Track 4 – Dendam Putra Mahkota

 

Author : yen

Contributor : Claudia

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra

Support Cast :  –

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Sementara Heechul bersungut-sungut memarahi Key –hanya Key yang tersisa di tempat itu saat Heechul memutuskan turun dari lantai atas- karena telah membuat penginapannya bak kapal pecah, Hyo Ra dan Minho sudah sampai di markas pasukan hitam. Sebuah tempat tinggal yang unik, sangat unik bahkan. Tempat tinggal Minho bukan berupa rumah atau bangunan apalah, tapi pokok batang pohon Baobab. Ada puluhan pohon Baobab di padang luas itu. Tapi sepertinya hanya 2 pohon yang dipergunakan sebagai tempat tinggal.

Minho terhuyung mendekati salah satu pohon, membuka pintunya, “Masuklah,” ucapnya pelan. Hyo Ra masih menatap takjub pohon yang terletak persis di sebelah ‘rumah’ Minho. Pohon itu juga memiliki pintu. Dibandingkan pohon yang dijadikan rumah oleh Minho, pohon itu jelas jauh lebih besar. Tingginya mencapai 30 meter, dengan keliling batang 47 meter dan diameter 16 meter. Luar biasa besar!

“Kau melubangi pohon-pohon untuk tempat tinggal?” Hyo Ra bertanya dengan nada memprotes. Kasihan sekali pohon yang masih hidup dilubangi batangnya.

Minho meringis, darah mengalir deras dari bahunya, “Tidak. Pohon ini memang memiliki rongga didalamnya. Kami hanya membuat pintu saja.”

Hyo Ra menghembuskan nafas, lega. Menyapukan pandangan pada ruangan yang terdapat dalam pohon itu. Terlihat sederhana, namun sangat nyaman. Ada sebuah tempat tidur, lemari, rak buku dan di sudut ruangan terletak sebuah meja bundar dikelilingi 3 kursi pendek.

“Bahumu! Berdarah!” Seru Hyo Ra panik, mengejar Minho yang terhuyung berjalan menuju tempat tidur.

Minho melempar sembarangan katananya, menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Tangan kanannya nampak mencengkeram bahu kirinya yang terus mengeluarkan darah.

Hyo Ra mendekatinya takut-takut, “Lukamu harus diobati.” Hati-hati memeriksa, cukup dalam juga. Sepertinya Key benar-benar berniat memenggal kepala Minho. “Ehm, sebaiknya buka dulu rompi perisaimu. Sini, aku bantu melepasnya.”

Minho hanya menyeringai, menggeliat malas.

“Ayo, duduklah dulu. Bagaimana aku bisa melepasnya kalau kau tiduran seperti ini?”

Minho justru mengulurkan kedua tangannya, minta dibangunkan.

“Hei! Aku tidak bisa kalau harus mengangkatmu. Kau ini berat sekali tahu!” Serunya tak sabaran. “Kau mau diban-”

Minho menarik tangan Hyo Ra, membuat gadis itu jatuh tepat menimpa bahunya yang berdarah.

“Ouchhh! Kau ini mau mengobati atau membunuhku hah?”

Hyo Ra memberengut sebal, “Salahmu sendiri. Aku kan sudah bilang, aku tak kuat mengangkatmu.” Gadis itu buru-buru hendak bangkit, namun Minho justru menahan pinggangnya, menyeringai lebar.

Hyo Ra balas menyeringai, berkata dingin, “Aku sedang tidak berminat main-main. Kecuali kau mau mati kehabisan darah.”

Minho memang melepaskan Hyo Ra, tapi seringaian di wajahnya justru semakin lebar, “Apa itu berarti setelah kau selesai mengobatiku, kau mau main-main denganku?” Tanyanya sembari pelan-pelan duduk, meringis sesakitan.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Hyo Ra cuek, sibuk mengedarkan pandangan, “Di mana kau meletakkan obat-obatan?”

Minho menunjuk sebuah ceruk yang terletak di dekat sebuah jendela dengan ujung bibirnya. Tanpa banyak bertanya Hyo Ra segera mengambil kotak obat-obatan dari dalam ceruk tersebut. Menghembuskan nafas lega karena obat-obat itu tak seaneh yang semula dia pikirkan. Nyaris sama dengan obat-obatan yang biasa dia temui, kapsul-kapsul, botol-botol cairan, kain putih panjang yang mirip perban. Gadis itu sempat melirik keluar melalui jendela, menelengkan kepala saat melihat sebuah bukit di kejauhan. Ada tembok-tembok dan bangunan besar yang megah di atas bukit itu. Tak nampak jelas, selain karena sangat jauh, bukit itu sempurna tersaput kabut tipis. Hyo Ra tergelitik untuk menanyakannya pada Minho. Tapi instingnya berkata, belum saatnya!

“Siapa yang tinggal di pohon sebelah?” Tanya Hyo Ra, meletakkan kotak obat di atas tempat tidur.

“Tidak ada. Itu markas kami.” Minho patah-patah membuka rompi. Repot sekali saat harus melepas tunik, menyeringai manja, menjulurkan lengan kirinya pada Hyo Ra.

“Jadi kau tinggal sendirian di tempat ini? Pasukan, eh, maksudku, teman-temanmu yang lain tinggal di mana?” Hyo Ra membantu Minho, hati-hati memeriksa luka yang ternyata cukup panjang.

Minho meringis kesakitan, “Di rumah masing-masing. Jauh dari sini.” Kilatan matanya terlihat penuh dendam saat berkata, “Aku tak seberuntung mereka, bisa memiliki kehidupan yang normal.”

Hyo Ra mulai mengoleskan salah satu isi botol ke luka Minho. Ia tidak tau itu obat apa, Hyo Ra hanya mengikuti insting saja. Dan karena Minho diam saja, tidak protes apalah, berarti Hyo Ra tidak salah memilih botol obat. Iya ‘kan?

“Sepertinya hidupmu penuh masalah.” Hyo Ra menatap tajam mata Minho. Mata yang sarat luka dan dendam itu terlihat semakin kelam. “Pertarungan dengan Taemin. Hidup sendirian di tempat terpencil seperti ini. Masih ada lagi? Hmmm?”

Lagi-lagi Minho meringis kesakitan, “Ouch! Sakit!”

“Heh?” Hyo Ra tersenyum geli, “Kenapa kau manja sekali bocah besar?” Tangannya mengacak rambut ikal panjang Minho, gemas.

“Karena kau adalah kau,” sahut Minho dengan tampang serius, meraih tangan Hyo Ra yang masih ada di kepalanya, meremasnya lembut.

Hyo Ra menarik tangannya dari genggaman Minho, kembali sibuk mengobati. Oleskan yang ini, tutup dengan lembaran yang mirip daun kering ini, bebatkan yang ini. “Selesai!” Serunya puas, menepuk pelan pipi Minho.

“Kenapa cepat sekali?” Tanya Minho dengan nada kecewa.

Hyo Ra membereskan kotak obat-obatan, menaruhnya kembali ke dalam ceruk. “Supaya kau tidak bisa berlama-lama menatapku dari jarak sedekat itu,” sahutnya ringan, menatap keluar melalui jendela bundar. Minho menatap punggung Hyo Ra, menghela nafas. Ia beranjak, mengambil sembarang baju dari lemari, terpatah-patah memakainya.

“Siapa namamu?” Minho ikut berdiri di samping Hyo Ra, menatap keluar jendela. Tangan kanannya sibuk merapikan baju.

Hyo Ra menoleh, memandang wajah Minho dari samping. Terkesiap. Minho menatap bukit itu dengan tatapan benci sekaligus mendamba.

“Bukankah baru saja kau memanggilku Veneris?” Hyo Ra menelisik ekspresi namja di sebelahnya. Tak ada tanda-tanda terkejut atau apalah di sana.

“Aku tahu kau seorang Veneris. Tapi siapa namamu?”

Hyo Ra mendengus pelan, merasa sedikit bodoh. Lihatlah, bahkan Minho saja tahu apa itu Veneris. Sedangkan dia? Tidak tahu apa-apa. Gadis itu berjanji dalam hati, bagaimanapun caranya, ia harus menemui Dragon dan menanyakan masalah ini.

“Hei! Aku bertanya, siapa namamu? Apa aku harus memanggilmu dengan ‘hei’ saja?” Minho berseru memprotes, memutus pikiran-pikiran Hyo Ra.

“Hyo Ra. Cho Hyo Ra.”

Minho memutar badan, mengangkat dagu Hyo Ra, sedikit membungkuk. Wajah mereka tepat berhadapan, sejajar.

“Cho Hyo Ra. Maukah kau menjadi milikku?”

Pertanyaan Minho ini nyaris membuat Hyo Ra tersedak. Baru 2 kali bertemu, tiba-tiba saja menanyakan hal aneh seperti itu. Tapi sedetik kemudian Hyo Ra tersadar.

“Karena aku adalah seorang Veneris. Iya?” Tanyanya sinis, menaikkan sebelah ujung bibir.

Minho menghela nafas berat, “Apa kalau kau bukan Veneris, aku punya alasan untuk bisa memilikimu?”

Hyo Ra menepis tangan Minho, mendengus sebal. Bukan, bukan karena pertanyaan Minho barusan. Tapi karena Dragon. Astaga… sungguh keterlaluan orang itu. Tidak menjelaskan apapun, pergi begitu saja. Dan, jangan jatuh cinta! Astaga… benar-benar astaga!

“Kenapa kau merasa berhak memiliki seorang Veneris? Terlebih, dari mana kau tahu tentang Veneris?” Hyo Ra bertanya dingin.

“Aku sama sekali tak merasa berhak memilikimu. Karena itulah aku meminta,” jawab Minho pelan, mengusap wajah. “Dan aku tahu kau adalah Veneris karena aku adalah Putra Mahkota Negeri Para Penerbang.”

Hyo Ra menatap Minho lamat-lamat, “Putra Makhota apa?”

“Yah, kau pasti tidak percaya. Kau pasti lebih percaya saat Taemin berkata dialah Putra Mahkota-nya. Iya ‘kan?” Tersenyum malas, “Apa kau lebih memilih Taemin daripada aku?”

Hyo Ra lagi-lagi ber-puh pelan, memaki Dragon dalam hati. Lihatlah! Sekarang dia pasti tampak sangat bodoh. Seorang Veneris yang tidak tahu apa-apa.

“Ceritakan detailnya,” Hyo Ra menahan gengsi, buru-buru menambahkan, “Aku ingin mendengar kisah ini dari sudut pandangmu.”

Minho menarik nafas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

“Aku adalah putra tertua dari Kaisar terdahulu, Choi Siwon. Kaisar yang dikhianati oleh Perdana Menterinya sendiri. Orang laknat yang sekarang menjadi Kaisar itu, Lee Donghae keparat! Tapi sebenarnya, ayahku tak kalah bajingannya dengan Donghae. Dia bahkan tidak mengakuiku sebagai putranya. Membuangku kemari hanya karena waktu itu aku tidak memiliki kemampuan untuk berteleportasi. Kemampuan yang seharusnya diwariskan turun temurun dari seorang Kaisar pada anak tertuanya, calon Kaisar berikutnya. Lebih tega lagi, dia menuduh ibuku berselingkuh, aku adalah anak orang lain.” Suara Minho buncah oleh dendam dan kebencian, matanya menatap tajam bukit di seberang sana. Hyo Ra menggigit bibir bawahnya, mulai menerka-nerka potongan cerita yang lain. Gadis itu sekali lagi memilih menuruti naluri, melingkarkan tangannya di lengan Minho yang tidak terluka, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Minho.

“Tapi Tuhan memang adil. Aku tidak tahu bagaimana, atau memang benar bahwa Taemin adalah anak tertua ayahku, bocah itu memiliki kemampuan teleportasi. Saat semua orang mengetahui kemampuannya itu, mereka memutuskan bahwa ayah tak pantas lagi menjadi Kaisar. Mereka bersatu di bawah hasutan Donghae, menggulingkan ayah dari tahtanya. Donghae keparat itu, membunuh semua anggota keluargaku. Menjadikan dirinya sendiri sebagai Kaisar, mengangkat bocah ingusan itu menjadi Putra Mahkota. Huh, bodohnya dia tidak pernah berhasil menemukan tempat pengasinganku ini. Jumawa mengira aku tak punya kemampuan untuk membalas dendam. Tapi lihat sekarang, bukan sekadar bisa berteleportasi dan membuktikan bahwa aku lah sang Putra Mahkota yang sebenarnya. Aku juga satu-satunya yang mengenalimu, seorang Veneris. Dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Menggapai yang lebih dari itu bersamamu,” Minho kembali menghela nafas panjang.

“Kau bisa teleportasi….” Gumam Hyo Ra lirih.

Minho memiringkan kepala, menumpukannya di puncak kepala Hyo Ra yang masih bersandar dibahunya. “Belum lama. Hmmm… setahun yang lalu. Saat aku tepat berumur 20 tahun.”

“Kau satu-satunya yang bisa mengenali Veneris?” Hyo Ra melepas rangkulannya dari lengan Minho, menatap mata Minho lurus-lurus.

“Veneris sebenarnya sudah menjadi legenda, rahasia umum di kalangan keluarga istana. Suatu saat nanti, seorang Putra Mahkota dari Negeri Para Penerbang akan menjadi penguasa negeri-negeri timur. Syaratnya, ia harus memiliki seorang Veneris. Tapi, tak ada seorangpun yang tahu siapa Veneris. Desas-desus mengatakan ia adalah wanita cantik dari negeri yang sangat jauh,” Minho tersenyum, mengelus pipi Hyo Ra dengan punggung tangannya, “Dan itu benar. Kau cantik. Sangat cantik.”

Hyo Ra menyeringai malas, menepis tangan Minho yang sekarang ada ditengkuknya. Menyela sebal, “Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau satu-satunya yang bisa mengenaliku?”

“Hanya seorang Veneris yang mampu membuat kemampuanku menghilang. Hanya kau yang bisa mencegahku berteleportasi. Hanya kau yang bisa kuajak teleportasi,” jawab Minho. “Dan itu kuketahui dari Sang Penjaga Timur,” tambahnya saat Hyo Ra tidak memberikan reaksi apapun.

“Sang Penjaga Timur? Kau pernah bertemu Dragon?” Hyo Ra tidak bisa menyembunyikan antusiasme-nya. Bertanya semangat dengan mata berbinar penuh.

“Dragon? Kau memanggil Penjaga negeri-negeri timur dengan nama-nya? Begitu saja? Kau tahu? Para Penjaga adalah orang-orang pilihan dengan kemampuan luar biasa, sejajar dengan dewa-dewa. Tak semua orang bisa menemui mereka. Hanya Kaisar atau Putra Mahkota yang terkadang beruntung bisa bertemu. Dragon? Seakrab itu kau dengannya?” Minho mendelik tak suka.

Hyo Ra tersenyum melihat ekspresi cemburu Minho, jahil memilin rambut ikal Minho yang menjuntai di samping telinga, “Ada apa denganmu? Tentu saja aku akrab dengannya. Aku ini seorang Veneris. Aku juga orang pilihan. Kau lupa?” Terkekeh pelan saat Minho mendengus tak suka. “Kau pernah bertemu dengan Dragon?”

“Iya, ehm, tidak. Entahlah. Waktu itu rasanya mirip mimpi. Tapi nyata sekali,” mata Minho tampak menerawang jauh.

“Dia bicara apa saja padamu?” Tanya Hyo Ra tak sabaran, penasaran.

Minho menggeleng pelan, “Tak banyak. Saat itu aku sedang membenak sembari menatap pohon Baobab. Memikirkan cara terbaik untuk mendapatkan kembali gelar Putra Mahkota, mendapatkan kembali kekuasaan di Istana. Berharap legenda Veneris itu benar adanya. Dengan memiliki Veneris, bukan hanya Negeri Para Penerbang, tapi seluruh negeri timur bisa kukuasai. Lalu terlintas pikiran, jangan-jangan aku sudah bertemu dengan Veneris, atau para Putra Mahkota sebelumnya. Tapi bodohnya kami tidak pernah mengenalinya. Tiba-tiba saja dia muncul. Berkata, ‘Hanya Veneris yang bisa membuat kemampuan teleportasimu tak bisa kau gunakan. Hanya Veneris yang bisa kau ajak berteleportasi. Tapi jangan pernah bermimpi bisa memiliki Veneris. Dia milikku. Veneris adalah milik Sang Penjaga Timur. Aku!’ Huh, dia mengucapkannya dengan sangat dingin.” Minho mengakhiri ceritanya dengan tampang kesal.

Hyo Ra membulatkan mata, menerawang “Aku milik Dragon? Hmmm….” Gadis itu tak sadar menyunggingkan senyum.

“Apa yang kau pikirkan?” Sentak Minho, mencengkeram kuat kedua bahu Hyo Ra.

Hyo Ra mendengus malas, berusaha menepis tangan Minho, “Astaga… ada apa denganmu? Lepaskan. Sakit.”

“Aku ingin kau jadi milikku!” Minho justru mempererat cengkramannya, menarik Hyo Ra ke dalam pelukannya. Karena tidak merasakan penolakan atau perlawanan dari gadis itu, tangan Minho mulai berani mengelus lembut rambut Hyo Ra. Membenamkan wajahnya ke leher jenjang Hyo Ra, menikmati aroma wangi lembut yang menguar dari rambut panjang gadis itu.

Diam-diam Hyo Ra menelan ludah, membenak sendiri, “Astaga… Dragon! Apa maksudmu? Jangan jatuh cinta? Rasanya aku sudah jatuh cinta padaa kedua Putra Mahkota ini. Dan Heechul? Hmmm…”

Sembari menghela nafas panjang, Hyo Ra berusaha berpikir jernih, “Buat apa memilikiku? Belum tentu legenda itu benar. Hanya dengan memilikiku bisa menguasai negeri-negeri timur? Aneh sekali. Dan, aku juga bukan barang yang bisa kau miliki!”

“Aku mencintaimu.” Bisik Minho datar, membuat Hyo Ra tergelak.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Minho, tertawa sinis. “Kau aneh! Kita baru bertemu dua kali ini. Cinta? Sungguh tidak masuk akal.”

“Aku menyukaimu dari pertamakali kita bertemu,” sahut Minho cepat.

“Tapi tidak menyadari kehadiranku di penginapan itu. Sampai aku mencegahmu mengejar Taemin,” sahut Hyo Ra, tak kalah cepat.

Minho tergagap, menelan ludah. “Kenapa kau bisa ada di sana? Makan pagi bersama Heechul dan Taemin? Apa hubunganmu dengan Taemin? Kenapa dia terlihat mengkhawatirkanmu?” Ucapnya, tiba-tiba teringat bagaimana keberatan Taemin saat Key menyuruhnya pergi.  “Hubunganku dan Taemin? Sama dengan hubunganku denganmu. Baru kedua kalinya kami bertemu.” Jawab Hyo Ra ringan, menatap bukit diseberang sana. Mungkinkah, itu istana Taemin? Apa dia baik-baik saja? Bukankah Minho sempat melukainya?

“Dia bukan Putra Mahkota, Hyo Ra! Donghae bahkan tidak punya kemampuan teleportasi, dia tak berhak menjadi Kaisar. Dan bocah tengik itu, entah kenapa bisa teleportasi. Tapi dia bukan Putra Mahkota! Jadi kau tak akan ditakdirkan bersamanya,” sorot mata Minho terlihat dingin penuh dendam, “Takdirmu adalah denganku. Putra Mahkota yang sesungguhnya. Kau mengerti?”

Hyo Ra menyeringai sinis, “Kau tidak berhak berkata seperti itu Minho. Takdirku bukan kau yang menentukan. Sebagai Veneris, aku berhak memilih!”

Mendengar perkataan Hyo Ra yang diucapkan dengan mantap dan tegas, Minho sedikit tertegun. Sorot matanya melembut, “Baiklah. Kalau begitu, pilihlah aku.”

Belum sempat Hyo Ra membuka suara, terdengar suara ketukan pintu dan orang meneriakkan nama Minho. Baik Hyo Ra dan Minho serempak menoleh.

“Minho! Semuanya sudah menunggumu!”

“Ya! Aku segera keluar!” Sahut Minho, sedikit sebal. “Itu Yesung. Sepertinya mereka sudah sampai. Ada yang harus kami bicarakan. Kau tunggulah di sini. Jangan kemana-mana,” ucapnya pada Hyo Ra sembari membuka pintu.

Hyo Ra tidak menjawab. Gadis itu lebih tertarik memperhatikan Yesung yang sedang melempar tatapan kesal kearahnya.

“Kenapa kau membawa gadis itu kemari?” Tuntut Yesung pada Minho.

Minho mengabaikan pertanyaan Yesung, melangkah lebar ke arah pohon Baobab raksasa.

Yesung menjajari langkah Minho, kembali menasehati, “Jangan sampai kau kehilangan fokus hanya gara-gara seorang gadis. Apalagi dia tampaknya ada hubungan dengan Taemin.”

“Dia seorang Veneris.” Sentak Minho sembari menghentikan langkahnya, menatap tajam Yesung yang justru berjengit mendengar perkataannya barusan.

“Veneris?” Yesung menggeleng lemah. “Itu hanya legenda, dongeng. Fokuslah untuk mengambil kembali Negeri Para Penerbang dari tangan pengkhianat-pengkhianat itu. Soal menguasai negeri-negeri yang lain, aku yakin, dengan kemampuan kita, kita bisa mewujudkannya. Tanpa omong-kosong soal Veneris itu. Ingat, banyak nyawa menjadi taruhan dalam usaha kita ini Minho. Jangan gegabah!”

Minho mengangguk setengah terpaksa. Bagaimanapun, ia mengakui kebenaran kata-kata Yesung. Sudah terlalu banyak nyawa pendukungnya yang menjadi tumbal. Semua itu tidak boleh berakhir sia-sia.

Key yang sejak tadi bertengger di atas pohon Baobab menyeringai mendengar percakapan Yesung dan Minho, mendesis lirih, “Veneris? Hmmm….”

Setelah punggung Yesung dan Minho menghilang dibalik pintu Baobab raksasa, Key perlahan terbang turun. Mengagetkan Hyo Ra yang masih berdiri di ambang jendela.

Key hanya menatap Hyo Ra datar, mengulurkan tangan, “Kau mau ikut denganku dan kembali pada Taemin, atau tetap di sini bersama Minho?”

***

Next: Track 5 – Key of Mind

“Ya. Dan kau sekarang sedang berpikir bahwa aku adalah orang yang menakutkan. Jadi apa yang mau kau tanyakan?”

 “Karena aku tidak bisa! Aku tidak bisa menutup pikiranku!”

 “Aku bukan Minho. Jangan sembarangan menyentuhku.”

“Mencoba mengancamku? Sayang sekali, aku tidak takut Key!”