Klarifikasi, Rekonsiliasi

“Jadi, selama ini Kakak rehab? Bahkan tetep bisa ikut UAN dan lulus? Hufh… aku pikir….”

“Di penjara? Di keluarkan dari sekolah?” Tebak Jung Gi saat Ara terlihat enggan menyelesaikan kalimatnya, “Ryū nggak pernah cerita?”

Ara menggeleng.

“Ken?”

Ara kembali menggeleng.

Jung Gi menghela nafas,”Pasti kamu nggak pernah nanya.”

Ara menggeleng untuk ketiga kalinya.

“Jadi ini kamu marah-marah nggak jelas ke Ryū, sahabat kamu sendiri,  tanpa berusaha minta penjelasan dulu? Nyari tau apa yang sebenernya terjadi? Kemana Ara yang kakak kenal selama ini?”

Ara tertunduk dalam, menarik-narik ujung kaosnya. Gadis itu mengangkat wajahnya saat tiba-tiba menyadari sesuatu, “Dari mana Kak Jung Gi tau?”

Yang ditanya tersenyum tipis, “Soal kamu nyuekin Ryū? Jelas bukan dari dia atau Ken. Yoora, dia yang cerita panjang lebar. Itupun gara-gara aku yang nanya duluan, kenapa Ara nggak pernah njenguk kakaknya ini.”

Ara menepuk jidat, menggerutu, “Bodoh! Kenapa nggak pernah kepikir buat nanya Kak Yoora ya? Ara payah!”

Jung Gi terkekeh geli melihat kelakuan gadis didepannya itu, “Itu karena kamu udah keburu underestimed dan membuta-tuli. Kemana Ara yang selalu memandang masalah dari berbagai sudut pandang? Memilih untuk melihat masalah dari sudut paling sederhana? Kemana perginya adek kak Jung Gi yang selalu positif?”

Ara mengerucutkan bibirnya, “Ara nggak gitu-gitu amat Kak. Ara kan cuma anak 15 taun yang masih labil, kekanak-kanakan,” menarik nafas panjang dan berat, “Kakak tau nggak? Temen SMP aku dulu ada yang ketauan make. Tau dia diapain ama walas kami? Dihajar. Beneren Kak, dihajar dalam arti kata sebenarnya. Dia dipukulin pake mistar kayu. Dilaporin ke orang tuanya, dihajar lagi sama Umak-Ayahnya. Dikeluarkan dari sekolah. Ara bahkan nggak berani nanyain kabar dia ke orang-orang. Takut sendiri ngebayangin jawaban apa yang bakal mereka berikan ke Ara. Ara takut, ehm… nggak mau terima kalo kenyataannya, Kak Jung Gi ngalamin hal yang sama.”

Jung Gi menatap Ara lurus-lurus, “Kamu harusnya tau pasti, Ryū dan Ken nggak bakal membiarkan hal itu terjadi pada sahabat mereka. Kami udah sahabatan sejak kecil Ra. Jauh sebelum kamu kenal dengan kami. Terkadang, hal yang kelihatannya buruk, nggak menyenangkan, justru itu yang terbaik. Sahabat itu bukan orang yang selalu nurutin apa kata kamu. Tapi orang  yang bisa nunjukin kesalahan kamu. Yah, terkadang dengan jalan yang… sedikit kasar. Coba kamu pikir, seandainya Ryū  nggak nekat ngasih tau Kepsek, apa kira-kira kakak bisa di sini sekarang? Dalam keadaan sehat? Gimana seandainya dia ngebiarin kakak nggak ditangani dengan tepat, nggak rehab, bisa jadi kakak dah mati OD. Iya kan? Hufh… kemana si gadis semrawut yang selalu percaya pada sahabat, percaya ama Ryū?”

Ara mengangguk, menyeringai, sejurus kemudian memasang wajah heran, “Eh, tapi… darimana juga Kak Jung Gi tau klo aku pernah, eh, sering bilang ‘Ara percaya Ryū?’ Aku nggak pernah bilang itu di depan orang lain. Aku juga nggak pernah cerita sama siapapun. Ryū juga nggak bakal nyeritain hal nggak penting begitu ama kakak.”

Jung Gi terkekeh geli melihat ekspresi Ara, menjentik dahi gadis itu dengan jari telunjuknya, “Keliatan banget kali! Siapa orang yang paling kamu denger omongannya? Siapa yang paling bisa bikin kamu nurut? Siapa yang selama ini bisa ngendaliin kesemrawutan kamu? Siapa yang bisa ngeredam emosi kamu yang suka meledak-ledak nggak jelas  itu? Siapa yang bisa ngertiin imajinasi kamu yang aneh-aneh? Siapa yang tabah ndengerin omelan dan ocehan kamu yang nggak karuan? Siapa orang yang nggak pernah bisa nolak permintaan kamu? Nggak komplain sama segala kejahilan kamu? Hmmm? Siapa?”

Ara mengelus-elus dahinya, mengerutkan alis, “Emang siapa? Kakak? Bukan deh, yang ada kakak sering nimpukin klo Ara jahilin. Ayah? Bunda? Ara nggak pernah ngejahilin apalagi ngomelin mereka. Kak Ken? Dia kan suka ikutan emosi klo aku lagi emosi, malah manas-manasin segala. Ryū? Dia mah nyebelin!”

Jung Gi menghela nafas sembari menggeleng pelan, “Dasar anak kecil!”

“Sebenernya Kak Jung Gi ngomongin apa sih? Apa hubungannya tu orang ama aku yang percaya ama Ryū? Aneh!” Seru Ara mengkal, “Lagian salah Ryū juga. Kenapa dia diem aja? Klo dia cerita dari dulu-dulu, aku nggak akan nyuekin dia. Nggak akan salah sangka. Salah dia, kenapa irit banget sama omongan,” semburnya berapi-api.

“Kamu kan juga kenal gimana Ryū, kapan dia mau ngomong klo nggak ditanya?” Sergah Jung Gi, ikut-ikutan sebal.

“Ta-”

Jung Gi mengangkat tangan, tidak mau disela, “Dan, bukannya dia dah berkali-kali nyoba ngomong sama kamu? Kamunya yang nggak mau, iya kan? Kalau orang itu bukan kamu, dia nggak bakal repot-repot minta waktu buat bicara, ngejelasin. Harusnya kamu tau pasti, dia itu tipe orang yang nggak pernah peduli dengan penilaian orang tentang dirinya. Cuma karena kamu tu istimewa buat dia, makanya dia  nggak mau kamu salah paham, menilai buruk. Kamu masih nggak ngerti juga? Terlebih karena kamu sering bilang ‘Ara percaya Ryū’. Apanya yang percaya? Kamu udah nge-judge dia tanpa nyoba klarifikasi dulu. Kamu nggak nimbang gimana perasaan Ryū? Dicuekin, dibenci tanpa alasan ama orang yang dia….” Jung Gi tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, menghela nafas panjang.

Ara menatap bingung pada Jung Gi, “Kakak ngomongin apa? Siapa?”

“Astaga… kamu belum nyadar juga?”

Ara menyeringai, “Apaan?”

“Dasar anak kecil!” Jung Gi mencak-mencak tidak karuan.

“Kak Jung Gi aneh, salah makan obat ya?”

“Tsk! Apa sih yang Ryū liat dari kamu? Buta kali tu anak!”

***

“Kenapa minta maaf? Merasa punya salah?” Nada suara Ryū terdengar dingin. Membuat nyali Ara menciut.

Gadis itu mundur beberapa langkah tanpa mengangkat kepalanya. Bingung dengan reaksi Ryū, kenapa dia jadi marah? Kemarin-kemarin, sewaktu Ara marah-marah nggak jelas, Ryū tetep normal, nggak berubah. Bahkan selama hampir dua bulan Ara nyuekin dia, Ryū tetep biasa. Sesekali nyapa, sesekali nawarin boncengan, sesekali ngajak main basket, sesekali marah kalau Ara mulai mbolos atau bikin masalah apalah. Nggak pernah bicara sedingin ini, kecuali saat Ryū minta waktu buat bicara dulu. Setelah itu Ryū normal, nggak pernah ngungkit-ngungkit masalah itu. Justru seperti tidak merasa kalau ada masalah. Tapi, kenapa sekarang tanggapannya begini? Justru di saat Ara minta maaf.

Ryū merasa menyesal saat melihat reaksi Ara. Perlahan dia menghampiri Ara, mendekat, meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Ara, tersenyum manis. Sayang, Ara tidak melihat.

Ara meneguk ludah, bingung dengan apa yang dilakukan Ryū padanya, tetap tidak berani mengangkat wajah.

“Aku juga minta maaf,” Ryū menurunkan tangannya, membenamkannya dalam-dalam di saku hoodie.

Ara menelan ludah, kembali terkejut. Kok Ryū ikutan minta maaf? Gadis itu mengangkat wajahnya, perlahan. Menelisik raut wajah cowok didepannya. Normal, seperti Ryū yang dia kenal selama ini. Berwajah tegas namun teduh, dengan sorot mata yang menenangkan.

“Udah berapa kali dibilangin? Klo ngeliatin aku jangan gitu-gitu amat. Ntar jatuh cinta, baru tau rasa,” goda Ryū, tersenyum jahil.

Ara heran dengan reaksi Ryū yang cepat sekali berubah-ubah itu. Kenapa Ryū aneh?  Masih setengah tidak percaya saat menegaskan, “Jadi… aku dah dimaafin?”

Ryū tersenyum lebar, mengangguk mantap.

“Nggak merasa perlu alasan? Atau minta penjelasan apalah gitu?” Ara meremas ujung kaosnya.

Senyum Ryū terlihat semakin lebar, “Klo kamu mau cerita, silahkan. Aku dengan senang hati ndengerin. Kalau pun enggak juga gapapa.”

“Kenapa?” Ara mengerjap-erjapkan matanya.

“Nggak kenapa-napa. Lagian, sejak kapan kamu suka nanya ‘kenapa’?”

“Eh?” Pertanyaan Ryū barusan justru mengingatkan Ara pada Seta, ‘Kenapa?

Urusan perkelahian sudah selesai, perang dinginnya dengan Ryū juga baru saja berakhir. Masih ada satu masalah lagi, Seta. Ternyata, untuk situasi tertentu, pertanyaan ‘kenapa’ memang masalah penting.

“Bener juga. Kak Seta! Grow up Ara! Hmmm… harus selesai hari ini. Harus! Ganbatte!” Gumam Ara tidak jelas, mengepalkan tangan, meninju udara. Giliran Ryū yang memandang Ara dengan bingung, sedikit tidak nyaman karena tiba-tiba gadis itu menyebut nama Seta.

“Ryū, aku tiba-tiba ada urusan penting! Ceritanya besok aja,” seru gadis itu, bergegas berbalik ke dalam rumah. Meninggalkan Ryū yang masih berdiri terpaku, menatapnya tidak percaya. Apa-apaan ini? Baru aja baikan, tu bocah semrawut dah mulai cari perkara lagi? Buru-buru? Apa yang segitu pentingnya? Seta?

“Cinta, kok lari-lari gitu sih? Ryū udah pulang?” Sambut Bunda.

Ara hanya menyeringai, “Kayaknya sih udah Bun.”

“Kayaknya?” Bunda hanya bisa menggeleng-geleng melihat anak gadisnya yang sudah berderap lari ke atas, menutup pintu kamar dengan suara berdebam.

Ara sigap meraih ponselnya, beberapa saat mengatur nafas, harap-harap cemas menunggu telponnya diangkat.

“Halo. Ara?” Sahut suara di seberang, nadanya sedikit tidak percaya.

Ara meneguk ludah, “Iya Kak. Ini Ara. Hmmm… kakak lagi sibuk nggak? Bisa ngobrol sebentar?”

Suara di seberang menjawab antusias, “Enggak. Kamu di rumah? Kakak ke sana sekarang ya?”

“Lho? Kak Seta di Kumai? Kirain di Jakarta,” Ara justru balik bertanya.

“Kira-kira satu jam lagi Kakak sampai.”

Ara hanya bisa ber-puh panjang, Seta sudah menutup sambungan telponnya.

“Duh… ketemuan langsung dong. Hufh… gimana nih ngomongnya nanti?” Gadis itu sibuk menggerutu sendiri, memutar bola mata.

***

“Ara minta maaf Kak. Selama ini dah marah-marah nggak jelas,” ternyata, bagi Ara, minta maaf pada Seta jauh lebih mudah daripada minta maaf pada Ryū. Gadis itu bisa berucap ringan dan menatap langsung ke manik mata Seta, tanpa merasa canggung dan gengsi sama sekali.

Cowok didepannya hanya menatap Ara lurus-lurus, tanpa memberikan ekspresi apapun.

“Seharusnya Ara bisa lebih dewasa. Ara tahu gimana perasaan Kakak. Yah… klo dipikir-pikir lagi, Kakak nggak salah kok. Ara tahu, Kak Seta sayang ama Ara. Itu hak Kakak, aku nggak bisa ngelarang. Kakak sendiri juga nggak bisa nolak perasaan itu kan?” Gadis itu memutar bola mata, mencari kata-kata yang pas untuk mengemukakan maksudnya, “Ara cuma belum siap. Ara lebih suka Kak Seta yang kakak-nya Ara. Kak Seta yang selalu ada buat Ara tanpa pamrih apapun. Ara sayang Kak Seta sebagai sahabat, dan Ara nggak rela kehilangan sahabat. Ara nggak yakin, Kak Seta yang pacar Ara, akan sebaik dan setulus Kak Seta yang kakaknya Ara. Ara pikir, Ara nggak bisa lagi bebas curhat apapun sama Kakak klo kita pacaran. Ara masih takut buat pacaran Kak. Buat Ara, hubungan itu rasanya aneh banget. Terlalu rumit, mengikat.”

Seta tersenyum tipis, mengangguk.

“Nah, Ara lebih suka Kak Seta yang kayak gini. Kak Seta yang dulu, Kakaknya Ara. Bukan Kak Seta yang ngotot bilang Kakak cinta ama Ara, bikin Ara takut dan merasa nggak enak.”

“Hmmm….” Seta bergumam pelan, tersenyum penuh arti, “Jadi? Sekarang kita resmi pacaran?”

Ara menyeringai malas, memberengut, “Nggak gitu juga kali Kak!”

Seta terkekeh geli, “Iya, iya, nggak usah manyun begitu. Kakak juga minta maaf, udah maksa kamu. Hmmm… Kakak masih belum dewasa ya? Seharusnya Kakak bisa ngertiin perasaan Ara. Tapi, entah kenapa, waktu Kakak mau berangkat ngelanjutin kuliah ke Jakarta dan kamu pindah ke sekolah baru, tiba-tiba Kakak ngerasa takut kehilangan kamu. Takut banget. Saat itu, yang ada dipikiran Kakak adalah Kakak harus ngikat kamu dalam suatu komitmen. Hanya itu. Kakak nggak berpikir kalau itu ternyata bikin kamu kaget, takut. Kakak sayang Ara, sangat sayang.” Seta sejenak menghela nafas, raut wajahnya terlihat letih, “Tahu apa yang paling Kakak sesalkan?”

Ara meneguk ludah, tidak tahu harus berkata apa. Melihat Seta yang seperti ini, membuat hatinya terasa teriris. Kenapa Kak Seta terlihat begitu lemah saat membicarakan cinta? Kenapa Kak Seta seperti menganggap urusan ini penting dan berat sekali? Seseram itukah cinta?

“Kakak nyesel maksa kamu. Seharusnya Kakak bisa lebih dewasa,  membiarkan kamu memahami sedikit-demi sedikit apa itu cinta. Sabar menjalani proses berkembangnya perasaan sayang antara kita hingga mekar mendewasa,” lagi-lagi Seta menghela nafas panjang, membetulkan letak kaca mata, “Karena Kakak terlalu terburu-buru, Ara justru merasa takut, menjauh dan membenci Kakak. Membuat kesempatan Kakak hilang begitu saja.”

“Apa cinta serumit itu Kak?” Tanya Ara, tak mampu menahan rasa ingin tahunya.

Seta sejenak terdiam, “Bagi sebagian orang, iya. Tapi bagi sebagian yang lain, sepertinya tidak.”

“Kenapa Kakak memilih memandang cinta dari segi yang rumit?” tuntut Ara.

Seta menggeleng pelan, “Kakak juga nggak tau. Yang Kakak tahu, setiap Kakak ingat senyum kamu, Kakak merasa tenang. Ada rasa senang dan bangga yang nggak bisa Kakak jelasin setiap kamu manggil nama Kakak dengan manja. Dan itu, yag bikin Kakak kemarin emosi luar biasa,” mendesah berat, menatap tajam mata Ara, “Siapa namanya? Ryū?”

Ara meneguk ludah gugup, mengalihkan pandangan pada semak mawar Bunda di sudut taman, “Ryū sahabat aku Kak.”

Seta tersenyum tipis, mengikuti arah pandangan Ara, “Dia lebih dari sahabat. Cuma kamu aja yang belum sadar.” Pernyataan Seta terdengar seperti keluhan di telinga Ara.

“Enggak kok, dia saha-”

“Kakak kenal banget siapa kamu Ra! Kamu bukan tipe gadis yang suka kontak fisik, dipegang apalagi meluk. Kecuali, kamu merasa aman dengan orang itu. Percaya 100% padanya.” Seta memotong pembelaan Ara, “Selain Ayah, siapa cowok yang pernah kamu peluk?”

Ara menggigit bibir bawahnya, teringat beberapa kejadian sekaligus. Jung Gi yang berdarah-darah di ruang musik. Itu nggak bisa disebut pelukan kan? Itu hanya upaya Ara agar Jung Gi tidak berbuat bodoh menyakiti diri sendiri. Ryū, di atas bis saat pulang dari Tanjung Puting. Peristiwa yang memalukan, tapi entah kenapa tidak disesalinya. Tertidur di dalam pelukan Ryū. Astaga… bukan di bahu, tapi di dada! Ken seminggu penuh tak berhenti meledek. Yah, itu memang pelukan. Tapi, Ara kan sedang tidur, mana dia sadar? Walaupun saat dipikir-pikir, Ara bisa heran sendiri. Kenapa dia bisa tidur senyenyak itu, padahal disampingnya ada orang? Bukannya selama ini dia paling tidak bisa tidur dengan orang lain disebelahnya?

 Posisi sebagai anak tunggal membuat  Ara terbiasa tidur sendirian sejak masih sangat kecil. Hal inilah yang membuatnya merasa risih jika harus tidur bersama orang lain. Kebiasaan yang lumayan menyusahkan, karena membuatnya tidak bisa tidur nyenyak saat harus tidur berdampingan dengan temannya, saat kemah misalnya.

“Kenapa kakak nanya kayak gitu?” Tanya Ara gamang.

“Karena Kakak liat, kamu bisa merasa nyaman banget dengan Ryū. Merangkul lengannya tanpa merasa risih. Itu bukan hal yang biasa kamu lalukan,” Seta menatap gerumpul pakis lamat-lamat, “Ara yang Kakak kenal selama ini, paling gengsi dilindungi dan dibela, karena ngerasa bisa menjaga diri sendiri. Tapi, dengan Ryū, kamu justru memintanya. Waktu itu Ara emang nggak bilang apa-apa, tapi dari gesture dan ekspresi kamu, Kakak tau klo kamu minta tolong pada Ryū.”

Ara menelisik wajah cowok didepannya, tak bisa memahami apa yang sebenarnya ada dalam pikiran cowok itu. Kenapa dia menanyakan dan menyatakan hal-hal ini?

“Kak, kita ‘kan lagi mbahas masalah kita. Kenapa Kakak justru fokus soal Ryū? Dia nggak ada hubungannya dengan masalah ini,” melihat Seta bergeming, Ara kembali berkata, “Intinya, Ara minta maaf. Ara harap, kita bisa kayak dulu lagi, berteman.”

“Nggak ada yang bisa kembali seperti dulu Ra. Segala sesuatu berubah, hanya perubahan yang tidak berubah. Begitu juga Kakak dan kamu. Terlebih, sekarang sudah ada Ryū,” sahut Seta tegas.

“Kak…” panggil Ara dengan nada bingung bercampur putus asa.

“Tapi, Kakak seneng kenal Ara, pernah jadi bagian dari cerita hidup Ara. Ara dan Kakak pernah menjadi kita, itu sudah lebih dari cukup,” menghela nafas panjang, “Ara-Farzana-Izzati,” panggilnya lirih, “Sahabat selamanya?” Pinta Seta, mengulurkan kelingkingnya, tersenyum.