Track 5 – Key of Mind

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra

Support Cast :  –

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Key hanya menatap Hyo Ra datar, mengulurkan tangan, “Kau mau ikut denganku dan kembali pada Taemin, atau tetap di sini bersama Minho?”

Hyo Ra tergagap mendengar pertanyaaan itu, menelan ludah gugup. Berpikir. Ia sudah tahu cerita Putra Mahkota dari sisi Minho. Tapi dia tidak boleh memutuskan terlalu cepat bukan? Selain itu, dia juga belum terlalu mengenal sosok Key, Heechul dan Yesung. Walaupun mereka bukan Putra Mahkota, mereka juga kandidat. Di sana akan ada Key, Heechul dan Taemin. Di sini ada Yesung yang masih misterius dan Minho yang sedikit banyak sudah ia kenal. Tiga lawan dua. Hyo Ra memutuskan untuk ikut Key, “Aku-”

Belum sempat Hyo Ra menyelesaikan ucapannya, Key sudah menggandeng lengannya, membawanya terbang begitu saja melalui jendela.

“Hei, aku ‘kan-” Hyo Ra hendak memprotes.

“Diamlah. Aku sudah tahu. Memilih yang lebih banyak? Kau cukup logis, untuk ukuran perempuan,” potong Key datar, mempercepat laju terbangnya. Hamparan pohon Baobab tempat tinggal Minho dalam sekejap sudah tertinggal jauh di belakang. Berbeda dengan terbang perdananya bersama Dragon –saat itu Hyo Ra menutup mata rapat-rapat saking takutnya- terbang keduanya bersama Key ternyata terasa jauh lebih meyenangkan. Melewati padang rumput yang bunganya melambai-lambai anggun. Melintasi hutan yang dibelah sungai lebar berkelok. Danau berkilat-kilat perak dengan burung berleher panjang yang berenang riang diatasnya. Ditengah-tengah asyiknya Hyo Ra menikmati pemandangan, tiba-tiba Key mendengus sebal. Hyo Ra menatap lamat-lamat wajah Key, melempar tatapan ada-apa?

Key menyeringai malas, “Bukan penerbangan pertamamu ‘kan?”

Hyo Ra menaikkan alis, merasa kalau kandidat yang satu ini cukup menarik. “Bagaimana kalau-”

“Tak masalah. Di sini saja. Bagaimana?” Key tiba-tiba berhenti. Mendarat mulus di puncak menara tinggi yang terletak di sebuah padang rumput yang luas. Segera saja Hyo Ra sibuk melongok kesana-kemari. Menara ini mirip mercusuar. Tapi, untuk apa mercusuar di tengah padang rumput seperti ini? Gadis itu mengedarkan pandangan, mengerutkan dahi saat menyadari bahwa ia bisa melihat pucuk-pucuk ranting pohon Baobab –yang mungkin saja salah satunya adalah tempat tinggal Minho. Saat gadis itu membalikkan badan, menghadap kearah Key, ia menaikkan alis. Wow! Dia bisa melihat tembok-tembok di atas bukit itu dengan lebih jelas. Dan… hei! Ternyata taman dengan 4 menara jam yang melayang itu terletak tak jauh dari kaki bukit. Dari mercusuar ini, rasanya taman itu sangat dekat. Jalan yang membentang di depan taman ternyata terus menjalar ke kaki bukit, naik berkelok mengikuti kontur bukit dan berakhir di depan sebuah pintu gerbang tinggi yang ada di sisi depan tembok. Yang membuat Hyo Ra heran adalah, kenapa ia tidak melihat mercusuar ini dari tempat tinggal Minho, penginapan Heechul ataupun taman? Aneh bukan?

“Menara ini hanya bisa dilihat kalau kau terbang tepat diatasnya. Sekarang, apa yang ingin kau ketahui dariku?” Tanya Key tak sabar melihat tingkah Hyo Ra.

“Hah? Apa?” Hyo Ra sedikit tersentak.

Key melengos malas, “Bukankah kau yang tadi minta berhenti sebentar? Ingin menginterogasiku? Iya ‘kan?”

Hyo Ra menatap Key tak percaya, “K-kau bisa membaca pikiranku?”

“Ya. Dan kau sekarang sedang berpikir bahwa aku adalah orang yang menakutkan. Jadi apa yang mau kau tanyakan?” Key mengabaikan tatapan ngeri Hyo Ra. Beranjak duduk menjuntai di tepian mercusuar yang tidak memiliki pagar pelindung. Hyo Ra takut-takut melirik ke bawah, urung ikut duduk.

Tanpa melirik, apalagi menoleh ke arah Hyo Ra, Key mengulurkan tangannya, “Tidak usah takut. Duduklah.”

Hyo Ra menyeringai, menggeleng jerih.

“Ternyata seorang Veneris itu penakut ya?” Key melirik Hyo Ra, melempar pandangan meremehkan.

“Dari-”

“Aku dengar Minho dan Yesung membicarakan tentang kau tadi.” Jawab Key, lagi-lagi sebelum Hyo Ra sempat bertanya.

Hyo Ra membelalak sebal, “Berhenti menjawab sebelum aku bertanya. Kau membuatku-”

“Seperti orang aneh yang bodoh,” potong Key cepat.

“ARGGHH!! Kau menyebalkan!” Jeritan frustasi Hyo Ra hanya ditanggapi dengan senyuman tipis Key.

“Duduk?” Key masih mengulurkan tangannya.

Hyo Ra ber-puh panjang, ragu-ragu memegang tangan Key, takut-takut melirik ke bawah.

“Kau ‘kan bisa terbang, bahkan sangat menikmatinya. Kenapa takut ketinggian?” Cela Key dengan nada dingin.

“Aku tidak-”

Key berdecak sebal, “Kau bisa. Buktinya kau tadi terbang dengan sangat baik. Kalau kau tak bisa terbang, pasti aku sudah kerepotan membawamu. Tadi aku hanya menggandengmu saja. Kau terbang tanpa bantuanku.”

Hyo Ra menatap Key lurus-lurus, mencengkeram lengan Key kuat-kuat, takut terjatuh. Tapi… hei! Apa ini?

“Kau? Hahaha… aku bisa membaca pikiranmu!” Seru Hyo Ra senang bercampur geli.

Key terbelalak kaget, “APA?”

Hyo Ra meringis penuh kemenangan, “Kau merasa aku keren. Iya ‘kan? Aku bahkan membuatmu bisa terbang lebih cepat dan lebih stabil dari biasanya. Iya ‘kan?”

Key buru-buru menepis tangan Hyo Ra yang mencengkeram erat lengannya.

“KYA!! Apa yang kau lakukan? Kalau aku jatuh bagaimana?” Seru Hyo Ra panik, serabutan meraih tangan Key.

“Kau bisa terbang! Jadi jangan mencari alasan untuk memegangku!” Key meliuk-liukkan badannya, menghindari tangan Hyo Ra.

“Aku tidak bisa terbang sendiri, bodoh! Sama-” Teriak Hyo Ra panik, wajahnya pias.

“Seperti kau tidak bisa berteleportasi sendiri,” desis Key paham. “Kalau begitu, tutup pikiranmu!”

“Hah? Apa?” Hyo Ra menatap Key bingung, tangannya masih menggapai-gapai Key. Terlalu takut untuk beranjak dari duduknya, tapi juga takut untuk duduk tanpa berpegangan.

“Kau bisa melihat pikiranku kalau kau menyentuhku. Jadi, kau harus menutup pikiranmu sehingga kau tidak bisa melihat pikiranku, juga sebaliknya,” sahut Key. “Atau aku tidak akan menolongmu turun dari sini.” Imbuh Key saat menyadari Hyo Ra merasa keberatan.

“Kenapa bukan-”

Key memotong ganas pertanyaan Hyo Ra, “Karena aku tidak bisa! Aku tidak bisa menutup pikiranku!”

Hyo Ra membulatkan bibir, ber-oh pelan. “Baiklah. Bagaimana caranya?”

“Konsentrasi. Jangan biarkan suara-suara itu masuk ke kepalamu. Jangan biarkan suara-suara dari kepalamu terdengar keluar,” Key mengulurkan lengannya, yang sudah pasti, langsung disambar oleh Hyo Ra.

“Begitu?” Hyo Ra memejamkan mata, berkonsentrasi “Heh! Tidak usah menghina ya?! Aku sedang berusaha berkonsentrasi! Aku gadis yang mengerikan?! Terima kasih atas pujiannya! Hah? Kau ingin membunuh Taemin? Siapa yang sedang bicara itu? Itu bukan kau ‘kan? Astaga… itu Minho yang sedang marah-marah. Kau bisa membaca pikiran Minho? Dari jarak sejauh ini? ”

“Konsentrasi! Fokus!” Seru Key mengkal karena Hyo Ra justru memasuki pikirannya. Gara-gara terlalu berkonsentrasi melacak keberadaan Minho lewat kemampuannya melihat pikiran, koneksi antara pikirannya dan pikiran Minho jadi sedikit sulit diputus. Sejak tadi ia sudah terganggu dengan pikiran-pikiran Minho yang terus saja berdengung di kepalanya.

Hyo Ra mengatur nafas, berusaha mengosongkan pikiran. Sejurus kemudian, dia tidak lagi mendengar suara apapun. Saat ia membuka mata, dilihatnya Key terlihat sangat rileks. Ekspresinya begitu tenang dan damai.

“Kau juga tidak mendengar apa-apa lagi?” Tanya Hyo Ra penasaran.

Key tersenyum tipis, “Terima kasih. Nyaman sekali ternyata, tidak mendengar apapun.”

“Selama ini kau selalu mendengar pikiran-pikiran orang lain? Tanpa bisa kau tutup?” Hyo Ra menatap Key dengan iba. Bukankah itu sangat mengganggu? Mendengar segala macam pikiran orang disekitarmu.

“Begitulah.” Key menghela nafas panjang, “Tidak usah memandangku dengan tatapan seperti itu. Kau mengasihani aku ya?”

Hyo Ra tersenyum lebar, terkekeh geli, “Kau tampak lebih manusiawi. Hanya bisa menebak-nebak saja.”

Key mendengus sebal, tak mampu menahan senyum saat melihat Hyo Ra terpingkal-pingkal sembari menggoyang lengannya kesana-kemari. “Hei! Katanya kau takut jatuh?”

Hyo Ra menyeringai lebar, “Aku ‘kan memegangimu. Kita bisa terbang bersama.” Sahutnya ringan.

Key lagi-lagi tersenyum, mengangkat bahu.

“KYAA!! Kau manis sekali kalau tersenyum seperti ini. Seharusnya kau lebih banyak tersenyum Key!” Seru Hyo Ra berlebihan, dengan nada dan gaya dibuat-buat, sengaja benar menggoda Key.

Key langsung cemberut mendengar hal itu, “Kau juga akan sulit tersenyum jika otakmu selalu penuh dengan masalah orang lain.”

“Nah… berarti jika kau bersamaku, kau akan banyak tersenyum ‘kan?” Goda Hyo Ra, tersenyum simpul. Key hanya menautkan alisnya, menatap Hyo Ra, maksudmu-apa?

“Aku akan memegang tanganmu dan menutup pikiran kita. Jadi kau bisa tersenyum sepuasmu. Iya ‘kan?” Kali ini Hyo Ra bermaksud menjawil pipi Key. Tapi Key refleks menelengkan muka, menghindari tangan Hyo Ra.

“Aku bukan Minho. Jangan sembarangan menyentuhku,” ucap Key dingin. Ekspresinya kembali datar.

Hyo Ra membulatkan matanya, menatap Key setengah heran setengah… tak terdefinisikan. “Apa maksudmu?”

Key menjawab tanpa intonasi, “Aku sama sekali tidak tertarik padamu. Dengan alasan apapun.”

Hyo Ra menyipitkan mata, menautkan alis, “Maksudmu, Minho tertarik padaku dengan alasan tertentu?”

Key mendengus perlahan, “Setiap orang punya alasan.”

“Setiap orang siapa? Minho? Taemin?” Hyo Ra setengah mati menahan keinginannya untuk membuka koneksi antara pikirannya dengan pikiran Key.

“Bukankah kau tertarik pada kami juga dengan alasan tertentu?” Tanya Key, menatap tajam mata Hyo Ra. Baru kali ini ia merasa penasaran dengan pikiran seseorang. Biasanya dia dengan mudah melihat ke dalam otak orang tersebut. Ia bisa merasa bahwa Hyo Ra juga sangat penasaran dengan apa yang ia pikirkan sekarang. Tapi entah mengapa gadis itu tetap bersikukuh menutup koneksi diantara mereka.

Hyo Ra menyeringai tipis, “Kami? Sepertinya kau tahu terlalu banyak Key.” Gadis itu mengalihkan pandangannya dari mata Key ke arah padang pohon Baobab. “Kau, Taemin, Minho, Yesung dan Heechul. Heh, tentu saja aku tertarik pada kalian dengan alasan tertentu.”

“Sebaiknya kau tidak membuat kekacauan yang sudah ada menjadi semakin rumit,” desis Key tak jelas.

Hyo Ra terkekeh geli, “Mencoba mengancamku? Sayang sekali, aku tidak takut Key!”

“Kau memang mengerikan,” Key mengikuti arah pandangan mata Hyo Ra. Mendengus sebal, “Kau harus berhati-hati pada Minho.”

Hyo Ra menoleh cepat, menatap Key lamat-lamat, “Apa maksudmu? Apa menurutmu Minho itu orang yang berbahaya? Jahat? A-”

“Lupakan saja!” Sahut Key cepat, seolah menyesali perkataannya barusan.

Hyo Ra tersenyum, “Karena kau ada di pihak Taemin. Iya ‘kan?”

“Aku tidak di pihak siapa-siapa,” ucap Key datar dengan ekspresi terkendali.

“Tapi kau membela Taemin,” desak Hyo Ra.

Key mendengus malas, “Terserah kau saja.”

Hyo Ra tidak memaksa lebih lanjut. Sekali lagi, ia memilih untuk mengikuti intuisinya. Suatu saat nanti, Key akan bercerita lebih banyak lagi. Dan cerita itu akan membantunya untuk mengambil keputusan. Selama beberapa saat, keduanya saling diam. Hyo Ra menikmati angin semilir yang mempermainkan anak rambutnya, tak sadar bersenandung pelan. Key  bahkan memejamkan mata, merasa sangat nyaman karena tak ada suara-suara yang terdengar di tempurung kepalanya.

Saat keheningan itu mencapai puncaknya dan Key mulai merasa mengantuk, ia merasa ada yang bersandar pada bahunya. Key buru-buru membuka mata, menoleh, mengerutkan dahi saat menemukan puncak kepala Hyo Ra berada tepat di depan hidungnya.

“Hei! Bangun. Apa yang kau lakukan?” Tanyanya tegas, menggerak-gerakkan bahu agar Hyo Ra terbangun.

“Hmmm….” Gadis itu hanya menggeliat pelan.

Key menelan ludah, bergumam lirih, “Astaga… kau ini. Benar-benar!”

“Bangunlah! Kita harus segera menemui Taemin, dia sudah cemas menunggumu.” Kali ini Key berusaha berdiri.

Hyo Ra justru mempererat pelukannya di lengan Key, “Biarkan saja. Aku mengantuk,” gumamnya tak jelas.

Key yang sebenarnya juga mengantuk hanya bisa terdiam. Dia tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak. Terlalu banyak pikiran orang lain yang bergaung dalam kepalanya. Ia bahkan sudah biasa terbangun tiba-tiba dengan perasaan baru saja mengalami mimpi buruk. Lebih parahnya, ia bahkan tidak bisa merasakan seperti apa rasanya mengantuk itu. Baginya, kemampuan melihat pikiran itu lebih menjadi beban daripada kelebihan. Bisa tidur nyenyak adalah kesempatan langka. Dan saat ini, kesempatan itu datang tepat di depan mata. Selama Hyo Ra masih memegang lengannya, selama gadis itu menutup pikiran mereka, ia bisa tidur tanpa terganggu sama sekali.

Akhirnya, Key mengalah. Bukan mengalah pada Hyo Ra yang sekarang sudah tertidur lelap. Tapi mengalah pada kantuknya sendiri. Keduanya tidur dengan kepala saling bertumpu. Dan waktupun berlalu tanpa terhentikan, tak terasa.

***

Heechul melempar pandangan kesal pada Hyo Ra dan Key yang meluncur pelan ke dalam lantai dua penginapan, masuk melalui jendela.

“Kemana Minho membawanya? Sampai-sampai semalam ini kalian baru kembali?” Semburnya pada Key. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekhawatiran, sempurna hanya memancarkan kekesalan. “Taemin berkali-kali muncul-hilang dihadapanku. Cerewet bertanya apa kalian sudah kembali.”

“Seharusnya kau bertanya apa aku baik-baik saja, bukannya marah-marah begini,” jawab Key datar sembari menghempaskan diri di sofa. “Kau masak apa Hyung?”

“Buat apa aku menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti? Kalau Minho atau Yesung mampu, kau adalah orang pertama yang akan mereka lenyapkan, dari dulu.” Dengus Heechul mengkal, “Hyo Ra, naiklah ke kamarmu. Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan air panas untukmu mandi. Sementara itu, aku akan menyuruh pelayan membuatkanmu sup jamur. Astaga… tampangmu lusuh sekali. Minho tidak melakukan yang iya-iya padamu ‘kan?”

Hyo Ra hanya bisa menyeringai melihat reaksi Heechul, tersenyum tanggung serba salah, melirik Key yang sekarang tidur telentang di sofa.

“Aku mau Hyung,” celutuk Key tanpa membuka mata, “Sup jamur!” Imbuhnya cepat saat ia menangkap pikiran aneh yang melintas di benak Heechul.

“Oh….” Gumam Heechul pelan, “Ku pikir kau mau apa dengan Minho.”

Hyo Ra tersenyum simpul sembari memutar badan, menaiki tangga ke lantai tiga, tempat kamarnya berada.

“Apa menurutmu tempat ini aman untuk kalian?” Tanya Heechul saat punggung Hyo Ra sudah menghilang dari pandangan. “Minho bisa muncul kapan saja di sini,”  lanjutnya saat melihat Key hanya bergumam tak jelas.

“Coba saja kalau dia berani,” sahut Key sembari melepas ikatan pedang dari pinggangnya, sembarangan meletakkannya, menggeliat. Pedang itu membuat posisi tidurnya tidak nyaman.

Heechul menatap adik bungsunya lamat-lamat, “Apa benar Hyo Ra itu Veneris, Key?”

Key sedikit berjengit. Ia tahu Hyung-nya itu memiliki wawasan yang luas, sangat luas bahkan, tetap saja menyadari bahwa Hyo Ra adalah Veneris bukan hal yang bisa dianggap wajar. Intuisi Heechul memang sangat tajam.

Key berkonsentrasi, berusaha memasuki pikiran Heechul. Perkara yang tidak mudah, karena pikiran Heechul sangatlah rumit, kompleks. Terlalu banyak lintasan pikiran dan imajinasi di benaknya. Key akhirnya menyerah, tak tahan dengan keruwetan pikiran Heechul. Key menghela nafas panjang, rahangnya tampak mengeras. Heechul mengangguk tipis, “Berarti benar. Minho pasti sudah mengetahuinya. Kau hendak memberitahu Taemin?”

Key membuka mata, menatap balik Heechul, “Menurutmu?”

“Beritahu Taemin. Akan lebih adil jika kedua pihak sama-sama mengetahuinya,” jawab Heechul bijak.

Key menghirup nafas dalam-dalam, mengeluarkannya dalam sekali sentak, “Kapan kau akan berhenti bersikap sok adil, Hyung? Di mataku, kau lebih seperti tak peduli pada masalah Minho dan Taemin daripada adil.”

Heechul terkekeh pelan, “Apa untungnya aku peduli pada mereka? Dengar Key, legenda Veneris itu belum tentu sepenuhnya benar. Terlalu banyak bumbu di sana-sini. Terlalu banyak versi yang berkembang, sampai kita tidak tahu lagi mana yang benar.”

Key menatap Heechul lurus-lurus. Pemikiran Heechul benar-benar sulit dipahami.

“Bukan tidak mungkin, seandainya legenda itu benar, kau juga bisa menjadi Sang Terpilih, Key,” ucap Heechul sambil lalu.

Key menautkan kedua alisnya, “Maksudmu?”

Next :

Track 6 – Veneris

 “Kau pintar membaca pikiran. Tapi tak tau apa-apa soal perasaan Key.”

“Karena tugasmu sangat berat. Salah-salah kau mengambil keputusan, akan ada beberapa semesta yang terkena dampak kekacauannya.”

“Bagaimana kalau aku salah mengira? Salah menilai? Salah memilih?”

 “Tidak diijinkan mencintai orang yang kau cintai. Bukankah itu lebih buruk dari kematian?”