Akhir yang Memulai

Inspired by and dedicated to : Alm. Andika Listyono Putra (S1-Administrasi Negara Fisipol UGM 2008)

Ryū  duduk bersila di hadapan Ara yang masih memeluk lutut, menatap mata sembab milik sahabatnya, bingung hendak berkata apa. Rasa penasaran membuncah dalam hati, apa yang terjadi pada Seta?  Isakan Ara justru semakin keras, gadis itu, entah kenapa, tanpa malu-malu menangis di depan orang lain. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

“Kak Seta meninggal,” ucapnya disela-sela isakan. Tangan Ryū kembali terulur, hendak menghapus air mata yang mengalir tanpa jeda. Pemahaman itu meluncur ke dalam otaknya, Seta meninggal saat mendaki Semeru?

“Gunung adalah cara Kak Seta bertahan dari Ara, apa maksudnya?” Tangan Ryū berhenti, mengambang di udara gara-gara pertanyaan yang keluar dari mulut Ara.

“Kalau dulu Ara mau jadi pacar Kak Seta, apa berarti dia nggak akan naik-naik gunung?” Tatapan Ara yang penuh kebingungan dan rasa bersalah membuat Ryū merasa sangat tidak nyaman. Belum sempat ia hendak menjawab, Ara sudah membuat kesimpulan yang membuat hari Ryū serasa diiris, “Kalau dulu Ara mau jadi pacar Kak Seta, dia nggak akan meninggal dengan cara seperti ini. Iya ‘kan?”

“Jangan bodoh. Kematian itu takdir yang sudah digariskan. Nggak ada yang bisa mencegah hal itu terjadi,” sergah Ryū tegas.

Ara tersenyum sinis, “Tuhan menggariskan kematian Kak Seta disebabkan oleh Ara. Begitu?”

Ryū menatap tajam mata gadis dihadapannya, “Sesedih apapun, kamu harus tetap berpikir jernih.”

Ara menggeleng pelan, bibirnya masih melengkung sinis, pandangannya mulai tidak fokus, berputar kesana-kemari. Ryū sigap menggenggam jemarinya yang mulai bergetar tak terkendali, memanggil khawatir, “Ara!”

Gadis itu justru tersengal, tersedan hebat. Air matanya memang tidak lagi mengalir, tapi rasa dadanya terasa semakin sesak dan berat.

Ryū memegang kedua pipi Ara, membuat wajah gadis itu tepat menghadapnya, “Ara Farzana Izzati,” panggilnya tegas.

“JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!”

Teriakan Ara membuat Ryū sedikit terlonjak, meneguk ludah gugup, tak mengira mendapat reaksi seperti itu. Bahu gadis itu mulai naik-turun tak terkendali, menahan sesak. Menatap kosong dengan nafas yang semakin tak beraturan.

Ara beranjak dari duduknya, berdiri goyah, menyandarkan pungungnya pada batang pohon Tenggaring, menatap tajam Ryū  yang juga ikut berdiri, “Kau mau bilang apa? Mau berjanji apa?  APA?” Ara bertanya dengan nada dingin yang buncah oleh kesedihan, “Kau mau pergi? Mau menghilang seperti Kak Tae Jong dan Kak Seta?” Tambahnya lirih, pedih.

Ryū  menatap nanar mata gadis dihadapannya, memanggil jerih, “Ara….”

“JANGAN MEMANGGILKU!” Buku-buku jari Ara yang mengepal keras terlihat memutih, bibirnya bergetar pucat. Bukan hanya bibir, seluruh tubuh gadis itu kini bergetar hebat. Terhuyung, nyaris terjerembap ke tanah, jika saja Ryū tidak sigap menopangnya. Ara kembali menangis, membanjiri kemeja Ryū dengan air mata. Menggerung keras dalam dekapan sahabatnya.

Bagi yang tak mengerti, perkara ini tentu akan terlihat sangat berlebihan. Tapi sungguh, bagi Ara ini adalah kehilangan pertamanya. Pertama kalinya dia kehilangan orang dekat, sahabat, kakak. Terlebih karena SMS yang terakhir kali dikirim Seta. Walau sejatinya, gunung hanyalah cara Kakak bertahan dari Ara.

Hari itu, setelah puas menumpahkan air mata, Ara menceritakan segalanya pada Ryū dan Ken. Menumpahkan kesedihan lewat kata-kata. Mengulas semua cerita, mengenang segala peristiwa. Tentang betapa baiknya Seta selama menjadi Kakak. Betapa menyebalkannya saat Seta impulsif berteriak bahwa ia mencintai Ara. Betapa mengiris hati melihat wajah kuyu Seta setiap membicarakan cinta. Betapa sesaknya hati Ara karena Seta tak bosannya mengatakan ‘Kakak sayang Ara, sangat’. Betapa senangnya Ara saat Seta kembali riang, bercerita tentang serunya penaklukan atap-atap dunia. Betapa tak karuannya perasaan Ara saat Seta bilang gunung hanyalah cara Seta bertahan darinya.

Munculnya pertanyaan-pertanyaan yang membuncah resah. Sesal yang menyeruak tak tertahankan. Ara merasa telah bersikap begitu keterlaluan dalam menanggapi cinta Seta padanya. Tak berusaha memahami bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap cinta. Memiliki cara yang berbeda untuk memperlihatkan rasa cinta. Ara benar-benar tak mengerti, orang sepintar Seta, kenapa begitu tidak logis saat menghadapi cinta? Orang sekuat Seta, yang bahkan mampu menaklukkan atap-atap dunia, mengapa tak mampu menaklukan hati dan perasaan sendiri?

Hari itu, baik Ryū maupun Ken memilih untuk diam. Bukan saat yang tepat untuk menghamburkan kalimat bijak apalah. Ara hanya perlu berbagi, hanya perlu bercerita, hanya perlu menumpahkan segala rasa. Ara belum siap menerima, menampung dan mencerna penjelasan sesederhana apapun. Biar waktu yang mengobati. Yakinlah, tak berapa lama lagi, Ara akan bisa mengingat semua tentang Seta sembari tersenyum lega. Ini hanya masalah waktu.

Tapi, sejatinya bukan hanya Ara yang sibuk bertanya. Benak Ryū tak kalah rusuh. Tak kalah sakit. Melihat gadis yang disayanginya menjerit histeris karena pria lain. Merasa harus bersaing dengan orang yang sudah meninggal. Merasa sedih karena gadisnya sedih. Merasa tak yakin apa ia sanggup membantu Ara mengobati luka yang ditorehkan oleh kalimat terakhir Seta. Walau sejatinya, gunung hanyalah cara Kakak bertahan dari Ara. Pecinta seperti apa yang tega membuat orang yang dicintainya menanggung rasa bersalah sepanjang hidup. Pecinta seperti apa yang tega menghiasi sisa hidup orang yang dicintainya dengan penyesalan.

Dan pertanyaan terbesar Ryū, pecinta seperti apakah dirinya?

Tentu saja tak ada tanya yang tak berjawab. Tak ada luka yang tak sembuh.

Untunglah. Semuanya berjalan normal. Keesokan harinya, saat pemakaman Seta, Ara sudah bisa tersenyum. Memeluk Mama Seta, saling menghibur, menguatkan. Mengangguk sopan saat teman-teman pendaki Seta menyapa. Satu dua mengatakan mengenali Ara dari wallpaper ponsel Seta, atau dari fotonya yang selalu ada di dompet Seta. Ara sudah bisa menyeringai saat satu dua dari mereka bilang, betapa Seta senang sekali menatap lamat-lamat bunga Edelweis sembari  bercerita tentang Ara, adik kesayangannya. Ara bahkan sudah bisa mengangguk mantap saat salah satu dari mereka mengajaknya mendaki puncak Semeru, menikmati bekunya Arcopodo, suatu saat nanti.

 Tetap saja, air mata kembali menitik, saat mereka bercerita tentang saat-saat terakhir Seta. Bertujuh mendaki Semeru melalui rute Ranupane (Ranupane-Ranukumbolo-Kalimati-Arcopodo-Cemara Tunggal-Kawah Jonggring Seloko). Pagi itu sampai di puncak setelah perjalanan 4 hari, disambut cuaca berkabut dan angin besar. Memutuskan turun beberapa jam kemudian. Seta yang terpisah dari rombongan di sekitar Arcopodo. Teriakan Seta yang masih terdengar. Malang, arah angin membuat Seta tak bisa mendengar jawaban mereka, terpisah semakin jauh. Pungungan disebelah kanan jalur pendakian sempurna memisahkan mereka. Sahabat terbaik Seta, sekaligus ketua rombongan berpikir cepat, membagi 2 kelompok. Satu kembali ke atas, susuri jalur Seta! Satu segera ke bawah, potong jalur Seta! Naas, jarak pandang yang pendek dan medan yang sulit membuat mereka kehilangan jejak. Mereka kembali berkumpul di pos Kalimati, berharap Seta sudah sampai di sana. Nihil. Ketua kembali membagi mereka menjadi 2 kelompok. Satu menunggu sembari istirahat di pos Kalimati. Satu lagi menuju Ranukumbolo dan beristirahat di sana. Pada akhirnya, ia sendiri yang tak sabar, sore itu juga bergegas turun ke Ranupane, meminta bantuan Tim SAR. Berburu dengan waktu, sore itu juga kembali naik ke atas, mencari Seta dan menjemput kelima teman yang beristirahat. Esok paginya, dan esok paginya lagi, juga har-hari sesudahnya, semakin banyak relawan pendaki datang membantu pencarian. Tim SAR pantang menyerah. Tak ada seorangpun yang berhenti berharap. Namun, inilah kenyataan. Lima hari setelah perpisahan itu, Seta ditemukan. Meninggal di dasar jurang blank 75.

***

Sekali lagi, tak ada tanya yang tak berjawab. Tak ada luka yang tak sembuh. Walaupun mungkin, tetap ada bekas yang tak ‘kan pernah hilang. Mungkin, segalanya hanyalah soal waktu. Waktu yang terus berjalan, tak terhentikan. Waktu yang terus berjalan, tak tertahlukkan. Waktu yang terus berjalan, tak terkalahkan.

“Bisa diem nggak sih? Bolak-balik kaya’ setrikaan! Lama-lama cekung juga tuh lantai loe lewatin mulu,” sergah Ken tak sabar, melihat Ryū yang dengan tampang gelisah bolak-balik tak karuan di koridor depan kelas. Bagaimanalah tak gugup? Bukan. Bukan karena 10 menit lagi ia harus menyampaikan pidato sebagai lulusan terbaik tahun ini. Jelas bukan hal itu alasannya.

“Gimana klo dia histeris kaya’ waktu Seta meninggal dulu?” Ryū mengusap wajah, pias.

Ken mengangkat bahu, “Emang loe ada rencana mau mati juga?”

Ryū mendelik sebal, “Sialan loe! Maksud gue, gimana klo Ara nolak gue dan marah-marah histeris?”

“Loe peluk aja. Ntar juga jinak,” sahut Ken kalem. Bukannya waktu Ara histeris karena mendengar berita kematian Seta, yang berhasil menenangkan dan mengembalikan akal sehatnya juga Ryū? “Ouchh! Sakit, gila!” Sergahnya mengkal, Ryū menjitak kepalanya keras-keras.

“Ryū!” Gadis yang sedang dibicarakan justru berlari ke arah mereka, memasang wajah kesal. “Dah ditungguin orang satu auditorium tuh! Buruan!” Berhosh-hosh mengatur nafas.

Ryū menggaruk leher belakangnya, menyeringai malas.

“Malah cengar-cengar kaya’ kuda,” Ara tak sabaran menarik lengan kiri Ryū, “Kak Ken juga! Ayo! Buruan!” Berseru galak pada Ken.

Ken menyeringai lebar, mengulurkan lengan kanannya, “Gandeng….” Pintanya dengan nada manja. Ara mendesis sebal, menyambar lengan Ken tak sabaran, menarik kedua temannya yang entah kenapa hari ini bersikap aneh.

“Cepetan kenapa sih?” Ara bersungut-sungut, menarik kedua cowok yang sepertinya enggan sekali beranjak. Bertanya heran, “Kalian kenapa sih?”

Ken menyeringai lebar, mengedipkan sebelah mata pada Ryū. Sejurus kemudian memeluk Ara, “Nggak mau pisah!” Teriaknya kencang-kencang.

Ara hanya membelalak kaget. Belum sempat dia memprotes apalah, Ken sudah berlari serabutan sembari tertawa terbahak.

Ryū bergumam sengit, “Cari mati tu anak!” Mengambil langkah lebar menyusul Ken yang sudah sampai di pintu masuk auditorium. Meninggalkan Ara yang masih berdiri mengerutkan dahi.

“Ryū! Tungguin!” Panggilnya sebal, menggerutu, “Kenapa jadi aku yang ditinggalin?”

Acara resmi yang diadakan sekolah berjalan lancar. Selancar dan setenang Ryū saat menyampaikan pidato dengan luar biasa. Sedikit lucu, menyentuh dan mengharukan pastinya. Tapi, ternyata tidak setenang itu. Hati Ryū ternyata rusuh serusuh-rusuhnya. Saat semua orang sibuk saling memeluk, menepuk bahu, berjanji akan tetap saling memberi kabar, selalu menjadi teman, Ryū justru sibuk menata perasaan. Duh, sulit sekali urusan hati ini.

Akhirnya, Ryū benar-benar tak bisa lagi menahan perasaannya. Melihat Ara yang tertawa renyah dikelilingi teman-teman lelakinya sungguh membuat hatinya panas. Ia sadar benar ini tidak logis, tidak beralasan. Bukankah apa yang terjadi dihadapannya sekarang adalah hal yang wajar, biasa terjadi? Sepanjang 2 tahun mereka berteman, Ara memang seperti itu. Tak membedakan teman cowok atau cewek. Saking cueknya Ara, dia bisa ikut-ikutan gerombolan cowok, bersuit-suit menggoda seorang cewek cantik yang kebetulan lewat. Tapi kali ini Ryū benar-benar tidak suka! Ia bahkan tidak begitu sadar apa yang dilakukannya, tiba-tiba sudah sampai di bawah pohon Tenggaring. Terkejut melihat wajah Ara yang mengernyit kesakitan.

“Ryū apa-apaan sih? Sakit ini!” Seru Ara sebal, mengusap pergelangan tangannya. Merah. Baru saja Ryū tanpa mengucapkan apapun sudah menariknya, lebih tepatnya, menyeretnya. Tidak peduli pada tatapan dan seruan teman sekelas mereka yang terheran-heran. Lurus berjalan menuju belakang sekolah, terus mencengkeram erat pergelangan tangan Ara.

Ryū mengusap wajah, menyeringai, “Maaf Ra. Aku… aku….” Ternyata tak segampang yang ia pikirkan. Sungguh sulit ternyata.

“Apa?” Ara menatap Ryū lamat-lamat. Ini bukan perasaannya saja, Ryū memang aneh. Jauh lebih aneh dari Ken yang sepanjang hari tertawa tak jelas, melontarkan perkataan-perkataan aneh, sekali dua mencuri memeluk.

“Kapan berangkat ke Yogya?” Ryū kembali menyeringai.

Ara menautkan alis. Jelas-jelas Ryū tadi mau mengatakan sesuatu, bukan bertanya. Gadis itu maju satu langkah, memperkecil jarak dengan Ryū. Mendongak, mencari mata Ryū yang entah kenapa hari ini justru seperti malas sekali bersitatap dengannya. Menatap lurus-lurus manik mata sahabatnya. Dan, ini lebih aneh lagi! Ryū memalingkan wajah, tak mau menatap mata Ara. Bukankah itu sangat aneh?

Ara meletakkan telapak tangannya di kening Ryū, “Sakit?”

Ryū justru melangkah mundur, panik. Terjerembap tersandung akar Tenggaring yang menonjol keluar. Ara yang berusaha menahannya ikut terjatuh, tak kuat menahan berat tubuh Ryū. Jatuh tepat di atas badan Ryū, tertawa lebar, “Sorry, sorry! Nggak sengaja. Duh, sudah jatuh tertimpa Ara. Sakit nggak?” Dengan santainya berdiri, menyeringai, mengulurkan tangan, menawarkan bantuan.

Wajah Ryū sontak memucat, bergeming. Sungguh, jantungnya berdentum tak karuan, sebelum sesaat tadi rasanya nyaris berhenti.

Kali ini Ara benar-benar cemas. Ryū sungguh aneh!

Gadis itu beringsut pelan, duduk bersila di sebelah Ryū, memanggil khawatir, “Ryū….”

“Ryū… jangan nakut-nakutin ah, nggak lucu,” imbuhnya saat melihat Ryū tetap bergeming.

Ryū  menelan ludah, mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, “Aku berangkat ke Jepang ntar sore. Ja-”

Belum sempat Ryū menyelesaikan ucapannya, Ara sudah berteriak memprotes, “APA? Ntar sore? Katanya seminggu lagi. Kenapa mendadak banget? Kan udah janji besok mau jalan-jalan dulu, ke Tanjung Puting, ke dermaga? Nggak boleh!” Mendengus sebal, “Ryū! Nyebelin!”

Ryū tersenyum melihat reaksi Ara, “Nyebelin?” Entah mengapa, melihat sikap Ara yang marah-marah nggak jelas seperti ini justru membuat hatinya tenang. Nyebelin? Itu sudah seperti panggilan kesayangan Ara untuknya bukan?

Ara memberengut, “Kenapa nggak kuliah di Yogya aja?”

“Ngapain aku kuliah di Yogya?” Sahutnya datar.

“Ya nemenin aku lah!”

“Ogah banget nemenin gadis semrawut macam kamu! Kaya’ aku kurang kerjaan aja!”

“RYŪ! NYEBELIN!”

“Tapi kamu suka ‘kan?”

“Nyebelin!”

“Hmmm….”

“Nyebelin….”

“Ouchh! Sakit tau.”

“Nyebelin!”

“Ya udah… ku temenin kuliah di Yogya, tapi….”

“Apa?”

“Jadi ibu buat anak-anak aku.”

“Hah? Gila ya? Aku blom mau punya anak. Nggak mau nikah ama kamu sekarang. Masih pengen kuliah dulu.”

“Heh! Lagian siapa yang ngajak kamu nikah sekarang juga?”

“Hah?”

“Eh, tadi kamu bilang apa?”

“Apa?”

“Nggak mau nikah sekarang? Berarti klo besok-besok, mau?”

“Ryū nyebelin!”

“Mau ‘kan?”

“Nyebelin!”

“Nyebelin tapi kamu tetep mau ‘kan?”

“RYŪ!”

“Nah, itu berarti mau.”

“ARGH!”

“Hei! Mo kemana? Kamu belom jawab pertanyaan aku Ra! Klo nikahnya besok-besok mau ‘kan? Empat tahun lagi ya?! Hei! Tungguin! Cepet amat larinya….”

***

Kata-kata yang Ryū susun semalaman memang tak terucap. Tapi, hei! Sikap Ara sudah lebih dari cukup daripada sebuah anggukan atau jawaban ‘kan?

Lagi pula, siapa bilang jantung Ara saat itu berdetak normal? Sekalipun gadis itu berhasil menyeringai dan justru tertawa lebar saat jatuh menimpa Ryū, bukan berarti ia tidak mengalami apa yang dirasakan Ryū ‘kan?

Astaga…!

Ternyata perkara seperti ini bisa menjadi sangat-sangat rumit, sekaligus sangat-sangat sederhana sekali! Sungguh aneh memang. Sama seperti Ryū yang (tiba-tiba) aneh. Atau sebenarnya, Ara yang (tiba-tiba) aneh?

Catatan Penulis :

Mungkin, suatu saat nanti, bagian ‘Akhir yang Memulai’ ini akan mengalami revisi habis-habisan.

Sumber Pustaka:

http://himpala.com/forums/Thread-INFO-mahasiswa-UGM-hilang-di-SEMERU

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9897907

http://jejakjelajahku.wordpress.com/