1st Journey at Sōzōtopia

 

Track 2 – Kelima Kandidat

 

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, SHINee’s Lee Taemin, Kim(?), Super Junior’s(?), Cho Hyo Ra

Support Cast :  –

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

 

Melihat sekilas saja sudah cukup memberi penjelasan kenapa negeri ini disebut sebagai Negeri Para Penerbang. Di sela-sela orang yang berjalan kaki, terlihat jelas orang-orang berseragam merah, mungkin aparat atau apalah, terbang ke sana kemari menaiki sehelai daun. Daun? Entahlah, hanya saja, benda itu memang mirip daun. Lebih tepatnya, daun linden besar. Dengan panjang kurang lebih 70 cm, daun itu sepertinya cukup untuk memuat 2, bahkan 3 orang sekaligus, berdiri tentu saja. Ada lagi sebuah benda yang bisa mengangkut lebih banyak penumpang. Benda yang melayang tinggi ini berbentuk oktagonal, mirip Gujeolpan, baki tradisional korea.

Hyo Ra berjalan perlahan, meninggalkan taman kota. Menyusuri jalan yang membentang panjang, menatap kesibukan disekitarnya dengan penuh minat, sedikit perasaan tak nyaman terselib dalam hatinya. Ini bukan kesibukan yang wajar, ada semacam ketegangan yang mengambang di udara. Semua orang bergerak taktis, seperlunya, tanpa basa-basi saling menyapa apalagi obrolan beramah-tamah. Suasana tegang itu  berlipat-lipat karena di sana-sini nampak para prajurit -atau apalah namanya- memasang wajah waspada. Pedang terselip di pinggang, busur dan anak panah tersampir rapi di bahu, rompi yang terbuat dari cincin-cincin baja. Apa yang sedang terjadi di negeri yang indah ini?

“PEMBERONTAK!!”

Teriakan keras bernada peringatan itu segera saja membuat ketegangan berekskalasi. Orang berseragam merah menggenggam hulu pedang erat-erat, memasang anak panah, merentangkan busur, berjongkok, menatap nanar ujung jalan. Galipnya, bukannya memasang formasi siap tempur, menghadang musuh, mereka justru berlindung sela-sela dinding gedung. Sementara itu, orang-orang tak berseragam mulai berjalan tergesa, lari lintang pukang, bergegas meninggalkan jalanan, masuk ke dalam banguanan, menutup pintu rapat-rapat. Menyisakan Hyo Ra yang masih menatap bingung bercampur antusias, Pemberontak? Ikut menatap ujung jalan, kepulan debu membumbung tinggi, derap kaki kuda, aroma ketegangan kian mengental.

Sepasukan berkuda berderap melalui jalan di hadapan Hyo Ra, berseragam hitam dengan ikat kepala bergambar naga biru. Semuanya menunggang kuda hitam, kecuali satu, namja jangkung yang berada di formasi terdepan. Ia menunggangi kuda putih besar, putih sempurrna laksana salju.

“Tampan,” guman Hyo Ra pelan.

Namja berambut ikal panjang itu seolah mendengar ucapan Hyo Ra, menarik kekang kuda, mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, pasukan itu serentak berhenti. Kuda putih itu berbalik, penunggangnya menatap tajam Hyo Ra dengan mata coklat beningnya, “Terima kasih,” tersenyum tipis.

Hyo Ra berjengit, sejurus kemudian balik tersenyum, “Bukan kau, tapi kudamu.”

Namja itu menaikkan sebelah alisnya, melompat turun dengan sangat lincah, “Benarkah?” Tanyanya ringan, tersenyum manis, “Minho,” ucapnya santai, mengulurkan tangan. Tak menggubris seruan memperingatkan dari orang yang sejak tadi berkuda disebelah kanannya, namja dengan ekspresi tegas, seragamnya sedikit berbeda dengan yang lain.

Hyo Ra menautkan alis, melempar pandangan tak berminat. Dia sudah tahu, orang didepannya ini adalah Minho, salah satu kandidat penerima mutiara naga.

“Bukan ‘kau’, namaku Minho. Pangeran berkuda putih, Choi Minho. Yah, kau cukup memanggilku Minho,” ucapnya sembari meraih tangan kanan Hyo Ra yang sama sekali tidak menyambut ulurannya.

Hyo Ra tersenyum sinis, entah mengapa, tapi nalurinya berkata bahwa namja satu ini sangatlah menarik, matanya sarat aroma misterius yang dilingkupi kegelapan pekat. Sangat kontras dengan wajah tampan dan senyum manis yang sedari tadi menghias bibirnya.

“Pangeran berkuda putih?” Gadis itu tergelak kecil, bergerak mendekati Minho, meletakkan tangan kirinya di dada Minho, mendongak, menatap lurus namja jangkung itu, mendekatkan wajah.

Minho menaikkan sebelas alisnya, tidak menduga Hyo Ra berani bertindak seperti itu. Naluri menuntunnya untuk sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hyo Ra, tanpa berpikir apa yang akan terjadi setelahnya. Sebuah ciuman ‘kah? Tepat saat hidung mereka nyaris bersentuhan, Hyo Ra memutar badan, sedikit mendorong bahu Minho, mengelus punggung kuda putih yang berdiri tepat di balik punggung namja itu.

Minho ikut berbalik, menatap tak percaya, tercabik antara kecewa dan lega, tersenyum lebar, “Lebih tertarik pada kudaku? Kau gadis yang aneh.”

Hyo Ra bergeming, tangannya memang sibuk mengelus lembut surai si kuda putih, tapi matanya tertancap pada namja yang tadi berseru memperingatkan Minho. Namja itu balik melempar pandangan waspada, curiga bercampur tidak suka pada Hyo Ra.

Gadis itu justru tersenyum puas, kandidat kedua. Bukan tanpa alasan Dragon mengantarnya ketempat ini, dia sudah bertemu dengan 2 dari 5 namja yang dimaksud. Namja kedua ini terlihat sedikit lebih tua dari Minho, memiliki mata hitam pekat yang tajam laksana mata elang. Memancarkan tekat kuat dan pendirian yang teguh. Sudah kebiasaan Hyo Ra untuk menilai seseorang melalui sorot matanya, bukankah mata adalah jendela hati?

“Kita harus segera pergi,” ucap namja dengan ekspresi wajah tegas, datar tanpa emosi, menatap tajam mata Minho.

Minho mendengus malas, “Sampai jumpa gadis aneh,” pamitnya riang, kembali menaiki kudanya.

Kali ini Hyo Ra melempar senyum manis pada Minho, mengangguk tipis, “Sampai jumpa Pangeran berkuda putih. Kau juga tampan, walau tak setampan kudamu.”

Minho ikut tersenyum, menatap mata Hyo Ra lamat-lamat. Sejurus kemudian ia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, pasukan berseragam itu berderap menjauh.

Tepat saat pasukan itu menghilang dibelokan jalan, dua orang berseragam merah mencengkeram lengan Hyo Ra, berseru galak, “Kau kami tangkap dengan tuduhan berhubungan dengan pemberontak!”

Gadis itu terbelalak tak percaya, “Hei! Alasan apa itu? Tadi saat para pemberontak itu datang, apa yang kalian lakukan. Bersembunyi?” Mendengus galak, “Sekarang hendak menangkapku hanya gara-gara pimpinan mereka mengajakku bicara?”

Kedua prajurit itu tak menggubris perkataan Hyo Ra, terus menyeret lengan gadis itu.

Hyo Ra meronta, membentak kasar, “Begini cara kalian memperlakukan rakyat? Bukannya melindungi, justru menuduh tanpa bukti!”

“Ada apa?” Sebuah suara membuat kedua prajurit itu serempak menoleh, merasa terganggu.

Hyo Ra ikut menoleh, darahnya berdesir, jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat saat melihat siapa yang baru saja angkat bicara. Kandidat ketiga. Namja tampan dengan raut wajah yang sempurna teduh. Dengan manik mata berwarna hijau bagai telaga, memancarkan kedamaian yang sangat menenangkan. Bahkan saat mengenakan baju rakyat biasa yang sangat sederhana seperti saat ini, aura kebangsawanan namja itu tetap memancar kuat. Gadis itu mendesah pelan, bergumam lirih, “Astaga… baru bertemu 3 orang saja rasanya aku hampir mimisan, bagaimana dengan orang keempat dan kelima?”

“Jangan ikut campur! Kecuali kau mau bernasib sama dengan gadis ini!” Bentak salah satu diantara mereka.

“Kalian tidak boleh menuduh sembarangan,” namja itu berucap ringan, terkendali.

“Cari mati kau rupanya!” Salah satu dari prajurit tampak naik pitam.

Namja bertampang bangsawan itu hanya tersenyum tipis.

“Jaga bicaramu Prajurit!” Sebuah suara lagi, kali ini datang dari ketinggian. Seorang namja berseragam merah tampak terbang diketinggian, mendarat tepat disebelah si penganggu.

Kedua prajurit itu serempak membungkuk, “Jenderal Kim,” memberi hormat, memasang wajah pias.

Perhatian Hyo Ra segera saja beralih pada namja yang baru saja mendarat itu. Walaupun ini adalah Negeri Para Penerbang, tetap saja terbang tanpa bantuan alat apapun bukanlah hal yang umum. Kandidat keempat. Yah, namja yang baru saja datang itu adalah kandidat keempat. Satu-satunya kandidat yang membuat Hyo Ra harus melipat dahi. Tak ada yang bisa dibaca dari mata namja ini. Bukan, bukan tidak ada. Lebih tepatnya, tidak bisa.

 “Gadis ini baru saja berbincang dengan pimpinan pasukan hitam!” Sahut salah satu prajurit yang menangkap Hyo Ra.

Orang itu melirik sekilas pada Hyo Ra, “Benarkah?”

Hyo Ra menelan ludah, “Benar. Dan prajuritmu ini menuduhku berhubungan dengan pemberontak,” menyeringai, “Apa salahnya menanggapi orang yang menyapaku? Apa itu melanggar hukum?”

Namja itu mengangguk kecil, “Kau pendatang baru di negeri kami ini ‘kan?” Menatap tegas pada prajurit yang masih mencengkeram erat lengan Hyo Ra, “Lepaskan dia.”

Belum sempat keduanya membantah, ia sudah memotong cepat, “Aku yang bertanggung jawab.” Perkataan yang diucapkan dengan nada tegas tak terbantahkan itu segera saja membuat nyali kedua prajurit itu menciut, melepas lengan Hyo Ra. Segera undur diri setelah membungkuk hormat.

“Maaf atas kelancangan mereka, Pangeran,” ucap Jenderal Kim pada namja berwajah bangsawan yang sedari tadi hanya asyik menikmati peristiwa yang terjadi.

Namja itu hanya tersenyum bijak, menjawab ringan, “Tak apa Jenderal. Hmmm… kau berniat mengejar Minho?”

Sang Jenderal tampak menarik nafas panjang, “Saya rasa sekarang bukan waktu yang tepat.”

Orang yang dipanggil ‘Pangeran’ itu lagi-lagi hanya tersenyum, menggangguk. Sang Jenderal  mengangguk hormat padanya sebelum akhirnya kembali terbang, tanpa melirik apalagi menoleh Hyo Ra. Tentu saja gadis itu menaikkan kedua alisnya, merasa diabaikan oleh Jenderal apalah itu. Kandidat keempat ini sungguh dingin, bahkan menatapnya pun tidak. Minho jelas-jelas menunjukkan ketertarikan. Kandidat kedua, setidaknya dia merasa perlu untuk melempar tatapan waspada. Dan orang yang saat ini ada didepannya, kandidat ketiga, “Terima kasih, Putra Mahkota Taemin,” Hyo Ra membungkukkan badannya, memberi hormat.

Ekspresi namja itu berubah, terlihat sedikit kesal, “Tidak perlu bersikap seperti itu, ehm, siapa namamu?”

“Hyo Ra, Yang Mulia.”

Sang Putra Mahkota menghela nafas, “Kau keras kepala. Panggil saja aku Taemin. Dari mana kau tahu siapa aku? Hmmm?”

“Siapa yang tidak mengenal Pangeran Taemin, Putra Mahkota Negeri Para Penerbang?” Sahut Hyo Ra, retoris.

Taemin memandangnya penuh pertimbangan, “Benar, tapi sangat sedikit yang mengenali wajahku.”

Hyo Ra menepuk dahi, “Ah-ya. Bahkan prajuritmu saja tidak tahu kalau kau adalah Putra Mahkota mereka,” terkekeh geli. “Aku pernah melihatmu di suatu tempat, ehm, seperti itulah.”

“Dimana?”

“Ehm, di mimpi, mungkin. Deja Vu?” Hyo Ra tersenyum tanggung.

Taemin tersenyum, “Deja Vu? Kau percaya pada hal-hal seperti itu?”

“Tentu. Sama percayanya bahwa aku dan kau ditakdirkan bertemu,” Hyo Ra mengendikkan bahu, menyeringai.

Taemin tertawa renyah, “Tentu saja. Tidak semua orang beruntung ditakdirkan bertemu denganku.”

“Astaga… ternyata kau Pangeran yang sangat percaya diri, kalau tak boleh disebut narsis,” Hyo Ra membulatkan mata, memasang wajah sok tak percaya.

Taemin ikut-ikutan membulatkan mata, memasang wajah sok tersinggung , “Astaga… berani-beraninya kau mengataiku narsis.”

“Kau Pangeran yang sangat menyenangkan,” Hyo Ra tersenyum lebar, buru-buru menambahkan saat melihat Taemin menautkan alis, “Ehm, maksudku, kau sangat ramah, tidak sombong atau sok aristokrat seperti pangeran-pangeran lainnya,” menyeringai lebar.

Taemin tersenyum simpul, “Kau pernah bertemu pangeran lain selain aku?”

Hyo Ra mengendikkan bahunya, teringat si ‘Pangeran Berkuda Putih’, menggeleng cepat, membuat Taemin terkekeh geli melihatnya.

Situasi di jalanan itu mulai kembali sedikit normal, beberapa orang terlihat keluar dari persembunyiannya. Melanjutkan aktivitas masing-masing, masih dengan gerakan yang terkesan taktis dan efisien.

“Sepertinya kau datang di waktu yang kurang tepat, negeri kami sedang mengalami sedikit masalah,” ucap Taemin, memecah keheningan yang sempat mengambang.

Hyo Ra hanya sedikit memiringkan kepalanya, melempar pandangan bertanya, maksudmu-apa?

Taemin menatap Hyo Ra dari ujung kaki hingga ujung kepala, “Kau bukan penduduk negeri ini. Kau datang ke sini untuk jalan-jalan ‘kan? Berwisata?”

“Tidak juga. Aku memang datang dari negeri yang jauh, tapi bukan untuk berwisata,” sahut gadis itu ringan.

“Aku mencari seseorang. Ada yang harus aku sampaikan padanya,” lanjutnya saat melihat Taemin hanya mengangguk kecil.

Hening lagi-lagi mengambang, Taemin justru memperhatikan kesibukan prajurit berseragam merah yang sepertinya mendapat komando apalah, berpatroli sepanjang jalan itu.

Hyo Ra meraba-raba sakunya, mulai menyadari bahwa bagaimanapun ia akan memerlukan uang untuk makan, menginap dan lain-lain. Menghembuskan nafas lega saat menemukan kantong kecil berisi uang keping, Dragon sudah menyiapkannya.

“Ehm, Putra Mahkota, apa kau tau penginapan yang murah dan aman?” Tanya gadis itu ragu-ragu, memecah konsentrasi Taemin yang sedang serius memikirkan sesuatu.

“Yah? Apa? Oh, penginapan,” sedikit tergagap, “Mari aku antarkan. Hmmm, tapi, apa kau tidak ingin berganti baju? Sepertinya kau tidak membawa bekal apapun.”

Hyo Ra melirik baju yang dikenakannya, merasa bahwa baju ini memang terlihat mencolok. Dragon sengaja betul memperlihatkan kalau dia berasal dari negeri yang jauh.

Hyo Ra menyeringai, “Kau tau di mana aku bisa membeli pakaian? Bisa bantu aku memilih?”

Taemin menatap Hyo Ra tajam, “Memintaku memilihkan baju untukmu?”

Ucapannya sukses membuat wajah Hyo Ra memerah, salah tingkah, “Eh, bukan begitu Putra Mahkota. Maksudku… aku ‘kan tidak tau bagaimana gaya berpakaian yang lazim di sini.”

Taemin hanya menjawab datar, “Tidak usah memanggilku dengan sebutan Putra Mahkota. Bukankah aku sudah menyuruhmu memanggilku Taemin saja?”

Hyo Ra sedikit tidak nyaman dengan kata ‘menyuruh’ yang baru saja diucapkan Taemin. Apa susahnya menggunakan kata ‘meminta’?

“Sudahlah, ayo ku antar,” seru Taemin, tersenyum manis, membuat Hyo Ra lupa perihal ‘menyuruh-meminta’, balas tersenyum lebar.

Tentu saja, tak lama kemudian Hyo Ra sudah sibuk memilih-milih baju di sebuah toko. Hilir-mudik dihadapan Taemin, meminta pendapat. Putra mahkota –yang anehnya, tak seorangpun mengenalinya- itu hanya tersenyum, sesekali mengangguk, lebih banyak menggeleng, menautkan alis tanda tak suka.

“Kau sangat beruntung Nona, pacarmu sungguh baik. Tak banyak pria yang mau menemani kekasihnya berbelanja baju. Kebanyakan dari mereka cepat bosan dan merasa sebal,” ucap Bibi pemilik toko, tersenyum.

Hyo Ra balas menyeringai tanggung, ternyata di dunia manapun, urusan pria dan berbelanja itu sama saja, tak ada bedanya. Sementara itu Taemin hanya tersenyum tipis, menganggap lucu kesalahpahaman pemilik toko. “Sudah cukup?” Tanyanya pada Hyo Ra, yang dibalas dengan anggukan.

“Berapa semuanya?” Tangan Hyo Ra menimang kantung uangnya.

“Hmmm… 5 keping emas, tapi khusus untuk kalian, 4 keping saja.”

Baik Hyo Ra maupun Taemin serempak menyodorkan uang mereka, membuat pemilik toko tersenyum bingung bercampur geli, “Aduh, bagaimana ini?”

Hyo Ra menatap Taemin lamat-lamat, menggeleng pelan. Taemin justru menjejalkan uangnya ketangan pemilik toko, “Terima kasih,” ucapnya singkat, menarik lengan Hyo Ra keluar dari toko.

“Terima kasih….” Hyo Ra melambaikan tangan, seluruh belanjaanya ada ditangan Taemin.

Bibi pemilik toko balas melambai, riang,  “Sama-sama! Besok-besok datanglah lagi, aku akan memberi kalian diskon yang lebih besar!” Tersenyum simpul, bergumam pelan, “Benar-benar pasangan yang serasi.”

“Kau sungguh beruntung, ditemani, ditraktir dan dibawakan belanjaamu oleh seorang putra mahkota,” ucap Taemin dengan nada sok serius, masih menarik tangan Hyo Ra, berjalan menyusuri jalan yang tepinya dipadati berbagai macam toko.

Hyo Ra mengalihkan pandangannya dari lampu-lampu yang bentuknya sungguh antik, menatap Taemin yang berjalan didepannya. “Aku tidak memintamu mentraktirku, dan kalau kau keberatan membawakannya, kenapa tidak bilang?” Menghela nafas, menghentikan langkah, “Aku bisa membawanya sendiri!” Menepis pelan tangan Taemin yang masih menggenggam telapak tangannya.

“Kita sudah sampai,” Taemin menatap bangunan bertingkat 3 didepannya, mendengus pelan, “Berhentilah merajuk, kau bukan kekasihku.”

Hyo Ra menelan ludah, tersedak, “Apa?”

Tangan Taemin lagi-lagi meraih tangan Hyo Ra, menariknya, memasuki penginapan.

Suasana negeri 1001 malam khas timur tengah menyergap mereka. Hamparan permadani Turki yang lembut, pelayan pria dengan topi Aladin dan sepatu-sepatu berujung runcing, pelayan wanita dengan kain sari tipis yang memperlihatkan lekuk ramping tubuh, ditambah lagi bagian perut yang terbuka, menampakkan betapa putih dan mulusnya kulit mereka. Hyo Ra menyeringai jengah, menoleh ke arah Taemin yang tampaknya sama sekali tidak tertarik dengan perut-perut terbuka itu, berjalan lurus ke sudut ruangan, mempererat genggaman tangannya.

“Di mana Tuanmu?” Nada bicaranya persis sama dengan saat menegur prajurit berbaju merah di dekat taman tadi. Seperlunya, ringan, dan sempurna terkendali.

“Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?” Pelayan berwajah oriental itu tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipitnya, matanya bersinar ramah. Hyo Ra menggigit bibir bawahnya, tak sadar bergumam kagum, “Cantik sekali.”

Kali ini Taemin melepas genggamannya, menggamit pinggang Hyo Ra, menariknya merapat. Tersenyum tipis pada pelayan, “Katakan saja, adiknya ingin bertemu. Suruh dia menemuiku sekarang juga.”

Pelayan cantik itu melirik sekilas pada tangan Taemin yang sekarang melingkar erat di pinggang Hyo Ra, “Baiklah, silahkan Tuan tunggu di sana,” menunjuk sofa di sudut ruangan, “Saya akan menyampaikan pesan anda,” tersenyum manis. Mengalihkan pandangan pada Hyo Ra, “Anda cantik sekali Nona.”

“Eh? Ya? Apa?” Hyo Ra sedikit tergagap, Taemin mendengus pelan.

Pelayan itu tersenyum ganjil, “Anda sangat cantik.”

Entah mengapa, tapi pujian itu justru membuat Hyo Ra sedikit bergidik. Belum sempat ia mengucapkan terima kasih atas pujian pelayan itu, Taemin kembali menariknya, kali ini dengan tenaga yang berlebihan, membuat Hyo Ra sedikit terseret.

“Duduk! Dan jangan bicara yang tidak-tidak,” ucap Taemin dengan nada memerintah.

Hyo Ra menatap Taemin heran, melempar pandangan ada-apa-denganmu?

Seorang pelayan pria meletakkan dua cangkir teh didepan mereka. Aroma teh itu sangat enak. Segar. Sekaligus aneh. Bagaimana tidak aneh, aromanya seperti aroma tanah yang tersiram hujan setelah bertahun-tahun kekeringan. Hyo Ra menyesap tehnya berlahan, mengernyit. Ada nuansa pahit yang terasa. Dan nuansa pahit itulah yang membuatnya merasa ingin meminumnya, lagi dan lagi.

“Kau rupanya!  Pantas saja. Siapa lagi yang berani menyuruh-nyuruhku seperti ini.” Seorang namja menepuk pelan bahu Taemin, tersenyum.

Hyo Ra menatapnya tak percaya, Kandidat terakhir. Sungguh di luar perkiraannya. Namja ini sungguh… cantik?

***

Next:

Track 3 – Pertarungan

 “Ah… kau ini! Protektif sekali. Gadismu?”

 “Di sini ternyata kau bersembunyi, Taemin!”

 “Akhirnya kau berani muncul langsung dihadapanku.”

 “Hanya sebatas ini kemampuanmu? Heh? Sungguh mengecewakan!”