Teman : ‘Berantem dikit, baikan’

Ara setengah berlari kecil, menyeimbangkan kecepatan dengan langkah-langkah lebar Ayahnya di koridor rumah sakit. Setengah mengeluh dalam hati, Ayah dan Bunda tinggi, kenapa dia semampai alias semeter tak sampai. Gen siapa ini? Pasti dari Eyang Putri!

“Kita mo njenguk siapa sih Yah?” Tanya gadis itu sembari mengoper bingka kentang-nya, dari tangan kiri ke tangan kanan, pegal.

Ayah hanya menjawab singkat, “Ntar Cinta juga tahu.”

Mau-tak mau Ara bisa hanya menggembungkan pipi. Sepertinya penyakit Ayah lagi kumat, penyakit sok misterius.

“Ouch!” Ara limbung kekiri-kekanan, “ Ayah ni! Bilang-bilang dong klo mau berenti, jangan ngerem mendadak. Kayak Ryū aja,” semburnya mengkal, Ayah tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu.

Tok tok tok…

Ayah mengetuk pintu itu tiga kali, melirik Ara yang masih berusaha berdiri tegak kembali.

Sebuah kepala muncul dari balik pintu, tersenyum ramah setelah sebelumnya memasang ekspresi sedikit terkejut, “Pak Izzat? Mari-mari Pak, silahkan masuk.”

Ara mengikuti langkah Ayahnya memasuki kamar perawatan itu. Mengintip sang pasien dari balik punggung Ayahnya, ber –oh pelan. Ara lupa siapa nama bapak yang terbaring dengan kaki bergips yang tergantung dan perban disana-sini itu, tapi dia ingat betul bahwa orang itu adalah salah satu anak buah Ayahnya. Ayah dan Bunda sering mengajaknya ikut arisan karyawan Departemen QA. Mengakrabkan diri dengan rekan kerja sekaligus keluarga mereka, begitu ujar Bunda.

“Wah…  Ara juga ikut,” sapa Bu Alamsyah, menerima bungkusan bingka kentang yang diulurkan Ara.

“Gimana Pak? Udah baikan?” Ayah berbasa-basi dengan Pak Alamsyah, mengangguk pada Pak Dadang yang berdiri di sudut ruangan.

Yang ditanya hanya meringis, setengah kesakitan, setengah merasa bersalah, “Alhamdulillah Pak. Tapi saya kepikiran sama mobil perusahaan. Duh, bagaimana ya? Jadi hancur begitu.”

Ayah tersenyum tipis, “Nggak usah dipikirkan, yang penting kesehatan dulu.”

Ara beringsut mendekati Pak Dadang, bisik-bisik bertanya kenapa Pak Dadang juga ada di sana.

“Saya minta maaf Pak. Sudah pinjam mobil buat kepentingan pribadi, nggak hati-hati pula,” ucap Pak Alamsyah dengan nada tidak enak.

“Sudah, tidak usah disesalkan. Namanya juga kecelakaan, tidak ada yang disengaja atau mengharapkan terjadi. Soal mobil, biar saya yang tangani,” sahut Ayah tenang dan tegas.

“Terima kasih Pak Izzat. Kalau bukan karena Bapak, urusan dengan perusahaan pasti rungsing dan sulit, “ kali ini Bu Alamsyah yang menimpali.

“Terima kasih pada Pak Dadang, Bu. Kan beliau yang sudah menolong Pak Alam,” sahut Ayah ringan, disambut anggukan Bu Alamsyah.

“Itu juga iya Pak. Untung saja ada Pak Dadang dan Aria, kalau tidak, Abah mungkin tidak tertolong. Kata dokter, pendarahannya parah sekali. Untung Aria suka rela mendonorkan darah,” imbuh Bu Alamsyah, tersenyum takzim pada Pak Dadang.

Ara mengangguk-angguk, mulai paham kejadiannya. Kembali berbisik-bisik pada Pak Dadang, bertanya ini-itu. Menyeringai antusias saat pak Dadang bilang kalau Aria juga ada di sana, sedang di luar. Gadis itu segera melempar tatapan penuh arti pada Ayahnya, meminta ijin keluar dengan mengerakkan bibir, tanpa mengeluarkan suara. Sejurus kemudian sudah mengendap-endap keluar, menyusuri lorong rumah sakit, mencari Aria.

“Kalian ngapain?”

Ara tertegun melihat pemandangan didepannya. Awalnya dia mengira kedua cowok itu sedang saling memiting atau apalah, melanjutkan perkara di dekat pohon Tenggaring. Tapi….

“Astaga… jangan-jangan….”

Suara Ara membuat kedua orang yang sedang berangkulan itu serentak menoleh.

“Lho? Ara? Ngapain di sini? Siapa yang sakit?” Aria justru balik bertanya. Sementara itu, si cowok tinggi besar terlihat memalingkan muka. Ara berusaha mengintip, penasaran. Mengusap air mata? Yang benar saja!

Ara tak menggubris pertanyaan Aria. Gadis itu justru melangkah mendekati si cowok tinggi besar, menengadah penasaran. Sukses membuat orang yang diperhatikan menyeringai jengah.

“Kamu…” Ara menelengkan kepala, menggaruk alis, berusaha mengingat-ingat lagi, ”Anaknya Pak Alamsyah kan? Rudi? Eh, bukan, Fauzan? Hamid? Ah… ya, Suryadi. Surya kan? Anak Pak Alamsyah. Pantes rasanya pernah liat di mana gitu,” lanjutnya sejurus kemudian, menepuk jidat.

Surya tersenyum tanggung, mengangguk kecil, masih berusaha menghilangkan jejak air mata di wajahnya dengan tangannya yang dibalut perban.

Ara mengangguk-angguk puas, menjentikkan jari. Tapi ekspresi itu tak bertahan lama, sedetik kemudian dia kembali menatap lurus-lurus Aria dan Surya.

“Jadi? Kalian tadi ngapain? Peluk-pelukan sambil nangis di koridor rumah sakit. Shooting film horor ya?” Tuduhnya tanpa berpikir, celingak-celinguk kesana kemari, berharap menangkap sesosok benda bernama kamera.

Surya lagi-lagi menyeringai jengah. Aria tersenyum tipis, mengedipkan sebelah matanya pada Surya, menjawab santai, “Tumben Ara pinter. Tebakannya betul 100%.”

Ara mengerutkan alis, menatap Surya dan Aria berganti-ganti, “Ada bau-bau mencurigakan di sini. Aura-nya nggak enak,” gadis itu berjalan membentuk lintasan melingkar, mengelilingi kedua cowok tersebut.

“Kalian! Pacaran ya? Kemaren marahan, sekarang balikan sambil nangis-nangis. Iya kan?” Tudingnya tanpa perasaan.

Surya berjengit ngeri. Aria membelalak kaget.

“Astaga… jadi bener?”

Surya tersedak ludahnya sendiri, terbatuk hebat.

“Dasar cenayang jadi-jadian. Imaginasi tu diatur biar nggak terbang kemana-mana,” sergah Aria mengetuk pelan kepala Ara.

Ara balas memukul kepala Aria, luput, cowok itu jauh lebih gesit. Tak bisa membalas dengan serangan fisik, Ara mulai melakukan silat lidah, “Hei! Junior durhaka! Sopan dikit dong ama kakak kelas!”

“Dasar anak kecil,” gerutu Surya pelan.

Ara menatap galak kearah Surya, bertanya ketus, “Apa? Bilang apa?”

“Anak kecil!”

“Heh, aku tu kakak kelas kalian tau!”

“Itukan di sekolah! Ini rumah sakit!”

“Harusnya kamu tu manggil kita pake kak atau abang.”

“Ih, najis!”

Ketiganya mulai berdebat kusir, timpal menimpal tak jelas ujung pangkalnya.

“STOP!” Akhirnya Ara sadar bahwa dia sudah melenceng jauh dari pertanyaan awal, berusaha mengembalikan keadaan, “Jadi, sebenernya kalian ngapain?”

Surya dan Aria berpandangan dan saling menyikut, mempersilahkan satu sama lain untuk memberi klarifikasi.

Akhirnya Aria mengambil tugas, mulai buka suara, “Eh, anu, ceri-”

“Dek, tolong jangan ribut-ribut ya. Ini rumah sakit.”

Penjelasan Aria –yang bahkan belum dimulai- terpotong oleh teguran seorang suster cantik.

Ketiganya menyeringai malu bersamaan, mengucapkan maaf. Sejurus kemudian ketiganya berjalan beriringan menuju taman, mencari tempat yang lebih nyaman.

“Tadi kita lagi baikan. Ehmmm… saling memaafkan lah. Damai,” jelas Aria yang diamini oleh anggukan Surya.

“Baikan? Kok bisa?”

“Ya bisa dong Ra. Namanya juga temen. Biasalah berantem dikit, lalu baikan,” tegas Aria santai.

“Kenapa?”

Aria hendak membuka suara lagi, tapi Surya memotong cepat, “Biar aku aja.”

Surya terlihat menghela nafas panjang sebelum mulai angkat bicara.

“Aku sebenernya sebel, ehm… iri sama Aria. Dia lebih pinter, lebih disayangi guru-guru, lebih punya banyak teman. Dan, terutama, lebih dibanggain ama ortu-ku. Yah, Abah dan Umak-ku sering banget mbanding-mbandingin aku ama Aria. Aria begini, Aria begitu. Kamu tu jadi anak kayak Aria dong. Rajin, nurut sama orang tua, nggak suka cari masalah, bisa membanggakan, bla-bla-bla. Siapa sih yang nggak panas kupingnya klo selalu dibanding-bandingin gitu?”

Ara tiba-tiba teringat Bunda dan Ryū, merasa sedikit banyak bisa mengerti perasaan Surya.

“Puncaknya kemaren itu. Temen-temen sekelas lebih nerima usul Aria untuk bazar sekolah dibanding usulku. Padahal menurutku usulnya terlalu biasa, nggak spektakuler. Hmmm… usul anak miskin,” lanjut Surya, memandang Aria dengan pandangan menyesal.

Aria justru terkekeh geli, “Parahnya, si Aida justru mbelain aku dan mbentak Surya. Nggak terima klo ide ku dibilang ide miskin.”

Surya menimpuk Aria dengan gumpalan daun yang sejak tadi dia remas-remas.

“Masalah cewek ya?” Ara menebak jitu. Membuat Surya tersipu jengah, Aria tergelak tak karuan.

“Nggak juga sih. Cuma sekedar pemicu aja. Udah mengkal berat aku ama di Aria ini. Diprovokasi juga nggak pernah berhasil. Aku justru kaget waktu kemaren ngeliat dia pasang tampang marah waktu aku nge-hina kamu Ra. Beneran, itu pertama kalinya aku liat Aria marah.”

Ara mengerutkan alis, melirik Aria. Cowok itu tengah memasang wajah serius, “Hinaan kamu terlalu kasar. Dan, Ara itu satu-satunya anak kompleks elit yang mau ngobrol ama Bapak, bahkan main skak bareng. Sering nganterin bingka kentang buat Ibu. Keluarga Pak Izzat itu spesial buat keluarga aku. Terhormat,” tandasnya.

Surya mengangguk setuju, “Sama. Buat keluargaku juga.”

Ara memandang keduanya bergantian, tidak begitu paham dengan apa yang mereka bicarakan. Ayah? Terhormat? Kedengarannya keren.

“Lalu, kenapa kalian baikan?” Ara mulai tidak sabar menunggu kronologis cerita Surya.

Surya menghela nafas, “Karena ternyata omongan Abah dan Umak-ku benar. Aria memang pantes dicontoh.”

Aria hanya menatap jauh ke langit, seolah tidak mendengar ucapan Surya barusan.

“Pak Dadang dan Aria yang kemaren malem nolongin Abah dan aku. Padahal mereka juga sedang ada urusan penting. Tapi justru nolong kami, ngurus segala macamnya, donor darah untuk Abah, nemenin Umak, ngurusin adik-adik di rumah. Dan, itu semua bikin urusan mereka sendiri terbengkalai,” desah Surya berat.

“Urusan kalian lebih urgen Sur. Abahmu kritis, kehilangan banyak darah,” timpal Aria.

Surya mengangguk pelan, lirih berterima kasih.

“Trus, udah? Baikan gitu aja?” Ara bertanya dengan nada sedikit kecewa.

Aria menyeringai lebar, “Astaga Ra. Namanya juga temen, wajarlah klo ada masalah. Berantem dikit, baikan. Biasa aja kan?”

Ara memberengut. Biasa? Gadis itu teringat perkaranya dengan Ryū.

“Justru, sedikit ruwet gara-gara kamu kemaren ikut masuk ke masalah kami. Nyaris jadi besar dan kapiran,” timpal Surya.

“Gara-gara aku? Emang aku ngapain?” Sergah Ara tak terima.

Surya menggaruk belakang telinganya, “Aku hampir kesulut emosi dan bikin rencana buat ngelakuin hal jahat ke keluarga Aria.”

Ara membelalak kaget.

“Ra. Inget kata Kak Ryū? Kekerasan itu nggak menyelesaikan masalah, justru memperumit. Mungkin kamu nggak begitu paham. Tapi aku tahu pasti itu bener. Dulu, aku juga menganggap berkelahi adalah jalan keluar. Sampai… gara-gara ulahku, Bapak kehilangan pekerjaannya, di tempat yang lama. Aku nggak liat-liat siapa yang ku hajar. Hufh… ternyata anak Manager HRD. Kacau lah,” urai Aria panjang lebar.

Ara menatapnya tidak percaya, “Segitunya?”

Surya berucap tegas, “Nggak semua orang di dunia ini seperti Ayah dan Bunda-mu. Kebanyakan orang berkuasa justru menyalahgunakannya. Aku aja sempet takut waktu tau kamu anak Pak Izzat. Kalau kamu ngadu yang enggak-enggak ke Ayahmu, lalu Ayahmu nggak bijak, bisa jadi, nasib Abah akan sama dengan nasib Pak Dadang dulu.”

“Nggak mungkin Ayah kayak gitu. Ayah profesional. Perkara kita sih, buat Ayah cuma masalah anak-anak kecil. Sama aja kayak aku berantem rebutan permen ama temen TK dulu,” sahut Ara tak percaya.

Aria tersenyum tipis, “Sayangnya, nggak semua orang seperti Pak Izzat.”

Ara tercenung cukup lama. Tidak mengira kalau urusan ini bisa saja berakhir kacau seperti itu. Tak pernah terlintas dalam benaknya, perkara perkelahian antar teman bisa tersangkut paut dengan periuk nasi keluarga.

“Heh? Kalian ngapain di sini? Bukannya ini jam sekolah? Ara?”

Serempak ketiganya menoleh, mencari sosok yang menegur mereka.

Ara menatap tak percaya orang di depannya, “Lho? Kak Jung Gi? Ngapain di sini?”

***

Ara tengah asyik mengamati seekor ulat gemuk yang merayap perlahan di kuntum bunga mawar putih kesayangan Bunda. Mengabaikan seruan Bunda untuk segera membunuh ulat itu, “Jangan Bun… . Kan ulatnya lucu, gemuk lagi. Besok-besok klo dah jadi kupu-kupu pasti cantik,” bantahnya.

“Kalau ulatnya lucu, biasanya kupu-kupunya nanti nggak cantik. Justru kalau ulatnya jelek, kupu-kupunya bakalan cantik,” sahut Bunda, mengambil ulat di depan Ara dengan ranting kecil, membuangnya jauh-jauh. Ara hanya bisa menatap kasihan pada si ulat, ber-puh panjang, kembali melakukan aktivitasnya yang sempat terhenti karena si ulat.

Ayah tersenyum geli melihat Ara yang tengah menyiangi rumpun mawar. Gadis itu tak henti-hentinya mengernyit sebal sembari menutup hidung. Ayah hafal benar, anak semata wayangnya itu memang tidak suka aroma bunga mawar. ‘Harumnya lebay Yah, bikin eneg,’ itu alasan Ara.

“Lumayan juga ya Cinta di-skors, taman Bunda jadi kelihatan lebih cantik,” goda Ayah pada Ara.

“Ayah!” Seru Bunda penuh peringatan, “Jangan komentar yang enggak-enggak. Anak Ayah  ini kan nggak tau, mana yang pujian, mana yang sindiran. Bisa-bisa, Cinta mengira Ayah suka kalau dia di-skors.”

Ara menggembungkan pipinya, “Cinta kapok di-skors. Bosen, 24 jam sehari, 7 hari seminggu diomelin mulu ama Bunda. Klo kata G-Dragon nih Bun, 24/7 My Hell,” cerocosnya kesal.

“Naga? Naga apa?” Tanya Bunda sambil lalu. Ara hanya menyeringai lebar, malas menjelaskan perkara Big Bang dan boyband-boyband korea itu.

“Nah…. Itu yang diomongin dateng! Panjang umur Ryū, nih lagi diomongin Ara!” Seru Ayah ringan, namun sukses membuat Ara terkejut, tak sengaja memegang duri mawar. Walaupun Ryū artinya juga naga, tapi kan yang lagi diomongin Ara nggak ada hubungannya ama naga.

Ryū menyeringai tipis melihat Ara yang sibuk mengulum jarinya yang tertusuk duri, mengangguk sopan ke arah Ayah dan Bunda, “Pagi Om, Tante!” Sapanya, tak kalah ringan dari Ayah.

“Pagi Ryū! Kok lama banget nggak maen ke sini?” Bunda langsung menyodorkan gunting rumputnya pada Ara, melepas sarung tangan berkebun dan antusias menyambut Ryū. Tidak memedulikan Ara yang melotot galak pada gunting kebun tak berdosa, seolah-olah benda itu yang bersalah.

Ryū hanya tersenyum lebar, “Mama titip salam buat Tante, terima kasih atas bingka kentangnya, enak banget.”

Bunda tertawa renyah, “Ah, biasa aja. Ryū suka bingka-nya? Kebetulan Tante barusan bikin, nanti kalau sudah mau pulang, di bawa ya!”

Ara meletakkan guntingnya dengan kasar, menggamit lengan Ayahnya, mencari perhatian. Gadis itu memberengut sebal ke arah Bunda. Selalu, saat ada Ryū, Bunda lupa klo yang anaknya itu dia.

“Orang baru dateng kok udah disuruh pulang sih Bun,” celutuk Ayah bercanda, mengucak pelan rambut Ara, “Ada pesan dari Takizawa-san atau mau ketemu Ara nih?” Tanya Ayah kemudian. Kadang-kadang Ryū memang mendapat tugas dari Papa-nya untuk mengantarkan berkas apalah. Posisi Takizawa-san selaku R&D Manager memang mengharuskannya banyak berhubungan dengan Pak Izzat.

Ryū menggeleng pelan, “Ini Om, mau nganterin catetan dan tugas sekolah untuk Ara,” jawabnya, mengulurkan setumpuk buku dan kertas-kertas.

Ara melipat dahi, “Tugas apa? Aku kan lagi di-skors. Bebas PR kan?”

“Enggak, sekalipun kamu di-skors, tetep wajib ngerjain dan ngumpulin tugas,” jawab Ryū tegas, menjejalkan kertas-kertas itu ke tangan Ara.

Ayah dan Bunda sudah berlalu, masuk ke rumah. Seperti sengaja benar membiarkan anak gadisnya bicara lebih leluasa dengan temannya itu. Seolah-olah tahu kalau diantara keduanya sedang terjadi perang dingin.

Ara mendelik sebal pada buku-buku dan kertas ditangannya, merasa masa-masa tenangnya terganggu. Aturan apa tu? Di-skors tapi tetep ngerjain PR? Nggak bisa ngeliat orang santai sedikit ya guru-guru itu? Seneng banget ngeliat anak muridnya menderita?

Merasa didiamkan, Ryū berniat pulang, “Aku pulang. Pamitin ke Om dan Tante.”

Ara mengangkat wajahnya, mendongak menatap Ryū. Penjelasan panjang lebar dari Jung Gi di rumah sakit kemarin melintas cepat dibenaknya. Ditambah dengan ucapan Aria soal teman. Berantem dikit, lalu baikan.

Ara melihat pungung Ryū yang berjalan menjauh, tercabik antara ingin memanggil dan gengsi.

“Ryū!”

Orang yang dipanggil spontan menoleh, memasang ekspresi bertanya.

Ara meneguk ludah, masih berusaha mengalahkan gengsinya sendiri.

“Ehm, anu, itu,” menggigit bibir bawahnya, “Maksud aku, ehm,” kembali meneguk ludah.

Ryū mengangkat sebelah alisnya, heran. Tidak biasanya Ara gugup dan gagu seperti itu.

“Bingka kentang-nya gimana?” Tanya Ara akhirnya, berbelok dari arah sebenarnya.

Ekspresi Ryū berubah dingin, “Terima kasih,” sahutnya datar, berbalik, beranjak pergi. Dia paham benar, bukan itu yang hendak dikatakan Ara. Lagipula,urusan bingka itukan hanya basa-basi biasa, bukan hal yang perlu ditanyakan lagi.

Ara memukul pelan kepalanya sendiri, menggerutu.

Sejurus kemudian gadis itu berlari kecil, “Ryū! Bisa ngobrol sebentar?” Panggilnya, tepat saat Ryū membuka pintu mobilnya.

“Soal Kak Jung Gi…” kali ini Ara sudah tepat dibelakang punggung Ryū, menggamit lengan Ryū ragu-ragu, “Aku minta maaf,” tambahnya lirih.

Ryū perlahan membalik badannya, menemukan Ara yang sedang tertunduk dalam.

‘Perlu waktu selama ini buat bikin kamu sadar dan minta maaf?’ Keluh Ryū dalam hati, menatap lamat-lamat gadis didepannya, menghela nafas berat namun penuh kelegaan.