Edelweis dan Penggapai Atap-atap Dunia(1)


Teriring terima kasih untuk Kak Rei, sang penggapai atap-atap dunia. Aku (nggak) benci Kakak!

“Ryū… please….” Ara menangkupkan tangan, mengerjap-erjap memohon. Ryū bergeming, tidak acuh, autis memainkan PSP. Pagi ini baru mereka bertiga yang ada di kelas. Pagi buta tadi, Ara heboh menelpon Ryū, meminta cowok itu datang pagi-pagi benar. SOS! May Day! Urusan hidup mati!

“Ryū… kali ini doang deh.” Gadis itu menarik-narik lengan baju sahabatnya, ekspresinya mengenaskan. Ryū memasang wajah dingin, menatap tajam mata Ara.

“Soalnya susah banget. Lagian… tadi malem Kak Seta telpon, dia baru turun dari Pangrango. Katanya Lembah Mandalawangi keren banget, damai, banyak edelweis yang cantik dan wangi. Trus Kak Seta janji ngajak naik Merbabu ama Sindoro klo aku jadi kuliah di Yogya. Kya…! Kak Se-”

Ryū memotong cepat, “Lalu apa hubungannya ama PR kamu yang belum selesai?” Intonasinya separuh sebal, separuh tidak mau tahu.

“Aku jadi nggak konsen ngerjain PR-nya. Tadi malem aja aku sampe kebawa mimpi naik gunung,” Ara menyeringai malu. “Nyontek ya…  tinggal 1 soal lagi kok.”

Ryū melengos, “Nggak boleh!”

“Pelit!” Seru Ara mengkal.

“Nyontek punya aku aja nih,” tawar Ken, menyodorkan buku fisikanya. Sejak naik ke kelas XII, mereka bertiga memang satu kelas. Saking akrabnya mereka bertiga, sebutan kembar siam tidak lagi hanya berlaku untuk Ryū dan Ken, tapi juga Ara.

Ara membaca sekilas jawaban Ken, menyodorkan kembali buku tersebut, “Salah nih. Bukan gini cara ngerjainnya,” tolaknya tanpa basa-basi, menyodorkan kembali buku Ken.

Ken melotot tidak percaya, “Heh! Udah dicontekin bukannya terima kasih, malah nyalahin! Lagian darimana kamu tau ini salah? Kamu aja nggak ngerjain ‘kan?” Semburnya marah.

“Siapa bilang aku nggak ngerjain? Aku ngerjain tau! Tapi nggak selesai, mentok di tengah,” sangkal Ara.

Ryū menengadahkan tangannya pada Ara, “Mana?”

“Apanya?” Tanya Ara, menatap nanar telapak tangan Ryū.

“Kerjaan kamu. Sampe mana?” Ryū bertanya datar.

Ara menyodorkan bukunya, “Mau ngajarin ya? Ya udah deh. Gapapa. Lumayahlah.”

Ryū menekuri buku Ara, mengernyitkan alis, “Pantes aja,” menyeringai, “Kamu salah masukin persamaan. Harusnya, persamaan 4 dimasukin ke persamaan 8, klo dimasukin ke persamaan 7, variabelnya waktunya nggak bakal bisa dieliminasi.”

Ara ikut mendekatkan wajahnya, meneliti lagi hasil pekerjaannya, “Gitu? Sini, aku coba,” ujarnya, menarik bukunya dari tangan Ryū.

Ryū memperhatikan Ara yang serius menulis serangkaian rumus hukum kekekalan energi. Cowok itu tersenyum sendiri melihat gadis didepannya mengeryitkan alis dan menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat sedang fokus pada sesuatu.

“Eh, diapain itu?” Tanya Ryū, mencegah tangan  Ara yang mulai mencoret variabel jari-jari bola, R.

Ara memberengut, “Diapain? Ya dicoret-coret lah! Disederhanakan,” sahutnya mengkal.

Ryū mengetuk kepala Ara pelan, “Dasar nggak sabaran. Jangan disederhanakan dulu. Nanti malah nggak bisa disubstitusi. Persamaan impuls-nya nggak bakal ketemu.”

“Eh, impuls? Impuls yang mana? Bentar, bentar….” Ara menggaruk alis, sejurus kemudian menyeringai malu, “Hehehe… iya. Impuls sudut dari gaya geseknya ‘kan?” Gadis itu kembali sibuk dengan pensilnya.

Ken hanya menatap kedua orang di depannya dengan pandangan kagum bercampur sebal, merasa diabaikan. Beberapa saat kemudian, Ara mengernyit, menggigit ujung pensilnya, menatap Ryū minta tolong.

“Yang mana?” Tanya Ryū, paham makna tatapan nelangsa yang diberikan Ara.

Ara menunjuk persamaan yang baru saja dia tulis, “Kok nggak nyambung?” Tanyanya memelas.

Ryū melirik sekilas persamaan yang ditunjuk Ara, tersenyum geli, “Ya jelas nggak nyambung. Baca lagi soalnya.”

Ara menatap Ryū lurus-lurus, merasa diremehkan. Ryū tetep tersenyum, mengangguk, meyakinkan. Ara menghela nafas, menuruti perintah Ryū, dalam hati bertekat akan menjitak Ryū keras-keras kalau cowok itu terbukti ngaco.

“Astaga… Ara parah! Ini ‘kan lintasannya parabola! Kenapa pake rumus ini?” Seru Ara kemudian, memukul kepalanya sendiri. Segera menghapus dan mengganti persamaannya.

Pandangan Ryū terus mengikuti tangan Ara yang menderas angka-angka dan simbol-simbol besaran. Sesekali mengangguk membenarkan.

“Perhatiin lagi arah gaya geseknya, ke-x negatif apa positif,” celutuk Ryū saat melihat Ara ragu-ragu.

Ara mengeryit sejenak, “Kemana?” Tanyanya kemudian.

“Positif ya? Iya ‘kan?” Tebak Ara ngawur karena yang ditanya hanya diam saja.

Ryū menatap Ara dingin, tau benar kalau gadis itu hanya malas berpikir.

Ara menyeringai, menjentikkan jari, “Berarti negatif,” melanjutkan pekerjaannya, menuliskan hasil akhir jawaban.

“Selesai!” teriak Ara penuh kelegaan, merentangkan kedua tangannya, lebar-lebar.

“Kok negatif?” Ken akhirnya ikutan ambil suara, menarik buku Ara, menyalinnya tanpa dosa.

Ara mengangkat bahu, “Liat aja tampang Ryū. Jelaskan? Auranya negatif,” jawabnya ringan.

Ken tertegun sejenak, menelisik wajah Ryū, sejurus kemudian dia tergelak tak karuan.

“Kenapa negatif?” Kali ini, Ryū yang bertanya serius, mengabaikan tawa Ken yang berlebihan.

Ara menyeringai, teringat testpack, “Hmmm… garisnya cuma satu? Klo garis merahnya dua, positif,” kilah gadis itu, memasang wajah polos menggemaskan.

Tawa Ken semakin menjadi.

Ryū mendelik kesal, mengetuk pelan kepala Ara dengan ujung pensil, “Serius!”

Ara hanya menyeringai, mengangkat bahu.

“Karena gaya geseknya berusaha mengurangi kecepatan rotasi,” jelas Ryū, masih dengan nada mengkal.

Ara mengangguk, “Karena rotasi bolanya terlalu cepat, maka gaya gesek berusaha mengurangi kecepatan rotasi,” tegasnya dengan tampang serius yang sengaja dibuat-buat, meniru gaya Ryū.

Ryū mengacak gemas rambut gadis didepannya, tidak mampu menahan senyum. Ara menyeringai lebar.

Ken menatap jengkel pada keduanya, “Bagus! Mulai berani mesra-mesraan di depan umum ya?!”

“Elo paham blom? Main salin aja!” Sergah Ryū, mengalihkan pembicaraan.

Ken memberengut, “Gampang. Ntar aja pahamnya. Yang penting PR gue kelar,” sahutnya tak peduli.

“Ah… kebelet! Kak, ntar klo Pak Rampilu keburu dateng, PR aku sekalian dikumpulin ya! Aku ke belakang dulu, nggak tahan nih,” seru Ara pada Ken, beranjak dari duduknya.

Baru 3 langkah gadis itu berjalan, tiba-tiba dia berbalik, memasang wajah sok imut, “Lupa! Tengkyu ya Ryū, dah diajarin. Ryū cakep deh! Ai lop yu pul!” Serunya dengan nada dibuat-buat, mengedipkan sebelah mata pada Ryū. Tanpa menunggu jawaban, Ara segera berbalik lagi, berlari keluar kelas.

Menyisakan Ken yang kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Ryū saat bagian ‘ai lop yu pul’ dan kedipan mata tadi.

“Astaga… bisa ganjen juga tu bocah! Nggak nyadar klo yang digodain udah kayak ayam nelen karet,” Ken berkomentar disela-sela tawanya.

“Diem loe! Cerewet!” Sergah Ryū, memiting leher Ken.

“Heh! Gue normal ya! Nggak doyan cowok! Ngapain loe meluk-meluk gue?” Seru Ken, tercekik.

Ryū terkekeh geli, menjitak puncak kepala sahabatnya, “Normal? Yakin loe? Jangankan pacar, gebetan aja kagak ada. Loe nggak naksir gue ‘kan?”

“Nah itu loe paham. Jadi gimana honey? Kita mulai sekarang?” Ucap Ken dengan nada genit, melingkarkan tangannya di pinggang Ryū, mengerjapkan mata, membasahi bibir dengan gaya yang… apa istilahnya? Seduktif? Entahlah.

Ryū mendorong kasar bahu Ken, “YOU! PERVERT!”

“Oh… come on bebb!! Nggak usah jaim gitu kali,” sahut Ken, tersenyum jahil melihat ekspresi jijik sahabatnya. ‘Ni orang asyik banget buat dikerjain!’ Pikir Ken sembari memeluk Ryū dari belakang.

“Kalian ngapain?”

Kedua cowok itu serempak menoleh. Ara berdiri bingung di depan pintu kelas, menatap heran kedua cowok dihadapannya.

Ken dan Ryū serabutan saling mendorong, memasang wajah cool seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ara mengangkat alisnya tinggi-tinggi, “Ya udah sih, nggak usah malu-malu. Lanjutin aja. Aku cuma mau ngambil tissue kok. Kelupaan,” ucapnya datar, meraih tissue dari dalam ranselnya. Berlalu lagi keluar kelas.

Ryū dan Ken saling melotot, perang tatapan.

“Hancur sudah image gue sebagai playboy terkeren abad ini,” gerutu Ken kemudian. kontan saja  membuat Ryū terbelalak jijik, melempar pandangan menistakan, -playboy-terkeren-abad-ini-apanya?

***

“Sebeeel!” Teriak Ara kencang, membanting raport-nya ke atas meja.

Yoora mengangkat alis, “Kenapa Ra?”

“Kimia aku cuma dapet 7 Kak! Nyebelin banget nggak sih? Awas aja! Besok aku kuliah ngambil jurusan Kimia! Kita liat, siapa yang goblok! Ara atau kimia!” Serunya penuh dendam.

Nadia terkekeh geli, “Mana ada ceritanya kimianya yang goblok? Kamu tu ada-ada aja.”

“Katanya mau masuk ISI? Emang di ISI ada jurusan Kimia ya Ra?” celutuk Ayumi ringan.

Ara menyeringai lebar, “Enggak ada,” memutar bola mata, “Berarti Ara masuk UGM atau UNY aja. Lagian, ampun deh, ternyata masuk ISI seleksinya susah banget Kak. Mana saingannya anak lulusan SMKI, SMM, SMSR lagi. Beuh… berat sangat!”

“Itu sekolah seni semua ya Ra?” Ayumi menghampiri Ara, duduk di tepi meja.

Ara mengangguk, meneliti satu-persatu nilai yang tertera di raportnya. Semester ini lumayanlah, cuma kimia itu yang menyebalkan. Sedikit khawatir, tinggal hitungan bulan lagi UN akan dilaksanakan.

Suasana hening yang sejenak tercipta terpecah oleh suara Choi Seung Hyun yang menyanyikan Oh Mom.

“Siapa sih yang nyetel radio kenceng-kenceng?” Protes Ara memberengut, merasa lagu itu mengganggu konsentrasinya dalam merenungi nilai-nilai.

“Kayaknya dari dalam tas kamu tuh Ra,” sahut Ayumi santai.

 “Eh?” Ara mulai mengacak-acak isi ranselnya, menyeringai malu, “Hehehe… iya nih Kak. Lupa klo pake ringtone ini,” mengeryit, bukan nomor yang dia kenal.

Gadis itu berjalan menjauh dari teman-temannya, menekan tombol penerima panggilan.

Rona muka Ara seketika berubah keruh, gadis itu hanya mengangguk-angguk, sesekali mengatakan ya, kembali mengangguk. Saat panggilan itu diputus oleh orang di seberang, mata Ara sempurna buncah oleh air mata. Kakinya mulai melangkah gontai, meninggalkan kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Saat melewati pintu, seseorang memanggil namanya,“Ara?” April melipat dahi melihat tingkah Ara yang tidak biasanya.

“Ara!” Panggilnya lagi karena Ara tidak menggubrisnya, terus berjalan lunglai.

April berlari kecil, menjajari langkah Ara, terkejut melihat matanya yang merah dan berair.

“Kamu kenapa?” Tanyanya, mencengkeram lengan Ara

Ara menepis lemah tangan April, “Nggak papa Kak.”

“Kamu nangis? Ada apa?”

Yang ditanya hanya menggeleng pelan, “Nggak papa,” sahutnya lirih, kembali melangkah menjauh, menuju belakang sekolah.

April hanya bisa mendesah pelan, memutuskan untuk tidak memaksa Ara.

“Ara kenapa? Kok kayak mau nangis gitu?” Tanyanya pada ketiga temannya yang ada di ruang kelas.

“Nangis?” Ketiganya justru balik bertanya, bersamaan. Saling melempar pandangan satu sama lain.

“Belum nangis sih. Hampir. Berkaca-kaca gitu,” jelas April.

Yoora mengangkat bahu, “Tadi sih dia sempet uring-uringan nggak jelas gara-gara nilai kimianya semester ini cuma dapet 7. Masak 7 dia bilang cuma sih?”

“Nilai 7 nggak bakal bikin dia nangis ‘kan?” celutuk Nadia.

“Kayaknya sih enggak,” timpal Ayumi.

Yoora memutar bola mata, teringat sesuatu, “Barusan dia nerima telpon. Tapi dia cuma diem aja, nggak ngomong apapun. Jangan-jangan kabar buruk?”

April dan Nadia saling melempar pandangan. Sejurus kemudian keempat gadis itu bergegas berpencar mencari Ara.

“Ra, kamu kenapa?” Tanya April, meletakkan tangannya di bahu Ara. Dia menemukan Ara duduk bersila di bawah pohon Tenggaring dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya masih menggenggam erat ponsel.

Ara menggeleng lemah, “Ara gapapa kok Kak,” sahutnya malas, membenamkan kepalan di antara kedua lutut.

“Ra…” panggil April lembut.

Ara meneguk ludah, mengangkat sedikit wajahnya, “Tolong tinggalin Ara sendirian Kak,” desahnya lirih. Walaupun belum ada tetesan air mata yang mengalir diwajahnya, mata gadis itu sudah sangat merah dan buncah air mata.

“Ra…” kali ini April berusaha merangkul bahu Ara.

Ara kembali menepisnya halus, “Tolong? Ara pengen sendirian.”

April menghela nafas,  “Ya udah. Kakak tinggal ya,” ucapnya bijak. “Klo ada apa-apa, telpon aja,” imbuhnya kemudian, beranjak meninggalkan Ara. Beberapa langkah kemudian gadis itu menengok ke belakang, melihat Ara yang kembali membenamkan wajah di antara kedua lutut. April lagi-lagi hanya bisa mendesah pelan, berjalan kembali ke kelas.

“Gimana, ketemu nggak?” Sambut ketiga temannya. Mereka tidak berhasil menemukan Ara dimanapun.

April tersenyum tipis, “Dia lagi pengen sendiri katanya.”

Jawaban April membuat ketiga temannya serentak melipat dahi.

“Ryū!” Panggil April saat melihat cowok itu masuk ke dalam kelas.

Ryū menoleh, bertanya lewat sorot mata, ada-apa?

“Ara akhir-akhir ini ada masalah? Atau keluarganya ada yang sakit atau gimana?” Yoora sudah mendahului, tak sabar melihat April yang terlihat sedikit ragu untuk bertanya.

Ryū hanya bertanya datar, “Kenapa?”

“Ara tadi kayaknya dapet telpon dari siapalah, trus sekarang diem aja di bawah Tenggaring belakang sekolah. Mau sendirian katanya,” sahut April.

Ryū menelan ludah, teringat 2 hari lalu, Ara sempat bilang kalau Seta belum menelpon juga. Padahal, biasanya, setiap habis turun dari gunung, Seta pasti menelpon dan cerita panjang lebar. Apa ini ada hubungannya dengan Seta?

“Matanya merah banget lagi, kayak nahan tangis gitu,” celutuk Nadia.

Tanpa berkata apa-apa, Ryū bergegas pergi, mengambil langkah lebar menuju pohon Tenggaring. Menatap cemas pada Ara yang ternyata masih pada posisinya tadi.

Ragu-ragu Ryū membungkuk, menyentuh lengan Ara. Gadis itu menepis tangannya tanpa mengangkat wajah sama sekali.

“Ara,” panggil Ryū pelan, meletakkan telapak tangan di puncak kepala Ara.

Perlahan gadis itu mengangkat wajah, merasa mengenali pemilik suara, menatap Ryū lamat-lamat. Sejurus kemudian air matanya sudah meluncur cepat. Ara menangis.

Ryū mendesah berat, menyentuh lembut pipi Ara. Menghapus air mata yang menganak-sungai dengan tangan besarnya.

Ara mengulurkan ponselnya pada Ryū, menunjukkan sebuah SMS.

Ryū membacanya cepat, sms dari Seta,seminggu yang lalu.

From : Kak Seta

Dek, se-jam lagi Kakak naik ke Semeru.

Kakak nggak tau kenapa, tapi akhir-akhir ini Kakak kangen banget sama Ara. Dan, rasanya cuma edelweis Semeru yang bisa ngobatin. Ara tau kan?  Cuma gunung yang bisa bikin Kakak merasa tenang. Gunung bagi Kakak adalah cinta. Cinta yang bisa membantu Kakak melupakan Ara. Walau sejatinya, gunung hanyalah cara Kakak bertahan dari Ara.

Edelweis. Bunga ini mirip kamu Ra. Mungil, cantik dan wangi. Perlu perjuangan bertaruh nyawa buat sekadar melihatnya, terlarang untuk memetik dan memilikinya. Kakak janji, suatu saat nanti, Ara bakal bisa ngeliat sendiri bunga ini di alam aslinya. Merasakan kedamaian atap-atap dunia, mendengarkan nyanyian angin gunung, kungkungan skizofrenia yang mendebarkan.

Kakak kangen Ara, sayang Ara, sangat.

Mau-tak mau, separuh hati Ryū meledak marah membaca sms itu. Kangen? Sayang? Tak sadar cowok itu mengepalkan tangannya, menghirup nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan perasaannya sendiri. Suara isakan Ara membuatnya tersadar, ada yang lebih penting, gadis semrawut keras kepala itu benar-benar menangis.