“It’s my obsession, don’t curse me,” ucapku dingin, tak kalah dinginnya dari bibir gadis yang sekarang terbaring kaku dihadapanku. Sekali lagi, untuk terakhir kalinya aku mengecup bibirnya lembut. Bibir biru itu, sebiru hatiku. Jemariku mulai meraba dadanya, mencabut belati yang baru beberapa saat lalu kubenamkan di sana. Memiringkan wajah, menatap lamat-lamat belati dan jemariku yang sempurna berhias merah darahnya.
“Hmmm…” gumamku, menjilat ujung belati, menyeringai puas. Tersenyum menatap wajah gadisku, “Selamat tinggal sayang,” menepuk pipinya pelan.
Tak sengaja ekor mataku menangkap selembar kertas merah maroon. Kertas itu tergeletak pasrah di samping wajah gadisku. Tanganku meraihnya kasar, merobeknya menjadi serpih-serpih kecil tak terhingga. Takjim menaburkannya di atas tubuh gadisku. Kertas jahanam itulah yang membuatku harus kehilangan gadisku. Kertas undangan pernikahan, yang sungguh sayang, hanya ada nama gadisku saja, tanpa namaku.

Credit : OBSESSION by G-Dragon