MMSPH 3: Pandangan Pertama Zalaiva

by Darwis Tere Liye on Saturday, 03 September 2011 at 05:49

Pandangan Pertama Zalaiva

 

Zalaiva dengan pakaian kanak-kanaknya berjinjit pelan membawa dua butir telur ayam di genggaman tangan kanannya, sementara tangan kirinya meraba-raba selusur papan kandang. Rok bersulam kupu-kupunya terkena bercak lumpur di mana-mana, sementara pipi montok menggemaskan itu sekarang seperti muka prajurit indian, tercoreng dua saput kotoran. Entah oleh apa, bisa jadi oleh tahi ayam. Tampangnya serius sekali membawa telur-telur itu, sementara kakeknya berdiri mengamati tersenyum sambil memungut telur di rak yang lebih tinggi.

 

Sayang sekali sebelum ia tiba di ember besar yang diletakkan di sebelah kaki kakeknya, seekor ayam jantan entah dari mana asalnya, terbang masuk kandang. Berkotek menyergap tubuh mungil Zalaiva. Gadis kecil itu berseru kaget. Telur-telur di genggaman tangannya terlepas, terlontar entah kemana. Zalaiva untuk sepersekian detik bisa mendengar telur itu satu per satu jatuh menghantam lantai semen, seperti kalian bisa melihat tetesan air jatuh dari langit secara patah-patah. Dan telur-telur ringkih itu pecah tak karuan. Sambil menahan sakit di lututnya gadis kecil itu mencoba berdiri, matanya yang tak berbintik hitam berkaca-kaca, ia merabaraba tertatih melangkah mendekati kaki kakeknya takut-takut, sebentar lagi gadis itu pasti menangis.

 

Tetapi kakeknya tidak marah. Justeru duduk jongkok menyambut tubuh mungil itu. Tersenyum, menghapus buliran air mata di pipi Zalaiva, menatapnya amat bijak, kemudian memegang bahunya dengan lembut.

 

“Jangan dipikirkan. Hanya telur, sayang!”

 

Tetapi Zalaiva tetap terisak. Kakeknya sambil menghela nafas dalam-dalam, pelahan duduk selonjor di lantai lorong kandang ayam. Ia menepuknepuk bulu ayam di pakaian bidadari kecilnya, lantas mendudukkan Zalaiva di pangkuannya. Topi jerami itu ia sangkutkan sembarang tempat.

 

Di peternakan ini, Zalaiva hanya tinggal dengan kakekknya seorang. Tidak ada siapa-siapa lagi. Dulu pernah ramai sekali, tetapi satu persatu penghuninya pergi dengan kenangan getir dan tak pantas diingat lagi, apalagi oleh Zalaiva yang sedang tumbuh dengan segala kepolosan hidup. Rumah besar itu sekarang berdiri suram seolah-olah penuh kutukan. Tetapi Zalaiva tidak tahu dan tidak peduli. Ia punya kakek yang selalu pandai bercerita.

 

“Tahukah, sayang. Jika kau melemparkan sebutir telur dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah sedikit pun telur itu takkan retak sepanjang kau punya sesuatu!” Kakeknya berbisik di telinga Zalaiva. Beginilah yang selalu ia lakukan jika Zalaiva tiba-tiba menangis sedih. Ia selalu membisikkan kisah-kisah indah, karena suatu saat ia yakin Zalaiva berhak atas manisnya kehidupan ini. Dan gadis mungil itu seperti biasa, mendongakkan kepalanya penuh rasa ingin tahu, mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya, lantas menggeleng. Saat-saat seperti ini selalu menyenangkan baginya.

“Dan tahukah kau apakah sesuatu itu?”

Zalaiva menggeleng lagi.

“Sesuatu itu adalah cinta!”

Kakek menyebut pelahan dan penuh perasaan kata itu. Seperti menggantungnya menjadi bintang di langitlangit kandang. Zalaiva justeru berpikir tentang hal lain.

“Kalau begitu cinta itu seperti kasur, ya Kek? Yang saat Zalaiva loncat-loncat di atasnya tidak terasa sakit?”

“Bukan. Cinta itu tidak seperti kasur, sayang”

“Jadi bagaimana ia membuat telur itu tidak pecah?”

“Karena cinta itu akan memberikan sepasang sayap yang indah kepada telur itu, sayang.” Kakeknya

tersenyum sambil menciumi ubun-ubun gadis mungil itu.

“Jadi cinta itu seperti burung!”

“Ya. Seperti burung, ia akan membawamu terbang kemana saja. Membuatmu bisa memandang seluruh isi dunia dengan suka cita, bahkan terkadang kau merasa seluruh dunia ini hanya milikmu seorang.”

 

Gadis mungil itu ikut-ikutan mendongakkan kepala menatap kosong langit-langit kandang. Membayangkan mendengar kepak-kepak sayap burung yang sama sekali berlum pernah dilihatnya. Sepertinya itu amat menyenangkan.

 

“Kakek, Zalaiva ingin cinta!”

 

***

 

Kemudian, hari-hari berikutnya Zalaiva jadi sering sekali bertanya tentang cinta. Suatu pagi saat ia berlatih bernyanyi do-re-mi sambil belajar berdansa, patahpatah memegang tangan renta kakeknya, Zalaiva menyela, “Kakek, apakah cinta itu menyenangkan seperti musik?”

 

“Ya. Ia seperti musik, tetapi cinta sejati akan membuatmu selalu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”

 

“Kalau begitu, Zalaiva ingin cinta!”

 

Kakeknya tersenyum meringis sambil memijatmijat pinggangnya. Gadis mungilnya tidak tahu, berputar-putar menari seperti ini membuat encoknya kumat lagi.

 

Ketika Zalaiva duduk menggigil malam-malam ketakutan, badai mengamuk di luar sana. Angin menderak-derakkan jendela, kilat dan guntur susul menyusul memekakkan. Zalaiva yang baru terbangun dari mimpi buruk hantu-hantu, mendongak ke arah kakek yang sedang memeluknya, “Kakek, apakah cinta itu menakutkan seperti hantu?”

“Ya, cinta sejati seperti hantu. Semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang benarbenar pernah melihatnya.”

Zalaiva mengernyitkan dahinya. Mengkerut takut dalam pelukan kakeknya, “Kalau begitu, Zalaiva tidak ingin cinta lagi!”

Kakeknya tersenyum merasa bersalah. Malam ini ia terlalu lelah, dari tadi ingin rasanya segera tidur, tetapi gadis kecilnya yang sedang ketakutan sepertinya tak akan beranjak menutup matanya. Mungkin dengan begini gadis kecilnya bisa segera terlelap.

 

Ketika paginya mereka berdua berendam dalam sejuknya air sungai di belakang peternakan. Zalaiva yang senang sekali memukul-mukul air ke arah kakeknya, di antara percikan air yang bening, tiba-tiba menyela, “Kakek apakah cinta sesejuk air sungai ini?”

“Ya. Cinta sejati memang seperti air sungai, sejuk menyenangkan dan terus mengalir. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar, karena semakin lama semakin banyak anak sungai yang bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama mengalir semakin besar batang perasaannya”

“Kalau begitu ujung sungai ini pasti ujung cinta itu?”

“Cinta sejati adalah perjalanan, sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan”

“Kakek, apakah cinta itu memberi, seperti yang selalu Kakek lakukan saat memberi makan ayamayam?”

“Tidak. Karena kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun memiliki perasaan cinta, tetapi kau takkan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.”

“Kakek, dari kota manakah cinta datang?”

“Tidak ada yang tahu, sayang. Cinta sejati datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas!”

“Kalau begitu bagaimana Zalaiva tahu itu cinta?”

“Kau akan tahu ketika ia datang. Tahu begitu saja. Dulu orang-orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat. Cinta sejati selalu datang pada orang-orang yang berharap berjumpa padanya dan tak pernah berputus asa.

 

“Kelak saat kau dewasa, kau akan melihat banyak sekali orang-orang yang begitu saja jatuh cinta. Bagi mereka cinta seperti memungut bebatuan di pinggir kali. Banyak betebaran. Bosan bisa dilemparkan jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu yang lain ke dalam kantong lainnya. Apakah perangai seperti itu disebut cinta? Tentu saja bagi mereka juga cinta. Tetapi ingatlah selalu Zalaiva-ku, cinta sejati tak sesederhana bebatuan.

 

“Suatu saat jika kau beruntung menemukan cinta sejatimu. Ketika kalian saling bertatap untuk pertama

kalinya, waktu akan berhenti. Seluruh semesta alam takzim menyampaikan salam. Ada cahaya keindahan yang menyemburat menggetarkan jantung. Hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat cahaya itu, apalagi berkesempatan bisa merasakannya.”

 

“Apakah kakek pernah bertemu dengan cinta?”

 

Kakeknya tertawa pelan sambil mengelus rambut panjang hitam legam gadis kecilnya. Zalaiva tersenyum, ia sudah terbiasa dengan jawaban tawa pelan seperti itu.

 

“Apakah cinta memerlukan mata untuk memandang?”

 

“Tentu tidak, sayang!”

 

Kakek itu mencium khidmat ujung-ujung jari mungil Zalaiva. Zalaiva tersenyum, ia juga sudah terbiasa dengan jawaban cium ujung-ujung jari seperti itu.

 

***

 

Gadis berambut panjang hitam legam itu berdansa anggun sekali di tengah-tengah aula. Gaun merah yang membungkus ketat tubuh indahnya membuat ia terlihat mencolok di antara puluhan pasangan lainnya. Kakikakinya bergerak dengan irama teratur, posisi badannya sempurna sudah. Dan ketika musik terhenti, para hadirin beramai-ramai tak kuasa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan.

 

Dengan anggun gadis itu membungkuk membalas, lantas dibimbing pelahan oleh sang tuan rumah menuju kursi di sudut ruangan. Pesta akan dipotong sebentar dengan sambutan dan jamuan. Tidak. Tidak ada bercak lumpur di bagian bawah gaun pestanya, apalagi dua carik coreng tahi ayam di pipi montoknya. Zalaiva sungguh sudah berubah mempesona. Gadis berbilang dua puluh tahun. Matang dan dewasa.

 

Ia tumbuh menjadi pedansa terkenal. Dari satu kastil ke kastil lain. Dari satu pesta ke pesta lain. Berpendidikan dan terhormat berkat bimbingan kakeknya. Pengharapan kakeknya sedikit banyak sejauh

ini sudah terwujud: Zalaiva mengecap manisnya hidup, yang tak pernah dikecap oleh kedua orang tuanya, tak pernah dikecap oleh anggota keluarga lainnya, dan juga oleh kakeknya sendiri.

 

Seorang pelayan berseragam datang mendekati Zalaiva, membungkuk menawarkan segelas anggur. Zalaiva tersenyum mengulurkan tangan menerimanya dengan sopan. Tetapi sayang sekali, belum sampai bibirnya menyentuh gelas kristal itu, seorang pemuda yang entah datangnya dari mana, terburu-buru lewat di hadapannya, menyenggol tidak sengaja tangan mungil Zalaiva. Gadis itu berseru kaget. Gelas anggur di genggaman tangannya terlepas. Pecah berantakan membasahi karpet, juga gaun merahnya.

 

Pemuda terburu-buru itu jangankan meminta maaf, malah buru-buru pergi menghindar dari tatapan ingin tahu banyak orang. Tinggallah Zalaiva tertegun, memerah mukanya tak tahu berbuat apa. Tangannya menjulur ke bawah hendak meraba-raba memungut beling gelas, ketika tiba-tiba tangan seorang pemuda lain lebih dahulu menyentuh ujung jarinya dengan lembut.

 

“Jangan dipikirkan, hanya sebuah gelas!”

 

Suara itu datang bagai angin sorga. Menyergap rasa malu dan kecemasan Zalaiva, lantas melemparkannya jauh-jauh ke masa-masa menyenangkan dulu. Zalaiva mendongak mencari tahu muasal suara.

“Tahukah kau, jika kau melemparkan sebuah gelas dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah sedikit pun gelas itu takkan retak sepanjang kau punya sesuatu!”

Zalaiva di tengah keterpanaannya menggangguk begitu lemah. Ia bisa merasakan hembusan nafas pemuda itu di wajahnya yang semakin merah.

“Tahukah kau apakah sesuatu itu”

Zalaiva tidak tahu apakah ia mengangguk atau tidak saat itu. Yang ia tahu secara pasti tiba-tiba jantungnya seperti terseret ke dalam putaran perasaan yang sungguh tidak ia mengerti. Ketika pemuda itu dengan khidmat mencium ujung-ujung jarinya. Ia merasa seluruh semesta alam, tiba-tiba ikut takzim memberikan salam. Waktu berhenti. Semburat cahaya yang menggetarkan muncul menyeruak dari tubuhnya.

Zalaiva tiba-tiba merasa berdiri di atas padang rumput maha luas, semua orang tersaput hilang, semua benda tersingkir jauh-jauh kecuali sebatang pohon mahoni dengan kicau burung-burung dan sebuah rumah mungil beratap rumbia berdinding papan berwarna putih. Ia dan pemuda itu berdiri saling menatap dan saling berpegangan tangan, dari jauh terdengar suara gemerincing air sungai.

 

Lama sekali Zalaiva mempercayai kata-kata kakeknya dulu. Setiap pagi, saat ia menyiram kembang setaman di bawah jendela kamarnya, Zalaiva menatap langit biru dan berbisik pelan pada semilir angin: ia rindu berjumpa cinta sejatinya dan tak akan pernah berputus asa. Dan hari ini, setelah sekian lama, kesabaran itu akhirnya berbuah. Tuhan mengirimkannya. Ia datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas.

 

“Apakah kau sakit? Mukamu pucat sekali?”

 

Pemuda itu membantu Zalaiva duduk kembali di atas sofa. Melambaikan tangan memanggil pelayan agar membersihkan beling tajam di atas karpet. Menarik sapu tangan putih dari lipatan jasnya. Berusaha membantu membersihkan gaun merah Zalaiva.

“Ah, biar. Biar kubersihkan sendiri.”

“Tidak nona. Biarkan aku menghinakan diri dengan membersihkan gaun indahmu.”

Zalaiva terkesima lagi. Jantungnya berdetak tak karuan saat merasakan tangan pemuda itu menyentuh gaun pestanya. Tubuhnya gemetar. “Aku akan memulai perjalanan panjang itu,” desah Zalaiva dalam diam.

 

***

 

Nasib!

Aku harus menyalahkan siapa, jika perjalanan mendebarkan itu ternyata tidak terlalu panjang. Panjang aliran sungai itu ternyata hanya sepelemparan batu. Kemudian kandas dihadang dam raksasa. Benar-benar sepelemparan batu, karena malam itu juga semuanya berakhir.

 

Malam itu, setelah keributan kecil itu berhasil diselesaikan dengan baik. Pemuda itu menawarkan diri menemani Zalaiva berdansa bersama untuk putaran kedua. Andaikata bisa kulukiskan dansa mereka berdua, maka lukisan itu cukup untuk membuatmu tenggelam dalam keagungan perasaan cinta hanya dengan menatap cahaya muka Zalaiva.

 

Saat Zalaiva malu-malu berpamitan pulang, pemuda itu membantunya menaiki kereta kuda. Saat kereta kuda itu membelah dinginnya malam musim salju, sais kereta, satu-satunya bekas pembantu kakeknya yang masih tersisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang pemuda itu. Jawaban dengan suara tertahan, layaknya seseorang yang sedang kedinginan mengendalikan laju kereta.

 

Tetapi bagi Zalaiva, suara tertahan itu seperti berubah menjadi sembilu yang tanpa ampun mengirisiris jantungnya. Ia tidak peduli dengan seberapa tampan dan seberapa kuasanya pemuda itu, fakta singkat yang tiba-tiba membuatnya menggigil adalah saat sais kereta mengatakan: pemuda itu minggu depan akan menikah.

 

Tak penting dengan siapa. Tak penting siapa wanita itu. Tak penting semua itu. Zalaiva merasa amat merana. Bohong. Kakeknya berbohong. Cinta tidak seperti air sungai, sejuk dan menyenangkan. Baginya sekarang cinta lebih seperti moncong meriam. Sesaat lalu melontarkannya tingi-tinggi sekali hingga ke atas awan, tetapi sekejap kemudian menghujamkannya dalamdalam ke perut bumi.

 

Terhempaskan.

 

Tidak. Cinta tidak memberikannya sepasang sayap indah. Ia bukan hanya tidak bisa terbang sekarang,

untuk bergerak sedikit pun terasa menyakitkan sekali.

 

Zalaiva menangis dalam diam.

 

Cinta tidak membuat ia merasa memiliki dunia ini, ia justeru merasa kehadirannya di dunia sia-sia belaka. Cinta memang lebih mirip hantu, semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang benarbenar pernah melihatnya. Dan ketika kau berhasil melihatnya kau lari sungguh ketakutan.

 

Kakeknya jelas lupa mengajarkannya soal akhir sebuah percintaan. Cinta sejati tidak selalu seperti musik yang membuatmu tetap menari meskipun sudah lama berhenti. Ia sekarang justeru mengharapkan musik itu tidak sedetik pun pernah dimainkan.

 

Zalaiva merintih dalam sunyi.

 

Kakeknya hanya benar satu hal. Hanya satu hal. Kalian sama sekali tidak memerlukan mata untuk memandang cinta sejatimu. Tidak memerlukan kelopak mata untuk mengenalinya. Ia selalu datang, tak pernah tersesat.

 

Zalaiva sekali lagi dalam diam menyeka kedua matanya. Mata yang sama sekali tak terdapat bintik hitam di bolanya.

 

Zalaiva buta.

 

***