Venus : Vesper and Lucifer

Chapter 4 – Vesper, evening star

Author: yen

Main Cast : Kinsei

Support Cast: SHINee, Super Junior, BIGBANG

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Friendship, Romance

Jinki POV

“ Berhenti mengganggu Taemin. Kau bisa menghancurkan mood-nya” suara dingin Kin terdengar. Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Kin terlihat sedang berdiri diantara Taemin dan Heechul hyung.

Suasana di backstage memang penuh ketegangan. Ini hari terakhir pertunjukan kami. Awalnya aku juga mengira, setelah 3 hari berturut-turut tampil, kami bisa lebih rileks. Tetapi penampilan kami kali ini memang berbeda. Kalau 3 malam kemarin kami tampil di Olympic Gymnastics Arena di Seoul Olympic Park, di depan para fans yang membeli tiket pertunjukkan yang di jual bebas, malam ini kami tampil di depan para tamu undangan perusahaan. Ya, perusahaan yang bekerjasama dengan management artis tempat kami bernaung. Banyak diantara mereka bukan fans kami, kalau penampilan kami dianggap membosankan atau tidak menarik, aku taruhan, mereka tidak akan sungkan-sungkan tertidur di kursinya masing-masing atau bahkan pulang sebelum pertunjukkan berakhir.

Ketegangan itu berlipat-lipat, karena malam ini kami tampil di Haeoreum Theaters, main hall di National Theater of Korea. Walaupun kapasitasnya jauh lebih kecil daripada Olpark, tapi atmosfer tempat ini terasa jauh lebih serius.

“ Taeminie, sini aku ajari meditasi, supaya kau bisa lebih tenang” panggilku pada Taemin. Kinsei langsung berterima kasih melalui senyum manisnya.

Dia kembali terlihat sibuk memberikan arahan-arahan pada Jongyun yang sebentar lagi akan tampil.

Sebenarnya aku merasa kasihan pada Kin. Tapi juga sedikit lega, kalau dia terus sesibuk ini di backstage, aku tidak perlu khawatir dengan adegan itu. Seperti malam-malam sebelumnya, dia tidak akan sempat untuk sekadar menengok ke stage dan melihat penampilanku.

***

“ Excellent Onew. Aktingmu luar biasa!” sambut Sutradara Lee saat aku sampai di backstage. Aku berhasil melakukan adegan bersama Yoona dengan sempurna.

“ Wow, kau keren. Yoona sampai menangis sungguhan” seru Jonghyun memukul bahuku.

“ HOT KISS Onew! Daebak!” seru Eunhyuk hyung.

Wajahku terasa hangat mendengar pujian mereka. Aku salah tingkah saat ku lihat Kinsei mengacungkan 2 jempolnya ke arahku. Apa dia tadi melihatnya? Hatiku mencelos cemas.

***

“WRAP…!!!” seruan lega terdengar dimana-mana.

“ Terima kasih atas kerja sama dan kerja keras kalian sebulan ini” ucap Sutradara Lee pada semua pendukung pertunjukan.

Semua orang mulai saling membungkuk mengucapkan terima kasih dan berpelukan.

“ BIG HUG!” seru para SuJu hyung sambil serabutan memeluk siapa saja yang ada didekatnya.

“ Kinsei noona kemana sih hyung?” tanya Taemin. Entah pada hyung-nya yang mana.

“ Kau lihat Kin, Taem?” tanya Leeteuk hyung.

“ Belum hyung, aku juga sedang mencarinya” jawab Taemin.

“ Bukannya tadi dia bersamamu Team?” sahut Yesung hyung.

“ Nah… ayo, ngaku. Kau sembunyikan dimana noona-mu itu? Aku kan juga ingin memeluknya juga, mumpung ada alasan, masa cuma kau saja yang bisa memeluknya” seru Eunhyuk hyung, lengkap dengan cengiran jahilnya.

“ Wah…kalau itu, aku juga mau…!” sahut SuJu hyung kompak.

Mereka ini…benar-benar!

“ Apa tidak ada yang tau Kin dimana?” teriak Leeteuk hyung pada semua orang.

“ Kin sudah pulang Oppa” jawab Yoona kalem.

“ Pulang?” sahut SuJu hyung bersamaan.

“Ya! Bagaimana Kin itu, melarikan diri. Curang sekali!” keluh Donghae hyung bersungut-sungut.

“ Iya. Tadi dia buru-buru, katanya sudah ditunggu… siapa ya tadi namanya…ehm… Ji Hyun, eh bukan, Jae Hyun. Iya Jae Hyun Oppa. Itu loh, namja keren yang pake setelan LV, yang tadi  duduk di sebelah Presdir Lee saat pertunjukan” jawab Yoona.

Oh, jadi dia pulang dengan Je Hyun Hyung. Aku tadi memang sekilas melihatnya duduk di tempat duduk utama, blok C lantai 2.

“ Jae Hyun? Maksudmu Lee Jae Hyun chairman CJ Corporation?”

Kinsei POV

“ Kenapa kau memilih astrologi?” suara harabeoji mulai terdengar kesal. Astronomi, harabeoji, bukan astrologi. Aku bukan paranormal ataupun cenayang.

“ Kalau  kau ingin kuliah lagi, kenapa tidak kuliah manajement bisnis saja Kin? Kau bisa kuliah di Seoul” tanya harabeoji yang ku jawab dengan gelengan pelan.

“ Kalau kau memang senang dengan bisnis pertunjukan atau entertaiment, aku bahkan sudah membelikanmu saham perusahaan dimana sebulan terakhir ini kau bekerja” tambah harabeoji. Harabeoji, kalau aku memang menginginkan perusahaan itu, aku sendiri yang akan meng-akuisisi-nya.

“ Ayolah Kin. Kau sudah dewasa. Hentikan kekonyolanmu soal bintang dan alien itu”

Aku mengerucutkan bibirku. Walaupun bagi banyak orang makhluk luar angkasa terdengar konyol, tapi sama sekali tidak bagiku.

Bayangkan, matahari hanyalah salah satu dari 200 milyar bintang dalam galaksi kita. Separuh bintang di galaksi kita memiliki planet yang ukurannya dua sampai 10 kali ukuran Bumi. Itu baru di galaksi kita, Milky Way, padahal ada lebih dari 170 milyar galaksi di alam semesta. Belum lagi kenyataan kalau alam semesta tidaklah statis, melainkan memuai. Ada banyak kemungkinan, di luar sana ada kehidupan lain selain di Bumi.

“Kau tidak mendengarkan Harabeoji ya?” pertanyaan harabeoji mengembalikanku kealam sadar.

“ Aku dengar harabeoji” jawabku tegas. Kalau orang yang lebih tua sedang memarahiku, sikap paling bijaksana yang bisa ku lakukan adalah menunduk, diam saja, tidak membantah dan pura-pura mendengarkan. Iya kan?

“Apalagi yang harus aku lakukan. Harabeoji bangga pada kemandirianmu. Tetapi kadang aku juga berpikir, alangkah mudahnya kalau kau seperti anak-anak dari kalangan atas lainnya. Aku tinggal mengancam akan memblokir credit card-mu, atau mengancam akan mengeluarkanmu dari daftar pewaris, maka kau langsung menurut. Kau benar-benar susah” kali ini perkataan harabeoji lebih mirip gerutuan.

Yah, aku memang tidak pernah mau diberi credit card ataupun rekening atas nama harabeoji dan perusahaan. Sejak middle school, aku sudah minta uang saku-ku ditransfer ke rekening pribadiku. Saat high school, aku sudah bekerja sebagai pelatih teater dan drama untuk ekstrakulikuler anak-anak elementary dan middle school. Saat kuliah, aku magang di perusahaan harabeoji. Yang ku lakukan pertama kali saat menginjak perusahaan itu adalah menandatangani kontrak kerja dan meminta gaji sesuai standar. Terdengar konyol memang, tapi itu membuatku bebas secara financial, tidak bergantung pada harabeoji ataupun ojii-sama. Terlebih, sejak di middle school sampai sekarang, aku selalu mendapat beasiswa.

“ Apa mau-mu sebenarnya Kin?” suara harabeoji terdengar putus asa.

‘ Berangkat ke Freiburg, besok” jawabku tegas, tak terpikir apa akibatnya.

“ Kau ini benar-benar keras kepala. Sungguh berbeda dengan Appa-mu!” betul saja, nada suara harabeoji bertambah tinggi, marah.

‘ Sayangnya, aku bukan Appa. Dan kalau sudah tidak ada lagi yang ingin harabeoji sampaikan, aku permisi!” jawabku dengan bahasa sangat formal, membungkuk 90º , balik  kanan, keluar dari ruang kerja harabeoji. Aku paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, terutama Appa.

“ Asisten Kim, mana kunci mobilku?” pintaku pada Asisten Kim yang sedari tadi menunggu di depan ruang kerja harabeoji.

“ Anda mau kemana Agassi? Ini sudah sore” aku mendelik padanya.

“ Sebaiknya saya antar” sahutnya lagi, membuatku melotot padanya.

Akhirnya dia mengalah, menyerahkan kunci mobil padaku.

***

“ Appa, Umma” panggilku lirih, meletakkan bunga helichrysum yang ku bawa di depan makam mereka. Aku tidak yakin apa bunga kesayangan Umma, jadi setiap aku ke sini, aku bawa saja satu-satunya jenis bunga yang ku sukai ini.

‘ Besok Kin berangkat ke Jerman. Kin minta maaf. Hari ini Kin membuat harabeoji kesal. Kin mengerti, Kin adalah cucu Harabeoji, cucu Ojii-sama. Seorang Lee, sekaligus juga seorang Oguri. Ini anugrah, sekaligus tanggung jawab besar untuk Kin. Tapi Kin tetaplah seorang Kinsei. Kinsei yang ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Ingin memiliki kehidupannya sendiri, menentukan masa depannya sendiri. Kin minta maaf. Kin yakin, Appa dan Umma mengerti apa maksud Kin”

***

VW Beetle–ku melaju dengan kecepatan sedang, pelan sih sebenarnya. Aku sedang ingin menikmati suasana Incheon saat sore hari. Jelalatan ke sana kemari.

Brettt…Brettt…

Aku sedikit kaget karena ponselku bergetar. Aku meraih headset.

“Moshi-moshi. Kinsei speaking” jawabku setelah beberapa saat ragu, bukan no mor yang ku kenal.

“ Yeoboseyo. Jinki-imnida” sahut sebuah suara dari seberang.

Siapa? Dewa kura-kura?  Jinki?  Oh…Jinki oppa!

 “ Oh, Oppa. Ada apa? Dapat nomorku dari siapa?” rasanya aku tidak pernah memberitahukan nomorku padanya.

“ Ne. Aku dapat nomormu dari sutradara Lee. Tidak apa-apa kan?” sahutnya.

“ Tidak, tidak apa-apa. Ada perlu apa menelponku?” Oh, jadi dari Lee Han-ssi.

“ Ehmmm…apa kau tidak ke dorm lagi?” suara Jinki oppa terdengar ragu-ragu.

“ Ada apa memangnya?” rasanya semua kerjaan sudah selesai, kenapa aku perlu kesana lagi?

“ Handbook-mu, tertinggal di backstage Haeoreum Theaters”

“ Benarkah?” pantas saja ku cari kemana-mana tidak ketemu. Asisten Kim sudah mencarinya di kamar dorm, tapi katanya tidak ada. Bagaimana bisa tertinggal di backstage ya? Ah…Baka! waktu itu aku memang berniat untuk langsung pulang bersama Jae Hyun oppa, jadi semua barangku aku masukkan dalam backpack. Bodohnya, ponselku juga kumasukkan, terpaksa saat hendak menghubungi Jae Hyun oppa, aku membongkar ulang backpack-ku. Pasti aku lupa memasukkannya lagi.

“ Kin…” panggil Jinki oppa, terlalu lama ku tinggal berpikir.

“ Ah, ya. Maaf” jawabku segera.

“ Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama, nanti handbook-mu aku bawakan” sahut Jinki oppa.

“ Wah…malam ini aku tidak bisa”

“ Yah, kalau begitu kapan kau ada waktu luang?”

“ Ehmmm…bagaimana ya? Aku besok harus berangkat ke Jerman. Tidak ada waktu luang lagi”

“ Jerman?” tanya Jinki oppa heran.

“ Iya. Aku mau mengambil program master. Mungkin baru  beberapa tahun lagi aku ke Seoul” lama tidak ada jawaban dari seberang

“ Aku sedang nyetir nih oppa. Begini saja. Nanti kalau aku dapat ide, aku telpon balik. Makasih ya” seruku kemudian, memutus sambungan terlebih dahulu, khawatir dengan baterai ponselku, mulai lowbatt tampaknya.

Gampanglah urusan handbook itu, besok pagi aku akan minta asisten Kim mengambilnya. Aku kembali pada kegiatanku yang tadi, menikmati senja di Incheon.

“Vesper…” desisku tak sadar. Tiba-tiba seperti ada yang meremas ulu hatiku. Aku menatap bintang senja yang sekarang sedang bersinar terang di ufuk barat. Dari pertengahan Februari hingga pertengahan Oktober 2010, Venus akan menjadi objek paling terkenal di langit malam sebelah barat, setelah matahari terbenam.

Aku segera menginjak pedal gas lebih kuat, alih-alih menuju Seoul, aku malah mengarahkannya ke Yangju, Gyeonggi-do.

Jinki POV

“ Jerman?” tanyaku pelan.

“ Iya. Aku mau mengambil program master. Mungkin baru beberapa tahun lagi aku pulang ke Seoul” jawab Kin dengan suara riang.

Dia akan berangkat ke Jerman? Besok? Beberapa tahun? Dia tidak pernah membicarakan hal ini. Apa dia tidak menganggap kami sama sekali? Apa dia tidak menganggapku sama sekali? Ah… aku ini berpikir apa sih? Kami kan memang tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa pula Kin harus menceritakan segalanya padaku? Tapi dia memanggilku Oppa. Hal yang tidak dia lakukan pada siapapun, kecuali Jae Hyun hyung, dan …padaku.

“ Aku sedang nyetir nih oppa. Begini saja. Nanti kalau aku dapat ide, aku telpon balik. Makasih ya” seru Kin yang kemudian memutus sambungan telpon begitu saja.

Padahal aku sengaja menelponnya, handbook itu hanya alasan, kami ingin mengajaknya makan malam.

“ Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan Oppa?” suara Jonghyun dan Key yang bersamaan membuatku tersadar.  Bagaimana mereka bisa mendengar percakapanku dengan Kin? Ah…Pabo! Bukankan tadi aku sendiri yang mengaktifkan loudspeaker karena Taemin ribut ingin ikut dengar suara Kin noona-nya. Sekarang keempat temanku itu sedang menatapku tajam, meminta penjelasan.

“ Entahlah…” jawabku pelan sambil berjalan masuk ke kamar.

“Hyung…!” protes mereka berbarengan.

FLASHBACK –seminggu yang lalu-

“Gomawo Kin, sudah mengajariku tentang gestikulasi dan gesture. Kemampuan aktingku jauh lebih baik sekarang” ucapku pada Kinsei yang seperti biasa, sedang menikmati wafelnya dengan serius.

Kin hanya tersenyum sambil menggerakkan tangannya –no problem

“Sekarang aku tau kenapa kau lebih memilih Jonghyun daripada aku.”