Track 6 – Veneris

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra

Guest Star :  SHINee’s Kim Jonghyun

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

“Bukan tidak mungkin, seandainya legenda itu benar, kau juga bisa menjadi Sang Terpilih, Key,” ucap Heechul sambil lalu.

Key menautkan kedua alisnya, “Maksudmu?”

Heechul menjawab datar, “Semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi penguasa Negeri-negeri Timur. Mungkin, caranya saja yang akan berbeda.”

“Cerita tentang memiliki Veneris itu tidak masuk akal bagiku,” sahut Key cepat, kembali memejamkan mata, meluruskan punggung. Ia tahu kekuatan Hyo Ra. Gadis itu bisa mengadaptasi kemampuan orang yang dipegangnya, bahkan mampu melipatgandakannya. Tapi apa kemampuannya itu akan banyak membantu dalam proses penaklukan sebuah negeri? Rasanya terlalu gampang.

Heechul tersenyum, “Kau terlalu naif mengartikan legenda itu. Menurutku, memiliki di sini tidaklah dalam arti kata sebenarnya. Semacam kiasan apalah. Aku juga tidak paham,” jelasnya tenang. “Jelaskan perkara Veneris ini dengan bijak pada Taemin. Jangan membuat perkiraan-perkiraan yang tidak pasti. Kau mengerti?” Heechul menjentik dahi Key.

“Kenapa bukan kau saja yang menjelaskan pada Taemin?” Key mengusap-usap dahinya.

“Kau sajalah. Aku malas. Lagipula, sepertinya mood-mu sedang baik adik kecil,” Heechul menumpukan lengannya di pegangan sofa, merunduk menatap wajah adiknya sedekat mungkin. Key memang tampak sangat segar dibanding biasanya. Walaupun ia sekarang tampak sedang tiduran, jelas sekali kalau sebenarnya ia tidak merasa mengantuk. Ekspresinya juga lebih lembut daripada biasanya, kusut dan uring-uringan.

“Apa saja yang kau lakukan bersama Hyo Ra sepanjang hari ini? Kau hanya perlu waktu sebentar untuk mengambilnya dari tangan Minho ‘kan? Selebihnya, kalian menghabiskan waktu bersama,” tuduh Heechul, telak.

Key spontan membuka mata, mendorong dada Heechul menjauh dari dirinya.

“Aku mencium aroma cinta segiempat di sini,” Heechul ber-puh pelan, “Aromanya tidak enak. Anyir darah pembunuhan.”

Key melemparkan bantal pada Heechul, berseru sebal, “Aku tidak tertarik padanya! Terserah apa yang dipikirkan Minho dan Taemin. Aku tidak peduli!” Selintas pikiran Heechul yang aneh terdengar olehnya, “Atur imajinasimu itu Hyung! Kau membuatku ingin muntah!”

Heechul terbahak melihat kelakuan adiknya, “Kau pintar membaca pikiran. Tapi tak tahu apa-apa soal perasaan Key.”

Key menghela nafas panjang. Ia akui, bersama Hyo Ra membuatnya nyaman. Itu karena Hyo Ra bisa menutup pikirannya, tak lebih. Setidaknya saat ini, itu yang ia rasakan. Lagipula, bukankah Hyo Ra tidak boleh jatuh cinta? Ah, itu bukan urusannya. Sama sekali bukan urusannya. Dan ia sama sekali tidak berminat untuk mengurusnya.

***

Bulan tersaput awan menggantung anggun di langit, tengah malam. Hyo Ra masih berdiri di ambang jendela, pandangan matanya beralih-alih dari tembok-tembok di atas bukit dan pohon Baobab di kejauhan. Sesekali gadis itu menghela nafas, mengeluh tak jelas. Ia sudah berusaha bersikap adil, tidak buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Tapi ia juga tidak bisa berbohong, kalau sebenarnya ia lebih condong memilih Taemin atau Minho dibanding ketiga kandidat lainnya. Bisa jadi ini karena pengaruh legenda Veneris yang diceritakan Minho. Benarkah seorang Veneris akan ‘dimiliki’ oleh Putra Mahkota?

“Veneris….” Desis Hyo Ra perlahan. “Aishhh… bagaiamana cara menghubungi Dragon? Telepati? Aku tidak bisa. Memanggil namanya 3 kali, mungkin?” Gumam Hyo Ra pelan, terkekeh geli dengan idenya sendiri.

“Dragon… Dragon… Dragon…. Datanglah hai mahkluk menyebalkan… datanglah… datanglah….” Desis Hyo Ra dengan nada dibuat-buat, bagai merapal mantra-mantra, seperti hantu yang sedang memanggil-manggil korbannya.

“Usahamu boleh juga. Sayang sekali, Dragon Leader sedang sibuk, tidak bisa menemuimu,” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari balik punggung Hyo Ra, sukses membuat gadis itu memutar leher. Mengeryit kaget campur kesakitan, lehernya terkilir saking cepatnya ia menoleh.

“Siapa kau?” Tanya Hyo Ra, setengah penasaran setengah takjub. Hei! Lihatlah! Namja didepannya ini tampan! Sangat tampan! Garis wajahnya sangat maskulin. Dan yang lebih ‘WOW’ lagi, dia punya 2 buah sayap dipunggungnya! WOW!

Namja bersayap itu hanya tersenyum manis, perlahan merentangkan tangan. Sayapnya menghilang -masuk ke dalam punggung- seiring dengan gerakan tangannya.

“Bagaimana kau bisa masuk kekamarku ini?” Hyo Ra kembali bertanya.

Namja itu sekarang tertawa renyah, merdu, “Benar kata Dragon Leader. Kau memang banyak bertanya.” Berdehem, “Baiklah. Namaku Jonghyun. Salah satu Ksatria Timur. Malam ini Dragon Leader memberiku tugas untuk menjawab apapun yang kau tanyakan.” Ucapnya sembari melangkah mendekati Hyo Ra, berdiri disamping gadis itu, bertelekan bingkai jendela. “Eh, tidak semuanya juga. Hanya yang berhubungan dengan Veneris dan tugas-tugasnya. Yeah, sebatas itu, tak kurang, tak lebih. Jadi jangan bertanya yang aneh-aneh,” imbuhnya cepat saat melihat raut Hyo Ra yang berbinar antusias.

Hyo Ra mengeluarkan suara puh panjang, “Sepertinya Dragon bercerita yang tidak-tidak tentangku. Heh, aneh-aneh apanya?” Gerutu gadis itu lirih, mengkal.

Jonghyun tersenyum geli mendengar gerutuan Hyo Ra, “Hei! Walaupun aku ini hanya ksatria biasa, bukan orang sepenting Dragon Leader, aku juga punya banyak pekerjaan. Jadi cepatlah, apa yang ingin kau ketahui?”

“Siapa Veneris itu?” Tanya Hyo Ra cepat, tapi kemudian merasa sedikit menyesal, pertanyaannya terdengar janggal.

Dan benar saja, Jonghyun menjawabnya sembari tersenyum geli, “Kau. Kau-lah Veneris itu.”

Hyo Ra menggembungkan pipi, “Maksudku, apa sebenarnya Veneris itu?”

Jonghyun berdehem pelan sebelum akhirnya menjawab ringan, “Seseorang yang membantu tugas Sang Penjaga Timur. Memastikan sebuah legenda berjalan sesuai takdirnya.”

“Eh?” Hyo Ra memiringkan wajah, menatap Jonghyun tidak mengerti.

“Kau pernah dengar tentang semesta paralel? Kehidupan yang berjalan bersamaan, dalam dimensi ruang yang berbeda. Misalnya aku, di semesta yang ini aku adalah ksatria timur, mungkin di semesta-mu aku adalah seorang pengusaha atau apalah. Nah, sebenarnya semesta itu saling terhubung satu sama lain, saling mempengaruhi. Hal-hal yang terjadi dalam semesta kami, bisa jadi akan mempengaruhi kejadian-kejadian di semesta-mu. Atau secara tidak langsung, apa yang terjadi pada seseorang di semesta yang satu akan menjadi inspirasi bagi orang itu yang tinggal di semesta yang lain. Terkadang melalui dongeng yang turun-temurun, mimpi, deja vu atau imajinasi. Hei, apakah kau tahu? Apa yang sebenarnya kau anggap hanya imajinasi dan khayalan, itu sebenarnya adalah hal nyata yang terjadi pada dirimu yang lain, dirimu yang ada di semesta lainnya. Dan, pusat pengaturan keseimbangan seluruh semesta paralel ada di Sozotopia, semesta dimana saat ini kau berada. Oleh karena itu, terkadang kami perlu bantuan dari semesta lain untuk memastikan bahwa semuanya berjalan seimbang dan sesuai takdirnya.” Papar Jonghyun panjang lebar, sukses membuat Hyo Ra semakin bingung.

“Berarti, Dragon adalah puncak kekuasaan pengendali seluruh semesta paralel?” Tanya Hyo Ra ragu-ragu, membayangkan kekuasaan sebesar itu ada ditangan Dragon membuatnya bergidik.

Jonghyun menautkan alis, sejurus kemudian terkekeh geli, menepuk jidat, “Astaga… tentu saja tidak. Dragon Leader bukanlah Tuhan. Dia hanyalah bagian dari sebuah… apa ya nama yang tepat? Ehm, mungkin bisa kusebut perkumpulan. Yah perkumpulan yang sangat besar, sangat kompleks dan terdiri dari berbagai konsentrasi. Dan Dragon Leader mendapat bagian untuk memastikan bahwa suatu legenda akan berjalan dengan seimbang dan sesuai takdirnya. Dan kau sebagai Veneris, bertugas membantunya.”

Hyo Ra memutar bola mata, mengangguk-angguk tidak paham. Sejurus kemudian menatap Jonghyun penuh antusias, “Berarti ada kemungkinan aku bisa bertemu ‘aku yang lain’ di sini?”

“Heh?” Jonghyun menautkan alis, “Tidak. Khusus untuk seorang Veneris, hanya ada satu Veneris di semua semesta paralel. Artinya hanya ada satu ‘kau’. Tidak ada ‘kau yang lain’. Itulah mengapa kau dianggap sangat berharga.”

Hyo Ra tak mampu menahan senyum, terselip rasa jumawa dalam hatinya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik, sejurus kemudian wajah Hyo Ra berubah sangat antisipatif. “Kenapa hanya ada satu Veneris?” Tanyanya dengan nada curiga.

Jonghyun tampak menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu, “Karena tugasmu sangat berat. Salah-salah kau mengambil keputusan, akan ada beberapa semesta yang terkena dampak kekacauannya.”

“APA??” Hyo Ra terlonjak ngeri mendengar jawaban Jonghyun barusan. Bukankah waktu itu Dragon hanya bilang agar dia mengikuti imajinasinya saja? Kenapa Jonghyun justru mengatakan hal yang sangat ‘mengerikan’ seperti ini?

Jonghyun menyadari kepanikan Hyo Ra, buru-buru menyahut, “Ah! Tidak seseram kedengarannya. Kau hanya perlu memilih, dan selalu ingat bahwa setiap pilihanmu mangandung resiko dan konsekuensi. Sebenarnya yang lebih berat adalah ingatan. Seorang Veneris mempunyai ingatan yang sangat kuat. Juga kemampuan membedakan yang luar biasa. Kau bisa memilah-milah mana yang imajinasi, mana yang khayalan, mana yang kau di semesta yang ini, mana kau yang sebagai ‘kau yang lain’ dan mana kau sebagai Veneris di Sozotopia. Itulah yang membuatmu sangat kuat. Kau tahu, banyak orang yang tidak bisa membedakan antara khayalan dan nyata, itulah yang menyebabkan mereka menjadi gila, berkepribadian ganda atau apalah. Hmmm… kalian biasa menyebutkan gangguan jiwa.”

Hyo Ra kembali ber-oh pelan, mengangguk-angguk, “Itukah yang membuatku tidak pernah mengalami mimpi atau deja vu?”

“Benar sekali. Orang biasa mengalami mimpi, maksudku merasa mengalami mimpi. Padalah sebenarnya itu adalah kejadian yang dialami oleh dirinya yang lain. Atau kenyataan yang ia alami saat berkunjung ke semesta yang lain, tapi tak cukup mampu untuk mengingat detailnya. Begitu juga deja vu. Bukankah aku sudah bilang, bahwa sejatinya seluruh  semesta paralel itu tetap berhubungan, terkoneksi dengan jaring yang sangat rumit dan kompleks.” Sahut Jonghyun kalem.

Suasana sejenak hening. Jonghyun membiarkan Hyo Ra yang sedang berusaha mencerna apa saja yang barusan ia katakan. Namja tampan itu memilih menikmati udara malam dan bulan sabit yang menggantung anggun di langit. Sesekali Jonghyun menggerakkan ujung jarinya, membuat beberapa helai daun luruh ke tanah, bahkan tanpa perlu menyentuhnya.

“Apa yang harus aku lalukan sekarang? Bagaimana caraku memilih satu diantara mereka? Kriteria apa yang harus aku gunakan?” Suara Hyo Ra memecah kesunyian yang mengambang.

“Seperti kata Dragon Leader. Kau hanya perlu mengikuti imajinasimu saja,” sahut Jonghyun ringan, tersenyum bijaksana.

Hyo Ra ber-puh sebal. Jawaban itu tidak membantu sama sekali, justru membuatnya semakin bingung.

“Maksudku, kau bayangkan saja. Apa yang akan terjadi kalau kau memilih kandidat pertama, kedua dan seterusnya. Dan pilihlah yang menurutmu paling baik.” Lagi-lagi Jonghyun berucap santai, tanpa beban.

Hyo Ra mengkal mendengar jawaban ringan itu, memprotes, “Tapi, belum tentu kejadiannya akan sesuai dengan bayanganku ‘kan? Bagaimana kalau aku salah mengira? Salah menilai? Salah memilih?”

Jonghyun menyeringai geli, “Hei! Kau ini seorang Veneris ‘kan? Tugasmu adalah memilih sesuai imajinasimu, intuisimu. Hanya itu. Tak kurang, tak lebih. Jangan terlalu banyak berpikir. Bukankah kenyataan terkadang juga tidak selogis yang kita bayangkan?”

Hyo Ra termenung cukup lama. Takdir terkadang memang diluar logika perkiraan. Yah, itu betul.

“Apakah ada Veneris sebelumku?” Tanyanya kemudian, mengalihkan topik.

Ekspresi Jonghyun sedikit berubah, malas-malasan menjawab. “Tentu saja ada.”

“Apa yang terjadi pada mereka? Apa Veneris terus melakukan tugasnya sampai tua?” Hyo Ra sedikit geli membayangkan dirinya –seorang nenek tua- masih menjadi Veneris, bepergian ke berbagai semesta.

“Veneris memulai tugasnya pada usia 16 dan berakhir saat ia menikah. Tugasnya akan diambil alih oleh Veneris berikutnya. Itu aturan normalnya.” Jonghyun menghela nafas.

“Normalnya? Apa ada yang tidak normal? Astaga… jangan-jangan ada yang berakhir tragis seperti yang dikatakan Dragon,” Hyo Ra menepuk jidat.

Jonghyun menautkan alis, melempar pandangan bertanya maksudmu-apa?

“Katanya kalau aku melanggar aturan, ehm, jatuh cinta pada seseorang saat aku bertugas, aku akan dihukum. Benarkah? Ada Veneris yang mengalami hai itu? Apa yang terjadi padanya?” Tanya Hyo Ra takut-takut.

“Leader berkata seperti itu?” Jonghyun menatap Hyo Ra lurus-lurus, memastikan.

Orang yang ditanya justru menyeringai jerih, “Katanya nasibku akan lebih buruk dari sebuah kematian. Kau tahu apa maksudnya?”

Jonghyun mengusap wajah dengan telapak tangan, “Kau memang tak boleh jatuh cinta saat bertugas. Itu akan membuatmu tidak bisa menilai dan memilih dengan obyektif. Lagipula, apa yang akan kau lalukan jika kau jatuh cinta di sini? Kau akan menikah dan tinggal di sini? Tidak bisa! Itu menyalahi takdirmu. Bagaimanapun kau adalah penduduk Bumi, di sanalah asalmu, di sanalah kau harus menjalani takdirmu sebagai manusia biasa. Kau harus profesional, bisa membedakan kapan kau menjadi dirimu sendiri, di semestamu asalmu. Dan kapan kau menjadi Veneris, di semesta lainnya. Mencampuradukkan perasaan dan tugas, akan menghancurkan semuanya.” Menghela nafas berat, terdiam beberapa saat sebelum menambahkan dengan lirih, “Tidak diijinkan mencintai orang yang kau cintai. Bukankah itu lebih buruk dari kematian?”

Hyo Ra menatap Jonghyun dengan ekspresi tak terkatakan, hatinya tiba-tiba merasa sakit. Rasanya ia tahu bagaimana rasanya. Rasa mencintai orang yang tak boleh dicintai. Rasanya sakit sekali. Tapi… bukan! Bukan itu. Sakit dihatinya adalah karena dicintai oleh orang yang tidak boleh mencintainya. Padahal, ia juga mencintai orang itu. Satu lagi yang membuat Hyo Ra tidak paham. Dragon. Yah, Dragon. Semua rasa sakit yang membetot hatinya itu membuatnya teringat pada Dragon. Tapi apa hubungannya?

“Adakah Veneris yang pernah jatuh cinta pada….” Hyo Ra tidak yakin akan melanjutkan pertanyaannya, tapi sejurus kemudian melanjutkan, “Kandidatnya?”

Jonghyun tersenyum, eksresinya kembali normal, “Tidak. Belum ada.”

Hyo Ra menggigit bibir. Ia sudah mengira jawaban itu. Sebenarnya bukan itu yang hendak ia tanyakan. Tapi….

“Kalau jatuh cinta pada….” Lagi-lagi Hyo Ra tidak sampai, tertegun ragu.

Jonghyun menatap Hyo Ra penasaran, “Siapa?”

“Salah satu dari kalian?” Berdehem pelan, “Maksudku pada ksatria timur atau pada… Dragon?” Hyo Ra menahan nafas.

Jonghyun berjengit kaget. Menatap Hyo Ra lurus-lurus dengan ekspresi tak terkatakan.

Hyo Ra yang semula berani melihat langsung ke mata Jonghyun manjadi salah tingkah, merasa salah bicara atau apalah.

“Sudahlah. Tidak semua hal perlu kau ketahui.” Akhirnya Jonghyun memecah kecanggungan yang sempat menggantung. Menambahkan dengan nada serius, “Jangan pernah membicarakan hal seperti ini dengan Dragon.”

Hyo Ra mengedip cepat, tidak mengerti apa yang dimaksud Jonghyun, tapi juga tidak berani untuk sekadar bertanya, apalagi membantah.

***

“Kau baik-baik saja?” Tanya Taemin tak sabar, menyongsong Hyo Ra yang melangkah menuruni tangga. Kecemasan Taemin berlipat-lipat saat mendengar penjelasan Key pagi ini. Fakta bahwa Hyo Ra adalah seorang Veneris. Juga soal Minho yang sudah, bahkan merupakan orang pertama yang menyadarinya. Taemin sama sekali abai pada peringatan Key, yang dengan sangat jelas mengatakan bahwa Hyo Ra dengan suka rela dibawa pergi oleh Minho, sama sekali tidak karena terpaksa. Terlebih Hyo Ra bukan gadis polos biasa, ia mempunyai maksud tertentu dengan mereka dan Negeri Para Penerbang. Taemin benar-benar tidak peduli dengan semua itu.

Hyo Ra hanya tersenyum tipis, wajahnya sedikit pucat. Semalaman gadis itu tidak bisa tidur, terlalu sibuk memikirkan penjelasan Jonghyun. Terlalu rungsing menerka-nerka apa yang akan terjadi jika ia memilih Taemin ataupun Minho sebagai penerima mutiara naga. Mata Hyo Ra menelisik isi ruangan, hanya ada Taemin dan Heechul. Hampir aja ia keceplosan menanyakan keberadaan Key, namun urung karena melihat wajah cemas Taemin.

“Bahumu, bagaimana?” Tanyanya sembari melihat bahu Taemin.

Heechul terkekeh ringan, “Tenang saja. Tabib-tabib istana pasti sudah mengobatinya.”

Taemin meneguk ludah, “Bukan aku yang harus dikhawatirkan. Benarkah Minho tidak melakukan hal-hal buruk padamu?”

“Tidak, Taemin. Aku bisa menjaga diri,” sahut Hyo Ra tidak nyaman. Jujur saja, pandangannya pada Taemin sedikit berubah. Terlebih jika mengingat bahwa semua yang Taemin nikmati sekarang seharusnya adalah hak Minho. Bagaimanapun, ternyata sulit bagi Hyo Ra untuk bersikap netral.

Taemin menghela nafas. Rasa lega terlihat benar dari ekspresinya.

“Benarkah kau adalah seorang… Veneris?” Taemin kembali angkat suara, setelah beberapa saat mereka bertiga hanya terdiam.

Hyo Ra menatap Taemin lamat-lamat, berusaha memahami maksud dibalik pertanyaan Taemin. Sedikit berharap ada Key yang bisa membantunya membaca pikiran orang.

“Aku tidak bermaksud apa-apa Hyo Ra. Aku tidak peduli kau Veneris atau bukan,” Taemin berdehem, membersihkan tenggorokan sebelum kembali melanjutkan, “Aku khawatir pada keselamatanmu. Minho….”

Hyo Ra mengangguk, memotong cepat, “Terobsesi pada Veneris. Dan akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkannya. Aku mengerti.”

Taemin tersenyum lega, “Syukurlah kau mengerti. Jadi?”

Hyo Ra menggeleng lemah, tidak ada ide sama sekali. Gadis itu paham benar. Saat ini Minho sedang marah besar. Venerisnya dibawa pergi. Dan sekarang veneris itu sedang ngobrol dengan musuh bebuyutannya. Hanya Key yang membuat Minho selalu berpikir ulang saat hendak bertindak. Dan sekarang, Key bahkan tak nampak batang hidungnya. Minho bisa muncul kapan saja. Membunuh Taemin dan…. Hah! Tidak. Dia tidak akan bisa memaksanya untuk ikut atau apalah. Tapi tetap saja. Kemungkinan Minho akan membunuh Taemin membuat Hyo Ra khawatir. Ia tidak mau ada salah satu kandidatnya yang mati sebelum ia memilih.

“Ikutlah denganku. Istana jauh lebih aman.” Usul Taemin.

Heechul yang sejak tadi hanya diam saja akhirnya angkat pendapat, “Itu benar. Kalian akan lebih aman disana. Selama ini Minho belum pernah berhasil menembus tembok istana ‘kan?”

Hyo Ra memutar bola mata. Benarkah? Minho lebih dari sekadar mampu untuk melakukan hal itu. Dia juga bukan tipe orang yang takut akan resiko. Kalau Minho tidak masuk ke istana, itu bukan karena ia tidak bisa. Tapi karena ia tidak mau. Tapi kenapa?

***

Next : Track 7 – Pengkhianat adalah Pahlawan

 “Tunangan Pangeran Taemin. Sebulan lagi mereka akan menikah.”

“Dan jika kebahagiaan Pangeran Taemin berasal dari anda, maka saya akan memastikan, bahwa anda mencintainya secara tulus.”

“Saya bersedia. Dengan syarat Putra Mahkota harus menikah dengan Putri Yeorin terlebih dahulu. Bagaimanapun, saya tidak ingin menyakiti siapapun.”

“Baiklah. Itu bisa diatur. Aku akan mempercepat pernikahan mereka, minggu depan. Upacara pernikahan kalian akan dilaksanakan sehari setelahnya. Tapi tetap kau yang akanku lantik sebagai Putri Mahkota.”

 

Catatan Penulis:

Cerita ini makin lama makin membosankan. Terlalu lambat dan bertele-tele. Hufh….