MMSPH 15 (terakhir): Kupu-Kupu Monarch

by Darwis Tere Liye on Monday, 12 September 2011 at 09:55

KUPU-KUPU MONARCH

Aku lama tidak kembali ke kota ini. Hampir dua puluh tahun. Perjalanan yang melelahkan. Mengelilingi separuh dunia hanya untuk melupakan. Hari ini aku pulang. Berusaha mengenang semua jejak kaki. Semoga masih ada yang tersisa. Semoga masih ada yang kukenali. Dengan semua kenangan itu, bukan keputusan mudah untuk kembali. Seperti menoreh kembali luka yang sudah mengering. Menyakitkan. Tapi ibarat seekor bangau yang terbang jauh, aku harus kembali jua ke kota ini. Rindu. Tak mengapa mengenang sedikit luka itu.

Aku berdiri takjim di pemakaman kota.  Menatap sekitar.

Sepagi ini pemakaman kota terlihat begitu indah. Dipenuhi hiasan bunga. Merah. Kuning. Putih. Bertebaran. Bebungaan yang disampirkan di nisan-nisan besar. Bebungaan melilit kayu yang dipasang silang-menyilang. Bebungaan di air mancur tengah pemakaman. Bebungaan di patung yang banyak berserak. Sungguh pekuburan berubah menjadi taman bunga. Nuansa buram kecoklatan berpadu dengan warna-warni ceria. Hari ini: Hari Monarch. Hari di mana seluruh penduduk kota kami meyakini jiwa yang pergi akan kembali. Hari ini penduduk kota akan berpiknik di pemakaman.

Tepat benar dengan jadwal kedatanganku.

Semburat cahaya matahari pagi menambah magis suasana. Menelisik sela-sela dedaunan pohon cemara. Cahaya itu seolah menggantung di atas barisan nisan. Aku tersenyum, bukan menatap ribuan larik cahaya memesona, lebih karena menatap ribuan kupu-kupu kuning yang memenuhi pemakaman, sudut-sudut kota, pohon-pohon cemara. Kupu-kupu itu disebut Monarch. Kupu-kupu itu hanya datang sekali setahun ke kota ini. Terbang. Membuat anak-anak berlarian mengejarnya. Membuat pasangan berpelukan mesra melihatnya. Atau sekadar membuat penziarah pemakaman seperti aku menghela nafas lega.

Kupu-kupu itulah jiwa-jiwa yang kembali. Sepanjang hari terbang tanpa takut dengan penduduk kota. Entah dari mana datangnya. Dan sore hari, persis ketika senja membungkus bibir pantai, kupu-kupu itu kembali ke hutan cemara tepi danau yang berada dekat kota. Lenyap. Selalu begitu, beratus-ratus tahun. Tidak pernah ingkar memenuhi janji setianya, selalu datang sehari setiap tahun.

Jam di kapel tua berdentang. Sembilan gema yang panjang dan berwibawa. Aku takjim mendengarnya. Perayaan ini akan segera dimulai. Orang tua mulai bergegas meneriaki anak-anak mereka. Segera turun. Bekal piknik disiapkan. Pakaian tebal dan topi disampirkan. Menuju pemakaman kota.

Seekor kupu-kupu hinggap di ujung lengan mantelku. Aku menatapnya lamat-lamat. Menghela nafas, “Apakah itu kau, Cindanita? Putri duyung kecilku? Apakah itu kau yang kembali?”

Jalanan mulai ramai oleh penziarah. Anak-anak berlarian, enggan dikendalikan. Satu dua hampir menabrakku. Berkejaran riang. Hari ini sekolah diliburkan. Aku menepi, memberikan jalan bagi serombongan warga kota yang datang. Mereka mengangguk pelan. Berbincang akrab satu sama-lain. Menunjuk kupu-kupu yang berterbangan. Hari ini seluruh kegembiraan melingkupi pemakaman besar ini. Semua datang untuk berkunjung.

Kupu-kupu itu masih hinggap di mantelku. Aku mendesah lirih, “Aku sungguh rindu padamu, Cindanita.”

***

Dua ratus tahun silam.

Legenda itu dimulai di sini. Legenda yang selalu diceritakan turun-temurun oleh tetua kota. Diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pesan sederhana, jangan pernah mengulangi kesalahan yang dilakukan Fram, si petani miskin.

Aku ingat setiap kalimat kisahnya. Terpesona saat pertama kali mendengarnya. Meyakini cinta sejati sejak hari itu. Merasa kehidupan akan jauh lebih indah ketika perasaan itu muncul. Seperti indahnya setiap melihat kupu-kupu monarch yang terbang mengelilingi pemakaman.

Dua ratus tahun silam, alkisah Fram amat beruntung mendapatkan istri sebaik itu. Kembang kota. Di antara puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih Fram, pemuda miskin yang tinggal di danau dekat kota. Meninggalkan janji kehidupan yang lebih baik yang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga, gadis itu di hari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, “Aku akan menjemput janji cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu, bukan?”

Fram mencintai istrinya. Dan jangan ditanya apakah istrinya mencintai Fram. Masalahnya, apakah cinta itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku.”

Ah! Urusan ini benar-benar rumit. Awalnya keluarga muda itu memulai kehidupan bahagia selama lima tahun. Walau miskin, mereka selalu merasa berkecukupan. Apalagi istrinya tidak banyak menuntut, selain perhatian dan kasih-sayang. Tepi danau kota kami seperti berubah menjadi taman bunga. Pondok kecil mereka berdiri indah di tengah hamparan kembang. Itulah kesukaan istri Fram sejak kecil. Kupu-kupu.

Sayang, di penghujung tahun ke lima pernikahan mereka, musim dingin datang tak-terperikan. Kota kami dikungkung badai salju berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Tidak ada yang tahu hingga kapan. Salju di mana-mana. Pohon-pohon meranggas dibalut gumpalan es. Kembang-kembang layu ditimbun tumpukan es. Danau membeku. Dan tidak ada yang berniat menjejak laut yang sepanjang hari digantang angin-badai.

Seluruh kota mengalami kesulitan besar. Berebut makanan menjadi pemandangan sehari-hari. Enam bulan kemudian, harga sepotong roti tawar sebanding dengan sebutir peluru. Tak ada yang bisa mengalahkan urusan perut. Kota kami yang elok bertetangga selama ini, karut-marut oleh perkelahian. Dan celakanya, itu semua belum cukup, penyakit aneh mendadak menjalar dengan cepat. Tubuh-tubuh lumpuh. Muka pucat. Bibir membiru. Dan kematian!

Enam bulan sejak penyakit aneh itu tiba, kota kami benar-benar tak-tertolong. Sepanjang hari hanya kidung sedih yang terdengar. Nyanyian duka-cita. Pemakaman demi pemakaman. Bagaimana dengan Fram dan istrinya? Jika di kota saja urusan ini pelik apalagi bagi mereka. Enam bulan pertama mereka menghabiskan cadangan umbi-umbian di gudang. Enam bulan berikutnya, dimulailah cerita memilukan penuh pengorbanan tersebut. Fram terkena penyakit ganjil itu.

Tubuhnya membeku di atas ranjang. Tanpa bisa digerakkan. Tinggallah istrinya yang kalut oleh banyak hal. Ia tahu persis, sejak memutuskan menikah dengan Fram, bahwa tentu saja tidak setiap hari janji kebahagiaan itu akan datang dalam kehidupan cinta mereka. Ada kalanya masa getir tiba. Dan saat itu benar-benar terjadi, tiba waktunya untuk menunjukkan betapa besar cinta itu. Bukan sekadar omong-kosong.

Tak pernah terbayangkan tangan lembut itu mengais-ngais tumpukan salju, berusaha menemukan sisa umbi-umbian yang tersisa. Terseok mengumpulkan kayu bakar di hutan. Melubangi permukaan danau mencoba peruntungan mendapatkan ikan. Memperbaiki atap rumah yang rusak. Menambal dinding-dinding yang robek oleh badai salju.

Istri Fram berjanji akan bertahan hidup.

Dan semakin menyedihkan pemandangan itu, karena setiap malam dia dengan sabar merawat suaminya yang terbaring lumpuh di atas tikar. Menyuapinya dengan penuh kasih-sayang. Menggendong tubuh suaminya yang semakin ringkih mendekati perapian. Membuang sisa kotoran dari suaminya di atas ranjang. Memandikannya dengan air hangat. Istri Fram bersumpah akan bertahan hidup, demi suaminya.

Dua belas bulan musim dingin itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbaik hati. Kerusuhan besar menjalar di kota kami. Kecamuk orang-orang yang kelaparan dan sakit semakin menjadi-jadi. Dan di tengah kota yang sekarat itu, seorang penziarah entah dari mana datangnya singgah. Penziarah itu amat teganya mengatakan kalimat yang paling tidak logis bagi penduduk kota, semua penyakit aneh ini hanya bisa disembuhkan dengan memakan: daging. Astaga, di mana lagi mereka akan menemukan daging hari ini? Seluruh ternak tak bersisa. Seluruh cadangan makanan tak berbekas.

Sementara Fram semakin menyedihkan. Sehari kemudian tubuhnya mendadak kejang-kejang. Sekarat. Istrinya panik. Malam itu juga sambil terseok-seok dia menggendong Fram menuju kota. Meminta pertolongan tabib. Badai datang menghajar apa saja. Pohon cemara bertumbangan. Istri Fram mendesis, menggigit bibir berusaha melalui badai salju. Entah dari mana kekuatan itu, dia tiba di kota keesokan harinya. Dengan tubuh biru. Kedinginan.

Sayang, tidak ada pertolongan yang tersisa di kota. Tabib mengangkat bahu, menatap amat prihatinnya. “Aku tidak tahu apa itu benar. Berikan suamimu sepotong daging! Semoga itu menyembuhkannya!” Istri Fram sungguh menatap tak percaya. Kecewa. Sedih. Setelah perjalanan melelahkan ini, ternyata hanya untuk mendengarkan saran gila itu? Gemetar dengan sisa tenaga ia membawa Fram kembali ke rumah tepi danau. Menyedihkan. Tubuh yang semakin kurus-ringkih itu terhuyung, mencoba terus bertahan.

Jangankan daging, sepotong umbi-pun sudah sulit didapat. Ia sudah membongkar seluruh bekas kebun suaminya. Tidak ada. Kalaupun ada, sudah membusuk. Ikan-ikan di danau itu juga entah pergi kemana. Istri Fram menangis. Menatap wajah suaminya yang semakin sekarat. Ia tahu, se-sejati apapun cinta mereka, pastilah mengenal perpisahan. Ia tahu sekali itu. Tapi ia ingin berpisah dengan suaminya dalam sebuah pelukan yang indah. Saat satu-sama-lain bisa saling menyebut nama. Bukan seperti ini. Malam itu suaminya benar-benar tidak akan tertolong lagi. Istri Fram tersedu memeluk tubuh suaminya.

Tetapi, hei! Sudut matanya menangkap seekor belibis hinggap di jendela. Belibis? Istri Fram menyeka ujung matanya. Ganjil sekali. Bagaimana mungkin ada seekor belibis tersesat di musim dingin seperti ini? Tapi ia tidak sempat memikirkannya. Dengan gesit ia berusaha menangkap belibis tersebut. Jatuh bangun berkali-kali. Mantelnya robek. Setengah jam berlalu, setelah mengerahkan sisa-sisa tenaga tubuhnya, ia tersenyum lebar menjepit sayap belibis tersebut.

Malam itu, takdir langit di tepi danau itu berubah. Sepotong daging yang masuk ke dalam perut Fram mengembalikan kesehatannya. Malam itu, takdir langit di kota kami juga berubah. Musim dingin berkepanjangan tersebut berakhir. Digantikan semburat cahaya matahari pagi. Gumpalan salju mencair. Kecambah mekar tak-terbilang. Tunas tumbuh menghijau. Janji kehidupan baru datang.

***

Tapi cerita yang lebih menyedihkan baru saja dimulai. Tidak ada yang tahu kalau seekor belibis itu memiliki pasangan. Menurut keyakinan penduduk kota kami, dalam waktu tertentu, dewa-dewi di surga turun menjejak bumi. Celakanya belibis itu turun di waktu dan tempat yang salah.

Fram dan istrinya kembali ke keseharian mereka dulu yang menyenangkan. Tubuh Fram kembali kekar. Dia mengambil-alih tugas istrinya selama ini. Terlebih kaki istrinya pincang sekarang, terpotong hingga pangkal betis. “Terkena pohon cemara yang roboh. Membusuk. Jadi aku potong!” Istrinya menjelaskan. “Kau tetap cantik meski pincang, istriku!” Fram bergurau riang. Istrinya bersemu merah. Dan kebahagiaan mereka semakin lengkap saat enam bulan kemudian istrinya hamil. Benar-benar kabar yang menyenangkan.

Saat kandungan istrinya menjejak tujuh bulan. Terjadilah peristiwa aneh itu. Fram yang sedang berburu rusa di hutan cemara, tidak-sengaja melihat seekor belibis indah. Hei? Semangat Fram mengejarnya. Bukan main, belibis itu benar-benar indah. Melupakan banyak keganjilan. Fram berkali-kali jatuh mengejar belibis itu hingga ke tepi danau. Dan terperanjatlah! Dia tidak menemukan seekor belibis yang sedang berenang, tapi seorang wanita yang sedang mandi.

Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku!”

Entah bagaimana caranya, Fram jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis belibis tersebut. Duhai! Celakalah urusan ini! Jalan kisah menjadi berpilin menyakitkan. Bukannya menghabiskan waktu bersama istrinya yang sedang hamil tua di rumah, Fram malah lebih banyak duduk di tepi danau. Bercengkerama dengan gadis itu.

Di mata Fram, gadis itu sungguh menyenangkan. Memesona. Pakaiannya indah berkemilauan. Perhiasannya cemerlang. Wajahnya bagai guratan sempurna pematung tersohor. Tubuhnya memikat. Fram benar-benar jatuh-cinta, tak pernah dia menyadari ternyata cinta bisa sehebat ini.

Malangnya nasib istri Fram, seminggu sudah suaminya tidak pulang-pulang. Ia hanya menunggu cemas di bawah pintu. Sementara perutnya semakin membuncit. Dua minggu lagi bayinya akan lahir. Di tengah putus-asanya menunggu, pagi itu, persis saat cahaya matahari menerabas sela dedaunan pohon cemara, persis saat bunga-bunga bermekaran di halaman pondok, istri Fram memutuskan mencari suaminya.

Pencarian yang menyesakkan. Dengan sepotong tongkat, istri Fram menopang tubuhnya yang kesusahan menyisir hutan cemara. Dan lebih menyesakkan lagi saat ia akhirnya menemukan Fram yang tergila-gila, sedang berdua dengan gadis cantik tersebut.

Tersungkurlah istri Fram! Lirih memanggil suaminya. Duhai, Fram hanya melirik selintas, lantas menyuruhnya pergi. Seperti tidak pernah mengenalnya.

Seperti tidak pernah mengenalnya.

Menangis istri Fram! Lemah berusaha memeluk kaki suaminya. Duhai, Fram justru mengibaskannya. Membuat tubuh dengan perut buncit itu jatuh terjungkal. Tongkat yang dibawanya tak-sengaja mengenai kepala. Istri Fram mengaduh kesakitan. Meski ada yang lebih sakit lagi di hatinya.

Di manakah janji cintanya? Di manakah? Semuanya musnah. Benar-benar saat mereka sedang berbahagia menanti anak pertama mereka. Istri Fram gemetar berusaha berdiri. Lirih memanggil dewa-dewi di surga demi sebuah keadilan. Ia gemetar berdiri dengan sebelah kakinya, pincang berusaha mencengkeram bebatuan.

Fram tidak peduli. Menarik tangan gadis belibis, mengajaknya pergi menjauh. Tapi sebelum itu terjadi, dewa-dewi di surga yang melihat kejadian itu turun ke bumi. Mengungkung tepi danau dengan gemerlap mereka.

“Siapakah yang memanggil dan meminta penjelasan?”

“Aku….” Istri Fram menjawab lirih.

Dan menjadi teranglah urusan itu. Gadis cantik itu adalah penjelmaan pasangan belibis yang tersesat di pondok Fram dua tahun silam. Justeru gadis cantik itu menuntut keadilan. Istri Fram tersedu mendengar tuntutan itu, dia tidak menyangka urusan berubah sedemikian rupa.

“Baik, yang terjadi, biarlah terjadi. Maka biarlah Fram yang memutuskan masalah ini. Apakah ia akan memilihmu atau memilih gadis belibis. Wahai, karena kau seorang manusia, dan gadis belibis ini separuh dewa-dewi, maka kami akan memberikan kau tiga kali kesempatan untuk menghilangkan kelebihan miliknya atau menambahkan kelebihan milikmu. Setelah itu apakah Fram akan memilihmu atau gadis belibis itu terserah padanya.”

Istri Fram menyeka air-matanya.

“Aku ingin seluruh sihir milik gadis ini dihilangkan!”

Cahaya yang mengungkung gadis belibis mendadak lenyap. Pakaiannya kehilangan kemilau. Perhiasannya berubah menjadi kerikil batu. Tetapi, duhai, tetap saja ia terlihat lebih cantik dari siapapun di tempat itu. Tetap memesona. Fram dengan mudah memutuskan memilih gadis belibis itu. Istri Fram mengeluh tertahan.

“Aku ingin seluruh sihir yang masih mengungkung suamiku dihilangkan!” Istri Fram menyebut kesempatan keduanya. Gentar sekali menunggu hasilnya.

Sekejap cahaya yang membalut tubuh Fram sejak pertama kali dia melihat burung belibis itu menghilang. Sihir pesona itu lenyap. Petani miskin itu tiba-tiba seperti baru tersadarkan. Tetapi, wahai, apalah arti cinta sejati? Gadis belibis itu tetap memesona meski sihirnya tidak lagi menutup mata dan membebalkan otaknya. Fram sekali lagi tega memilih gadis belibis itu.

Istri Fram jatuh terduduk.

Oh…. Di manakah sisa-sisa janji cinta itu? Di manakah?

“Aku ingin Fram melihat janji kebahagiaan yang diberikan oleh bayi yang kukandung!” Istri Fram berkata lirih. Menyebut kesempatan ketiga sekaligus terakhirnya.

Siluet cahaya menggetarkan mengungkung kepala Fram. Dia seperti menyaksikan visualisasi nyata masa-depan mereka. Kehidupan yang menyenangkan di pondok dengan anak-anak mereka…. Taman bunga di tepi danau. Tetapi, apalah gunanya janji masa depan itu? Fram mengibaskannya. Dia merasa memiliki janji kehidupan yang lebih indah bersama gadis belibis ini…. Fram mendesis memilih gadis belibis.

Tersungkurlah istri Fram sekarang. Menangis. Tiga kali kesempatan, habis sudah pengharapannya. Musnah. Tepi danau itu senyap, hanya diisi oleh berlarik suara tangisan.

Fram meraih tangan gadis belibis di sebelahnya. Mengajaknya pergi. Matanya benar-benar dibutakan oleh tampilan. Tega sekali dia memberangus kehidupan bersama istrinya. Dewa-dewi menghela nafas tertahan. Apapun hasilnya, semua sudah selesai. Mereka beranjak hendak pergi. Saat itulah salah-seorang dewa-dewi itu berkata lirih.

“Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan terakhirmu untuk menunjukkan kejadian yang sebenarnya, wahai wanita yang malang.”

Wajah-wajah tertoleh. Seorang dewa yang amat cemerlang wajahnya terbang mendekati istri Fram.

“Kenapa kau justru menggunakan kesempatan terakhirmu untuk memperlihatkan janji masa depan?”

Istri Fram tersedu, menggeleng. Menyeka pipinya.

“Wahai wanita yang malang,  kenapa kau tidak meminta kami menunjukkan dengan nyata kejadian malam itu. Agar suamimu melihatnya. Agar gadis belibis ini melihatnya.”

Istri Fram berkata lirih, tertahan, “Aku tidak ingin cintanya kembali karena dia merasa berhutang budi.”

Dewa dengan wajah cemerlang itu tertawa getir.

“Kau melakukannya karena cinta, wahai wanita yang malang. Maka tidak ada hutang-budi. Ah, urusan ini benar-benar menyakitkan! Amat menyakitkan!” Dewa itu menoleh ke arah Fram, dengan tatapan menghinakan, ”Kau tidak pernah tahu mengapa istrimu pincang, wahai pemuda yang sepatutnya dikasihani. Dan kau, gadis belibis yang menyedihkan, kau tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan belibis pasanganmu. Biarlah hari ini seluruh dewa-dewi menjadi saksi, dalam urusan cinta ini mereka yang berkuasa atas segenap urusan ternyata sama sekali tidak kuasa untuk terlibat dalam urusan sesederhana ini.”

Maka melesatlah dewa dengan wajah cemerlang itu ke angkasa, menyusul dewa-dewi lainnya. Meninggalkan istri Fram yang menangis tersungkur sendirian. Istri Fram yang hamil tua. Istri Fram yang menyimpan kisah sesungguhnya apa yang terjadi malam itu, ketika suaminya sekarat. Yang dia tidak ingin suaminya lihat. Hingga merasa berhutang-budi.

Fram dan gadis belibis itu justeru sudah pergi segera.

***

Aku menghela nafas panjang. Pemakaman semakin ramai oleh penziarah. Dua puluh tahun berlalu. Benar-benar tidak ada lagi yang kukenali di kota ini. Semua sudah berubah.

Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti Fram, si petani miskin. Kalimat itu terngiang kembali. Aku tertunduk menatap pusara Cindanita-ku. Mengusap batu besar yang mengukir namanya. Aku tidak pernah melakukan hal bodoh itu, Putri Duyung Kecilku. Tapi Mama-mu melakukannya. Dan aku sungguh tidak tahu apakah itu sebuah kebodohan atau bukan.

“Mengertilah, Sam. Pernikahan kita sudah selesai. Aku mencintainya. Aku seperti anak remaja yang jatuh cinta lagi. Anak remaja yang pertama kali mengenal kata cinta!”

“Ya Tuhan, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan pergi bersamanya.”

“Bagaimana dengan janji cinta kita?”

“Semua sudah berakhir, Sam. Biarkan aku pergi! Aku lelah dengan kehidupan kota ini. Aku tidak akan pernah bisa menggapai mimpiku. Aku lelah hanya bernyanyi di tengah pesta seadanya, orang-orang biasa.”

“Bagaimana mungkin kau akan melakukannya? Bagaimana dengan masa-masa indah pernikahan kita?”

“Aku mencintai pemuda itu, Sam. Aku akan pergi bersamanya, aku merasa muda lagi. Seperti gadis remaja yang kasmaran, aku sungguh seperti menemukan cinta sejati…. Dia cinta sejatiku, Sam!”

“Bagaimana dengan Cindanita.”

Suaraku hilang ditelan desau angin laut. Sempurna hilang bersama dengan perginya Mama-mu, Sayang. Kau yang masih berbilang enam bulan sungguh tidak beruntung. Papa-mu tertatih dengan kehidupan baru. Sendiri. Tertatih dengan semua beban kehidupan, dan itu semakin bertambah saat kau jatuh sakit dan tak pernah kunjung sembuh.

Maafkan aku, Cindanita-ku.

Aku menyeka  ujung mata. Kupu-kupu semakin banyak memenuhi pemakaman kota. Orang-orang semakin riang bercengkerama. Tidak semuanya riang. Ada juga satu-dua yang sepertiku menangis di depan pusara. Ada yang berpelukan haru satu-sama lain. Bersama keluarga. Bersama anak-anak mereka. Aku tidak. Hari ini setelah memutuskan pergi menjauh, aku kembali seorang diri.

Mendongak menatap ribuan siluet kuning. Jiwa-jiwa yang pergi kembali hari ini. Persis seperti yang terjadi dengan istri Fram, petani miskin itu. Sejak kejadian di tepi danau, tidak ada yang tahu kemana Fram dan gadis belibis itu pergi menghilang. Juga tidak ada yang tahu kemana istrinya yang hamil tua pergi. Yang penduduk kota tahu, persis setahun kemudian setelah kejadian tersebut, dua ekor kupu-kupu kuning terbang mengunjungi kota. Satu kupu-kupu besar dengan anaknya yang mungil.

Setahun berikutnya kupu-kupu itu bertambah menjadi belasan. Setahun berikutnya puluhan. Setahun berikutnya ratusan. Hingga ribuan seperti hari ini. Mereka kembali.

Aku menatap pucuk-pucuk pohon cemara.

Apakah cinta sejati itu? Istriku pergi hanya karena ia lelah dengan kehidupan kecil kota kami. Menemukan pemuda yang menjanjikan masa depan lebih baik. Pasangan-pasangan lain hari ini juga berpisah karena alasan-alasan sepele.  Bosan. Merasa terkekang. Merasa pasangannya sudah berubah. Atau bahkan hanya karena alasan-alasan yang dicari. Apakah itu cinta kalau kau setiap saat bisa jatuh cinta lagi dengan gadis lain? Dengan pemuda lain?

Esok-lusa, alasan mereka berpisah akan semakin sepele. Bahkan mungkin mereka tidak perlu alasan lagi untuk berpisah. Padahal percayakah kalian, seminggu setelah berpisah dengan pasangan lamanya, mereka akan menemukan pasangan baru. Buncah dengan kata: “Kaulah cintaku!” “Aku belum pernah merasakan cinta sehebat ini.” Dan berpuluh-puluh kalimat dusta lainnya. Terus saja begitu. Seperti siklus yang berulang. Apakah cinta itu? Mungkin hanya istri Fram, si petani miskin yang bisa menjawabnya.

Kau ingin mendengar penjelasan yang sesungguhnya di malam saat Fram sekarat, Cindanita-ku? Kau ingin tahu? Baiklah, akan aku bisikkan, semoga setelah itu sama sepertiku dulu kau akan tetap mempercayai adanya cinta, meski bisa jadi kau dalam posisi yang tersakiti, anakku.

Aku memandang lemah seekor kupu-kupu kuning yang terus hingga di ujung mantelku. Cahaya pagi mengambang indah. Berlarik-larik menembus kabut memesona. Orang-orang semakin ramai memenuhi pemakaman kota.

***

Lama sekali istri Fram memandangi belibis di tangannya. Mendadak ia merasakan ada yang ganjil. Lihatlah, mata belibis itu menyimpan perasaan takut kehilangan sesuatu. Cemas berpisah dengan sesuatu. Istri Fram mengenali tatapan itu. Tatapan itu sama seperti tatapan miliknya, tatapan yang amat takut kehilangan suaminya. Takut berpisah dengan suaminya.

Fram semakin kejang. Melenguh tertahan. Istri Fram gemetar mengambil pisau. Sekali lagi menatap mata belibis dalam jepitan tangannya. Belibis ini pasti memiliki pasangan, sama seperti dirinya yang memiliki pasangan. Tidak. Istri Fram berkata lirih. Malam ini, jika sepotong daging itu akan mengobati suaminya, itu tidak akan berasal dari belibis elok ini.

Biarlah dewa-dewi menjadi saksi, biarlah semua ini menjadi bukti cinta sejatinya. Istri Fram sambil menggigit bibir gemetar menebaskan pisau tajam. Bukan ke leher belibis, tapi ke betis kakinya. Sempurna memotong. Malam itu, istri Fram memberikan ‘daging’ miliknya.

Dia melepas pergi belibis jelmaan itu. Itulah yang terjadi. Malangnya, belibis jantan yang hendak kembali terbang ke langit terjerambab di pecahan es danau. Mati tenggelam tanpa seorang pun tahu, juga termasuk pasangan betinanya. Malam itu, istri Fram telah membuktikan cinta sejatinya. Andaikata demi kesembuhan suaminya ia harus memberikan jantungnya, maka itu pasti akan diberikannya.

Hari ini, setiap tahun istri Fram kembali. Kupu-kupu kuning yang memenuhi pemakaman kota. Kupu-kupu indah yang terbang di sela-sela cahaya matahari pagi yang menembus dedaunan pohon cemara. Mengambang. Memesona. Hari ini, istri Fram selalu menunaikan janji cinta sejatinya. Dulu iya, sekarang masih, esok-lusa pasti.

Aku juga akan selalu setia dengan janji cinta sejatiku.

Beristirahatlah dengan tenang, Cindanita-ku.

***