1st Journey at Sōzōtopia

 

Track 1 – Sang Penjaga Timur

 

Author : yen

Main Cast : SHINee, Super Junior, Cho Hyo Ra

Support Cast :  BIGBANG’s Kwon JiYong as Azure Dragon

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Inspired by : G-Dragon’s Butterfly MV

“ARGH!!”

Hyo Ra berteriak panik. Kakinya tiba-tiba terperosok. Serasa jatuh dari ketinggian, tubuhnya melayang terjun, bukan seperti di dalam air. Telinganya bahkan bisa mendengar desauan angin, tentu saja hal itu membuatnya kaget, heran dan takut setengah mati hingga memilih memejamkan mata rapat-rapat.

Sebelum Hyo Ra sadar apa yang sebenarnya terjadi, ia merasa sepasang tangan kukuh meraih pinggangnya. Sekarang mereka tidak lagi terjun bebas, tetapi melayang, berputar turun dengan kecepatan konstan. Tak lama kemudian, keduanya jatuh terduduk di atas sesuatu yang lembut. Hyo Ra memberanikan diri membuka mata. Terkesiap melihat sebuah kepala burung besar dihadapannya. Ternyata dia terjatuh di atas seekor burung, orang yang tadi menyelamatkannya masih memeluknya erat. Hyo Ra tidak bisa melihatnya karena orang itu memeluknya dari belakang.

Setelah terbang melintasi awan-awan putih yang terlihat solid, burung besar dengan bulu berwarna-warni itu turun perlahan, menapakkan kakinya di sebuah lembah yang tertutup rumput hijau dan pohon-pohon yang belum pernah Hyo Ra lihat sebelumnya. Gadis itu menarik nafas lega, walaupun semburat pias belum sempurna hilang dari kulit putih wajahnya.

“Turun?” Sebuah tangan besar  terulur, menawarkan bantuan.

Hyo Ra menoleh kearah sumber suara, seorang namja yang… apa kata yang tepat? Tampan? Rasanya bukan. Namja itu tidak tampan, tapi ia memiliki raut wajah yang membuat Hyo Ra merasa nyaman memandangnya. Garis wajahnya tegas, dengan rahang yang kukuh. Rambutnya berwarna putih, mata biru langit dengan pupil menyipit panjang berwarna hitam pekat. Sorot matanya luar biasa tajam, sangat dingin.

Setengah hati Hyo Ra menerima tangan namja itu, sangat hari-hati turun dari punggung si burung, takut tak sengaja mencabut bulunya.

“Ini di mana? Dan, siapa kau?” Hyo Ra menatap jerih sosok  dihadapannya. Gaya berpakaian namja itu luar biasa unik, kalau tidak boleh disebut aneh. Jubah hitam panjang nyaris mencapai lutut, di bagian dada kanan terdapat sebentuk ornamen naga yang sepertinya terbuat dari platina dan batu sapir. Bagian pundak kiri jubah tersebut tertutup oleh sisik-sisik besar berwarna perak dengan kemilau biru. Sisik naga, mungkin.

Namja itu hanya menatapnya lurus tanpa ekspresi, enggan melepas genggamannya di tangan Hyo Ra, membuat gadis itu merasa risih.

 “Kenapa kau memandangiku seperti itu? Ada yang sa-” Gadis itu melihat pada dirinya sendiri.

“KYA!!” Hyo Ra baru sadar, dia masih memakai pakaian renangnya.

Namja bermata biru menaikkan sebelah bibirnya, sinis, “Tidak ada yang menarik,” ujarnya datar dan dingin, melepas jubahnya, menyelubungi seluruh tubuh Hyo Ra dengan jubah itu. Sejenak Hyo Ra merasa tubuhnya dilingkupi sesuatu yang sejuk, seperti perpaduan udara dan air. Namja itu tetap tidak mengalihkan pandangannya dari mata Hyo Ra, membuat gadis itu tidak tahu mesti berkata apa, wajahnya merah padam menahan malu sekaligus marah.

Tiba-tiba, dia menyentak lepas jubah dari tubuh Hyo Ra, “Hmmm… begini jauh lebih baik.”

Hyo Ra terbelalak kaget, “Kau?” Semula ia mengira namja aneh itu lebih suka melihatnya dalam pakaian renang. Sejurus kemudian ia menelan ludah. Ternyata dia sudah mengenakan semacam gaun berwarna biru laut yang terasa ringan dan lembut di kulit.

“Kau ini, apa?” Tanya Hyo Ra sembari memperhatikan gaunnya. Gaun panjang itu nyaris transparan, tapi anehnya tidak membuat warna kulit pemakainya terlihat. Lengannya berbentuk lonceng dan ada semacam bayangan naga yang sangat samar dipemukaan kainnya.

Orang yang ditanya justru menyibukkan diri, mengelus lembut punggung si burung besar. Bercakap melalui telepati dengannya, “Bagaimana?”

“Kau benar, dia memang seorang Veneris,” sahut Vermilion, “Aku senang kau berhasil menemukannya, lagi.”

Namja itu menyeringai samar.

“Hmmm… sekaligus khawatir,” imbuh Vermilion.

Rahang namja itu mengeras, “Tenang saja, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kali ini ku pastikan, semuanya akan baik-baik saja.”

Burung besar itu, Vermilion, melenguh pelan, “Kupegang janjimu,” ucapnya sembari merentangkan sayap, bersiap pergi.

“Terima kasih atas bantuannya,” namja itu sedikit mengangguk.

Vermilion tidak menanggapi ucapan terima kasihnya, burung itu sudah terbang tinggi dengan gaya yang sangat elegan.

“Mungkin aku sedang bermimpi,” Hyo Ra mengambil kesimpulan sendiri, merasa diabaikan. “Atau, aku sudah mati? Bukankah tadi aku tenggelam di pantai. Kau? Malaikat kematian?”

Namja itu tersenyum sinis, “Kau akan mati jika tidak menuruti perkataanku!”

Hyo Ra tergidik ngeri mendengar jawaban yang diucapkan dengan nada dingin tersebut. Gentar bertanya, “Apa maksudmu?”

“Aku akan memberimu sebuah tugas. Kalau kau berhasil, kau akan mendapat hadiah yang bahkan tidak pernah bisa kau bayangkan, tapi jika gagal, nasibmu akan lebih buruk daripada sebuah kematian.”

***

Sementara itu, di tepi pantai timur, teman-teman Hyo Ra terlihat panik dan khawatir. Bagaimana tidak? Sahabat mereka hilang, lenyap. Tidak meninggalkan jejak apapun. Bagaimana mungkin seseorang yang pandai berenang bisa tenggelam begitu saja? Terlebih mengingat cuaca hari ini sangat cerah dan tidak ada gelombang besar sama sekali. Belum lagi sepasukan penjaga pantai dan petugas kepolisian yang terus melakukan pencarian. Bagaimana bisa gadis itu raib tanpa bekas? Bagai ditelan lautan timur.

“Maksudmu, Hyo Ra sudah mati?” Salah seorang teman wanita Hyo Ra terisak tak terkendali.

Seorang namja memeluknya erat, menenangkan, “Sssttt… tidak ada yang berkata demikian. Kita akan terus berusaha mencarinya.”

“Tapi, bahkan para petugas saja sudah menyerah,” keluh salah satu diantara mereka.

“Bukan menyerah, mereka hanya beristirahat sebentar, sudah larut malam. Besok pagi mereka akan melanjutkan pencarian Hyo Ra.”

“Kita juga harus istirahat.”

“Benar. Kalian masuklah, tidur. Aku akan menyusul Myung Gi. Anak itu masih saja berdiri di pantai.”

“Dia pasti merasa sangat bersalah pada Hyo Ra.”

“Sudahlah. Hyo Ra pasti baik-baik saja. Kita akan menemukannya.”

***

Hyo Ra berjengit ngeri mendengar perkataan namja berjubah hitam yang bernada dingin itu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mundur beberapa langkah, mengambil jarak dari namja didepannya. Dia kehilangan kata-kata, semua ini terlalu mengejutkan, sekaligus mengerikan. Jangankan untuk mencerna perkataan namja itu, dia bahkan belum bisa memahami peristiwa yang baru saja terjadi. Ia menunduk, menatap rumput dibawah kakinya. Tersadar bahwa rumput itu tidak seperti rumput yang biasa ia temui. Ada bercak-bercak pelangi pada setiap helai daunnya, dengan bunga bulat kecil yang sebening kaca. Tapi, jika hanya dilihat sekilas, rumput itu tampak sangat normal. Rumput hijau kecil yang biasa.

Namja itu memakai kembali jubah hitamnya, menatap Hyo Ra yang tertunduk, “Azure Dragon, Seiryū, Cheong Yong, Qing Long, Sang Penjaga Timur,” sahutnya, menyebutkan namanya satu persatu dengan suara tegas yang menggetarkan.

“Apa?” Tanya Hyo Ra tidak paham, mengangkat wajah.

“Aku adalah Sang Penjaga Timur.”

“Penjaga apa?” Gumam Hyo Ra tak mengerti, “Astaga… kau gila ya?” Menatap tak percaya orang didepannya. Namja itu tidak bereaksi apapun, wajahnya tetap datar dan dingin, melipat kedua tangan di depan dada, menatap Hyo Ra lurus-lurus.

Hyo Ra menelan ludah tidak percaya. Bukankah Cheong Yong adalah seekor naga dalam legenda Korea Selatan? Sang Penjaga Timur? Legenda itu memang terkenal sekali di Asia. Jepang, China dan Korea, memiliki legenda yang sama tentang Sang Penjaga Mata Angin ini. Cheong Yong, Azure Dragon, Sang Penjaga Timur. Jujak, Burung Vermilion, Sang Penjaga Selatan. Baekho, harimau putih, Sang Penjaga Barat. Dan, Hyunmo, kura-kura hitam, Sang Penjaga Utara. Berarti, saat ini dia tengah berada di alam dewa-dewa? Astaga… ini sungguh aneh.

“Tidak persis seperti yang kau pikirkan. Ini bukan duniamu, ini dunia yang berbeda. Kau tahu paralel semesta, parallel universe? Sudahlah, untuk sementara, kau anggap saja aku seperti Sang Penjaga Timur yang ada di duniamu, tidak masalah,” Dragon memutus pikiran-pikiran yang melintas di benak Hyo Ra.

“Kau? Bisa membaca pikiranku?” Tanya Hyo Ra tak percaya.

Untuk pertama kalinya Dragon tersenyum, benar-benar tersenyum, “Kau memang seorang Veneris. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya padamu.” Ada kilas kepuasan dan kebanggaan dalam nada bicaranya.

Hyo Ra semakin bingung. Veneris?

“Dengarkan saja perkataanku, jangan banyak bicara. Ada saatnya kau akan memahami semua ini, tapi tidak sekarang,” Dragon menghela nafas panjang, wajahnya kembali tanpa ekspresi, “Kau ditakdirkan menjadi seorang Veneris, itu berarti bahwa kau memiliki kelebihan, sekaligus beberapa tugas. Dan, tugasmu saat ini adalah memilih salah satu diantara mereka. Memilih siapa yang kau nilai akan sanggup mengemban tanggung jawab besar.”

Hyo Ra hanya menatap kosong, menggeleng pelan.

“Kemari, mendekat,” perintah Dragon dengan nada tegas tak terbantahkan.

Hyo Ra bahkan tidak menyadari jika ia sudah bergerak mendekati Dragon, kakinya melangkah begitu saja, diluar kendali. Meraka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hampir tanpa jarak. Hyo Ra  mendongak, menatap mata Dragon yang sepertinya memiliki daya hipnotis.

“Tutup matamu,” Dragon kembali mengeluarkan perintahnya.

Kali ini Hyo Ra bertahan, tidak mau begitu saja menuruti perkataan Dragon. Sekuat hati menolak perintah, mengerahkan segenap tenaga pikirannya untuk tetap terkendali.

Sekali lagi Dragon tersenyum, “Kau lebih dari yang kuharapkan.”

Sejurus kemudian, Hyo Ra terbelalak kaget, Dragon menempelkan bibirnya pada bibir Hyo Ra.

Belum habis rasa terkejutnya, gadis itu  merasa ada sebuah bola kecil yang dingin meluncur dalam mulutnya, perlahan menuruni tenggorokan, meninggalkan sensasi getir yang aneh di pangkal lidah.

Tepat saat Hyo Ra tidak bisa lagi merasakan bola itu, Dragon melepas ciuman –yang sebenarnya, entah bisa disebut ciuman atau tidak- dan menatap tajam matanya.

Hyo Ra menentang balik tatapan Dragon, “Apa ini?” Tanyanya kemudian, entah mengapa, tapi rasa penasaran tentang bola dingin itu mengalahkan rasa marahnya kepada Dragon yang telah mengambil ciuman pertamanya.

“Mutiara Naga,” sahut Dragon singkat, “Benda yang harus kau berikan pada orang yang kau pilih.”

“Maksudmu, aku harus mencium salah satu di antara mereka berlima untuk menyerahkan benda ini?” Hyo Ra terlonjak kaget. Bukan  karena mutiara naga apalah itu, tapi lebih karena ia sadar, bahwa ada semacam ingatan yang tiba-tiba masuk kedalam otaknya. Ingatan tentang Negeri Para Penerbang serta orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui. Dan, perasaan aneh yang menggelitik dasar perut, bahwa ini bukan ciuman pertamanya dengan Dragon. Mereka sudah pernah berciuman, bahkan mungkin saja, sering! Entahlah.

“Hei, sebentar… apa maksudnya aku tidak boleh jatuh cinta pada siapapun?” Satu lagi yang membuat Hyo Ra tak habis pikir, ia ingat aturan utama dalam tugasnya ini.

Melihat Dragon bergeming, gadis itu kembali bertanya, “Jadi, aku harus mencium seseorang tanpa rasa cinta?” Berdecak jengkel, “Kedengarannya murahan sekali.”

“Terserah kau mau berpendapat apa. Itu aturannya,” Dragon akhirnya buka suara, intonasinya kental dengan rasa kesal.

“Oh ya? Bagaimana kalau aku  melanggarnya? Bagaimana kalau aku jatuh cinta pada salah satu diantara mereka? Atau pada orang lain, selain mereka?”

Kali ini Dragon menatap tajam mata Hyo Ra, membuat gadis itu sedikit bergidik, “Tidak semuanya harus kau ketahui sekarang! Jalani saja takdirmu sebagai Veneris!”

Hyo Ra menggigit bibir, mencoba bertanya kembali, “Takdir? Veneris? Apa itu Veneris? Apa takdir seorang Veneris?”

Dragon membuang muka, mengunci mulut rapat-rapat, rahangnya mengeras, wajahnya nampak sedikit keruh.

Hyo Ra menyeringai tipis, sebuah gagasan melintas cepat dibenaknya, “Bagaimana kalau aku menolak menjadi Veneris?”

“Kau tidak dalam posisi bisa menolak. Sudah terlambat Hyo Ra. Selain karena kau seorang Veneris yang harus menjalani takdirmu, kau juga sudah menerima mutiara naga itu. Artinya, kau terikat kontrak nyawa denganku,” jelas Dragon ringan, wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi.

Hyo Ra meledak marah, “APA?? Kontrak nyawa? Kontrak nyawa apa? Maksudmu, aku akan mati jika tidak mau melaksanakan tugas aneh dan konyol ini?”

“Menurutmu?” Dragon tersenyum sinis.

“Kau!!” Rasanya Hyo Ra ingin sekali membunuh namja aneh itu, merasa dijebak.

Dragon meraih pinggang Hyo Ra, melingkarkan kedua lengannya di sana, “Terima saja takdirmu!”

Sesaat Hyo Ra merasa dirinya melayang melewati ribuan spektrum warna, sedikit terhuyung saat kakinya kembali menapak. Rupanya, mereka mendarat di sebuah taman kota. Pohon berdaun biru bulat kecil-kecil dengan bunga yang lagi-lagi kelopaknya transparan nampak mengelilingi taman tersebut. Tepat di tengah-tengah, terdapat lingkaran air mancur yang setiap lubangnya –ada 360 lubang- menyemburkan air dengan warna yang berbeda-beda. Ke-360 air mancur kecil itu membumbung tinggi, bertemu di titik tengah pada ketinggian kurang lebih 10 meter, sempurna bercampur menjadi satu, luruh ke tanah sebagai air jernih yang berkilau.

Di keempat sudut taman terdapat menara jam besar yang berdetik lembut, seperti sebuah nyanyian. Galibnya, jam itu tidaklah tertancap kokoh di tanah, melainkan melayang di udara.

Bangku-bangku bundar pualam putih tersebar diseluruh taman. Burung seputih salju terbang kesana-kemari, sesekali mengejar capung yang terbang rendah. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Tapi entah mengapa, mungkin karena sudah terbiasa, atau apalah, tampaknya orang-orang tak lagi merasa perlu menikmati indahnya taman itu. Beberapa orang yang lewat di jalanan besar yang membentang lurus di samping taman bahkan tak merasa perlu untuk sekadar melirik.

“Aku tidak punya banyak waktu untuk membantumu, apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaanmu,” Dragon menatap kesibukan orang yang berlalu lalang di depannya. Namja itu membawa Hyo Ra dengan sekejap mata ketempat ini,  Negeri Para Penerbang.

“Aku akan mengirim orang jika kau perlu bantuan,” lanjutnya saat melihat Hyo Ra hendak menyela.

Hyo Ra menelan ludah, “Maksudmu, ini pertama dan terakhir kalinya kita bertemu?” Dari sekian banyak kekhawatiran yang berkecamuk dalam dirinya, entah mengapa hal ini terasa sangat penting, sedikit menyakitkan.

Ekspresi Dragon terlihat sedikit aneh mendengar pertanyaan itu, tapi sejurus kemudian ia tampak sangat normal, menjawab dengan dingin, “Mungkin saja.”

Hyo Ra mengerutkan alis, menatap Dragon lurus-lurus, rasa sakit yang tak jelas ujung pangkalnya itu semakin kental, membuncah resah.

“Lalukan saja tugasmu, selamat tinggal,” ucap Dragon, nyaris menghilang begitu saja jika Hyo Ra tidak buru-buru menahan lengannya.

“Tunggu! Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau tidak bermaksud menyuruhku mencari para namja itu, kemudian mencium siapa saja yang pertama kali ku temui ‘kan?” Seru Hyo Ra panik. “Aku bahkan tidak tau dimana aku bisa menemukan mereka,” Hyo Ra terdiam sejenak,  tak berapa lama kemudian menyeringai malas, “Yah, kecuali  bahwa seorang Pangeran biasanya tinggal di istana.”

Dragon tidak bisa menahan seringainya, geli melihat tingkah laku Hyo Ra, “Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Jadilah seorang Veneris. Itulah kau sejatinya.”

“Veneris! Veneris! Dari tadi kau selalu menyebut-nyebut Veneris! Apa itu Veneris? Kau bahkan tidak menjelaskannya padaku. Bagaimana aku bisa menjadi seorang Veneris?” sembur Hyo Ra mengkal, menggembungkan pipi.

“Menjadi dirimu sendiri, biarkan imajinasimu melayang bebas, itu yang akan membimbingmu,” sahut Dragon, sedetik kemudian namja itu sudah menghilang, meninggalkan asap tipis berwarna kebiruan.

“Ya! Dasar orang aneh!” Seru Hyo Ra kesal, “Itupun kalau kau adalah orang,” imbuhnya pelan, menggerutu.

***

Next:

Track 2 – Kelima Kandidat

 “Bukan kau, namaku Minho. Pangeran berkuda putih, Choi Minho.”

 “Siapa yang tidak tau Pangeran Taemin, Putra Mahkota Negeri Para Penerbang?”

 “Kau Pangeran yang sangat menyenangkan.”

Daftar Pustaka:

Kisah Sang Penandai (Darwis Tere Liye)

Kanata Kara (Kyoko Hikawa)