MMSPH 4: Harga Sebuah Pertemuan

by Darwis Tere Liye on Saturday, 03 September 2011 at 17:19

Harga Sebuah Pertemuan

 

Korban 1:

 

Laki-laki; 178cm/80kg; usia, 45 tahun; golongan darah, AB; pekerjaan, wiraswasta dan politisi sukses; tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak menggunakan obat-obatan terlarang; tampan, kaya raya, memiliki kekuasaan dan pengaruh politik besar; kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung-jawab. Menurut tetangga sekitar, korban sehari-hari dikenal ramah-bersahabat, memiliki keluarga yang terlihat amat bahagia.

 

Ditemukan tewas oleh room boy di kamar 709 salah satu hotel ternama, 28 Februari tahun ini. Hasil diagnosis laboratorium forensik menunjukkan korban positif tewas karena kesengajaan. Meskipun belum bisa dipastikan bagaimana dan oleh siapa. Kemungkinan besar diracun.

 

Korban 2:

 

Perempuan; 164cm/55kg; usia, 39 tahun; golongan darah, O; pekerjaan, perancang busana (pakaian wanita); dua kali dalam seminggu rutin fitness dan berendam lulur madu; cukup cantik dan menarik (untuk ukuran wanita yang sepuluh tahun lagi menginjak usia setengah abad); ibu rumah tangga yang baik meskipun pernikahannya sekarang memaksa istri pertama suaminya pergi entah kemana. Korban adalah istri korban 1.

 

Ditemukan tewas oleh pembantu rumah tangga di kamar tidurnya di lantai dua, 7 Maret tahun ini (satu minggu setelah suaminya meninggal). Hasil diagnosis laboratorium menunjukkan korban positif tewas karena diracun (brucine).

 

Korban 3:

 

Perempuan; 170cm/52kg; usia, 27 tahun; golongan darah, O; pekerjaan, artis dan model ternama; bintang iklan salah satu produk sabun dan shampo terlaris di seluruh negeri; cantik, single dan masih muda. Korban adalah adik sepupu korban 2, satu tahun terakhir tinggal bersama di rumah besar mewah suami-istri (korban 1 dan korban 2) tersebut.

 

Ditemukan tewas oleh anak sulung suami-istri tersebut di kamar mandi, 14 Maret tahun ini (satu minggu setelah kakak sepupunya tewas dan atau dua minggu setelah suami kakak sepupunya ditemukan mati). Hasil diagnosis laboratorium menyimpulkan korban positif tewas karena diracun (arsenik).

 

Skenario 1:

 

Semenjak pertemuan pertama mereka setahun silam, Ardem Asmoro sudah jatuh hati dengan gadis itu. Amat cantik, segar mengundang di usia mudanya. Apalagi kondisi pernikahan keduanya saat ini semakin lama semakin menyebalkan. Sofia sangat possesif dan Ardem Asmoro kehilangan semua kepercayaan dan kebebasannya, dua kemewahan yang sangat penting bagi seorang pengusaha dan politisi sukses seperti dirinya. Lihatlah istrinya sekarang, sama sekali tidak terlihat menarik, bahkan dibandingkan dengan sekretaris pribadinya yang gendut sekalipun. Padahal daya tarik itulah yang dulu membuatnya menggebu-gebu menceraikan istri pertamanya dan nekad menikahinya.

 

Ironisnya Ardem Asmoro bertemu dengan gadis muda itu pada acara ulang tahun pernikahannya dengan Sofia yang kesepuluh. Gadis itu menyempatkan diri datang setelah pemotretan sebuah produk lokal yang tidak terkenal. Dengan malu-malu dituntun sendiri oleh Sofia, ia memperkenalkan dirinya: Ajeng, adik sepupu jauh Sofia. Seketika Ardem melupakan resepsi dan seluruh undangan yang memadati ruang convention besar hotel. Sepanjang sisa malam itu, matanya tak lepas menatap wajah berhias senyuman Ajeng, yang lemah gemulai menyeruak di antara kerumunan orang-orang, serta suaranya yang terdengar bak buluh perindu.

 

Dengan kekuasaan bisnis dan pengaruhnya, Ardem Asmoro dengan mudah membawa gadis itu menuju puncak ketenaran karir modelnya. Dan entah karena memang Ardem Asmoro terlihat tampan, kaya, serta berkuasa atau karena Ajeng ingin membalas budi baiknya, mereka berdua terlibat affair panas. Istrinya yang merasa telah menguasai dan me-monitor segala aktivitas suaminya, sedikit pun tidak curiga dan menyetujui begitu saja saat Ajeng memutuskan untuk pindah ke kota megapolitan ini, tinggal bersama dengan mereka.

 

Jangankan istrinya, media massa yang terkenal amat ganas di kota ini pun tak mampu mendeteksi hubungan gelap tersebut. Andaikata tahu, mereka bagaikan mendapatkan durian runtuh: gosip terpanas yang pernah ada, perselingkuhan seorang kandidat kuat penguasa kota dengan seorang artis dan model ternama, yang tak lain adalah adik sepupu jauh istrinya sendiri.

 

Malam itu mungkin karena nafsu liar mereka yang menggebu-gebu, Ardem Asmoro dan Ajeng bertindak tidak hati-hati. Ia lupa istrinya sedang mengadakan pargelaran adibusana di tempat yang sama.

 

Diduga Sofia menangkap basah mereka berdua tengah mabuk bersama di lorong hotel tanpa sedikit pun menyadarinya. Malam itu juga, Sofia yang sakit hati, terhinakan dan terkhianati membayar salah seorang service room untuk membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh mereka. Dan hasilnya segera terlihat, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku keesokan harinya. Kenapa Ajeng bisa selamat? Penyidik menduga mungkin karena ia tidak sempat meminum minuman mematikan tersebut, atau mungkin ia pulang lebih awal dari biasanya. Entahlah.

 

Tetapi dipastikan Ajeng mencurigai keterlibatan Sofia atas pembunuhan Ardem Asmoro malam itu. Ia merasa perselingkuhan mereka berdua sudah diketahui oleh Sofia dan itu menjadi musabab pembunuhan. Ia menyadari setiap saat posisinya terancam. Hubungan mereka di rumah besar-mewah itu menjadi tegang, meskipun itu luput dari perhatian puluhan wartawan dan penyidik yang ramai meliput dan bertanya.

 

Malam itu, satu minggu setelah kematian Ardem Asmoro, Ajeng memutuskan untuk membunuh Sofia terlebih dahulu sebelum ia yang malah dibunuh. Racun yang dimasukkan secara hati-hati ke dalam tablet obat peramping badan yang rajin diminum Sofia setiap malam, benar-benar pamungkas. Sofia ditemukan tewas membeku esok paginya.

 

Ternyata Ajeng tidak menyadari perbedaan beban psikis antara saat seseorang tengah merencanakan membunuh, kemudian mengeksekusinya dengan setelah melakukan kejahatan itu sendiri. Ia ketakutan sepanjang hari, apalagi wartawan dan penyidik semakin gencar mencercanya dengan ribuan pertanyaan. Berbagai hipotesis digelar media massa, berbagai skenario digelar oleh penyidik. Meskipun tak satu pun yang menyinggung-nyinggung keterlibatannya, Ajeng merasa kejahatannya setiap saat bisa terungkap. Tak tahan membayangkan berbagai kemungkinan yang akan menimpanya, malam itu Ajeng nekad memutuskan untuk menenggak sebotol racun lainnya.

 

Ia ditemukan tewas dengan mulut berbusa pagi itu. Seminggu setelah kakak sepupunya ditemukan tewas di kamar tidurnya. Dua minggu setelah suami kakak sepupunya ditemukan mati di kamar hotel.

 

Skenario 2:

 

Malam itu Ajeng berteriak histeris meminta pertanggung-jawaban Ardem Asmoro. Ia sudah berbadan dua, tetapi sebaliknya Ardem Asmoro dengan ringannya bersikukuh menolak, dan malah memilih menggugurkan kandungan tersebut. Banyak hal penting yang harus dilakukannya enam bulan mendatang. Pemilihan penguasa kota, ekspansi bisnis besar-besaran, hingga memulai kampanye nasional agar ia bisa menguasai organisasi besar itu.

 

Affair ini tidak akan mungkin berlanjut menjadi sebuah pernikahan. Seberapa besar pun otak warasnya tergoda pada Ajeng. Situasinya amat berbeda dengan ketika ia dulu memutuskan untuk meninggalkan istri pertamanya. Resikonya terlalu besar.

 

Maka membuallah Ardem Asmoro soal betapa ia masih mencintai Sofia. Tentang hubungan mereka selama ini yang hanya selingan belaka, baginya sedikit pun ia tidak mencintai Ajeng. Pertengkaran itu berakhir ketika Ajeng berurai air mata berlari keluar dari kamar hotel yang terasa seperti neraka. Tetapi sebelum pergi meninggalkan hotel itu, di tengah rasa kecewa yang membelit, putus asa yang menggantung, dan rasa malu yang mencoreng paras cantiknya, tanpa pikir panjang Ajeng masih sempat mengupah seorang service room untuk membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh Ardem Asmoro. Dan hasilnya, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku pagi itu. Seluruh media massa ramai memberitakan pengusaha dan penguasa yang ditemukan mati mengenaskan di kamar hotel yang secara bersamaan entah kebetulan atau tidak ternyata juga tengah menggelar pargelaran adibusana koleksi istri tercintanya.

 

Kemarahan Ajeng ternyata tidak cukup hingga disitu. Merasa Sofia-lah yang menjadi penghalang baginya memiliki Ardem Asmoro, seminggu setelah kematian pasangan selingkuhnya, Ajeng nekad memasukkan racun ke dalam tablet obat peramping Sofia. Racun itu bekerja efektif dan cepat, Sofia ditemukan beku tak bernyawa esok paginya di kamar tidurnya. Penduduk kota semakin heboh. Belum genap mereka membangun dugaan penyebab kematian misterius pertama tuan rumah, sekarang ditambah lagi dengan kejadian yang lebih misterius di keluarga yang selama ini dikenal bahagia dan jauh dari gosip media.

 

Dan ternyata pembunuhan berantai itu belum usai. Menyadari semuanya sudah tak tersisa lagi. Masa depannya, kekasih pujaan hatinya, harga dirinya, dan beribu perasaan dicampakkan, dihinakan dan lain sebagainya, malam itu Ajeng gelap mata, nekad memutuskan untuk menenggak sebotol penuh racun lainnya. Dan seperti seminggu lalu dan atau dua minggu lalu, tubuh Ajeng ditemukan membeku dengan mulut berbusa telentang di atas tegel mewah kamar mandinya.

 

Meninggalkan berjuta pertanyaan.

 

Skenario 3:

 

Dua skenario itu menjadi favorit media massa, apalagi setelah penyidik laboratorium forensik memastikan bahwa Ajeng dipastikan memang tengah mengandung tiga bulan. Tetapi bagi masyarakat kota kami, sulit sekali membayangkan Sofia dan Ajeng yang selama ini dikenal sebagai figur baik hati dan dermawan mampu melakukan kejahatan sebesar itu. Bagaimana mungkin kalian akan mencurigai tetangga baik kalian yang selama ini dikenal amat santun, respek, dan pandai membawa diri. Untuk menuduhnya membunuh seekor anjing dengan sengaja pun kalian takkan tega.

 

Maka berkembanglah skenario ketiga yang melibatkan orang luar. Skenario yang hingga hari ini sama sekali tidak bisa dibuktikan, meskipun harus diakui lebih menyenangkan untuk menjawab rasa penasaran dan ketidakpercayaan publik atas dua skenario sebelumnya.

 

Malam itu, istri pertama Ardem Asmoro yang sepuluh tahun lalu diusir oleh suaminya dan lari entah kemana, kembali pulang ke kota ini. Pulang membawa dendam yang membinasakan.

 

Malam itu, dengan menggunakan jaket tebal dan topi yang menutupi separuh muka ia menyelinap ke ruang pargelaran adibusana Sofia. Ia menatap penuh kebencian Sofia yang amat anggun duduk tersenyum menerima kilau jepretan puluhan kamera. Wanita itu sungguh telah merampas seluruh kebahagiaannya.

 

Maka sesuai rencananya, di tengah-tengah acara pertunjukkan ia naik ke atas, menuju kamar bekas suaminya yang tengah menginap. Ia juga yang pagi hari sebelumnya berpura-pura menjadi Sofia, menelepon kantor bekas suaminya, meminta Ardem Asmoro agar mau menginap di hotel tempat berlangsungnya pargelaran adibusana Sofia.

 

Ia mencegat service room yang datang menghantarkan hidangan makan malam. Membubuhkan sebotol racun yang menjadi simbol sakit hatinya selama ini di minuman yang dipesan oleh suaminya. Dan keesokan harinya, Ardem Asmoro ditemukan mati membeku di kamar hotel itu.

 

Dendam percintaan yang terkhianati itu ternyata sangat mengerikan. Mantan istri Ardem Asmoro juga memutuskan untuk membunuh Sofia seminggu kemudian. Dengan dingin ia membayar petugas apoteker langganan Sofia untuk mengganti isi tablet obat peramping tubuh dengan bubuk racun brucine. Keesokan paginya Sofia ditemukan tewas mengenaskan.

 

Yang menjadi pertanyaan kenapa Ajeng menjadi sasaran berikut pembalasan dendam mengerikan tersebut? Besar kemungkinan mantan istri Ardem Asmoro itu tahu hubungan gelap mereka selama ini. Ia tidak peduli apakah Ajeng memiliki kaitan yang membuatnya terusir sepuluh tahun silam atau tidak, baginya semua pihak yang memiliki affair dengan mantan suaminya harus dibinasakan. Maka malam itu ia membayar orang upahan untuk memasukkan sebotol racun lainnya ke dalam santap malam Ajeng. Pagi itu, model dan artis terkenal itu ditemukan mati tertelentang di tegel mewah kamar mandinya.

 

***

 

Hujan gerimis membasahi pemakaman. Orang-orang berjalan pelahan dengan pakaian serba hitam merapat mendekati buncahan tanah merah. Beberapa di antaranya memegang sapu tangan, menyeka buliran air mata, membuang hingus, atau sekadar basa-basi agar terlihat turut bersimpati. Imam membacakan doa-doa, berharap langit berbaik hati menerima kembalinya sang anak manusia.

 

Tragis sekali.

 

Ini adalah pembunuhan ketiga di rumah keluarga terkenal itu. Seminggu yang lalu nyonya rumah yang dikenal masyarakat luas sebagai perancang busana ternama juga ditemukan tewas diracun di kamar tidurnya. Dua minggu sebelumnya sang tuan rumah, seorang pengusaha dan politisi sukses, lebih mengenaskan ditemukan mati terbunuh di kamar hotel tempat berlangsungnya pargelaran adibusana istrinya. Dan tadi pagi, artis serta model ternama, sekaligus adik sepupu nyonya rumah yang kebetulan tinggal bersama dengan mereka ditemukan tertelentang mati dengan mulut berbusa di lantai kamar mandi.

 

Peti mayat itu pelahan-lahan diturunkan. Orang-orang menahan nafas. Aku menaburkan rangkaian bunga melati sambil tak henti melirik kesana-kemari.

 

Akulah, putri sulung Ardem Asmoro, anak tiri Sofia, yang tadi pagi menemukan mayat Ajeng membeku di kamar mandi itu. Akulah yang berteriak histeris memanggil bantuan, seperti yang juga aku lakukan saat menemukan mayat biru Sofia sebelumnya.

 

***

 

Acara pemakaman yang menjemukan ini sudah hampir berakhir, tetapi pria yang kutunggu-tunggu itu belum kelihatan juga. Aku mendesah dalam hati. Pura-pura menghentikan taburan bunga melati untuk menghapus air di kelopak mataku.

 

Ketika ayah mati dua minggu lalu, yang aku yakin sekali itu memang pilihannya, di sore pemakamannya, pria itu datang entah dari mana. Begitu tegap dan gagah. Ia mengenakan tuksedo hitam legam, dasi hitam kelam, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata hitam hebat. Aku terkesima melihat kehadirannya. Seperti para pelayat lainnya, ia mengecup tanganku takzim, berbisik tentang duka cita. Dan hatiku entah mengapa sebaliknya tiba-tiba goncang berbisik soal cinta. Ia melepas kaca mata hitamnya, dan kami berdua untuk beberapa kejap bertatapan dalam sekali.

 

Aku tiba-tiba lunglai dalam putaran perasaan yang tidak aku mengerti. Pria gagah itu, siapapun dia, telah membunuh jantungku seketika. Sayang sekali, setelah acara pemakaman ayah, ia raib begitu saja ditelan bumi.

 

Berhari-hari aku mencoba melacak keberadaannya. Siapa dia? Dari mana asalnya? Tak satu pun yang bisa memberikan jawaban. Malam-malam kuhabiskan dengan menyebut parasnya, pagi-sore kubakar dengan meratapi tubuhnya, dan siang kubunuh dengan membayangkan bisikan suaranya. Hingga entah dari mana, di ujung rasa rindu dan keputusasaan untuk menemukannya, tiba-tiba muncul gagasan gila tersebut. Gagasan yang benar-benar gila.

 

Pria itu mungkin akan datang kembali, jika di keluarga ini ada pemakaman berikutnya. Ya, kenapa tidak.  Pasti ia akan datang kembali, jika di keluarga ini ada pemakaman berikutnya. Aku tak bisa menghentikan otak jahatku berpikir tentang gagasan tersebut. Semakin lama semakin keras menghantam jantungku. Dan bukankah dari dulu aku memang tidak menyukai anggota keluarga lainnya. Harus ada yang mati di keluarga ini sebagai harga pertemuan dengannya.

 

Maka malam itu aku memasukkan bubuk racun brucine ke dalam tablet obat peramping tubuh Sofia. Ia berhak mendapatkannya. Terlebih aku berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk bertemu kembali dengan pria misterius itu.

 

Di sore hari pemakaman Sofia, di tengah-tengah kesedihan para pelayat, pria gagah itu kembali datang. Dengan tuksedo hitam legam, dasi hitam kelam, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata hitam hebat. Aku terkesima melihat kehadirannya lebih dari saat pertama kali dulu bertemu. Seperti para pelayat lainnya, ia mendekatiku mengecup tanganku takzim, berbisik tentang duka cita. Dan hatiku tiba-tiba entah terbang kemana.

 

Ia melepas kaca mata hitamnya, dan kami berdua untuk beberapa kejap bertatapan dalam sekali. Tidak hanya itu, ia bahkan memelukku erat-erat. Gemetar badanku menahan luapan perasaan itu. Aku benar-benar dimabukkan, sama sekali tidak peduli dengan kenyataan bahwa pertemuan ini sangat mahal harganya. Sayang sekali, ketika acara pemakaman Sofia berakhir, pria gagah itu untuk kedua kalinya hilang entah kemana.

 

Aku semaput dalam perasaan rindu. Aku ingin menghambakan diri dalam pelukannya. Aku menginginkannya, tetapi tidak tahu harus mencarinya kemana. Dan tidak mengejutkanku ketika cepat sekali gagasan yang sama itu muncul kembali di otakku. Pria itu akan datang jika ada pemakaman berikutnya di keluarga ini. Jika ada pemakaman itu berarti harus ada yang mati di keluarga ini. Dan Ajeng, yang selama ini memanfaatkan ayah untuk mengejar popularitasnya layak menjadi tumbal pertemuanku dengan pria itu.

 

Malam itu aku membubuhkan sebotol racun arsenik dalam minuman Ajeng. Keesokan paginya, pura-pura aku hendak membangunkannya, dan persis seperti dugaanku, gadis binal itu ditemukan mati tertelentang di kamar mandinya. Menjadi harga yang harus dibayar.

 

***

 

Satu dua para pelayat meninggalkan pemakaman. Senja semakin kelam. Hujan turun semakin deras. Aku gemetar memegang payungku. Menatap nanar sekeliling. Pria gagah itu belum juga kelihatan batang hidungnya.

 

Deru mobil distarter terdengar ramai, kemudian dengan pelan dan khidmat meninggalkan tanah merah pemakaman, menyisakan deretan kendaraan yang sekarang bisa dihitung dengan jari tangan. Pria misterius itu belum juga datang.

 

Petugas pemakaman membenahi peralatan hatihati, takut mengganggu kesendirianku. Malam datang menjelang. Hujan turun semakin gila. Petir sambarmenyambar diselingi dengan hentakan guruh.

 

Pria itu belum juga datang.

 

Mungkin ia sudah terbiasa dengan satu pemakaman. Mungkin sekarang dibutuhkan dua pemakaman sekaligus untuk membuatnya datang. Otak jahatku tak terkendali bergemuruh mencari alasan. Ya, dua pemakaman sekaligus. Memikirkan itu, aku menyeringai tersenyum lebar: kedua anak kembar Sofia sekarang pasti sedang tertidur pulas di kamarnya.

 

***