MMSPH 2: Cintanometer

by Darwis Tere Liye on Friday, 02 September 2011 at 08:52

Cintanometer

Di kota kami, walau terletak persis di tengahtengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian, awan hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Jangan salah sangka dulu, kota kami memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat dukundukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.

Di sini banyak penemu. Yang terhebat di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan seribu penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.

Tetapi suatu hari, dewan kota mendadak mengadakan pertemuan. Tentu ada hal super penting yang telah terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk pertama kalinya dalam lima ratus tahun terakhir. Para tetua risau sekali tentang sesuatu. Tentang mengapa angka pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan dua tahun belakangan justeru minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan penduduk tetap seperti itu, dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun mendatang, penduduk kota ini akan musnah.

Lama berdebat akhirnya ditemukanlah muasal permasalahannya. Yaitu karena angka pernikahan anakanak muda turun amat tajam. Kenapa angka pernikahan turun amat tajam? Karena anak-anak muda ternyata susah sekali menemukan jodohnya masing-masing. Kenapa anakanak muda amat susah menemukan jodoh? Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. Dan kenapa angka penolakan cinta meningkat tajam? Karena anakanak muda itu terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dihinakan, lebih sial lagi akan dikenang sepanjang masa: sebagai pecundang.

Tetua kota ramai lagi berdebat mencari solusi masalah pelik ini. Bagaimana agar anak-anak muda itu tidak cemas dan takut lagi menyatakan cintanya? Akhirnya setelah berbagai usulan diterima, mulai dari yang sama sekali tidak masuk akal hingga yang malah tidak ada kaitannya sama sekali dengan akar permasalahan, solusi yang dimaksud disepakati.

Dewan kota akan menciptakan alat pendeteksi cinta. Sebut sajalah namanya cintanometer. Bentuk fisiknya kurang lebih mirip freehand telepon genggam yang kalian kenal selama ini. Dicantolkan di telinga, dan ia dengan kecanggihannya akan memberitahukan perasaan yang sedang dipikirkan oleh lawan jenis di hadapanmu.

Bagaimana caranya? Tidak jelas juga seperti apa. Terlalu rumit untuk dituliskan. Tetapi kurang lebih cintanometer akan mendeteksi gesture tubuh, kadar pheromon, getaran arus listrik yang timbul dari detak jantung pasangan Anda, medan elektromagnetik yang muncul dari sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola matanya, frekuensi dan lamda getaran suara saat pasangan Anda berbicara dan berbagai pemicu kimiawi lainnya yang terus terang aku juga tidak terlalu mengerti.

Dengan cintanometer itu, anak-anak muda tak usah malu lagi menyatakan cinta. Alat ini seratus persen akan menjamin kalkulasi variabel yang ditangkapnya benarbenar nyata. Deviasi kesalahannya kecil sekali, sehingga kalian tak usah lagi khawatir ditolak mentahmentah.

Mendengar kabar tentang cintanometer, penduduk kota kami dilingkupi kegairahan yang luar biasa. Mereka belomba-lomba mencari tahu sejauh mana kemajuan ilmuwan terbaik mereka menciptakan alat pendeteksi cinta tersebut. Tak sabar lagi mereka menunggu hari H peredarannya di toko-toko kelontong. Malah di tengah-tengah kota dipasang penghitung waktu mundur (countdown) menunjukkan sisa hari peluncurannya.

***

Dan ketika tiba hari H peluncuran cintanometer itu, kota kami heboh sekali. Inilah penemuan terbesar sepanjang masa. Muda-mudi berdiri mengantri membentuk kelokan puluhan kilometer di depan balai kota untuk mendapatkan alat pendeteksi cinta. Lelaki tua dan wanita tua yang tak laku-laku juga terselip hampir di setiap dua-tiga pengantri. Orang-orang tua yang sudah menikah pun ternyata ikut mengantri. Juga anak-anak di bawah umur.

Rusuh sekali antrian itu. Saling menyelak. Jangan pernah kalian meleng sedikit saja, alamat tempat berdiri sudah diisi oleh tiga-empat orang yang tak dikenal. Semakin lama kerusuhan dalam antrian semakin meluas. Masalahnya ternyata pembagian alat tersebut agak sedikit terganggu karena baru saja tetua kota menyadari mereka sama sekali belum melakukan analisis dampak lingkungan atas cintanometer ini. Tak ada yang pernah berpikir hal ihwal yang akan terjadi akibat beredar bebasnya alat ini, apalagi lihatlah batasan umur para pengantri di depan sana.

Semakin siang antrian semakin kusut. Maka tetua kota tak ada pilihan lain kecuali mulai membagikan cintanometer itu. Lupakan dulu soal analisis dampak lingkungan tersebut. Yang penting antrian penduduk kota tidak berubah menjadi anarki.

Mereka berebut menyambar kotak-kotak kecil itu. Untunglah tak ada satu pun warga kota yang mengantri menginginkan benda tersebut yang tidak kebagian. Lepas senja semuanya bisa pulang dengan senyuman lega. Berharap banyak atas benda kecil tersebut.

Tetapi, wahai, tahukah kalian apa yang terjadi sekejap setelah itu?

***

Kota kami tiba-tiba berubah menjadi lautan cinta. Lihatlah anak-anak muda, mereka seolah-olah sedang berlomba-lomba menyatakan cintanya. Di sepanjang jalan-jalan, di taman-taman kota, di kafekafe, di pelataran parkir dan pertokoan, di ruangruang kelas, di atas mobil-mobil dan gerbong kereta, di dalam lift dan toilet, hingga di altar-altar suci rumah ibadah yang seharusnya hanya dipakai untuk berdoa.

“Clarice, aku cinta padamu?” seru seorang pemuda dari salah satu meja, di kafe tengah kota.

“Aku sudah tahu, Leonardo!” gadis itu juga berteriak sambil memperlihatkan alat itu di telinganya. Mereka berdua tertawa. Juga tertawa bersamaan dengan seluruh isi kafe lainnya. Anakanak muda yang dimabuk asmara. Bersemu merah saling menggenggam tangan.

“Patrice, andai kau meminta bulan, tentu tak sungkan aku berikan….”

“Sudahlah, Desovov….” dan gadis di meja satunya lagi itu melompat menyeberangi piring-piring.

Sungguh. Padahal kemarin, kemarinnya lagi, minggu-minggu lalu, dan sepanjang hari selama setahun terakhir ini gadis itu hanya mampu berdiri menatap pemuda pujaannya lewat begitu saja di gang bawah sana dari balik teralis jendela. Terlalu gentar untuk mengakui. Terlalu takut untuk menyatakan cintanya.

Kemanapun kau pergi malam itu, maka yang akan kau dapati hanyalah anak-anak muda dengan trendi mengenakan cintanometer di telinganya, berjalan kesana-kemari coba menemukan pasangannya. Saat alat di telinga mereka berkedip-kedip, mereka berseru kegirangan. Itu berarti ada seseorang yang mencintainya radius seratus meter darinya.

Apa yang terjadi kemudian? Tergantung. Jika pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata tampan dan memang pujaan jantungnya selama ini, maka tak sungkan ia menggamit tangannya, menatap tersenyum dengan muka bersemu merah. Tetapi jika ternyata pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata jelek dan malah sosok yang dibencinya selama ini, maka dengan terbirit-birit ia akan lari menjauh.

Amat beruntung seorang pemuda atau gadis yang berkali-kali cintanometernya berkedip-kedip. Itu berarti ada banyak pilihan baginya untuk menyatakan cinta. Dan di tengah-tengah keramaian cinta ini, ironisnya, ada saja pecinta yang tidak sedikit pun cintanometernya berkedip-kedip.

Awalnya mereka tidak terlalu panik. Mungkin alat miliknya rusak atau baterainya habis. Mereka buru-buru mencoba meminjam alat pendeteksi cinta milik temannya, berharap nasib akan berubah. Percuma. Semua alat yang dikeluarkan oleh balai kota selalu dalam kondisi seratus dua belas persen oke.

Maka tinggallah mereka merana menjadi penonton pertunjukan cinta di kota kami. Tetapi siapa peduli dengan orang-orang yang tidak beruntung itu? Jumlah mereka sedikit. Dan bukankah dengan demikian, alat pendeteksi cinta itu membantu seleksi genetik kota kami. Pemuda atau gadis yang tak pernah dicintai oleh seseorang maka sudah sepatutnyalah tidak meneruskan keturunan genetiknya, demikian kesimpulan tetua kota.

Mendengar laporan meningkatnya angka jatuh cinta anak-anak muda di kota kami, tetua kota tersenyum lega. Permasalahan besar itu nampaknya teratasi sudah. Mereka bersulang di balai kota, berseru bersama memuji kepintaran para penemu. Tanpa sedikit pun menyadari laporan itu ternyata belum lengkap benar. Karena pelahan-lahan muncullah berbagai masalah akibat cintanometer itu.

***

Vyrzas, lelaki baya berumur enam puluh tahun, duduk menangis di pojokan kota sambil mengelus kepala botaknya penuh penyesalan. Dengan alat itu, barusan ia tahu bahwa sesungguhnya semenjak empat puluh tahun silam hingga hari ini, Veronica, kembang kampus universitas kota kami, ternyata amat mencintainya. Ah, mengapa alat ini baru diciptakan sekarang? Sesalnya. Lihatlah, wanita tua itu sudah beranakpinak dengan pria lain. Ia dulu ternyata terlalu naif menganggap dirinya jelek, bodoh dan sama sekali tidak berguna bila dibandingkan dengan gadis itu yang amat cantik, pintar dan populer.

Tetapi kesedihan Vyrzas bukan masalah serius bagi tetua kota saat ini. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Toh itu murni kesalahan Vyrzas. Yang lebih penting dan mendesak, lihatlah berbagai pertengkaran yang segera menyeruak di rumah-rumah penduduk.

“Aku tak menyangka hatimu busuk selama ini!” Nenek itu berseru kencang dari salah satu rumah.

“Apa maksudmu?”

“Lihat ini!” Ia berseru sambil memperlihatkan telinganya. Kakek itu tersumpal mulutnya.

“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat mukamu di rumah ini. Pergi! Pergi bajingan!” Nenek itu menangis dalam marah. Ia tidak menyangka pemuda yang dinikahinya enam puluh tahun silam ternyata sedikit pun tidak mencintainya. Jangankan berkedip, mendesing pun tidak cintanometer di telinganya. Ternyata suaminya menikahinya semata-mata karena kedudukan dan harta orang tuanya.

Segeralah berbagai borok suami terbongkar. Berbagai aib istri terbuka lebar-lebar. Banyak sekali pemuda yang menikahi istrinya hanya karena harta, kekuasaan, atau kecantikan wajah. Dan sebaliknya gadis-gadis yang menikah hanya karena tebalnya kantong suaminya, rumah-rumah, mobil-mobil terbang dan berbagai kemewahan dunia lainnya. Mereka bertengkar hebat malam itu.

Cintanometer benar-benar menelanjangi para pelaku selingkuh. Suami-suami yang tidak cinta lagi melihat tubuh istrinya. Suami-suami yang lebih suka menghabiskan malam-malan di bar-bar kota. Alat itu juga membantu anak-anak yang tak beruntung menerjemahkan perasaan sesungguhnya dari ayah atau ibu tiri mereka. Dengan segera di tengah-tengah lautan cinta yang terjadi di jalanan, harmoni rumahrumah tangga penduduk kota kami satu demi satu rontok.

Tetua kota segera berembug membahasnya. Satu dua tetua kota berkata pelan di tengah keramaian: ia memang dari dulu sudah khawatir sekali dengan alat pendeteksi cinta ini, sudah terlalu banyak penemuan tidak pantas yang telah mereka buat selama ini. Penemuan yang menebas tata aturan kehidupan. Cinta adalah urusan langit dan tidak sepantasnya mereka mencoba mengakalinya.

Tetapi mayoritas tetua kota kami mengabaikan keluhan itu. Jika ada masalah yang muncul dari cintanometer itu maka anggap saja harga yang harus dibayar untuk mengatasi permasalahan pertambahan penduduk kota. Dan bukankah lebih banyak anakanak muda yang akan segera melangsungkan pernikahannya dibandingkan dengan rumah tangga yang hancur berantakan?

Malam itu juga putus. Cintanometer akan terus diedarkan.

***

Hari-hari berlalu menjadi setahun, setahun berjalan dirangkai hari-hari. Siang ini genap lima tahun semenjak penemuan itu pertama kali diluncurkan dulu. Lihatlah apa yang terjadi di kota kami. Bayibayi mungil kelihatan di mana-mana. Jumlah penduduk double. Krisis kepedendudukan itu lewat sudah.

Cintanometer selama lima tahun berturut-turut mendapat penghargaan Penemuan Terbaik Tahun Ini. Setiap tahun fiturnya di tambah, dibuat lebih gaya dengan model dan warna-warni mutakhir. Penggunaannya pun semakin friendly user, tidak berkedip, tetapi berbisik. Bisikan cinta yang bisa di setting sedemikian rupa, termasuk menggunakan suara artis favorit kalian.

Malah cintanometer oleh sebagian besar penduduk kota di usulkan agar ditetapkan sebagai penemuan terbaik sepanjang abad ini. Melihat situasi yang sedang berkembang dalam masyarakat, sepertinya wacana itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Masalahnya di tengah-tengah kegembiraan tetua kota, dan leganya perasaan anak-anak muda, ada sesuatu yang tanpa disadari pelahan-lahan merubah kehidupan kota itu.

Alat itu bagi sebagian orang ternyata dari hari ke hari secara pasti membuat kehidupan mereka menjadi sangat sistematis, terukur dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau seorang gadis yang berdiri cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya datang dan mereka bisa pergi satu bus, syukur-syukur bisa duduk bersebelahan. Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya, menyajak puisi-puisi, menggenggam tangan sang kekasih. Tidak ada lagi lipatan suratsurat yang secara sembunyi-sembunyi dititipkan atau diselipkan di lemari sekolah, sekuntum bunga mawar yang dikaitkan di pintu rumah, atau seorang pemuda yang memetik gitar bernyanyi keras-keras di halaman rumah gadis idamannya.

Semakin lama, malah tidak ada lagi cokelat berbentuk jantung sebagai hadiah penanda cinta, tidak ada lagi balon-balon merah itu, tidak ada lagi cupid si peri cinta. Tidak ada lagi syair-syair kerinduan, soneta pujaan hati, tidak ada lagi irama ratapan kesendirian. Penduduk kota ini tidak memerlukan itu semua. Cinta pelahan-lahan namun pasti telah berubah menjadi barang instan.

Jika cintanometer berkedip-kedip itu artinya cinta. Jika tidak berkedip-kedip maka tidak ada cinta. Lama-lama penduduk kota mulai lupa apa itu cinta, bagaimana sesungguhnya perasaan seseorang saat jatuh cinta? Mereka hanya mengerti soal kedip dan tidak mengedip. Bisik atau tidak berbisik. Lama-lama mereka malah kehilangan kosa kata cinta? Siapa lagi yang perlu kata cinta jika kau bisa menterjemahkannya dengan mudah melalui sebuah alat mungil yang canggih? Berbisik berarti oke, tidak berbisik cari yang lain. Sesederhana itu.

Maka kata cinta dihapuskan dari kamus besar bahasa kota kami, karena tak ada lagi yang mengerti apa maksudnya. Berikut kata-kata yang menyerupai dan menyertainya. Kalian tak akan lagi menemukan kata: kasih, sayang, rindu, bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, bujang tua, jomblo dan kata-kata lainnya.

Dan ketika aku sempat berkunjung ke kota itu minggu lalu. Dalam ramainya ruang pesta di balai kota, aku tersenyum bersalaman dengan penduduk kota. Berkata mengenalkan diri, “Namaku Jun. Aku pengelana hati. Datang dari jauh mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” mereka menatapku aneh sekali.

Seperti kalian sedang menatap mahkluk dari galaksi lain.

***

*silahkan di re-posting di akun facebook, mp, blog, wordpress, twitter milik kalian.