Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 6 – Lucifer, bearer of dawn

 

Author: yen

Main Cast : Kinsei, Jinki, Jiyong

Support Cast: BIGBANG, Shun Oguri

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Friendship, Family, Romance

Shun Oguri POV

“Bagaimana Dokter? Dia baik-baik saja kan?” Tanyaku tergesa saat melihatnya selesai memeriksa Kinsei.

“Tenanglah, dia baik-baik saja. Tidak ada luka serius, hasil CT-scan juga menunjukkan bahwa tidak ada luka dalam. Jangan khawatir,” jawabnya tenang sambil menepuk bahuku.

“Tapi kenapa dia belum sadar juga?” Suara haraboeji terdengar menuntut.

“ Entahlah Byung Chull-ssi, ku rasa ini masalah psikis,” jawab dokter itu dengan nada hormat pada harabeoji.

“ Maksudmu…ini…sama dengan saat dia kehilangan ingatan?” nada suara haraboeji terdengar begitu khawatir.

“ Penyebab pastinya hanya bisa kita ketahui setelah dia sadar” jawab Dokter yang kemudian segera pamit keluar dari kamar Kinsei dirawat.

Harabeoji mendesah berat mendengarnya. Dia terlihat begitu khawatir. Sementara Jiyong yang duduk di sebelah tempat tidur Kin hanya menatapku tidak mengerti apa yang dibicarakan haraboeji dan dokter.

Kami bertiga termangu memandang Kin, wajahnya terlihat sedikit pucat.

Aku baru saja beranjak dari tempatku berdiri, mengikuti Jiyong yang sudah sampai di dekat pintu, hendak keluar dari kamar Kin, saat tiba-tiba Kin duduk, bangun dari tidurnya dengan nafas berat tak beraturan, menatap kosong.

“ Appa…Umma…” desah Kin lirih. Harabeoji segera memegang tangan Kin, mengusap lembut punggungnya.

Aku dan Jiyong terpaku di tempat. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, Kin sudah berbicara seperti orang mengigau. Suaranya jelas, tenang, tetapi tidak beraturan.

“Umma… Appa bilang aku baik-baik saja… Umma tidak apa-apa… Lari Kin… Jangan menangis…Darah…Appa bilang aku pemberani… Aku takut… Appa melarangku menangis… Jendela… Umma… Kenapa umma tidak bergerak… Api… Appa tersenyum… Cepat lari… Appa tidak bisa Kin… Jangan menangis… Kau anak Appa… Appa memecahkan jendelanya… Jangan takut… Umma berdarah… Appa mendorongku… Mobilnya… Appa terjepit… Suaranya keras sekali… Appa… Aku takut… Aku… Aku… Ini salahku…”

Kin mengalihkan pandangnya dari Jiyong, menatap haraboeji yang terus menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

Aku tersadar, berlari keluar mencari dokter. Melewati Jiyong yang terus menatap Kin, shock.

Kinsei POV

“Kau lihat Kin, itu bintangmu…” Appa menunjuk sebuah bintang di sebelah timur.

“Appa salah, itu bukan bintang, itu planet Venus” jawabku geli

“ Iya sayang, itu adalah planet Venus. Benda paling terang dalam sistem tata surya kita setelah matahari dan bulan, bahkan terlihat lebih terang dari bintang-bintang, karena letaknya yang dekat dengan bumi” sahut Umma lembut.

“Kau tahu kenapa Appa dan Umma memberimu nama Kinsei?” Aku menggeleng pelan. Appa memelukku dari belakang. Puncak kepalaku terasa geli karena jenggot tipis Appa yang tajam.

“Itu karena kau adalah Venus, pembawa fajar, pembawa cahaya” jelas Appa dengan nada bangga.

“ Lucifer, morning star. Sekaligus juga Verpes, evening star tambah Umma.

“ Kok Lucifer sih Umma? Lucifer kan setan” protesku memberengut.

“Bukan sayang, Lucifer berasal dari bahasa latin, lux atau lucis yang artinya cahaya dan ferre yang artinya membawa. Jadi Lucifer adalah pembawa cahaya –light bearer-hanya saja kemudian orang-orang menggunakan nama Lucifer untuk malaikat yang jatuh, di usir dari surga karena membangkang kemudian menjadi setanjawab Appa.

“ Kau tau Kin, apa bahasa sanskerta untuk Venus?” tanya Appa menantang pengetahuanku.

“Shukra artinya bersih, murni atau cemerlang, terang” sahutku dengan nada sombong.

“Pintar, kau memang anak Appa” Appa mengucak rambutku.

“Anak Umma juga!” sahutku penuh semangat. Appa dan Umma tertawa mendengarnya.

“Sudah pagi, saatnya pulang” ucap Umma tegas.

Aku melangkah dengan riang mengikuti Appa. Sungguh hari yang luar biasa.

Sepertinya aku tertidur dalam perjalanan pulang. Sebelum sebuah hentakan dahsyat yang disertai suara sangat keras membuatku terkejut, bangun. Hal pertama yang aku lihat dan bisa ku ingat adalah umma yang bersimbah darah.

“ Syukurlah, kau baik-baik saja” suara Appa terdengar kesakitan.

Aku belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi, ketika tiba-tiba Appa terlihat panik.

“Umma…Umma…” kenapa Umma diam saja, tidak menjawab panngilanku. Aku terus mengguncang badan Umma. Mulai menangis. Aku takut. Appa memecahkan kaca jendela mobil.

“Umma-mu baik-baik saja. Berhentilah menangis. Dengar baik-baik, Appa akan mengeluarkanmu lewat jendela. Jangan menangis sayang, kau pemberani. Setelah itu, larilah. Lari secepat mungkin” Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud Appa sebenarnya. Appa mengangkatku, aku menatapnya.

“Appa…”

“Tidak sayang, Appa tidak bisa, kaki Appa terjepit” Appa mendorongku keluar jendela.

Aku takut, sangat takut.

“Lari! Cepat!” aku benar-benar bingung, tanpa kusadari aku sudah berlari sekencang-kencangnya, air mataku mengalir deras.

“ Jangan menangis, kau anak Appa yang pemberani!” samar-samar aku mendengar teriakan Appa.

Aku berhenti berlari, berbalik. Tepat saat mobil itu meledak, terbakar dahsyat.

Ledakan itu membuat jantungku tersentak, ingatan itu sekarang mencengkeram kuat kepalaku. Aku terbangun dengan perasaan sakit yang luar biasa di ulu hatiku.

Appa…Umma…mana mereka?

Kenapa justru Shun-kun dan Jiyong yang ada disini?

Aku merasa ada yang mengelus punggungku, hangat.

“Umma… Appa bilang aku baik-baik saja… Umma tidak apa-apa… Lari Kin… Jangan menangis…Darah…Appa bilang aku pemberani… Aku takut… Appa melarangku menangis… Jendela… Umma… Kenapa umma tidak bergerak… Api… Appa tersenyum… Cepat lari… Appa tidak bisa Kin… Jangan menangis… Kau anak Appa… Appa memecahkan jendelanya… Jangan takut… Umma berdarah… Appa mendorongku… Mobilnya… Appa terjepit… Suaranya keras sekali… Appa… Aku takut… Aku… Aku… Ini salahku…”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Tidak apa-apa Kin. Sudah berakhir, semuanya baik-baik saja. Tenanglah. Tidak apa-apa. Kau tidak bersalah Kinsei…” Itu suara harabeoji. Aku menoleh, menatap matanya. Mencari kebenaran di sana. Apa semuanya benar-benar tidak apa-apa? Benarkah? Benar itu bukan salahku? Aku menemukan kejujuran di mata harabeoji. Baiklah, semuanya memang baik-baik saja. Kalau harabeoji bilang begitu, berarti memang begitu keadaannya. Aku merasa sangat lelah. Lelah sekali. Kepalaku berat.

Aku tidak yakin, apakah benar aku sempat melihat Appa tersenyum padaku, atau itu hanya bayanganku saja.

“Jangan menangis, kau anak Appa yang pemberani…”

 

Jiyong POV

Aku sudah memegang handle pintu saat aku mendengar Kin tiba-tiba terbangun. Aku berbalik. Dia menatapku kosong, sungguh menakutkan melihatnya seperti itu. Tidak, dia tidak menatapku. Dia menatap ke suatu titik tidak terhingga, jauh menembusku.

“Umma… Appa bilang aku baik-baik saja… Umma tidak apa-apa… Lari Kin… Jangan menangis…Darah…Appa bilang aku pemberani… Aku takut… Appa melarangku menangis… Jendela… Umma… Kenapa umma tidak bergerak… Api… Appa tersenyum… Cepat lari… Appa tidak bisa Kin… Jangan menangis… Kau anak Appa… Appa memecahkan jendelanya… Jangan takut… Umma berdarah… Appa mendorongku… Mobilnya… Appa terjepit… Suaranya keras sekali… Appa… Aku takut… Aku… Aku… Ini salahku…”

Apa yang dikatakannya.

Aku kembali tersadar saat dokter tergesa-gesa masuk, diikuti oleh Shun-kun, melewatiku yang masih membeku di depan pintu. Aku pelan-pelan melangkah keluar. Menghempaskan diri di sofa. Keempat temanku di BIGBANG menatapku prihatin. Kepalaku berdenyut hebat.

Sepertinya cukup lama juga aku memejamkan mata, memegang kepalaku yang terus saja berdenyut. Aku mendongakkan kepala saat seseorang memegang bahuku, menepuknya pelan. Shun-kun.

“ Pulanglah, istirahat. Kin tidak apa-apa, dia sudah tidur ” ucapnya.

“ Tidak. Aku akan tetap di sini, menemani Kinsei” jawabku tegas.

Harabeoji-ssi menghela nafas.

“Aku pulang” pamit Harabeoji-ssi sambil mengangguk kecil pada kami berenam. Serempak kami membungkukkan badan, membalas salam harabeoji-ssi.

“Yakin kau mau tetap di sini? Kau terlihat lelah, jangan sampai kau juga jatuh sakit” tanya Seung Hyun padaku.

“Ne. Kalian pulang saja”

Aku tidak akan meninggalkan Kin, apalagi dalam kondisi seperti ini.

Setelah punggung mereka berempat tidak tampak lagi, aku masuk ke kamar Kin, menyusul Shun-kun.

“Yakin kau tidak mau pulang?” tanyanya setelah aku sampai di sebelah tempat tidur Kin.

“Tidak. Aku ingin menjaga Kin” jawabku sambil memandang Kin yang tampak tertidur lelap.

 “ Shun-kun, apa sebenarnya maksud Dokter tadi? Apa Kin pernah hilang ingatan?” aku memecah kesunyian yang mengambang selama beberapa menit.

“ Hmmm… Kau pasti sudah tau tentang kecelakaan mobil yang menewaskan Appa dan Umma-nya 10 tahun yang lalu kan?”  Aku hanya mengangguk kecil, Kin sudah menceritakan hal itu.

 Shun-kun menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

“  Sebenarnya Kin ada bersama mereka, ya, dia ikut mengalami kejadian naas itu. Akhir pekan itu Appa-nya berjanji mengajaknya ke Gunung Gyemyeong untuk melihat hujan meteor. Waktu itu memang belum ada Observatorium Songam, tapi Appanya bilang, tempat itu bagus untuk melihat bintang.  Sebenarnya, malam itu Appa dan Umma-nya baru saja pulang dari Amerika, urusan bisnis. Tapi kau tau sendiri Kin seperti apa, urusan janji dengannya bukan perkara mudah”

Aku tersenyum tipis mendengarnya, begitulah Kin. Membuat janji dengannya memang perkara besar. Kalau kau telat datang 10 menit, jangan harap masih bisa melihatnya menunggu. Dia pasti sudah pergi begitu saja dan kalau kau menelponnya untuk meminta maaf, dia akan menanggapinya dengan suara yang luar biasa dingin.

“Hampir tengah malam dia berdiri di halaman rumah, berteriak dengan suara serak dan menangis –APPA JANJI PADAKU!-  Kecelakaan itu terjadi waktu mereka dalam perjalanan pulang. Appa dan Umma-nya ditemukan meninggal di dalam mobil yang hangus terbakar. Kin ditemukan pingsan tidak jauh dari sana. Kalau tidak salah, waktu itu dia juga pingsan seharian. Saat bangun malam harinya, dia langsung bertanya –Apa Appa dan Umma sudah pulamg? Mereka janji mengajak ku melihat meteor malam ini- Begitulah cerita yang ku dengar dari Jae Hyun. Dokter bilang dia terkena amnesia parsial. Dia hanya lupa kejadian sehari itu. Harabeoji-ssi dan dokter memutuskan untuk tidak menceritakan hal itu pada Kin. Kami hanya bilang bahwa Appa dan Umma-nya meninggal dalam kecelakaan mobil saat perjalanan pulang kerumah, dari Amerika” lanjut Shun-kun.

Hmmm…jadi begitu. Berarti, aku sudah membuatnya teringat pada kejadian mengerikan itu. Ya tuhan… apa yang ku lakukan.

“Tidak usah merasa bersalah Jiyong, Kin gadis yang kuat. Waktu itu dia secara tidak sadar sudah memilih untuk tidak mengingatnya. Bagus untuknya, dia tidak perlu mengalami trauma mendalam karena ingatan itu. Kalau sekarang ingatannya pulih, berarti dia memang sudah siap untuk mengingatnya kembali” kata Shun-kun, seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. Ah… dia mirip Kin, pandai membaca pikiran orang.

“Apa sejak kejadian itu dia tidak pernah menangis?” entah kenapa pikiran itu tiba-tiba melintas di otakku.

“Hmmm…sepertinya iya. Aku tidak pernah melihatnya menangis sejak saat itu. Dia bahkan tidak mengeluarkan air mata sedikitpun saat acara pemakaman Appa dan Umma-nya” jawab Shun-kun lirih.

“Sudahlah, sana istirahat. Tidur saja di sofa depan. Memangnya kau tidak merasa sakit ya setelah kecelakaan?” tanya Shun-kun mengalihkan topik pembicaraan.

Aku tidak sadar memegang memar di pelipis kananku gara-gara terhantam airbag mobil-ku sendiri saat kecelakaan tadi.

“Aku tidak ngantuk. Kau saja yang tidur, kau kan belum istirahat sejak datang dari Jepang tadi siang” sahutku menolak perintahnya.

“Ya sudah, aku tidur dulu. Nanti kalau kau mengantuk, bangunkan saja aku. Kita gantian menjaga Kin” sahutnya sambil berlalu keluar dari kamar Kin.

Kinsei POV

Aku tidak yakin, apa aku jatuh pingsan lagi, atau tertidur. Saat aku bangun, aku mulai sadar, berusaha berpikir jernih. Kemarin aku sedang bermobil dengan Jiyong, lalu aku pingsan. Mimpi tentang Appa dan Umma, bukan… bukan mimpi. Itu ingatanku yang hilang. Peristiwa itu benar-benar terjadi. Aku merasakan sakit yang sangat di dadaku, perlahan rasa sakit itu menjalar naik ketenggorokan. Sakit sekali… dan aku mulai memukul-mukul dadaku sendiri, berusaha mengurangi rasa sesaknya.

Tiba-tiba ada yang menahan tanganku, aku menoleh….

Jiyong… dia menatapku cemas, kemudian perlahan dia menarikku kedalam pelukannya. Tanpa kusadari air mataku mulai mengalir.

“Tidak apa-apa. Kau boleh menangis. Menangislah Kin, jangan ditahan”

Malam itu ku habiskan dengan menangis, terisak dan sesenggukan tak terkendali. Melepas semua rasa sesak yang telah ku rasakan hampir 10 tahun ini, rasa sesak yang tidak ku ketahui apa sebabnya. Sesak yang sering membuatku ingin menangis, tapi air mataku tidak pernah berhasil keluar, justru menambah rasa sakit di dadaku.

Sesak yang sering muncul saat ada orang yang ku anggap penting, orang yang dekat secara pribadi denganku, tidak datang tepat waktu saat janji bertemu denganku. Rasa sesak yang kemudian membuatku tanpa alasan yang jelas bersikap dingin pada mereka. Sesak yang tiba-tiba bisa berevolusi menjadi rasa takut ditinggalkan.

Takut ditinggalkan orang yang dekat denganku. Dan rasa takut itulah yang membuatku sulit dekat pada orang lain. Rasa takut yang membuatku selalu mengambil jarak dari semua orang yang ku temui, tidak ingin dekat dengan mereka, tidak ingin menganggap mereka penting, tidak ingin… merasa ditinggalkan.

Ya, aku takut, takut pada ketakutanku sendiri. Ketakutan untuk ditinggalkan.

Bagiku, lebih baik meninggalkan, daripada ditinggalkan.