1st Journey at Sōzōtopia

 

Track 3 – Pertarungan

 

Author : yen

Contributor : Embun, Fida

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra

Support Cast :  –

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

“Hmmm, tidak biasanya kau datang bersama seorang gadis,” sapa namja cantik itu, tersenyum ramah pada Hyo Ra.

Yang disapa justru bengong, sepertiga takjub, sepertiga tak percaya, sepertiga… entahlah. Apa yang kata tepat untuk mengungkapkan rasa itu. Pastinya, Hyo Ra saat ini masih menatap tak berkedip namja cantik itu, sampai-sampai mulutnya sedikit terbuka.

Taemin melirik malas si pemilik penginapan, menepuk pelan pipi Hyo Ra, “Apa yang kau lihat?”

“Kenalkan, aku Heechul, Kim Heechul. Terserah kau mau memanggilku apa,” namja cantik itu terkekeh pelan, mengulurkan tangan pada Hyo Ra.

Hyo Ra menelan ludah, tergagap menyambut tangan Heechul, bertanya tanpa berpikir, “Kau, laki-laki?”

Taemin memalingkan muka, sekuat tenaga menahan tawa, mendengus geli mendengar celetukan Hyo Ra. Heechul justru mengedipkan sebelah matanya, “Menurutmu? Bagaimana kalau kita selidiki lebih lanjut?” Bertanya genit, mendekatkan wajahnya ke wajah Hyo Ra, membuat wajah gadis itu seketika merona merah. Heechul meniup pelan wajah Hyo Ra.

 “Sudahlah, jangan menggodanya,” Taemin menghentikan kelakuan aneh Heechul. Tangannya mendorong bahu Heechul agar menjauh dari wajah Hyo Ra yang sudah mirip kepiting rebus.

Heechul mendengus malas, memasang wajah sok tersinggung, “Ah… kau ini! Protektif sekali,” duduk di depan Hyo Ra dan Taemin. “Gadismu?”

Taemin menjawab kalem, “Teman.”

“Teman? Hmmm? Kau ya-?”

Hyung!” Taemin berseru, memotong pertanyaan Heechul, kesal.

Heechul terkekeh geli, “Astaga… kau galak sekali Taemin.”

Hyung, bisakah kau antar Hyo Ra kekamarnya? Sekarang? Ku rasa dia sudah lelah,” ucap Taemin ringan, terkendali. Kendati sorot matanya jelas berkata bahwa saat ini dia sedang luar biasa kesal. Apalagi jika bukan karena melihat tingkah Hyo Ra yang sejak tadi hanya menatap Heechul, terpesona.

Heechul tersenyum bijak, melambai pada salah satu pegawainya, “Antarkan gadis cantik ini ke kamar istimewa.”

“Mari Nona,” angguk pelayan itu, sopan. Mengambil alih bawaan Hyo Ra dari tangan Taemin.

Hyo Ra tergagap, buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah Heechul ke Taemin. “Terima kasih sudah menolongku. Ehm, apakah kau juga akan menginap di sini?”

“Tidak,” Taemin menggeleng perlahan, “Tapi besok aku akan menemanimu mencari orang yang kau maksud.”

“Benarkah? Ah, kau benar-benar Pangeran yang baik hati. Putra Mahkota yang menyenangkan,” Hyo Ra berseru girang.

Taemin hanya tersenyum, mengabaikan Heechul yang memasang wajah heran.

“Istirahatlah!” Taemin berucap dengan nada memerintah, sukses membuat Hyo Ra hanya bisa mengangguk, berjalan menaiki tangga mengikuti pelayan yang sudah membawa barangnya.

“Gadis itu tahu kau adalah seorang Pangeran? Putra Mahkota?” Tanya Heechul saat punggung Hyo Ra menghilang di belokan tangga.

Taemin menjawab datar, “Iya.” Jarinya memainkan ujung rompi yang dikenakannya. Berbeda dengan para prajuritnya yang berseragam lengkap dengan rompi yang terbuat dari cincin-cincin baja, Taemin lebih suka memakai kaos turtleneck tipis dan rompi kulit biasa. Dia bahkan tidak pernah membawa-bawa pedang saat bepergian.

Heechul menepuk jidat, ber-ah panjang. “Dan dia tetap bersikap seperti itu padamu? Pantas saja kau langsung jatuh cinta.”

“Jatuh cinta apa Hyung? Kau berlebihan. Aku bahkan baru mengenalnya hari ini.” Taemin melempar pandangan keluar jendela. Menatap pohon Baobab yang menjulang tinggi dikejauhan.

Heechul tersenyum lebar, “Jatuh cinta pada pandangan pertama,” terkekeh geli. “Ternyata kau punya sisi romantis juga.”

“Sudahlah Hyung. Berhenti menggodaku!” Sekilas Taemin melirik ganas, menghela nafas. “Hari ini Minho berulah lagi. Dia sukses merusak suasana hatiku,” ujarnya pelan, kembali menatap pohon Baobab.

“Minho?” Heechul menautkan alisnya, menatap Taemin yang bergeming. “Terserah kau saja,” putusnya kemudian, mengikuti pandangan Taemin, menghela nafas panjang. Pohon itu, dahan dan rantingnya nampak seperti akar. Memberi kesan bahwa ia sengaja ditaman terbalik. Akar di atas, daunnya entah tersembunyi dimana dalam tanah. Memandangnya selalu menimbulkan sensasi perasaan aneh dan janggal. Serasa berada di dunia yang jungkir terbalik.

***

Pagi itu terasa lebih dingin dibanding hari-hari sebelumnya. Kabut menguar lembut saat seseorang bernafas di ruang terbuka. Walaupun begitu, Heechul seperti biasa membuka lebar-lebar jendela favoritnya, duduk dengan kaki kiri menyilang diatas paha kanan, menikmati udara pagi.

“Dia belum bangun?”

Tiba-tiba saja Taemin sudah muncul dari udara kosong, duduk di hadapan Heechul yang sedang asyik menikmati teh, membuatnya sedikit tersedak, berseru mengkal, “Astaga, kau ini! Suka sekali mengagetkanku.”

Taemin hanya menyeringai, mengangkat bahu. Mengulang kembali pertanyaannya, “Hyo Ra belum bangun?”

Heechul menyesap perlahan tehnya, acuh tak acuh, sengaja benar membiarkan Taemin menunggu jawaban.

Hyung??” Taemin memprotes, tak sabar.

Yang dipanggil justru berdehem pelan, memasang wajah menggemaskan, “Aku bukan hyung-mu. Lebih tepatnya, aku ini pamanmu, adik ibumu. Begitu saja tidak paham.”

Ajussi!!” Kali ini Taemin benar-benar mengkal, beranjak dari duduknya. Siap naik ke lantai atas, mengecek sendiri kamar Hyo Ra.

Heechul berdecak sebal, “Iya, iya. Tidak sabaran sekali. Dia sudah bangun dan sekarang sedang mandi. Sebentar lagi juga turun. Puas?”

Taemin menatap tajam pamannya itu, sejurus kemudian kembali duduk. Menggeleng tipis saat salah satu pelayan berbaju sari menawarkan teh.

“Kenapa kau perhatian sekali padanya?” Heechul menunjuk hidung Taemin, menyeringai sinis, “Teman? Baru bertemu kemarin? Sikapmu padanya seperti pada istri saja. Sangat berlebihan.” Berdehem tak penting, “Bagaimana kabar tunanganmu itu? Hmmm?”

Taemin menghela nafas berat, menatap lamat-lamat cangkirnya, “Sudahlah Hyung. Jangan merusak mood-ku.”

“Baiklah, Yang Mulia Putra Mahkota…” lagi-lagi Heechul menyeringai sinis, “Kau memang selalu begini kalau menyangkut wanita. Payah.”

“Seperti kau tidak saja,” Taemin balas menyeringai sinis.

“Aku?? Meremehkanku? Kau saja yang tidak tau, berapa ratus wanita yang kubuat patah hati,” Heechul membusungkan dada, memasang wajah yang seolah-olah berkata kau-tidak-lihat-betapa-tampannya-aku-ini?

Taemin terkekeh geli, “Dan berapa ribu kali kau patah hati Hyung?”

“Aishh, kau ini!” Mengetuk pelan dahi Taemin dengan sendok teh. Luput. Taemin gesit menghindar.

Heechul tiba-tiba berdiri, beranjak menuju anak tangga. Mengulurkan lengan pada Hyo Ra yang baru saja turun, “Selamat pagi, Tuan Putri. Anda tampak sangat cantik. Bagai bunga yang mekar menyambut mentari pagi.”

Segera saja wajah Hyo Ra merona merah, ragu-ragu melingkarkan tangannya di lengan Heechul.

Taemin menatapnya tak berkedip, terpesona. Cantik. Gadis itu kali ini menggunakan baju yang kemarin dibelinya bersama Taemin. Celana panjang dan blus pendek sepinggang berwarna merah maroon dengan motif daun kecil-kecil. Model baju yang biasa dipakai wanita dari kalangan rakyat kelas bawah. Tapi, bagi Taemin yang terbiasa dikelilingi dayang dan putri-putri dengan gaun mewah penuh rimpel, motif dan ormanen-ornamen rumit apalah, justru kesederhanaan itu yang memukaunya. Terlebih melihat wajah Hyo Ra yang tanpa make-up, bersemu merah alami akibat perlakukan Heechul.

“OH! Lihatlah!” Heechul berseru berlebihan, “Bahkan seorang Putra Mahkota pun tak mampu menolak pesonamu.” Menyenggol pelan bahu Taemin dengan sikunya. Membuat sang Pangeran tergagap, buru-buru meraih cangkir teh Heechul yang ada didepannya. Kosong. Menaruhnya lagi diatas meja, menyeringai. Hyo Ra hanya tersenyum geli. Justru Heechul yang terbahak keras tak karuan, menertawakan tingkah konyol keponakannya.

“Pelayan! Tolong siapkan sarapan untuk kami bertiga!” Panggil Heechul, setelah ia berhasil mengendalikan tawanya yang berkepanjangan tadi. “Kau mau makan apa gadis cantik?”

Yang ditanya malah menatap Taemin, bertanya lewat pandangan, meminta pendapat.

“Kencana, dengan daun basil,” ucap Taemin ringan.

Hyo Ra mengernyit, gwenchana? Apanya yang tidak apa-apa? Apa maksudnya?

“Baiklah. Tiga mangkok kencana, dengan daun basil,” perintah Heechul pada pelayan.

Tak lama kemudian, pelayan itu kembali lagi dengan nampan di tangan. Meletakkan 3 mangkok bubur berwarna keemasan. Aroma wangi meruap. Hyo Ra tidak lagi peduli pada nama makanan itu, yang jelas kencana apalah itu nampaknya sangat enak.

“Kau tau? Ini adalah menu sarapan spesial kami. Rasanya luar biasa! Surga! Terbuat dari bahan pilihan. Tetes embun pertama musim semi, serbuk sari bunga Maehwa, biji gandum yang sengaja aku datangkan dari negeri yang sangat jauh, ehm, beberapa helai Golden Flower. Ah… bahan lainnya tentu saja rahasia. Resep turun temurun dari nenek moyang,” Heechul berucap bangga, menjelaskan panjang lebar.

Hyo Ra menyendok bubur miliknya, mencecap dengan ujung lidah, tersenyum lebar, “Benar! Luar biasa! Enak sekali!” Lahap menyuap.

Taemin dan Heechul tersenyum, ikut menyendok bubur di mangkuknya. Untuk beberapa saat ruang itu menjadi sepi, sesekali terdengar denting sendok beradu dengan mangkuk.

“Hyo Ra,” panggil Heechul memecah kesunyian. Gadis itu refleks mengangkat wajah, melempar pandangan bertanya.

“Ada bubur di bibirmu,” ucap Heechul ringan, menyeka bibir Hyo Ra dengan ibu jarinya. Hyo Ra hanya menyeringai, kembali asyik dengan buburnya.

Justru Taemin yang mendengus sebal, melempar tatapan tajam ke arah Heechul. Apa-yang-kau-lakukan-Hyung? Heechul mengangkat bahu, memasang wajah tak berdosa.

“Bagaimana rencanamu hari ini?” Taemin menatap Hyo Ra yang asyik menggembungkan pipi, meniup-niup bubur di sendok.

“Eh? Oh, aku juga belum memikirkannya,” memutar bola mata, bingung bagaimana menjelaskan. Bukankah ia sudah bertemu dengan kelima kandidat? Tidak perlu mencari lagi, tinggal menilai dan memutuskan. Menilai?  Hyo Ra sedikit pusing mengingat kata itu. Harus menilai bagaimana? Kriteria apa yang harus dipakai? Entahlah.

“Sebenarnya siapa yang kau cari? Saudaramu?” Taemin kembali bertanya.

Hyo Ra sudah nyaris membuka suara, saat Heechul berdehem keras, memasang wajah tersinggung, “Nanti saja bicaranya. Kalian tidak menghargai makananku!”

Hyo Ra memasang wajah minta maaf, kembali serius pada buburnya. Tentu saja Heechul tersenyum senang. Taemin hanya mengangkat bahu, melempar pandangan kau-berlebihan-sekali-Hyung! Suasana kembali hening. Mereka bertiga makan dalam diam.

Tiba-tiba saja Hyo Ra berhenti menyuap, membuat sendoknya tertahan di depan mulut, menatap tajam udara kosong di depannya, merasa bahwa sesuatu sebentar lagi akan muncul di sana. Sedetik kemudian, seberkas sinar berpendar terang di tempat itu.

“Apa yang kau li-” Belum sempat Taemin menyelesaikan pertanyaanya, Minho sudah muncul begitu saja dari udara kosong. Berdiri tegak dengan katana terhunus, tersenyum sinis.

“Di sini ternyata kau bersembunyi, Taemin!” Tanpa basa-basi mengacungkan katana ke leher Taemin.

Sejenak Taemin tampak terkejut, sedetik kemudian ia ikut tersenyum. Sedetik selanjutnya telah menghilang dan muncul kembali di seberang ruangan. Sangat tenang dan terkendali, meraih sepasang pedang yang tergantung di dinding.

“Akhirnya kau berani muncul langsung dihadapanku,” tersenyum tipis ke arah Minho, mengacungkan pedang.

Tak menunggu lama, mereka berdua segera saja beradu pedang dan katana. Hening, tak ada teriakan. Hanya denting baja beradu, membuat bunga api terpercik. Sekali dua salah sasaran, menebas guci-guci antik.

“Wuuuzzz!”

Taemin menahan nafas saat katana tajam itu berdesing tepat di bawah hidungnya, nyaris membelah leher. Ia bahkan bisa mencium bau anyir darah yang masih menguar dari katana tersebut. Minho menyunggingkan senyum meremehkan, kembali menyabetkan katana, tak memberi jeda. Taemin gesit menghindar, merunduk, menyapu kaki Minho dengan tendangan memutar. Minho refleks melompat.

“DUUGG!”

Akibat terlalu fokus pada serangan kaki Taemin, Minho tak sempat menghindar. Hulu pedang Taemin menderas telak di dadanya.

Heechul mengelap mulut dengan serbetnya, beranjak berdiri. Tampaknya ia tak ambil pusing dengan pertarungan sengit yang sedang berlangsung, “Selesaikan urusan kalian. Setelah itu, bayar kerusakan yang kalian buat di penginapanku!” Namja cantik itu berjalan santai menuju lantai atas, meninggalkan Hyo Ra yang duduk terpaku dengan wajah pias.

Hyo Ra menatap punggung Heechul tidak percaya, menggerutu, “Astaga… bisa-bisanya dia bersikap seperti itu.”

Hampir 10 menit sudah keduanya bertarung, saling menebas, menusuk, menendang. Sejauh ini masih seimbang, tak nampak sedikitpun kelelahan. Tapi hal itu tampaknya tak akan berlangsung lebih lama, puluhan orang dengan seragam hitam merangsek masuk, mengepung Taemin dan Minho yang bahkan melirik mereka pun tidak sempat. Pasukan hitam itu membentuk lingkaran besar, rapat mengurung kedua petarung.

Salah satu diantara mereka maju, hendak ikut melancarkan serangan kearah Taemin menggunakan pedang tipis bermata ganda. Lagi-lagi, Hyo Ra menelan ludah, bukankah itu kandidat kedua?

“Jangan ikut campur Yesung!” Minho berteriak galak.

Kandidat kedua yang ternyata bernama Yesung mengurungkan niatnya, berdecak kesal, mundur beberapa langkah. Namun matanya tajam mengamati pertarungan yang terjadi, tangan kanan menggenggam erat hulu pedangnya, siap mencabutnya kapan saja diperlukan.

Taemin terlihat mulai terdesak. Minho terus menyerang lincah, tak memberi jeda. Pasukan hitam bergeming diposisinya masing-masing, mengurung rapat ketiga petarung.

“PRANGG!!”

Hyo Ra menjerit tertahan melihat salah satu pedang Taemin berkelontang ke lantai. Darah merembes pelan dari lengan kiri Taemin, membasahi kaos turtleneck putihnya. Minho tersenyum puas, menatap katananya yang bernoda darah.

“Hanya sebatas ini kemampuanmu? Heh? Sungguh mengecewakan!” Seru Minho mengejek, kembali menebaskan katananya. Taemin lincah menghindar, balik menebas leher Minho. Luput, hanya bisa memutus beberapa helai rambut ikal Minho yang tergerai. Memang hanya rambut, tapi Minho terlihat sangat sebal, marah dan terhina. Terlebih karena Taemin sekarang tersenyum mengejek, menaikkan sebelah ujung bibirnya. Segera saja ia menerjang maju, membombardir Taemin dengan sabetan-sabetan mematikan, lagi-lagi membuat Taemin terdesak mundur.

Disaat-saat genting itulah, suara berderap terdengar, sepasukan berseragam merah di bawah pimpinan Jenderal Kim datang.

“Formasi delapan penjuru!” Seru Jenderal Kim lantang, memberi instruksi pada anak buahnya. Sementara sang Jenderal terbang melintasi orang-orang, mendarat sempurna di tengah lingkaran, pasukan merah bergerak taktis, memecah menjadi delapan kelompok berlapis, menyerang pagar lingkaran pasukan hitam. Kacau balau, tak beraturan, pedang beradu dimana-mana, darah mulai menyembur, menitik di atas permadani Turki.  Tak ada lagi formasi lingkaran, semuanya kacau balau. Sebenarnya lobi penginapan milik Heechul ini sangatlah luas, tapi dengan adanya 2 pasukan yang memenuhinya, hanya pertarungan jarak pendeklah satu-satunya pilihan. Busur dan anak panah tak digunakan, pasukan memilih mencabut pedang. Memilih lawan masing-masing, berduel satu-lawan satu.

Selain pertarungan dahsyat antara Taemin dan Minho yang sudah berlangsung sejak tadi, ada satu lagi pertarungan sengit yang sesungguhnya amat memesona dilihat. Pertarungan antara Yesung dan Jenderal Kim. Luar biasa! Keduanya bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, hanya menyisakan kelebatan-kelebatan bayangan dan suara desingan pedang yang terdengar.

Hyo Ra melihat pemandangan dihadapannya, tercabik antara kagum dan miris. Bagaimana takkan miris? Keempat kandidatnya saling bertarung, bernafsu benar ingin membunuh yang lain. Sementara satu kandidat lagi, entah sedang apa di lantai atas. Tidur nyenyak? Bukan hal yang mustahil.

Jenderal Kim melompat tinggi, menerjang Yesung dengan pedangnya. Pedang yang sangat indah, berukir naga di sepanjang bilahnya. Hulunya bertahtakan batu sapir. Mengingatkan Hyo Ra pada ornamen yang digunakan Dragon didadanya. Bukan hanya itu, mantel kulit sebatas lulut yang dikenakannya juga mirip jubah Dragon.

“BUUGG!!”

Yesung menyilangkan pedangnya didepan dada, menangkis pedang naga Jenderal Kim. Sejurus kemudian ia mundur terjajar. Ia memang mampu menahan pedang naga itu, tapi kekuatan si penyerang yang luar biasa besar membuatnya terpukul mundur. Yesung memegangi dadanya, ber-hosh keras, mengatur nafas yang sesak. Sejurus kemudain menyeringai sinis, “Lumayan juga kau Key!”

Jenderal Kim hanya menatapnya dingin, seolah menunggu lawannya itu bangkit berdiri.

Justru Hyo Ra yang membelalakkan mata, jadi ini dia Key itu? Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Dragon memberinya ingatan, bahwa ia harus ekstra waspada pada orang yang bernama Key. Sama sekali tak terbersit, bahwa Key adalah Jenderal Kim, kandidat keempat. Ia pikir, Key adalah semacam musuh, orang jahat, atau apalah yang bisa membuatnya gagal melaksanakan tugas yang diberikan Dragon. Mustahil seorang kandidat adalah musuh. Iya ‘kan? Entahlah.

“BRAAKK!!”

Jenderal Kim refleks menoleh, terbelalak melihat Taemin yang tergerembap menghantam dinding akibat ulah Minho.

“BRAAKK!!”

Kali ini Hyo Ra benar-benar menjerit, Minho terpental dan jatuh tepat di bawah kakinya. Key tanpa basa-basi menerjangnya. Terlambat sedikit saja, bukan hanya terpental dengan bahu berdarah, mungkin lehernya yang tak tertutup rompi platina sudah putus.

Yesung sudah berdiri lagi, menghadang langkah Key yang hendak mendatangi Minho. Sementara itu, Minho sudah bisa berdiri tegak, meraih kembali katananya.

“Putra Mahkota! Pergilah!” Seru Key, lantang dan tegas.

Taemin justru menatap tajam mata Key, melirik cemas pada Hyo Ra yang sekarang tepat berada di balik punggung Minho. Key mendengus sebal, paham benar apa yang membuat Taemin keberatan. Ia menelan ludah, setengah membentak, “Pergilah! Aku akan menjaganya!”

Taemin menatap Key dengan pandangan menilai. Sejurus kemudian ia menghilang begitu saja, menyisakan udara kosong.

“Minho! Kejar Taemin!” Yesung berteriak kencang, sembari menahan serangan pedang yang kembali dilancarkan Key padanya.

“Aku tahu!” Balas Minho mengkal. Tak usah diperintahpun, ia memang sudah akan melakukannya. Ia sudah hampir menghilang, saat merasa sebuah tangan kecil menahan pergelangan tangannya.

“KAU??” Menatap Hyo Ra tak percaya, “Bagaimana kau bisa…?”

Baik Hyo Ra maupun Minho saling memandang kaget. Hyo Ra bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ia lalukan. Tiba-tiba saja ia merasa harus menahan Minho, mencegah namja itu menghilang, mengejar Taemin. Sementara Minho terkejut bukan kepalang. Bagaimana mungkin gadis ini bisa menahannya? Tak seorangpun bisa menahannya saat ia ingin berpindah tempat menggunakan teleportasi. Apakah ini berarti….

“Kau, ikutlah denganku. Veneris…” pintanya pada Hyo Ra, menyarungkan katana, mengulurkan kedua tangannya pada Hyo Ra.

Hyo Ra menelan ludah, Veneris? Ragu-ragu menyambut uluran tangan Minho yang segera menariknya, melingkarkan kedua tangan besarnya di pinggang ramping Hyo Ra. Keduanya menghilang bersamaan. Menyisakan Key dan Yesung yang berjengit tak percaya. Bagaimana bisa?

“MUNDUR!!” Yesung berteriak keras, mengomando pasukannya. Pasukan hitam bergerak taktis, mundur meninggalkan arena pertempuran sembari terus menahan serangan.

“Jangan dikejar! Biarkan saja!” Kali ini Jenderal Kim yang meneriakkan perintah. Berhitung cepat, gadis itu dengan sukarela dibawa pergi. Tapi, bagaimanapun ia sudah berjanji pada Taemin. Bagaimanalah ini?

***

Next:

Track 4 – Dendam Putra Mahkota

 “Ayo, duduklah dulu. Bagaimana aku bisa melepasnya kalau kau tiduran seperti ini?”

 “Aku sedang tidak berminat main-main. Kecuali kau mau mati kehabisan darah.”

 “Aku tak seberuntung mereka, bisa memiliki kehidupan yang normal.”

 “Aku ingin kau jadi milikku!”

 “Kau mau ikut denganku dan kembali pada Taemin, atau tetap di sini bersama Minho?”

Catatan Kaki:

Katana (Japan) : pedang panjang

Kencana (Jawa) : emas

Maehwa : Korean Cherry

Baobab : nama umum dari sebuah genus (Adansonia) yang terdiri dari delapan spesies pohon asli Madagaskar, Afrika daratan dan Australia.

Daftar Pustaka:

Nagabumi: Jurus Tanpa Bentuk (Seno Gumira Ajidarma)

Musashi (Eiji Yoshikawa)