CAFE

Author             : yen

Main Cast        : Kim Jonghyun (SHINee), Kim Ara

Support Cast  : Kim Ki Bum (SHINee), Choi Seung Hyun (BIG BANG), Intan Permata

Length           : One Shot

Rating            : General

Genre            : Life, Friendship, Family, Romance

Quote           : Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else (Unknown)

“TEA’US? Cafenya Sang Woo Hyung ya? Ya sudah. Kau naik taksi saja, nanti pulangnya ku jemput,” saran Seung Hyun.

Malam ini Choi Seung Hyun ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Hal ini membuatnya harus pulang lebih larut. Istrinya, Kim Ara -tentu saja namanya sekarang sudah menjadi Choi Ara- menelpon untuk meminta ijin makan di luar bersama kakaknya, Kim Jonghyun.

“Rencananya aku mau di jemput Kibum. Bagaimana? Tidak apa-apakan?” Tanya Ara.

“Kau pergi dengan Kibum? Kalau begitu, ijinku ku tarik!” Sahut Seung Hyun.

“Eh? Kok gitu. Ya ampun Oppa… aku memang berangkat dengan Kibum. Tapi kan kami makan malamnya berempat, dengan Jonghyun oppa dan kencan butanya,” rengek Ara pada suaminya itu.

“Tidak. Toleransiku hanya berlaku untuk Jonghyun, tidak pada pria lain,” jawab Seung Hyun berkeras.

“Kibum kan bukan orang lain, dia sahabat Jonghyun oppa. Kau ini, kita sudah menikah 2 bulan, masih saja cemburu tidak jelas begini,” Ara merajuk manja.

“Aku hanya tidak suka membayangkanmu pergi makan malam dengan dengan pria lain. Wajarkan?” Keluh Seung Hyun.

Ara akhirnya mengalah, “Ya sudah. Aku berangkat naik taksi, “ menghela nafas, ”tapi,  Oppa janji akan menjemputku kan?”

“Janji. Hati-hati di jalan. Telpon aku begitu kau sampai di sana. Ah-ya, sampaikan salamku pada Jonghyun. Semoga perjodohannya kali ini berhasil,” pesan Seung Hyun sebelum menutup telponnya.

***

“Wah… gadis yang ditemuin Jjong kali ini luar biasa ya? Cantik banget! Kalau Jjong nggak doyan, buat gue aja,” seru Kibum sembari mengamati gadis yang duduk di depan Jonghyun.

Meja Jonghyun dan gadis yang dibicarakan Kibum terletak di dekat jendela, terpisah 3 meja dari tempat Kibum dan Ara duduk.

“Cantik sih Ki. Tapi lihat dulu kearah jam 4. Taruhan, yang ini lebih menantang,” sahut Ara ringan. Kibum dengan antusias menoleh, menatap bingung pada seorang pemuda berpenampilan rapi dengan rambut klimisnya.

“Gila loe! Gue normal, nggak doyan cowok. Eh! Loe tinggal nikah bukan berarti gue jadi homo ya!” Seru Kibum mengkal.

“Mata loe kemana?? Arah jam 4 gue. Bukan arah jam 4 loe. Aishhh…. Bisa-bisa aku disembelih Hyun Oppa kalau dia dengar aku ngomong loe-gue kayak gini,” sembur Ara tak kalah mengkal.

“Jam 4 loe ya?” Tanya Kibum sembari kembali celingukan, “Gile loe! Tau banget selera gue. Jinak-jinak merpati gitu. Lumayan nih buat obat stress. Eh, gue udah cerita blom ke elu? Gue udah putus ama In jung, so-”

“Stop,” potong Ara cepat. “Sorry ya, tapi nggak minat ndenger alasan-alasan basi. Urusan loe mau pacaran sama siapa, putus kenapa. Bosen!” Lanjut Ara dengan nada mengkal.

“Ah… Ara, kagak asyik loe. Masak sohibnya mau curhat aja kagak mau ndengerin?”

Ara menyeringai sinis, “Bosen Ki. Alasan loe itu-itu mulu. Bosen, pasti alasan utama. Cewek loe ternyata ganjen, matre, bla-bla-bla, jadi alasan tambahan.”

“Hehehe… iya juga ya. Loe emang ngertiin gue banget,” Kibum ikut-ikutan menyeringai,”Loe kenapa sih buru-buru amat nikah ama Seung Hyun hyung. Kan gue udah bilang, tunggu setaun dua taun lagi, gue pasti bakal ngelamar elu Ra.”

Ara terkekeh geli melihat Kibum yang tengah memasang wajah nelangsa. Gadis itu mengetuk dahi Kibum dengan sendok teh-nya, berseru gemas, “Sepuluh tahun yang lalu, loe juga nyuruh gue nunggu setahun dua tahun Ki. Mana buktinya? Chicken sih loe.”

Kibum mengusap-usap dahinya, “Habisnya, bodyguard loe serem banget sih.”

Ara menaikkan kedua alisnya, “Bodyguard?”

“Noh, si bujang lapuk,” tunjuk Kibum ke arah Jonghyun yang entah sedang ngobrol apa dengan kencan butanya. Sepertinya kencan mereka hanya akan bertahan beberapa menit lagi, Jonghyun sudah mulai terlihat luar biasa bosan dan terus melirik ke arah Kibum dan Ara.

***

“Lho? Oppa nggak nganter dia pulang?” Tanya Ara saat melihat Jonghyun berjalan menghampirinya. Gadis kencan buta Jonghyun terlihat beranjak keluar cafe.

Jonghyun hanya menggeleng.

“Gagal lagi nih?” Tanya Ara menegaskan. Ini sudah kesekian kalinya Jonghyun berkencan buta, hasilnya, selalu nihil.

Jonghyun menyeringai malas, “Kibum kemana?” Tanyanya kemudian.

Ara mengangkat bahu, “Pergi bareng kenalan barunya”.

“Cewek?” Jonghyun kembali menyeringai.

Of course, apa lagi?” Ara menjawab malas.

Hening. Jonghyun dan Ara sibuk dengan pikirannya masin-masing.

“Oppa memang jauh lebih dewasa dari Kibum. Tapi terkadang, Ki bisa seribu kali lebih realistis daripada Oppa,” celutuk Ara tiba-tiba.

Mwo?” Tanya Jonghyun heran.

“Yah, setidaknya dia tidak pernah memulai sesuatu yang tidak bisa dia akhiri.” Jawab Ara tegas. Bagi Ara, perkara ini sederhana saja. Kibum menikmati hidupnya sebaik mungkin. Berganti pacar semau dia. Mendekati setiap wanita yang menarik perhatiannya, meninggalkan wanita yang membuatnya bosan. Tidak pernah benar-benar mencintai seorang wanita dengan sepenuh hati. Kibum selalu tahu kapan dan bagaimana dia harus memulai dan mengakhiri sesuatu.

“Percuma Mami menjodohkan Oppa dengan 100 wanita. Percuma kau pergi kencan buta 3 kali seminggu, kalau kau selalu saja membandingkan mereka dengan… siapa namanya, pacar dunia maya-mu itu? Intan? Intan Permata? Kau harus memilih, salah satu dari wanita itu, atau Intan!”

“Kau tahu sendiri kalau jelas aku akan lebih berat pada Intan. Tapi dia masih terlalu muda, bahkan belum menyelesaikan kuliahnya. Aku tidak mungkin mengajaknya menikah sekarang,” gumam Jonghyun lirih.

“Oppa. Apa kau tidak merasa berlebihan tentang Intan ini? Kau bahkan baru sekali bertemu dengannya. Hanya dengan sms, chatting dan telpon, kau memutuskan bahwa kalian saling mencintai? Kau gila. Dia itu hanya anak kecil, sementara kau, sebentar lagi usiamu akan kepala tiga,” sembur Ara kesal.

“Heh? Bukannya kau sendiri yang mengatakan kalau cinta itu tidak mengenal usia? Dan usia itu tidak berbanding lurus dengan kedewasaan? Aku merasa nyaman dengannya, dia jauh lebih dewasa dari gadis seumurnya. Dia bisa membuatku tenang, selalu berhasil membuatku nyaman hanya dengan berbicara dengannya, mendengar suaranya. Selalu memberiku hal positif, membuatku bersemangat.”

“Itu masalahnya. Positif, ya, karena memang hanya sisi itu yang Oppa mau lihat dari dia, tidak yang lain. Oppa menganggap Intan seperti diari yang bisa menjawab,” Ara buru-buru menahan Jonghyun yang terlihat tidak terima, “Jangan menyangkal Oppa. Aku tahu rasanya memang menyenangkan ada orang yang bisa mengerti kita, tanpa memuntut apapun, hanya sedikit waktu untuk ngobrol. Terkadang, memang lebih nyaman berbicara dengan orang dari dunia maya daripada dengan sahabatmu sendiri, yang notabene kau temui setiap hari. Karena orang-orang dalam kehidupan nyata pasti terasa lebih menyebalkan, wajar, karena kita benar-benar saling kenal. Bukan sekadar melihat dan berpikir dari segi yang kita inginkan saja, seperti yang biasa kau lakukan pada Intan. Bersemangat? Oppa menganggapnya cheerleader ya?”

Jonghyun mendesah berat, “Ara, hubungan itu yang penting kita harus dewasa, dan membangun kedewasaan.”

“Oppa, omong kosong soal kedewasaanmu itu. Dewasa itu bukan sekadar kata-kata bijak, pemikiran-pemikiran filsafat sok sastra, kata-kata mutiara atau apalah! Dewasa itu adalah tindakan. Aku tidak pernah menyangka kalau Oppa-ku adalah seorang oportunis. Jangan mengikat seseorang kalau kau sendiri belum mau terikat. Jangan memberi orang harapan hanya karena kau menikmati dipuja sedemikian rupa olehnya.”

“Ara! Mulutmu tajam sekali! Aku tidak mempermainkan Intan. Aku sungguh-sungguh mencintainya!” Jonghyun menggebrak meja didepannya.

Ara tidak peduli, terus membombardir Jonghyun dengan argumen-argumennya, “Cinta? Bullshit! Kau sebut itu cinta? Menggantungnya dalam ketidakpastian? Taruhan, kau sama sekali tidak berniat suatu saat akan menikah dengannya. Komitmen apa yang pernah kau buat dengannya? Kau bahkan mau-mau saja saat Mami menyuruhmu bertemu dengan gadis-gadis yang beliau jodohkan padamu. Berapa? Sudah 12 orang ya? Kau menemui mereka hanya untuk memuaskan hatimu, meyakinkan dirimu sendiri, kalau Intan, orang yang kau pilih, lebih baik dari gadis manapun yang pernah kau temui. Tapi tetap saja itu tidak membuatmu cukup berani untuk membuat komitmen dengan Intan. Oppa, hubungan pria dan wanita itu yang penting komitmen. Percuma kau dewasa dan luar biasa bijaksana kalau kau tidak berani membuat komitmen!”

Jonghyun menyeringai sinis, “Heh? Komitmen? Maksudmu seperti kau? Yang rela begitu saja di jodohkan dengan Seung Hyun? Menikah dengan orang yang sebenarnya tidak kau cintai?”

“Apa salahnya? Kenapa aku harus menolak di jodohkan dengan Hyun oppa? Dia baik. Dan orang baik tidak akan menyakiti orang lain, sekalipun dia tidak menyukai orang itu. Satu lagi, aku yakin, bahwa pada akhirnya, orang baik akan berjodoh dengan orang baik. Dan aku tentu tidak termasuk kedalam golongan orang brengsek kan?”

“Siapa yang brengsek?” Tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar, arahnya dari belakang Ara. Saking asyiknya beradu alasan, baik Jonghyun maupun Ara tidak menyadari kehadiran Seung Hyun.

“Lho?? Oppa?? Kok dah di sini? Aku kan blom telpon, kok udah dijemput?” Tanya Ara heran, menatap Seung Hyun yang dengan cueknya sudah meminum lime tea miliknya.

“Gagal lagi Jjong?” Sapa Seung Hyun yang hanya dibalas seringaian malas dari Jonghyun.

Ara memberengut, merasa diabaikan. Seung Hyun menggeser sedikit kursinya, menautkan tangan kirinya dipinggang Ara.

Tanpa melirik ataupun menoleh kearah istrinya, Seung Hyun kembali membuka suara, “Santai aja. Jodoh itu sesuatu yang nggak disangka-sangka. Ibarat nunggu bis. Waktu masih pagi, kita sibuk milih-milih. Yang ini terlalu sesak, nanti aja, nunggu bis selanjutnya. Saat bis kedua lewat, yang ini nggak ada AC-nya, nanti aja. Makin siang, makin jarang bis yang lewat. Kita mulai turun harga. Asal dapet tempat duduk deh, nggak ada AC juga nggak papa. Belum ada yang pas seperti yang kita inginkan. Sorenya, salju turun, perut lapar, bahkan bis reot penuh sesak, tanpa AC, kursinya somplak, baunya nggak enak, kita tetep nekat naik,” cerocos Seung Hyun panjang lebar.

Jonghyun terkekeh geli, mengedipkan mata pada adik perempuannya. Ara menyikut perut suaminya, merasa tersinggung, “Jadi, aku ini Oppa anggep bis reot?”

Seung Hyun meringis, menjawil hidung Ara, “Bukan kau, tapi aku!” Sahutnya manis, sukses membuat pipi istrinya bersemu merah.

“Hei! Nggak usah pamer kekayaan di depan orang miskin dong!” Protes Jonghyun, ternyata jengah juga melihat kemesraan pengantin baru itu.

Ara menyeringai lebar, “Aku ke kamar kecil dulu ya,” pamitnya, beranjak dari kursi.

“Mau ku temenin?” Tawar Seung Hyun, berlagak menggeser kursi.

“Boleh. Tapi ikut masuk ya, jangan cuma nunggu di depan pintu,” Ara mengedipkan sebelah matanya.

Seung Hyun tersenyum lebar, “Siapa takut?”

“Tsk! Kalian ini! Astaga….” Jonghyun kembali protes, jengah.

Ara mengucak rambut lebat kakaknya, “Makanya, kawin!”

Seung Hyun terkekeh geli, “Bukan kawin, nikah. Klo kawin sih, Jjong dah pernah. Bahkan sering. Iya kan Jjong?”

Jonghyun menimpuk Seung Hyun dengan gumpalan tissue.

Seung Hyun kembali menyesap perlahan lime tea-nya, mengedarkan pandangan, menelisik isi cafe itu.

“Kenapa kau akhirnya memutuskan menikah dengan adikku yang childish itu?” Suara Jonghyun memecah keheningan yang sempat terbentuk.

Seung Hyun mengangkat kedua alisnya, melempar pandangan penuh tanya pada kakak iparnya itu.

Jonghyun menyeringai malas, “Ayolah. Aku kan hanya bertanya. Lagipula, walaupun statusmu sekarang adalah adik iparku, sebenarnya kau adalah sunbae-ku. Bahkan, dulu aku memanggilmu dengan sebutan Hyung.”

Seung Hyun mengangguk tipis, “Belum menemukan alasan kenapa kau merasa perlu untuk menikah?” Tuduhnya telak, membuat Jonghyun memasang ekspresi ganjil. “Kau sudah pernah menanyakan ini pada Ara? Kenapa dia mau menikah denganku?”

Jonghyun menjawab singkat, “Karena kau orang baik.”

Sejenak Seung Hyun tertegun, tapi sejurus kemudian dia mengangguk, “Yah, orang baik. Kedengarannya terlalu sederhana, tapi itu cukup. Itulah jodoh. Kau hanya perlu alasan sederhana untuk memilihnya. Bahkan, terkadang kau tidak bisa menemukan alasan sama sekali. Terjadi begitu saja. Kau akan tahu sendiri saat kau bertemu dengan orang yang tepat. Aku juga tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik. Hanya saja, kau akan merasa yakin, sama sekali tidak ada keraguan. Kau merasa bisa menerima dia apa adanya, bersedia menjalani sisa hidupmu dengannya. Entahlah, rasa itu datang begitu saja,” urai Seung Hyun panjang lebar.

Jonghyun menyandarkan punggungnya, “Begitu saja?”

“Entahlah, tapi kau tahu kan seperti apa Ara itu? Dia bisa merasa sebal dan marah-marah tidak jelas hanya karena melihat seorang cowok memakai baju berwarna pink,” Seung Hyun tersenyum geli, “Tapi saat aku yang memakainya, dia tidak protes.”

Jonghyun menatap Seung Hyun tidak percaya, “Dia tidak marah-marah? Padahal kalau aku yang pakai, dia pasti mengomel panjang lebar. Seolah-olah memakai baju pink itu dosa besar. Atau, kau terlalu galak. Jadi dia takut padamu?”

“Kau seperti tak kenal Ara saja. Apa pernah dia takut pada seseorang?” Sahut Seung Hyun, “Seperti yang ku katakan tadi, saat kau mencintai seseorang dengan sepenuh hati, kau akan bisa menerima dia apa adanya. Terdengar mustahil, tapi saat kau bertemu jodohmu, hatimu yang akan menunjukkan, bahwa dialah orangnya,” imbuhnya kemudian, menegak habis sisa lime tea dicangkirnya.

Ara yang baru kembali merebut cangkir dari tangan Seung Hyun, “Oppa! Kok dihabisin? Kenapa nggak pesen sendiri sih?”

Seung Hyun mengangkat bahu, “Klo dah habis kan aku punya alasan buat ngajak kamu pulang,” dalihnya santai.

Ara tersenyum manis, “Bilang dong klo mau buru-buru pulang. Ya udah, kami duluan ya Oppa,” pamit Ara pada Jonghyun.

“Hati-hati di jalan,” sahut Jonghyun setelah mengangguk.

Seung Hyun bangkit dari duduknya, sebelah tangannya merangkul pinggang Ara, sebelah lagi menepuk pelan bahu Jonghyun, “Nggak usah dibawa stress Jjong. Just open your mind, then your heart will find.”

Jonghyun menatap lamat-lamat adik dan adik iparnya yang berjalan meninggalkan cafe. Ara menggelayut manja di lengan suaminya, terlihat tersenyum riang, mengomentari beberapa hal yang menarik perhatiannya. Mau-tak mau Jonghyun sedikit merasa ditinggalkan, dulu, dia yang ada di posisi Seung Hyun.

Drttt… drttt… drttt…

Jonghyun merogoh saku jasnya, menatap layar ponsel.

Intan Calling

Yeoboseyo,” sapanya ringan.

Suara manis yang renyah terdengar dari seberang, “Oppa, lagi sibuk nggak?”

Jonghyun menghela nafas, “Kenapa sayang?”

“Enggak. Intan kangen. Oppa akhir-akhir ini jarang nelpon Intan. Dihubungin juga susah.”

“Maaf, Oppa emang lagi banyak kerjaan.”

“Oh… Intan nganggu ya?”

Absolutely not. Nggak ada istilah nganggu buat gadis cantik kesayangan Oppa.”

“Gombal!”

“Tuh tahu.”

“Jahat!”

Jonghyun terkekeh geli, gadis yang satu ini selalu berhasil membuat hatinya merasa nyaman.

Bepp… Bepp… Bepp…

“Sebentar ya sayang, ada telpon masuk. Nanti Oppa telpon balik.”

“Ok. Jangan malem-malem ya nelponnya. Ntar Intan keburu dah tidur.”

“Siap bos. Saranghae.”

Ne. Nado saranghae.”

Jonghyun mengalihkan saluran, mengangkat telpon kedua, dari gadis kencan buta yang baru saja bertemu dengannya.

“Kau sudah sampai rumah?” Tadi dia yang berpesan pada gadis itu, untuk menelponnya begitu sampai di rumah.

Ne. Oppa… hmmm… aku minta maaf, tadi sikapku sedikit berlebihan.”

“Tidak apa-apa. Itu salahku, aku yang minta maaf.”

“Tapi… aku merasa benar-benar tidak enak pada Oppa.”

“Benarkah? Kalau begitu, kau bayar dengan kencan sekali lagi. Bagaimana?”

“Eh? Maksud Oppa?”

“Besok pagi, jam 8, ku jemput kau di apartemenmu. Setuju?”

“Hmmm… memangnya Oppa tau di mana letak apartemenku?”

“Gampang, kau sms saja alamatnya. Bagaimana?”

“Hmmm… baiklah.”

“OK. Good night, sampai jumpa dalam mimpi ya.”

“Eh? Apa Oppa?”

Jonghyun menyeringai, memutus sambungan telponnya. Ia tahu kalau hidup itu pilihan. Dan dia sudah memilih. Memilih untuk membiarkan semuanya mengalir, tak peduli sekalipun aliran itu berakhir di comberan atau neraka sekalipun. Dia bukan sedang mempermainkan Intan, atau gadis kencan butanya. Bukan. Ini hanyalah bagian dari membuka pikiran, membuka pintu-pintu kesempatan yang mungkin ada. Baginya ini bukanlah hal yang bisa dikatakan benar, tapi dia juga tidak bisa menyatakannya sebagai sebuah kesalahan. Inilah hidup, tidak ada yang mutlak benar atau salah.

FIN

 

Catatan penulis :

Storm, sorry, mas Seung Hyun-nya ku pinjem lagi. Buat gantinya, ku pinjemin bang Ji Yong deh. Gratis! Terserah mo kamu apain aja *digampar Ji Yong

Klo masih belum cukup, ntar Ryu juga boleh dipinjem. Tapi klo yang ini jangan diapa-apain. Pulang harus utuh seperti sedia kala? Ukay? *digantung Ryu

Kak Wulan, thanks atas kuliah filsafat ‘cinta dan bis’nya. Hmmm… kakak yakin nih, nggak nyesel nikah ama si Pinky Man itu? Hehehe… sorry, just kidding. Selamat ya Kak! Happy ever after! Fighting!! Ganbatte!! *PLAK!