1st Journey at Sōzōtopia

Intro – Mimpi Hyo Ra

 

Author : yen

Main Cast : SHINee, Super Junior, Cho Hyo Ra

Support Cast :  Super Junior’s Cho Kyuhyun, 2AM’s Seulong, Myung Gi

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Inspired by : G-Dragon’s Butterfly MV

Daegu Science High School sudah terlihat sepi, hanya satu dua murid yang terlihat berjalan. Tergesa pulang. Tak sabar ingin segera menikmati liburan musim panas yang dimulai esok pagi hingga seminggu kedepan. Terbebas dari segala PR, paper dan tugas-tugas lainnya. Yang lebih menyenangkan lagi, tidak perlu mengikuti les tambahan hingga tengah malam. Kalau memang surga itu ada, pasti inilah rasanya. Bebas tanpa tekanan. Walaupun, kenyataannya, summer is summer. Apapun yang terjadi selama musim panas, semenyenangkan apapun, tetap akan berakhir, bahkan  kenangannya pun akan segera terkikis oleh rutinitas.

Deja Vu apanya? Itu sih khayalan kau saja Myung Gi!”

Ternyata tidak semua murid sudah pulang. Di ruang kelas yang terletak di lantai 2 itu masih tersisa 7 orang murid yang justru sibuk berdebat. Sesekali tertawa, sesekali memberengut, sesekali saling melempar spidol dan gumpalan kertas.

Deja Vu! Aku yakin sekali. Aku sudah pernah melihatnya, tapi lupa di mana dan kapan,” namja jangkung itu berseru ngotot.

“Dalam mimpi mungkin,” salah satu yeoja ikut angkat suara.

Myung Gi –nama namja jangkung tersebut- hanya mengangkat bahu, tidak yakin.

“Eh, mimpi itu berwarna tidak sih?” Seorang yeoja yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum melihat ke-6 temannya berdebat bertanya lirih, ragu-ragu.

Keenam temannya menatap Hyo Ra dengan pandangan heran.

Gadis itu tergagap, menelan ludah, “Aku belum pernah bermimpi. Juga belum pernah mengalami Deja Vu.”

“Kau belum pernah bermimpi?” Tanya salah satu diantara mereka, menautkan alis.

Lagi-lagi Hyo Ra menelan ludah, menggeleng pelan. Memang agak aneh. Sampai berumur 16 tahun ini, ia belum sekalipun bermimpi. Atau, setidaknya belum pernah ingat kalau ia bermimpi. “Berwarna tidak?” Tanyanya lagi.

Semua temannya terdiam, berpikir.

“Tidak.”

“Berwarna.”

Keenam temannya menjawab bersamaan, sukses membuat wajah si penanya semakin bingung.

“Mimpi itu berwarna. Aku yakin. Buktinya aku ingat benar, waktu kau dan aku kencan malam  itu, eh, dalam  mimpi, kau pakai gaun merah muda,” lagi-lagi, Myung Gi berseru ngotot.

Keempat temannya justru tergelak tak karuan. Gadis yang bertanya hanya tersenyum tipis.

“Kasian sekali kau. Sampai terbawa mimpi.”

“Astaga… malang sekali nasibmu kawan. Bertepuk sebelah tangan.”

“Myung Gi, Myung Gi. Sadar woi!”

Thank you, thank you, thank you.

You are far too kind.

Celutukan-celutukan mereka terhenti karena ringtone tersebut.

Oppa-mu?” Tanya Myung Gi.

Hyo Ra mengangguk kecil, buru-buru membereskan bukunya yang masih terserak di meja. Serampangan menjejalkannya dalam ransel biru. Setengah berlari keluar kelas.

“Aku duluan ya! Oppa bisa tumbuh tanduk kalau aku tidak segera turun.”

Keenam temannya hanya bisa ber-puh pelan. Bagaimana lagi? Mereka semua sudah hapal benar dengan kelakukan kakak lelaki Hyo Ra yang satu itu. Wajahnya saja yang seperti malaikat, tapi kalau sudah marah, setan saja kalah.

“Hyo Ra!”

Gadis berambut pendek sebahu itu menghentikan langkah, membalik badan, melempar pandangan bertanya pada Myung Gi.

“Jangan lupa, besok sore kita ke Sokcho.”

Hyo Ra mengangguk, mengacungkan kedua ibu jarinya, OK. Kembali menuruni anak tangga.

“Ku jemput jam 4 sore ya!”

Kali ini gadis itu hanya melambaikan tangan, tanpa menoleh. Setengah berlari menuju gerbang sekolah, menyeringai lebar saat melihat mobil sport berwarna merah maroon, mobil oppa-nya.

Tuk, tuk, tuk

Jari-jarinya mengetuk pelan kaca jendela pengemudi. Sebuah kepala muncul, menyembur marah, “Ya! Kenapa lama sekali?”

Hyo Ra tak menggubris dampratan oppa-nya. Berjalan ringan menuju pintu, meghempaskan diri di sebelah orang itu.

“Cho Hyo Ra! Berapa kali kubilang. Oppa ini orang sibuk! Kau tau berapa lama aku menunggumu di sini?” Namja ganteng -yang kegantengannya menguap karena tampang galaknya- itu langsung tancap gas tanpa basa-basi.

Hyo Ra justru memejamkan mata, bersandar nyaman pada kursi.

“Cho Hyo Ra! Kau dengar tidak apa kataku?”

Hyo Ra mendelik sebal, balik berteriak “CHO KYUHYUN! Aku ini adikmu! Bukan ELF, jadi wajar saja kalau kau menungguku!” Mendesis marah, “Astaga… galak sekali. Siapa juga yang ngotot menjemputku? Aku lebih suka pulang sendiri.”

Kyuhyun tersenyum geli, mengacak gemas rambut adiknya, “Ya! Aku ‘kan kangen padamu.”

Kelakuannya yang tiba-tiba berubah drastis itu membuat Hyo Ra melempar pandangan heran bercampur ngeri, Oppa-otakmu-tidak-beres-ya?

“Kenapa melihatku dengan tampang seperti itu? Ada yang salah dengan wajahku?” Kyuhyun melirik kaca, mengecek penampilannya. “Ah… aku memang sangat tampan. Bahkan adik kandungku saja sampai terpesona.”

“Hueksss!”

Kyuhyun menaikkan kedua alisnya, “Kenapa kau? Sakit? Hamil?”

Oppa!” Hyo Ra mengacungkan bogemnya, tepat didepan hidung Kyuhyun.

Oppa-nya justru tergelak keras, “Galak sekali.”

“Kenapa kau menjemputku? Eh, salah. Kau mau apa menjemputku?” Hyo Ra memasang wajah curiga.

Kyuhyun memutar bola mata, sok bingung dan polos, “Aku ‘kan sudah bilang, kangen.”

Hyo Ra mendengus sebal, “JUJUR!”

“Besok malam ikut aku ya, ke pesta pertunangan G-Dragon. Jadi pasanganku. OK?” Kyuhyun memasang tampang memohon.

“Apa? Dragon apa? Astaga… kau berteman dengan gengster ya?” Hyo Ra terbelalak kaget.

“PLETAK!”

OPPA! Sakit!”

“Kau ini. Masak tidak kenal GD? Kwon JiYong? BIG BANG? Astaga… kau ini makhluk planet mana sih?”

Hyo Ra mengangkat bahu, “Epsilon eridani?”

“Jangankan Dragon-dragon apalah itu. Oppa tau sendiri, bahkan teman satu grupmu saja aku tidak hapal,” imbunnya santai.

Kyuhyun menggeleng pelan. Tentu saja ia tahu pasti. Adik tunggalnya ini memang tidak tertarik dengan musik lokal. “Jadi. Bagaimana? Mau ‘kan menemaniku?”

“Tidak.” Hyo Ra menggeleng tegas.

“Di sana banyak artis lho, namja-namja keren. Nanti ku kenalkan kau dengan SHINee dan 2PM. Ikut ya?” Bukan Kyuhyun kalau dia gampang menyerah.

“Tidak. Tidak. Dan tidak.”

“EH?” Kyuhyun menatap adiknya tidak percaya.

“Tidak. Aku tidak tertarik. Tidak. Aku tidak mau dijadikan bulan-bulanan fans kalian. Tidak. Aku tidak punya waktu. Besok sore aku ada janji ke Sokcho,” jelas Hyo Ra panjang lebar.

“Janji? Kau kencan? Sejak kapan kau kencan tanpa minta ijin padaku? Siapa? Siapa teman kencanmu itu? Anak mana, eh, anak siapa? Suruh dia menemuiku sekarang juga! Berani-beraninya mengencani adikku! Dia pikir, dia itu si-”

Hyo Ra membekap mulut Oppa-nya yang merepet tidak karuan, berujar ringan, “Dengan keenam temanku.”

Hening sejenak, hanya derum pelan mobil yang terdengar.

“Dengan gerombolan anehmu itu?” Kyuhyun menyipitkan mata, menatap tajam mata adiknya, “Baiklah, tidak masalah. Kau ku ijinkan.”

Hyo Ra mengerucutkan bibir, “Siapa juga yang minta ijin padamu?”

***

Gadis bertubuh mungil itu menggeleng jerih, “Perasaanku tidak enak, bagaimana kalau aku nanti tiba-tiba kram?” keluhnya pelan. Menatap birunya laut pantai timur dengan gamang.

“Kau ini ada-ada saja. Kau ‘kan bisa berenang, kenapa takut seperti ini?” Sahut seorang gadis berambut pendek.

“Tenang saja, ‘kan ada aku. Aku akan melindungimu,” salah satu teman lelakinya menepuk dada, jumawa.

Hyo Ra menyeringai malas, “Memangnya kau jago berenang? Ini laut, bukan kolam renang.”

“Ayolah Hyo, kau ‘kan bisa pakai pelampung,” seru salah satu teman lainnya, menarik lengan Hyo Ra.

Hyo Ra masih terlihat ragu-ragu, menatap ke 6 temannya bergantian. Dia percaya para sahabatnya tidak akan membiarkannya celaka, bukankah mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA? Tapi entah mengapa, hari ini, memandang laut aja sudah membuat perasaanya sungguh tidak enak.

“Ayolah Hyo, liburan kita di Sokcho tidak akan lengkap kalau tidak pakai acara berenang.”

“Dan kami tidak mau berenang kalau kau tidak ikut.”

“Ayolah Hyo….”

“Aku akan menjagamu, pasti.”

“Kau kan sudah pakai baju renang, masak tak mau berenang?”

“Aku akan memelukmu, bagaimana?”

“Itu sih maumu! Yadong!”

Ya! Kenapa kau memukul kepalaku? Aku ‘kan hanya memastikan agar Hyo Ra tidak tenggelam.”

“Tenang, biarkan saja Myung Gi memeluk Hyo Ra. Nanti aku yang memelukmu.”

Yadong!”

Hyo Ra melihat keributan didepannya dengan tersenyum lebar, “Iya, iya. Aku ikut.”

Keenam temannya tersenyum senang, “Nah begitu dong!”

“Ayo! Kita berenang!” Seru ketujuh remaja itu, bergandengan tangan, berlari terjun ke dalam laut.

Hyo Ra menepis segala perasaan tidak enaknya, bercanda dengan teman-temannya, saling mencipratkan air. Berenang kesana-kemari, sedikit menyelam, mencari ganggang laut.

Sementara itu, dari sebuah ketinggian, dua orang namja mengamatinya penuh minat.

“Leader, kau yakin gadis itu sanggup melaksanakan tugas ini?” Tanya namja jangkung berjubah merah pada namja yang berjubah hitam.

Namja yang dipanggil Leader itu tidak menggubris pertanyaan temannya, matanya menatap Hyo Ra lurus-lurus.

“Seulong, kembalilah ke Sōzōtopia. Tolong minta Vermilion ke sini. Aku akan memerlukan bantuannya,” ucapnya pelan namun tegas.

Belum sempat Seulong membantah, namja itu memotong cepat, “Lalukan saja seperti apa kataku. Dia bukan gadis biasa, dia adalah seorang Veneris.”

Seulong menelan ludah, bergumam pelan, “Veneris? Maksudmu, dia seperti…?”

Namja berjubah hitam itu menatap Seulong tajam. Orang yang ditatap buru-buru mengelak, urung bertanya, “Baiklah. Aku kembali ke Sozotopia. Leader? Kau tidak apa-apa ‘kan? Kalau benar dia seorang Veneris, ehm, maksudku….”

“Cepat kembali dan minta Vermilion menyusulku!”

Seulong tidak membantah lagi, membungkuk hormat pada sang Leader, sejurus kemudian dia sudah menghilang, meninggalkan jejak asap tipis.

Namja berjubah hitam kembali mengamati Hyo Ra yang sekarang tengah berenang sendirian, terpisah dari para temannya. Ia nampak menghela nafas panjang, “Sudah waktunya.”

Hyo Ra terus berenang, tidak menyadari kalau dia sudah terlalu jauh dari pantai, laut semakin dalam.

“ARGH!!”

***

Next:

Track 1 – Sang Penjaga Timur

 “Kau benar, dia memang seorang Veneris.”

 “Aku adalah Sang Penjaga Timur.”

 “Oh ya? Bagaimana kalau aku  melanggarnya? Bagaimana kalau aku jatuh cinta pada salah satu diantara mereka? Atau pada orang lain, selain mereka?”

 “Tunggu! Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau tidak bermaksud menyuruhku mencari para namja itu, kemudian mencium siapa saja yang pertama kali ku temui ‘kan?”

Catatan Kaki:

Sōzō (Japan) : Imajination; creation

Veneris (Latin) : Venus

Epsilon Eridani : Bintang dalam rasi Eridanus. Merupakan bintang terdekat ke-3 dan dapat dilihat dengan mata telanjang.

Daftar Pustaka:

Kisah Sang Penandai (Darwis Tere Liye)

Kanata Kara (Kyoko Hikawa)