MMSPH 7: Hiks! Kupikir kau naksir aku

by Darwis Tere Liye on Monday, 05 September 2011 at 07:19

HIKS! KUPIKIR KAU NAKSIR AKU

 

Ini benar-benar menyebalkan, tabiat Putri mirip banget dengan cewek lain yang sedang jatuh cinta. Selalu membesar-besarkan sebuah kejadian. Tertawa riang saat menceritakan kejadian-kejadian sepele tersebut. Seolah-olah itu pertanda cinta yang sempurna kalau yang sedang ditaksirnya benar-benar juga menyukainya.

Bayangin, cowok itu lagi kentut saja, mungkin bisa diartikan Putri kalau tuh cowok grogi saat ketemu dengannya. Apalagi pas lihat mukanya memerah. Keringatan. “Aduh, aku nggak nyangka dia bakal se-nervous itu, Tin! Kayaknya dia juga suka ke aku, deh!” Mata Putri berbinar-binar macam bintang kejora saat menceritakannya. Padahal kalau Putri mau waras sedikit, jelas-jelas cowok itu sedang kebelet mau ke belakang. Pengin puf! Tapi mana ada coba rasionalitas bagi orang yang sedang jatuh-cinta setengah mampus seperti Putri?

Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang. Orang-orang yang jatuh-cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik…. Padahal saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah-hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah? Siapa yang mempermainkan siapa, coba?

Untuk menjelaskan urusan ini, dan agar kalian paham betapa menjengkelkan tabiat Putri selama seminggu terakhir, akan aku daftar berbagai kejadian remeh-temeh yang justru bagi Putri seperti pertanda terbesar dalam kehidupan cintanya. Semoga setelah itu kalian juga bisa membandingkannya dengan tabiat kalian selama ini. Ternyata perasaan itu semua hanya ada di hati kalian doang. Dia? Nggak sedikit pun! Kalian apa mau dikata hanya bertepuk sebelah-tangan, hihi.

 

***

Kejadian Pertama. Rio. Ganteng? Jangan ditanya.

Rio satu kampus denganku dan Putri. Sejak dulu Putri sudah menjadi penggemar beratnya.

Hanya saja selama ini belum ada kesempatan. Belum ada pemicunya. Jadi ya Putri sebatas pengagum rahasia. Paling hanya celetukan di warung tenda sepanjang jalan depan kostan saat kami makan malam. Hanya itu. Putri belum naksir berat dengan Rio. Sama-lah seperti teman-teman cewek lainnya yang asyik membicarakan cowok keren.

Celakanya, persis seminggu lalu dimulailah seluruh rangkaian kejadian menggelikan ini. Perasaan terpesona Putri tercungkil sudah. Malam itu selepas dari warung tenda, aku dan Putri berkunjung ke Bubu! Kafe buku dekat kostan. Tempat yang asyik buat baca buku. Konsepnya separuh kafe, separuh toko-buku. Cozy. Menyenangkan menghabiskan waktu di sana. Duduk nyaman dengan segelas jus segar. Koleksi mereka nggak sekomplet toko-buku besar, tapi untuk novel-novel pop cukup memadai. Sari teman kostan juga ikut ke Bubu. Malam itu Putri entah mengapa mau saja ikut. Padahal ia paling benci disuruh baca novel. Hidupnya memang selama ini hanya dihabiskan untuk belajar, hihi.

Aku, Sari dan Putri duduk di salah satu sudut ruangan. Lihat, tuh! Sementara aku tenggelam membaca sebuah novel hasil karya pengarang domestik amatiran, Putri asyik mengerjakan PR kuliah! Lengang. Setengah jam berlalu begitu saja.

Dan eng-ing-eng, coba tebak siapa yang datang persis saat jam berdentang 24.00, eh becanda ding, maksudku persis pukul 20.00. Yups! Rio yang mengenakan jeans belel dan kaos putih. Rio yang berbasa-basi dengan penjaga Kafe. Lantas melihat ke sekeliling. Rio yang kemudian melambaikan tangannya kepadaku. Tersenyum lebar.

Biasa saja, kan? Aku kenal baik dengan Rio. Sama seperti Putri juga mengenalnya. Kami jelas-jelas satu kampus? Rio lantas rileks beranjak ke sudut ruangan. Entahlah, mungkin mencari buku yang diinginkannya. Tapi apa yang sedang dipikirkan Putri saat itu, tiba-tiba mukanya bersemu amat merahnya. Aku tidak terlalu memperhatikan.

Satu jam berlalu. Satu jam yang aku pikir juga biasa saja. Tidak ada kejadian penting. Hanya desis suara kipas AC yang terdengar. Aku membawa pulang novel yang baru setengah selesai kubaca. Bubu menyediakan fasilitas pinjam-meminjam. Putri menumpuk kertas PR-nya.

Tapi tahukah kalian apa yang terjadi ketika kami persis tiba di kamar kostan. Putri sempurna mengajakku bicara tentang Rio!  Bertanya banyak hal, berkomentar banyak hal. Rio! Rio! Kemudian di sana-sini terseliplah apa yang tadi kubilang? Ilusi hati yang menipu otak.

“Dia tadi pas masuk melambaikan tangannya ke gw, Tin. Dia tersenyum lebar…. Gw nggak nyangka kalau dia begitu ramah. Aku pikir orangnya sombong!”

Aku hanya mengangkat bahu. Well, siapa pula yang bilang Rio sombong? Cowok yang baik. Siapapun juga akan lazim melambaikan tangan satu-sama lain, kan? Biasa saja!

“Lu tahu nggak, Tin, satu jam terakhir di Kelambu, Bambu, eh Bubu ya namanya? Dia sering banget ngelihat ke meja kita. Gw malah sempat bersitatap dengannya satu kali. Dia tersenyum lebaaar banget….”

Well, itu juga biasa saja, kan?

“Eh, nggak sekali deh Tin…. Dua-eh kayaknya lebih dari dua kali! Duh, tampannya….” Muka Putri mulai memerah.

Aku menatapnya penuh selidik (waktu itu sih aku belum sejengkel sekarang melihatnya). Tertawa lebar.

“Lu naksir Rio, ya?” Menggoda.

Putri melemparku dengan bantal guling.

“Kenapa ya dia sering banget ngelirik ke meja kita tadi?” Putri mematut-matut. Menatap langit-langit kamar kostan.

“Itu kan perasaan lu dong, Put!”

“Nggak, kok. Beneran….” Putri ngotot.

“Yaaa, lagian biasa saja, kan. Nggak selamanya orang baca selalu melotot ke bukunya. Lu juga sering sekali-dua rileks menatap sekitar….” Aku memungut guling yang jatuh.

“Tapi ini beda, Tin. Gw kan tahu mana lirikan yang tidak sengaja, mana yang disengaja….” Putri bersemu merah.

Aku mengangkat bahu. Sudah larut. Malas melanjutkan percakapan. Aku juga malas memikirkan kelanjutan obrolan kami. Paling hanya percakapan iseng untuk yang ke sekian kalinya. Tapi apa daya, tanpa kusadari, malam itu perasaan Putri ke Rio sempurna tercungkil sudah.

 

***

 

Kejadian Kedua. Malam berikutnya Putri semangat banget berkunjung ke Bubu. Menyeretku. Aku hanya tertawa kecil. Sari, teman kami satu kostan lainnya ikut lagi, pengin balikin buku.

Sepanjang perjalanan Putri berkali-kali bilang soal, semoga Rio ada di sana. Bertanya lagi tentang Rio. Berkomentar lagi tentang Rio. Rio! Rio! “Eh, gw yakin banget bakal ketemu dia, kok! Kalian kok sirik banget, sih!” Putri menjawab sebal saat aku dan Sari menggodanya tentang penderita psikis obsesif yang sok-tahu.

Dan benar saja, Rio ada di sana. Lagi-lagi tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Aku pikir Putri agak berlebihan membalas senyum dan lambaian itu. Tapi sudahlah.

Malam itu jadwal bacaku dua jam di Bubu mendadak berubah amat menyebalkan. Aku, Sari dan Putri duduk satu meja. Putri berkali-kali menyikut lenganku setiap kali Rio menatap meja kami. Aku terpaksa mengangkat kepala, melihat Rio yang mengangguk ke meja kami. Aku ikut tersenyum, basa-basi membalas anggukan.

Dan itu benar-benar jadi ‘bahan pembenaran’ ilusi Putri kalau Rio memang sengaja atas berbagai lirikan tersebut saat kami kembali ke kostan.

“Apa yang aku bilang semalam, dia memang sengaja melihat ke meja kita, kan. Dia memang sengaja melirik gw?” Putri berkata antusias. Pipinya merona. Membayangkan kemungkinan terindah yang ada di benaknya.

“Biasa saja lagi, Put…. Lu aja yang keseringan ngelirik dia…. Jadi dia reflek mengangkat kepalanya. Siapapun yang sedang diperhatikan pasti reflek menoleh ke orang yang sedang menatapnya, kan? Itu logis! Rio hanya merasa lu terlalu sering memperhatikannya. Jadi dia juga sering melirik lu…. Mahasiswa psikologi tahun pertama saja tahu analisis aksi-reaksi sederhana seperti itu, Non!” Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak memedulikan.

“Lu kenapa sih nggak suka lihat teman senang?” Putri melemparku lagi dengan bantal. Sebal.

Aku tertawa.

“Lagi pula lu lihat sendiri apa yang gw bilang soal Rio pasti ada di Kelambu, eh, Bambu, eh Bubu tadi. Benar, kan? Dia ada di sana! Dia pasti sengaja menyempatkan datang buat bertemu lagi, kan. Sama seperti…. Eh, maksudku sama seperti kita!” Putri bersemu merah.

Aku tertawa lebih lebar. Maksud Putri sebenarnya sama seperti dirinya yang maksa-maksa datang lagi ke Bubu. Lazimnya kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, terus ada feeling satu-sama lain saat pertama kali bertemu, esok-lusa kalian biasanya akan memaksakan diri untuk kembali ke tempat pertemuan pertama. Itu lumrah. Seperti ada sesuatu yang mengendalikan perasaan kalian. Tapi kasus Putri beda banget.

Aku malas menjelaskan kalau sebenarnya Rio memang setiap malam berkunjung ke Bubu. Bahkan jauh-jauh hari sebelum aku terbiasa datang ke sana (juga) setiap malam. Tapi malam itu aku tak bisa berhenti berpikir. Jangan-jangan Putri benar. Tidak biasanya Rio melirik ke meja tempatku duduk selama ini, kan? Jangan-jangan dia naksir….

Jelas-jelas pasti bukan naksir Putri…. Aku mengusir jauh-jauh kemungkinan itu.

 

***

 

Kejadian Ketiga. Malam berikutnya. Seperti yang kalian duga, aku dan Putri kembali berkunjung ke Bubu. Kali ini dengan semangat pembuktian. Tadi sepanjang siang aku menggodanya: “Itu hanya perasaan lu dong, Put!” Dan Putri yang marah, mengajakku untuk membuktikannya malam ini.

Yups! Rio sudah duduk rapi di meja seperti biasanya. Dan dua jam itu benar-benar berubah menjengkelkan bagiku. Putri menyikut, menginjak kaki, mencubit, bahkan hampir menarik rambutku setiap kali melihat Rio melihat ke meja kami.

“Biasa saja dong, Put!” Aku mendesis bete.

“Dia ngelihatin gw, tuh!” Putri berbisik dengan wajah sempurna merah.

“Gimana dia nggak akan balik ngelihatin lu, kalau lu nggak sedetik pun berhenti menatapnya….” Aku menjawab mengkal.

Rio di seberang meja menganggukkan kepala. Tersenyum. Aku pura-pura ikut tersenyum. Basa-basi melambaikan tangan.

“Bisa nggak sih lu bersikap biasa saja? Rio mungkin saja risih dengan kelakuan lu yang menatapnya terus!” Aku menarik tangan Putri yang melambai ‘genit’.

Putri hanya mendesis. Mencubit pahaku. Ampun, dah! Lumrah kan kalau Rio berkali-kali menatap Putri. Lah, Putri ‘melotot’ tak henti melihatnya. Malam itu aku mulai jengkel.

Celakanya, saat kami beranjak pulang (aku lama membujuk Putri agar mau pulang), Putri tidak sengaja meninggalkan selembar berkas PR-nya di meja. Rio berseru memanggil saat kami hampir tiba di pintu keluar Bubu.

“Kertasnya ketinggalan, Put!” Rio tersenyum.

“Eh…. Eh-iya, lupa….” Putri sedikit salah-tingkah.

“Kan repot kalau gw mesti antar kertas ini ke kostan lu…. Gw kan nggak tahu kostan lu….” Rio tertawa lebar.

Putri mendadak gagap menjawabnya. Menerima kertas itu dengan tangan sedikit bergetar. “Makacih….” Berkata pelan.

Aku sudah menariknya buru-buru. Sebelum Putri melakukan hal-hal yang memalukan, hihi. Dan Putri benar-benar buncah saat kami tiba di kamar kostan.

“Apa lagi coba maksudnya. Jelas-jelas dia nanya alamat kostan gw, kan?” Putri berseru riang, sibuk ‘menganalisis’ kejadian sekaligus kalimat Rio barusan.

“Kenapa lu nggak sebut saja alamatnya tadi? Biar dia bisa ngelihat kelakuan aneh lu sekarang!” Aku menjawab malas. Masa’ sih kalian bisa menyimpulkan kalimat Rio tadi sebagai tanda: boleh aku tahu alamat rumahmu?

“Dasar anti-sosial!” Putri menimpukku dengan bantal, “Lu, emang nggak pernah senang lihat orang lain bahagia, Tin! Bukannya lu tadi yang narik gw buru-buru pergi!“

Aku tertawa lebar. Come-on! Jelas-jelas kalimat Rio barusan nggak ada maksudnya! Hanya bergurau. Bagaimana mungkin Putri menganggapnya se-serius itu?

Malam itu aku lebih banyak lagi berpikir. Rio tahu nama Putri? Jangan-jangan apa yang disangka Putri benar, Rio naksir Putri. Aku mengumpat langit-langit kamar. Itu tidak mungkin. Jelas-jelas maksud kalimat Rio tadi ke aku, kan? Hanya saja ia merasa jauh lebih nyaman kalau menyampaikannya lewat Putri. Aku tersipu malu. Melempar guling sembarangan….

 

***

 

Kejadian Keempat. Kali ini benar-benar membuatku jengkel sekaligus bingung. Hari keempat. Itu persis hari ulang-tahun Putri. Malam itu kami tidak ke Bubu, meski Putri sengotot apapun hendak pergi ke sana. Lagi pula Putri memang tidak merencanakan pergi ke sana.

Kami merayakan ulang-tahun Putri di salah-satu warung tenda yang banyak memadati sepanjang jalan. Soto Konro. Aku, Sari dan beberapa teman sekostan ramai memenuhi meja panjang. Putri yang traktir. Sepanjang makan kami bukannya bilang terima-kasih, kami justru sibuk menggoda Putri dengan gumpal perasaannya itu. Putri mengkal banget saat aku lagi-lagi bilang tentang itu hanya perasaannya doang. Dan semua teman yang lain mengamini-ku.

Putri mendesis kalau ia dan Rio memang benar-benar ada feeling satu sama lain saat bertemu di Bubu. Aku tertawa lebar. Teman-teman yang lain ikut tertawa. Tetapi, astaga! belum habis tawa-ku, belum lenyap suara riuh-rendah itu, entah bagaimana penjelasannya, Rio mendadak muncul di warung tenda itu. Dengan jaket tebal keren. Sek-si!

“Hei…. Allo semua…. Eh, kalian sedang ada di sini? Lagi kumpul semuanya? Kebetulan banget.” Rio tersenyum amat gagah-nya. Membuat keributan terhenti sejenak.

Dan kalian bisa membayangkan apa yang terjadi malam itu di kamar kostanku. Aku kehabisan peluru untuk memutar balik semua kalimat Putri.

“Itu kebetulan, Put! Kan Rio juga bilang kebetulan—” Aku mulai putus asa.

“Sengaja, Tin! Nggak mungkin dia kebetulan doang datang ke tenda itu tadi, semua orang di planet ini juga tahu kalau gw ulang-tahun malam ini….” Putri memotong, tersinggung.

“Oke sengaja…. Tapi belum tentu juga pengin nemuin lu, kan? Bisa jadi sengaja ingin bertemu dengan orang lain—“

“Siapa?” Putri memotong galak.

Aku terdiam menggigit bibir.

Putri menatapku tajam. Menyelidik.

“Ah— Gw ngerti kenapa lu selama ini selalu membantah seluruh kalimat gw…. Lu juga naksir Rio, kan? Ayo ngaku!” Putri mendadak tertawa.

Aku buru-buru menggeleng. Meski muka bersemu merah.

“Ayo ngaku, Tin! Lu juga naksir dia, kan? Aduh, Tina cayang…. Kacian…. ternyata Rio naksir gw…. Jangan patah-hati ya….” Putri tertawa amat lebarnya. Senang dengan fakta baru tersebut. Malam itu aku yang menimpuk Putri dengan bantal guling. Menyebalkan.

 

***

 

Kejadian Kelima. Dan sejak malam ulang-tahun Putri, tidak ada lagi diskusi menarik antara aku dan Putri soal Rio. Aku bukan hanya semakin jengkel dengan laporan Putri atas hal-hal sepele yang seolah-olah pertanda cinta terbesar miliknya. Aku juga semakin jengkel karena Putri balas membalik kalimatku, “Lu nggak terima ya kalau Rio ternyata beneran naksir aku?”

Dan kalimat itu sungguh membuatku salah-tingkah. Baiklah, kuakui saja kalau aku memang naksir Rio. Tapi setidaknya aku masih bisa berpikir logis. Mana yang sebenarnya pertanda cinta, mana yang hanya sekadar kebetulan, dialog biasa, atau sejenisnyalah! Aku juga berharap selama ini Rio akan memberikan pertanda isi hatinya, tapi bukan berarti aku akan ngarang-ngarang pertanda itu. Membiarkan hati membuat ilusi. Membiarkan hati menyimpulkan hal keliru (yang aku tahu benar itu semua semu). Putri hanya tertawa cekikikan saat aku mati-matian membela diri dan menjelaskan teori itu.

Aku mengumpatnya sebal. Semoga Putri tidak sakit-hati saat tahu kalau sebenarnya segala lirikan Rio, senyuman Rio, dan juga pertemuan tidak sengaja di ulang-tahunnya itu sebenarnya untukku. Bukan untuknnya. Aku berseru jengkel. Putri malah bertingkah semakin menyebalkan.

Maka datanglah kejadian kelima itu. Yang benar-benar membuat Putri menyadari kalau ia selama ini keliru. Tadi pagi aku dan Putri bertemu Rio di kampus. Seperti biasa aku pikir Putri berlebihan bersikap. Kami membicarakan urusan biasa-biasa saja. Kuliah, dosen, dan sebagainya. Yang aku yakin nanti bisa-bisanya Putri menterjemahkannya jadi luar-biasa.

Tapi kali ini Putri tidak berkesempatan lagi. Entah mengapa pembicaraan mendadak menyinggung konser musik esok-malam di JHCC. “Aku punya dua tiket, lu mau ikut?” Rio menunjukkan dua tiket miliknya.

Putri semangat banget mengangguk.

Ya ampun, yang diajak ternyata aku. Senyap menggantung. Tamat sudah riwayatnya. Aku tidak tahu harus bilang apa saat Rio mengajakku. Apakah aku bahagia? Apakah aku sedih? Lihatlah, Putri hanya terdiam sepanjang sisa pertemuan di kampus. Malamnya juga mengurung diri di kamar. Patah-hati. Aku memutuskan untuk tidak pura-pura sok-baik bersimpati padanya malam ini. Lihatlah, saat ilusi itu terkena cahaya kebenaran yang tersisa hanyalah kesedihan. Sendu. Besok-besok kalau sempat aku akan membujuknya untuk melupakan seluruh perasaan itu.

Rio mengajakku nonton? Nah, kalau itu jelas sudah pertanda cinta yang luar-biasa. Itu benar-benar menjelaskan kenapa ia selalu tersenyum dan melambai setiap melihatku di Bubu. Selalu sembunyi-sembunyi menatap meja bacaku. Juga datang sengaja ke ulang-tahun Putri. Itu menjelaskan semuanya….

Aku bersenandung riang memikirkan hal tersebut.

 

***

 

Esok malamnya. Aku menyiapkan gaun terbaik. Berdandan semenarik mungkin. Lantas riang menuju jalanan depan kostan. Menunggu Rio menjemput di depan Bubu. Putri menatapku dengan mata terluka dari balik jendela. Entahlah! Aku tidak sempat memperhatikannya.

Rio seperti biasa tersenyum lebar menemuiku. Gagah sekali. Dan Sek-si. Aku benar-benar bangga bersanding bersamanya. Inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya pertanda cinta. Bukan bualan hati yang mereka-reka. Rio melambai memanggil taksi biru. Kami melaju menuju JHCC. Bukan main. Ini akan jadi kencan yang hebat.

“Tin, aku boleh tanya sesuatu, nggak?” Rio memutus senyum manyunku. Dia menatapku sambil tersenyum lebar.

Aku mengangguk (cepat). Tersipu malu. Sesuatu?

“Tapi kamu jangan tertawa, ya?” Rio bersemu merah.

Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku mentertawakannya. Aku semakin buncah oleh perasaan menunggu. Akhirnya—

Hening sejenak. Rio mematut-matut apa yang akan dikatakannya. Aku tertawa melihat muka tegangnya.

“Tuh, kan…. Kamu sudah tertawa duluan!”

“Sorry…. Nggak deh. Aku nggak akan tertawa!”

Rio mengusap wajahnya yang berkeringat.

Aku menunggu dengan hati berdebar-debar.

“Eh…. Ergh…. Sari tuh sudah punya pacar belum?”

Seketika aku mematung.

“Sa-ri?”

“Ya, Sari…. Satu kost sama lu dan Putri, kan?”

Seketika luntur seluruh kebahagiaan itu.

Kepalaku mendadak pusing. Berkunang-kunang. Aku sungguh tidak bisa mendengarkan lagi kalimat Rio berikutnya.

“Tin, aku sudah lama banget naksir Sari. Tiga hari lalu waktu lihat lu, Putri dan Sari di Bubu, aku nggak bisa menahan diri untuk berhenti meliriknya…. Menatap wajah cantiknya…. Aku dari dulu sudah mau nanya-nanya ke lu, tapi selalu cemas lu bakal ngetawain…. Sayang, pas gw bilang nggak tahu kostan Putri di mana, lu nggak mau jawab, malah kabur….

Kepalaku semakin pusing…. Ternyata, ini semua maksudnya….

“Waktu Putri ulang-tahun aku juga sengaja datang, Tin…. Biar ketemu Sari…. Ampun, kenapa gw jadi malu-maluin gini, ya? Harusnya gw bisa ngajak Sari ngobrol langsung malam itu, kan…. Tapi sudahlah…. Malam ini gw ngajak lu nonton konser sebenarnya pengin nanya-nanya soal Sari…. Lu nggak keberatan kan, Tin?”

Aku tidak lagi mendengarkan kalimat Rio. Aku sudah terkapar di atas kursi mobil taksi. Ilusi itu! Ya Tuhan, aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta.

Putri! Hiks! Ternyata kita senasib….

***