Teruntuk : Yen

Saat kau mulai ragu, apa yang akan kau lakukan?

Berhenti.

Bukankah kau sendiri yang bilang, “Orang bijak adalah orang yang tahu kapan dia harus berhenti.”

Maka berhentilah!

Bukankah segala sesuatu itu seharusnya kembali pada aturan dasar kehidupan

:harus bermanfaat

Ketika kau ragu akan kemanfaatannya,

Kumohon Yen, berhentilah!

Kumohon, sangat!

Berhentilah!

Ketika kau merasa dalam kungkungan keraguan,

terjerembap dalam hitam abu-abu otakmu,

sekali lagi, kumohon

berhentilah!

Kau sendiri yang bilang, “Sungguh tak rela mati dalam keadaan begini.”

Mengapa kau tak kunjung berhenti?

Kau sendiri yang selalu berkata, “Hidup adalah pilihan. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan yang dibuatnya.”

Lantas, kenapa kau tak berhenti? Berhenti melakukan hal yang kau tak yakin, akan mampu kau pertanggungjawabkan dihadapan-Nya

Berhenti melakukan hal yang tak kau yakini kemanfaatannya?

Mengapa Yen?

Sungguh mengapa?

Berhentilah!

Menghilanglah!

Kembalilah!

Sungguh kumohonkan!

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya” (QS.Al Israa’, 17:36)

***

Maka… biarkanlah aku berhenti.

Berhenti dari segala urusan abu-abu ini.

Urusan yang tak lagi jelas bagiku.

Tak lagi bisa kuyakini kebenaran, kelurusan dan kemanfaatannya.

Urusan yang sungguh aku tak tau halal haramnya.

Hei! Bukankah segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban?

Aku bukanlah putih, kuharap tidak hitam.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah pada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS.Ali ‘Imran, 3:8)