MMSPH 11: Mimpi2 Si Patah Hati (Laila-Majnun)

by Darwis Tere Liye on Friday, 09 September 2011 at 06:24

Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (Laila-Majnun)

 

Perkampungan itu dipenuhi oleh pepohonan hijau. Sejuk dan nyaman sebagaimana mestinya sebuah oase. Yang mengejutkan, sebuah danau kecil tepat berada di tengah-tengahnya. Sepagi ini sepasang bebek liar berbintik kelabu berenang bercengkerama dengan riang. Anakanaknya hilir mudik belajar menyelam di sela-sela kaki berselaput sang induk, melesat bagai lemparan sebongkah batu berwarna kuning.

Rumah-rumah berbentuk kotak berbahan lumpur berderet-deret mengitari danau, seperti manusia yang mengelilingi ka’bah saat tawaf di tanah suci. Modelnya hampir serupa, hanya jumlah pintu dan jendela yang membedakan rumah mana milik pedagang kaya dan rumah mana milik seorang tukang besi atau penjual kayu bakar. Tetapi rumah yang besar dan rumah yang kecil sedikit jumlahnya, lebih banyak yang sedang-sedang saja. Di gurun ini, tak ada yang peduli seberapa besar rumah kalian, apalagi ketika badai pasir datang menggulung.

Pohon kurma tumbuh subur, lempar bijinya dan biarkan kasih-sayang alam merekahkan kecambahnya. Sepagi ini di sudut oase, tiga kelopak daun muda dibuliri tetesan embun berkilauan, muncul dari tanah menjanjikan  bekal kehidupan berpuluh-puluh mulut penduduk oase hingga tiga generasi mendatang. Dan karena hampir setiap pintu rumah memiliki kebun kurma, walau sekedar tiga-lima batang, itu berarti tak akan ada yang kelaparan di sini.

Wanita-wanita berkerudung lalu lalang membawa pekerjaan. Setumpuk pakaian kotor, menuju sumur-sumur umum yang terdapat di setiap luas sekian hasta persegi pemukiman. Sekulak butiran gandum, menuju adonan dan pemanggangan roti masing-masing. Segerombolan anak dengan rambut masai dan pipi berbekas, diseret dan diomeli untuk dimandikan. Rempah-rempah dan daging kibas dijual oleh pendatang jauh di ramainya pasar. Para lelaki mulai sibuk dengan perniagaan. Penyekat toko satu persatu segera dilepaskan. Kehidupan sudah dimulai di perkampungan oase tersebut pagi ini.

 

Qais menjinjing keranjang di atas pundak hitam legam tangan kanannya. Lengan tangannya yang satu lagi berbebat kain, luka terjatuh dari pelepah pohon kemarin. Seumur-umur ia menjadi pemetik buah kurma, baru kali itu matanya tak awas, pikirannya tak tenang, dan tubuhnya lantas kehilangan keseimbangan, jatuh berdebam menghajar tunggul. Wahai, meskipun mengingat kejadian menyebalkan itu, Qais sebaliknya malah tersenyum, tidak meringis atau mengeluarkan sumpah serapah yang biasa kalian lakukan. Di pipinya sekarang muncul semburat merah, dan keindahan oase seketika tenggelam oleh cahaya bola matanya.

Ia bersenandung. Nyanyian kesenangan. Sungguh jika bisa kukata-katakan memandang pemuda yang tengah melalui gang-gang perkampungan itu, ia akan menjadi sajak-sajak indah. Mengalir merambati udara pagi, melambai mengetuk-ngetuk jendela. Membuat berbinar orang tua yang setengah terkantuk duduk menunggu anaknya pulang dari kejamnya peperangan. Membasuh jantung istri yang berwajah cemas menanti suami pulang dari perjalanan berbahaya. Atau sekadar menciprati seorang anak di balik pintu yang penuh harap berdiri menunggu ayahnya kembali dari pasar membawa gasing kesukaannya.

 

“dareda/ seekor kumbang terbang merindu – kembali/

sayapnya luka tertusuk durimu – waktu itu/

sayang/ sebelum sampai/

jatuh terpasung keenam kakinya/

dililit jala sang penguntai benang/

mati merana//

 

nanena/ bunga berubah menjadi buah/

ranum berjuntai mengundang cinta/

bahagia dia yang menyiram/

memetik tiba hingga masanya/

sayang/ sebelum sampai/

tersambar tajamnya kuku binatang malam/

mati jatuh/ busuk ditanah//

 

nahnehnah/ musim indah telah datang/

aroma wangi menyentuh langit-langit hidung/

menyebar dan melambai/

tak peduli kumbang atau pun buah/

lilin ini takkan pernah kubiarkan padam//”

 

***

“Jikalau pertemuan ini sebuah dosa, biarlah aku menanggungnya kelak,” Qais menatap lemah wajah Laila, kekasihnya.

“Tidak, kau tidak akan menanggungnya sendirian, aku akan bersamamu. Setapak demi setapak melewati semua hukuman,” Laila menjawab lirih memegang jubah kumal Qais. Kelopak matanya pelahan-lahan merekah, basah. Butiran air keluar sebutir, kemudian menggelinding di pipi siangnya.

 

Tepat bersamaan ketika butir air pertama jatuh menghujam pasir, di sela-sela kaki mereka yang bersembunyi di balik serumpun kaktus tajam, langit bergemuruh. Halilintar menyambar, awan hitam bergulung-gulung mendekati oase itu. Para pedagang yang terdengar hilir mudik di keramaian pasar dari balik pagar persembunyian mereka berteriak terkejut. Serabutan membungkus jualannya. Aneh sekali, hujan ini nampaknya datang begitu saja, apalagi di teriknya siang musim kemarau berkepanjangan saat ini.

“Aku mohon jangan menangis,” Qais menyapu air mata kekasihnya dengan sapu tangan, “Lihatlah, kau membuat langit ikut menangis .”

 

Mereka berdua tersenyum, kemudian tertawa pelan atas olok-olok itu. Wahai, padahal pagi itu enam bulan lalu langit juga menumpahkan hujan lebatnya saat Laila menangis tersedu di dalam kamarnya untuk perjodohan ia dengan pria lain pilihan orang tuanya. Wahai, malam itu sepuluh bulan yang lalu langit juga tak henti mengucurkan kandungan air di relungnya saat Laila menangis tersedu di pangkuan ibunya untuk kemarahan ayahnya dan larangan menemui pemuda pujaan hatinya. Keluarga mereka terlalu terhormat untuk merestui hubungan Qais dan Laila.

Cuaca tak pernah seaneh tahun ini, penduduk oase bergumam di pasar-pasar, di sumur-sumur, dan di ruangruang tamu mereka. Apa mau di kata, semakin hari Laila memang semakin sering menangis. Beruntung atau tidak, Qais hingga hari ini masih mampu menahan airmata dukanya. Sungguh, tak ada yang tahu olok-olok apa yang akan terjadi seandainya ia menangis dalam penderitaan cinta ini.

 

“Aku harus pulang, Qais.” Laila melepas genggaman tangan kekasihnya, “Lihatlah pakaianku sudah mulai basah. Mereka akan curiga dan bertanyatanya.”

“Duduklah sebentar, aku masih ingin berbincang denganmu.” Qais mengeluh dan merajuk. Lama sudah ia berusaha sembunyi-sembunyi bertemu dengan kekasihnya dengan segala resiko. Sepatah dua patah takkan cukup. Wahai, sepanjang tahun pun takkan cukup untuk membuka lembar demi lembar kerinduan miliknya. Duka Qais semenjak pagi itu dari sela-sela pelepah pohon kurma melihat kerudung Laila tersingkap disambar kencangnya angin gurun.

 

“Kita tak pantas Qais. Tak pantas berada di sini!”

“Kalau begitu larilah denganku….”

“Takkan mungkin kulakukan. Takkan mungkin.”

Laila menangis lagi. Hujan turun semakin menggila, dan mereka benar-benar basah. Apalah daya pohon kaktus menahan tumpahan air, daun pun ia tak punya, selain duri yang memedihkan kulit jika tertusuk. Dan Laila saat ini di jantungnya sudah tertusuk seribu duri kaktus.

“Lantas apa yang bisa kulakukan untuk memilikimu?” Qais menatap kekasihnya, merana.

 

“Aku…. Aku akan bebas jika ikatan ini diputuskan….”

Mata Qais berubah nyalang. Merah. “Baik. Kalau begitu akan kubunuh suamimu!”

“Demi Tuhan jangan lakukan itu. Aku mohon. Kita akan mempersulit keadaan.”

***

Apakah doa bisa membunuh? Entahlah, yang pasti jika iya, maka malang benar nasib suami Laila. Tidak. Ia tidak mati dibunuh Qais yang lara sendiri. Bagaimana bisa membunuh jika sepanjang hari Qais hanya bisa bersunyi terasing dalam goa itu. Binatang gurun, bintang gemintang, dan tunas-tunas muda rerumputan yang hanya menjadi temannya, jauh terpencil puluhan kilometer dari kehidupan oase dan Laila.

Lagipula Qais tak pernah dalam satu doanya pun, meminta kematian pemuda itu. Ia hanya selalu merintih memohon agar Laila suatu saat datang ke goa ini dan bersama-sama lari dari semua kekacauan harga diri dan kehormatan para tetua oase.

Pagi itu ketika Laila bangun dari tidurnya. Suami pilihan tetua keluarganya yang mau merendahkan diri selalu tidur di lantai tidak bergerak-gerak juga padahal cahaya matahari sudah menerobos jendela. Ia coba menyentuh dahi suaminya. Wahai, itulah pertama kalinya mereka bersentuhan, dan menjadi sentuhan yang terakhir pula bagi mereka.

 

Pemuda itu telah mati. Begitu saja. Meskipun malam-malam lalu dalam kesepiannya ia memang sering berpikir soal pergi jauh-jauh agar Laila bisa sedikit tersenyum dalam kehidupan. Perjodohan ini tak pernah membahagiakan hatinya. Terlebih saat tahu istrinya mengikat jantungnya pada pemuda lain, jauh sebelum ia datang mengacaukan segalanya. Wahai, sungguh muasal kekacauan ini bukan dari dirinya.

Mendengar burung-burung mengabarkan kejadian itu, Qais dengan gilanya lari menembus gurun menuju kekasihnya. Ia terus berlari, meskipun kakinya tak beralas apapun. Telapaknya mulai merekah dibakar panasnya pasir, kulitnya mulai robek disabit perdu-perdu berduri. Tetapi Qais tak peduli, ia terus berlari hingga sore datang menjelang, hingga malam tiba menghadirkan purnama.

 

Tengah malam, ia menerobos lewat pintu belakang. Sesuai kesepakatan mereka dulu, Laila sudah menunggu di balik serumpun kaktus itu. Tidak. Laila tidak tersenyum bahagia menyambut Qais, menangis pun juga tidak. Ia hanya menatap kosong. Benar-benar tatapan kosong. Qais yang hendak buncah menyebut rencanarencana, seluruh perasaan kebahagiaan di hatinya, mimpi-mimpinya, wahai, demi melihat wajah kosong Laila, bibirnya sontak tersumpal oleh sesuatu yang ia takutkan selama ini.

Bagi Qais, boleh jadi kejadian ini akan menjadi awal sebuah kehidupan. Bagi Laila, wanita yang amat lelah dengan segala perjalanan cinta, telah habis sudah airmatanya, telah kering sudah perasaannya. Ia sesiang tadi juga berseru girang saat menyadari suaminya telah meninggal, tetapi kegembiraan itu dalam sekejap berubah menjadi antiklimaks. Kegembiraan yang menghabiskan seluruh energi yang dimilikinya, dan ia terlemparkan keras sekali dalam ketidakmengertian yang memangkas syarafsyaraf kewarasan.

Laila saat ini sedang mengais-ngais cinta yang selama ini menuntun hidupnya, sayangnya ia lupa. Laila saat ini sedang berusaha mengingat-ingat wajah pemuda idaman yang mengajaknya bertemu malam-malam di balik serumpun kaktus itu, sayang lukisan itu semakin buram. Ia berubah menjadi bangkai. Tanpa perasaan lagi, tanpa harapan lagi. Maka lihatlah, wahai, ia sekarang menatap kosong wajah Qais yang terperangah. Seolaholah di wajah Laila ada seribu pertanyaan, dan salah satu pertanyaan yang cukup sudah menebas jantung Qais.

 

“Siapa kamu?”

***

Tak ada lagi Qais yang berjalan di gang-gang pemukiman oase sambil menyenandungkan lagu rindu. Tak ada lagi pemuda hitam legam pagi-pagi menyampirkan keranjang di bahunya, berangkat untuk memetik buah kurma. Qais masih berlalu-lalang seperti biasanya, tetapi ia melangkah sambil meratap. Ratapan derita cinta.

Satu depa satu keluh kesah, satu sepelemparan batu satu lolongan pilu, satu sumur satu hati penduduk yang melihatnya hancur. Begitu saja sepanjang hari semenjak ia bertemu dengan Laila malam itu. Semenjak ia menyadari tak ada lagi kewarasan yang tersisa pada gadis yang dicintainya, dan Qais demi kekasihnya ikut menggilakan dirinya.

 

Wahai, menyedihkan sekali pemandangan ini. Tubuh kurus kering berjalan di atas pasir berdebu. Pakaiannya compang-camping, kotor dan robek. Badannya lebih bau dari seekor kibas jantan, daki hitam memenuhi lipatanlipatan tubuhnya. Pemuda itu berjalan bolak-balik seperti sedang melakukan ritual sa’i, dari bukit safa ke bukit marwa. Berulang-ulang, tak kenal siang atau pun malam.

Setiap kali ia tiba di rumah besar kekasihnya, Qais jatuh terduduk. Mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berseru memanggil-manggil Laila. Tetapi lihatlah, yang dipanggil justeru menatap kosong dari balik jendela, muka pucat pasi, dan tubuh yang juga amat mengenaskan. Sepanjang hari Laila hanya duduk di bawah bingkai jendela itu. Berharap kekasih hatinya datang, walaupun ia sama sekali lupa seperti apa paras kekasih pujaannya itu.

Setelah sekian lama mereka bertatapan dalam sebuah adegan kegilaan yang memilukan, Qais melanjutkan ritualnya. Berjalan ke sisi kota satunya. Tiba di sana, seperti biasa ia akan kembali lagi ke sisi kota satunya lagi. Berhenti di depan rumah besar Laila lagi. Jatuh terduduk lagi, dan berseru-seru memanggil Laila lagi. Meneruskan ritualnya lagi. Begitulah, sepanjang hari.

Hingga suatu pagi. Maut memutus penderitaan Laila. Seminggu sudah ia menolak menyentuh roti gandum, bibirnya kering tak terbasahi setetes air pun. Dan pagi itu, malaikat maut berbaik hati mengakhiri segala deritanya.

 

Pemukiman oase itu berkabung untuk kesekian kalinya.

Qais yang sedang berada di sisi kota, demi mendengar kabar itu berlari menerobos rumah-rumah penduduk. Menyenggol wanita-wanita berkerudung yang sedang membawa tumpukan pakaian kotor hendak pergi ke sumur, menabrak para pedagang yang menuju pasar, dan sama sekali tak mempedulikan sumpah serapah orang-orang yang terkena percikan ludah busuk mulutnya yang berbusa meratapi Laila.

Penjaga rumah menghunuskan pedang demi melihat Qais memaksa masuk ke halaman rumah Laila. Qais tak peduli. Ia menerjang bagai banteng yang terluka. Bibirnya mendesiskan nama sang kekasih, dan entah dari mana datangnya kekuatan itu, penjaga-penjaga buas pintu gerbang tersebut terpental menghantam hamparan pasir.

 

Orang-orang yang memadati rumah Laila panik melihat Qais menyerbu masuk.

Tetua keluarga besar Laila memerintahkan lebih banyak penjaga lagi untuk menahan Qais yang kesurupan berteriak-teriak. Sepuluh orang menerkam Qais, memiting dan membantingnya ke lantai tanah. Qais melolong panjang bagai serigala. Beringas sekali tubuhnya yang tinggal tulang belulang menepiskan mereka. Qais tidak peduli, dia terus berlari menerjang semakin ke dalam. Ia mendaki tangga bagai seekor elang, terbang menghempaskan semua penghalangnya. Dan ketika tiba di pintu kamar Laila, ia jatuh terduduk terhujam ke bumi menatap kekasih hatinya yang telentang begitu takzim di atas tempat tidurnya. Di selimuti oleh kain putih, wajah itu terlihat amat elok ditimpa cahaya matahari pagi yang menerobos kisi-kisi jendela.

 

Sebuah kematian yang indah.

Qais tergugu. Wahai, jika bisa kulukiskan saat pemuda itu pelahan-lahan mendekat dan menggendong mayat Laila, maka seluruh dunia akan jatuh dalam kesedihan melihatnya. Pemuda itu mencium kening kekasih hatinya. Matanya menyiratkan penderitaan yang menganak sungai. Ia melangkah keluar dari ruangan, menuruni anak tangga. Dan seluruh isi rumah seperti tersihir oleh sebuah tontonan yang memilukan.

Kesombongan dan harga diri yang telah mencabut kewarasan sepasang pencinta. Kekuasaan dan kebanggaan atas akal sehat yang telah membinasakan sepasang kekasih. Tak ada lagi ratapan dari mulut Qais, tak ada lagi lolongan kesedihan dari bibir Qais, dan memang belum pernah ada tangisan dari kelopak mata Qais.

Pemuda itu menaikkan mayat kekasihnya ke atas seekor onta. Lantas menggebahnya menjauhi rumah terkutuk itu. Menjauhi oase terkutuk itu.

Keluarga besar Laila setelah sekian lama Qais menghilang dari kelokan pintu gerbang tiba-tiba tersadarkan. Mereka panik saat menyadari mayat Laila telah dibawa lari oleh pemuda itu. Sungguh sebuah aib besar. Maka tanpa pikir panjang, tetua memutuskan mengirim seratus penunggang kuda Badui dengan pedang terhunus memburu Qais.

Debu mengepul mengiringi beringasnya para pengejar, sementara tubuh ringkih Qais terombang-ambing di atas ontanya. Ia memaksa secepat mungkin tiba di gua pengasingannya, menguburkan kekasihnya jauh dari segala penderitaan cinta ini. Ia akan duduk di pusara Laila hingga maut berbaik hati datang menjemputnya. Tidak. Ia tidak akan pernah memutuskan bunuh diri menyusul kekasihnya. Semua ini adalah takdir langit, maka biarlah ia berakhir sesuai aturan langit.

Tetapi tubuh lemahnya sudah kehabisan tenaga. Ketika tubuh Laila jatuh terpental dari punuk onta karena ia tak sanggup lagi memegangnya erat-erat, maka selesailah pelarian itu. Qais ikut menjatuhkan diri. Seratus penunggang kuda Badui dengan pedang terhunus semakin dekat. Matahari bersinar terik sekali.

Gemetar Qais merengkuh tubuh berdebu Laila. Memeluknya dalam sebuah tarian penderitaan tak tertahankan. Ia sudah tak kuat lagi. Pedang-pedang itu pasti akan mencabik-cabik membinasakannya. Dan mayat Laila akan dibawa pergi darinya. Dengan sisa-sisa tenaga, Qais mendongak mencari Tuhan.

 

Wahai, untuk pertama kali dan untuk terakhir kalinya Qais menangis. Wahai, air mata itu mengalir pelan membasahi pipi hitamnya.

 

“Ia membuat seorang raja menjadi hamba/

Saudagar kaya menjadi peminta-minta/

Panglima perang hina teraniaya//

 

Ia membuat malam terang benderang/

Terik matahari gelap tertutupi/

Angin tertahan berhenti bertiup/

Air tak mampu mengalir ke bawah//

 

Apalah artinya dirku?/

Raja bukan, saudagar tidak, panglima jauh/

Apalah harga diriku?/

Bulan bukan, matahari tidak, angin belum, air pun jauh//

 

Aku hanyalah pengembara cinta/

Tersesat dalam perjalanan menyedihkan ini/

Aku tak tahu lagi harus melangkah kemana/

Aku tak tahu lagi//

 

Kirimkanlah kereta penjemput terbaik-Mu/

Juntaikanlah tangga emas itu dari arsy-Mu//

 

Tiba di penghujung kalimat senandung memilukan itu, saat tetesan air mata darah pertama Qais jatuh berdebam membasahi pasir gurun, menguap menyisakan kepulan asap hitam-kelam, langit mendadak gelap-gulita bagai ada yang menutup tirai petunjukan. Angin tiba-tiba menderu laksana berjuta lebah sedang memenuhi udara. Di angkasa terdengar pekikan pilu, merindingkan segenap bulu kuduk… ays-syajwu!

 

Asap hitam-kelam dari tetes air mata Qais pelahan-lahan berubah membesar menjadi sebuah liukan badai mengerikan. Menyebar dengan cepat, bagai anak kecil yang tumbuh dewasa dalam hitungan detik.

Badai pasir itu membentuk dinding besar yang belum pernah dilihat manusia. Tingginya puluhan depa, lebarnya ribuan depa. Menderu mengeluarkan suara yang mengerikan. Dengan dahsyat tanpa ampun, seperti dilemparkan oleh tenaga raksasa badai gurun itu melesat menuju pemukiman oase. Melibas seratus penunggang kuda Badui bagai menepuk seekor lalat.

Langit semakin kelam. Debu berterbangan memedihkan mata. Dalam beberapa kejap berikutnya oase itu sudah tak bersisa lagi.

Sementara Qais jatuh tersungkur memeluk Laila.

Keduanya sudah tak bernyawa. Esok lusa, serumpun pohon bambu tumbuh dari jasad mereka. Prasasti cinta yang bertahan ribuan tahun.

***