MMSPH 12: Kutukan Kecantikan Miss X – Season 2

by Darwis Tere Liye on Friday, 09 September 2011 at 13:21

KUTUKAN KECANTIKAN MISS X 2

 

Januari

Musim penghujan, sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kost-an. Hari kerja pertama tahun ini. Sekaligus Senin pertama tahun ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah hampir empat tahun. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.

Dan inilah awal segala kisah menyedihkan ini….

Pagi itu, se-isi bus terlihat muram. Mungkin setelah libur akhir tahun yang menyenangkan, kembali bekerja bukanlah hal yang bisa membangkitkan antusiasme. Aku tersenyum ke beberapa penumpang yang kukenali. Wajah-wajah masih mengantuk. Hingga, hei! Di kursi tempatku biasa duduk, baris ke enam dari depan, dekat jendela sebelah kanan. Sudah duduk dengan manisnya seorang gadis. Oh-Ibu! Aku menelan ludah. Sungguh selalu membuatku terpesona.

Aku berdehem pelan. Gadis itu mengangkat kepalanya, “Kursi di sebelahnya kosong?” Pertanyaan basa-basi.

Gadis itu mengangguk.

“Boleh aku duduk?”

Gadis itu mengangguk lagi.

Percaya atau tidak, itulah percakapan terlama yang pernah aku lakukan dengannya selama tiga bulan berlalu. Sisanya? Aku hanya duduk diam membeku. Hanya melirik-lirik. Hanya bergumam tak jelas. Hanya sibuk meneguhkan hati untuk mengajaknya bicara. Sementara gadis itu takjim melihat keluar jendela kaca. Menatap jalanan yang mulai ramai.

***

April

Bulan ini, penghujung musim hujan, sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah empat tahun tiga bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Dan tentu saja ada satu penumpangnya yang selalu sama. Gadis itu. Duduk anggun di kursi baris ke enam, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku yang duduk di sebelahnya setelah bersitatap sejenak satu sama lain.

Sempurna tiga bulan berlalu, dan kami tidak pernah berbincang-bincang. Buat apa? Lirikan mata kami sudah bicara banyak bukan? Ya Tuhan, dusta sekali pernyataan ini. Baiklah, terus-terang saja kuakui, aku tidak berani mengajaknya bicara. Terlalu gugup. Terlalu cemas. Mulutku selalu kelu saat hendak dibuka. Dan kerongkonganku seperti tersumpal.

Jadi apa yang harus kulakukan? Hanya duduk salah-tingkah. Sibuk membujuk hati untuk memulai. Sibuk membujuk…. Sisanya tidak ada. Tetap sepi. Sepi yang sedikit terpotong oleh kondektur yang mengambil ongkos, oleh pengamen yang bernyanyi serak, oleh lalu-lalang penumpang.

Gadis itu masih takjim menatap keluar jendela kaca.

***

Juli

Bulan ini sudah masuk musim kemarau, tetapi sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah empat tahun enam bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Meski penumpangnya mulai berbeda-beda.

Gadis itu masih di sana. Selalu naik bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam dari depan, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya.

Namanya? Enam bulan berlalu aku sempurna belum tahu. Bagaimanalah akan tahu kalau aku tidak pernah berani menanyakannya. Yang aku tahu rambutnya hitam legam sebahu, lesung pipit menghias indah wajah sempurnanya. Matanya hijau (sehijau hatiku saat meliriknya). Ia selalu mengenakan blouse kerja warna cokelat setiap Senin. Dipadu dengan rok selutut dengan warna yang sama. Hari Selasa ia memakai baju berwarna biru. Hari Rabu berwarna hijau. Hari Kamis berwarna krem. Hari Jum’at berwarna putih.

Ia turun di gedung itu. Empat halte lebih jauh dari gedung tempatku bekerja. Karena aku sejak awal tahun memaksakan diri tidak turun  sebelum ia turun, maka itu berarti sudah enam bulan aku terpaksa menyeberang, naik bus lainnya, berbalik arah, kembali ke gedung kantorku.

***

September

Bulan ini, kembali musim penghujan, sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah empat tahun delapan bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.

Gadis itu masih di sana. Selalu naik bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya. Delapan bulan sempurna berlalu.

Aku mulai menyumpah-nyumpah betapa pengecutnya diriku. Betapa pecundangnya kehidupan cintaku. Entahlah. Aku mendesis lemah. Bagaimana mungkin akan seperti ini? Bukankah selama ini mudah saja aku bergaul dengan gadis-gadis lain. Berkenalan. Berbincang sambil tertawa riang. Mudah saja. Tidak ada masalah. Tapi yang satu ini. Aku sempurna membeku. Aku sungguh tidak mengerti….

Hari itu ia tidak mengenakan blouse kerja cokelat seperti biasanya. Tapi berwarna merah marun. Bukankah itu ide yang baik? Memulai pembicaraan dari sana.

Oh-Ibu, tolonglah aku…. Aku mendesis.

Setengah jam berlalu, bus patas AC nomor 102 terus merayap di jalanan padat. Aku berdehem. Gadis itu menoleh.

“Kau tidak mengenakan gaun cokelat?”

Ia sedikit bingung menatapku.

“Ergh, bukankah kalau hari Senin kau selalu mengenakan gaun cokelat? Hari Selasa berwarna biru. Hari Rabu berwarna hijau. Hari Kamis berwarna krem. Hari Jum’at berwarna putih….” Aku mulai semaput menerima tatapan matanya.

“Bagaimana kau tahu?” Gadis itu tertawa.

“Tahu apa?” Aku yang sekarang menjadi bingung.

“Warna pakaian kerjaku? Kau memperhatikanku?”

Entahlah seperti apa warna wajahku pagi itu. Malu. Benar-benar malu dengan kalimat barusan. Mungkin gabungan warna cokelat, biru, hijau, krem dan putih…. Gadis itu tertawa kecil sekali lagi. Tersenyum amat manisnya.

“Terima-kasih kau sudah amat perhatian….”

Itulah pembicaraan kami hingga tiga bulan ke depan. Aku terlanjur gugup untuk bicara lagi esok-esok harinya. Jadi semuanya kembali ke awal. Hanya lirikan mata. Tersenyum tanggung. Dan gadis itu kembali takjim menatap keluar jendela, jalanan yang mulai ramai.

***

Desember

Musim penghujan, sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja terakhir tahun ini. Sekaligus Jum’at terakhir tahun ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah lima tahun. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.

Gadis itu masih di sana. Selalu naik bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya.

Setahun sempurna berlalu. Semalam aku sungguh berkutat dengan ide itu. Bagaimana mungkin setahun berlalu sia-sia? Bagaimana mungkin aku begitu pecundangnya? Maka aku memutuskan nekad hari ini. Apapun yang terjadi aku harus berhasil mengajaknya bicara, berkenalan…. Semalam aku sudah menyiapkan sepotong bunga mawar. Menyiapkan dialog hingga empat versi, tergantung seberapa gugup aku….

Tetapi pagi ini semuanya sungguh terlihat berbeda. Gadis itu tidak mengenakan baju kerja lazimnya. Ia memakai gaun berwarna putih. Di tangannya tergenggam sebuah kotak besar. Dengan hiasan pita. Wajahnya riang seperti semburat cahaya matahari pagi. Aku menelan ludah. Mendadak kehilangan seluruh keberanian yang ku-kumpulkan semalam, hei bukan hanya semalam tetapi selama setahun….

Maka kami seperti biasa membisu sepanjang perjalanan. Hanya lirikan. Tersenyum tanggung. Satu jam berlalu begitu saja, bus patas AC nomor 102 hampir mendekati tujuan gedung kantor gadis itu.

“Maukah kau membantuku?” Tiba-tiba gadis itu bicara, menyentuh lembut ujung kemeja lengan panjangku.

Aku gemetar. Menoleh. Ya Tuhan, ia mengajakku bicara? Apa aku tidak salah dengar?

“A-pa?”

“Kotak ini…. Maukah kau membantuku?” Gadis itu tersenyum, membuka kotak yang dipegangnya.

Sebuah kue indah terletak di dalamnya. Dengan bentuk sepotong hati yang memesona. Buah chery menghiasi atas kue tersebut. Berbaris rapi. Aku menelan ludah.

“Aku akan turun di halte depan…. Aku dari tadi malu untuk melakukannya, jadi maukah kau membantuku?”

“Mem-ban-tu a-pa?”

“Tolong bagikan kue ini ke penumpang bus yang lain…. Besok pagi aku akan menikah…. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan sepotong kue chery ini dengan penumpang bus ini, yang setahun terakhir selalu bersama…. Maukah kau membantuku?”

Aku sudah membeku. Tidak lagi kuasa mendengarkan ujung kalimatnya. Mencengkeram erat bunga mawar di balik kemejaku. Aku sungguh amat terlambat.

***