak ini, aku gemas ingin menoel pipinya atau sekadar mengacak rambut beruangnya itu. Hal yang sebenarnya sangat aku benci.

Yap, aku benci ada orang yang menoel-noel pipiku, apalagi mengacak rambut panjangku. Tapi bagaimana lagi, setiap aku menjadi Kinsei, atau Kinsei Oguri (di rumah dan teater ojii-sama) aku selalu jadi anak kecil. Para senpai, sunbae, semua orang yang lebih tua dariku, memperlakukanku begitu. Sebal sekali rasanya. Tapi melihat Taemin, rasanya aku sedikit paham perasaan mereka. Mungkin, di mata mereka, aku juga selucu dan semenggemaskan ini, hehehe…

“Ada apa Taem? ” jawabku ramah, lupa dengan niatku memasang wajah kesal

“Aku tidak bisa membenci Key Hyung ” jawab Taemin malu-malu.

Apa maksudnya?

“Kenapa kau harus membenci Key? ” tanyaku heran.

“Kan noona yang menyuruhku begitu ” jawabnya polos sambil menyandarkan punggungnya di bahu kananku.

Aku? Oh…ya, skrip itu maksudnya.

“Tidak.  Kau bukannya membenci Key. Kau hanya merasa sebal pada Sunbae-mu, karena dia selalu meremehkanmu, mengataimu anak ingusan, anak kecil. Berkata bahwa kau tidak perlu tahu dan tidak akan mengerti tentang sesuatu, karena menurutnya itu adalah urusan orang dewasa. Kau tentu pernah mengalaminya kan?” jelasku perlahan-lahan.

“Ne. Tidak separah itu sih noona. Tapi memang pernah kok. Tetap saja aku tidak membenci mereka, eh…sebal juga sih, sebentar kok tapi. Kan mereka sebenarnya sayang padaku. Iya kan noona? ” jawab Taemin tanpa beban.

“Memang begitu. Pas kan dengan peran-mu? Kau tinggal mengingat-ingat hal yang membuatmu sebal pada mereka untuk membangkitkan emosi yang pas. Setelah itu, ya sudah” aku menambahkan.

“Heee…benar juga. Setelah itu kan memang kami berbaikan lagi ya… Wah, noona, kau hebat. Gomawo noona… ” seru Taemin, riang.

“Giliranku! ” teriak Key yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah kiriku.

“Aku kesulitan berakting jelous pada si-Taeminie ini. Dia bahkan tidak punya kelebihan apapun yang bisa membuatku iri padanya ” sambung Key bersungut-sungut.

“Ya! Apa maksud hyung? Aku punya banyak kelebihan dibanding kau. Aku jago nge-dance, aku dapat peran utama dalam drama ini,para noona lebih menyukaiku daripada kau, eh…maksudku… fans-ku banyak. Kinsei noona juga sering bilang kalau aku sangat cepat menangkap pelajaran, bahkan dibanding semua orang yang terlibat dalam proyek drama ini. Dan jelas, sangat jelas kalau aku lebih imut dan lucu dibanding kau, hyung. Iya kan noona…ya…ya…ya…” cerocos Taemin yang diakhiri dengan merangkul pundakku. Ya, merangkulku, dari semua pemeran yang terlibat dalam drama ini, hanya Taemin yang berani melakukannya. Karena aku akan langsung melempar glare death-ku kalau ada yang berani-berani menggoda atau berusaha memelukku iseng – i’m a  script writter and your coach, how dare you!

Aku menatap Taemin dan Key bergantian, berusaha untuk tidak tersenyum lebar. Sementara Minho mengucak rambut Taemin, gemas.

Eh, sejak kapan dia bergabung?

“Siapa bilang? Tentu saja tidak. Aku jauh lebih baik, lebih mature, keren, cool. Semua yeoja tergila-gila padaku. Jago nge-rap. Aku Almighty Key. Dan aku ini Hyung-mu” sembur Key, mendelik pada Taemin yang langsung menggembungkan pipinya begitu mendengar kata Hyung-mu.

Nge-rap? Aku justru tiba-tiba teringat Jiyong. Aku lupa belum memberitahunya kalau sekarang  aku sedang di Seoul, gawat…

“Dan lagi, aku juga bisa lebih imut darimu. Iyakan noona…?” Key menunjukkan puppy eye’s-nya padaku.

Kau tidak akan melakukan ini didepanku, kalau saja kau tau aku lebih muda darimu. Key…Key… Upayanya untuk tampil imut ini membuatku lupa soal kekhawatiran yang muncul akibat lupa menelpon Jiyong. Gampang, nanti saja, masa’ dia akan marah karena hal sepele seperti ini.

“Hmmmm…tidak juga, Taemin masih lebih imut” jawabku, tersenyum pada Key yang langsung cemberut.

“Ya! Noona…aku suka padamu. Suka sekali…” seru Taemin sambil mempererat rangkulannya. Bahkan dia hampir mencium pipiku, kalau saja tangan Minho tidak segera menahan kepalanya.

“Tentu, aku juga” balasku pada Taemin tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Key yang sekarang sedang melotot tajam ke arah Taemin.

“Nah Key, sekarang kau tau bagaimana rasanya iri pada Taemin. Kin noona membantumu dengan cara yang cerdas” tiba-tiba suara suara berat Minho memecah keheningan yang mengambang selama beberapa detik.

Gotcha! Minho memang pintar.

“Ne. Baiklah. Aku paham. Tapi caramu membantuku mengeksplore perasaan iri pada Taemin ini sama sekali tidak lucu, sangat menyebalkan ” ucap Key setelah menatap Minho binggung beberapa saat. Minho dan Taemin langsung tertawa tidak karuan mendengan ucapan Key barusan. Aku hanya tersenyum tipis menatap ketiganya.

“YA! KALIAN!  KETAWA-KETIWI SAMBIL BERPELUKAN!”