MMSPH 10: Kotak-Kotak Kehidupan Andrei

by Darwis Tere Liye on Thursday, 08 September 2011 at 07:21

Kotak-Kotak Kehidupan Andrei

 

Rumah kami tak jauh berbeda dengan rumah tetangga sekitar. Jadi setiap arisan itu dilakukan, ibu-ibu tidak banyak berkomentar dan tidak memelototi satu persatu barang-barang yang terpajang di ruangan.

Mereka tidak tahu, sih.

Di ruangan terjauh dan terdalam rumah kami, di pojok tergelap dan berdebu, di ketinggian atas lemari yang sulit dijangkau tangan kanak-kanakku, ibuku meletakkan benda kami yang paling indah, yang menurutku jauh lebih berharga dibandingkan seluruh rumah dan seisinya di sepanjang gang Potlot ini.

Benda itu adalah sebuah kotak.

Aku malam-malam, setelah ibu terlelap dalam tidurnya, suka sekali mencuri-curi pandang kotak itu. Berjinjit di atas lantai berdebu, menggenggam erat sepucuk senter, berhati-hati menyeret dan menaiki sebuah kursi. Dan di antara buramnya cahaya senter, kotak itu berpendar indah. Amat cantik. Kau letakkan dimana saja, benda ini akan cocok dengan sendirinya.

Seluruh permukaan dan sudut-sudutnya mungkin dibuat oleh pemahat terbaik yang pernah ada. Membuat bunga-bunga, kupu-kupu, dan berbagai bentuk lainnya seperti hidup menyenandungkan kegembiraan. Tiba-tiba aku jatuh cinta dengan kotak ini. Dan akhirnya setiap malam aku selalu menyempatkan diri menjenguk, sekadar untuk membelainya.

Pernah suatu ketika guru kami di sekolah bercerita soal kotak pandora yang terkenal itu. Kotak yang menurut guru kami amat indah dan mempesona, tak ada duanya di dunia. Mendengar guruku mendeskripsikan bentuknya, tanganku reflek teracung dan berseru, “Ada satu yang seperti itu di rumah kami!” Seluruh isi kelas riuh mentertawakanku.

Mereka tidak tahu, sih.

Tetapi bukan soal ketidakpercayaan itu yang tibatiba membuatku tidak nyaman. Saat guru kami bercerita lebih lanjut isi kotak pandora itu, di jantungku tumbuh dengan sangat cepat dan liarnya rasa penasaran. Apakah sebenarnya isi kotak di rumah kami? Apakah seseram isi kotak pandora yang keluar pertama? Atau seindah isi kotak pandora yang keluar berikutnya? Bagaimana pula aku yang selama ini setiap hari membelainya, tidak pernah tergerak sedikit pun untuk membukanya jauh-jauh hari. Maka, malam ini kuputuskan mengintip isi kotak itu.

Seperti malam kemarin, malam minggu lalu, dan malam-malam lainnya sepanjang tahun ini, aku kembali menyelinap ke dalam ruangan itu. Debu tebal di lantai menyisakan bekas telapak kakiku. Semakin dekat dengan kotak itu, jantungku berdegup semakin kencang. Sepertinya kakiku tak akan sanggup berdiri lama di atas kursi yang pelahan mulai bergemeletuk karena gentarku. Tanganku sudah terjulur menyentuh kait penutup kotak itu, tinggal se-mili detik lagi, ketika tiba-tiba tanpa kusadari ibu sudah berdiri di ambang pintu.

Menakutkan sekali melihat wajah ibu malam itu. Untuk ukuran wanita tua, kurus, berwajah penuh kesedihan dan sedikit tak terawat, ia lebih terlihat seperti seekor harimau yang memegang sebilah sapu. Ibu menyeret, membentak, berteriak dan semua kemarahan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku menangis tersedu, bukan merasa bersalah, tapi lebih karena kaget. Lama kemarahan ibu baru terhenti. Hingga akhirnya ia juga ikut menangis memelukku. Diantara sesunggukan ibu berkata, “Berjanjilah Andrei, kamu tidak akan pernah membuka kotak itu lagi!”

Aku mengangguk lemah.

“Berjanjilah, kamu tidak akan pernah melihatnya lagi, tidak akan pernah sedikit pun memikirkannya lagi!”

Aku menatap menurut.

“Dengarkan nak, kehidupan ini tak selalu memberikan kita pilihan terbaik, terkadang yang tersisa hanya pilihan-pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegangan dengan pilihan kedua yang terbaik, selalu berpegangan dengan pilihan kedua yang terbaik… melupakan pilihan pertama yang tak pernah bisa kau capai… meskipun ayahmu dulu tak bisa melakukannya….”

Aku mengangguk lemah.

Hari-hari berikutnya, kotak itu benar-benar kulupakan, apalagi mencoba melihat dan mengintip isinya. Hingga rumah kami dijual lima tahun kemudian, hingga ibuku meninggal dua puluh tahun kemudian, hingga aku memtuskan untuk pindah keluar pulau melupakan penderitaan ibu membesarkanku sendirian. Hingga aku menikahi Sofia sepuluh tahun silam, dan memiliki keluarga dengan tiga bidadari kecil kami.

***

Jam peninggalan jaman Belanda itu berdentang enam kali. Ruangan ini kemudian senyap. Remang cahaya pagi menyelisip di antara dawai krey. Memperlihatkan kertaskertas bertebaran tak rapi di atas meja, beberapa binder voucher saling menumpuk di sudut sana. Kalender penuh coretan merah. Komputer berdenging pelan menarikan screen saver-nya, lupa dimatikan semalam. Dan aku yang terhujam dalam-dalam di atas kursi kerja. Tepekur. Menatap langit-langit.

Dua jam lagi, kehidupan kantor ini akan kembali. Orang-orang yang menagih pembayaran, tim sales yang sibuk soal distribusi barang, satpam depan yang mengantarkan koran langganan, dan akhirnya kepala cabang yang melewati pintu ruanganku, menawarkan minum kopi bersama di ruangannya, selalu begitu setiap hari.

Tadi pagi aku tidak sempat berpamitan dengan tiga bidadariku, apalagi mengecup pipi mereka sebelum berangkat sekolah. Sofia pun hanya memandangku penuh pertanyaan, tapi seperti biasa sedikit pun tak memiliki keberanian untuk mengeluarkannya.

Ini hari ketiga aku bergegas datang sepagi ini ke kantor yang sebenarnya hanya sepelemparan batu dari rumah kami. Ada sesuatu yang memaksaku. Menerkamku dalam sebuah ritual aneh. Menyeret masa kanak-kanakku. Gadis itu, di senin pagi yang menyebalkan tiga hari lalu datang mengetuk pintu. Aku terkesiap melihatnya, lama telah melupakan semua kenangan itu, dan lebih terperanjat lagi saat ia menyerahkan sebuah benda. Kotak pandora milik ibuku. Seluruh kenangan yang lebih lama lagi datang melibas seperti air bah. Melesat bagai anak panah. Terhujam dalam relung-relung memoriku yang sudah lama terhapus. Dan itu bukan semata rasa penasaran dan pertanyaan kanak-kanak tentang isi kotak.

Pagi beranjak matang, dari tadi lama sudah aku meneguhkan hati, maka dengan berjinjit aku menuju lemari sebelah meja. Menarik kursi kerjaku. Tanpa sesuluh penerangan melongokkan kepala di balik tumpukan dokumen, jantungku tiba-tiba berdetak kencang melihat kotak indah itu. Tergolek menggoda di tempatnya yang baru. Jemariku gemetar kencang maju terhulur hendak membelai ukirannya yang elok.

TIDAK! Aku terperanjat, tentangan hatiku itu keluar kuat sekali, membuatku terjengkang. Dengan nafas tersengal aku kembali duduk membenamkan diri di atas kursi kerja.

Hari berikutnya. Sayangnya, rasa penasaranku tumbuh diluar jangkauan akal sehat. Dan di tengahtengahnya, dengan subur segala sesuatu itu muncul kembali menyesakkan. Janji-janjiku pada ibu untuk tidak membuka kotak itu memang membuatku bertahan, tapi itu hanya selama seminggu berikutnya. Pelahan-lahan aku kehilangan energi.

Janji-janjiku pada ibu untuk tidak melihat kotak itu memang membuatku bertahan hari-hari berikutnya, tapi itu hanya selama tiga hari. Dan janji-janjiku pada ibu untuk tidak mengintip isi kotak itu hanya mengendalikan perasaanku selama dua puluh empat jam saja. Apalagi kalimat yang lain.

Tidak, aku sudah lelah dengan kepercayaan kepada kata-kata ibu. Hingga hari ini, semua kehidupan yang kumiliki adalah pilihan kedua. Malah diantaranya ketiga dan entah keberapa. Apakah kemudian aku berbahagia? Aku meringis dalam hati. Hanya tiga bidadarikulah satusatunya dalam kehidupan yang menjadi pilihan pertama. Masalahnya aku sudah amat lama kehilangan semangat untuk mengejar pilihan terbaik dalam hidup. Pendidikanku selama ini, pilihan pekerjaanku, karirku, hingga ketika memutuskan untuk menikah dulu.

Memikirkan semua itu, kotak pandora di atas lemari ruang kerjaku semakin menggoda dan mengundang. Harihariku dipenuhi oleh pikiran membuka kotak itu. Menemukan sosok kedua yang keluar dari kotak milik Epimetheus itu. Membayangkan kebahagiaan yang akan kudapat. Entahlah, mungkin aku bisa menyelinap masuk ke dalam kotak, dan lari dari semua kenyataan hidup yang kumiliki. Aku hanya ingin sekali saja dalam kehidupan ini melakukan sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan, membuka kotak itu, apapun resikonya.

Maka setiap pagi aku meneguhkan diri, besok aku akan melihatnya, besok aku akan melihatnya, besok aku pasti akan mengintipnya.

Dan malam itu, hujan deras membasahi kota kami. Jam peninggalan jaman Belanda itu berdentang sembilan kali. Hatiku bulat sudah. Aku akan membuka kotak itu. Apapun akibat yang harus kutanggung.

Lampu ruangan kumatikan, daun pintu kukunci dua kali, termasuk dua selongsong pengunci atas-bawah. Sekarang aku memegang sepucuk senter mungil. Kilat menyambar membuat ruangan ini dalam beberapa kejap cukup terang berkali-kali.

Berjinjit aku menarik kursi ke dekat lemari. Kulepas sepatu menyisakan kaus kaki. Mantap sudah aku menaiki kursi itu, berdiri menyibak tumpukan dokumen yang menghalangi. Kotak itu bersinar teramat indah. Panca indraku merinding merasakan pesonanya.

Gemetar tanganku menyentuh permukaannya. Mataku terpejam merasakan seluruh kerinduan yang tertumpah. Tidak. Tidak ada sesuatu yang harus ditakutkan dengan kotak ini. Ibuku pasti berbohong. Lihatlah bagaimana mungkin barang seindah ini akan membawa penderitaan?

Jemariku sudah memegang pengait besinya. Hidup hanya sekali, dan aku lelah dengan kepengecutanku mengambil keputusan. Pengait itu berkelotak pelan saat di tarik. Aku tersenyum pahit, ternyata hanya pengait  sekecil ini yang menjadi penghalang dengan pilihan-pilihan terbaik yang pernah ada di depanku. Dan qi sera-sera, bersamaan dengan suara guntur menggelegar di langit, kusingkap pelahan kotak itu.

***

Sofia berusaha mengelap airmatanya, si bungsu dari kemarin tergolek lemah di atas tempat tidur, demam. Ia menaruh handuk dingin di kepala anaknya, hati-hati. Membelai lembut pipi yang sekarang terasa panas. Tadi siang sebuah paket terhantarkan di depan pintu, paket yang aneh.

“Ma, Tania haus!”

Gadis kecil itu pelahan membuka matanya, berseru lemah menyadarkan lamunan ibunya. Tersenyum tanpa daya Sofia mengulurkan segelas air yang dari semalam tidak tersentuh. Tania batuk pelan, coba menelan. Ibunya ber-hss, menenangkan. Kedua anaknya yang lain tepekur di sekeliling ruangan.

“Ma, papa kok nggak pulang-pulang!” Gadis kecilnya bertanya pelan lagi, dengan tatapan penuh kerinduan.

Selarik kepedihan menerobos di kerongkongan Sofia. Suaranya hilang sebelum tiba di bibirnya. Sebutir air mata jatuh menggelinding, tidak berkelotakan, tapi cukup untuk membunuh seketika kesunyian pagi.

Nak, apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan, karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu.

***