Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 3  – Faltering god of turtle

 

Author: yen

Main Cast : Kinsei, Jinki, Jiyong

Support Cast: SHINee, BIGBANG

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Friendship, Romance

Kinsei POV

“YA! KALIAN!  KETAWA-KETIWI SAMBIL BERPELUKAN!”

Tiba-tiba terdengar suara Jonghyun yang menggelegar, kami berempat sampai terlonjak dibuatnya.

“ Aishhh… Hyung, kau membuat jantungku copot” gerutu Taemin yang langsung melepaskan tangannya dari bahuku.

“ Kau kenapa Jjong? Marah-marah ga jelas gitu” tanya Key pada Jonghyun yang masih menggerutu panjang pendek tak jelas.

“ Kau Taeminie, kau kan pemeran utamanya. Tapi kenapa aku yang harus latihan paling keras. Jadwal latihanku juga paling padat dibanding yang lain. Dan kenapa juga mesti ada orang se-pabo Onew di dunia ini?” bentak Jonghyun pada Taemin yang menatapnya tidak mengerti.

“ Sini, duduk sini” aku menarik lengan Jonghyun supaya duduk di depanku.

“ Ayolah, tidak baik marah-marah sambil berdiri. Duduk dan atur nafasmu” tarikku lebih kuat lagi.

“ Ambil nafas panjang dan buang perlahan-lahan dari mulutmu, 10 kali” ucapku pada Jonghyun sambil memegang kedua lututnya yang sekarang duduk bersila di depanku.

“ Huufff…” Jonghyun menuruti perintahku.

“ Sepertinya kau terlalu terbawa emosi karakter peran-mu. Memang, peran itu yang paling berat, menguras emosi. Jadi kau harus lebih banyak berlatih” jelasku pelan-pelan setelah Jonghyun terlihat mulai tenang.

“  Ah tidak juga,. Dia kan hanya perlu marah-marah sepanjang pertunjukan. Apa susahnya sih?” celutuk Key. Jonghyun langsung melotot padanya.

“ Siapa bilang marah-marah mudah Key? Marah, dendam, iri, tertekan, putus asa, itu perasaan yang berat. Perlu energi luar biasa untuk memunculkan dan mengendalikan perasaan itu. Apa akhir-akhir ini kau merasa cepat lelah dan sering pusing?” tanyaku pada Jonghyun. Dia menjawabnya dengan anggukan lemas.

“ Pantas saja, kau selalu uring-uringan, bahkan saat kita sudah di dorm” sahut Minho, mulai masuk dalam percakapan.

“ Jangan begitu. Kau harus bisa keluar masuk ke dalam karaktermu dengan baik. Kapan kau akting dan kapan kau menjadi dirimu sendiri. Begini, setelah selesai latihan, segeralah duduk atau berbaring jika perlu. Ambil nafas seperti tadi. Pikirkan bahwa kau tadi sedang berakting, kau tidak benar-benar sedang marah. Perasaanmu baik-baik saja, semua orang juga baik-baik saja. Perbanyak tersenyum, sekalipun harus kau paksakan. Kalau suasana hatimu belum membaik juga, segera mandi, itu akan membantu menyegarkan pikiranmu. Dan kalian, bersikaplah lebih baik pada Jonghyun. Kalian kan sudah seperti saudara, harus saling membantu. Dia tidak sedang marah pada kalian, hanya terbawa emosinya saja. Sering-sering ajak dia tersenyum. Mengerti?” tuturku panjang lebar sambil memandang keempat namja disekelilingku, bergantian.

Mereka hanya diam saja, tersenyum satu sama lain.

“Tersenyum begini noona?” tanya Taemin sembari tersenyum lebar, hingga matanya hanya tinggal segaris.

“Ya! Taeminie, kau imut sekali” seru Jonghyun, mengucak rambut Taemin dengan gemas. Jonghyun sudah rileks 100%.

Isn’t they adorable?

Aku jadi teringat salah satu perkataan Albert Einstein –Let every man be respected as an individual and no man idolized

***

Gak kerasa udah sebulan lebih aku di Seoul. Melelahkan. Mulai dari proses reading, mengajak satu persatu pemeran dalam drama ini berdiskusi panjang lebar bahkan tinggi sampai mereka benar-benar memahami karakter yang mereka mainkan. Loncat sana sini membantu Lee Han-ssi, blocking tempat. Ikut pusing dengan bagian wardrobe, bahkan memikirkan sound effects dan lighting yang tepat untuk menghidupkan suasana. Belum lagi jadwal promosi ke beberapa stasiun tv dan radio. Lembur bersama ajusshi dari bagian dokumentasi, mengedit bagian mana yang boleh di tampilkan sebagai bagian dari behind the scene untuk keperluan promo. Memikirkan di mana letak kamera yang pas sehingga dapat mengambil adegan dengan sempurna, yang ini untuk keperluan pembuatan DVD live drama musical yang direncanakan akan rilis seminggu setelah hari pertunjukkan terakhir. Benar-benar melelahkan.

Dan semua itu masih ditambah dengan kejahilan para SuJu oppa. Lee Han-ssi tidak salah memilih mereka sebagai penyegar suasana. Kekonyolan dan kegilaan mereka benar-benar natural dan sudah mendarah daging. Mereka selalu membuatku tertawa geli sekaligus tersenyum kecut selama sesi latihan.

“ Aku belum paham dengan adegan yang ini Kin. Apa sebaiknya aku tertawa sampai menangis, tertawa seperti setan atau tertawa sambil berguling-guling di lantai ya? Menurutmu, mana yang lebih spektakuler?”

”Apakah kau menyukai ku?”

“Bagaimana Kin? Aktingku luar biasa kan? Kira-kira bagaimana ya kalau aku menciumnya saja, biar terlihat lebih meyakinkan gitu… Gimana Kin?”

“ Hyung kau sungguh keren, menikahlah denganku”

“ Ya! Kenapa kau membawa kura-kura itu kesini? Awas, jangan dekat-dekat aku. Sana, pergi sana! Kau harus berjarak minimal 10 m dari tempatku”

Tebak sendiri, kira-kira siapa saja yang ku ceritakan barusan.

Karena hari ini adalah jadwal rehearsal, maka aku harus rajin-rajin mengirimkan tatapan mengancam pada mereka. Berusaha membuat mereka lebih serius dan tidak menggangu konsentrasi yang lain.

“Ok! Latihan hari ini cukup. Sekarang kalian semua pulang, istirahat. Ingat, jaga kesehatan dan stamina. Selama 4 malam berturut-turut kalian harus tampil sempurna. Aku tidak mentolerir adanya kesalahan sekecil apapun” suara lantang Lee Han-ssi mengakhiri rehearsal malam ini. Akhirnya, what a day!

“Kinsei, Onew dan Yoona. Kalian jangan pulang dulu, ada yang ingin aku bicarakan” tambah Lee Han-ssi, firasatku mulai tidak enak.

“ Ada apa dengan kau Onew? Kemarin-kemarin penampilanmu sudah baik. Kenapa di saat rehearsal malah kacau seperti ini?” nada suara Lee Han-ssi terdengar lebih tinggi dari biasanya.

Wajar saja dia kesal, malam ini Jinki oppa memang terlihat kacau. Tidak secara keseluruhan sih memang, awal-awal tadi dia kelihatan baik-baik saja, penampilannya bisa dibilang tanpa cacat. Tapi saat adegan klimaks, ehmmm… ciuman dengan pasangan mainnya, Yoona, konsentrasinya hilang. Kelihatan gugup sekali. Aku tidak tahu bagaimana saat mereka biasa latihan, karena untuk adegan yang satu itu mereka dihandle langsung oleh Lee Han-ssi dan Hyuk Mo-ssi, aku tidak tahu menahu.

“Kin, kau tanggani mereka! Seperti yang ku katakan tadi, aku tidak mentolerir adanya kesalahan sekecil apapun!” perintah Lee Han-ssi padaku. Bagaimanalah ini, aku mengangguk mengiyakan, tidak membantah lagi. Ini lebih bijak.

“Kita evaluasi dulu saja. Kalian tahu apa masalah kalian kan?” tanyaku pada mereka berdua begitu Lee Han-ssi berlalu pergi.

“ Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa konsentrasi. Ada hal yang menggangguku” desah Jinki oppa pelan. Aku menatapnya tajam, meminta penjelasan apa permasalahannya –aku hanya bisa membantumu kalau kau cerita– tapi tampaknya Jinki oppa tidak bisa mengutarakan permasalahannya.

“ Ya sudah, sepertinya kau harus belajar meditasi. Kau harus bisa menenangkan dan mengosongkan pikiran, dengan begitu kau akan lebih stabil dan tidak terbebani perasaan dan pikiran apapun” tidak ada gunanya aku memaksanya berlatih kalau dia sedang banyak pikiran.

“ Aku  minta kerjasamamu. Aku tahu kau tidak nyaman gara-gara sikap Jinki yang gugup. Tapi berusahalah tetap rileks dan fokus” tambahku pada Yoona, yang mengganguk mengerti.

“ Duduk bersila, tegakkan badanmu, beri ruang pada rongga tubuh sebelah dalam. Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuhmu. Kosongkan pikiran, kemudian rasakan suasana yang ada disekelilingmu dengan segala perasaan. Rasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Suruh syarafmu untuk lelap. Saat kau merasa pikiranmu sudah benar-benar kosong, masukkan perasaanmu pada Yoona, eh, maksudku lawan mainmu, pasanganmu. Pusatkan pikiran dan perasaanmu padanya, bangun emosimu. Rasakan bagaimana marah, sedih dan putus asanya dirimu saat wanita yang kau cintai akan menikah dengan Jonghyun, musuh besarmu. Ini kesempatan terakhir untuk mempertahankannya disisimu” tuntunku pada Jinki oppa berlahan-lahan. Tidak memperdulikan ponselku yang sejak dari bergetar, ada panggilan masuk.

“Bagaimana? Bisa kau rasakan?” tanyaku pada Jinki oppa yang terlihat mulai fokus. Dia mengangguk kecil.

“ Sekarang, kalian coba adegannya. Lengkap dengan dialog dan gesture” perintahku pada Jinki oppa dan Yoona. Sambil menunggu mereka bersiap-siap aku menjauh dari mereka, turun dari stage, merogoh ponselku yang masih belum berhenti bergetar. Jiyong Calling.

“ Ada apa?” sahutku tidak bersahabat, tidak suka diganggu saat aku sedang fokus melakukan sesuatu.

“ Galak banget sih. Jadi makan bareng ga? Kami dah di depan Olpark ni” tanya Jiyong dari seberang.

“ Rehearsalnya belum selesai” jawabku singkat.

“ Belum selesai? Tapi kata Taemin rehearsalnya sudah selesai” sahut Jiyong.

“ Ada sedikit masalah, aku masih harus menemani pemeran utamanya latihan” ucapku sambil mengamati Jinki oppa dan Yoona yang sedang berlatih. Ada apa sebenarnya dengan Jinki oppa? Dia kembali terlihat tertekan dan sesekali melirik kearahku.

“ Fokus! Ulangi lagi!” seruku pada mereka.

“ Mwo? Apa Kin?” sahut Jiyong dengan nada heran.

“ Bukan kau” sergahku pada Jiyong.

“ Kau ini kenapa sih. Ya sudah, aku masuk saja” ucap Jiyong gemas dan memutus sambungan.

Masuk? O iya, dia kan tadi bilang mereka sudah di depan Olpark, Olympic Park, tempat kami rehearsal. Aku melihat kearah pintu masuk, Jiyong melangkah santai diikuti oleh SeungHyun, Daesung dan Hyun-chan. Semuanya melambai padaku, kecuali Jiyong.

“ Young Bae mana? Tidak ikut?” tanyaku pada Seung Hyun.

Karena ada 2 nama Seung Hyun di BIGBANG, sulit juga memanggil mereka. Kalau aku panggil –Seunghyun!– akan ada 2 orang yang menoleh. Jadi, aku memanggil Lee Seung Hyun dengan panggilan Hyun-chan.

“ Di luar, ngobrol sama Taemin” Daesung yang menjawab.

“ Masih lama Kin? Aku dah laper banget nih” kata Hyun-chan sambil mengelus perutnya. Aku mengendikkan bahu –ga tau– sambil melihat kearah stage.

Semua ikut menoleh ke arah Jinki oppa dan Yoona. Jinki oppa terlihat semakin parah.

Aku kembali naik ke stage, menghampiri Jinki oppa.

“ Sebaiknya kau meditasi lagi. Setelah kau benar-benar tenang dan fokus, baru latihan. Tidak usah memperhatikan sekitarmu. Anggap saja tidak ada orang di sini. Tidak usah khawatir, aku tidak sedang menilaimu. Jadi berhentilah melirik ke arahku” ucapku padanya. Entah kenapa Jinki oppa malah terlihat salah tingkah karena ucapanku.

Aku mengambil jarak dari keduanya, memberi mereka ruang yang lebih luas. Jinki oppa memulai meditasinya. Tak lama kemudian dia mulai menghampiri Yoona, memulai dialog sesuai skrip yang ku buat, sejauh ini berjalan lancar. Saat tiba adegan ciuman, Jinki oppa terlihat mulai ragu-ragu. Dia memang tidak melirik ke arahku lagi, tapi tetap terlihat tidak fokus pada Yoona. Aku menghela nafas panjang. Sulit kalau begini caranya. Apa sih yang mengganggu pikirannya?

“ FOKUS!” teriakku pada Jinki oppa, rasanya aku mulai ikut-ikutan frustasi.

Jiyong POV

“ Ya! Hyung, kenapa kita malah nungguin mereka latihan sih? Aku dah laper banget ni” protes Seungri.

“ Salah kalian sendiri. Kenapa mengikutiku?” semburku kesal.

Malam ini aku sengaja membawa mobil sendiri, tidak ikut van bersama anggota BIGBANG yang lain. Soalnya aku berencana mengajak Kin makan malam sepulang dari acara di stasiun tv. Tapi saat yang lain tahu rencanaku, mereka malah mengikutiku ke sini.

“FOKUS!” sepertinya Kin mulai frustasi.

Gadis cerdas yang bodoh! Aku mengumpat dalam hati sambil berjalan menghampiri Kin di atas stage.

“ Percuma kau memaksanya, kau malah membuatnya semakin gugup dan tertekan” bisikku pada Kinsei, setelah aku berdiri disampingnya. Kin hanya mendongak sekilas, menatap mataku.

“ Hmmm…iya. Aku juga ngerasa kok kalau dia tertekan. Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak sedang menilainya. Aku kan bukan juri atau penguji. Kenapa sih dia?” jawab Kin mengeleng-geleng pelan.

“ Dia tertekan karena kau” ucapku mengkal. Benar-benar gadis bodoh, kelihatan sekali dari wajah Jinki kalau dia merasa keberatan harus mencium gadis lain didepanmu Kin.

“ Iya, iya. Ngerti. Tapi gimana lagi. Aku udah jelasin ke dia, aku tidak sedang menilainya” sahut Kin tak kalah mengkal.

Sekilas aku melihat Young Bae menyusul masuk.

“ Young Bae, kau antar Kin cari makanan. Kita makan di sini saja” seruku sambil melemparkan kunci mobil pada Young Bae yang langsung refleks menangkapnya.

“ Heh? Aku?” seru Kin sambil menunjuk hidungnya sendiri.

“ Iya. Urusan mereka berdua serahkan saja padaku. Mungkin kalau kau ga ada, mereka bisa lebih rileks” jelasku padanya.

Kin menatapku lurus-lurus, menilaiku.

“ Ya sudah” akhirnya dia mengangguk setuju.

“Jangan diajari yang aneh-aneh ya!” tambah Kin sambil berlalu menghampiri Jinki dan Yoona.

Aneh-aneh? Memangnya aku punya tampang menjerumuskan?

“ Kita istirahat dulu. Aku mau keluar beli makan malam. Yoona, kau mau makan apa?” tanya Kin pada Yoona. Aku terus mengamatinya.

 “ Apa saja”

“ Kalau oppa? O ya, kau kan senang ayam. Aku belikan ayam goreng saja ya?” kali ini Kin bertanya pada Jinki.

WHAT??? Apa aku tidak salah dengar? Kin memanggil Jinki dengan sebutan oppa?

Aku saja belum pernah dipangilnya oppa!

“ Kau mau apa?” tanya Kin sambil kembali menghampiriku.

“ Belikan saja makanan kesukaanku” sahutku dengan memberengut.

“ Memangnya makanan kesukaanmu apa?” tanyanya dengan wajah polos.

WHAT??? Kau tahu apa makanan kesukaan Jinki yang baru kau kenal sebulan, tapi tidak tahu makanan kesukaanku?

“ Sudahlah. Sama denganmu saja” jawabku ketus.