Track 7 – Pengkhianat adalah Pahlawan

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra.

Guest Stars :  Super Junior’s Lee Donghae, BIG BANG’s Choi Seung Hyun.

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

“Apa ini tidak berlebihan? Aku ‘kan bukan tamu resmi kerajaan,” protes Hyo Ra ragu-ragu, menatap bangunan besar dihadapannya. Taemin hanya tersenyum, meraih pergelangan tangan Hyo Ra dan membimbingnya memasuki kediaman tersebut.

“Bibi, ini tamu yang kemarin aku katakan. Tolong layani dia dengan baik,” ucap Taemin pada wanita setengah baya yang masih sibuk memberi hormat padanya. “Ini Bibi Han, dia yang akan melayanimu. Aku masih ada urusan. Kuharap kau nyaman tinggal di sini,” tambahnya sembari menatap Hyo Ra. Sedetik kemudian Taemin sudah menghilang begitu saja, membuat Bibi kepala dayang dan para dayang berjengit kaget.

“Mari Nona, saya antar ke kamar anda,” Bibi menyilahkan Hyo Ra dengan tetap menundukkan kepala. Berjalan mendahului Hyo Ra, menyusuri lorong panjang. Bangunan ini sungguh luas dan besar.

“Panggil Hyo Ra saja Bibi Han. Aku ‘kan bukan putri atau apalah,” sahut Hyo Ra ringan, menjajari langkah Bibi Han. Beberapa langkah dibelakang mereka, para dayang ikut melangkah perlahan, menjaga jarak.

Bibi Hwan mengangkat wajahnya, tersenyum, “Anda sangat cantik dan baik, mirip almarhumah Selir Kim. Pantas saja Pangeran Taemin begitu menyukai anda, ah-” Bibi Hwan buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, nampak seperti orang kelepasan bicara.

Hyo Ra tersenyum geli, “Bibi bisa saja.” Tiba-tiba teringat sesuatu, “Almarhumah Selir Kim?”

“Ibunda Pangeran Taemin. Kasihan sekali beliau, hidupnya begitu malang. Untung saja Pangeran Taemin menuruni sifat beliau. Oh… saya senang sekali melihat Pangeran bisa tumbuh menjadi pemuda yang begitu baik dan tampan. Padahal masa kecilnya begitu suram,” lagi-lagi Bibi Han mengakhiri pembicaraan dengan menutup mulutnya, “Ah… mulut ini.” ucapnya lirih.

Kali ini Hyo Ra mengabaikan perilaku Bibi Hwan, ada yang lebih menarik perhatiannya. “Ibunda Taemin? Bukankah ia masih hidup? Permaisuri Kwon?” Tanyanya menyelidik. Sebelum kemari, Taemin mengenalkannya pada Permaisuri Kwon yang sangat ramah. Ramah? Entahlah. Tapi yang jelas, begitu Taemin menyebutkan nama Hyo Ra, Permaisuri Kwon langsung mengembangkan senyum lebar, menyambut antusias. Hyo Ra justru merasa keramahannya berhubungan dengan statusnya sebagai Veneris.

“Oh, bukan. Permaisuri Kwon adalah ibunda Pangeran Jinki. Ibunda Pangeran Taemin telah meninggal,” Bibi Han menggeleng pelan. “Walaupun Yang Mulia Kaisar Donghae tidak pernah mengatakan langsung, tapi Selir Kim tahu kalau Yang Mulia mencurigainya selingkuh dengan Kaisar Siwon. Sungguh kasihan beliau, hidup tertekan, kesepian, dan disisihkan. Sebagai ibu putra mahkota, seharusnya ia mendapat gelar permaisuri. Tapi… ah, untung saja ia memiliki Pangeran Taemin yang begitu menghormati dan menyayanginya. Tapi, tetap saja Selir Kim tidak mampu bertahan, beliau meninggal dalam usia begitu muda.” Bibi Han menghela nafas, sementara Hyo Ra mendengarkan, antusias. “Yah… hidup Pangeran Taemin sendiri tak kalah menyedihkan. Dijadikan alat untuk meraih kekuasaan oleh Ayahanda-nya sendiri. Belum lagi masalah Putri Yeorin. Pertunangan itu membuat Pangeran Jinki semakin iri dan benci pada Pangeran Taemin. Ah… Pangeran Taemin benar-benar anak baik. Tidak pernah membenci orang yang sudah menyakitinya.”

Hyo Ra memiringkan kepalanya. Ia akui ini cerita yang menarik, bahkan mungkin bisa membantunya mengenal Taemin. Tapi bukankah perilaku Bibi Han ini ganjil? Seolah tanpa beban menceritakan kisah pribadi keluarga istana. Apa dia tidak takut dihukum atau apalah? “Apa maksud Bibi? Pangeran Taemin diperalat?”

Bibi Han sedikit berjengit, “Ah… itu. Bukan maksud saya mengatakannya demikian kasar. Nona, saya adalah pelayan pribadi Selir Kim, sekaligus pengasuh Pangeran Taemin. Sulit bagi saya untuk tidak memihak pada mereka. Kaisar Donghae menjadikan Pangeran Taemin sebagai alasan bahwa ia punya hak untuk menjadi Kaisar. Yah, itu alasan untuk meyakinkan para pendukungnya. Tapi sebenarnya, Kaisar Donghae memang lebih pantas menjadi Kaisar. Beliau memiliki kemampuan politik yang lebih baik, sikap kemimpinanan yang adil, juga lebih memihak pada rakyat kecil. Tidak seperti Kaisar Siwon yang hanya bisa berfoya-foya, memeras rakyat dengan pajak yang sangat tinggi, membiarkan oarang-orang kaya bertindak semena-mena, dan hanya mementingkan kaum bangsawan. Bagi rakyat kecil, Kaisar Donghae adalah pahlawan. Orang yang telah membebaskan mereka dari tiranitas Kaisar Siwon.”

Hyo Ra tertegun, mengingat kisah ini menurut versi Minho. Kalau begini, sebenarnya nasib Minho dan Taemin tak jauh berbeda. Ibu mereka sama-sama dituduh selingkuh. Minho yang hidup dipengasingan, kehilangan haknya sebagai putra mahkota. Taemin yang ternyata hanya dijadikan alat bagi ambisi ayahnya. Bahkan dibenci saudaranya sendiri. Mungkin hanya pilihan mereka yang berbeda. Taemin memilih untuk memaafkan. Dan itu membuatnya bisa tersenyum tulus. Berbeda dengan Minho yang memilih mendendam. Hyo Ra ingat betul kepedihan yang menggantung di mata Minho, tetap nampak jelas sekalipun ia sedang tersenyum lebar.

“Oh-ya. Apakah Nona sudah bertemu dengan Putri Yeorin?” Bibi Han mengulurkan tangan, membuka sebuah pintu.

Hyo Ra menggeleng pelan, “Siapa?”

“Tunangan Pangeran Taemin. Sebulan lagi mereka akan menikah.” sahut Bibi Han singkat.

Hyo Ra menaikkan alisnya.

“Tapi Pangeran Taemin sepertinya lebih menyukai anda Nona. Dia terlihat begitu gembira akhir-akhir ini. Ah… dia bahkan tidak sungkah-sungkan menggandeng anda. Padahal, tersenyum pada Putri Yeorin saja jarang.” Bibi Han tersenyum simpul.

Hyo Ra tidak tahu harus berkomentar apa. Taemin sudah punya tunangan? Tentu itu bukan urusannya. Taemin menyukainya? Entahlah. Rasanya itu juga bukan urusannya. Iya ‘kan?

“Nona pasti merasa saya terlalu banyak bicara. Lancang dan kurang ajar.” Bibi Han tersenyum bijak. “Nona, saya mengenal Pangeran Taemin sejak dia masih dikandungan Ibundanya. Sayalah orang pertama yang akan memastikan Pangeran Taemin bahagia. Dan jika kebahagiaan Pangeran Taemin berasal dari anda, maka saya akan memastikan, bahwa anda mencintainya secara tulus. Bukan karena statusnya. Anda harus mengenal Pangeran Taemin apa-adanya.” Kali ini ekspresi Bibi Han terlihat serius, setengah berharap. Hyo Ra hanya bisa menatap kosong. Astaga… cinta? Dragon bisa menyembelihnya kalau ia sampai jatuh cinta pada salah satu kandidat. Lagi pula, jatuh cinta pada orang yang memiliki masalah serumit Taemin atau Minho? Terdengar seperti sengaja masuk dalam ajang pertempuran. Entahlah. Dan hei! Dia ‘kan seorang Veneris. Para kandidat hanya ingin memilikinya saja ‘kan? Hyo Ra tiba-tiba merasa bahwa Bibi Han terlalu naif.

Bibi Han menyodorkan setumpuk besar kain kearah Hyo Ra, “Anda pastilah sangat spesial bagi Pangeran Taemin. Sampai-sampai menyuruh anda tinggal di rumah kediaman mendiang ibundanya.”

“Kediaman ibundanya?” Hyo Ra mengambil alih tumpukan kain itu dengan ragu-ragu. Mirip sebuah gaun, tapi kenapa begitu berat?

“Iya. Ini adalah kediaman almarhumah Selir Kim. Pangeran Taemin tak mengijinkan siapapun mendiami rumah ini. Anda orang pertama.” Bibi Han melambaikan tangan pada dayang yang sejal tadi berdiri di luar pintu, “Cepat kalian bantu Nona Hyo Ra berganti pakaian.”

Hyo Ra tersedak kaget. Jadi benar tumpukan kain yang luar bisa berat ini adalah gaun? Dan dia harus memakainya? Astaga!

***

Hyo Ra menatap takjup istana merah di hadapannya, menghela nafas panjang, “Seperti di negeri dongeng,” gumamnya lirih.

Gadis mungil itu kembali melangkahkan kaki, berhati-hati. Hari ini dia memutuskan untuk memakai gaun pemberian Dragon. Sekadar menegaskan bahwa ia menghadap sebagai Veneris, bukan Cho Hyo Ra. Gaun itu memang tidak senyaman celana dan blus sepinggang –pakaian rakyat bawah- yang biasa dia pakai. Walaupun begitu, gadis itu suka dengan sensasi sejuk dan melayang dari bajunya. Bagaimanapun, gaun ini berkali lipat lebih nyaman daripada baju kerajaan yang harus dikenakannya 2 hari ini. Tampak luarnya memang sungguh cantik, tapi beratnya, luar biasa. Bagaimana takkan berat? Baju istana itu berlapis-lapis, bahannya juga sangat tebal. Benar-benar merepotkan.

Hyo Ra sejenak berhenti di depan semak bunga yang berwarna gradasi biru dan ungu, mengatur jantungnya yang berdegup cepat. Bagaimanalah dia tidak gugup, hari ini dia harus bertemu dengan Kaisar Donghae secara langsung. Benarkah yang dikatakan Minho? Kaisar Donghae adalah pembunuh berdarah dingin dengan tampang bak malaikat? Atau Bibi Han yang benar? Kaisar Donghae adalah pahlawan pembela rakyat kecil. Entahlah. Bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang ini. Memilih kandidat, itu prioritasnya.

Perlahan Hyo Ra menyusuri tepi sungai kecil yang berisi ikan berwarna-warni, sangat cantik. Seekor capung bersayap keemasan dengan bintik biru di setiap segmen abdominal hinggap di bahu Hyo Ra, mata majemuknya yang biru cemerlang tak henti menelisik wajah gadis itu.

“Hyo Ra? Sedang apa kau di sini?”

Hyo Ra menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya.

Tak jauh dibelakangnya, Key berdiri bertelekan pinggir jembatan yang tepat berada di atas kolam ikan, tersenyum lebar menatapnya. Jembatan yang merupakan satu-satunya penghubung antara kediaman Kaisar dan bagian istana lainnya yang sempurna dipisahkan oleh sungai kecil itu.

“Key, kau juga di sini? Apa Kaisar Donghae juga memanggilmu?” Tanya Hyo Ra ramah, mendekati Key. Capung bersayap keemasan terbang meninggalkan keduanya.

Key justru tampak tak percaya, “Kaisar, menyuruhmu menghadap?”

“Iya,” sahut Hyo Ra singkat.

Sekilas terlihat kilatan asing di mata Key, “Kau tidak membuat masalah atau apa ‘kan?”

Hyo Ra mengerutkan alisnya, “Tidak. Tumben sekali kau bertanya. Biasanya langsung membaca pikiran.”

Key menatap Hyo Ra lurus-lurus, “Membaca? Kau kira pikiran itu seperti buku? Bisa dibaca begitu saja?”

Hyo Ra menangkat bahu.

“Nona Cho Hyo Ra, Yang Mulia Kaisar dan Putra Mahkota sudah menunggumu. Silahkan ikuti kami.”

Obrolan mereka terputus oleh panggilan dari sekelompok prajurit dan dayang yang tampaknya merupakan penjemput Hyo Ra.

“Anda juga sudah ditunggu Jenderal Kim.” Tambah seseorang yang sepertinya adalah pemimpin mereka.

Key mengangguk sopan, berjalan menjejeri si pemimpin rombongan. Hyo Ra mengikuti mereka, mencuri-curi dengar obrolan.

“Kau jarang terlihat di istana Key.” Cetus pemimpin rombongan.

Key tersenyum tipis, “Minho sedang marah besar. Aku sibuk mengurusnya,” sahut Key, melirik Hyo Ra. Disaat yang bersamaan Hyo Ra juga menatap Key, berjengit. Apa maksud Key dengan ‘mengurus’?

Pemimpin rombongan terkekeh kecil, “Kalau kau bersungguh-sungguh, sejak dulu kau bisa menghabisinya. Atau kau memang menikmati permainan ini Key?”

“Kau bisa saja Seung Hyun. Aku tidak sehebat itu,” sahut Key ringan, tersenyum lebar.

Beberapa dayang tampak cekikikan, saling berbisik sambil mencuri-curi pandang ke arah Key. Nampaknya mereka adalah penggemar jenderal yang satu ini. Hyo Ra melotot secara terang-terangan pada para dayang yang kasak-kusuk tidak jelas.

“Perhatikan jalanmu Nona Hyo Ra, hati-hati,” goda Key dengan nada suara geli.

Hyo Ra mendelik pada Key, mengerucutkan bibir.

Seung Hyun menatap Key dan Hyo Ra berganti-ganti, “Sepertinya kau cukup akrab dengannya Key,” bisiknya.

Key menyeringai malas, “Dia suka mencari masalah dengan Minho. Tentu saja Putra Mahkota mengkhawatirkannya.”

Hyo Ra rasanya ingin sekali menjitak kepala Key. Dasar menyebalkan. Lihatlah! Dia bisa ngobrol dengan santai bersama Seung Hyun. Padahal kalau sedang bicara dengannya, Key selalu menyela, tak sabar menunggu. Sok sekali. Mentang-mentang bisa membaca pikiran orang. Benar-benar menyebalkan!

“Maaf Nona. Sepertinya barusan kau mengatakan sesuatu?” Key menyeringai pada Hyo Ra.

Hyo Ra tersenyum sok manis, “Ah… tidak Jenderal. Aku tidak mengatakan apapun.” Mengedip aneh, “Sejak tadi aku sibuk berpikir tentang mercusuar yang itu. Kau ingat?”

Seung Hyun menatap Key lamat-lamat, seolah bertanya ada-hubungan-apa-kau-dengan-Nona-ini?

Key mendelik sebal, teringat peristiwa di mercusuar. Tidur bersama? Hei, tentu tidak seburuk kedengarannya. Mereka hanya tidur dengan kepala saling bertumpu. Tetap saja, Key jengah mengingatnya.

Hyo Ra tersenyum-senyum kecil. Key bungkam seribu bahasa. Hanya berjalan lurus menuju kediaman Kaisar Donghae. Melihat ekspresi dingin Key, Seung Hyun juga memilih diam.

***

“Jadi, kau bersedia menikah dengan putraku?” Tanya Donghae setelah berbasa-basi beberapa saat. Menanyakan asal-usul, orang tua dan hal-hal umum lainnya pada Hyo Ra. Hyo Ra menjawab asal, yang penting tidak berbohong, mengatakan Ayah dan Ibunya tidak ada. Buru-buru menambahkan dalam hati, tidak ada di semesta yang ini. Mereka tinggal di semesta yang lain. Donghae mendengarkan jawaban Hyo Ra dengan seksama. Menyimpulkan bahwa Hyo Ra tidak mempunyai keluarga. Urusan lebih gampang, pernikahan ini hanya perlu dibicarakan dengan Hyo Ra saja. Jika Hyo Ra mengangguk setuju, maka selesai perkaranya.

Hyo Ra mengeluh pelan, melihat Taemin yang menatapnya penuh harapan. Melirik Key yang melihat dinding dengan ekspresi datar. Bagaimanapun, Hyo Ra merasa ini ada hubungannya dengan statusnya sebagai Veneris. Memangnya apalagi? Mana ada orang normal yang melamar padahal baru kenal beberapa hari? Padahal orang itu sudah memiliki tunangan, dan akan menikah dengan tunangannya sebulan lagi. Benar-benar!

“Baiklah, Yang Mulia. Saya bersedia. Dengan syarat Putra Mahkota harus menikah dengan Putri Yeorin terlebih dahulu. Bagaimanapun, saya tidak ingin menyakiti siapapun.” Jawab Hyo Ra tegas. Hyo Ra merasa waktu untuk menetukan sang terpilih sudah semakin dekat. Jadi jalani saja semuanya. Sesuatu yang besar akan terjadi, sesuatu yang akan menjadi akhir sekaligus awal.

Taemin mengeryit keberatan. Dia membujuk Ayahnya dengan alasan ‘Hyo Ra adalah Veneris’ agar dia bisa menikah dengan gadis yang disukainya, sekaligus terlepas dari beban harus menikahi Yeorin. Orang yang sangat yang dicintai oleh Hyung-nya, Lee Jinki. Tak dinyana, Hyo Ra malah mengajukan syarat seperti ini.

Key melirik Hyo Ra sekilas, kembali menatap dinding tanpa ekspresi. Merasa sebal harus menjadi saksi perundingan ini. Paham benar kalau Hyo Ra mengangguk, itu berarti ia akan mendapat tugas menjaga Hyo Ra, Veneris yang sekaligus calon Putri Mahkota.

Donghae menatap Taemin, seolah meminta pendapat. Taemin menghela nafas, menjawab tatapan Ayahnya dengan anggukan kecil.

Donghae nampak berpikir cepat. Urusan memiliki Veneris tidak bisa ditunda lagi. Situasi politik memanas gara-gara urusan ini. Semua pihak merasa berkepentingan. Janji menjadi penguasa negeri-negeri timur bukanlah hal kecil. Belum lagi Minho yang tak kan mau kalah. Semuanya harus dilakukan dengan ekstra cepat. “Baiklah. Itu bisa diatur. Aku akan mempercepat pernikahan mereka, minggu depan. Upacara pernikahan kalian akan dilaksanakan sehari setelahnya. Tapi tetap kau yang akanku lantik sebagai Putri Mahkota,” mengalihkan pandangannya pada Key. “Jenderal Kim, kau sudah dengar semuanya. Mulai sekarang, kau bertugas menjadi pengawal pribadi Hyo Ra.”

Key mendengus pelan, “Maaf Yang Mulia. Bukan maksud saya membangkang. Tapi sebaiknya biar Choi Seung Hyun saja yang menjadi pengawal pribadinya. Minho pasti marah sekali begitu mendengar berita pernikahan Hyo Ra dan Putra Mahkota. Saat ini yang harus diprioritaskan adalah keselamatan Putra Mahkota, bukan Hyo Ra. Minho tidak akan menyakiti Hyo Ra, dia juga punya kepentingan terhadapnya,” sahut Key datar.

Baik Donghae maupun Taemin mengangguk setuju. Itu memang benar. Jelas-jelas Minho juga menginginkan Veneris. Tidak mungkin ia akan mencelakai Hyo Ra.

“Panggil Choi Seung Hyun dan para pejabat istana lainnya. Kita harus segera membahas pernikahan ini,” titah Donghae pada sekretarisnya yang segera membungkuk memberi hormat dan berjalan keluar ruangan.

Taemin meraih pergelangan tangan Hyo Ra, membungkuk pada Donghae, “Kami pamit undur diri Ayahanda. Aku akan mengantar Hyo Ra kekediamannya.”

Hyo Ra melirik Key yang juga hanya mengangguk. Bahkan pada Kaisar pun, Key hanya mengangguk tipis. Hyo Ra memutuskan mengikuti gaya Key. Berusaha menempatkan diri sebagai Veneris. Bukan seorang Cho Hyo Ra yang gadis biasa.

“Key, kau sudah tau apa rencana Minho selanjutnya?” Tanya Taemin saat mereka bertiga telah keluar dari kediaman Kaisar.

“Aku belum yakin. Karena rencana kita bocor lagi, mereka mengubah strategi. Apa kau tidak bisa melakukan apa-apa pada si pengkhianat itu?” Key menjawab dengan nada nyaris ketus.

Taemin menghela nafas berat, “Tak segampang itu Key. Bagaimanapun, dia adalah hyung-ku. Semula aku berharap pernikahanku dengan Hyo Ra bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi sepertinya tidak.”

“Apa?” Hyo Ra bertanya penasaran, namanya ikut disebut-sebut.

“Akan  menimbulkan masalah lebih besar lagi jika kau menolak menikahi Yeorin. Kau pikir Negeri Seribu Kupu-kupu akan diam saja setelah kau lecehkan?” Nada suara Key meninggi.

“Apa sih yang kalian bicarakan?” Hyo Ra memotong sebal.

Key mendengus sebal, “Minho sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Aku sulit berkonsentrasi di sini.” Ucapnya dingin, melirik Hyo Ra tajam. Sedetik kemudian Key sudah terbang dengan kecepatan tinggi, entah kemana.

***

Next:

Track 8 – Kebenaran yang Terkuak

“Kau wanita pertama yang membuatku merasa nyaman sekaligus khawatir tidak karuan. Satu-satunya orang yang entah mengapa membuatku merasa tak keberatan berbagi masa depan.”

“Terlalu banyak kepentingan atas pernikahan seorang putra mahkota.”

“TAPI AKU MENCINTAIMU YEORIN! KAU TAHU ITU!”

 “Maka biarkan aku berhenti menjadi Pangeran!”

“Kau benar. Kau memang tidak sepertiku. Kau tak akan mampu membunuh orang lain. Jadi, menghilanglah Hyung! Lenyaplah dari dunia ini! Bunuh dirimu sendiri!”

Catatan Penulis:

Belum berhasil mempercepat alur cerita. Hufh…. *pasrah-nyaris-menyerah

Status : terpapar sindrom bertele-tele kebanyakan bacot